BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Singkawang. Show all posts
Showing posts with label Singkawang. Show all posts

Tuesday, March 5, 2013

Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang

Oleh : Andreas Aan
Masyarakat dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya, tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap tahun masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan Nyepi.

Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb. 

Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi. 

Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru. 

Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya. 

Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k. 

Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter). 

Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya . 

Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.

Friday, February 19, 2010

SANG-KEU-JONG,

Nurhadi Rangkuti
Staf Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

KOTA CINA DI BELANTARA KALIMANTAN BARAT

Siang yang amat panas bikin badan jadi lemas, enerji cepat terkuras sengatan matahari. Apalagi pasir putih memantulkan cahaya sang surya ke atas, hingga keringat semakin deras mengucur. Bentangan pasir putih yang tebal memang bikin kaki makin berat mengayun. Namun bukan karena itu langkah mendadak berhenti.

Di depan, tampak seonggok kayu hitam yang separuh terbenam pasir. Di dalam kayu yang berongga itu tergolek sebuah tengkorak manusia berikut tulang-belulang. Mata pun otomatis menyapu daerah sekitar. Benar juga tak jauh dari situ berserakan pecahan-pecahan peti kayu yang berisi kerangka manusia.

Tak pelak lagi, ini tanah kuburan. Ditilik dari bentuk peti mati yang membulat dengan sudut melengkung, jelas bahwa itu adalah peti mati orang Cina yang oleh masyarakat Singkawang disebut "kon choi". Peti ini dibuat dari kayu belian yang kuat dan tahan kikisan waktu.

"Kuburan itu paling lama usianya seratus tahun", kata Budi Rijanto alias Liauw Hai Leng (51 tahun), pemilik pabrik keramik Tajau Mas di dusun Padang Pasir. Dusun ini termasuk Desa Sedau, Kecamatan Tujuhbelas, dan terletak sekitar 6 km di sebelah selatan Kota Singkawang. Kuburan yang dimaksud berada sekitar 100 meter di belakang pabriknya. "Kuburan itu dibongkar penduduk yang kerjanya mengambil pasir untuk bahan bangunan", katanya lagi. Aneh juga, biasanya orang Cina punya tradisi kuat merawat makam leluhurnya. "Mungkin kerangka itu dulunya seorang imigran Cina yang datang ke sini dan tak punya sanak saudara", kilah Liauw Hai Leng.

Kuburan yang relatif kuno serta nama Kampung Padang Pasir, yang kenyataannya memang ada hamparan pasir laut di tengah daratan, merangsang rasa ingin tahu tentang asal muasal tempat dan nama Singkawang. "Singkawang itu berasal dari kata Sang-KeuJong, artinya kuala dan gunung", kata lelaki Cina itu menerangkan.

Setelah dicek pada kitab sejarah lokal milik pemda, Sang-Keu-Jong memang merupakan nama asal Singkawang. Namun kitab itu tidak menerangkan artinya. Meskipun demikian, pemyataan Liau Hai Leng mengandung kebenaran juga. Apalagi kalau dilihat geografi Singkawang terdiri dari dataran rendah daerah pantai yang dilingkungi bukit dan gunung. Antara lain Gunung Poteng (atau Keu Theu San, menurut bahasa Cina Kek) yang bentuknya seperti ibu jari. Satu bukti bertambah tatkala melihat kegiatan orang menggali tanah liat untuk mebuat keramik di belakang pabrik Tajau Mas. Kira-kira pada kedalaman 3 meter, para penggali sudah menemukan tanah laut.

Kaki pun kembali melangkah mengikuti jalan yang ditunjukkan Hu Tjhiung Fo. Kira-kira sepuluh menit menapaki jalan raya, di kejauhan terlihat kelenteng merah berdiri di atas "bukit" batu besar. Ada anak-anak tangga semen mendaki munuju kelenteng. Bangunan pemujaan ini tidak besar, pada dinding batu terpahat kepala singa. "Toh pe kong ini sekarang namanya Tri Dharma Bumi Raya dan papan namanya yang kini telah rusak menyebutkan angka tahun 1661 Masehi", ujar Hu Tjhiung Fo. Kemudian ia mengisahkan legenda tentang kuil kuno itu. Dulu para pendeta santai duduk memancing di atas batu yang dibawahnya air lauL

Dan penduduk sekitar hidup membuat garam.

Dan memang.di bawah tangga semen terdapat alat penggiling garam yang terbuat dari batu berbentuk silinder bergaris tengah 50 cm.

Beberapa tahun yang lalu di sekitar Padang Pasir yang masuk daerah Tanjung Batu, penduduk melakukan penggalian dan menemukan sisa-sisa sampan kuno serta keramik Cina asal Dinasti Ming, kata Liauw Hai Leng sungguh-sungguh, meskipun Kanwil Depdikbud Singkawang menyatakann belum menerima laporan penemuan purbakala itu.

Hati jadi penasaran, maka langkah jadi ringan menelusuri daerah sekitamya, untuk mencari informasi tentang kepurbakalaan di sana. Tak terasa tibalah di Desa Kali Asin, sebuah kampung Cina yang letaknya 2 km di selatan Desa Sedau. Bukankah nama Kali Asin ada hubungannya dengan laut?

Dulu desa ini narnanya jam Tang, artinya lapangan garam", kata Bapak A Tet (74 tahun), sesepuh kampung itu. "Menurui ceriteranya, daerah ini dulunya pantai tempat membuat dan menjemur garam". Pantai yang ada sekarang letaknya 3 km di barat kampung yang dibelah oleh jalan raya Singkawang-Pontianak itu. Salah seorang penduduk, Hu Thiung Fo (35 tahun), menambahkan sewaktu ia membuat sumur pada kedalaman dua meter telah menemukan pasir laut dan airnya payau. "Kampung ini memang tanah kuno, tak jauh dari sini ada bukti-buktinya", ajaknya antusias.

Sejarah Kota Singkawang memang tak bisa dipisahkan dengann orang Cina. Semua nama tempat, gunung dan sungai mempunyai nama yang berasal dari Cina; misalnya, Gunung Tanjung Batu yang dulu bernama Ha Sha Kok, atau Gunung Keu Theu San yang sekarang berganti nama menjadi Gunung Raya, atau Jam Tang yang kini menjadi Kali Asin, atau nama Kota Singkawang itu sendiri yang dulunya Sang-Keu-Jong.

Dalam sejarah memang disebutkan, sebelumnya orang Cina berpusat di Montrado, 40 km di sebelah tenggara Singkawang. Mereka mendirikan kongsi-kongsi dalam usaha penambangan emas di sana.

Sekarang hampir tidak ditemukan orang Cina di Montrado, habis tergusur sewaktu peristiwa PGRS / Paraku tahun 1967. Yang tinggal sekarang orang Melayu, Dayak dan Bugis berikut perusahaan penambangan emas milik pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan asing.

Bukti bahwa Montrado pemah menjadi pusat kegiatan orang-orang Cina, adalah tugu peringatan yang didirikan Belanda atas pertempurannya dua kali dengan orang-orang bermata sipit itu, yaitu tahun 1852-1854 dan 1914-1916.

Bukti-bukti lainnya, pecahan-pecahan keramik yang banyak tersebar di tanah Montrado, namun terabaikan. Untunglah ada seorang keramolog amatir, Ny. Marquerite Wyntje, istri pimpinan perusahaan, yang tekun mengumpulkan dan menyambung pecahan-pecahan itu menjadi utuh, maka terlihatlah mangkuk, piring, guci, pipa opium, wadah emas, kebanyakan berasal dari Dinasti Qing, Belanda dan lokal. Siapa tahu lewat beling-beling itu dapat dilihat perpindahan pusat kegiatan masyarakat Cina dari Montrado ke Singkawang.

Sang-Keu-Jong memang masih miskin dengan penelitian purbakala.

Warisan budayanya banyak yang masih terkubur, menunggu kedatangan ilmuwan menguak misteri tanah ini.

KERAMIK KUNO BARU DARI PERUT SANG NAGA

M. Th. Naniek Harkatiningsih
(Puslit Arkenas)

Mau tempayan antik yang berasal dari masa Dinasti Han? Mau mangkuk berelief dari Dinasti Sung? Atau mau tempayan dililit naga dari Dinasti Ming? Pelbagi bentuk keramik asli tiruan yang betul-betul “seindah aslinya” itu dapat kita peroleh di Desa Sedau: Bahkan kalaupun mau tempayan antik yang sudah aus atau retak-retak, juga bisa mereka sediakan. Tentu saja dengan harga yang jauh di bawah harga keramik kuno yang sesungguhnya. Atau kalau mau memperbaiki keramik antik yang sudah aus, mereka sanggup menghipnotisnya menjadi indah kembali.

Dilihat sepintas lalu, Desa Sedau memang tidak menampakkan keunikan dan keanehan yang mencolok mata. Desa terpencil yang terletak di Kota Adminis-tratif Singkawang, Kalimantan Barat, itu sebenarnya mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, terutama sekali dalam kegiatan pembuatan keramik purba tiruannya. Jenis komoditi yang menjadi idaman golongan “the have”, dan impian golongan “the have not”.

Desa Sedau, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Tujuhbelas itu nampaknya memang memiliki latarbelakang sejarah yang cukup panjang. Kota Singkawang sendiri pemah disebut-sebut dalam tradisi kuno, yang menyebutkan bahwa Singkawang didirikan oleh orang-orang Cina pada abad ke-13 Masehi.

Konon menurut kisah rakyat yang pernah beredar di Singkawang, kota ini didirikan oleh 7 opsir anggota pasukan Kubilai Khan. Pasukan yang dipimpin oleh 3 jenderal itu – I-heh Mishih, Shihpi, dan Kau Hsing – dikirim oleh kaisar untuk menghukum “raja Jawa” yang pernah menghina utusan kaisar. Raja Jawa yang dimaksud adalah Sri Kertanegara, raja Singasari. Akan terapi pasukan Cina itu berhasil diperdayai oleh Sri Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit). Sehingga pada tanggal 31 Mei 1293 seluruh pasukan Cina itu tergopoh-gopoh mening-galkan Jawa. Dalam pelayaran kembali ke daratan Cina itulah, dalam keadaan kelelahan, kapal mereka diserang badai. Mereka terpaksa mendarat di pantai barat Kalimantan untuk memperbaiki kapal. Pada waktu berlayar kembali, 7 orang opsir temyata tidak terbawa serta. Ketujuh opsir itu kemudian hidup menetap di Singkawang dan menikah dengan gadis-gadis setempat.

Sampai di mana kebenaran ceritera rakyat itu sulit dibuktikan. Yang jelas sampai sekarang sebagian besar penduduk Kota Singkawang adalah orang-orang Tionghoa. Bahkan masih banyak di antara mereka yang sama sekali belum mengenal Bahasa Indonesia dan masih menggunakan bahasa leluhurnya sebagai alat komunikasi.

Singkawang, kota kecil berpenduduk puluhan ribu jiwa yang terletak sekitar 140 km di utara Pontianak,. nampaknya memang mempunyai hubungan historis yang erat dengan budaya Cina. Banyaknya Klenteng di sana agaknya membuktikan hal itu, di samping ciri biologis orang-orang Singkawang yang seratus prosen merupakan ciri ras Mongolid. Pada saat hari-hari raya Konfusius atau keper-cayaan dari Cina daratan lainnya, suasana Kota Singkawang memang nyaris mirip perkampungan di tanah asalnya. Celoteh dalam bahasa Cina totok terdengar di mana-mana. Tidak aneh kalau ada yang menjuluki Singkawang sebagai Kota Cina di Indonesia.

Ciri budaya Cina lainnya yang juga terdapat di Singkawang adalah adanya pabrik-pabrik keramik Cina.

Dalam budaya Cina sendiri, pembuatan keramik telah sejak ribuah tahun silam menjadi kegiatan utama negeri itu. Bahkan setiap dinasti mengembangkan. teknik pembuatan tersendiri yang berbeda dengan dinasti lainnya. Demikianlah keramik-keramik Cina dapat diusut umumya ber-dasarkan ciri-ciri keramik setiap dinasti. Oleh karena itu, bagi ahli arkeologi, temuan benda keramik sangat berarti, karena dapat digunakan untuk menaksir umur suatu situs (tempat penemuan benda-benda arkeologis).

Di Indonesia sendiri, temuan keramik Cina terdapat di hampir seluruh daerah Indonesia. Keramik Cina tertua yang pemah ditemukan di Indonesia adalah yang berasal dari masa Dinasti Han Abad 1-2 Masehi (berupa tempat membakar dupa di situs Kerini, Jambi, Sumatra, hadi).

Keramik Cina yang berasal dari masa ratusan sampai ribuan tahun silam itu, selain diburu oleh para ahli arkeologi temyata juga menjadi incaran para kolektor barang-barang antik. Kelompok yang terakhir ini, yang kerap disebut kelompok “antiquarian”, berani membeli keramik-keramik Cina kuno dengan harga jutaan rupiah. Di Singkawang sendiri, puluhan tahun yang lalu, tempayan atau tempayan keramik kuno banyak dipakai sebagai wadah untuk menampung air hujan. Wadah-wadah keramik itu ditempatkan di sekeliling rumah, untuk menampung curahan air hujan yang turun dari genteng atau talang air. Kesulitan akan air bersih di daerah ini menyebabkan air hujan dianggap anugerah dari langit. Air bersih bahkan dianggap jauh lebih berharga dibandingkan keramikkeramik antik itu.

Dari mana mereka memperoleh keramikkeramik antik itu? Entahlah, ada yang mengaku warisan dari orang tua. Akan tetapi mungkin juga ada yang menemukannya dari dalam tanah. Namun keramik-keramik antik itu lambat laun menghilang, digantikan oleh tempayan-tempayan semen atau sumuran-sumuran berkonstruksi beton. Pasalnya keramik antik yang semula dianggap tidak lebih berharga dari air hujan itu, temyata mampu mendatangkan sejumlah uang yang cukup besar bila dibeli oleh para pemburu barang antik. Tentu saja keramik antik itupun berpindah tangan menjadi milik para Antiquarian.

Lenyapnya keramik-keramik antik dari halaman rumah-rumah penduduk Singkawang, sementara kaum antiquarian masih saja berdatangan mencarinya, menyebabkan timbulnya ide bagi segelintir penduduk Desa Sedau untuk mencoba berkiprah di bidang pembuatan keramik-keramik antik tiruan. Memasuki abad ke-20 di desa kecil berpenduduk ratusan jiwa itu pernah menjamur usaha pembuatan keramik antik tiruan seperti itu. Namun lemahnya manajemen dan terbatasnya upaya pemasaran menyebabkan terjadinya “seleksi alam” yang tak kenal ampun. Sampai saat ini yang tinggal hanyalah 4 pabrik saja. Kemiripan industri keramik Singkawang dengan negara leluhurnya tidak hanya nampak dalam bentuk hasil produksinya saja. Teknologi yang mereka gunakan pun nyaris sempurna seperti yang digunakan nenek moyang mereka ribuan tahun silam di Daratan Cina sana. Tungku pembakarannya, misalnya, berbentuk sama dengan yang dahulu dipakai para pengrajin sejak jaman Dinasti Han ribuan tahun lalu. Tungku yang karena bentuknya mirip “naga” itu, populer dengan sebutan Tungku Naga.

Tapi dari demikian banyak pengrajin keramik di Singkawang kini, yang mampu membangun Tungku Naga tinggal satu orang tukang saja. Hon Ka Lung (37 tahun), salah seorang pengrajin di pabrik Sinar Terang di Desa Saliung, adalah satu-satunya pengrajin yang memiliki keahlian itu. Ilmu Naga yang dikuasainya boleh jadi akan segera lenyap dari muka bumi Singkawang, jika Hon Ka Lung tiada. Sebab tidak satupun pengrajin lain yang punya “bakat” untuk mewaris ilmu naga itu.

“Liauw A Tjui datang ke Indonesia tahun 1927 dari Cina Selatan. Mula-mula dari Kanton ia ke Singapura dan bekerja di sana sebagai kuli pelabuhan.

Dari Singapura ia pindah ke Singkawang sini dengan membuka usaha toko obat tradisional Cina. Setelah memperoleh cukup modal, maka tahun 1936 Liauw A Tjiu mendirikan pabrik keramik di Desa Sedau. Pabrik itu diberinya nama Tajau Mas. Pabrik itu mulai berproduksi tanggal 1 Agustus 1937″, jelas Budi Riyanto, pengelola pabrik Tajau Mas.

Budi Riyanto yang semula bemama Liauw Hai Leng (42 tahun) adalah putra dari Liaw A Tjiu. “Liauw A Tjiu mendirikan pabrik itu dengan bantuan dari teman-temannya, pengrajin keramik dari Cina”, ujar Budi Riyanto lagi. Sedangkan nama Tajau Mas, menurut Budi Riyanto, dipilih orangtuanya karena nama itu berarti “tempayan emas”, yang dalam bahasa Cina disebut “Yu Hua”. Nama yang terakhir ini bagi masyarakat Cina juga mengandung makna “kekayaan dan perdamaian”. Jadi pabrik keramik tiruan itu diharapkan memberi kekayaan dan perdamaian. Seperti juga Tajau Mas, ketiga pabrik lainnya, yaitu pabrik Dinamis, Semangat Baru, dan Tri Murni, didirikan oleh imigran Cina yang datang ke Indonesia sekitar tahun 1930-an. Pabrik keramik Dinamis merupakan pabrik tertua, didirikan tahun 1934. Sedangkan Tri Murni didirikan tahun 1940 dan Semangat Baru tahun 1943. Pabrik-pabrik itu kini dikelola oleh anak-anak dari para pendirinya. Sayangnya tidak banyak informasi yang dapat dikorek dari mereka, karena sebagian besar pengelola dan buruh pabrik-pabrik itu hanya bisa berbicara dalam bahasa Cina.

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube