BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Kalteng. Show all posts
Showing posts with label Kalteng. Show all posts

Friday, December 6, 2013

Wisata Rumah Adat Dayak Dikembangkan

Penataan rumah adat itu akan dilakukan, antara lain dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan.

Rumah Betang. (Dok. Indonesia Travel)
Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, akan mengembangkan tempat tinggal adat Suku Dayak yaitu Rumah Betang menjadi objek wisata mulai 2014.
"Sejumlah Rumah Betang yang kini masih dihuni Suku Dayak setempat akan kami tata dan kelola karena punya potensi sebagai objek wisata," kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Murung Raya, Agus Sumadi di Puruk Cahu, Kalimantan Tengah, Senin (18/11).
Rumah Betang yang akan dijadikan lokasi tujuan wisata berada di daerah pedalaman Kalimantan Tengah yaitu di daerah aliran Sungai Barito itu antara lain di Desa Konut Kecamatan Tanah Siang Timur, Desa Bantian dan Tumbang Apat di Kecamatan Sungai Babuat.
Menurut Agus, semua Rumah Betang itu masih dihuni oleh penduduk setempat. Rumah Betang yang masih aktif dihuni dan difungsikan layaknya rumah biasa oleh penduduk setempat akan menjadi daya tarik tersendiri.
"Untuk tahun depan kami mencoba untuk fokus pada penataan Rumah Betang itu sebagai objek wisata karena memiliki daya tarik mengundang minat pengunjung," katanya.
Dia menjelaskan lokasi rencana obyek wisata itu tidak terlalu jauh dari kota Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya. Penataan rumah adat itu antara lain dilakukan dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan. Selain itu, rumah itu juga akan menjadi lokasi pentas atraksi seni budaya sehingga sehingga bisa menjadi multifungsi.
Jika itu sudah berjalan, lanjut Agus, maka pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap pelaku atau pemain atraksi seni budaya sehingga lebih menarik minat pengunjung.
"Kalau orang mengunjungi Rumah Betang ini maka selain melihat secara langsung rumah adat Suku Dayak yang asli juga dapat menyaksikan atraksi seni budaya," kata Agus.
(I Made Asdhiana, KOMPAS.com)

Saturday, August 11, 2012

Lahir dan Besar di Hutan, Sejengkal Tanah Pun Tak Punya

Hidup di tengah-tengah kepungan kegiatan tambang batu bara, tak menjamin warganya bisa hidup layak. Ini bisa dilihat dari keberadaan warga Dayak Punan yang tinggal di Satuan Permukiman (SP) Punan di Kampung Birang-Gunung Tabur Kabupaten Berau. Berikut cerita perjalanan General Manager Berau Post (Kaltim Post Group) Endro S Efendi dengan gaya bertutur.
 
Endro S. Efendi, Gunung Tabur

SINAR matahari sedang panas-panasnya ketika mobil yang saya tumpangi bersama kawan dari dunia politik, Zulkarnain Tanjung, meluncur di ruas jalan tanah. Ya, jalan menuju Kampung Birang memang belum tersentuh aspal. Untuk menuju kampung ini, dari Kota Tanjung Redeb menyusuri jalan menuju ke Gunung Tabur hingga ke arah yang akan menuju Tanjung Selor. Tak jauh dari pertigaan jalan yang akan menuju Tanjung Batu dan Tanjung Selor, terdapat jalan tanah di sebelah kiri jalan, dengan sebuah papan nama berwarna hijau bertuliskan Kampung Birang.

Dari ujung jalan ini, jangan pernah lagi berharap ada jalan beraspal. Semua jalan masih berupa tanah dengan debu yang pekat. Apalagi kondisi cuaca sedang panas, debu seketika berterbangan ketika terusik dengan laju kendaraan yang melintas di atasnya.

Tapi saya justru beruntung cuaca sedang panas, sebab jika kondisi hujan, dijamin mobil Suzuki APV milik kantor yang saya tumpangi tak akan bisa tembus hingga sampai SP Punan yang jaraknya mencapai 10 kilometer.

Tak jauh dari SP Punan, terdapat sebuah pos penjagaan. Pos ini bukan untuk menjaga keberadaan warga Punan, melainkan pos jaga milik perusahaan tambang di lokasi itu. Sebab di ujung pos ini terdapat dua jalur jalan, yang sebelah kiri milik perusahaan, sebelah kanan barulah jalan menuju kawasan kampung.

Tiba di SP Punan yang terletak di bibir sungai itu, terlihat 10 rumah kayu saling berhadapan. Lima di sebelah kiri, sisanya di sebelah kanan. Rumah-rumah panggung berukuran 4 x 6 meter itu dihuni 14 kepala keluarga. Tak heran jika ada rumah yang terpaksa ditempati hingga 3 kepala keluarga. Ada 40-an jiwa yang hidup di satuan permukiman ini.

Rumah-rumah bantuan perusahaan yang dibuat sejak 2004 itu belum pernah tersentuh kegiatan renovasi. Ini terlihat beberapa bagian rumah sudah mulai rapuh, bahkan terlihat miring dan nyaris roboh.  

Sebelumnya, sudah ada satu bangunan yakni balai kampung roboh dan kini diupayakan dilakukan perbaikan kembali dengan membangun baru. Yang kini terancam adalah bangunan rumah yang dijadikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al Muallafin.

Atap beberapa rumah lainnya pun sudah mengalami kerusakan, sehingga jika hujan terpaksa air masuk hingga ke dalam rumah. Kalau sudah seperti itu, penghuni rumah hanya bisa pasrah. Sebagai penangkal sementara, beberapa atap rumah terlihat dilapisi dedaunan. Rumah pun tak dilengkapi plafon sehingga jika siang hari terasa sangat panas, sebaliknya saat malam terasa dingin mencekat. Tak ada mebel seperti kursi di dalam rumah, semua dilakukan serba lesehan. Begitu pula ranjang tidur. Tidur hanya beralaskan lantai kayu.

Warga Dayak yang bermukim di kawasan ini mengakui, sudah lama mengajukan permohonan perbaikan rumah pada pemerintah, termasuk pada perusahaan. Namun hasilnya masih jauh panggang dari api.

“Kami juga kesulitan mendapatkan air bersih. Dulu, kami masih bisa minum pakai air sungai. Tapi sekarang air sungai sudah tercemar, sudah kena limbah,” sebut Husin, warga Dayak Punan.

Sejak warna dan rasa air sungai itu berubah, warga pun tak berani lagi mengonsumsi air sungai di dekat kampung ini. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan tadahan air hujan. 

Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dia mengaku dibantu perusahaan tambang di kawasan ini berupa bahan pokok. Itu pun hanya berupa beras 20 kilogram, gula 5 kilogram, dan minyak goreng 5 liter.

Cukup tidak cukup, bantuan itu harus dikelola dengan maksimal. Sisanya, berusaha sendiri dengan mencoba mencari cincangan kayu gaharu atau rotan. Ada pula yang kerja serabutan dengan menjaga pos perusahaan, atau menjaga alat berat milik perusahaan. 

“Kami sebenarnya juga ingin bisa berburu dan memasang jerat untuk hewan liar, itu kehidupan kami sebelumnya. Tapi semua hutan sudah dikuasai perusahaan,” sambungnya. 

Untuk mencari ikan di sungai pun, saat ini diakui sangat sulit. “Dulu, memancing sebentar saja sudah banyak dapat ikan dan bisa dijual. Sekarang, satu saja susah. Airnya sudah kena limbah. Belum lagi warga dari luar banyak yang mencari ikan dengan racun dan setrum,” tuturnya.

Madu yang dahulu mudah didapat, sekarang juga susah. Pasalnya, lampu sorot perusahaan menyulitkan upaya warga mengunduh madu. “Kalau dulu kan gelap, nggak ada lampu. Gampang ngambilnya. Sekarang mau ngambil madu, tawonnya marah, Pak. Habis badan kami disengat,” tuturnya didampingi Malik, pria yang dianggap sebagai ketua di satuan pemukiman tersebut.
 
Malik kemudian mengaku, pernah dijanjikan mendapatkan bantuan mesin jahit dari pemerintah.
Nyatanya, seperti apa wujud mesin jahit itu pun belum pernah ia ketahui. Instansi sosial pemerintah, menurutnya belum pernah melihat keberadaan mereka dan memberikan bantuan nyata. Malik mengaku, sepertinya mereka sering dibohongi dan hanya menjadi objek proposal untuk kepentingan pribadi orang lain.  Semua janji yang mereka dapatkan, seolah seperti angin surga yang tak pernah terwujud. 

“Kami sebenarnya ingin diberi lahan untuk berkebun. Tapi selalu dipersulit karena hampir semua hutan di kawasan ini sudah dimiliki perusahaan,” katanya. Ia mengaku malu dan tak mau terus-menerus mengemis untuk kebutuhan hidup sehari-hari pada perusahaan. “Kami juga ingin mandiri, tidak mau bergantung dengan perusahaan ,” tuturnya.

Ia mengaku iri dengan pejabat di daerah ini yang dengan mudah mendapatkan sepetak tanah. “Kalau kami mana bisa bikin surat tanah. Cuma orang yang bertitel yang bisa. Kami tidak bisa, kami tidak punya uang. Kami selalu tersingkir. Lahir dan besar di hutan, tapi sejengkal tanah pun kami tak punya,” keluhnya.

Untuk urusan pendidikan juga mengkhawatirkan. Anak-anak warga harus sekolah di lokasi yang lumayan jauh di Kampung Rantau Panjang. Untuk pergi ke sekolah harus menggunakan perahu ketinting. “Kalau minyak lagi kosong, terpaksa jalan kaki, karena ketinting nggak bisa dipakai,” katanya. Karena itu, ia sangat berharap anak-anak bisa sekolah tak terlalu jauh. Bisa saja dengan didatangkan guru untuk mengajar rutin anak-anak di kawasan ini.

Zulkarnain Tanjung, kawan saya tadi, mengaku prihatin dengan kondisi warga Dayak Punan di kawasan ini. “Seandainya setiap kepala keluarga memiliki lahan 2 hektare saja, mereka sudah bisa hidup mandiri. Bisa untuk menanam sawit, atau berkebun lainnya. Selain itu juga bisa beternak,” ucapnya.

Ia mengakui, secara jangka panjang bantuan yang diberikan sebaiknya dalam bentuk mengajak warga kawasan ini mandiri. “Jadi tidak selamanya bergantung dari pemberian perusahaan,” tuturnya. Jika tidak, sampai kapan pun tidak akan pernah mandiri. 

Zulkarnain menyebutkan, semestinya warga Dayak di kawasan ini mendapatkan kompensasi atas kerugian kehilangan mata pencaharian. Dampak sosial ini, menurutnya tak bisa diabaikan. Dari mulai sulit mendapatkan air bersih, hingga sulit mencari madu dan berburu. (*/che)

Sumber : Kaltimpos

Kalimantan Menolak Freeport

Aktivis lingkungan di Kalimantan Tengah menolak eksplorasi oleh PT Kalimantan Surya Kencana yang bekerja sama dengan Freeport-McMoran Copper & Gold. Mereka cemas eksplorasi yang berujung pada penambangan emas di Kalteng itu akan memicu konflik agraria.
Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng Arie Rompas, pertimbangan penolakan adalah eksplorasi di Papua oleh PT Freeport Indonesia.
Perusahaan yang mayoritas sahamnya dikuasai Freeport-McMoran Copper & Gold itu telah melakukan kegiatan sejak tahun 1967.
Namun, menurut Arie, sampai 45 tahun kemudian, rakyat Papua tak mendapatkan kesejahteraan, bahkan hanya menimbulkan konflik, bencana lingkungan, dan kemiskinan.
Dalam konteks eksplorasi di Kalteng, kata Arie, ketidakadilan dalam penguasaan sumber daya alam dicemaskan akan berujung pada konflik, termasuk konflik lahan.
“Sangat patut untuk dipikirkan ulang agar pemerintah menolak Freeport dan perusahaan industri ekstraktif skala raksasa lain yang masuk ke Kalteng,” papar Arie, Selasa (24/7/2012) di Palangkaraya seperti dilansir kompas.com.
Arie mengemukakan, lahan yang menjadi sasaran eksplorasi sekitar 120.900 hektar, yang tersebar di Kabupaten Murung Raya, Katingan, dan Gunung Mas. Namun, dalam data Dinas Pertambangan dan Energi Kalteng tercantum luasnya sekitar 61.000 ha.
Direktur Eksekutif Save Our Borneo (SOB) Nordin mengatakan, pihaknya menolak bentuk penguasaan sumber daya alam yang dilakukan investor asing, termasuk PT KSK bersama Freeport, karena mengancam kedaulatan hak-hak masyarakat adat serta lingkungan di Kalteng.
Nordin mengatakan, selain Walhi Kalteng dan SOB, penolakan juga disampaikan Komisi Keadilan dan Perdamaian Palangkaraya dan Mitra Lingkungan Hidup.
“Investasi yang propasar kerap tak menghargai kearifan lokal, peran masyarakat, serta keberlanjutan lingkungan,” ujar Nordin.

Sunday, April 1, 2012

Bertandang ke Betang Antang Kalang

Oleh Dwi Bayu Radius
 MARI bertualang ke pedalaman Kalimantan. Mari berkunjung ke rumah adat Dayak, Betang Antang Kalang. Untuk itu, kita harus menyusuri curamnya riam-riam sungai dan melintasi lebatnya hutan. Menantang dan mengasyikkan.

Betang adalah sebutan untuk rumah besar milik keluarga. Betang Antang Kalang terletak di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Tahap pertama menuju Tumbang Gagu ditempuh dari ibu kota Kalteng, Palangkaraya, menuju Kecamatan Tumbang Samba, Kabupaten Katingan, Kalteng. Perjalanan sebaiknya ditempuh dengan mobil berpenggerak empat roda.

Pada akhir Februari lalu, kami menggunakan mobil Hardtop untuk menempuh jarak 185 kilometer dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Hingga Kasongan, ibu kota Katingan, jalan masih mulus. Namun, jalan selanjutnya merupakan jalur off road dengan lubang-lubang cukup dalam. Maklum, jalur itu dilalui truk-truk pengangkut sawit setiap hari. Meski mobil masih lincah menaklukkan medan berat, tubuh terguncang juga. Sekitar pukul 21.00, rombongan tiba di Tumbang Samba untuk bermalam di losmen sederhana.

Menempuh riam dan rimba
Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang kapal kelotok. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00, kelotok sudah bertolak. Perjalanan menyusuri Sungai Katingan selama hampir tujuh jam itu ditempuh dengan beberapa kali mengarungi riam. Ini bagian yang mendebarkan. Namun, jangan khawatir. Juru mudi kelotok dengan cekatan meliuk-liukkan perahunya, sementara batu-batu besar di depan menghadang.

Lebih dari 10 riam dilewati sepanjang perjalanan, termasuk Mangkikit dan Leleng yang dikenal terjal. Begitu ganasnya medan di kedua tempat itu sehingga semua penumpang harus turun dulu, sementara pengemudi perahu berjuang menerjang riam. Perahu terlihat bersusah payah melawan arus, bahkan tak jarang harus terseret mundur untuk kemudian maju lagi. Penumpang dapat naik lagi ke perahu setelah berjalan kaki sekitar 200 meter menyusuri hutan dan rumah penduduk setempat.

Sesekali saat melintasi riam-riam kecil, air sungai terciprat dan membasahi sebagian pakaian. Jika dirasa perlu, awak perahu memasang terpal untuk melindungi penumpang, tetapi tetap saja ada sedikit cipratan air yang masuk. Susur sungai menempuh jarak 118 kilometer berakhir ketika perahu merapat di Desa Penda Tanggaring, Kecamatan Sanaman Mantikei, Katingan.

Petualangan dilanjutkan dengan berjalan kaki menjelajah rimba belantara sejauh 6 kilometer. Perjalanan dua jam itu menjadi menyenangkan dengan hawa segar karena lebatnya pepohonan seperti durian, karet, dan ulin. Ada pula durian hutan dengan buah berwarna merah.

Setidaknya di dua tempat terlihat onggokan kayu-kayu ulin berdiameter 50 sentimeter dan panjang hingga 5 meter. Kayu-kayu itu semula hendak digunakan untuk membangun Betang Antang Kalang. Suatu ketika kayu yang dibutuhkan ternyata sudah cukup dan gelondongan-gelondongan itu dibiarkan di hutan. Meski sudah hampir 1,5 abad lalu, kayu itu masih kokoh dan keras.

Setelah berjalan kaki sekitar dua jam, Betang Antang Kalang akhirnya dapat dicapai. Mira Rindu (53), penghuni betang tersebut, menerima dengan ramah rombongan wisatawan yang datang. Ia mempersilakan kami untuk melepas lelah dengan menyuguhkan teh panas nan legit.

Hening dan sejuk
Pagi datang dengan kicauan burung terdengar di sana-sini. Kabut tipis terlihat di kejauhan. Udara sejuk terasa. Menikmati suasana di Betang Antang Kalang berarti merasakan keheningan yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kehidupan di Antang Kalang berjalan sederhana. Warga memasak makanan menggunakan kayu bakar. Mereka mencukupi kebutuhan makanan dari kebun sendiri. Mereka mandi di Sungai Kalang. Ada juga bau teknologi berupa generator yang menyala sekitar pukul 18.00-24.00. Mereka perlu generator antara lain untuk menyalakan televisi, sekadar hiburan bagi penghuni betang.

Mira Rindu menuturkan riwayat singkat Betang Antang Kalang. Rumah itu dibangun Singa Jaya Antang pada tahun 1870 dan mulai dihuni tahun 1878. Singa Jaya Antang berasal dari Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Singa membangun betang karena mencari daerah baru yang subur.

”Kalau letak rumah, Singa menentukannya berdasarkan petunjuk elang berdasarkan kepercayaan zaman dulu,” kata Mira yang merupakan generasi ketiga keturunan keluarga Singa.

Betang Antang Kalang sehari-hari dihuni hanya oleh lima orang. Namun, pada saat kumpul keluarga besar, betang bisa kedatangan hingga 100 orang. ”Soalnya, banyak penghuni betang bekerja di kota besar, menggarap kebun, dan menyadap karet di tempat yang jauh,” papar Mira. 



SUmber : Kompas.com

Sunday, November 20, 2011

Ban Kim Moon Di Sambut Dengan Acara Adat Dayak di Kalteng

Harian Umum Tabengan, 
Sebelum tiba di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, suasana di ruang VIP Isen Mulang maupun di halaman tidak seperti hari biasanya. Terlihat banyak aparat keamanan gabungan TNI/Polri berjaga-jaga di sejumlah sudut. Tidak hanya petugas keamanan dari Kalteng, tetapi aparat keamanan berjas dari luar negeri, juga terlihat sibuk mondar mandir di tempat itu.
 
Pemandangan ini hanya beberapa saat. Setelah itu, sekitar pukul 12.15 WIB, pesawat jet Fokker 28 tiba dan mendarat di bandara terbesar di Kalteng itu. Berselang beberapa menit, keluarlah pria berkulit putih berpostur cukup tinggi yang tidak lain adalah Ban didampingi istri. 
 
Ban dan rombongan disambut Teras Narang beserta istri Moenartining, Kuntoro,  Sekdaprov Siun Jarias, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Geerhan Lantara, Kapolda Kalteng Brigjen Pol Damianus Jackie, Danrem 102/Panju Panjung Kolonel Inf Sukoso Maksum, sejumlah pejabat tinggi lainnya, baik dari Kalteng maupun dari Pusat serta para undangan.
 
Ini merupakan kali kedua dalam beberapa bulan terakhir, seorang tokoh dunia, menginjakan kakinya di Kalteng, setelah sebelumnya mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.
 
Dengan senyum ramahnya, pria asal Korea Selatan ini didampingi Teras, melangkah masuk ke lobi VIP Room Bandara, disambut dengan tarian selama datang dan upacara adat Dayak. Itu sebagai bentuk rasa hormat kepada para pejabat Negara maupun tamu yang baru datang menginjakkan kakinya di Bumi Tambun Bungai.
 
Kemudian, dengan dipandu tetua adat Dayak, Ban diminta untuk menginjak telor ayam sebagai tanda ucapan selamat datang. Selanjutnya, juga diminta memotong kayu yang dipasang melintang (pantan), yang merupakan tradisi Adat Dayak, bagi setiap orang yang datang ke Kalteng, sebelum masuk melanjutkan perjalanan. 
 
Tak lupa, pupur diusapkan oleh gadis dayak pada pipi Ban seraya memberikan kesempatan memperkenalkan namanya yang diucapkan dalam bahasa Inggris, tentang maksud dan tujuannya datang ke Kalteng.
 
“My name is Ban Ki-moon,” ucap Sekjen setelah diminta memperkenalkan diri, sebelum melanjutkan upacara potong pantan. Ia juga menjelaskan kedatangannya untuk melihat keberadaan masyarakat dan berupaya membantu mensejahaterakan masyarakat Kalteng. 
 
Setelah upacara penyambutan, Ban ini diikuti Teras dan undangan lainnya, menuju mobil yang membawanya ke acara berikutnya, mengunjungi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Menteng di Jalan Tamanggung Tilung, Kelurahan Menteng Palangka Raya. Selanjutnya, ramah tamah di Rumah Jabatan Gubernur, melakukan penanaman pohon di halaman rujab.

Tujuan Ban datang ke Kalteng adalah untuk meresmikan kantor perwakilan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Kalteng menjadi kota istemewah bagi PBB karena satu-satunya ibukota provensi yang menjadi perwakilan PBB di Dunia. Perwakilan di negara lain semuanya ada di Ibukota Negara. 

Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang juga mengucapkan terima kasih kepada Sekjen PBB yang telah datang ke Kalteng untuk meresmikan kantor penghubungnya di Palangka Raya. Terkait penetapan Kalteng sebagai provinsi percontohan, Teras percaya dan yakin keberadaan kantor penghubung itu mampu mempercepat keberhasilan REDD+ di Kalteng. 

Sebelum meresmikan kantor itu, Ban mengatakan, Presiden SBY telah berkomitmen terhadap perubahan iklim di Indonesia. Ia merasa bahagia dapat berkunjung langsung ke Kalteng yang saat ini menjadi perhatian internasional, berkaitan dengan dipilihnya menjadi provinsi percontohan.
 
Ban menegaskan, alasan terpilihnya Kalteng sudah jelas. Karena provinsi itu memiliki sumber daya alam yang melimpah yang bisa untuk melestarikan dan mendukung program perubahan iklim. Ia berterima kasih atas dukungan Pemerintah Indonesia terhadap REDD+ dan menyelenggarakannya di Kalteng.
 
Ban juga mengunjungi Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Palangka Raya untuk berdialog dengan warga mengenai program REDD+. Tampak hadir Wakil Gubernur Achmad Diran, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan Kalteng Hamdani dan Rugas Binti. anr/adn

Saturday, October 29, 2011

Ayo, Berlayar di Belantara Kalimantan

JUNGLE River Cruise merupakan sebuah konsep pariwisata di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang dijalankan oleh Kalimantan Tour Destination (KTD). Perusahaan asing ini didirikan Gaye Thavisin dan Lorna Dowson-Collins. Keduanya merupakan pencetus utama yang memperkenalkan wisata melalui jalan air di Kalimantan Tengah.

Terinspirasi dengan keindahan sungai di Kalimantan Tengah, Gaye dan Lorna merubah sebuah kapal barang menjadi perahu layar yang nyaman dengan fasilitas berlayar, di antaranya kabin, tempat duduk untuk bersantai dan deck pada bagian atas untuk melihat pemandangan. Perahu ini dikenal dengan nama Rahai̢۪i Pangun dengan ukuran 20m x 6m. Perahu didesain oleh seorang arsitek asal Perancis dan memakan waktu sekitar dua tahun dalam pembuatannya.

Melihat potensi dari Kalimantan melalui penduduk dan kebudayaan mereka dengan keindahan hutannya yang menyimpan keanekaragaman flora dan fauna, termasuk orang utan, membuat keduanya berinisiatif untuk menyediakan sebuah akomodasi agar orang-orang bisa menikmati harta karun alam ini.

Mereka membangun kapal sebagai objek wisata dan kendaraan bagi pengunjung untuk menyusuri hutan dan desa sekitar. KTD menciptakna sebuah pelayaran dengan fasilitas makanan yang lezat dan servis yang luar biasa. Pengunjung bisa menjelajahi lingkungan sekitar yang sangat alami sambil belajar tentang lingkungan dan kebudayaan setempat.

KTD bekerja sama dengan penduduk desa untuk membantu dalam mengatur bisnis pariwisata mereka. Misalnya sebagai pemandu tur, penyewa kano, pemandu pemancingan, mengumpulkan pengobatan tradisional dari hutan, menciptakan kerajinan tangan dan menyediakan dengan perbelanjaan untuk wisatawan.

Perekrutan ini memberi keuntungan bagi penduduk lokal karena mereka akan dilatih untuk memajukan keadaan ekonomi setempat. Para staff lokal akan dibayar sesuai pekerjaan dan mereka juga akan menerima bonus serta asuransi kesehatan. Untuk informasi selengkapnya Anda bisa mengunjungi situs wowborneo.com. (MI/ICH)

sumber : metrotvnews.com

Tuesday, October 25, 2011

Masyarakat Adat Dayak Ngaju Terabaikan


KOMPAS/AGUSTINUS HANDOKO Masayrakat Dayak mulai menanam padi ladang (nugal) di lahan yang baru saja selesai dibuka dengan cara membakar. Mereka masih mempraktekkan sistem perladangan berpindah, dalam satu siklus, mereka akan kembali ke lahan yang pernah mereka tanami 6-7 tahun sebelumnya.
JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah merasa diabaikan dalam segala bentuk program pemerintah. Mulai dari zaman orde baru dengan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) Satu Juta Hektar 1996 hingga saat ini dengan program pengurangan emisi melalui deforestasi dan pencegahan kerusakan lahan (REDD+).
Ini belum termasuk berbagai proyek investasi kelapa sawit dan pertambangan. Semuanya dinilai merampas hak masyarakat adat Dayak Ngaju sebagai pemilik tanah secara turun-temurun.
Ini diungkapkan beberapa perwakilan Masyarakat Adat Dayak Ngaju yang didampingi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam temu dengan media, Senin (24/10/2011) di Jakarta.
Pekan lalu, mereka yang berasal dari 4 desa di kecamatan Mentagai Kabupaten kapuas Kalimantan Tengah, telah bertemu dan melayangkan keresahannya pada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Komisi IV DPR serta Badan Pertanahan Nasional.
Di situ, masyarakat menyampaikan kawasan bekas PPLG yang memiliki gambut sedalam 1-20 meter telah dikuasai oleh 23 perusahaan perkebunan sawit. Dari jumlah itu, 11 perusahaan dinyatakan tidak berizin seluas 380.000 hektar. Ini belum lagi proyek konservasi setempat yang dituding merampas hak dan akses masyarakat akan pemanfaatan hasil hutan.
"Kami mau tanah kami dikembalikan ke masyarakat," ucap Tanduk, tokoh masyarakat adat Dayak Ngaju. Nurhadi, anggota masyarakat Dayak Ngaju lainnya, mengatakan masyarakat desa tidak perlu diajari cara mengelola hutan. Mereka yang setiap hari tinggal di hutan, mengerti, jika hutan dijaga, maka kehidupan mereka pun terjamin.
Masyarakat Dayak Ngaju memiliki zonasi dalam hukum adatnya. Yaitu, hutan Pahewan yang merupakan kawasan keramat atau terkait ritual adat dan dilindungi. Hutan Sahepan, dipergunakan untuk masyarakat berburu dan beraktivitas mencari kulit kayu, lateks, dan obat-obatan. Hutan Kaleka untuk perladangan/perkebunan.

sumber : www.kompas.com

Saturday, February 6, 2010

BATU SULI : Diantara Batu Batu Yang Terdiam

Objek wisata alam yang cukup potensial di Kalimantan Tengah cukup banyak tersebar di daerah, bahkan seringkali di pelosok desa pun bisa dijumpai. Hal ini merupakan aset daerah yang mesti dilestarikan dan dijaga keberadaanya, karena disamping mengandung daya tarik wisata dengan keindahan bentang alamnya juga banyak menyimpan nilai-nilai kultural yang tinggi dan kaya ragam budayanya. Salah satunya adalah situs alami Batu Suli yang terletak di Kabupaten Gunung Mas. Jarak kabupaten tersebut dari ibukota propinsi kurang lebih 200 km dengan jarak tempuh menggunakan transportasi darat kurang lebih 5 jam perjalanan. Perjalanan dengan menggunakan mesin perahu dari pelabuhan Tewah dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Letak objek alam Batu Suli yang berdiri kokoh ini berdekatan dengan lokasi areal eks HPH PT. Sikatan Wana Raya dan HPH PT. Domas Raya Kecamatan Tewah, masuk wilayah Sungai Kahayan dan Sungai Miri, tepatnya di Desa Batu Nyiwuh. Jenis tanah pada wilayah ini pada umumnya podsolik merah kuning dan podsolik merah serta jenis tanah aluvial yang banyak dijumpai di sepanjang sungai. Jenis tanah berlempung seperti ini termasuk cukup subur untuk menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan. Apalagi ditunjang dengan tipe iklim A (nilai Q = 5.2%) dengan curah hujan yang cukup tinggi yang terjadi mulai bulan Oktober sampai Mei, menopang terbentuknya klimaks tipe hutan hujan tropis basah (tropical rain forest) yang sangat kaya keanekaragaman hayati di dalamnya.

Menurut ceritanya, nama Batu Suli diambil dari nama buah hutan yang tumbuh di atas bukit batu tersebut yaitu Buah Suli, kulitnya berwarna krem, dagingnya berwarna bening tipis dan bijinya berwarna hitam. Bentuk dan ukuran buah ini agak bulat lonjong sebesar kelingking perempuan remaja dengan panjang kurang lebih 10 cm. Rasa buahnya sangat manis dengan aroma yang khas. Sungguh sangat disayangkan karena keberadaan buah ini sudah mulai langka dan sulit untuk mendapatkannya.

Menikmati pemandangan selama perjalanan menuju tempat tersebut akan banyak dijumpai pohon dari famili meranti-merantian (Depterocarpaceae), jenis yang mendominasi hutan alam hujan tropis, dengan tajuk yang tinggi dan lebar berpadu dengan arsitektur batang yang indah. Sesekali pemandangan dihiasi dengan panorama alam yang berbukit-bukit hijau membentang terhampar dengan bentuk jalan yang berkelok menyerupai ular merayap di bukit menambah khasanah keindahan alamnya. Tidak ketinggalan nuansa khas permukiman masyarakat Dayak dengan rumah-rumah panggung yang bertebaran di tepi sungai serta lanting (rumah terapung) yang berderet di sungai. Kesemuanya berpadu menciptakan suasana alam di pedalaman Kalimantan yang eksotis.

Bila dilihat dari kejauhan Batu Suli tampak bagaikan raksasa perkasa yang berdiri tegak menjulang di tepi sungai, sementara kakinya bermain di riak air yang deras bersama bebatuan yang indah. Yang menarik lagi adalah terdapatnya Batu Antang yang berbentuk seperti goa atau lobang kecil, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan karena berada di kawasan Batu Suli itu sendiri. Batu Antang ini mengandung nilai ritual dan mistis yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Ada segelintir mitos yang masih melegenda bahwa kalau seseorang bisa melewati goa atau lobang tersebut maka kehidupannya akan membaik, rejekinya akan bertambah dan hal-hal positif lainnya. Namun demikian untuk mencapai Batu Antang kita harus bersabar dan bisa memakan waktu hingga berjam-jam karena melewati beberapa jalan yang agak sulit dan terjal. Tapi kesulitan itu akan segera terabaikan manakala merasakan sejuk udara yang melingkupinya.

Nampaknya keberadaan Batu Suli ini cukup populer dan telah menginspirasi pendiri kampung-kampung yang berada di sekitarnya dan di sepanjang aliran Sungai Kahayan dan wilayah Katingan di daerah hulu untuk memberi nama kampung mereka dengan nama batu-batu. Konon batu-batu tersebut adalah pecahan-pecahan Batu Suli yang membatasi aliran Sungai Kahayan dan Sungai Barito hingga terseret arus terdampar di tempat-tempat tertentu lalu oleh masyarakat setempat diabadikan sebagai nama desa. Beberapa diantaranya adalah Batu Mahasur terletak di desa Tumbang Pajange. Batu Badinding terletak di wilayah Katingan, Batu Nyapau terletak di desa Nyapau dekat dengan Kecamatan Tewah. Batu Ampang berdekatan dengan Desa Batu Nyiwuh. Batu Nyiwuh sendiri adalah nama Desa tempat tegak berdiri kokohnya Batu Suli, dan yang lainnya adalah Batu Ampar.

Sampai saat ini, objek wisata alam Batu Suli masih sangat memprihatinkan keadaanya, jauh dari harapan masyarakat sekitar yang ingin menggantungkan hidup dari keberadaannya. Kehidupan masyarakat sekitarnya umumnya bekerja dan masih menggantungkan hidupnya pada alam sekitar, berladang, mencari rotan, getah serta berburu binatang untuk mengisi waktu luang. Kondisi ini dimungkinkan karena letaknya yang sangat jauh dari ibukota propinsi dan biaya yang relatif masih mahal serta sarana dan prasarana di tempat tersebut yang belum memadai bagi pengunjung yang ingin bermalam dan melepaskan lelah di sana. Hal ini tentunya menjadikan objek wisata alam Batu Suli ini menjadi tertinggal. Terlebih lagi dikarenakan kurangnya media massa dalam mengekspos tentang keberadaan dan keunikannya.

Kalau kita simak dengan seksama aset tersebut sangatlah mendukung guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat dan juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat serta mampu mengenalkan dan mengangkat kota Kabupaten Gunung Mas dimata daerah lain, karena di sini cukup menjanjikan untuk refressing dengan menikmati alam dan udara yang bersih di atas batu yang menjulang tinggi di tepi sungai. Tak cukup itu saja, di bawah objek wisata ini mengalir air yang cukup deras dengan riam yang berbatu terjal, cukup menantang bagi generasi muda yang gemar berolah raga air, khususnya olah raga arung jeram. Bahkan memungkinkan juga untuk dijadikan sebagai arena arung jeram dalam skala nasional.

Ditinjau dari keunikan dan keindahan alamnya, objek wisata Batu Suli sangat potensial keberadaannya jika dikelola dengan baik. Hal ini tentunya harus adanya campur tangan manusia dan kerja keras, proaktif dengan masyarakat serta dengan pihak-pihak terkait dalam mempromosikan serta mengelola objek wisata ini nantinya. Pada akhirnya diharapkan pengelolaan objek wisata alam ini mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat sekitarnya. Jalan ke arah promosi wisata sebenarnya telah ada setitik cahaya terang, yaitu nama Batu Suli telah digunakan sebagai nama jalan dan nama hotel berbintang di Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Seringkali orang bertanya-tanya tentang nama yang unik ini, namun belum tersedia informasi yang memuaskan bagi para tamu mengenai keberadaan dan potensinya.

Sebagai catatan akhir, kalau kita menjadikan Batu Suli sebagai salah satu tujuan wisata andalan, marilah dari sekarang kita mulai menjaga kelestariannya dan mempromosikannya ke dunia luar. Jangan sampai terjadi alih-alih tersohor ke telinga dan mata para pelancong, Batu Suli malah semakin dilupakan dan akhirnya hanya menjadi salah satu dari batu batu yang selamanya terdiam!(yos)

sumber : http://ugiborneo.blogspot.com
foto : kami peroleh dari Bapak Kornelis S. Matan anggota DPR kab. Gunung Mas.

Friday, January 15, 2010

BATU AYAU: JALUR EKSPEDISI PARA PEMOTONG KEPALA

(*Oleh: Marko Mahin)

Inilah gunung mitologis orang Ot Danum.
Mereka menamakan tempat ini sebagai Tantan Uhing Doung
tempat para pahlawan menyatakan niat suci untuk
mengembalikan harga diri yang telah dirampas kaum durjana.

Bulu kuduk langsung merinding ketika menapak Batu Ayau. Sebagai putra Dayak, penulis tahu persis Batu Kayau adalah tempat para pengayau menyatakan tekadnya untuk melpenuliskan perburuan kepala. Dendam, kebencian, dan pengpenulisan dosa ditumpahkan di tempat ini.
"Jika tiba di Batu Ayau jangan lupa melpenuliskan sedikit ritual," demikian pesan seorang tetuha kampung sebelum kami pergi. Pesan itu terus bergaung ketika kami bermalam di Takolok Tangga atau Kepala Tangga. Jujur, kegelisahan langsung menyergap karena penulis tidak ada membawa apa-apa.
"Tidak harus binatang korban, sepucuk rokok juga boleh," demikian penjelasan Amai Ica, Tetuha Adat yang ikut mengantar kami. Penjelasan itu menentramkan batin, sehingga penulis bisa tertidur pulas malam itu.
Di bawah cahaya mentari pagi yang kekuningan, dengan takzim satu batang rokok kretek diletakkan di tempat persembahan yang sudah disiapkan. Penuh dengan rasa hormat penulis mementaskan ulang ritual para leluhurku. Di situ penulis memperkenalkan diri sebagai salah satu keturunan yang baru pertama kali menjejakan kaki di Batu Ayau. Kemudian memberitahukan niat dan tujuan Tim Ekspedisi Kompas melintasi tempat itu.

Jalur Asang-Kayau
Dengan dinding terjal yang tegak, Batu Ayau memang tampak menyeramkan. Dalam Tetek Tatum atau Sastra Suci orang Ot Danum, tempat ini disebut Tantan Uhing Doung atau Puncak Uhing Doung.
Pada zaman dahulu, di tempat yang tingginya 1.652 meter ini para lelaki Dayak diinisasi. Seorang pemuda Dayak tidak akan dipenulisi sebagai lelaki dewasa kalau tidak pernah melintasi tempat ini. Ketika meminang seorang perempuan, maka secara halus akan ditanya "Apakah pernah melintasi Batu Ayau?"�
Pertanyaan itu hanyalah kiasan untuk mengetahui apakah sang lelaki itu pernah merantau jauh meninggalkan kampung kelahiran untuk mencari pengalaman hidup. Juga untuk mengetahui apakah ia laki-laki tangguh yang kuat menderita ketika menjelajah hutan, mengarung sungai dan mendaki bukit. Lebih spesifik lagi untuk mengetahui apakah ia pernah ikut mengayau ke arah Timur yaitu dengan melintas Batu Ayau.
Ketika asang-kayau atau perburuan kepala masih berlpenulis di pedalaman Kalimantan, dinding Muller merupakan tapal batas pemisah antar suku-suku yang saling berperang.
Asang berbeda dari kayau. Asang dilpenuliskan dalam kelompok besar dan penyerangan dilpenuliskan dengan pemberitahuan terlebih dahulu. Asang lebih merupakan ekspedisi para pemotong kepala. Sedangkan kayau dilpenuliskan oleh kelompok kecil, 3, 5, 7 atau 9 orang saja dan dilpenuliskan dengan tanpa pemberitahuan. Dalam Tetek Tatum diceritakan bahwa untuk menghindari asang ganas dari sungai Mahakam, orang-orang Ot Danum yang tinggal di hulu Sungai Joloi, anak sungai Barito bagian hulu, harus melpenuliskan pengungsian ke sungai Kahayan.

Tim Ekspedisi Rambang
“Dulu pada zaman Rambang, Tambun, Bungai dan Ringkai, di Batu Ayau ada titian ulin kami menyebutnya Pantar Rambang"�, demikian penjelasan masyarakat Tumbang Topus, ketika ditanya mengenai Batu Ayau.
Menurut Tetek Tatum, Rambang, Tambun, Bungai dan Ringkai adalah tokoh hero orang Ot Danum. Mereka adalah 4 pemuda yang bertekad melpenuliskan baleh-bunu atau menuntut balas atas perlpenulisan kejam orang Dayak Mahakam yang telah membuat leluhur mereka secara paksa mengungsi ke Kahayan. Dengan membawa serta 30 orang lainnya mereka melpenuliskan asang ke sungai Mahakam.
Setelah berpuluh-puluh hari menjelajahi hutan rimba, tibalah mereka di kaki Gunung Uhing Doung. Untuk mencapai puncak mereka membuat tangga dan dan tali-tali pengait. Mereka harus menebang pohon dan mengumpulkan rotan, kemudian memanjat dan mengikat. Melalui tangga dan kaitan itu tibalah mereka di Tantan Uhing Doung. Dari situ mereka berencana berjalan ke arah Timur menuju sungai Mahakam.
Namun ditempat itu mereka menghadapi masalah karena terdapat celah gunung yang curam sekali. Tempat itu mereka beri nama Petak Tapas atau Jurang Maha Dalam.
Untuk menyeberangi jurang maha dalam itu anggota tim membuat pantar atau jembatan/titian dari kayu ulin. Jembatan itu disebut dengan Pantar Rambang atau Titian Rambang. Menurut masyarakat Tumbang Topus, jurang maha dalam dan Pantar Rambang itu telah gaib, lenyap dari pandangan mata dan tidak dapat ditemukan lagi.
Dalam pembuatan titian penyeberangan itu, salah seorang dari anggota ekspedisi yang bernama Bihing jatuh ke dalam jurang Petak Tapas itu. Untuk mencari dan menyelamatkan Bihing yang jatuh ke jurang maha dalam itu, semua anggota tim ekspedisi mengumpulkan semua rotan yang ada di Batu Ayau. Namun Bihing tidak ditemukan juga.
Menurut orang Punan Murung di Tumbang Topus, hal itulah yang mengakibatkan tidak ada lagi tumbuhan rotan di sekitar Batu Ayau. Rotan sudah habis di pakai oleh Tim Ekspedisi Rambang untuk membuat tali, untuk mencari Bihing yang terjatuh.
Alkisah, untuk menghibur Tambun dan Bungai yang terus menerus menangis karena kehilangan Bihing paman tercinta mereka, Ramang membuat Patung Sapi. Sampai tahun 1980-an batu yang oleh penduduk setempat disebut dengan Batu Sapi itu masih ada. Namun kini batu itu telah dijarah oleh para pencuri dan dijual entah kemana.
Setelah menyeberangi jurang Petak Tapas, maka mereka berjalan menuruni gunung, menuju ke satu kampung di tepian sungai Mahakam. Kampung itu bernama Rangan Pulang, di mana Kandang Motong Anak Towong berada, pemimpin Dayak Mahakam yang ganas dan gagah berani. Menurut ceritera di sana Tim Ekspedisi Ramang melpenuliskan asang dan meraih kemenangan.

Batu Pengpenulisan Dosa
Tempat dimana Rambang membuat jembatan ulin dan Batu Sapi itulah yang sekarang disebut Batu Ayau. Pada zaman dahulu, setiap lelaki Dayak yang akan pergi mengayau ke Timur kalau melintasi Batu Ayau haruslah membuat semacam "pengpenulisan dosa"� bahwa keberangkatan mereka bukanlah sekedar iseng atau mencari orang yang tak bersalah, tetapi untuk mengambil kembali roh keluarga yang telah direngut oleh para durjana. Pengpenulisan semacam ini penting untuk dilpenuliskan sebab bagi orang Dayak penumpahan darah dengan tanpa alasan adalah perbuatan terkutuk.
Selain itu, di Batu Ayau juga menjadi tempat melpenuliskan beberapa ritual sebelum melpenuliskan penyerangan. Ritual itu antara lain mangahau liau yaitu upacara memanggil roh-roh keluarga yang dulu telah dipenggal kepalanya oleh musuh. Roh-roh itu diminta bersiap-siap sebab ada kaum keluarga yang akan datang menjemput.
Ritual lain adalah mandoi penyang yaitu setiap anggota ekspedisi pengayauan mandi dari air kucuran rendaman jimat yang ditumpahkan melalui rambat atau keranjang rotan. Setelah itu mereka marapi sabakang yaitu memasak nasi dalam bambu tamiang yang panjangnya kira-kira setengah meter. Tiap orang mendapat satu potongan nasi bambu.

Perdamaian Para Pengayau
Pada masa lalu, Tanah Borneo memang pekat dengan kengerian. Pesisir pantainya dihuni oleh para bajak laut dan daerah pedalaman merupakan arena berdarah kaum pengayau. Para ahli sejarah dan antropologi sepakat, situasi inilah yang membuat populasi di pulau besar ini tidak pernah banyak.
Pada tanggal 22 Mei - 24 Juli 1894, berkumpullah kurang lebih 830 orang Dayak di Tumbang Anoi yaitu sebuah perkampungan orang Ot Danum di hulu sungai Kahayan. Mereka menyelenggarakan rapat adat yang kini disebut dengan Rapat Damai Tumbang Anoi. Dalam Rapat Damai itu dibicarakan tentang hakayau-haasang-habunu (saling potong kepala, saling serang-saling dendam), hal-hal yang selama ini menggelisahkan dan membuat kehidupan mereka tidak nyaman.
Sangat luar-biasa! Orang-orang Dayak yang selama ini dianggap primitif dalam jangka waktu 32 hari itu telah membicarakan 233 perkara. Perkara-perkara yang dibicarakan adalah masalah kayau (perburuan dan pemotongan kepala), habunu (balas dendam), jipen-kabalik (pengorbanan manusia dalam upacara kematian, masalah penyanderaan, perampokan, perkara perkawinan dan masalah warisan).
Pertemuan damai yang dilaksanakan selama 32 hari itu berhasil menciptakan sejarah baru di bumi Kalimantan. Peradaban yang tanpa peperangan dan pemenggalan kepala telah lahir. Kesepakatan bersama pun diambil yaitu: menghentikan kebiasaan perang antar suku (asang) dan pemenggalan kepala (hakayau, menghentikan kebiasaan balas dendam (habaleh-bunu). Sejak itu tidak ada lagi korban kepala manusia dan perbudakan. Denda adat (jipen) yang dulunya dalam rupa manusia diganti dengan uang. Hukum adat diberlpenuliskan sebagai sistem peradilan suku.
Pada 24 Juli 1894, Rapat Damai itu ditutup dengan angkat sumpah bersama. Di hadapan Allah Pencipta dan disaksikan oleh para leluhur mereka bersumpah bahwa mulai hari itu sampai selamanya, baik mereka maupun keturunan mereka, akan tidak lagi saling hakayau-haasang-habunu. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara perdamaian Tipuk Danum yaitu upacara pembersihan dendam dan kebencian.

Ziarah Spiritual
Di puncak Batu Ayau tampak tertancap beberapa potong kayu kecil berukuran kira satu depa. Diujung yang terbelah terselip satu atau dua bilah rokok kretek. “Inilah cara orang Dayak melaporkan dirinya, bila pertama kali melintas Batu Ayau haruslah memberi persembahan walaupun hanya sepucuk rokok, demikian penjelasan Amai Ica ketika ditanya apa arti dari kayu-kayu kecil yang ditancapkan itu.
Kendatipun era asang-kayau telah berlalu sejak Rapat Damai Tumbang Anoi 1894, Batu Ayau tidak pudar pesona mistisnya. Ia bukanlah sekedar dinding terjal curam penyimpan ceritera kepahlawanan Dayak, tetapi juga telah menjadi tempat ziarah spiritual. Ada banyak orang Dayak yang secara sengaja datang ke tempat itu. Selain untuk menapak-tilas cerita Rambang, Tambun, Bungai dan Ringkai, juga untuk bahajat yaitu untuk menyatakan niat hati, keprihatinan batin dan cita-cita hidup.
Sungguh, penulis ingin kembali ke Batu Ayau. Selain untuk mengibarkan bendera kuning dan mempersembahkan korban syukur, juga untuk membuat pengpenulisan dosa. Dosa karena tidak-berdaya melawan penjarahan hutan belantara “emas hijau" Kalimantan yang menjadi paru-paru dunia.


* MARKO MAHIN adalah Dosen Agama dan Budaya Dayak
di Sekolah Tinggi Teologi
Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin
dan Peneliti di Lembaga Studi Dayak-21.

sumber : http://www.jurnalisme.org/Forums/viewtopic/t=85.html

Thursday, December 10, 2009

RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA


Oleh: Andriani S. Kusni

Dahulu kala, jauh sebelum manusia diciptakan dan diturunkan ke bumi, jauh sebelum alam semesta diciptakan, bertahtalah Sang Maha Pencipta. Ia adalah Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat baik dan mulia. Ia memiliki nama-nama yang mencerminkan segala sifat baik dan mulia yang ada pada-NYA. Ia disebut Maha Tunggal, Maha Sempurna, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Kekal Abadi, Maha Pemurah, Maha Besar dan Maha Mendengar. Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat Baik dan Mulia, Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir dari segala kejadian ini disebut Ranying Pohotara Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan atau Ranying Hatalla.

Ranying Hatalla bertahta di tempat yang disebut Balai Bulau Napatah Intan Balai Intan Napatah Bulau di sebuah dataran tinggi yang disebut Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Dataran tinggi ini dikelilingi perairan yang disebut Tasik Malambung Bulau Laut Bapantang Hintan.

Ranying Hatalla memiliki banyak pembantu. Mereka diciptakan dari cahaya. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla diciptakan jauh sebelum alam semesta dan manusia ada. Mereka adalah roh baik yang bertugas menyejahterakan dan menjaga keselamatan dan kemanan suku. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla ini diistimewakan oleh Ranying Hatalla. Beberapa diantara mereka diberi kekuasaan untuk membebaskan dan mengikat.

Nama-nama roh baik yang membantu Ranying Hatalla menyelesaikan urusan keduniawian adalah Putir Selung Tamanang-penguasa padi dan beras, Raja Angking Langit-penguasa padi dan beras, Nyaru Menteng-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api, dan menjaga keselamatan serta keamanan suku, Nayu-Penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan menjaga keselamatan serta keamanan suku bersama-sama dengan Nyaru Menteng, Pangantoha-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan bersama-sama Nyarru Menteng juga Nayu bertugas menjaga keselamatan dan keamanan suku, Janjalung Tatu Riwut-penguasa mata angin dan bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Gambala Rajan Tanggara-penguasa mata angin dan bersama-sama Janjalung Tatu Riwut bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Raja Tuntung Tahaseng-bertugas mengatur usia atau nafas kehidupan manusia dengan wewenang dari Ranying Hatalla. Apabila ada manusia meminta umur panjang maka Raja Tuntung Tahaseng akan menjembatani komunikasi anata manusia dengan Ranying Hatalla. Lalu ada Tamanang Tarai Bulan yang bertugas merawat harta duniawi baik yang masih baru maupun yang sudah usang, Raja Sapanipas bertugas mengamati, memelihara, dan memperbaiki kehidupan manusia yang nasibnya kurang beruntung, dan Raja Mise Andau-pengendali waktu yang menghitung dan memperhatikan waktu siang dan malam bagi kehidupan manusia. Kemudian ada juga Raja Tunggal Sangumang yang bertugas membawa rejeki, iman dan kesempurnaan, Rawing Tempun Telung bertugas mengantar roh ke surga, Manteri Mama Luhing Bungai, Salutan Raja Nalawang Bulau bertugas memberi hikmah dan kebijaksanaan, Raja Sambang Maut yang berkuasa atas maut dan masih banyak lainnya.

Suatu waktu, berangkatlah Ranying Hatalla ke puncak Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit yang terletak di Batang Danum Mendeng Ngatimbang Langit, Guhung Tenjek Nyampalak Hawon. Dalam perjalanan menuju puncak dataran tinggi itu, Ranying Hatalla melihat satu wujud. Melihat wujud itu persis sama dengan diri-NYA, Ranying Hatalla pun bertanya,
“Wahai kau yang menyerupai wujud-Ku! Siapakah kau?”
Wujud serupa bayangan itu diam saja. Melihat wujud itu diam saja, Ranying Hatalla pun berkata,
“Karena kau tak menjawab-Ku maka kau kuberi nama. Namamu sekarang adalah Jata Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan*. Kau adalah penguasa alam bawah yang berada di Papan Malambung Bulau yang bertahta di Laut Bapantan Hintan.

Jata bertempat tinggal di alam bawah air. Untuk sampai ke tempat tinggal Jata, harus melewati sebelas penjaga yang masing-masing memiliki nama. Nama-nama penjaga itu adalah Tewang Lewun Bulau Bawin Lauk, Lewun Saluang Renten Tantahan, Mama Majarungkang Kiting, Balida Indu Tengkung Papan, Balantau Laut, Ranyinh Manjuhan, Tampahas Hagambus Kadai, Undang Indu Gagap Rangkang, Baung Manangking Karis, Bajuku Indu Metup-Merau, Bajai Katabelan Uluh Ponggok Pantar Penda Rasau Rohong.

Setelah melewati sebelas penjaga, barulah perjalanan dapat dilanjutkan dengan menembus tanah untuk mencapai alam bawah air. Selama perjalanan menembus tanah ini, ada 17 pintu yang harus dilewati agar bisa mencapai kediaman Jata. Ketujuhbelas pintu itu, mulai dari yang paling atas hingga pintu paling bawah bernama; Tumbang Ayuh Bulau, Lawang Sahep, Lawang Pating, Lawang Edan, Lawang Batang, Lawang Tunggul. Lawang Baner, Lawang Uhat, Lawang Baras, Lawang Karangan, Lawang Liang, Lawang Batu, Lawang tembaga, Lawang Salaka, Lawang Bulau, dan Lawang Hintan. Setelah melewati pintu terakhir maka tibalah di suatu daerah dimana dijumpai laut dan sungai. Dibawah laut dan sungai inilah, Jata memerintah atas kemurahan hati Ranying Hatalla yang memberinya kekuasaan.

Selepas memberi nama, Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau ke puncak dataran tinggi Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Di puncak dataran tinggi itu, disaksikan oleh Jata Balawang Bulau, Ranying Hatalla berfirman,
“Alangkah indahnya jika AKU menjadikan bumi, langit, bulan, bintang, matahari dan segala isinya. AKU akan membuat tiga alam dan isinya melalui delapan kali penciptaan untuk memenuhi keindahan yang KU inginkan. Ketiga alam itu adalah alam atas, bumi dan isinya serta alam bawah. Apakah kau setuju, wahai Jata Balawang Bulau?”
Jata Balawang Bulau mengangguk.

Ranying Hatalla lalu melepaskan Sarumpah Bulau* di suatu tempat. Seketika terdengar petir menggelegar. Kilat sambar-menyambar. Sarumpah Bulau lalu menjelma menjadi naga. Ciptaan pertama Ranying Hatalla telah terbentuk.

Setelah itu Ranying Hatalla melepaskan Lawung Singkap Antang. Membuka dan meletakkannya di atas badan Naga. Seketika terdengar lagi bunyi gemuruh. Petir menggelegar dan kilat sambar-menyambar. Lawung Singkap Antang tiba-tiba menjelma menjadi Petak Sintel Habalambang Tambun, Liang Deret Habangkalan Karangan. Ini adalah tanah bumi lengkap dengan laut, sungai, danau dan segala isinya juga tumbuh-tumbuhan yang hidup di tanah. Ciptaan kedua Ranying Hatalla terbentuk.

Untuk membuat ciptaan ketiga hingga kedelapan, Ranying Hatalla memutuskan untuk mengambil sifat-sifat baik dan mulia yang dimiliki-NYA sebagai bahan dasar ciptaan-NYA. Ranying Hatalla lalu mengambil Pandereh Buno yaitu sifat mulia-NYA yang maha lurus, maha jujur dan maha adil. Diiringi gemuruh halilintar, Pandereh Buno menjelma menjadi pohon besar yang sangat rimbun dengan buah-buahan ranum didahannya. Oleh Ranying Hatalla, pohon ini diberi nama Batang Garing atau pohon kehidupan. Tak seperti pohon-pohon lain yang sudah terbentuk sebelumnya pada kejadian penciptaan kedua, Batang Garing atau Pohon Kehidupan memiliki buah serta dedaunan yang terbuat dari emas, berlian dan segala jenis permata.

Setelah menciptakan Batang Garing atau Pohon Kehidupan, Ranying Hatalla lalu mengambil Peteng Liung Lingkar Tali Wanang. Ini adalah sifat kewibawaan yang Maha Besar dan Maha Agung Ranying Hatalla. Ketika Ranying Hatalla mengambil Peteng Liung Lingkar tali Wanang, terdengarlah gemuruh halilintar yang memekakkan telinga. Peteng Liung Lingkar Tali Wanang lalu menjelma menjadi Tambun Hai Nipeng Pulau Pulu. Ini adalah Kekuasaan yang Maha Kuat dari Segala Penjuru Kebesaran Ranying Hatalla.

Selepas penciptaan keempat. Ranying Hatalla berkata pada Jata,
“AKU ingin mengajakmu makan buah pinang yang telah kuciptakan di penciptaan kedua. AKU ingin memperlihatkan padamu sifat-sifat-KU yang lain agar dapat menjadi contoh bagimu.”
Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau makan buah pinang hasil ciptaan-NYA yang diciptakan di kejadian kedua. Ranying Hatalla ingin menunjukkan sifat-sifat-NYA yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana, dan Maha Indah pada Jata. Saat sedang makan, menggelegarlah petir. Buah-buah pinang yang dimakan berubah menjadi tiga burung yakni enggang betina, elang dan enggang jantan.

Ranying Hatalla telah menciptakan naga, bumi dan isinya, batang garing, kekuasaan, enggang betina, elang dan enggang jantan. Namun belum ada langit, bulan, bintang dan matahari. Juga belum ada gelap dan terang. Maka, disertai gemuruh halilintar yang sambar-menyambar, diciptakanlah langit, bulan, bintang dan matahari. Langit dibuat tujuh tingkat. Masing-masing tingkat memiliki penjaga. Ditentukan oleh Ranying Hatalla bahwa langit ketujuh adalah puncak langit. Tidak ada langit yang lebih tinggi daripada langit ketujuh. Dilangit ketujuh inilah Ranying Hatalla bertahta dengan segala kuasa-NYA.

Setelah langit selesai diciptakan, Ranying Hatalla menginginkan hiasan yang indah bagi langit. Selain indah, Ranying Hatalla ingin agar hiasan langit itu juga berguna bagi manusia nanti. Maka Ranying Hatalla menciptakan bintang. Bintang-bintang ini akan membantu manusia saat bekerja di ladang dan saat manusia melakukan perjalanan dengan menjadi penunjuk arah.

Lalu Ranying Hatalla menentukan gelap dan terang. Maka diciptakanlah matahari dan bulan.Terang disebut siang saat matahari muncul. Gelap adalah malam saat bulan nampak.

Alam semesta telah lengkap. Setelah semua selesai diciptakan, Ranying Hatalla berkata pada segala ciptaan-NYA,
“Wahai naga, bumi, air, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang, AKU perintahkan kalian menempati tempat kalian masing-masing. AKU adalah Ranying Hatalla, Pencipta, penguasa dan Pemilik kalian. AKU adalah Raja dan Tuhan kalian. AKU adalah Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian, dan cahaya kemuliaan-KU yang terang, bersih dan suci, adalah cahaya kehidupan yang kekal abadi dan AKU sebut ia Hintan Kaharingan.”
Naga, bumi dan isinya, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang menundukkan kepala lalu bersujud di hadapan Ranying Hatalla dan menyatakan ikrar dan sumpah kesetiaan mereka. Selepas mengucapkan ikrar dan sumpah, pergilah masing-masing ke tempat yang telah ditentukan Ranying Hatalla.

Sekarang Ranying Hatalla ingin melengkapi ketujuh penciptaan-NYA dengan penciptaan kedelapan. Ranying Hatalla ingin menciptakan manusia, penghuni alam semesta. Namun sebelum menciptakan manusia, Ranying Hatalla ingin menciptakan tujuh raja yang akan menjadi sahabat dan membantu-NYA membawa ajaran Ranying Hatalla kepada manusia.

Maka, Ranying Hatalla mengambil dua sifat lagi dari diri-NYA. Kedua sifat itu adalah Kemuliaan-NYA yang Maha Suci dan Keagungan-NYA yang Maha Mulia. Ranying Hatalla lalu menyatukan kedua sifat tersebut hingga terbentuklah Bukit Intan dan Bukit Emas. Masing-masing bukit memiliki cahaya terang yang berpendar lembut dan hangat. Akibat benturan cahaya Bukit Intan yang menyatu dengan sinar Bukit Emas maka lahirlah tujuh raja yang diinginkan Ranying Hatalla. Ketujuh raja ini masing-masing diberi nama. Mereka adalah Raja Mandurut Untung, Raja Mandurut Bulau, Raja Barakat, Raja Angking Penyang, Raja Garing hatungku, Raja Panimbang Darah, dan Raja Tamanang.

Setelah ketujuh raja diciptakan, Ranying Hatalla lalu menyatukan Bukit Intan dan Bukit Emas. Penyatuan kedua bukit ini kelak akan menjadi cikal bakal diciptakannya manusia.***


Kisah ini disadur dari kisah proses penciptaan menurut kepercayaan Kaharingan versi Daerah Katingan dan digabungkan dengan versi Daerah Kahayan

Isen Mulang Petehku

Friday, December 4, 2009

TIWAH?

Oleh : Bintang Sariyatno

Mungkin ada yang pernah mengetahui apa itu Tiwah, mungkin juga ada yang nggak tahu atau bahkan nggak pernah denger Tiwah.

Kata Tiwah berasal dari bahasa Sangiang, bahasa Sangiang adalah bahasa yang digunakan oleh salah satu agama di Kalimantan Tengah, yaitu agama Hindu Kaharingan. Bahasa Sangiang biasanya digunakan oleh pemimpin agama Hindu Kaharingan untuk memimpin suatu acara keagamaan. Upacara Tiwah menurut masyarakat Kalimantan Tengah pada umumnya menganggap bahwa Tiwah adalah sebuah adat, tetapi menurut masyarakat pemeluk agama Hindu Kaharingan Tiwah merupakan proses mengantarkan arwah atau dalam bahasa Dayaknya liau ke surga atau dalam bahasa Sangiangnya mengantarkan ke “Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang”, yang berarti sebuah tempat yang kekal atau abadi dan tempat itu berhiaskan emas, permata, berlian, dll.

tiwah1 TIWAH?

Liau atau arwah disini di bagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Balawang Panjang, contohnya seperti: rambut atau kuku.
  2. Karahang Tulang, contohnya: tulang belulang.
  3. Liau Haring Kaharingan adalah arwah atau roh yang sebenarnya.

Upacara Tiwah ini dipimpin oleh Basir atau Pisur. Basir adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin upacara – upacara keagamaan agama Hindu Kaharingan khususnya Hindu Kaharingan di daerah Kahayan. Pisur yaitu sama seperti Basir tetapi Pisur memimpin Upacara keagamaan agama Hindu Kaharingan di daerah Katingan. Pada umumnya upacara yang di pimpin oleh Basir relatif lebih lama berkisar 2 bulan dari pada upacara yang di pimping oleh Pisur.

Upacara Tiwah pada umumnya dilakukan 5 tahun sekali, tetapi sesuai dengan kesepakan keluarga yang hendak malakukan upacara Tiwah. Menurut agama Hindu Kaharingan Tiwah harus dilaksanakan karena sebagai rasa tanggung jawab kepada arwah dan bertujuan untuk mengantarkan si arwah atau liau ke Lewu Tatau (surga). Upacara Tiwah juga bisa menjadi suatu kunjungan wisata keagamaan yang menarik.

Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Siapa Raja Bunu?

Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun (panjang banget namanya!!). Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan). Dan Raja Bunu memeng diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri – ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. CIri – ciri yang lain adalah raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk – pauk, dll. Seperti makanan kita sekarang ini.

Raja Bunu di anugrahi oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan) sebuah besi (Sanaman Lenteng). Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain d sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing – masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini “aneh”, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo di analogikan aneh, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam. Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara- gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.

Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada disebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.

Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba – tiba Raja Sangen menghunus dohongnya lalu menghujamkannya kearah burung itu. Sehingg, darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah mneenjadi emas, berlian, dan permata.

Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perrbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya “kualat” dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan anak – anaknya, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.

Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dll itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohongnya kearah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dll. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga, burung itu pun sehat kembali.

Dan lagi – lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi – lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah it. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.

Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).

Foto diambil dari http://www.kalteng.go.id

Kutipan dari : http://sariyatno.com

Monday, November 30, 2009

ASAL USUL BATU HARAMUNG

Dahulu kala di sebuah daerah, yaitu daerah Seruyan tengah. Hiduplah seorang manusia yang bernama Jelap, dia hidup sebatang kara. Jelap adalah seorang manusia yang pertama kali mengolah tangga di daerah seruyan tengah tepatnya dikampung Piau. dengan sungguh-sungguh dan tenaga yang kuat, dia membuat tangga karena tenaganya banyak digunakan untuk membuat tangga, Jelap merasa lapar namun dia bingung karena di desa Piau sangat sulit mencari sayuran dan lauk pauk.dalam hati pun Jelap berkata” aku hentikan saja pekerjaan membuat tangga untuk sementara waktu, lebih baik aku berburu babi hutan untuk dimasak hingga tenagaku lebih kuat lagi dan perutku tidak lagi merasa lapar.

Maka pada malam harinya Jelap menyiapkan peralatan-peralatan yang dia perlukan untuk berburu setelah semuanya selesai Jelap pun tertidur dengan perut yang lapar. hingga pada pagi harinya Jelap berangkat dan meninggalkan kampung Piau dengan berjalan kaki. setelah beberapa lama dia berburu babi hutan secara tidak sengaja jelap menemukan kampung bukit lain, Jelap singgah dan bertahan di kampung bukit lain itu sambil menghilangkan lelah karena telah menempuh perjalanan jauh dari kampung Piau hingga sampai ke kampung bukit lain ini. selama Jelap bertahan di kampung bukit lain itu dia menelusuri kampung bukit lain itu, apabila dia lapar dia memakan apa saja yang ada di kampung bukit lain itu, karena selama dia berburu tidak ada seekor babi hutan yang dia dapatkan selama Jelap menelusuri kampung itu secara tidak sengaja jelap melihat seorang wanita yang sangat cantik, Jelap berkata” baru kali ini aku melihat wanita yang sangat cantik, siapakah, dan anak gadis siapakah dia, aku harus bisa memiliki gadis itu.” Jelap selalu memperhatikan gadis itu dan selalu mengikuti ke mana saja wanita cantik itu pergi secara diam-diam. Jelap juga menyelidiki asal usul wanita cantik itu, akhirnya dia pun mengetahui siapa wanita cantik itu sebenarnya ternyata wanita cantik itu” Bunga Desa” kampung bukit lain dan anak manusia harimau yamg sakti dan mengolah perkampungan di bukit lain itu.Perkampungan bukit lain sangat terkenal karena kecantikan anak gadis manusia harimau,anak gadisnya yang bernama Dewi Sekar Wangi selalu menjadi rebutan banyak kaum lelaki yang terpesona dengan kecantikannya.Dewi Sekar Wangi selain cantik,tubuhnya juga sangat wangi.

Dari sekian banyak lelaki yang menyukai Dewi Sekar Wangitak ada satu orang pun yang dia sukai.Hingga pada suatu hari secara tidak sengaja dia bertemu Jelap di sungai,pada saat itu Dewi Sekar Wangi mencuci pakaiannya dan Jelap mau mandi di sungai itu,pandangan mereka saling bertemu,dengan malu – malu Dewi Sekar Wangi menundudukan mukanya dan semburat warna merah muncul dipipinya.Dalam hatinya Dewi Sekar Wangi berkata “ siapakah dia,rupanya sangat gagah,apakah dia seorang pangeran dari khayangan yang sengaja dikirim untukku ‘.Jelap sendiri pun berguman dengan pelan ‘ inilah kesempatan aku untuk mengenal Dewi sekar Wangi”,Jelap berjalan dengan perlahan menghampiri Dewi Sekar Wangi,percakapan mereka berdua terasa kaku,karena sama-sama menahan perasaan malu.

Jelap ; diawali dengan senyum manis “ maaf bila kakanda mengganggu dinda, apakah kakanda boleh menge-nal dinda ?

Dewi sekar wangi ; dengan tersenyum malu-malu “ ada apa gerangan kakanda tiba-tiba ingin mengenal dinda,

jelap ; kakanda dari dulu sudah sering memperhatikan dinda, terus terang dari awal kakanda melihat dinda, kakanda sangat menyukai dinda.

Dewi sekar wangi ; senang sekali dinda mendengar kata-kata kanda, namun dinda baru kali ini melihat kakanda dikampung bukit ini, kalau boleh dinda tau berasal dari kampung manakah kakanda.

Jelap ; kakanda memang baru pertama kali ini berada dikampung bukit ini dan kakanda berasal dari kampung “ piau “ secara tidak sengaja kakanda menemukan kampung ini waktu kakanda berburu mencari babi hutan.
Percakapan keduanya pun berjalan lancar dan penuh keakraban. Hingga Dari perkenalanitu hubungan jelap dengan dewi sekar wangi berlanjut. Setiap hari bila ada kesempatan mereka berdua sering bertemu. jelap dan dewi sekar wangi selalu bersama-sama dan menimbulkan iri dihati banyak lelaki dikampung bukit lain yang menyukai dewi sekar wangi. Perasaan saling menyukai tumbuh diantara jelap dan dewi sekar wangi, akhirnya mereka berdua menjalin hubungan. Jelap ter-buai pada suasana kampung bukit karena ada kekasihnya yaitu dewi sekar wangi yang selalu menemaninya hingga membuat jelap menjadi lupa akan kampungnya di desa piau dan pekerjaannya membuat tangga. Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan dewi sekar wangi jelap bermaksud ingin menikahi dewi sekar wangi.Jelap pun menemui ayahnya dewi sekar wangi yaitu manusia harimau.
Jelap ; maaf jika kedatangan saya mengganggu, saya hanya ingin mengatakan Sesuatu hal yang sangat penting.

Manusia harimau ; hal penting apa yang ingin kau katakan padaku ?

Jelap ; ini mengenai anak gadis mu dewi sekar wangi, terus terang selama ini saya menjalin hubungan dengan anakmu dewi sekar wangi, kami berdua saling mencintai, dan saya ingin menjadikan dewi sekar wangi menjadi istri saya. maka dari itulah saya menemuimu ingin meminta restu.

Manusia harimau ; mengangguk-anggukan kepala dan berpikir ; aku tidak
mengenal mu, karena selama ini dewi sekar wangi tidak
pernah bercerita tentang dirimu, bisakah kau sebutkan
asal usul mu dari mana ?

jelap ; saya jelap dan asal saya dari kampung piau, saya sampai disini secara tidak sengaja sewaktu saya melakukan paerjalanan dari kampung piau untuk berburu babi hutan.

Manusia harimau ; o…… tapi saya tidak melihat kamu membawa apa-apa
selayaknya orang ingin melamar anak gadisku.

Jelap ; maafkan kalau saya tidak membawa apa-apa namun hamba janji akan Membahagiakan dewi sekar wangi.

Tiba-tiba dari dalam keluar, karena secara diam-diam dia mendengarkan pembicaraan antara jelap dengan ayahnya. Dewi sekar wangi bersujud dikaki ayahnya.
“ ayahnda restuilah kami berdua, anaknda sangat mencintai dia, apakah ayahndaTidak ingin melihat anaknda bahagia. Manusia harimau terharu mendengarkan perkataan anaknya, namun dia tidak mau begitu saja menyerahkan anak gadisnya kepada jelap, manusia harimau pun berkata :

Manusia harimau ; jelap,apakah kamu ngguh-sungguh mencintai anakku.
Jelap ; ya………. saya bersungguh-sungguh
Manusia harimau ; baiklah, tapi ada syaratnya yang harus kamu lakukan
.jelap ; apa syaratnya ?
Manusia harimau ; kita berdua adu kesaktian, apabila kamu bisa mengalahkan Aku, aku akan merestui kalian berdua, namun apabila kamu tidak bisa mengalahkan aku, lebih baik kamu pergi saja dari kampung bukit ini.
Jelap ; baiklah saya akan terima syarat itu.
Waktu dan tempatnya pun ditentukan oleh manusia harimau. hingga waktu Yang ditentukan telah tiba, manusia harimau dan jelap bersama-sama menuju se-buah bukit yang sangat tinggi, sedangkan dewi sekar wangi dengan perasaan cemas menunggu dirumah. manusia harimau dan jelap sudah samoai puncak bukit. Disana disana manusia harimau dan jelap memulai pertarungan itu, adu kesaktian pun terjadi manusia harimau dan jelap rupanya sama-sama mempunyai kekuatan yang sama hebatnya, hingga pertarungan itu menjadi seru. Dewi sekar wangi yang menunggu dengan perasaan cemas, tidak tahan lagi tinggal dirumah, dewi sekar wangi pun menyusul ayahnya dan jelap kebukit yang tinggi itu, setibanya disana pertarungan antara manusia harimau dan jelap masih berlangsung dan dewi sekar wangi hanya bisa terpaku diam tanpa tahu harus berbuat apa. Dewi sekar wangi sangat bingung , siapa yang mesti dia doakan dan harapkan untuk menang, disatu sisi dia kasihan melihat ayahnya yang rela mengorbankan nyawanya, namun disisi lain dia pun berharap jelap akan menang karena dewi sekar wangi sangat mencintai jelap dan ingin sekali jelap menjadi suaminya. hari mulai sore, akhirnya pertarungan itu selesai dan jelap memenangkan pertarungan itu, manusia harimau mengaku kalah. dia pun menemui jelap dan berbicara mengenai perjanjian itu.
Manusia harimau : jelap, aku mengaku kalah, kau memang lelaki yang hebat, dan aku pun sekarang tenang untuk melepaskan anakku Menjadi istrimu karena aku yakin kau bisa menjaganya Dengan baik.
Jelap : terima kasih,,, saya juga minta maaf, dan bukan maksud ku untuk Pamer kesaktian, namun karena ini jalan satu-satunya agar aku bisa memper istri dewi sekar wangi,
Dewi sekar wangi : dengan tersenyum manis menghampiri ayahnya dan jelap Ayah … maafkan dewi sekar wangi, ini semua gara-gara anaknda .
Manusia harimau : tidak apa-apa nak, ayahnda hanya mau menguji jelap, apakah dia bisa menjaga kamu dengan baik bila kalian hidupbersama nanti. ayah senang melihat kamu bahagia.
Manusia harimau, dewi sekar wangi dan jelap pun pulang karena hari sudah hampir gelap, keesokan harinya manusia harimau mengumumkan kepada penduduk kampung bukit lain kalau dia akan mengadakan pesta perkimpoian anaknya dengan jelap selama tujuh hari tujuh malam. Kemudian manusia harimau memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyiap kan perlengkapan dan segala sesuata yang diperlukan untuk pesta perkimpoian itu.
Hari yang ditentukan pun tiba, semua perlengkapan pesta sudah disiapkan,makanan yang dihidangkan bermacam-macam, semua penduduk kampung bukit sebelah diundang pesta perkimpoian jelap dan dewi sekar wangi dirayakan besar-besaran penduduk kampung bukit lain dan kampung sebelah disuguhkan hiburan selama tujuh hari tujuh malam. Dewi sekar wangi dan jelap sangat bahagia………pesta perkimpoian itu selesai dan jelap pun minta ijin kepada manusia harimau untuk mengajak dewi sekar wangi menjenguk kampung halamannya karena jelap teringat akan pekerjaannya membuat tangga yang belum selesai dia kerjakan. Jelap dan dewi sekar wangi pun berangkat menuju kampung piau, sesampainya di kampung piau banyak penduduk kampung piau kaget melihat jelap yang masih hidup dan membawa wanita yang sangt cantik karena selama ini mereka mengira kalau jelap sudah mati dimakan binatang buas saat dia berburu babi hutan.
Dikampung piau setiap hari jelap bekerja menyelesaikan tangga dan dewi sekar wangi dengan setia menemani dan membuat makanan untuk jelap. Hingga tak terasa setelah sekian lama pekerjaan jelap membuat tangga pun selesai, banyak penduduk kampung piau yang memuji pekerjaannya. Dan belajar cara membuat tangga dewi sekar wangi pun senang melihat hasil kerja suaminya banyak disukai orang, namun juga sedih karena dia sudah lama meninggalkan kampung bukit lain, dan dia sangat merindukan ayahnya. Maka Dewi Sekar Wangi pun berbicara pada jelap suaminya :

Dewi Sekar Wangi ; kakanda, tak terasa sudah lama kita tinggal dikampung piau ini, dan adinda sangat merindukan kampung bukit terutama terhadap ayah, apa lagi kita berdua tidak pernah memberi kabar. Dinda khawatir kalau” ayahnda disana sakit-sakitan karena sudah tua,
Jelap kakanda mengerti akan perasaan dinda, baiklah dinda esok pagi-pagi sekali kita akan berangkat kekampung bukit lain, malam ini dinda siapkan keperluan untuk kita berangkat besok pagi.
Dewi sekar wangi ; dengan tersenyum bahagia,,, terima kasih kakanda.

Dewi sekar wangi pun menyiapkan peralatan dan makanan untuk keperluan besok pagi. Setelah itu dewi sekar wangi beristirahat, besok paginya mereka berdua berangkat menuju kampung bukit lain setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya dewi sekar wangi tiba dikampung bukit lain dan disambut manusia harimau dengan perasaan bahagia karena sudah sekian lama terpisah dengan anaknya.
Penduduk kampung bukit, gembira sekali mendengar kedatangan dewi sekar wangi apalagi bagi kaum lelaki, karena mereka masih banyak yang suka dan ingin sekali menjadikan dewi sekar wangi menjadi istrinya, walaupun mereka tau kalau dewi sekar wangi sudah menjadi istrinya jelap. diantara banyak lelaki yang menyukai dewi sekar wangi ada seorang lelaki ingin memiliki dewi sekar wangi, dan rela melakukan apa saja agar keinginannya bisa terwujud. Dia adalah manusia harimau yang berasal dari bukit majak, harimau bukit majak menantang jelap untuk adu kesaktian, jelap pun menerima tantangan itu kemudian harimau majak mengajak saudaranya si hantan untuk melawan jelap.
Hari yang ditentukan pun tiba, harimau bukit majak dan saudaranya adu kesaktian dengan jelap pertarungan adu kuat pun terjadi” harimau bukit majak dan saudaranya beradu kekuatan dengan jelap, dan akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh jelap. Harimau bukit majak dan saudaranya marah karena kalah adu kesaktian dengan jelap. Harimau bukit majak pun menendang batu besar dan batu besar itu pun jatuh kesungai hingga batu tersebut diberi nama “
BATU HARAMAUNG “ sedangkan saudaranya yang satu juga yang bernama Hantan juga menendang batu besar dan jatuh kesungai hingga diberi nama batu “HANTAN " ***

Kutipan : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1531511#post73605820




Bookmark and Share

Thursday, November 26, 2009

AMPIT DAN AMPAT


Pada jaman dahulu kala, di pedalaman hutan Kalimantan Tengah khususnya di hutan Murung Raya, hidup berbagai macam jenis binatang. Tapi uniknya, binatang-binatang ini bisa berbicara layaknya manusia biasa.

Seperti yang dikatakan di atas, hiduplah burung pipit yang bernama Ampit. Burung pipit ini berjenis kelamin perempuan dan pada masa itu sudah beranjak dewasa. Kehidupan burung pipit ini sangat memprihatinkan, dimana burung ini hidup seorang diri, mencari makan sendiri bahkan membuat sarangpun sendirian saja. Burung pipit ini sangat tertutup sekali, diaman dia jauh dari kampung binatang-binatang yang ada di hutan tersebut. Burung pipit ini sebenarnya ingin sekali hidup di tengah-tengah masyarakat hutan, tapi sayangnya dia tidak berani karena bulunya sangat jelek tanpa corak sedikitpun.

Pada suatu waktu, pada saat burung pipit ini menanam benih padi di ladangnya, datanglah seekor burung pipit yang lain, diaman bulunya sangat elok sekali. Burung pipit ini adalah seorang pengelana, yang tujuan utamanya adalah mencari jodoh. Burung pipit jantan ini bernama Ampat. Saat pertama bertemu, Ampit merasakan ada sesuatu yang lain dihatinya, begitu juga si Ampat tidak jauh berbeda dengan si Ampit. Beberapa saat kedua burung ini saling terpaku, tanpa kata dan suara, hening . . . !!

Dengan penuh senyum dan keramahan, si Ampat menyapa si Ampit dengan tutur kata yang lemah lembut. Ampat menjelaskan kepada si Ampit bahwa dia sudah lapar karena sudah 2 hari tidak makan. Maka, Ampitpun membawa si Ampat ke sarangnya untuk menyiapkan makanan dan minuman. Pada malam harinya, si Ampat bertanya kepada si Ampit tentang kehidupannya, dan juga tentang kesehariannya. Mungkin karena merasa cocok, pada pagi harinya burung pipit berdua ini mendatangi “Damang” yang ada di hutan itu. Pada waktu itu, jabatan Damang di pegang oleh kancil. Setelah dilakukan musyawarah oleh seluruh warga hutan, maka ditentukanlah hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan Ampit dan Ampat ini.

Sampailah pada hari yang ditentukan, seluruh warga hutanpun berdatangan ke rumah si Kancil untuk merayakan perkimpoian Ampit dan Ampat. Pada saat jamuan makan, semua para undanganpun duduk dengan rapi. Saat Beruang ingin mengambil makanan tersebut, semuanya memarahi Beruang. Karena tangan dan kuku beruang hitam dan panjang, maka si Beruang ini pun disuruh untuk mencuci tangannya di belakang. Setelah selesai mencuci tangannya, Beruangpun datang untuk mengambil makanan. Tapi lagi-lagi tangannya di pegang oleh kera, dan disuruh lagi mencuci tangannya ke belakang. Begitu terus terjadi, sampai-sampai makanan dan minuman habis tak ada sisanya. Beruang pun sangat sedih dan berlari ke dalam hutan sambil menangis, Beruang sangat dendam kepada semua penghuni hutan karena Beruang menganggap semuanya pelit dan tidak senang dengan dirinya.

Supaya permasalahan ini tidak berlanjut lagi, maka datanglah Damang ke sarang Beruang beserta seluruh penghuni hutan untuk meminta ma’af dan juga menjelaskan duduk permasalahannya. Damang dengan penuh kharisma dan juga berwibawa menjelaskan kepada Beruang, bahwa anggapan yang ditujukan kepada mereka semua itu tidak benar. Init permasalahannya adalah bahwa kuku dan tangan Beruang itu tidak bisa putih, sedangkan mereka semua tidak tahu bahwa tangan dan kuku Beruang itu tidak bisa menjadi putih. Karena memang dari sananya Beruang itu berwarna hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini semua adalah kesalahpahaman, antara Beruang dan warga hutan. Setelah mendengar itu semuanya, Beruang pun sadar dan tidak sakit hati lagi. Dengan penuh senyum, Beruang pun menjabat tangan semua warga hutan dan juga memaafkan semuanya.

Kita kembali kepada Ampit dan Ampat. Setelah perkimpoian itu, pulanglah mereka berdua ke sarangnya. Keseharian mereka berdua adalah bercocok tanam dan juga membuka lahan baru. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan berdua, pasangan burung pipit ini pun merindukan anak yang manis dan imut. Maka, pamitlah Ampat kepada istrinya untuk bertapa ke gunung Bondang. Istrinya tidak bisa menahan si Ampat, karena tekat suaminya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi. Dengan berurai air mata, Ampit pun melepaskan kepergian suaminya dengan hati yang berat.

Beberapa tahun berselang, bertelurlah si Ampit ini. Tapi anehnya, telur yang keluar itu hanya sebuah saja. Dengan penuh kasih sayang, si Ampit menjaga telur ini dengan kesabaran dan juga penuh dengan kelembutan. Karena dia hanya seorang diri, tidaklah mungkin dia akan terus menjaga telur itu terus menerus. Apalagi di lumbung tempat penyimpanan padi sudah menipis, maka dengan berat hati si Ampit ini berangkat ke ladang untuk menanam padi. Pada sore harinya, Ampit pulang ke sarang untuk menyiapkan kebutuhan telurnya ini. Tapi Ampit terkejut, karena di dalam sarangnya itu sudah tidak ada telurnya. Dengan hati yang sedih dan remuk redam, terbanglah Ampit ke rumah Damang untuk menceritakan kejadian ini. Setelah Damang mendengarkan semua cerita Ampit, maka dikumpulnya semua penghuni hutan.
Alangkah herannya Damang ini, setelah di teliti lebih lanjut hanya ular saja yang tidak datang. Maka Damang dengan seluruh warga hutan pun segera berangkat ke sarang ular, sesampainya di sana Damang lalu bertanya kepada si Ular kenapa tidak datang ke rumah si Damang. Jawaban ular sangat singkat sekali, bahwa dia letih san kekenyangan sehingga tidak sanggup untuk berjalan ke rumah Damang. Damang dan warga lain menjadi curiga karena di sekitar ular itu tidak ada bekas darah, ataupun bulu dan tulang mangsanya. Maka Damang langsung bertanya kepada si Ular ini, apakah betul dia yang menelan telur burung pipit ? Ularpun langsung marah dan menyangkal ini semua, dihamburkannya bisa kepada Damang dan warga hutan. Karena mereka terancam, maka larilah semuanya keluar dari sarang Ular tersebut.

Melihat semua kejadian itu, menangislah burung pipit ini. Saat setelah air matanya jatuh, maka jadilah air setelah sampai permukaan tanah. Saat air matanya jatuh lagi, air di permukaan tanah tadi menjadi empat jengkal tingginya. Begitu seterusnya, sampai ular tersebut pun tenggelam dan mati. Setelah air surut, Ular tersebut sudah hancur, hanya tertinggal telur burung pipit yang tertinggal di perutnya. Dengan hati yang riang gembira, Ampit pun dengan sigap mengambil telurnya dan membawanya ke sarang. Mulai saat itu, Ampit selalu menjaga telurnya itu dengan penuh waspada. Karena dia tidak ingin kejadian yang serupa akan terulang kembali, cukuplah ini semua menjadi pengalaman yang berharga. Supaya lebih menyayangi dan lebih mendalam lagi arti dari hangatnya kasih sayang yang sebenarnya.

Beberapa bulan kemudian, menetaslah telur tersebut. Maka pecahlah tangis anak Ampit tersebut oleh karena lapar, terbanglah si Ampit ke lumbung padi untuk mengambil beras. Tapi sayangnya, semua sudah habis tak ada sisanya. Maka Ampitpun membujuk anaknya untuk diam, dan pergilah si Ampit ini ke ladang untuk memanen padi. Tidak lama kemudian, menangislah anak Ampit ini sambil berkata “plit-plit inai, aku bo jeer kuman ongku” yang artinya adalah aku ingin makan beras. “Sabar nak, sabar” jawab si Ampit ini. Tidak lama kemudian, pulanglah si Ampit ini ke sarangnya dengan membawa beras. Sesampainya di sarang, dengan penuh kasih sayang di berikannya beras tersebut kepada anaknya. Karena terlalu banyak anaknya memakan beras tersebut, maka bengkaklah perut anak Ampit ini. Tiap hari tiap malam selalu menangis, karena perutnya sakit sekali. Oleh karena itu, maka berangkatlah si Ampit ini ke rumah Damang untuk meminta tolong menyembuhkan penyakit anaknya.
Setelah ditentukan harinya, maka berangkatlah Damang beserta warga hutan lainnya ke sarang Ampit. Maka dilakukanlah Balian dengan Wasirnya adalah kancil, tidak lama kemudian sembuhlah anak Ampit ini. Setelah Balian tersebut selesai, maka kumpulah semuanya untuk makan. Saat semua sedang makan, datanglah seekor Anjing ke rumah si Ampit. Maksud hati ingin melihat Balian, tapi sayang sudah terlambat. Saat Anjing naik ke sarang Ampit, seluruh binatang yang ada di dalam tertawa terbahak-bahak. Anjing menjadi bingung dan heran, dan Anjingpun ikut-ikutan tertawa walaupun dia tidak tau apa yang sebenarnya ditertawakan teman-temannya. Karena merasa kasihan kepada si Anjing ini, maka berbisiklah Kancil bahwa yang mereka tertawakan adalah dirinya sendiri karena dirinya telanjang dan semua alat kemaluannya kelihatan. Mendengar semua itu, maka marahlah Anjing tersebut. Dikejarnya semua binatang dan diobrak-abriknyalah semua sarang binatang hutan yang lain. Sa’at Anjing itu mengejar Kancil, maka di sumpahinyalah Anjing tersebut. Setiap yang namanya Anjing pada sa’at mengejar kancil pasti akan mati, karena anjing tidak tau yang namanya balas budi dan berterima kasih.

Beberapa tahun kemudian, pulanglah si Ampat dari gunung Bondang habis bertapa. Betapa senang hatinya sa’at bertemu istri tercintanya dan juga bertemu anak kesayangannya walaupun baru pertama kali dilihatnya. Merekapun hidup bahagia sampai akhir hayatnya.

Oleh : TuaGila
Aktivis Reg. Kalimantan Tengah

Kutipan : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1531511#post73605820






Bookmark and Share
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube