BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label adat. Show all posts
Showing posts with label adat. Show all posts

Saturday, December 14, 2013

Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun

Beberapa warga mengenakan pakaian adat Dayak Iban tampak sedang mempersiapkan ritual penyambutan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun di Kota Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (12/12/2013). | KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan

Oleh : Yohanes Kurnia Irawan
LANJAK, KOMPAS.com - Pesona bentang alam Kapuas Hulu nan eksotik, berpadu dengan budaya Dayak dan Melayu serta adat istiadatnya yang masih kuat melekat menjadi saksi dalam pagelaran Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun tahun 2013.

Agenda tahunan yang untuk ketiga kalinya digelar tersebut tak hanya dihadiri masyarakat dari Kabupaten Kapuas Hulu saja, tapi ada juga yang datang jauh-jauh dari Singkawang, Pontianak, dan Jakarta. Bahkan banyak terlihat turis mancanegara seperti dari Rumania, Jerman, Malaysia, Denmark dan beberapa negara lainnya.

Sesuai namanya, Danau Sentarum dan Betung Kerihun merupakan taman nasional yang wilayahnya tepat berada di jantung Pulau Kalimantan. Kentalnya suasana adat dan budaya begitu terasa mulai dari ritual adat penyambutan ketika menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Begitu turun dari kendaraan, dengan pengawalan seadanya, Cornelis disambut dengan ritual penyambutan dengan adat Melayu dari Kapuas Hulu.

Suasana budaya kembali terasa ketika gubernur disambut dengan adat penyambutan tamu khas Dayak Iban. Dalam sambutannya, Cornelis menyampaikan, kedua potensi wisata yang berstatus taman nasional tersebut sudah cukup untuk dijual di dunia international.



Masyarakat diimbau dan wajib menjaga kelestarian alamnya. Pemerintah pun diharapkan bekerja sama dengan rakyat dalam mengelola taman nasional. "Dampak dari pariwasata merupakan pendapatan bagi masyarakat. Keunikan budaya bisa kita tampilkan kapan saja apabila wisatawan datang, dan itu bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat kita karena potensi yang kita miliki ini tidak ada duanya di dunia" kata Cornelis, Kamis (12/12/2013).

Cornelis menambahkan, kendala utama yang dihadapi saat ini terutama di bidang infrastruktur. Selain itu, Cornelis juga menegaskan, habitat yang dilindungi terutama orangutan jangan dibunuh apalagi dikonsumsi.

Satwa tersebut, menurut Cornelis, wajib dijaga dan dilestarikan, karena wilayah taman nasional tersebut sudah menjadi aset dunia dan milik internasional, serta menjadi salah satu penyangga dunia.

Ketua panitia festival, Alexander Rombonang memaparkan, pergelaran festival tahun ini merupakan ajang promosi pariwisata di Kapuas Hulu, baik itu tingkat lokal, nasional hingga internasional.

"Kegiatan ini juga sekaligus untuk mempertahankan dan membina nilai-nilai budaya yang sudah mulai menurun. Selain itu juga untuk mengembangkan potensi yang sesuai tuntutan zaman serta membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi msyarakat di Kapuas Hulu," kata Alexander kepada Kompas.com.

Pergelaran festival rencananya akan dimeriahkan dengan aneka lomba, di antaranya parade lagu daerah Dayak dan Melayu, parade tarian, lomba sampan, lomba sumpit, pangkak gasing, mendongeng, menghias perisai, membuat bubu, dan menumbuk padi. Lomba tersebut diikuti oleh 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, puluhan stan menampilkan produk kerajinan khas dari Kapuas Hulu berupa anyaman, ukiran, manik-manik, dan aneka kerajinan lainnya yang dipajang dalam stan pameran.

Salah satu peserta festival, Riak Bumi Foundation menampilkan produk madu hutan yang dihasilkan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan minyak Tengkawang. Selain itu, Riak Bumi juga menampilkan produk kerajinan tangan berupa anyaman dalam aneka bentuk dan kegunaan.

Peserta festival lainnya pun tak kalah dalam menampilkan produk kerajinan masing-masing daerah. Mereka memajang serta menata stan mereka semenarik mungkin, sehingga mengundang mata untuk mengunjungi setiap stan yang ada di lokasi kegiatan.

Festival digelar dari tanggal 12 hingga 15 Desember 2013, berpusat di Kota Lanjak dan kawasan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Saturday, August 11, 2012

Kalimantan Menolak Freeport

Aktivis lingkungan di Kalimantan Tengah menolak eksplorasi oleh PT Kalimantan Surya Kencana yang bekerja sama dengan Freeport-McMoran Copper & Gold. Mereka cemas eksplorasi yang berujung pada penambangan emas di Kalteng itu akan memicu konflik agraria.
Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng Arie Rompas, pertimbangan penolakan adalah eksplorasi di Papua oleh PT Freeport Indonesia.
Perusahaan yang mayoritas sahamnya dikuasai Freeport-McMoran Copper & Gold itu telah melakukan kegiatan sejak tahun 1967.
Namun, menurut Arie, sampai 45 tahun kemudian, rakyat Papua tak mendapatkan kesejahteraan, bahkan hanya menimbulkan konflik, bencana lingkungan, dan kemiskinan.
Dalam konteks eksplorasi di Kalteng, kata Arie, ketidakadilan dalam penguasaan sumber daya alam dicemaskan akan berujung pada konflik, termasuk konflik lahan.
“Sangat patut untuk dipikirkan ulang agar pemerintah menolak Freeport dan perusahaan industri ekstraktif skala raksasa lain yang masuk ke Kalteng,” papar Arie, Selasa (24/7/2012) di Palangkaraya seperti dilansir kompas.com.
Arie mengemukakan, lahan yang menjadi sasaran eksplorasi sekitar 120.900 hektar, yang tersebar di Kabupaten Murung Raya, Katingan, dan Gunung Mas. Namun, dalam data Dinas Pertambangan dan Energi Kalteng tercantum luasnya sekitar 61.000 ha.
Direktur Eksekutif Save Our Borneo (SOB) Nordin mengatakan, pihaknya menolak bentuk penguasaan sumber daya alam yang dilakukan investor asing, termasuk PT KSK bersama Freeport, karena mengancam kedaulatan hak-hak masyarakat adat serta lingkungan di Kalteng.
Nordin mengatakan, selain Walhi Kalteng dan SOB, penolakan juga disampaikan Komisi Keadilan dan Perdamaian Palangkaraya dan Mitra Lingkungan Hidup.
“Investasi yang propasar kerap tak menghargai kearifan lokal, peran masyarakat, serta keberlanjutan lingkungan,” ujar Nordin.

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube