BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, June 25, 2014

Sejarah Apokayan

Sejarah Apokayan
Apokayan (Apo Kayan) berasal dari nama sungai besar Kayan. Dalam wilayah administratifnya saat ini termasuk ke dalam Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Kawasan ini terbagi menjadi kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sungai Boh. Beberapa desa yang telah dikenal para wisatawan antara lain Long Ampung, Long Nawang, dan Data Dian. Apokayan memiliki hubungan erat dengan sejarah masyarakat Dayak. Dahulu, tempat ini ditemukan oleh orang-orang Dayak Kenyah asal Lundaye pada abad ke-16, untuk kemudian menjadikannya sebagai pusat perkampungan suku dan anak suku (uma) Dayak Kenyah. Pada abad ke-18, setelah berkembang pesat masyarakat Apokayan mulai eksodus dan menyebar ke wilayah Kabupaten Kutai menyusuri Sungai Mahakam, memasuki daerah Berau, terus ke hilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor (Thomas Djuma, 2009).
Hutan dan Masyarakat Apokayan
Bagi masyarakat Apokayan, hutan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari. Hampir semua kebutuhan mereka seperti makanan, obat-obatan, bahan bangunan, sumber air, dan penghasilan bergantung pada ekosistem hutan (Uluk et al., 2001).  Muvut adalah istilah yang lazim mereka sebut jika pergi ke hutan untuk mengumpulkan tumbuhan diselingi dengan berburu satwa. Jangka waktunya bisa sehari hingga berbulan-bulan. Hasil dari muvut dapat dijual untuk mendapatkan uang. Dalam bertahan hidup, mereka juga melakukan perladangan atau bercocok padi sawah (Dephut, 2002). Kehidupan masyarakat adat tersebut merupakan salah satu hal unik yang sangat menarik untuk ditelusuri wisatawan, terutama para peneliti. Banyak hal yang dapat mereka telusuri mulai dari sumber daya alam hayati, sosial budaya masyarakat dayak hingga pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Destinasi Budaya, Sejarah, dan Wisata Alam
Apo Kayan memiliki keunikan, keindahan, dan nilai kekhasan dalam kekayaan alam, budaya, dan kesenian tradisional yang dapat dijadikan destinasi (tujuan) kunjungan wisatawan. Menurut Undang-Undang No.10 tahun 2009, suatu daerah bisa dijadikan destinasi (tujuan) wisata jika di dalam wilayah administratif kawasan tersebut terdapat daya tarik wisata (seperti budaya, peninggalan arkeologi bersejarah maupun panorama alam), fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Berdasarkan definisi tersebut, maka dataran tinggi Apokayan memenuhi syarat untuk dijadikan tempat destinasi wisata. Namun demikian, beragam sarana dan prasarana harus ditambahkan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh dari objek wisata tersebut. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III setidaknya telah mencatat beberapa objek wisata budaya dan wisata alam yang patut dikunjungi. Beberapa diantaranya sebagai berikut:
1.Batu Irang Dau
Dahulu sekitar tahun 1900, ketika kepercayaan masyarakat adalah Malang Ta’u (Animisme), batu keramat lepo jalan ini dipercaya dapat melindungi masyarakat dari segala bencana. Pada tahun 1902, masyarakat lalu membawa batu Irang Dau tersebut ke sebuah gunung (sekarang disebut gunung Irang Dau). Sebuah tunggul didirikan beberapa meter di tempat tersebut, lalu Batu Irang Dau diletakkan diatasnya. Awalnya batu itu berada di Long Anye sebelum akhirnya dipindahkan ke desa Metulang. Long Anye merupakan daerah asal masyarakat desa Metulang yang kini bermukim di Long Ampung. Menurut cerita, dahulu masyarakat percaya pada batu tersebut ketika roh yang ada pada batu tersebut pernah merasuki orang yang menemukannya dan berkata “Inilah aku. aku ingin menolong masyarakat bak dalam menghindarimu dari wabah penyakit, bencana kelaparan dan aku akan membuat bagimu kemarau untuk membakar ladang dan aku akan melindungi masyarakat dari segala bencana. Namaku adalah Irang Dau”.
2.       Monumen Perjuangan Apokayan.
Monumen ini berdiri kokoh di desa Nawang Baru kecamatan Kayan Hulu. Sebuah monumen perjuangan yang menggambarkan kegigihan masyarakat Apokayan dalam mengusir penjajah Belanda. Pada Monumen tersebut terdapat nama-nama para pejuang Apokayan yang terlibat langsung dalam perjuangan. Kala itu, masyarakat berhasil mengusir tentara Belanda, KNIL, dan KL dari Long Nawang sampai ke Long Boi sebelum penyerahan kedaulatan dari tangan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah RI di penghujung  bulan desember 1949. 17 Agustus 1950 adalah hari bersejarah bagi masyarakat setempat karena untuk kali pertama sang saka merah putih berkibar di bumi Apokayan. Suasana nasionalisme dan semangat patriotisme sangat terasa hingga saat ini pada masyarakat setempat, baik tua maupun muda di setiap kali upacara kemerdekaan berlangsung.
3.       Kuburan Tua
Tidak jauh dari monumen perjuangan Apokayan, tepatnya dekat bandara Long Nawang terdapat kuburan Lencau Ingan. Seorang tokoh adat Apokayan yang telah menyatukan masyarakat setempat untuk melawan penjajahan Belanda di wilayah ini. Bentuk makamnya sangat unik dan menarik, namun belum dikelola secara maksimal untuk dijadikan destinasi wisata. Selain kuburan Lencau Ingan, ada pula Kuburan Tua Uyang Lahai. Kuburan ini merupakan leluhur masyarakat suku Dayak Kenyah. Kuburan ini terletak di Hilir Desa Data Dian dan sudah mulai dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau dengan membangun pondok sebanyak dua buah.


4.       Sungai Kayan
Bagi yang menyukai petualangan, terutama penikmat olahraga arum jeram, maka sungai Kayan adalah tempatnya. Sungai besar ini memiliki lintasan yang panjang dan berkelok-kelok seperti ular. Sepanjang penelusuran sungai Kayan, di kiri-kanannya terdapat hutan hujan tropis dataran tinggi. Apabila beruntung, kita dapat melihat jenis primata endemik, monyet, biawak, hingga burung Enggang khas Kalimantan. Ada banyak giram yang terkenal di sungai ini, Seperti Giram Ben yang berada di hulu sungai Kayan, dekat desa Lidung Payau. Giram ini terdiri dari tiga tingkat yang apabila hujan lebat maka debit air semakin banyak membuat arus semakin deras. Adapula Giram Perian di jalur desa Long Nawang menuju desa Data Dian. Giram ini jika arusnya kecil sangat cocok untuk wisata arum jeram. Rute untuk wisata arum jeram yang aman adalah jalur dari desa Long Ampung menuju  Data Dian. Setelah desa Data Dian terdapat giram yang tidak bisa dilalui masyarakat setempat karena berbahaya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Jeram Embun”. Arus deras yang bergulung-gulung mampu menelan benda apa saja sehingga membutuhkan peralatan khusus dan kemampuan tinggi untuk menyelusurinya. Arus deras itu tercatat dengan grade ½ atau tingkat kesulitan di atas rata-rata. Pada beberapa bagian tidak bisa dilewati karena terlalu curam dan tinggi sehingga air jatuh menimbulkan suara bergemuruh serta melontarkan percikan air seperti embun. Mungkin itu sebabnya masyarakat setempat menyebutnya sebagai Jeram Embun. Selain Arum Jeram, kita juga dapat melakukan trekking menelusuri hutan dataran tinggi Apo Kayan sambil menikmati keanekaragaman flora dan fauna endemik.
5.       Seni dan Budaya
Selain berwisata sejarah dan menikmati indahnya panorama alam, wisatawan dapat menikmati seni, budaya dan tradisi kehidupan tradisional masyarakat setempat. Seperti kerajinan ukiran, anyaman, nyanyian, musik khas Kalimantan, hingga tarian-tarian yaitu Tarian Hudok, Tarian Gerak Sama, dan Tarian Perang. Jika musim bunga tiba, wisatawan juga dapat mengikuti prosesi kegiatan panen madu yang melibatkan banyak orang di desa Data Dian.
Akses Menuju Lokasi
Untuk mengakses tempat ini dapat menggunakan pesawat Susi Air selama kurang lebih 1 jam dengan rute penerbangan Samarinda-Long Ampung, atau Tarakan-Long Ampung. Jika melalui kota Malinau dapat menggunakan rute Malinau-Long Ampung, Malinau-Long Nawang, dan Malinau-Data Dian. Jika menaiki pesawat yang mendarat di Long Ampung, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Long Nawang Kayan Hulu dan Data Dian Kayan Hilir menggunakan jasa perahu ketinting (bermuatan 6-8 orang). Biaya yang diperlukan untuk Long Ampung-Long Nawang sekitar 500.000,-/ketinting, sedangkan Long Ampung-Data Dian sekitar 3.500.000,-/ketinting.
Strategi Pengembangan Wisata
Melihat banyaknya potensi objek wisata di tanah Apokayan tersebut, maka usaha pengembangan mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan nilai jual produk wisata. Suatu obyek wisata akan memiliki kualitas produk yang baik apabila para pelaku wisata yaitu pemerintah, pengelola wisata, dan masyarakat memiliki kesiapan didalamnya (Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif, 2002). Salah satu bentuk kesiapan dari pemerintah adalah membuat akses menuju destinasi wisata tersebut menjadi mudah. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, hingga saat ini akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh dengan pesawat Susi Air (kapasitas 12 orang) serta MAF (4-5 orang). Oleh karena itu, salah satu cara untuk menaikkan laju wisatawan adalah meningkatkan layanan rute penerbangan ke wilayah Long Ampung, Long Nawang dan Data Dian. Hal lain yang perlu dipersiapkan juga adalah sarana prasarana di masing-masing objek wisata. Ada beberapa objek wisata seperti kuburan Uyang Lahai di Data Dian yang telah dibangun shelterdan jalan menuju lokasi. Namun demikian, masih banyak objek wisata lain yang belum dilengkapi oleh pihak pengelola wisata. Sarana lain yang penting untuk segera dilengkapi adalah fasilitas telekomunikasi dengan tarif yang terjangkau. Di sisi lain kesiapan masyarakat juga mesti ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat lokal dapat dilakukan dengan beberapa bentuk seperti menjadi guide/pemandu wisata, bekerja sebagai karyawan pada objek wisata, atau menyediakan jasa akomodasi, konsumsi, dan transportasi (Drumm dan Alan, 2002).

Sumber : kompasiana.com

Monday, June 23, 2014

Pang Suma

Pang Suma adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang bergerilya di Kalimantan Barat. Pang Suma dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Jepang. Hingga kini, tokoh pahlawan yang bernama Pangsuma, belum ada satu pun yang mengetahui di mana dan kapan ia lahir. Namun menurut penuturan cucu pengawal Pangsuma, Sera, atau lebih dikenal dengan Pang Ronda, menuturkan bahwa Pangsuma berasal dari dusun di Kecamatan Meliau bernama Nek Bindang. Pangsuma merupakan nama panggilan, dalam Bahasa Meliau merupakan penggabungan dua suku kata yakni Pang berarti bapak dan Suma adalah nama anaknya.
Pangsuma berjuang membebaskan Meliau dari penjajah Jepang, walaupun mati di tangan teman seperguruannya yang berkhianat karena bergabung bersama Jepang. Pang Ronda mengungkapkan cerita ini dari orang tua dan kakeknya, bahwa perjuangan Pangsuma memang benar-benar gigih.
"Pangsuma saat menginjak dewasa, sama dengan masyarakat lainnya berada di bawah kekuasaan Jepang yang mengharuskan para kaum laki-laki harus bekerja untuk Jepang (budak) membawa batang kayu berukuran besar dan pada saat itu banyak rakyat yang sering dipukul serta perlakuan lainnya yang tidak manusiawi bila tidak bekerja secara maksimal.
Latar belakang itulah, Pangsuma melawan ketidakadilan muncul dari hati dan mendapat dukungan dari rakyat. "Kita bekerja mati-matian untuk Jepang dan kita nanti mati juga untuk Jepang, dari pada kita mati untuk mereka kenapa kita tidak membunuh Jepang," tutur Pang Ronda menirukan cerita kakeknya.
Rasa ingin membebaskan dari belenggu penjajah saat itu hanya dengan berbekal keberanian dan sebilah Sabur (sejenis mandau/parang panjang), Pangsuma berhasil membunuh pimpinan Jepang di tiga lokasi yakni Sekucing Balai Bekuak perbatasan Kabupaten Ketapang dan Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau, kedua di Desa Kunyil Kecamatan Meliau dan ketiga di pusat Kota Meliau sendiri yang merupakan basisnya Jepang.
Konon menurut cerita, seseorang dapat dikatakan jago atau pahlawan bila dapat membunuh musuh paling banyak serta membawa pulang kepalanya sebagai bukti. Karena di rasa Pangsuma merupakan satu sosok yang dapat membahayakan bagi Jepang, maka Jepang membayar teman seperguruan Pangsuma (pengkhianat) untuk membunuh Pangsuma, yakni ditembak dengan buntat kuali.
Pangsuma ditembak bersama adiknya, sang adik selamat namun Pangsuma meninggal dunia di bawah jembatan, yang saat ini berlokasi disebelah dermaga Meliau dan tidak jauh dari tempat itulah Pangsuma dimakamkan. Kini berdiri sebuah tugu yang diberi nama Tugu Pangsuma.

Sunday, June 22, 2014

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.


Adil ka’ talino bacuramin ka’ saruga basengat ka’Jubata.

Posisi Akademisi dalam Pilpres
Bola panas menjelang Pemilihan Presiden sudah di mulai. Setidaknya ada dua pasangan calon capres dan cawapres yang akan bertarung pada tanggal 9 Juli 2014. Pertarungan ini semakin memanas dengan bergabungnya akademisi yang secara tiba-tiba menjadi juru kampanye kedua pasangan tersebut. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam perilaku tersebut. Dalam sebuah negara demokrasi setiap individu memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Hanya saja sangat disayangkan, seorang akademisi yang diharapkan dapat memberikan analisis kritis dan berimbang, kini telah terkotak-kotak membela kepentingan golongan.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti alasan apa yang melatarbelakangi para akademisi menjadi jurkam para kandidat selain diri mereka sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang pasti, semua kalangan berharap bahwa semakin banyaknya akademisi dalam dunia politik praktis akan memberikan pendidikan politik yang semakin cerdas dan bukan sebaliknya, membuat kegaduhan dengan mencari-cari legitimasi untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.

Posisi akademisi dalam sebuah partai atau dukungan politik itu sangat penting. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tim ahli dan perumus program-program yang dianggap relevan dengan menggunakan hasil riset tetapi juga untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang dituduhkan kepada pasangan yang didukungnya. Pada saat seperti inilah sejatinya para akademisi diuji idealitasnya antara membela kebenaran atau membela kepentingan.

Saat ini setidaknya ada dua kubu akademisi yang bertarung pada arena politik. Kubu Mahfud MD yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta dan kubu Anis Baswedan yang mendukung pasangan Jokowi-JK. Dengan melihat kapasitas intelektual yang dimiliki, tentu tidak diragukan lagi. Akan tetapi, benarkah kapasitas intelektual semata akan menjamin seseorang bersikap obyektif atau dapat juga terjebak dalam pragmatisme?

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.
Semakin menarik melihat euforia demokrasi Indonesia menjelang Pemilu Presiden ini, khususnya di kalangan anak muda. Mungkin benar jika Pemilu adalah pesta rakyat. Di orde baru, awal reformasi kehebohan menyambut pemilihan presiden boleh dibilang cuma terjadi di kalangan para politisi. Sekarang sangat berbeda, lihat saja di media massa, media sosial anak-anak muda berpartisipasi mendukung habis-habisan pasangan calon presiden dengan menyampaikan beragam opini dan kreatifitas melalui design gambar untuk mempromosi maupun menangkis serangan-serangan lawan.
Sebagai anak muda saya pun tidak ingin melewatkan pesta demokrasi ini dengan cuma berdiam diri saja, tentunya dengan mendukung salah satu calon yang di anggap paling tepat untuk memimpin bangsa ini. Namun terlepas dari masalah Pemilihan Presiden, ada beberapa catatan sejarah politik yang pernah di lakukan oleh Suku Dayak dilihat dari teropong sejarah.

Dalam bukunya ”Kalimantan Membangun”, Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional RI dari suku Dayak Kalimantan mengungkapkan bahwa Suku Dayak di Kalimantan juga memainkan peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Riwut, yang mantan Gubernur pertama Kalimantan Tengah ini mencatat bahwa pergerakan nasional modern dari pulau Kalimantan sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928, Tahun 1919 berdirinya Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Namun, gerakan Dayak untuk bebas dari penindasan baik yang dilakukan kerajaan feodal maupun penjajah Belanda semakin menguat dari tahun ketahun diseluruh Kalimantan. Pada tahun 1941 misalnya, sejumlah tokoh Dayak dalam suatu retret guru agama katolik di Nyarumkop Kalimantan Barat bersepakat untuk meningkatkan dan memperjuangkan nasib orang Dayak melalui perjuangan politik. Kesepakatan itu merupakan salah satu inisiatif JC Oevaang Oeray, siswa seminari yang menulis surat kepada peserta retret. Oleh AF Korak, JR Giling dan MT Djaman, berhasil dicetuskan kebulatan tekad untuk berjuang secara politik. 4 tahun setelah kesepakatan itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1945, F.J Palaunsoeka, guru sekolah rakyat di Puttusibau dan kawan-kawannya mendirikan Dayak In Action (DIA) dengan moderator seorang pastor Jawa bernama Adi Karjana SJ. Karena perkembangan situasi politik saat itu, pada tanggal 1 Nopember 1945, DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD) dengan ketua umum pertamanya F.J Palaoensoeka. Disetiap kampung dibentuk Komisariat yang sejajar dengan Dewan Pimpinan Cabang. Momentum gerakan politik melalui PD kemudian mendapat tempat dengan diubahnya karesidenan Kalbar menjadi Daerah Istimewa Kalbar pada tanggal 12 Mei 1947. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Sejarah mencatat, perjuangan politik orang Dayak ternyata tidak hanya berjuang secara diplomatic, tetapi ada juga yang berjuang senjata. Pada tahun 1943 diproklamasikan sebuah Negara Dayak bernama Negara Madjang Desa. Pang Suma menjabat sebagai perdana menteri, yang dibantu oleh Pang Linggan, dan kawan-kawannya. Gerakan Pang Suma menyihir para aktivis muda Dayak untuk bergabung dinegara yang baru terbentuk ini, termasuk sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup ketika beberapa kali pecah pertempuran melawan pemerintah Hindia Belanda. Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu diantara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma. Di Sidas, Mane Pak Kasih, asal Kampung Pancur Sengah Temila bertempur dengan tentara NICA di Jembatan Sidas. Bersama rombongannya, Mane Pak Kasih gugur, membela kemerdekaan yang sudah diraih. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Sidas. Mengapa pejuang-pejuang itu gagal ? Salah satu sebab utama kegagalan tersebut adalah ketidakmampuan Dayak radikal dalam mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan potensial rakyat Dayak secara umum, sehingga mereka tak memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi serangan aparat militer Jepang.

Sebagaimana dicatat para penulis Eropah, pada masa sebelum dan selama masa kolonial, Kalbar merupakan daerah yang terdiri dari banyak kesultanan. Kendati saling bersaing, semua sultan adalah Melayu dan memperoleh dukungan dari pemerintah Belanda & Jepang. Dayak adalah rakyat yang menjadi subyek kekuasaan Melayu. Cina merupakan kelompok etnik yang walaupun juga berada dalam kekuasaan Melayu, namun mereka berusaha mengembangkan otonomi tersendiri & relatif eksklusif. Konfigurasi sosial semacam itu terus bertahan hingga beberapa peristiwa penting terjadi di penghujung masa kolonialisme dan masa kemerdekaan. Pemerintah Belanda & misionaris memberikan kesempatan pendidikan yang besar, dan secara sadar atau tidak, ikut membentuk identitas etnik kepada Dayak. Dalam batas tertentu, pemerintah dan misionaris juga membuka kesempatan pendidikan yang besar kepada Cina. Tragedi pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor membuat Melayu kehilangan banyak sumberdaya manusia yang berkualitas. Dan karena sikap yang cenderung pro Belanda pada masa awal kemerdekaan, membuat Melayu pada akhirnya kehilangan peluang untuk menguasai birokrasi pemerintahan pada masa Orde Lama. Sejumlah Dayak berhasil memanfaatkan situasi ini, setelah berhasil mengkosolidasi kekuatannya, mereka mendirikan partai politik dan menang dalam pemilu 1955 dan 1958. Hal ini kemudian mengantarkan Dayak untuk menempati posisi sebagai kelompok etnik yang berkuasa. Satu orang menjadi gubernur, dan 4 di antaranya menjadi bupati serta beberapa mengisi jabatan-jabatan prestisius lainnya. Singkatnya, Dayak naik ke kursi kekuasaan, menggantikan kelompok etnik yang dulu mereka anggap sebagai penjajahnya.

Kemerdekaan dan politik luar negeri Indonesia di masa Orde Lama, membuat Cina menjadi lebih berkembang. Mereka bukan hanya menguasai ekonomi, melainkan juga mulai masuk dan berperan dalam bidang sosial-politik. Tidak lama Dayak menguasai birokrasi pemerintahan. Seiring dengan pergantian rezim dan perubahan politik luar-negeri Indonesia, pemerintah pusat membatasi aktivitas tokoh Dayak dalam politik dan pemerintahan, dan menggantikannya dengan pejabat militer yang berasal dari Jawa. Dayak berusaha mengadakan koptasi, namun gagal.

Peralihan Orde Lama ke Orde Baru merupakan masa yang paling menyakitkan bagi Cina. Mereka bukan hanya kehilangan posisinya secara ekonomi dan politik, melainkan juga harus kehilangan materi dan nyawa. Kelompok etnik yang relatif beruntung adalah Melayu dan Madura. Belajar dari sejarah, secara perlahan Melayu berhasil kembali menguasai birokrasi tingkat menengah ke bawah. Kendati perannya secara politik tidak besar, Madura berhasil memperbaiki posisinya sedemikian sehingga pemerintah, militer, dan parpol terpaksa harus memperhatikan kepentingannya dalam beberapa urusan tertentu. Puncaknya adalah terpilihnya seorang militer Madura menjadi bupati di kabupaten Sanggau.

Orde Baru adalah masa kontemplasi dan konsolidasi bagi Dayak. Dalam masa panjang itu, mereka berusaha semakin menguatkan identitas etnik mereka dengan mengontraskan perbedaan antara Dayak dengan Melayu. Mereka mengidetifikasi dirinya sebagai Kristen, penduduk asli, mayoritas, namun dijajah oleh Melayu yang mereka anggap sebagai Islam, pendatang dan minoritas. Mereka mendirikan berbagai organisasi sosial-politik dan ekonomi yang berusaha memberdayakan kelompok etniknya. Beberapa belas tahun kemudian, pemberdayaan tersebut berhasil mentransformasikan dirinya sebagai suatu gerakan politik.

Posisi Dayak pada Pemilihan Presiden 2014.
Hingar bingar Pemilihan Presiden 2014 sudah telah menyita perhatian banyak kalangan dari tukang becak sampai kalangan elit. Tidak terkecuali dengan kalangan intelektual Suku Dayak, seolah tidak ingin melewatkan moment ini, beragam dukungan pun diberikan kepada masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.1 Prabowo Hatta mendapat dukungan dari  Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah (LM-MDD-KT) deklarasikan ini dilakukan di Rumah Polonia, Jakarta Timur pada tanggal 20 Juni 2014 Prof. KMA M Usop selaku Ketua Presidium LM-MDD-KT menghadiri langsung acara deklarasi tersebut.

Sementara itu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla mendapat dukungan dari Forum Dayak Kalbar Jakarta (FDKJ) keputusan ini di ambil dari hasil rapat bersama tgl 29 Mei 2014 di Cijantung. Deklarasi terhadap pasangan calon Presiden No.2 ini pun dilakukan pada tanggal 30 Mei 2014 di Jln Sisingamangaraja yang dipimpin langsung oleh Ketua FDKJ Bapak Nikodemus Sabudin.

Pasangan Calon Presiden dan Wakli Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla Juga mendapat dukung dari Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) melalui surat edaran NO.20/MADN/VI/2014 Pada tanggal 5 Juni 2014. Yang di tujukan kepada seluruh pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Seluruh Kalimantan. MADN mengajak masyarakat Adat Dayak untuk berpartisipasi dan melakukan pengawasan terhadap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tanggal 9 Juli 2014. Dalam surat tersebut juga Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memberikan dukungan terhadap pasangan calon presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Selain dukungan yang diberikan secara langsung melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan, dukungan secara individual pun tidak kalah serunya. Tidak heran kalau akhir-akhir ini muncul para pengamat politik dadakan dari kalangan Anak Muda Dayak. Mereka pun menyebut dirinya sebagai Relawan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Para Relawan ini bertugas untuk mempromosikan program-program pasangan yang didukungnya melalui media sosial. Mereka juga bertugas untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang alamatkan kepada pasangan yang didukungnya. Tidak jarang pada saat tertentu mereka saling serang, seolah-olah tidak kenal lagi persahabatan apabila berbeda pilihan main libas. Bahkan ada yang sampai adu urat saraf sakin cintanya kepada pasangan yang didukungnya.

Terlepas dari semua perbedaan diatas, yang perlu kita sadari adalah dalam suasana demokrasi persaingan serta perbedaan pendapat dalam memilih merupakan suatu yang wajar. Namun demokrasi juga tidak pernah membenarkan adanya bentrokan atau konflik adalah bagian darinya. Karena itu masyarakat Dayak yang terlibat dalam kampanye harus didasari bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari partisipasi politik yang dilakukanya dengan sukarela dalam menentukan pemilihan pemimpin bangsa. Siapa pun yang akan terpilih kita berharap presiden yang akan memimpin kita bisa membawa perubahan yang lebih baik dari sekarang.

Sebagai Masyarakat Dayak tentunya kita ingin diperhatikan oleh pemerintah terutama pembangunan sumber daya manusia dan Infrastruktur yang memadai di tanah Borneo. Kita tidak ingin lagi melihat jalan-jalan yang kita lewati seperti KUBANGAN atau seperti sawah yang habis di bajak. Pembanguan Infrastruktur sudah sangat mendesak, keseriusan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut sangat kita harapkan. Teman-teman mari kita sambut calon pemimpin baru negeri ini dengan penuh harapan, tanggal 9 Juli 2014 saatnya kita memilih, pilihlah pemimpin yang TEPAT, pilihlah pemimpin yang BERSIH, pilihlah pemimpin yang mau MELAYANI bukan diLAYANI, pilihlah pemimpin yang mau MENDENGAR suara rakyatnya.

Salam Budaya

Yohansen Borneo
Admin Cerita Dayak


Sumber :
-              www.ceritadayak.com
-              www.wikipedia.com
-              www.asosokbakati.blogspot.com
-              Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan - Karya Tjilik Riwut

Friday, February 28, 2014

Carl Bock, Lelaki Norwegia Penjelajah Kalimantan pada 1879

Wikimedia Commons/TropenmuseumCarl Alfred Bock, naturalis dan pelancong Norwegia kelahiran Kopenhagen, Denmark. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Sebelum berjejak di Kalimantan, dia telah menjelajah di pedalaman Sumatra pada 1878. Lukisan karya Hans Christian Olsen.
KOMPAS.com — “Pada Minggu, 20 Juli 1879, saya memulai perjalanan dari Samarinda dengan dua perahu ke Tangaroeng (Tenggarong),” ungkap seorang lelaki muda di buku catatannya, “jaraknya sekitar 30 mil perjalanan lewat sungai.” 

Lelaki itu adalah Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orangtuanya, Norwegia. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan selama enam bulan. Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak dan menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda.

Hasil penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi. Dalam bukunya yang sensasional itu dia berkisah tentang peradaban Dayak dan kanibalisme antarsuku. 

“Bock memberi kita informasi yang padat tentang suku Dayak dari Kalimantan Selatan,” ungkap Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dan penjelajah asal Inggris, beberapa bulan setelah buku itu terbit. 

“Kesan umum dari deskripsinya yang didukung potret kehidupan menunjukkan adanya kesamaan nan indah antara semua suku di pulau besar ini, baik dalam karakteristik fisik dan mental,” demikian ungkap Wallace, “meskipun ada banyak spesialisasi dalam kebiasaan.”

Bock dalam catatannya telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amontai, dan Dayak Tring. Dia juga menuturkan upayanya dalam menyingkap kisah lama dari warga setempat tentang manusia berekor. Seorang abdi kepercayaan dari Sultan Kutai A M Sulaiman bersaksi pernah menjumpai sosok itu dan menjulukinya dengan “Orang boentoet”. 

“Saya berhasil menyelesaikan perjalanan ini,” ungkap Carl Alfred Bock. “Saya menjelajahi rute dari Tangaroeng ke Bandjermasin, sejauh 700 mil, melewati serangkaian bahaya dan kesukaran di suku Dayak.”

Apakah Carl Bock juga berhasil menyaksikan manusia berekor penghuni hutan Kalimantan? Simak kisah selanjutnya “Pencarian Manusia Berekor di Kalimantan” yang akan terbit berikutnya.(Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Thursday, February 27, 2014

Penjelajahan Carl Bock, Pencarian Ras Manusia Berekor di Kalimantan

Wikimedia Commons/TropenmuseumSultan Aji Muhammad Sulaiman dan para pengiringnya di depan kedaton, Tenggarong. Sang Sultan bertakhta di Kesultanan Kutai pada periode 1850-1899. Pada 1879, Carl Bock, seorang naturalis dan penjelajah asal Norwegia, pernah berbincang dengannya tentang
KOMPAS.com - Sembari menikmati durian dalam jamuan makan malam di atas rakit, Carl Bock berbincang dengan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan kerabatnya tentang keberadaan ras manusia berekor. Konon, mereka menghuni permukiman Kesultanan Pasir dan tepian Sungai Teweh. 

Percakapan itu membuat Bock berpikir tentang keberadaan“tautan kerabat yang hilang” yang disuarakan pendukungteori Darwin

Tjiropon, seorang abdi kepercayaan Sultan, meyakinkan Bock di depan Sultan dan para Pangeran. Sang abdi itu beberapa tahun silam pernah menjumpai sosok manusia berekor di Pasir, dan menjulukinya dengan “Orang-boentoet”.

Sang abdi bahkan mampu melukiskan sosok manusia berekor dengan kata-kata. Kepala suku mereka, ujarnya, berpenampilan sangat luar biasa, berambut putih, dan bermata putih. Mereka memiliki ekor sekitar lima hingga sepuluh sentimeter. Uniknya, mereka harus membuat lubang di lantai rumah untuk tempat ekor, sehingga mereka dapat duduk nyaman.

Sultan Kutai pun turut takjub dengan kisah abdinya. Dia pun memberangkatkan Tjiropon bersama sebuah surat yang memohon Sultan Pasir untuk mengirimkan sepasang manusia berekor. 

Sejatinya Bock sedikit ragu soal mitos manusia berekor di pedalaman Kalimantan. Namun demikian, dia setuju untuk tetap berupaya mencari “tautan kerabat yang hilang” itu.Bahkan, dia pernah menjanjikan kepada Tjiropon uang sejumlah 500 guldenapabila berhasil membawa sepasang manusia langka itu.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar. Bock melanjutkan perjalanan dari Tenggarong ke Banjarmasin. Ketika Bock berada di kota itu, Tjiropon menjumpainya. Wajah sang abdi itu kecewa sambil berkata bahwa dia telah menyampaikan surat itu kepada Sultan Pasir, namun tidak mampu membawa ras manusia berekor pesanan Bock. Tjiropon pun memberikan penjelasan yang berbelit-belit.

Akhirnya, Residen Banjarmasin pun bersedia membantu Bock. Dia mengirim surat kepada Sultan Pasir yang isinya menanyakan sekali lagi soal keberadaan manusia berekor di wilayahnya. 

Hampir sebulan berlalu, surat balasan dari Sultan Pasir sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin. Tampaknya ada salah paham: "Orang-boentoet Sultan di Pasir" adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Pasir. 

Pantaslah Sultan Pasir marah besar hingga mengancam perlawanan terhadap Sultan Kutai dan mengusir Tjiropon. Akibatnya, menurut Bock, mereka mendirikan kubu pertahanan dan  bersiap berperang melawan Kesultanan Kutai. “Jika Sultan Kutai menginginkan Orang-boentoet saya,” ujar Sultan Pasir, “Biarkan dia ambil sendiri.” 

Meskipun demikian, Tjiropon tetap bersikukuh dengan pendiriannya bahwa manusia berekor itu nyata adanya. "Demi Allah saya pernah melihat Orang-bontoet beberapa waktu silam, dan berbicara kepada mereka , tetapi saya tidak bisa melihat mereka saat ini!" ungkapnya seperti yang dicatat Bock.

Carl Alfred Bock merupakan naturalis dan pelancong berkebangsaan Norwegia. Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879 (135 tahun lalu). Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge. Dia melaporkan kepada Gubernur tentang peradaban suku-suku Dayak. Tak hanya itu, dia juga menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda. 

Dari penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881.

Kisah lucu dan sungguh-sungguh terjadi dari pedalaman Kalimantan ini ternyata menarik perhatian Alfred Russel Wallace. Sang penjelajah sohor asal Inggris itu mengungkapkan, “Satu-satunya episode lucu dalam buku ini adalah upaya sungguh-sungguh untuk menemukan kisah "manusia berekor" yang kerap dibicarakan di Kalimantan.”

Apakah ras manusia berekor itu benar-benar ada di hutan Kalimantan? Entahlah. Bock tak pernah tertarik lagi menyelisik sosok misterius itu. Dia pun menyebut peristiwa pencarian ras manusia berekor di Kalimantan sebagai “kekeliruan yang menggelikan”. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)Sembari menikmati durian dalam jamuan makan malam di atas rakit, Carl Bock berbincang dengan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan kerabatnya tentang keberadaan ras manusia berekor. Konon, mereka menghuni permukiman Kesultanan Pasir dan tepian Sungai Teweh. 

Percakapan itu membuat Bock berpikir tentang keberadaan “tautan kerabat yang hilang”yang disuarakan pendukung teori Darwin

Tjiropon, seorang abdi kepercayaan Sultan, meyakinkan Bock di depan Sultan dan para Pangeran. Sang abdi itu beberapa tahun silam pernah menjumpai sosok manusia berekor di Pasir, dan menjulukinya dengan “Orang-boentoet”.

Sang abdi bahkan mampu melukiskan sosok manusia berekor dengan kata-kata. Kepala suku mereka, ujarnya, berpenampilan sangat luar biasa, berambut putih, dan bermata putih. Mereka memiliki ekor sekitar lima hingga sepuluh sentimeter. Uniknya, mereka harus membuat lubang di lantai rumah untuk tempat ekor, sehingga mereka dapat duduk nyaman.

Friday, December 6, 2013

Suku Dayak Mali, Balai

Balai adalah sebuah kecamatan di Kabupaten SanggauKalimantan BaratIndonesia. Pusat pemerintahannya berada di Batang Tarang. Kecamatan Balai berbatasan dengan Kecamatan Tayan HilirMeliau dan Tayan Hulu di Kabupaten Sanggau. Selain itu, Kecamatan Balai juga berbatasan dengan Kecamatan Jelimpo di Kabupaten Landak dan Kecamatan Sungai Ambawang diKabupaten Kubu Raya.

Dayak Mali: Suku Dayak Mali, adalah sebutan untuk salah satu suku dayak yang bermukim di kecamatan Balai-Batang Tarang dan sebagian kecil di kecamatan Tayan Hilir kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat suku Dayak Mali tersebar di 14 kampung di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang dan juga di 7 kampung yang berada di wilayah kecamatan Tayan Hilir. Populasi suku Dayak Mali diperkirakan sebesar 6.963 orang.
Perkampungan di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang, terdiri dari kampung Temiang Mali, Mak Kawing, Tamang, Segalang, Pelipit, Semunsur, Sei Boro’, Munggu’ Mayang, Titi Benia, Sebual, Kelinsai,Munggu’ Lumut, Sei Pantutn, dan Tibung. Sementara itu, di kecamatan Tayan Hilir, terdiri dari kampung Stengko, Kelempu’, Sei Jaman, Meranti, dan Jelimo’.
suku Dayak Mali Di luar kabupaten Sanggau, orang Dayak Mali juga terdapat di Binua Angan kabupaten Landak, di Ambawang kabupaten Pontianak dan juga di hilir sungai Kualatn kecamatan Balai Berkuak kabupaten Ketapang yang hidup pada wilayah hunian Setontong Membawang dan Setontong Kelabit.
Asal-usul suku Dayak Mali, merupakan migrasi dan kehadiran suku Dayak Mali ada di Batang Tarang kabupaten Sanggau. Penyebaran suku ini diperkirakan terjadi pada tahun 1920. Dari Batang Tarang mereka menggunakan perahu melalui sungai-sungai melakukan perjalanan hingga menyebar ke tempat-tempat hunian mereka sekarang ini. Awalnya migrasi suku Dayak Mali ini untuk mencari tempat dan lahan baru guna membuka lahan pemukiman untuk berladang. Diperkirakan ini terjadi atas dorongan sebuah misionaris di kabupaten Sanggau.
Pada awal kehadiran mereka di tempat mereka sekarang ini, disambut secara adat oleh masyarakat suku Dayak Kualatn yang terlebih dahulu bermukim di wilayah ini. Suku Dayak Kualatn, menyepakati bahwa mereka diperbolehkan mendapat tanah dan membuka lahan untuk perladangan. Tetapi suku Dayak Mali harus mengikuti adat istiadat (hukum adat) suku Dayak Kualatn. Walau begitu, suku Dayak Mali tetap dapat memelihara budaya asli mereka, hanya saja hukum adat yang berlaku di tengah masyarakat mereka harus mengikuti hukum adat Dayak Kualatn.
Bahasa Mali berbeda dengan bahasa Dayak Kualatn yang mayoritas di wilayah ini, sehingga kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali fasih menuturkan bahasa Dayak Kualatn. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan suku Dayak Kualatn, kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali akan menggunakan bahasa Dayak Kualatn. Bahasa Dayak Mali merupakan bahasa yang khas di antara beberapa hunian kelompok suku dayak di sungai Kualatn (Kualatn Hilir).
tari Perang suku Dayak Mali Secara kelompok suku, suku Dayak Mali dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Klemantan atau Dayak Darat. Suku Dayak Mali terbagi dalam beberapa sub-suku: Dayak Mali (bahasa utama/Induk), meliputi kecamatan Balai, Sanggau sampai perbatasan Kecamatan Tayan Hilir, Sanggau. sebagian daerah Simpang Hulu, Ketapang. Dialek: Bahasa Mali, Beruak, Keneles, Tae Dayak Mali Peruan, meliputi daerah Sosok, kecamatan Tayan Hulu, Sanggau. Sebagian ada di kabupaten Landak. Dialek: Bahasa Peruan Dayak Mali Taba, sebagian/sepanjang daerah di kecamatan Balai, Sanggau sampai ke Tayan Hulu. Dialek: Bahasa Taba/Keneles Dayak Mali Keneles, sebagian kecamatan Balai, Sanggau; sebagian kecamatan Tayan Hilir, Sanggau; sebagian kecamatan Meliau, Sanggau; sebagian kecamatan Toba, Sanggau, Teraju. Dialek: Bahasa Keneles Suku Dayak Mali sebagian besar menganut Kristen Katolik dan sebagian lain Kristen Protestan. Dari penuturan beberapa orang Dayak Mali, bahwa segelintir orang Dayak Mali masih mempraktekkan agama asli suku dayak yang animisme dan dinamisme. Namun secara umum mengaku dirinya beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Beberapa orang Dayak Mali juga ada yang memeluk Islam, tetapi dikarenakan terjadi kawin mawin dengan suku Melayu. Sehingga orang Dayak Mali yang telah memeluk Islam, biasanya tidak mau mengaku sebagai orang dayak lagi, tetapi telah menjadi melayu. Beberapa tradisi dalam suku Dayak Mali, adalah; Ngayau, (tradisi memenggal kepala musuh), tradisi ini sudah ditinggalkan oleh masyarakat suku Dayak Mali, karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, dan terlalu sadis. Ganjor'ro/Gawai, adalah pesta adat selepas panen atau pesta bersyukur setelah panen padi. Noton'gh, adalah upacara untuk memberi makan kepada kepala nenek moyang. upacara ini masih terpelihara dengan baik dikampung-kampung tertentu yang memiliki/menyimpan kepala manusia zaman dulu. Belien'gh (Balian), adalah orang yang bekerja pada upacara adat dayak yang bertugas untuk berurusan dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah dari para roh manusia yang telah meninggal. Balian juga dapat bertugas memanggil Jubata sebagai Juru Damai dalam suatu peristiwa yang menjadi topik pada suatu upacara adat, tugas ini seperti yang dilakukan oleh tukang tawar dalam upacara adat tersebut. Ngangkong,Bepamang,Bebayer (Mulang Niat),Berancak, adalah upacara untuk membersihkan kampung dari segala macam perbuatan jahat. berancak biasanya dilaksanakan selama 7 hari.
Masyarakat suku Dayak Mali hidup dalam bidang pertanian. Mereka telah menjalankan tradisi berladang yang merupakan suatu tradisi yang sudah lama ada sejak masa nenek moyang mereka. Pada zaman dahulu nenek moyang suku Dayak Mali adalah nomaden, yang melaksanakan perladangan berpindah. Waktu membuka ladang baru, harus mengadakan perjanjian dengan alam semesta terutama kepada Sisil (penunggu tanah dan ladang). Dahulu mereka percaya bahwa manusia harus memberi makan dan membuat perjanjian agar Sisil tersebut mau pindah ke tempat yang lain. Kalau tidak maka penunggu tanah dan ladang, bisa marah dan mengutuk manusia yang membuka ladang itu., Dayak Taba, Melayu, Tionghoa dan lain-lain.

Wednesday, November 14, 2012

Penduduk Madagaskar Diyakini Berasal Dari Indonesia



Penduduk Madagaskar Diyakini Berasal Dari Indonesia   google.comPeta Madagaskar
PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Sebagian penduduk Madagaskar, sebuah negara di Afrika, diyakini berasal dari Indonesia. Penduduk itu disebut suku Merina dengan bahasa yang mirip Dayak Maanyan. Masyarakat Merina dan Maanyan memiliki ribuan kosa kata yang sama.
Kami berencana melakukan penelitian dan pengumpulan data tentang kesamaan suku Merina dan Maanyan. Langkah itu akan dilaksanakan dengan verifikasi.
-- Lasro Simbolon
Menurut Direktur Afrika, Kementerian Luar Negeri, Lasro Simbolon di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (13/11/2012), pihaknya berencana melakukan penelitian dan pengumpulan data tentang kesamaan suku Merina dan Maanyan. Langkah itu akan dilaksanakan dengan verifikasi.
"Mungkin kami akan melibatkan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Jadi, informasi tidak hanya berasal dari perpustakaan," ujarnya. Penelitian diharapkan dapat membuat hubungan antara Indonesia dengan Afrika khususnya Madagaskar, semakin erat.
Hubungan sosial budaya Merina dan Maanyan tercermin melalui kontak kedua pihak sekitar 1.200 tahun lalu dengan misi dagang dari Indonesia ke Madagaskar. Bukti kontak budaya misalnya ditunjukkan dengan bahasa Malagasy yang dipakai Merina. Malagasy punya k aitan erat dengan bahasa-bahasa Malayo-Polynesia.
Malayo-Polynesia digunakan penduduk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Tapi, Malagasy amat mirip dengan bahasa Maanyan, tutur Lasro. Sebagai contoh, kata belum memiliki arti yang sama dengan bçlum dalam bahasa Malagasy. Sistem bercocok tanam khususnya padi kedua suku itu juga menunjukkan persamaan.

sumber : kompas.com
Editor :
Robert Adhi Ksp

Sunday, April 1, 2012

Menjaga Tarian Dayak Deyah dari Kepunahan

Foto : Ilustrasi
Pada usia sembilan tahun, Roesina mulai mempelajari tari. Sekitar 33 tahun kemudian, dia mendirikan sanggar tari di kampung halamannya dan bertahan sampai sekarang. Tujuan utamanya, melestarikan kesenian asli Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Deyah, dari kepunahan. DEFRI WERDIONO

Dalam suatu kesempatan pada November 2011, wajah Roesina menyiratkan rasa bahagianya seusai menyaksikan rekannya, Hasan (50), berhasil memanjat batang manau, sejenis pohon berduri.
Pagi itu Roesina banyak mengumbar senyum. Dia bersama timnya tampil sebagai pengisi kegiatan tahunan Festival Budaya Pasar Apung 2011 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hasan, laki-laki bertubuh kekar itu, mampu memanjat batang manau yang penuh duri dengan telanjang kaki dan dada. Tidak tampak luka gores atau luka tusuk sedikit pun di tubuhnya. Senyum Hasan juga terus mengembang ketika sejumlah penonton yang dipenuhi rasa heran mendekat dan menyapanya.
Bagi Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanyalah salah satu kekayaan budaya Dayak yang sudah ada sejak dia bisa mengingatnya. Awalnya, masyarakat penganut Kaharingan menggunakan tarian ini sebagai media penyembuhan pada orang yang sakit.

Di samping itu, tari Balian Bawo Panjat Manau juga kerap ditampilkan untuk membayar nazar masyarakat setempat. Kegiatan tersebut biasanya diselenggarakan sehabis merayakan panen.
Dalam perkembangannya sekarang, tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta pernikahan.

Menurut Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanya salah satu dari tari tradisi warga Dayak Deyah. Selain tarian itu, setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.

Tarian pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari- tarian pada subsuku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat. Tari-tarian Dayak Deyah umumnya lebih menekankan pada gintur (bambu).

Pemakaian gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tanpa sebab. Konon, bambu merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk bergerilya melawan penjajah.
”Jadi penggunaan gintur tidak bisa digantikan,” ujar Roesina menegaskan.

Kaya bersuluh emas
Hampir selama 20 tahun terakhir ini, tari-tarian Dayak Deyah diajarkan Roesina kepada generasi muda setempat. Dia mengajarkan tari-tarian tradisi itu melalui sanggar Tatau Silu Bulau di Desa Pengelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Sanggar Tatau Silu Bulau berdiri pada tahun 1992. Kata ”tatau silu bulau” mengandung arti ”kaya bersuluh emas”. Tatau berarti kaya, silu artinya suluh, dan bulau sama dengan emas.

Lewat nama tersebut, Roesina berharap sanggar Tatau Silu Bulau bisa seperti emas yang tidak akan luntur selamanya. ”Semoga demikian pula dengan kesenian Dayak, tidak akan luntur selamanya” ujarnya.

Maksud dia seperti emas yang tidak akan luntur, begitulah kesenian Dayak di mata Roesina. Meski seni budaya dari luar budaya Dayak masuk ke wilayah tersebut, masyarakat tetap menjaga dan memelihara tradisi itu. ”Kesenian peninggalan leluhur kami bisa tetap bertahan, tidak lalu menjadi tergeser.”

Roesina lalu bercerita tentang awal didirikannya sanggar Tatau Silu Bulau. ”Modal utamanya adalah semangat melestarikan tari-tarian Dayak Deyah,” ujarnya.
Untuk melengkapi peralatan menari, ia upayakan secara swadaya. Sebuah babun, semacam gendang, ia beli seharga Rp 750.000. Ia kembali merogoh kocek untuk melengkapinya dengan tiga babun kecil seharga Rp 750.000.

Sedangkan untuk kelengkapan instrumen lainnya, seperti kenong, Roesina mencari pinjaman. ”Tahun 1992-1994 kami meminjamnya sebelum ada bantuan dari pemerintah kabupaten. Begitu pula untuk kostum penari, tahun 2006 kami berinisiatif mengirim proposal ke perusahaan tambang untuk mendapatkan bantuan,” ujarnya.

Tentang inovasi
Sejak berdiri hingga kini, empat kali Roesina mengirim proposal kepada pemerintah daerah dan perusahaan tambang batubara di daerah setempat. Sebagian uang itu dibelikan peralatan dan sebagian lainnya disimpan untuk keperluan sanggar di kemudian hari.

Cara ini ditempuh karena dia tak menarik iuran dari anak didiknya. Ia juga tak menyisihkan uang hasil pentas karena honor itu dibagi habis untuk anggota. Tak ada hasil pentas yang masuk kas operasional sanggar. Dalam setahun anggota sanggar bisa tampil hingga lima kali.

Bagi Roesina, menampilkan tarian tradisi kepada publik relatif tak ada kesulitan, termasuk saat ia melakukan ritual khusus sebelum memulai pertunjukan.
”Tahun 2009 rombongan kami pernah mengalami kecelakaan di jalan,” cerita mantan guru sekolah dasar itu tentang musibah yang pernah mereka alami berkaitan dengan pertunjukan.

Sejauh ini, lanjut Roesina, hanya tari Nande yang sulit ditampilkan sebab tarian ini harus dilakukan pada tengah malam. Apalagi dalam pertunjukan tari Nande, nyaris tidak ada penerangan. Penari bergerak dengan mengandalkan tali yang dipegangnya.

Meski permintaan naik panggung cukup banyak, sampai sekarang Roesina tetap mengandalkan gerakan- gerakan asli tari tradisi dalam pengajaran di sanggarnya.
”Kami sebenarnya terbuka untuk melakukan inovasi asal tidak meninggalkan gerakan-gerakan asli tarian warisan nenek moyang. Tetapi kendalanya justru dari pelatih yang punya kemampuan dan mau melakukan inovasi tersebut,” katanya.

Roesina keberatan bila untuk keperluan inovasi gerakan tari itu, dia harus mengambil pelatih dari luar sanggar. Masalahnya, dia tidak punya cukup dana untuk membayar honor bagi pelatih tari tersebut.
Lewat pengabdiannya pada kesenian tradisi Dayak Deyah pula, Roesina dikenal masyarakat. Kesungguhannya melestarikan tarian tradisi itu juga membuat dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah kabupaten sebagai pelestari budaya.

Penghargaan pertama diterima Roesina tahun 1990 seusai dia berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Penghargaan berikutnya diterima pada tahun 2006.
”Satu hal yang membuat saya senang, kelima anak saya semuanya bisa menarikan tarian tradisi Dayak Deyah,” ujar Roesina bangga.
 
Sumber : Kompas.com
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube