BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Thursday, December 19, 2013

Kalteng Promosikan Potensi Seni dan Budaya


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berupaya mempromosikan potensi seni budaya untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut.

Gubernur Agustin Teras Narang di Jakarta, Sabtu (14/12/2013), mengatakan pergelaran Explore Exotica Of Borneo 2013 merupakan salah satu sarana untuk mempromosikan seni budaya dan potensi pariwisata Kalimantan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur H Achmad Diran saat membuka Explore Exotica of Borneo di anjungan Kalteng di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Acara pembukaan pentas seni budaya tersebut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati serta Wali Kota se Kalimantan, di samping sejumlah duta besar negara sahabat.

Gubernur mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan dari 14-15 Desember 2013 tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai ragam seni budaya tradisional kalimantan yang unik dan menarik itu.

"Hal ini dimaksudkan agar potensi seni dan budaya Kalimantan yang menarik dilihat tersebut dapat dikenal dan dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara di masa mendatang," katanya.

Dengan demikian diharapkan ke depan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Sementara ketua panitia Explore Exotica of Borneo 2013 Drs Saidina Aliansyah mengatakan, kegiatan ini dalam upaya mempromosikan potensi seni budaya guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke wilayah Kalimantan yang juga memiliki potensi sumber daya alam tersebut.


Menurut Saidina, kegiatan ini merupakan salah satu sarana promosi pariwisata yang efektif bagi provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.

"Sepanjang kegiatan ini akan ditampilkan pentas seni budaya, lagu dan fashion show, pameran produk unggulan, kerajinan dan kuliner masing-masing daerah," katanya.
Sumber : Antara

Belum ke Banjarmasin, Tanpa ke Masjid Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah di Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan
DARI sisi pelancongan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyimpan banyak keunikan. Kotanya berkultur air. Suguhan terbaiknya adalah Pasar Terapung Muara Kuin. Namun, jangan mengaku pernah ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah!

Kalimat provokatif itu dilontarkan Adam Maulana (21), mahasiswa Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin, yang memandu wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Timur, beberapa saat lalu. Tantangan Adam itu tak berlebihan. Berkunjung ke Masjid Sultan Suriansyah layak menjadi pilihan utama, di antara sejumlah obyek wisata lain di Banjarmasin.

Daya tarik utama Masjid Sultan Suriansyah pada usianya yang sekitar 500 tahun. Kehadirannya adalah jejak awal penyebaran Islam di Tanah Banjar yang kini menjadi wilayah Kalsel.

”Masjid Sultan Suriansyah itu masjid pertama di Kalsel. Ini tonggak sejarah penyebaran Islam di Kalsel, bahkan di Kalimantan,” tutur Adam lagi.

Terdiri dari 11 kabupaten dan dua kota, mayoritas warga Kalsel yang berpenduduk sekitar 3,8 juta jiwa adalah umat Islam (96,73 persen pada 2011). Meluasnya penyebaran Islam di kawasan itu tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Masjid Sultan Suriansyah.

”Masjid ini selalu ramai dikunjungi. Khusus pelancong saja, setiap hari tak kurang dari lima orang. Kalau hari libur atau hari Minggu, pengunjung ratusan orang,” kata Effendy AR, petugas di Masjid Sultan Suriansyah di perkampungan Kuin, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Masjid itu berdiri di tepi persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Martapura.

Kultur air

Banjarmasin sering disebut sebagai ”Kota Seribu Sungai”. Luas wilayah Kalsel adalah 37.530 kilometer persegi dan memiliki sedikitnya 117 alur sungai. Sekitar 40 sungai melintasi Banjarmasin, seperti Sungai Barito, Martapura, Kuin, Mulawarman, Alalak, Pangeran, dan Pelambuan.

Penyebaran Islam di Kalsel pun bersentuhan dengan kultur air. Alkisah, sekitar lima abad lalu, kawasan Kalsel, termasuk perkampungan Kuin, adalah wilayah Kerajaan Negara Daha yang berpusat di Negara (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Merujuk berbagai sumber, termasuk buku Masjid Sultan Suriansyah Kembali ke Arsitektur Kuno (Panitia Pemugaran dan Pengembangan Masjid Bersejarah Suriansyah, Agustus, 2001) dan Riwayat Singkat Sultan Suriansyah (2006), kisah bersentuhan dengan Islam itu berawal ketika Kerajaan Negara Daha masih dipimpin oleh Maharaja Sukarama.

Raja memiliki tiga putra, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung, dan Pangeran Bagalung, serta seorang putri, yaitu Putri Intan Sari atau Putri Galuh. Sesuai tradisi, ketiga putranya adalah pewaris takhta kerajaan.

Namun, Maharaja Sukarama mengambil keputusan berbeda. Ia berwasiat, jika ia mangkat, yang menggantikannya adalah cucunya, Pangeran Samudera, putra dari pasangan Putri Galuh dan Menteri Jaya.

Berbeda dengan si sulung, Pangeran Mangkubumi yang tak berkeberatan, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung menentang wasiat ayahnya itu. Saat Maharaja Sukarama meninggal, suasana istana langsung memanas. Jiwa Pangeran Samudera yang saat itu berusia kurang dari 10 tahun pun terancam. Seorang punggawa, Arya Trenggana, meminta Pangeran Samudera meninggalkan istana.

Permintaan itu dipatuhi. Dengan berbekalkan makanan, pakaian secukupnya, dan alat tangkap ikan, Pangeran Samudera lewat larut malam ”dihanyutkan” di sungai menggunakan jukung. Selama pelayaran, ia menyamar sebagai nelayan. Setelah menempuh perjalanan selama belasan tahun, ia berjumpa dengan Patih Masih di perkampungan Kuin. Mereka berkenalan hingga terungkap, nelayan muda itu adalah Pangeran Samudera. Atas dukungan patih lain dan rakyat, Patih Masih mengangkat Pangeran Samudera menjadi raja Kerajaan Banjar, melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.

Saat itu, Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumanggung. Ia menggantikan kakaknya, Pangeran Mangkubumi, yang tewas dibunuh. Mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi Raja Banjar, Pangeran Tumanggung langsung menyatakan perang. Dua peperangan tak terhindarkan lagi.

Dalam peperangan itu, Kerajaan Banjar mendapat dukungan dari Kerajaan Demak di Pulau Jawa yang tiba di Kuin pada 1526. Sokongan dari pasukan Demak dengan syarat, Pangeran Samudera dan pengikutnya menjadi pemeluk Islam.

Pertempuran berakhir manis. Pangeran Tumenggung luluh hatinya saat berhadapan dengan Pangeran Samudera. Keduanya berpelukan. Pangeran Samudera diakui memimpin Kerajaan Banjar yang berarti resmi pisah dari Kerajaan Negara Daha.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 24 September 1526, yang belakangan menjadi hari jadi Kota Banjarmasin. Sesuai janjinya, Pangeran Samudera, Patih Masih, dan pengikutnya memeluk Islam, setelah mendapat bimbingan dari Khatib Dayyan, utusan Kerajaan Demak.

”Setelah memeluk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Ia yang membangun masjid ini sekitar 500 tahun lalu. Namanya diabadikan menjadi nama masjid ini,” kenang Marno, pegawai Masjid Sultan Suriansyah.

Bangunan Masjid Sultan Suriansyah berarsitektur khas Banjar, yakni berkonstruksi panggung dan beratap tumpang. Di bagian mihrab, atap terpisah dengan bangunan induk. Meski beberapa kali dipugar, nuansa kekunoan masjid tetap terjaga. Sejumlah daun pintu berukir peninggalan awal—meski tak difungsikan lagi—tetap dijejerkan di sekitar dinding masjid. Mimbar kuno dari kayu ulin pun tetap dipertahankan.

Sekitar 200 meter dari lokasi masjid terdapat kompleks makam Sultan Suriansyah. Masran Bai (70), penjaga makam, menjelaskan, kompleks makam itu dahulu adalah istana sultan.

Sebelum memasuki kompleks makam, jangan lupa membeli kembang yang dijajakan sekelompok perempuan tua di sekitar gerbang. Kembang itu sebagai pengharum kompleks makam. (FRANS SARONG)
Sumber : Kompas Cetak

Saturday, December 14, 2013

Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun

Beberapa warga mengenakan pakaian adat Dayak Iban tampak sedang mempersiapkan ritual penyambutan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun di Kota Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (12/12/2013). | KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan

Oleh : Yohanes Kurnia Irawan
LANJAK, KOMPAS.com - Pesona bentang alam Kapuas Hulu nan eksotik, berpadu dengan budaya Dayak dan Melayu serta adat istiadatnya yang masih kuat melekat menjadi saksi dalam pagelaran Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun tahun 2013.

Agenda tahunan yang untuk ketiga kalinya digelar tersebut tak hanya dihadiri masyarakat dari Kabupaten Kapuas Hulu saja, tapi ada juga yang datang jauh-jauh dari Singkawang, Pontianak, dan Jakarta. Bahkan banyak terlihat turis mancanegara seperti dari Rumania, Jerman, Malaysia, Denmark dan beberapa negara lainnya.

Sesuai namanya, Danau Sentarum dan Betung Kerihun merupakan taman nasional yang wilayahnya tepat berada di jantung Pulau Kalimantan. Kentalnya suasana adat dan budaya begitu terasa mulai dari ritual adat penyambutan ketika menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Begitu turun dari kendaraan, dengan pengawalan seadanya, Cornelis disambut dengan ritual penyambutan dengan adat Melayu dari Kapuas Hulu.

Suasana budaya kembali terasa ketika gubernur disambut dengan adat penyambutan tamu khas Dayak Iban. Dalam sambutannya, Cornelis menyampaikan, kedua potensi wisata yang berstatus taman nasional tersebut sudah cukup untuk dijual di dunia international.



Masyarakat diimbau dan wajib menjaga kelestarian alamnya. Pemerintah pun diharapkan bekerja sama dengan rakyat dalam mengelola taman nasional. "Dampak dari pariwasata merupakan pendapatan bagi masyarakat. Keunikan budaya bisa kita tampilkan kapan saja apabila wisatawan datang, dan itu bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat kita karena potensi yang kita miliki ini tidak ada duanya di dunia" kata Cornelis, Kamis (12/12/2013).

Cornelis menambahkan, kendala utama yang dihadapi saat ini terutama di bidang infrastruktur. Selain itu, Cornelis juga menegaskan, habitat yang dilindungi terutama orangutan jangan dibunuh apalagi dikonsumsi.

Satwa tersebut, menurut Cornelis, wajib dijaga dan dilestarikan, karena wilayah taman nasional tersebut sudah menjadi aset dunia dan milik internasional, serta menjadi salah satu penyangga dunia.

Ketua panitia festival, Alexander Rombonang memaparkan, pergelaran festival tahun ini merupakan ajang promosi pariwisata di Kapuas Hulu, baik itu tingkat lokal, nasional hingga internasional.

"Kegiatan ini juga sekaligus untuk mempertahankan dan membina nilai-nilai budaya yang sudah mulai menurun. Selain itu juga untuk mengembangkan potensi yang sesuai tuntutan zaman serta membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi msyarakat di Kapuas Hulu," kata Alexander kepada Kompas.com.

Pergelaran festival rencananya akan dimeriahkan dengan aneka lomba, di antaranya parade lagu daerah Dayak dan Melayu, parade tarian, lomba sampan, lomba sumpit, pangkak gasing, mendongeng, menghias perisai, membuat bubu, dan menumbuk padi. Lomba tersebut diikuti oleh 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, puluhan stan menampilkan produk kerajinan khas dari Kapuas Hulu berupa anyaman, ukiran, manik-manik, dan aneka kerajinan lainnya yang dipajang dalam stan pameran.

Salah satu peserta festival, Riak Bumi Foundation menampilkan produk madu hutan yang dihasilkan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan minyak Tengkawang. Selain itu, Riak Bumi juga menampilkan produk kerajinan tangan berupa anyaman dalam aneka bentuk dan kegunaan.

Peserta festival lainnya pun tak kalah dalam menampilkan produk kerajinan masing-masing daerah. Mereka memajang serta menata stan mereka semenarik mungkin, sehingga mengundang mata untuk mengunjungi setiap stan yang ada di lokasi kegiatan.

Festival digelar dari tanggal 12 hingga 15 Desember 2013, berpusat di Kota Lanjak dan kawasan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Friday, December 6, 2013

Wisata Rumah Adat Dayak Dikembangkan

Penataan rumah adat itu akan dilakukan, antara lain dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan.

Rumah Betang. (Dok. Indonesia Travel)
Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, akan mengembangkan tempat tinggal adat Suku Dayak yaitu Rumah Betang menjadi objek wisata mulai 2014.
"Sejumlah Rumah Betang yang kini masih dihuni Suku Dayak setempat akan kami tata dan kelola karena punya potensi sebagai objek wisata," kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Murung Raya, Agus Sumadi di Puruk Cahu, Kalimantan Tengah, Senin (18/11).
Rumah Betang yang akan dijadikan lokasi tujuan wisata berada di daerah pedalaman Kalimantan Tengah yaitu di daerah aliran Sungai Barito itu antara lain di Desa Konut Kecamatan Tanah Siang Timur, Desa Bantian dan Tumbang Apat di Kecamatan Sungai Babuat.
Menurut Agus, semua Rumah Betang itu masih dihuni oleh penduduk setempat. Rumah Betang yang masih aktif dihuni dan difungsikan layaknya rumah biasa oleh penduduk setempat akan menjadi daya tarik tersendiri.
"Untuk tahun depan kami mencoba untuk fokus pada penataan Rumah Betang itu sebagai objek wisata karena memiliki daya tarik mengundang minat pengunjung," katanya.
Dia menjelaskan lokasi rencana obyek wisata itu tidak terlalu jauh dari kota Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya. Penataan rumah adat itu antara lain dilakukan dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan. Selain itu, rumah itu juga akan menjadi lokasi pentas atraksi seni budaya sehingga sehingga bisa menjadi multifungsi.
Jika itu sudah berjalan, lanjut Agus, maka pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap pelaku atau pemain atraksi seni budaya sehingga lebih menarik minat pengunjung.
"Kalau orang mengunjungi Rumah Betang ini maka selain melihat secara langsung rumah adat Suku Dayak yang asli juga dapat menyaksikan atraksi seni budaya," kata Agus.
(I Made Asdhiana, KOMPAS.com)

Thursday, December 5, 2013

Wisata pasar terapung muara kuin di kota Banjarmasin

Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan Perahu dalam Bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah  shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.
Pasar Terapung
Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Saturday, October 13, 2012

PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN

Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata...!!!
Salam Budaya..

HADIRILAH.....!!! PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN X 2012-YOGYAKARTA (PSBDK X 2012)

Tanggal, 18 s/d 20 Oktober 2012, di gedung PKKH Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pukul 09.00-22.00 wib.

TEMA:  "Aktualisasi Spirit Kearifan Tradisi Bagi Pemahaman Budaya Dayak Antar Generasi"

Rangkaian Acara:
1. Acara Pembukaan dengan Ritual Adat Dayak Bidayuh
18 Oktober 2012
waktu : 10.00 - 15.00 WIB
tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Tebuka untuk umum

2. Pameran Seni dan Kerajinan Memayet
waktu : 18 OKtober 2012
Tempat : Lorong Kanan Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

3. Stand Pameran
18 - 20 Oktober 2012
Waktu : 15.00 - 22.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Pameran Seni & Kerajinan mengangkat tema "Kampung Dayak"
Setiap stand pameran menghadirkan nuansa dari dimensi kehidupan suku Dayak.
Terbuka untuk umum

4. Malam Kesenian I & Festival Vocal Group
18 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 10.000; (Tempat Terbatas)

5. Talkshow & Workshop "Bidai"
19 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Terbuka untuk umum (Gratis)

6. Perlombaan Tradisional I
Menyumpit
19 Oktober 2012
Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Tempat Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

7. Malam Festival Tari Kreasi Dayak
19 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

8. SeMinar Budaya
20 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka untuk umum (gratis)

9. Perlombaan Tradisional II
20 Oktober 2012
Pangka' Gasing, Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Menampi Beras, Waktu : 15.00 - 17.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

10. Malam Kesenian II
20 Oktober 2012
Waktu : 18.30 - 21.30 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

11. Penutupan dengan Ritual Upacara Adat Dayak Bidayuh
20 Oktober 2012
Waktu : 21.30 - 23.30 WIB
Tempat : Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka Untuk Umum

Sunday, April 1, 2012

Karya Seni Suku Dayak Dipamerkan di Museum Perancis

Salah satu Karya seni Suku Dayak yang di tampilkan di Pameran di Perancis
JAKARTA, KOMPAS.com--Sejumlah barang-barang karya seni suku Dayak bernilai tinggi dipamerkan di museum yang bertema "Tresors d'Indonesie" di Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons), Saint-Quentin, Perancis selama dua bulan dari 24 Maret sampai 28 Mei mendatang.

Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris Arifi Saiman, Selasa mengatakan benda-benda karya seni suku Dayak yang dipamerkan antara lain mandau, perangkat upacara kematian, patung kayu, perahu kayu, dan foto-foto kehidupan keseharian suka Dayak Kalimantan.

Arifi Saiman secara khusus melakukan kunjungan ke Museum Kupu-Kupu, Saint-Quentin Perancis untuk menghadiri pameran bertemakan "Tresors d'Indonesie" tersebut.
Kunjungan ini mendapat sambutan Wakil Walikota Saint-Quentin Bidang Kebudayaan Stephane Lepoudere yang menjelaskan maksud dan tujuan penyelenggaraan pameran serta koleksi benda bersejarah milik suku Dayak Kalimantan.

Pada kesempatan ini, Arifi Saiman menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian pemerintah Saint-Quentin dan pihak Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons) terhadap Indonesia, yang sangat menghargai prakarsa positif bagi penyelenggaraan pameran "Tresors d'Indonesie".
Selain memamerkan benda seni milik suku Dayak Kalimantan, pihak museum juga menggelar pameran kupu-kupu khas Indonesia.

Sesuai namanya La Musee des Papillons (Museum Kupu-Kupu), museum ini memiliki koleksi kupu-kupu sebanyak 600 ribu spesies kupu-kupu yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia.
Kupu-kupu tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa spesies tertentu dari kupu-kupu yang menjadi koleksi museum masuk kategori langka, dan bahkan beberapa spesies kupu-kupu diantaranya sudah dinyatakan punah.

Dalam rangka membantu meningkatkan pemahaman tentang Indonesia di kalangan generasi penerus Perancis, penyelenggara pameran mengagendakan untuk mengundang siswa sekolah di wilayah Saint-Quentin untuk menyaksikan pameran ini.

Diharapkan siswa di Saint-Quentin dapat lebih mengenal Indonesia secara lebih baik dan lebih dekat, khususnya mengenali kekayaan flora, fauna dan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Pameran bertema "Tresors d'Indonesie" di Museum Kupu-Kupu, Saint-Quentin merupakan upaya mengenalkan Indonesia kepada masyarakat Perancis, khususnya masyarakat Saint-Quentin.
Pameran ini melibatkan peran serta pemerintah Saint-Quentin dan kalangan kolektor benda-benda seni budaya Dayak dan kolektor kupu-kupu setempat.

Tingginya animo masyarakat Perancis khususnya di Saint-Quentin menyaksikan pameran yang digelar lembaga permuseuman setempat diharapkan dapat membantu memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Perancis khususnya masyarakat Saint-Quentin. 

Sumber : Kompas.com

Promosikan Wisata Budaya Melalui Desa Sanggu

BUNTOK, KOMPAS.com — Apa ciri khas Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang terletak di Kalimantan Tengah? Ternyata, untuk mengembangkan pariwisata, salah satunya adalah dengan menonjolkan sisi wisata budaya.

"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
  
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.

Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.

"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.

"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.

Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.

Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.

"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.

SUmber : Kompas.Com

Saturday, December 10, 2011

Makna Tato Bagi Masyarakat Dayak

Panglima Perang (Panglima Damai) Dayak, Edy Barau, mengatakan, motif yang digunakan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Iban untuk mengukir pada tubuh berhubungan erat dengan kehidupan alam (hutan).

Dengan demikian, motifnya ada yang berasal dari binatang maupun tumbuhan seperti daun, bunga, dan buah yang semua memiliki arti dan makna bagi masyarakat Dayak.

Menurut Edy, ada tujuh bentuk motif tato yang berhubungan erat dan sering digunakan masyarakat Dayak Iban. Selain motif, tempat atau lokasi untuk diukirkan gambar juga tidak bisa sembarangan.

Ketujuh bentuk motif itu di antaranya, motif rekong, bunga terong, ketam, kelingai, buah andu, bunga ngkabang (tengkawang) dan bunga terung keliling pinggang yang masing-masing memiliki makna.

Ia memaparkan, tato atau ukir rekong biasanya diukirkan di leher. Bagi masyarakat Dayak Iban seseorang yang mendapatkan ukiran rekong adalah orang yang mempunyai kedudukan masyarakatnya, seperti Timanggong/Temanggung dan Panglima atau orang yang di-tua-kan di kampung halamannya sendiri maupun di tempat merantau.

Motif Rekong, lanjut Edy, berbeda-beda bentuknya karena disesuaikan dengan jabatan dan kedudukan. Selain itu, antara sub suku Dayak yang satu dengan yang lainnya juga memiliki bentuk motif yang berbeda tapi memiliki makna yang sama.

Motif rekong dapat berupa sayap kupu-kupu, kalajengking merayap dan kepiting. Intinya cenderung berbebtuk motif binatang.

Masyarakat Dayak yang biasanya tato rekong di leher adalah Dayak Kayan, Dayak Taman, dan Dayak Iban. Sementara masyarakat Dayak biasa yang tato rekong di leher akan dikenakan sanksi atau hukuman adat, namun untuk sekarang ini tidak lagi karena ada sebagian memandangnya sebagai seni, ucapnya.

Motif lainnya adalah Bunga terong merupakan bunga kebanggaan masyarakat Dayak Iban. "Bunga terong sudah naik, orang itu sudah profesional, kalimat itu sering diucapkan masyarakat Iban. Karena terong itu kebanggaan masyarakat Iban. Terong juga memberi makna pangkat/kedudukan sebab umumnya letak pertama ada di bahu," tuturnya kepada Tribun.

Bentuk motif dan jenis bunga terong ada berbagai macam dan letaknya juga berbeda. Ada yang tato terong dan meletakannya di lengan, tangan, kaki, dan perut, serta ada juga mengukir seluruh tubuhnya dengan bunga terong.

Bunga terong ada yang bersayap enam, dan ada yang delapan. " Seorang masyarakat Dayak Iban yang memiliki bunga terong keliling pinggang biasanya delapan buah berarti orang itu sudah plor atau penuh atau sudah puas merantau," ujarnya.

Sementara motif kelingai melambangkan binatang yang ada di lubang tanah memberikan arti hidup kita tidak terlepas dengan alam atau bumi. Motif kelingai biasanya diletakan di paha atau betis.

Demikian motif ketam juga memberikan arti hidup selalu menyentuh dengan alam. Meski begitu, ketam biasanya diletakan pada tubuh bagian punggung atau tepatnya dibelakang punggung.

Sedangkan motif buah andu dan bunga ngkabang atau bunga tengkawang melambangkan sumber kehidupan. Buah tengkawang merupakan bunga yang paling banyak di kampung masyarakat Iban dan ditatokan di atas perut.

Motif buah andu pada umumnya diukirkan di belakang paha, yang memberi arti, ketika merantau kita selalu berjalan jauh dan buah andu sebagai makanan untuk menyambung hidup, pungkasnya.

Sumber Tribunenews

Monday, November 21, 2011

Gua Tengkorak, Kalimantan Timur

GUA TENGKORAK & LOJANG
Goa ini terletak di sebuah tebing kapur tegak desa Kesungai, Batu Sopang, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Berada 4 km dari tepi jalan trans Kalimantan Km-130 Balikpapan-Banjarmasin. Kalau anda faham Air Terjun Gunung Rambutan kira2 hanya 10 km dari sana.

Goa Tengkorak adalah sebuah lubang di tebing pada ketinggian 20 meter. Lubang tsb. memiliki tinggi sekitar 1,5 meter, lebar 2 meter, panjang 3 meter. Di ujung lubang terdpt lorong dgn lubang sempit yg harus dimasuki dgn merayap didalam dijumpai ruangan lain yg cukup luas dgn panjang kira2 10 meter dan tinggi 20 meter. Disana ada ornament gua yg cukup bagus. Lubang diatap gua, merupakan jalur laluan air yg membentuk lubang gua tsb. dan rekahan2nya membentuk stalagtit.

 
GOA ini berisi 35 tengkorak kepala dan ratusan tulang yg merupakan sisa jazad nenek moyang warga setempat. Untuk masuk kedalam ruangan kedua, tak pelak lagi badan menyenggol jazad2 ini krn sempitnya laluan. Untungnya tak banyak tangan2 jahil yg menganggap ini sebagai cendera mata. Tidak ada penjaga disana. Umur dari jazad tsb kurang diketahui dgn jelas. Beberapa kuburan diluar menggunakan aksara Arab.

Suatu keanehan yg saya rasakan sendiri dan sulit utk percaya, bahwa bau harum kuat tercium disekitar ini, masalahnya anggota keluarga2 lain menyangkal adanya bau2an spt itu. Saya mencari tahu asal bau2an tapi tak mendptkan asalnya. Saya sangat penasaran kalau2 ada penciuman saya yg salah. Saya berpikir positif saja mungkin ini semacam ungkapan "kasat mata" selamat datang,.Alhasil, perjalanan masuk kedlm lorong gua bisa dilanjutkan.

Goa ini berada di pinggiran desa yg menyeberangi dua sungai sejauh 500 meter menggunakan jembatan gantung yg cukup baik dan terlihat terawat. Untuk mencapai tebing, terdapat tangga naik yg aman utk dinaiki.

Tak jauh dari Gua Tengkorak terdapat gua lain bernama Gua Lojang, sebuah gua kapur lainnya dgn dalam sekitar 400 meter. Goa Lojang, terletak satu kilometer dari Goa Tengkorak, juga berada di tengah sebuah tebing tegak bukit kapur setinggi kurang lebih 30 meter. Goa ini memiliki ruangan yg amat besar seperti gua Niah. Mulut goa terletak di ketinggian dan utk mencapai nya tersedia anak tangga. Kalau baru pertama kalinya masuk kedlm jenis gua spt ini, kita akan takjub berada ditengah kegelapan abadi di dlm ruangan yg sangat-sangat besar. sayang kamera tdk bisa mendptkan citra kekhususan tsb. tanpa persiapan dgn lampu2 ribuan watt utk mencapai seluruh bagian dlm waktu yg bersamaan.

Archiaston Musamma - Doha 

Thursday, November 3, 2011

Bupati Kapuas Hulu Launching Dusun Wisata Sadap

Kapuas Hulu-EMBALOH HULU, (kalimantan-news) - Dusun Sadap, Desa Manua Sadap Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, resmi menjadi Dusun Wisata,yang dilaunching langsung oleh Bupati Kapuas Hulu A.M Nasir, SH sekitar pukul 10.30 wib, Minggu (30/10/2011) tepatnya diu rumah Betang Dusun Sadap. Kedatangan Bupati Kapuas Hulu beserta rombongan disambut meriah oleh masyarakat setempat dan ditandai dengan pemotongan umpang serta diiringi tarian suku dayak Iban Desa Sadap. 

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Agus Haranta mewakili Direktur Kawasan Konservasi pada Kementerian Kehutanan, Prabianto Wibowo, Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan wilayah regional Kalimantan, Kepala Balai Besar TNBK Joko Prihatno, Panglima Perang Suku Dayak Iban Jimbau Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu Drs. Alexander Rombonang, MM.A, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kapuas Hulu Drs. H.Mukhlis, Msi, Danyon 644/Walet Sakti Putussibau,Let.Kol.Inf. Anggit Exton Yustiawan,  Kepala WWF Indonesia Kabupaten Kapuas Hulu, Camat Embaloh Hulu Hermanus, S.Sos, dan sejumlah Pejabat teras lainnya yang ada dilingkungan Pemerintahan  Kabupaten Kapuas Hulu, serta ratusan masyarakat yang turut hadir untuk menyaksikan launching Dusun Wisata tersebut. Launching Dusun wisata Sadap itu sendiri ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Kapuas Hulu.

Mewakili masyarakat Jimbau, selaku Panglima Perang Suku Dayak Iban menuturkan bahwa dengan dijadikanya Dusun Sadap sebagai Dusun Wisata, merupakan penghargaan bagi masyarakatnya, dan kepercayaan yang telah di berikan ke Dusun Sadap akan tetap dijaga, dan menurut Jimbau dirinya dan sejumlah masyarakat serasa tidak percaya dengan kenyataan, bahwa Dusun mereka dijadikan Dusun Wisata. 
“Kami bagaikan bermimpi atas Dusun Wisata ini, Kami berharap dengan dijadikannya Dusun Kami sebagai Dusun Wisata, Kami berharap agar ada dampak langsung maupun tidak langsung yang dapat Kami rasakan, salah satunya kemajuan pembangunan dan kesejahtreraan masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu dijelaskan Joko Prihatno selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan bahwa tujuan dijadikannya Dusun Sadap ebagai Dusun Wisata guna untuk mempromosikan potensi alam yang dipadukan dengan potensi wisata, adat istiadat dan budaya yag ada di Kabupaten Kapuas. Tidak hanya itu yang melatar belakangi dipilihnya Dusun Sadap sebagi Dusun Wisata, karena memang memiliki criteria dengan memiliki berbagai potensi baik itu budaya adat istiadat hingga poteni wisata alamnya dan merupakan pintu masuk menuju kawasan TNBK.

“Kenapa harus Dusun Sadap ini yang Kita jadika Dusun Wisata, bukan Desa, sebab Dusun Sadap ini sudah memnuhi kriteria dengan potensi yang ada, untuk dapat kemas menjadi perpaduan, dan dinila dapat menarik perhatian para wisatawan, sehingga potensi yang ada tersebut dapat tergali dan terpromosikan keluar sana, selain itu pengelolaanya dilakukan oleh masyarakat langsung, dengan menjadikan setiap rumah warga sebagai home stay wisatawan,” terangnya.

Sedangkan Agus Harnanta yang mewakili  Direktur Kawasan Konservasi mengharapkan agar potensi yang ada di setiap Desa dapat tergali seperti halnya seperti Dusun Sadap, banyak hal yang dapat menarik perhatian wisatawan, selain panorama keindahan objek wisata itu sendiri juga potensi yang ada pada masyarakat setempat, diantaranya, adat istiadat dan budaya, keramah tamahan masyarakat, serta mesti terus dijaga kebersihan lingkungan, tidak hanya itu cirri khas Dusun Sadap ini juga memiliki nilai jual untuk wisatawan, salah satu contohnya yaitu dengan dijadikannya rumah warga sebagai home stay, dengan demikian dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,ujarnya.

Sementara itu Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir, SH mengatakan bahwa hendaknya dalam rangka mempromosika wisata yang ada di Kapuas Hulu, khususnya di Dusun Sadap tersebut hendaknya tidak hanya sebatas launcing yang Kita lakukan, tetapi perlu kerja keras serta kesinergian yang lebih optimal lagi kedepannya, terutama dalam menyusun program-program yang dapat mengembangkan dan mengali secara maksimal potensi wisata yang ada.

“Saya berharap ini tidak sampai disini, setidaknya mesti ada upaya kedepan dalam mengembangakan objek wisata serta potensi-potensi yang ada, terutama dalam menyusun program yang matang, dalam mengelola pariwisata yang ada perlu ada aksi, exsen serta eksis dalam terus mengali potensi wisata, dengan tidak meninggalka cirri khas daerah setempat dan pada umumnya Kabupaten Kapuas Hulu, sehingga memiliki kesan tersendiri bagi pengunjung, apalagi jika mereka berbaur langsung dengan masyarakat, dengan adanya home stay dirumah warga,” ungkapnya.

Ditambahkan Nasir, dari segi perhatian Pemerintah tentunya, selain dari pihak Taman Nasional Pemerintah Daerah, diharapkan juga pemerintah pusat selalu memberikan dukungan, tidak hanya itu Dunia juga mesti ikuti memberikan kontribusi terhadap Kabuapten Kapuas Hulu, sebab masyarakat sejak zaman nenek moyang sudah menjaga hutan, yang saat ini dijadikan sebagai paru-paru dunia.

“Jangan sampai masyarakat dituntut terus menjaga hutan, sementara tidak ada kontribusi dunia, ini sama saja membuat masyarakat semakin tertinggal, namun Kami harapkan denga wisata yang ada ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta secara perlahan-lahan dapat menambah pendapatan daerah ini, “ pungkasnya. (phs)

Sumber : www.kalimantan-news.com

Wednesday, November 2, 2011

Singkawang Tuan Rumah Lomba Sumpit Internasional

 Lomba sumpit internasional siap digelar di Singkawang, Kalimantan Barat, 18-20 November mendatang. Kompetisi bertajuk International Borneo Sumpit Tournament, diikuti delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

''Sudah ada 31 peserta dari komunitas sumpit di Kuching, Malaysia, yang menyatakan keikutsertaan mereka,'' kata Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Faried di Pontianak, kemarin.

Menurutnya, adanya animo calon peserta dari negara tetangga itu menandakan acara tersebut berhasil mempromosikan potensi wisata di daerah.

''Sumpit itu orisinal Kalimantan. Dan menyaksikan tradisi ini langsung di tempat aslinya tentu nuansanya akan berbeda,'' jelas Faried.

Kompetisi menyumpit ini mempertandingkan delapan kategori untuk kelas putra dan putri. Di antaranya, kelas 20 meter dan 30 meter dengan posisi berdiri dan jongkok.

International Borneo Sumpit Tournament merupakan kompetisi menyumpit tingkat internasional pertama yang digelar di Singkawang. Program tersebut menggantikan program konser musik di perbatasan Indonesia-Malaysia yang diselenggarakan setiap tahun. (AR/N-3)

sumber : MI

Saturday, October 29, 2011

Ayo, Berlayar di Belantara Kalimantan

JUNGLE River Cruise merupakan sebuah konsep pariwisata di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang dijalankan oleh Kalimantan Tour Destination (KTD). Perusahaan asing ini didirikan Gaye Thavisin dan Lorna Dowson-Collins. Keduanya merupakan pencetus utama yang memperkenalkan wisata melalui jalan air di Kalimantan Tengah.

Terinspirasi dengan keindahan sungai di Kalimantan Tengah, Gaye dan Lorna merubah sebuah kapal barang menjadi perahu layar yang nyaman dengan fasilitas berlayar, di antaranya kabin, tempat duduk untuk bersantai dan deck pada bagian atas untuk melihat pemandangan. Perahu ini dikenal dengan nama Rahai̢۪i Pangun dengan ukuran 20m x 6m. Perahu didesain oleh seorang arsitek asal Perancis dan memakan waktu sekitar dua tahun dalam pembuatannya.

Melihat potensi dari Kalimantan melalui penduduk dan kebudayaan mereka dengan keindahan hutannya yang menyimpan keanekaragaman flora dan fauna, termasuk orang utan, membuat keduanya berinisiatif untuk menyediakan sebuah akomodasi agar orang-orang bisa menikmati harta karun alam ini.

Mereka membangun kapal sebagai objek wisata dan kendaraan bagi pengunjung untuk menyusuri hutan dan desa sekitar. KTD menciptakna sebuah pelayaran dengan fasilitas makanan yang lezat dan servis yang luar biasa. Pengunjung bisa menjelajahi lingkungan sekitar yang sangat alami sambil belajar tentang lingkungan dan kebudayaan setempat.

KTD bekerja sama dengan penduduk desa untuk membantu dalam mengatur bisnis pariwisata mereka. Misalnya sebagai pemandu tur, penyewa kano, pemandu pemancingan, mengumpulkan pengobatan tradisional dari hutan, menciptakan kerajinan tangan dan menyediakan dengan perbelanjaan untuk wisatawan.

Perekrutan ini memberi keuntungan bagi penduduk lokal karena mereka akan dilatih untuk memajukan keadaan ekonomi setempat. Para staff lokal akan dibayar sesuai pekerjaan dan mereka juga akan menerima bonus serta asuransi kesehatan. Untuk informasi selengkapnya Anda bisa mengunjungi situs wowborneo.com. (MI/ICH)

sumber : metrotvnews.com

Friday, October 28, 2011

Pengelolaan Guest House Tangkiling Terkendala Status

PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Rencana pengelolaan guest house di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling, Palangkaraya, Kalimantan Tengah terkendala status kepemilikan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng ingin bangunan yang terbeng kalai itu dimanfaatkan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng Kardinal Tarung di Palangkaraya, Kalteng, Jumat (28/10/2011), mengatakan, pemanfaatan tersebut terkendala pernyataan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng yang mengklaim memiliki hak atas guest house.

Awalnya, guest house didirikan untuk tempat menginap di TWA Bukit Tangkiling. Sudah lebih dari 20 tahun lalu aset itu terlantar. Atap bangunan tersebut bolong, halaman ditumbuhi ilalang, dan catnya mengelupas. Pasokan air dan listrik pun sudah diputus.
"Status legalnya memang membingungkan. Masing-masing pihak mengklaim berkuasa atas guest house. Pihak BKSDA Kalteng menyatakan punya surat dari Kementerian Kehutanan," ujarnya.
Akan tetapi, lanjut Kardinal, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang berkeyakinan terhadap posisinya sebagai wakil pemerintah pusat. "Serahkan saja guest house itu untuk dikelola tapi TWA Bukit Tangkiling tetap dikelola BKSDA Kalteng," ujarnya.  

sumber : Kompas.com

Saturday, February 5, 2011

Wisata Kalimantan, dari Madu hingga Songket Dayak

PERNAH meminum madu borneo? Manisnya khas karena dihasilkan dari lebah hutan Apis Dorsata. Jika Anda sudah puas menikmati keindahan Danau Sentarum dengan segala flora dan faunanya maka tak ada salahnya memburu madu borneo itu.

Di sekitar lokasi Danau Sentarum dalam lingkup Taman Nasional Betung Karihun, terdapat perkampungan penghasil madu yang sudah berlangsung turun temurun. Di wilayah ini sebanyak 70 ton madu dihasilkan tiap tahunnya.

Dikelola secara tradisional, madu borneo justru memiliki keunggulan karena keasliannya. Penduduk di sana hanya mengambil madu lebah hutan dari sarang yang sudah matang dengan ketinggian di atas pohon bisa mencapai 50 meter lebih.

Di samping itu cara pengambilan madu tidak dengan memeras sarang, akan tetapi dengan cara memotong sarang (labang kepala) dan meletakkannya di atas kain penapis kemudian dibiarkan menetes dengan sendirinya.

Yang membedakan madu borneo di kawasan Danau Sentarum ialah berasal dari lebah liar yang mempunyai habitat di hutan, bukan lebah budidaya. Lebah-lebah hutan itu bebas membuat koloni (sarang) di pohon, kadang kadang juga di bebatuan di tebing jurang. Pakan pun memilih sendiri dari bunga-bunga alami di hutan. Dengan demikian madu yang dihasilkan adalah organik.

Penduduk di sana memanfaatkannya untuk diramu dengan sejenis rempah agar badan menjadi bugar dan hangat saat diminum. Tak heran orang Malaysia memburu jenis madu ini langsung ke masyarakat sekitar hutan untuk kemudian dikemas dan dijual kepada wisatawan di Malaysia.

Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kapuas Hulu Amini Maros mengakui banyaknya potensi ekonomi yang bisa untuk menyejahterakan warga di sekitar Danau Sentarum. "Mungkin ke depan kita harus punya konsep menyeluruh menjadikan Danau Sentarum menjadi destinasi wisata ecotourism," katanya.

Pengembangan wisata ecotourism ini diyakini mampu menyedot wisatawan asing yang jika berada di wilayah Kalimantan hanya sampai di Kucing dan Serawak (Malaysia) saja. Dengan modal keindahan alamnya, kegiatan masyarakat di sekitar Danau Sentarum yang terbilang unik serta seni dan budayanya, destinasi seperti ini menawarkan sensasi pariwisata yang komplit.

Tak jauh dari kawasan Danau Sentarum terutama, warga Kumpang Ilong di Kabupaten Sekadau banyak yang melakukan aktivitas menenun. Tenunan mereka dikenal dengan tenun Belitang. Masyarakat juga membuat tikar lampit, bakul, dan raga, semacam ayaman berbentuk kotak untuk menyimpan oleh-oleh.

Untuk melestarikan tradisi menenun ini pemerintah provinsi Kalimantan Barat mewadahinya dalam Dekranas. Tradisi menenun bayak dilakukan oleh suku dayak Kantuk dan Iban.

Yuliana, seorang warga Dayak Kantuk, mengisahkan tenunan mereka banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Kalbar. Harga tenun tangan menurutnya bervariasi tergantung motif dan bahan yang digunakan. Warna kuning, merah terlihat mendominasi tenunan mereka.

Yuliana menyontohkan, kain tenun dengan lebar 70x170 cm dihargai sekitar Rp 350 ribu. "Kita biasa membuat pesanan untuk taplak meja dan sarung bantal," katanya, sambil memainkan tangannya menggerakkan alat tenun tradisional.(MI/*)

sumber : Media Indonesia

Monday, October 11, 2010

Rumah Betang Ojung Batu

Di Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Propinsi Kalimantan Tengah, masih banyak terlihat rumah-rumah penduduk yang berbentuk rumah betang yang tradisonil . Rumah-rumah betang yang ada di Kecamatan Delang rata-rata berumur ratusan tahun dan masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Hal itu menandakan bahwa penduduk di Kecamatan Delang sampai saat ini masih melestarikan adat-istiadat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Salah satu rumah betang di Kecamatan Delang yang masih terawat dengan baik dan sering dikunjungi oleh banyak wisatawan adalah Rumah Betang Ojung Batu. Yang membedakan Rumah Betang Ojung Batu dengan rumah-rumah betang lainnya adalah di dalamnya terdapat banyak tajau. Konon, rumah betang ini dulunya dikenal sebagai tempat kediaman seorang tokoh masyarakat Dayak yang sangat kaya yang memiliki ribuan tajau, sebuah benda mirip tempayan yang oleh masyarakat setempat dijadikan sebagai simbol kekayaan dan kehormatan seseorang.

Tajau juga dianggap sebagai benda yang memiliki kekuatan gaib dan dapat membawa rejeki bagi orang yang memilikinya. Konon, orang yang membuat tajau bukanlah orang sembarangan, karena dia harus menguasai upacara khusus sebelum membuatnya. Namun sayang, jumlah tajau yang ada di rumah betang ini sekarang sudah jauh berkurang, menjadi ratusan saja. Saat ini, rumah betang yang sudah berumur hampir 1.000 tahun dimiliki oleh Omas Petinggi Kaya, salah satu tetua adat di Kecamatan Delang. Oleh Pemerintah Kabupaten Lamandau, Rumah Betang Ojung Batu ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi.

Rumah Betang Ojung Batu memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Bentuknya memanjang ke belakang sekitar dua ratus meter, bertiang panggung dari kayu ulin dengan diameter di atas 50 sentimeter dan tinggi 1,5 meter, serta beratap sirap yang juga terbuat dari kayu ulin. Di dalam rumah betang ini terdapat puluhan bilik dan satu bilik dihuni oleh satu keluarga. Setiap keluarga penghuni bilik memiliki koleksi barang-barang antik berupa piring keramik, gong, meriam kuno, talam tembaga, dan berbagai bentuk perhiasan Cina dan Belanda yang sudah sangat jarang dijumpai. Para penghuni Rumah Betang Ojung Batu dikenal pula memiliki seni budaya cukup tinggi, yang dapat dilihat dari berbagai bentuk ukiran yang menghiasi hampir di seluruh bagian rumah, mandau (senjata khas Suku Dayak ) yang menempel di dinding rumah, tombak, dan berbagai bentuk anyaman yang terbuat dari rotan.

Meskipun ukuran rumah ini terbilang luas dan besar, namun hanya ada satu pintu masuk utama untuk memasuki rumah ini. Hal ini menyiratkan makna filosofis yang luhur, yaitu agar semua anggota keluarga yang menghuni rumah ini memiliki persamaan persepsi dan tujuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Apapun aktivitas yang dilakukan oleh para penghuni rumah, mereka tetap masuk dan keluar dari pintu yang sama. Di samping itu, dengan hanya memiliki satu pintu utama, diharapkan penghuni rumah dapat lebih mampu mengenal antara penghuni yang satu dengan penghuni lainnya secara lebih dekat. Untuk memasukinya, penghuni rumah harus melewati anak tangga yang berada di bawah kolong rumah.

Selain memiliki keistimewaan dari sisi arsitekturnya, Rumah Betang Ojung Batu juga memiliki sisi keistimewaan lainnya, yaitu keramahan para penghuninya. Setiap pengunjung yang datang akan disambut dengan ramah, tidak dipungut biaya, dan cukup mengisi buku tamu sebagai media perkenalan. Apabila berkenan, pengunjung akan diajak untuk minum tuak (minuman tradisional dari beras ketan) dan makan sirih karena dianggap menghargai budaya masyarakat lokal.

Pemandangan bersahaja lainnya juga dapat dilihat dari ekspresi kebersamaan dan persaudaraan di antara para penghuni rumah, terutama ketika ada permasalahan yang menimpa salah satu penghuni. Misalnya, jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak, dan tidak menghidupkan peralatan elektronik.

sumber : www.lamandau.go.id, www.kalimantan-news.com

Saturday, October 9, 2010

Borneo Extravaganza 2010, Kalimantan Tidak Kalah dari Bali

KUTA, KOMPAS.com - Empat provinsi di Pulau Kalimantan menggelar promosi bersama bertajuk Borneo Extravaganza 2010 di sebuah mal di kawasan wisata Kuta, Bali, Jumat (8/10). Lewat kegi atan dua hari itu, para pemangku kepentingan di Kalimantan ingin menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

"Kalimantan tidak kalah dengan Bali. Pulau itu kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya serta pesona alamnya. Melalui pameran wisata seperti inilah kesempatan membuka apa-apa yang dimiliki pulau itu kepada para turis. Semoga lebih banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke Borneo," kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Iptek Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Titin Soekarya, dalam acara pembukaan pameran itu di Kuta, Jumat (8/10).

Borneo Extravaganza merupakan salah satu kegiatan pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan provinsi yang ada di Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan . Acara ini pertama kali diselenggarakan di Mal Taman Anggrek, Jakarta, pada 2004 lalu. Tahun ini merupakan penyelenggaraan Borneo Extravaganza keempat.

Dikatakan, luasnya wilayah Nusantara harus ditawarkan pada para turis asing. Jenis wisata yang potensial, antara lain berpetualang masuk hutan belantara, mendaki gunung, dan melihat langsung hutan yang selama ini dikenal dengan paru-paru dunia, seperti Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun di Kabupaten Kapuas Hulu.

"Orang juga selalu rindu dengan suasana pasar terapung di Kalimantan. Kita dorong agar masyarakat di sekitarnya membuka penginapan sehingga menjadi tempat penginapan ( homestay) yang pasti digemari wisatawan," kata Titin.

Selama pameran, Borneo Extravaganza antara lain menyajikan paparan tentang potensi wisata yang kini digiatkan, seperti seperti Museum Mulawarman, Tugu Khatulistiwa, serta Wisata Sungai Mahakam, Barito, dan Kapuas. Sedangkan pada wisata kuliner, disajikan sensasi menikmati makanan khas Kalimantan tempo dulu dan sekarang yang sudah bercampur dengan budaya Melayu dan Bugis.

sumber : www.travel.kompas.com

Sunday, May 2, 2010

Kawasan wisata alam Gunung Tiong Kandang


Air Terjun dan Batu Unik

Kawasan wisata alam Gunung Tiong Kandang kita dapat menyaksikan Air Terjun Kajang dan Air Terjun Nosok. Air terjun Kajang memiliki tiga tingkatan terletak di sebelah utara Dusun Mangkit. Air terjun ini digunakan masyarakat sebagai irigasi pertanian dan sumber air minum. Sebelah selatan pemukiman Dusun Mangkit terdapat pula air terjun oleh masyarakat disebut Riam Nosok dengan ketinggian enam meter.

Jika kita mendaki ke puncak Gunung Tiong Kandang melalui Dusun Mangkit akan beristirahat di tengah-tengah gunung Tiong Kandang (pedagi) untuk memulai pendakian ke puncak gunung kita akan melewati sebuah batu dengan ketinggian 160 cm. Batuan ini berbentuk pintu masuk. Batu pintu masuk ini berbentuk lorong yang selalu digunakan masyarakat untuk menuju puncak gunung. Sedangkan dikiri kanan batu terdapat jurang yang sangat dalam.

Keunikan lain Kawasan Wisata Gunung Tiong Kandang adalah Batu Kulintang dan Batu Pengasih. Disebut Batu Kulintang karena keberadaan batu ini sejak dahulu sampai saat ini bersusun berderet seperti susunan kulintang.

Sedangkan Batu Pengasih merupakan batu yang terletak di puncak gunung Tiong Kandang. Dari batu pengasih ini pula kita dapat memandang keindahan alam yang ada disekitar gunung.

Gunung Tiong Kandang juga merupakan penyuplai buah durian terbesar dari Kecamatan Balai Batang Tarang. Buah durian dari gunung ini dijual kepada pembeli yang sudah menunggu atau buah durian ini diolah menjadi lempok durian oleh sebagian masyarakat di Batang Tarang. Lempoknya terkenal menjadi lempok dari durian Batang Tarang.

Menurut legenda Gunung Tiong Kandang berasal dari seekor Burung Tiong yang berada dalam kandang (sangkar) kemudian tersangkut di atas tunggul kayu. Burung Tiong ini mengumpulkan sampah-sampah dari berbagai jenis sampah-sampah yang berada disekitarnya. Lama kelamaan tumpukan sampah menjadi tumpukan yang meninggi dan membesar menjadi sebuah gunung. Gunung tersebut akhirnya diberi nama Gunung Tiong Kandang

Dalam acara Pentas Seni dan Budaya Dayak VII tahun 2009 SE-KALIMANTAN bertempat di Pusat Kebudayaan "Koesnadi Hardjasoemantri" Yogyakarta lalu : Ikatan Keluarga Besar Kabupaten Sanggau Yogyakarta (IKBKSY) yang terdiri dari :

- penata tari:aprima rolis yandi ogam
- penata musik:yulius reza sukamdani
- penata busana:aprima rolis yandi ogam
- penari:kornelia selvi lestari,fausta sulastri,fransisca irmina kurniati,feronika ,candida R.a,veronicha tri handayani ,genoveva riyana permata ,ivan dessev.
- pemusik:yulius reza sukamandani ,kornelius subandi ,alberikus ,yosafat sisbiantoro,emanuel lolly,oktavianus videli,teofilus frandy,maria theresha.

Mereka menampilkan terian yang berjudul "Mangkit tiong Kandang". Konon, Mangkit Tiong Kandang adalah sebuah desa tidak kasat mata yang penduduknya disebut BUNYI, yaitu hantu wanita berparas cantik rupawan. Suatu ketika didalam mimpinya seorang pemuda mendapat pesan untuk pergi ke hutan dan memanjat sebuah pohon pinang dengan telanjang agar dapat menemukan desa itu. Lalu, si pemuda menetap dan menikah dengan salah satu "BUNYI "di sana .
Karena rindu dengan kampung atau desa asalnya, si pemuda diijinkan pulang dengan syarat di larang membawa anjing saat ia kembali ke desa Mangkit Tiong Kandang. Namun si pemuda melanggarnya, sehingga terjadilah keributan setelah penduduk desa itu mendengar suara anjing yang di sembunyikannya didalam tikar. Kejadian itu merubah keadaan desa, yang kemudian dapat di temui dan berkembang menjadi desa biasa sampa saat ini.

sumber :
www.disbudpar.kalbarprov.go.id
Buku kenang-kenagan Pesta Seni dan Budaya Dayak VII 2009 SE-KALIMANTAN
foto : Pesta Seni dan Budaya Dayak VII 2009 SE-KALIMANTAN

Friday, April 16, 2010

Bukit Tangkiling Menyimpan Batu Pengapit Dosa

Menyusuri daerah perbukitan di kawasan Kotamadya Palangkaraya, tidak lengkap rasanya bila belum mendaki bukit yang satu ini, Bukit Tangkiling. Letaknya jauh dari pusat kota, persisnya Jl Tjilik Riwut Km 32 arah luar kota. Dari segenap penjuru memandang, nampak bukit yang rimbun ditumbuhi pepohonan.

Untuk memasuki areal kaki bukit, dari Kelurahan Banturung harus menempuh jarak 1600 m lagi. Jangan dibayangkan kesulitan medan yang harus dilintasi menuju kaki bukit, karena bukan lagi jalan setapak, tapi jalan beraspal yang sesekali tergenang air bila hujan turun lebat. Kesulitan, baru terasa setelah berada di punggung bukit, jalan menanjak dan terjal terhampar di depan mata.

Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangkiling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.

Batu Kapit Dosa
Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Mirip cerita si Malin Kundang, sang anak durhaka, Tangkiling pun, dikutuk karena kedurhakaannya. Berubahlah sungai tempatnya berlayar menjadi daratan dan perbukitan. Sedang perahu dan seluruh barang bawaannya, berubah menjadi batu-batuan yang besarnya sebesar rumah-rumahan.

Tangkiling sendiri, karena dosa-dosa yang disandangnya, harus rela terjepit diantara biliknya, sekarang dikenal dengan batu pengapit dosa. Memang, batu kapit dosa, dipercaya, berasal dari bilik Tangkiling yang turut diterbangkan angin dan kemudian berubah membatu seperti benda lainnya.

"Bila orang bersangkutan ada dosa, maka tidak bisa melewati antara dua batu itu, terjepit," ungkap Nyai Handang-sebut saja begitu namanya- seorang penduduk Kelurahan Tangkiling yang kerap mendaki bukit bersama keluarganya. Dia mengaku, apa yang barusan dipaparkannya, berdasar kepercayaan yang mereka terima turun temurun.
Dulu pun, menurutnya, ada semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan kemenyan yang menyengat hidung.
"Kita baca doa sesuai agama kepercayaan yang kita anut," imbuhnya.
Apakah sudah ada yang terjepit disana? Sambil tertawa, dikatakannya, sepengetahuan dia, memang belum pernah terjadi, kecuali karma yang menimpa Tangkiling, hingga terjepit diantara dua batu itu.

"Mungkin, karena zamannya sudah berubah, kekuatan itu tidak pernah dinampakkan lagi," tukasnya. Meski begitu, menurutnya, kepercayaan akan kekuatan magis batu itu, masih beredar dan dipercaya masyarakat. Nyatanya, beberapa kecelakaan, pernah terjadi di seputar bukit Tangkiling.

Mengenai kepercayaan ini, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi kalteng Drs H Nawawi Mahmuda, menilai, itu hanyalah fenomena atau peristiwa alam belaka. Dan, tidak ada keterkaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural. "Artinya memang murni fenomena alam, tidak ada kaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural," tegasnya.
Kepercayaan ini dibuktikan sekelompok pelajar dari sebuah SMU di Palangkaraya. Mereka menghabiskan akhir pekannya mendaki bukit, mau tidak mau, mereka harus memiringkan tubuhnya agar tidak terjepit di antara dua batu itu. Hasilnya? Mereka sampai ke puncak dan kembali lagi dengan selamat.
Dilihat dari jarak antara kedua batu yang berkisar 15 sentimeteran, terletak di punggung bukit, memang agak sulit untuk melewatinya, harus memiringkan tubuh. Di bawah batu sendiri, ternyata ada rongga atau ruang kosong, sehingga bila kita melangkah diatasnya, terasa ada suara langkah, bergema.
Kiri kanan, jalan yang dilewati, bukanlah dataran, tapi jurang yang menganga cukup dalam. Jadi, kehati-hatian adalah modal yang harus dimiliki.
"Kalau menengok ke bawah, hati rasanya rawan," imbuh Aisyah yang memiliki warung teh di Pelabuhan Tangkiling.

Sedang Juhran mantan pegawai Komunikasi Radio di Kelurahan Banturung, menuturkan, di Bukit Tangkiling terdapat bermacam-macam batu, batu pengapit dosa hanyalah salah satunya. Disebutnya pula, batu banama, batu cincin dan batu kawah yang terletak di puncak bukit.
Batu kawah, dipercaya sebagai jelmaan perahu Tangkiling yang karam, kemudian membatu. Batu kawah, oleh masyarakat sekitar dikenal pula dengan sebutan batu rinjing, karena bentuknya yang menyerupai rinjing atau wajan.
"Waktu masih bertugas, saya tiap hari naik bukit. Karena di atas bukitlah tempat paling efektif menyampaikan dan menerima informasi, suaranya terdengar lebih jelas," paparnya.


Kelabang Raksasa
Kepercayaan masyarakat lagi, menurut penuturan Aisyah, di sekitar batu kapit dosa, bermukim seekor kelabang raksasa, berukuran sebesar batang pohon kelapa.
"Bahkan, selain batu kapit dosa, disana ada juga halilipan (kelabang-red) sebesar batang nyiur (kelapa-red)," ujarnya yang berasal dari hulu Sungai Barito ini. Namun, sama halnya dengan batu kapit dosa, kelabang raksasa ini tidak pernah lagi menampakkan dirinya, raib seperti di telan bumi.

"Masa yang sudah berubah, membuat mereka tidak pernah lagi menampakkan diri," ungkapnya beralasan.
Persis seperti penuturan Nyai Handang, setiba kembali di base camp, dalam guyuran hujan lebat, sekelompok anak sekolahan tadi dikejutkan jeritan salah seorang temannya. Sontak, orang-orang yang berada di situ terkesiap, ternyata cowok ABG itu digigit kelabang sebesar jempol tangan. Memang, kelabang termasuk binatang merayap yang memiliki bisa (racun). Racunnya bisa menyebabkan badan meriang, berkepanjangan.

"Jangan-jangan, kelabang ini, cucunya kelabang raksasa yang pernah diceritakan itu, lepas dari jepitan batu pengapit dosa, eh, malah digigit cucunya kelabang raksasa," celetuk mereka bersahutan.

sumber : www.hamsi-aliblog.blogspot.com

Sunday, April 4, 2010

Bersahabat dengan Keremangan di Taman Nasional Gunung Mulu


original source : www.endrocn.multiply.com


Alkisah berpuluhjuta tahun yang lalu, perut bumi Borneo bergolak menciptakan beratus rongga, beribu ceruk dan berjuta lekukan, lipatan dan patahan. Kini Anda dapat menikmatinya dalam bentuk jadi yang jauh lebih indah dibandingkan proses terbentuknya yang sangat rumit.

Taman Nasional Gunung Mulu terletak di ujung timur negara bagian Serawak, Malaysia Timur. Walau kaya akan koleksi flora dan fauna, satu dari sembilan taman nasional Kerajaan Malaysia ini justru lebih terkenal karena rongga perut buminya yang lebih akrab disebut gua.

Mendengar kata gua, kebanyakan orang langsung berimajinasi akan sebuah tempat gelap yang lembab serta kumpulan binatang dengan bentuk yang tidak familiar. Uniknya, pengelola taman nasional ini menumbangkan citra tak sedap itu dengan membuat sebuah tempat rekreasi yang aman dan edukatif.

Di ke-empat gua yang dibuka untuk pengunjung seluruh umur – Deer, Langs, Wind dan Clearwater – jalur pengunjung dibuat rapi, terang, aman dan nyaman.

Selain keamanan dan kenyamanan, beberapa papan informasi dipasang sepanjang jalur pengunjung; menjelaskan berbagai istilah formasi gua mungkin asing bagi pengunjung seperti stalaktit, stalagmit, flowstone, moonstone, dan lain-lain. Pemandu yang profesional pun tak segan menghentikan rombongan pengunjung untuk melihat dari dekat dan menerangkan terbentuknya beberapa formasi gua.

Jangan puas dengan hanya melihat. Anda yang bernyali lebih tak akan puas tanpa mencoba adventure caving. Masuki beberapa gua yang diijinkan untuk dijelajahi – Turtle, Lagangs, Racer, Stonehorse, Clearwater Connection, Sarawak Chamber - dan dijamin adrenalin Anda akan mengalir deras.

Anda harus memiliki sertifikasi untuk mengikuti wisata adventure caving. Sertifikasi yang dikeluarkan oleh beberapa badan internasional ini menentukan gua mana yang boleh Anda masuki.

Tanpa sertifikasi, saya diijinkan memasuki Lagangs Cave – sebuah gua yang diperuntukkan caver pemula. Walau diianggap paling mudah, tak pelak otot saya dipaksa mengalahkan tanjakan, tebing, patahan, retakan bahkan mengarungi sungai bawah tanah. Semuanya dilakukan dalam keadaan minim cahaya – hanya dibantu oleh cahaya LED di helmet.

Tiga setengah jam berada dalam gelap – bertemu kepiting transparan, cacing tembus pandang, laba-laba berkaki panjang, dan ular yang nyaris buta – akhirnya saya tak kuasa berteriak gembira ketika bertemu kembali dengan cahaya matahari dan udara segar.

Di penghujung perjalanan di taman nasional ini, saya menyempatkan melihat kehidupan hutan Mulu dengan mengelilingi kanopi di atas pohon. Dengan panjang 480 meter, kanopi ini disebut-sebut sebagai yang terpanjang di dunia. Tak banyak binatang yang saya lihat dari atas kanopi setinggi 15-25 meter ini. Namun, pengalaman “melayang” di atas hutan tropis ini benar-benar tak bisa dilupakan.

Jika beruntung, pergilah ke Deer Cave menjelang sore dan Anda akan menyaksikan pemandangan menakjubkan. Ribuan bahkan jutaan keleawar “ngibrit” keluar gua dalam waktu bersamaan menciptakan kabut gelap dan gemuruh keras layaknya raksasa malam yang terbangun dari peraduannya di Deer Cave.

Menuju Taman Nasional Gunung Mulu:

Dari kota-kota besar di Malaysia (Kuala Lumpur, Kuching, dll), tumpangi pesawat (Malaysia Airlines atau Air Asia) menuju Miri atau Kota Kinabalu. Dari Miri/Kota Kinabalu, naik pesawat (Malaysia Airlines, Fly Asian Xpress) menuju Mulu.

Alternatif lain, tumpangi boat dari Kuala Baram di Miri, melintas sungai Baram menuju Marudi. Dari Marudi, tumpangi boat menuju Long Terawan. Dari Long Terawan, sewa-lah perahu menuju Taman Nasional Gunung Mulu. Total perjalanan melalui sungai adalah sepuluh jam.

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube