BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label China Tiongkok. Show all posts
Showing posts with label China Tiongkok. Show all posts

Tuesday, March 5, 2013

Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang

Oleh : Andreas Aan
Masyarakat dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya, tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap tahun masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan Nyepi.

Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb. 

Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi. 

Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru. 

Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya. 

Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k. 

Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter). 

Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya . 

Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.

Friday, February 19, 2010

SANG-KEU-JONG,

Nurhadi Rangkuti
Staf Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

KOTA CINA DI BELANTARA KALIMANTAN BARAT

Siang yang amat panas bikin badan jadi lemas, enerji cepat terkuras sengatan matahari. Apalagi pasir putih memantulkan cahaya sang surya ke atas, hingga keringat semakin deras mengucur. Bentangan pasir putih yang tebal memang bikin kaki makin berat mengayun. Namun bukan karena itu langkah mendadak berhenti.

Di depan, tampak seonggok kayu hitam yang separuh terbenam pasir. Di dalam kayu yang berongga itu tergolek sebuah tengkorak manusia berikut tulang-belulang. Mata pun otomatis menyapu daerah sekitar. Benar juga tak jauh dari situ berserakan pecahan-pecahan peti kayu yang berisi kerangka manusia.

Tak pelak lagi, ini tanah kuburan. Ditilik dari bentuk peti mati yang membulat dengan sudut melengkung, jelas bahwa itu adalah peti mati orang Cina yang oleh masyarakat Singkawang disebut "kon choi". Peti ini dibuat dari kayu belian yang kuat dan tahan kikisan waktu.

"Kuburan itu paling lama usianya seratus tahun", kata Budi Rijanto alias Liauw Hai Leng (51 tahun), pemilik pabrik keramik Tajau Mas di dusun Padang Pasir. Dusun ini termasuk Desa Sedau, Kecamatan Tujuhbelas, dan terletak sekitar 6 km di sebelah selatan Kota Singkawang. Kuburan yang dimaksud berada sekitar 100 meter di belakang pabriknya. "Kuburan itu dibongkar penduduk yang kerjanya mengambil pasir untuk bahan bangunan", katanya lagi. Aneh juga, biasanya orang Cina punya tradisi kuat merawat makam leluhurnya. "Mungkin kerangka itu dulunya seorang imigran Cina yang datang ke sini dan tak punya sanak saudara", kilah Liauw Hai Leng.

Kuburan yang relatif kuno serta nama Kampung Padang Pasir, yang kenyataannya memang ada hamparan pasir laut di tengah daratan, merangsang rasa ingin tahu tentang asal muasal tempat dan nama Singkawang. "Singkawang itu berasal dari kata Sang-KeuJong, artinya kuala dan gunung", kata lelaki Cina itu menerangkan.

Setelah dicek pada kitab sejarah lokal milik pemda, Sang-Keu-Jong memang merupakan nama asal Singkawang. Namun kitab itu tidak menerangkan artinya. Meskipun demikian, pemyataan Liau Hai Leng mengandung kebenaran juga. Apalagi kalau dilihat geografi Singkawang terdiri dari dataran rendah daerah pantai yang dilingkungi bukit dan gunung. Antara lain Gunung Poteng (atau Keu Theu San, menurut bahasa Cina Kek) yang bentuknya seperti ibu jari. Satu bukti bertambah tatkala melihat kegiatan orang menggali tanah liat untuk mebuat keramik di belakang pabrik Tajau Mas. Kira-kira pada kedalaman 3 meter, para penggali sudah menemukan tanah laut.

Kaki pun kembali melangkah mengikuti jalan yang ditunjukkan Hu Tjhiung Fo. Kira-kira sepuluh menit menapaki jalan raya, di kejauhan terlihat kelenteng merah berdiri di atas "bukit" batu besar. Ada anak-anak tangga semen mendaki munuju kelenteng. Bangunan pemujaan ini tidak besar, pada dinding batu terpahat kepala singa. "Toh pe kong ini sekarang namanya Tri Dharma Bumi Raya dan papan namanya yang kini telah rusak menyebutkan angka tahun 1661 Masehi", ujar Hu Tjhiung Fo. Kemudian ia mengisahkan legenda tentang kuil kuno itu. Dulu para pendeta santai duduk memancing di atas batu yang dibawahnya air lauL

Dan penduduk sekitar hidup membuat garam.

Dan memang.di bawah tangga semen terdapat alat penggiling garam yang terbuat dari batu berbentuk silinder bergaris tengah 50 cm.

Beberapa tahun yang lalu di sekitar Padang Pasir yang masuk daerah Tanjung Batu, penduduk melakukan penggalian dan menemukan sisa-sisa sampan kuno serta keramik Cina asal Dinasti Ming, kata Liauw Hai Leng sungguh-sungguh, meskipun Kanwil Depdikbud Singkawang menyatakann belum menerima laporan penemuan purbakala itu.

Hati jadi penasaran, maka langkah jadi ringan menelusuri daerah sekitamya, untuk mencari informasi tentang kepurbakalaan di sana. Tak terasa tibalah di Desa Kali Asin, sebuah kampung Cina yang letaknya 2 km di selatan Desa Sedau. Bukankah nama Kali Asin ada hubungannya dengan laut?

Dulu desa ini narnanya jam Tang, artinya lapangan garam", kata Bapak A Tet (74 tahun), sesepuh kampung itu. "Menurui ceriteranya, daerah ini dulunya pantai tempat membuat dan menjemur garam". Pantai yang ada sekarang letaknya 3 km di barat kampung yang dibelah oleh jalan raya Singkawang-Pontianak itu. Salah seorang penduduk, Hu Thiung Fo (35 tahun), menambahkan sewaktu ia membuat sumur pada kedalaman dua meter telah menemukan pasir laut dan airnya payau. "Kampung ini memang tanah kuno, tak jauh dari sini ada bukti-buktinya", ajaknya antusias.

Sejarah Kota Singkawang memang tak bisa dipisahkan dengann orang Cina. Semua nama tempat, gunung dan sungai mempunyai nama yang berasal dari Cina; misalnya, Gunung Tanjung Batu yang dulu bernama Ha Sha Kok, atau Gunung Keu Theu San yang sekarang berganti nama menjadi Gunung Raya, atau Jam Tang yang kini menjadi Kali Asin, atau nama Kota Singkawang itu sendiri yang dulunya Sang-Keu-Jong.

Dalam sejarah memang disebutkan, sebelumnya orang Cina berpusat di Montrado, 40 km di sebelah tenggara Singkawang. Mereka mendirikan kongsi-kongsi dalam usaha penambangan emas di sana.

Sekarang hampir tidak ditemukan orang Cina di Montrado, habis tergusur sewaktu peristiwa PGRS / Paraku tahun 1967. Yang tinggal sekarang orang Melayu, Dayak dan Bugis berikut perusahaan penambangan emas milik pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan asing.

Bukti bahwa Montrado pemah menjadi pusat kegiatan orang-orang Cina, adalah tugu peringatan yang didirikan Belanda atas pertempurannya dua kali dengan orang-orang bermata sipit itu, yaitu tahun 1852-1854 dan 1914-1916.

Bukti-bukti lainnya, pecahan-pecahan keramik yang banyak tersebar di tanah Montrado, namun terabaikan. Untunglah ada seorang keramolog amatir, Ny. Marquerite Wyntje, istri pimpinan perusahaan, yang tekun mengumpulkan dan menyambung pecahan-pecahan itu menjadi utuh, maka terlihatlah mangkuk, piring, guci, pipa opium, wadah emas, kebanyakan berasal dari Dinasti Qing, Belanda dan lokal. Siapa tahu lewat beling-beling itu dapat dilihat perpindahan pusat kegiatan masyarakat Cina dari Montrado ke Singkawang.

Sang-Keu-Jong memang masih miskin dengan penelitian purbakala.

Warisan budayanya banyak yang masih terkubur, menunggu kedatangan ilmuwan menguak misteri tanah ini.

Monday, January 25, 2010

SEJARAH PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN ORANG CINA DI BUMI BORNEO - 2

Cerita Sebelumnya klik disini

Tahun 1795, Tai-Ko Lo Fong meninggal dunia di Mandor. Dimakamkan di bukit Sak Dja. Mandor disebut orang China Toeng Ban Lit. artinya Daerah Timur yang mempunyai 10.000 Undang-undang. Dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Republik Lan Fong ini, cita-cita mendirikan sebuah kerajaan China di luar Tembok Negara Leluhurnya yang bernaung di bawah dinasty kekaisaran tidak berhasil. Tetapi Republik Lan Fong sempat mengirim upeti kepada kaisar, bukan kepada Sultan atau Penembahan Pontianak atau Mempawah.

Tahun 1795, Sambas dibawah pimpinan/pemerintahan Pangeran Abom. Sesama perkongsian China berkobar pertempuran antara Tai Kong kongsi yang berpusat di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang berpusat di Sambas. Pertempuran ini terjadi dikarenakan pihak Sam Tiu Kiu melakukan penggalian mas di Sei Raya (Singkawang) daerah kekuasaan Tai Kong kongsi. Pihak Sam Tiu Kiu Kongsi (Suku Hokkian) minta bantuan kepada Sultan Sambas serta Rakyat Sambas dengan berjanji dab bersumpah; Setia dan tidak akan mendurhaka kepada Sultan dan Rakyat Sambas.

Tahun 1796, dengan bantuan Sultan Sambas dan Rakyat Sam Tiu Kiu Kongsi dapat mengalahkan Montrado. Seorang Panglima Sultan yang bernama Tengku Sambo mati terbunuh ketika menyerbu benteng terakhir Tai Kong Kongsi. Perang ini oleh rakyat Sambas di sebut sebagai perang Tengku Sambo.

Tahun 1818 (6 September) bendera Belanda tiga warna, berkibar di Sambas. Muller dilantik sebagai Pejabat Residen Sambas (23 September). Residen Muller mengumumkan dan memerintahkan kepada kepala-kepala China bahwa Montrado menurut perjanjian dengan Sultan menjadi dibawah kekuasaan Pemerintahan Belanda (24 September). Residen Muller mangadakan rapat dengan kepala-kepala Kongsi, orang-orang China di Sambas.

Tahun 1819, orang China Mandor sebanyak 1.000 orang menyerang Kongsi Belanda di Pontianak dalam rangka merebut kekuasaan Belanda di seluruh Borneo (Kalimantan) Barat. Serangan China ini dapat dihancurkan Belanda secara pura-pura mengaku kalah. Kapten China dari Mandor (Panglima Tjap) minta maaf, bukan kepada Belanda, tetapi kepada Sultan Pontianak dan mengatakan tidak mau bermusuhan atau mengakui kekuasaan Pemerintahan Belanda.

Orang-orang China mengumpulkan uang untuk membeli kepala Residen. Dan satu Takil mas tiap kepala orang Belanda. Residen Pontianak menarik semua pejabat Belanda dan kekuatan-kekuatan dari Tayan, Landak dan Mempawah ke Pontianak.

Tahun 1822 (22 September), diumumkan hasil perundingan segitiga antara Sultan Pontianak, Pemerintahan Belanda dan Kepala-Kepala China yang terdiri dari 29 pasal.

Tahun 1823, Tai Kong Kongsi mengadakan pemberontakan terhadap Belanda, karena merasa hasil perundingan merugikan pihaknya. Sebelumnya, merampas dan menguasai Lara daerah Sin Ta Kiu (Sam Tiu Kiu) yang berkedudukan di Sambas.

Belanda di bantu oleh Sam Tiu Kiu dan orang-orang China di Sambas. Akhirnya Tai Kong Kongsi dapat dihancurkan dan diusir dari pertahanan mereka dan berturut-turut Sebalou, Lara Tai Kong dan Sepang mereka tinggalkan dan mundur ke Montrado.

Tanggal 5 maret, penduduk China yang memberontak menyatakan minta ampun kepada Pemerintahan Belanda dan menyerahkan alat-alat persenjataannya.

Tanggal 11 Mei, Commisaris Belanda mengeluarkan peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban dari Kongsi-Kongsi.

Tai Kong, Hang Moei, Sin Foek dan Man Fo. Diadakan pemilihan pemimpin baru, Asia China dengan nama Kapitan, yang bersumpah setia dan tunduk kepada Pemerintahan Belanda yang berbunyi:
“Pada hari ini di dalam Klenteng SAMBONYA yang akan menghukum siapa yang salah. Orang-orang China dan Kongsi-kongsi Tai Kong, Sin Foek, Han Moei dan Man Fo, bersumpah sebagai berikut: Dulu kami tidak menurut perintah dari Pemerintah dan oleh karenanya kami mendapat kecelakaan besar. Sekarang kami mendapat ampun dari Commisaris atas keselamatan kami, oleh karena itu kami semua akan turut perintah tidak berani melawan Perintah. Kalau sumpah ini tidak kami taati, SAMBOJAN akan menghukum mati, kami akan mati dan badan kami tidak dikuburkan, dan anak istri, keluarga kelak tidak pernah lihat kami”.

Tahun 1850, kerajaan Sambas di bawah pimpinan Sultan Abubakar Tadjudin II. Seluruh perkongsian tambang/parit mas yang terdapat dalam kerajaan Sambas, yaitu: Tai Kong Kongsi, Sam Tiu Kiu dan Mang Kit Tiu Kongsi bergabung untuk memberontak merebut dan menaklukan kerajaan Sambas. Adapu daerah tambang/ parit mas perkongsian dan pusat-pusat kekuasaan pada saat itu antara lain berada di Pemangkat, Seminis, Sebawi, Bengkayang, Lara, Humar, Montrado dan Budok. Kota Sambas hampir jatuh ketangan perkongsian. Sultan Sambas meminta bantuan kepada pihak Belanda.

Tahun 1851, Kompeni Belanda tiba di bawah pimpinan Overste Zorg, dan gugur dalam sautu pertempuran takala merebut benteng pusat pertahanan dari pihak Sam Tiu Kiu di Seminis Pemangkat. Ia pun dimakamkan di atas bukit Penibungan, Pemangkat.

Tahun 1854, pemberontakan makin meluas di seluruh daerah dan perkongsian yang mendapat bantuan dari seluruh bangsa China yang diluar perkongsian. Belanda pun akhirnya mengirim tambahan pasukan ke Sambas yang dipimpin oleh Residen Anderson.

Tahun 1856, seluruh kekuasaan dan pertahanan dari Kongsi-Kongsi tambang/parit mas direbut oleh Kompeni Belanda, juga pusat-pusat kekuasaan kongsi yang berada di Montrado. Seluruh orang China menyerah dan takluk kepada Kompeni Belanda. Oleh Sultan Sambas, bangsa China yang berdiam dalam daerah kekuasaan dan daerah hukum kerajaannya, disarankan menjadi rakyat Hindia Belanda. Dengan demikian berakhirlah riwayat Republik Montrado sebagai negara dalam negara. Yang mana telah berkuasa selama 100 tahun, di dalam daerah kekuasaan dan daerah hukum kerajaan Sambas.

Tanggal 1857, 4 Januari, semua kekuasaan China terhadap Kongsi-Kongsi Mempawah ditarik oleh Belanda dan berada langsung di bawah kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda.

Tahun 1884, Kongsi-Kongsi tambang/parit mas China diseluruh daerah Borneo (Kalimantan) Barat dibubarkan oleh Belanda.

Dengan demikian secara resmi berakhirlah dan lenyaplah Republik FOW SJOEN dan REPUBLIK LAN FONG MAN dan beralih ketangan Belanda. (Republik LAN DONG MANDOR berkuasa selama 107 tahun, dan REPUBLIK MONTRADO 100 tahun).

Sumber : Sejarah Kerajaan-Kerajaan Di Kalimantan Barat (1975)

Friday, November 20, 2009

SEJARAH PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN ORANG CINA DI BUMI BORNEO - 1

Sejarah perjalanan dan perkembangan orang Cina di Bumi Borneo di mulai pada Adad ke-III/IV, pelaut Cina telah berlayar ke Indonesia untuk perdagangan Route pelayaran menyusuri pantai Asia Timur dan pulaunya melalui Kalimantan Barat dan Filipina dengan mempergunakan angin musim.

Abad ke-VII, hubungan Tiongkok dengan Kalimantan Barat sudah sering terjadi, tetapi keberadaan mereka belum menetap sepenuhnya, namun perlahan tapi pasti imigran orang China dari Tiongkok berdatangan juga. Kedatangan Orang Cina di Kalimantan Barat membawa tradisi dan kebudayaan mereka. Dan tetap mempertahankan dan memelihara tradisi negeri leluhurnya (Tiongkok)

tidak seperti Comombus pada tahun 1492 saat menemukan Benua Amerika langsung di ikuti imigran besar-besaran dari Eropah. Mereka memutuskan hubungan dengan tempat kelahirannya dan menjadi warga Amerika. Imigran besar-besaran dimulai di Sambas dan Mempawah, mengorganisir diri dalam lingkungan sosial politik berbentuk Kongsi yang berpusat di Mentrado dan Budok.

Abad ke-XI dan XII, kedatangan Bangsa Melayu dari Johor dan tempat-tempat lain di Malaya ke Sambas dan Mempawah, meluas ke Tayan, Meliau, Sanggau, Sintang, Silat, Selimbau, Piasa, Suhaid, Jongkong dan Bunut.

Abad ke XII/XIV, Kalimantan Barat kedatangan dari Hindu-Jawa di bawah pimpinan kekuasaan Majapahit di Sukadana, Landak dan Nanga Pinoh.

Tahun 1292, pasukan Kubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi, dan Khau Hsing dalam perjalanannya untuk menghukum Karta Negara, singgah di pulau Karimata, pulau yang terletak di depan pelabuhan Tanjungpura (Kalimantan) yang termasuk di dalam jaringan lalu lintas route pelayaran dari kontingen Asia ke Selatan (Nan Yang), melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat. Namun pasukan Tar-tar dari Jawa ini mengalami kekalahan total, kalah siasat dan strategi dari pemuda ulung Raden Wijaya, karena takut mendapatkan hukuman dari Khubilai Khan, melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat

Tahun1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi-Chinese Community. Sebelumnya telah dibentuk di Kukang (Palembang) untuk yang pertama di kwepulauan Indonesia. Semelumnya Islam/Hanafi, Armada Tiongkok (Dinasty Ming) merebut Kukang, yang sudah turun temurun menjadi sarang perampok dari orang-orang Cina Hokkian yang bukan muslim.

Tahun 1463, laksamana Cheng Ho seorang Hui dari Junan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar keempat dari dinasty Ming) selama tujuh kali memimpin exspedisi pelayaran ke Nag Yang, di antara anak buahnya ada yang menetap di Kalimantan Barat. Yang bermaksud untuk menguasainya. Mengingat kesulitan pelayaran pada waktu itu anak buah yang mdengikuti Cheng Ho ini semuanya adalah pria. Perkawinan mereka dengan penduduk setempat menjadikan mereka membaur dan penduduk asli dan Agama Islam yang di bawanya menjadi agama penduduk. (Laksamana Cheng Ho adalah seorang Cina yang beragama Islam).

Tahun 1690, V.O.C. Mengadakan hubungan dagang dan menanamkan pengaruhnya di Kerajaan Sambas, yang masih di bawah daulat Kerajaan Johor. Terjadilah perselisihan antara Rakyat kerajaan Sambas dangan V.O.C. Pablik-pabrik yang didirikan oleh V.O.C dibakar dan semua penduduk bangsa Belanda di bunuh oleh masyarakat setempat.

Tahun 1612, V.O.C melakukan pembalasan terhadap Kerajaan Sambas serta rakyatnya dengan membakar sebuah kampung. Pada abad ke-17 ini hidjrahnya Bangsa Cina ke Kalimantan Barat menempuh dua route. Melalui Indocina terus ke Malaya dan menyebar ke pantai Sumatra Timur, kepulauan Bangka-Belitung serta pantai Kalbar, terutam Sambas dan Mempawah. Route lain, mereka melalui Borneo Utara terus ke daerah Paloh dan Sambas kemudian ke pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu, guna mendapatkan dan pengalihan tambang-tambang emas.

Tahun 1745, didatangkan secara besar-besaran orang-orang Cina untuk kepentingan perkongsian, karena Sulatan Sambas dan Penembahan Mempawah mengunakan tenaga-tenaga orang Cina sebagai wajib rodi dipekerjakan di tambang-tambang emas. Rombngan yang datang ke daerah ini membentuk “Kongsi” yang mula-mula tujuannya mencari emas. Dua buah pusat gabungan kongsinya. Satu di Mentrado (Kab.Sambas) dan Mandor (Kab.Landak)

kedatangan mereka di daerah kab. Smbas membentuk kongsi-kongsinya seperti “Taikong” (parit besar) “Samto Kiaw” (tiga jembatan) dan lain-lainnya, yang Sjum (sama selamat).

Tahun 1770, kerajaan Sambas yang dipimpin oleh Sultan Tadjudin I. Orang-orang Cina perkongsian yang berpusat di Mentrado dan Budok, setelah mereka merasa kuat, mulai berani menentang kekuasaan Kepala-Kepal suku Dayak.

Terjadilah peperangan dengan orang-orang Dayak di kedua daerah tersebut dan berhasil membunuh Kepala Suku Dayak di kedua daerah itu. Sultan mengambil keputusan dengan menetapkan orang-orang cina di daerah tersebut, dan hanya tunduk kepada Sultan dan Kepada Cina perkongsiannya di kenakan upeti tiap bulannya.

Kepala Cina-Cina perkongsian diberkan kekuasaan mengatur daerah mereka seperti :
1. kekuasaan pemerintahan
2. pengadilan
3. kepolisian
4. dan sebagainya

sejak saat itu timbullah yang disebut Republik kecil dalam bentuk kongsi-kongsi dengan berpusat di Mentrado, dan orang-orang Dayak dalam daerahnya berada di bawah kekuasaan atau pemerintahan perkongsian Cina. Akhirnya orang-orang Dayak yang merupakan penduduk asli memilih pindah ke daerah yang aman dari orang Cina.

Pada tanggal 28 Oktober 1771, kota Pontianak didirikan, mengakibatkan perkembangan operdagangan yang cepat sekali. Perhubungan ke pelabuhan Sambas, Pemangkat, Selakau, Sebakau, Singkawang, Sei Pinyuh, Sei Purun dan Peniti. Penghidupan kongsi-kongsi berkembang terus dengan masuknya Imigran dari Tiongkok, karena banyak terdapat emas, intan, perak dan kesuburan tanahnya.

Tahun 1772, datanglah seorang yang bernama Lo Fong (Pak) dari Tiongkok, asal kampung Shak Shan Po, Kab. Kuyinchu, Propinsi Kanton (Noyan) dengan membawa seratus orang keluarganya, mendarat di kampung siantan Pontianak. Sebelumnya di kota pontianak sudah ada Kongsi TSZU SJIN dari suku Tio Tjiu dan memandang Lo Fong sebagai orang penting.

Sebelumnya di Mandor telah didiami oleh orang-orang dari Tio Tjui terutama dari TIOYO dan KITYO dengan tambang-tambang emas. Begitu juga tidak kurang dari 10 mil di sebelah hulu Mandor terdapat Mao-en, sentus-tangan, Kunyit, Lingkong. Senanam dan lain-lain tempat pekerja-pekerja mas asal dari daerah yang sama. Daerah Mimbong dan sekitarnya telah banyak pula tinggal pekerja-pekerja dari Kun-tsu dan Tai-pu. Seorang yang bernama Liu Siong yang tinggal dengan lebih lima ratus keluarganya mengangkat dirinya sebagai Tai-Ko di sana dan merupakan pemusatan yang paling kuat dan makmur.

Disebelah hilir beberapa mil jauhnya terletak San sim yang berarti “Tengah-tengah pegunungan”, pekerja-pekerja mas disana adalah dari daerah Thai-Phu dan berada di bawah kekuasaan Tong A Tsoi sebagai Tai-Ko.

Tai-Ko Long Fong berangkat menuju mandor melalui jalan masuk sungai Peniti terus kehulu sampai kesebuah tempat yang di sebut Lo Sin Kong, san Sin dan terus ke Mandor. Mandor bertambah maju dan menjadi pusat perdagangan, dari berbagai wilayah datangan menyatakan dirinya tunduk dan bernaung di bawah panji-panji kekuasaan Lo Fong. Oleh Lo Fong dibangun rumah-rumah penginapan untuk rakyat serta sebuah majelis umum (Thong) serta pasar atau took.

Untuk menyaingi Mandor, Moe-yen dengan pasarnya sebanyak dua ratus dua puluh pintu yang terpisah 200 pintu (pasar lama) didiami oleh orang Cina yang berasal dari Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung, Liuk Fung, dibawah kekuasaan Ung Kui Peh sebagai Tai-Ko, sedangkan 20 pintu (pasar baru) didiami oleh orang-orang Cina yang berasal dari Kia Yin Tju. Dan mengangkat Kong Mew Pak sebagai Tai-Ko (pemimpin besar) untuk keamanan dar pertahanan mereka mendirikan sebuah benteng “Lan Fo” artinya Anggrek Persatuan dan mengangkat empat orang pembantunya dengan nama Lo-Man.

Tai-Ko Lo Fong merasa iri hati melihat kemajuan Mao Yien itu dan bermaksud akan menaklukan daerah itu. Pemerintahan Liu Thoi Ni seorang kepercayaannya, dating kedua pimpinan yag menguasai daerah itu dengan membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Ung Kui Peh dan Kong New Pak tanpa pertumpahan darah kedua pemimpin itu menyerahkan dan mengabungkan diri di bawah kekuasaan Tai-Ko Lo Fong. Dengan demikian jatuhlah ke tangan Tai-Ko Lo Fong tberturut-turut kampong Kunyit, Liongkong, Senanam dan lain-lain, terkecuali daerah Min Bong (Benuang) di bawah pimpinan Tai-Ko Kon siong. Kekuatan Tai-Ko Liu Kon Siong di Min Bong dapat dihancurkan oleh Tai-Ko Lo Fong dan pertempuran meluas sampai ke San King (hulu Toho) yang sekarang di sebut Air Mati. Tai-Ko Liu ong siong terbunuh dan seluruh pertambangan atau parit mas dikuasai oleh Tai-Ko Lo Fong, termasuk tambang perak kepunyaan Pengeran Sita dari Ngabang. Daerah yang dikuasai oleh Tai-Ko Lo Fong meliputi Mempawah, Pontianak, dan Landak.

Tahun 1777, berdirilah Republik Lan Fong di bawah kekuasaan tertinggi Tai-Ko Lo Fong, di Mandor.

(* a. Kekuasaan tertinggi disebut “Tai-Ko” artinya Abang yang paling besar.
b. Dibawah Tai-Ko adalah Nji-Ko. Artinya Abang Kedua (sama dengan Bupati)
c. dibawah Nji-Ko adalah Kaptai. Artinya Kapten Besar. (setingkat dengan wedana) dibantu
oleh Kap Tjong
d. Dibawah Kaptai adalah Lo Tai, setingkat dengan Kepala Kampung.

Tahun 1795, Tai-Ko Lo Fong meninggal dunia di Mandor. Dimakamkan di bukit sak Dja. Mandor sisebut oleh orang Cina Toeng Ban Lit, artinya Daerah Timur yang mempunyai 10.000 undang-undang. Dengan meninggalnya pemimpin tertinggi Republik Lan Fong ini, cita-cita mendirikan sebuah kerajaan Cina di Luar tembok Negara Leluhurnya yang bernaung di bawah dynasty kekaisaran tidak berhasil. Tetapi sempat mengirim tiap tahun upeti kepada kaisar, bukan kepada Sultan atau Penembahan Pontianak atau Mempawah.

Bersambung…..

Sumber : Sejarah Kerajaan-Kerajaan Di Kalimantan Barat (1975)


Bookmark and Share
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube