BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Thursday, January 24, 2013

Natal Bersama Dayak Selurun Indonesia


 Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata.!!
Salam buat sahabat Cerita Dayak Seluruh Indonesia..

UNDANGAN RESMI PANITIA
Mengundang bapak/ibu dan saudara/i untuk menghadiri PERAYAAN NATAL dan TAHUN BARU BERSAMA Keluarga Besar DAYAK SELURUH INDONESIA yang akan dilaksanakan pada,

Hari : Sabtu
Tanggal : 26 January 2013
Tempat : The Hall Senayan City, Lantai 8 Mall Senayan City, Jalan Asia Afrika Jakarta.
Waktu : Pukul 17.00 WIB s/d Selesai
Note : Akan dihadiri Presiden MADN yang sekaligus Gubernur Kalteng, Gub Kaltim, Gub Kalbar, Gub Kalsel, beberapa Bupati Sekalimantan dan toko-toko nasional lainnya.

Demikian undangan disampaikan, atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.

"Kasih Yesus Meneguhkan Persaudaraan Warga Kalimantan Khususnya dan Warga Indonesia Umumnya"

NB : Mohon bagikan info ini kepada saudara, keluarga dan kerabat kita dimanapun berada.

Salam,
The New Generation Of Dayak


[Bonny Bulang]

Wednesday, November 14, 2012

Penduduk Madagaskar Diyakini Berasal Dari Indonesia



Penduduk Madagaskar Diyakini Berasal Dari Indonesia   google.comPeta Madagaskar
PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Sebagian penduduk Madagaskar, sebuah negara di Afrika, diyakini berasal dari Indonesia. Penduduk itu disebut suku Merina dengan bahasa yang mirip Dayak Maanyan. Masyarakat Merina dan Maanyan memiliki ribuan kosa kata yang sama.
Kami berencana melakukan penelitian dan pengumpulan data tentang kesamaan suku Merina dan Maanyan. Langkah itu akan dilaksanakan dengan verifikasi.
-- Lasro Simbolon
Menurut Direktur Afrika, Kementerian Luar Negeri, Lasro Simbolon di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (13/11/2012), pihaknya berencana melakukan penelitian dan pengumpulan data tentang kesamaan suku Merina dan Maanyan. Langkah itu akan dilaksanakan dengan verifikasi.
"Mungkin kami akan melibatkan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Jadi, informasi tidak hanya berasal dari perpustakaan," ujarnya. Penelitian diharapkan dapat membuat hubungan antara Indonesia dengan Afrika khususnya Madagaskar, semakin erat.
Hubungan sosial budaya Merina dan Maanyan tercermin melalui kontak kedua pihak sekitar 1.200 tahun lalu dengan misi dagang dari Indonesia ke Madagaskar. Bukti kontak budaya misalnya ditunjukkan dengan bahasa Malagasy yang dipakai Merina. Malagasy punya k aitan erat dengan bahasa-bahasa Malayo-Polynesia.
Malayo-Polynesia digunakan penduduk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Tapi, Malagasy amat mirip dengan bahasa Maanyan, tutur Lasro. Sebagai contoh, kata belum memiliki arti yang sama dengan bçlum dalam bahasa Malagasy. Sistem bercocok tanam khususnya padi kedua suku itu juga menunjukkan persamaan.

sumber : kompas.com
Editor :
Robert Adhi Ksp

Thursday, November 8, 2012

Tokoh Dayak Menentang Pemberian Gelar bagi Jupe

Rabu, 7 November 2012 19:47 WIB
Metrotvnews.com, Kotabaru: Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memprotes pemberian gelar Intan Garinda terhadap Julia Perez (Jupe). Gelar tersebut diberikan tokoh adat Dayak di Kalimantan Tengah.

Wakil Majelis Adat Dayak Nasional Haspan Hamdan di Kotabaru, Kalimantan Selatan, Rabu (7/11), menyebut pemberian gelar kepada Jupe sangat tidak objektif dan tidak profesional, dan keliru. Bahkan, kata dia, merendahkan martabat orang Dayak di Kalimantan.

Pemberian gelar bangsawan bagi masyarakat Dayak, kata Hamdan, tidak gampang. Seseorang harus melewati proses yang sangat objektif melalui musyawarah. Menurut dia, pihak penerima gelar harus punya integritas yang tinggi serta kontribusi yang luar biasa terhadap masyarakat adat.

"Saya selaku tokoh adat Dayak di kalimantan sekaligus sebagai Wakil Sekjen Majelis Adat dayak Nasional Wilayah Kalsel mengecam sekaligus keberatan atas pemberian gelar kepada Jupe itu," tegasnya.

Kepada pihak pemberi gelar, Hamdan berharap, segera mencabut pemberian gelar tersebut sekaligus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan.

Hamdan mengungkapkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan MADN, langkah-langkah yang akan dilakukan terkait pemberian penghargaan tersebut. "Kami masih mencari informasi apa yang menjadi dasar sehingga salah seorang tokoh adat di Kalteng itu memberi penghargaan kepada Jupe," imbuhnya.(Ant/TII)

Pemberian Gelar untuk Jupe Menuai Kecaman

PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Pemberian gelar Nyai Intan Garinda untuk aktris, penyanyi, dan model iklan Julia Perez saat berkunjung ke Kalimantan Tengah, menuai kecaman.
Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng menyampaikan keberatan, dan menuntut gelar perempuan yang kerap dipanggil Jupe itu dicabut.
Ketua DAD Kalteng, Sabran Achmad, di Palangkaraya, Rabu (7/11/2012), mengatakan, Jupe datang ke Kalteng untuk melakukan pengambilan gambar. Kegiatan untuk pembuatan film berjudul Perawan Dayak itu tak diketahui DAD Kalteng. Demikian pula Pemerintah Kabupaten Katingan dan Pemerintah Provinsi Kalteng.
Citra Jupe di mata sebagian masyarakat juga miring. Sebelumnya, Jupe melakukan pengambilan gambar di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalteng, pekan lalu. Dalam kegiatan itu, ia menerima gelar dari damang (tokoh adat) setempat.
"Kami menolak pemberian gelar itu. Pemberian gelar diberikan tak sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga dinilai melecehkan dan tidak baik," kata Sabran.
Karena itu, DAD Kalteng juga tak ingin film yang dibintangi Jupe beredar, baik di Indonesia maupun Kalteng.
Menurut Sabran, pihaknya sedang mengusut alasan pemberian gelar untuk Jupe. Namun, sanksi untuk pemberi gelar belum ditetapkan.
"Hukuman itu harus diputuskan melalui sidang adat. Kami khawatir, jika diedarkan, film akan menimbulkan kesan negatif terhadap masyarakat Dayak," katanya.
 
Editor :
Agus Mulyadi

Saturday, October 13, 2012

PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN

Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata...!!!
Salam Budaya..

HADIRILAH.....!!! PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN X 2012-YOGYAKARTA (PSBDK X 2012)

Tanggal, 18 s/d 20 Oktober 2012, di gedung PKKH Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pukul 09.00-22.00 wib.

TEMA:  "Aktualisasi Spirit Kearifan Tradisi Bagi Pemahaman Budaya Dayak Antar Generasi"

Rangkaian Acara:
1. Acara Pembukaan dengan Ritual Adat Dayak Bidayuh
18 Oktober 2012
waktu : 10.00 - 15.00 WIB
tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Tebuka untuk umum

2. Pameran Seni dan Kerajinan Memayet
waktu : 18 OKtober 2012
Tempat : Lorong Kanan Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

3. Stand Pameran
18 - 20 Oktober 2012
Waktu : 15.00 - 22.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Pameran Seni & Kerajinan mengangkat tema "Kampung Dayak"
Setiap stand pameran menghadirkan nuansa dari dimensi kehidupan suku Dayak.
Terbuka untuk umum

4. Malam Kesenian I & Festival Vocal Group
18 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 10.000; (Tempat Terbatas)

5. Talkshow & Workshop "Bidai"
19 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Terbuka untuk umum (Gratis)

6. Perlombaan Tradisional I
Menyumpit
19 Oktober 2012
Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Tempat Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

7. Malam Festival Tari Kreasi Dayak
19 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

8. SeMinar Budaya
20 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka untuk umum (gratis)

9. Perlombaan Tradisional II
20 Oktober 2012
Pangka' Gasing, Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Menampi Beras, Waktu : 15.00 - 17.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

10. Malam Kesenian II
20 Oktober 2012
Waktu : 18.30 - 21.30 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

11. Penutupan dengan Ritual Upacara Adat Dayak Bidayuh
20 Oktober 2012
Waktu : 21.30 - 23.30 WIB
Tempat : Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka Untuk Umum

Monday, October 1, 2012

Batik Bermotif Kaltim Dipatok Harga Rp 7 Juta



google.com
Ilustrasi
SAMARINDA, KOMPAS.com--Kain Batik dengan motif Kalimantan Timur, yang dipamerkan pada Kaltim Expo 2012 dibandrol hingga Rp7 juta.
Pemilik stand Rezadya Batik, Rr. Retno Widowati SK, Selasa, mengatakan, kain batik bermotif tradisional Kaltim itu dibuat di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
"Kain batik tradisional Kaltim ini dibuat di Kota Pekalongan namun untuk penjualan sehari-hari warga bisa mendapatkan di ’show room’ kami di Jalan Sempaja Lestari," ungkap Rr. Retno Widowati.
Kain bermotif batik tradisional Kaltim itu kata Rr. Retno Widowati dibandrol mulai Rp250 ribu hingga Rp7 juta. "Kain yang terbuat dari bahan katun harganya Rp250 ribu dan termahal Rp7 juta yang dibuat dari sutra dan tenun. Untuk ukuran kain itu mulai dua hingga tiga meter," kata Rr. Retno Widowati yang menyebut, kain batif motif Kaltim buatannya tersebut memiliki ciri khusus.
Pembuatan kain batik bermotif ukiran Dayak itu lanjut Rr. Retno Widowati dilakukan di Kota Pekalongan karena keterbatasan alat dan dan SDM (sumber daya manusia) serta jenis air yang ada di Samarinda bersifat asin sehingga akan mempengaruhi kualitas pewarnaan.
"Selain biayanya tinggi, banyak bahan yang sulit di peroleh di Samarinda sehingga rencana memproduksi kain batik khas Kaltim itu disini (Samarinda) urung kami lakukan," katanya.
"Jenis air juga disini tidak memungkinkan untuk membuat batik sebab akan sangat mempengaruhi kualitas warna juga menjadi salah satu masalah sehingga produksi batik khas Kaltim itu tetap kami lakukan di Pekalongan. Belum lagi masalah SDM (sumber daya manusia) sebab minimal kami harus membawa delapan pembatik," ungkap Rr. Retno Widowati.
Walaupun tergolong mahal, namun animo masyarakat terhadap batik khas Kaltim produksi Rr. Retno Widowati cukup mendapat respon cukup besar dari masyarakat.
"Produksi kami cukup dikenal karena memiliki ciri khusus. Sejauh ini, animo masyarakat cukup tinggi dan kami meresponnya dengan terus melakukan inovasi dengan memberikan berbagai variasi tetapi tidak menghilangkan motif Kaltim yakni ukiran Dayak," kata Rr. Retno Widowati.
Selain berbagai jenis kain, Rr. Retnowati juga mendesain berbagai pakaian dengan menggunakan kain batik tradisional Kaltim.
Sumber :
ANT/Kompas
Editor :
Jodhi Yudono

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube