BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Monday, June 30, 2014

Bukit Batu, Tempat Pertapaan Tjilik Riwut'

Disalin Oleh : John Kenedy Bucek [BHT'02]

Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-ba...tu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang mustahil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.

Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.

Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.

Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:

"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"

Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.

Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.

Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.

Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menunu ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.

"Isen Mulang Petehku"

Sunday, April 1, 2012

Karya Seni Suku Dayak Dipamerkan di Museum Perancis

Salah satu Karya seni Suku Dayak yang di tampilkan di Pameran di Perancis
JAKARTA, KOMPAS.com--Sejumlah barang-barang karya seni suku Dayak bernilai tinggi dipamerkan di museum yang bertema "Tresors d'Indonesie" di Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons), Saint-Quentin, Perancis selama dua bulan dari 24 Maret sampai 28 Mei mendatang.

Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris Arifi Saiman, Selasa mengatakan benda-benda karya seni suku Dayak yang dipamerkan antara lain mandau, perangkat upacara kematian, patung kayu, perahu kayu, dan foto-foto kehidupan keseharian suka Dayak Kalimantan.

Arifi Saiman secara khusus melakukan kunjungan ke Museum Kupu-Kupu, Saint-Quentin Perancis untuk menghadiri pameran bertemakan "Tresors d'Indonesie" tersebut.
Kunjungan ini mendapat sambutan Wakil Walikota Saint-Quentin Bidang Kebudayaan Stephane Lepoudere yang menjelaskan maksud dan tujuan penyelenggaraan pameran serta koleksi benda bersejarah milik suku Dayak Kalimantan.

Pada kesempatan ini, Arifi Saiman menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian pemerintah Saint-Quentin dan pihak Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons) terhadap Indonesia, yang sangat menghargai prakarsa positif bagi penyelenggaraan pameran "Tresors d'Indonesie".
Selain memamerkan benda seni milik suku Dayak Kalimantan, pihak museum juga menggelar pameran kupu-kupu khas Indonesia.

Sesuai namanya La Musee des Papillons (Museum Kupu-Kupu), museum ini memiliki koleksi kupu-kupu sebanyak 600 ribu spesies kupu-kupu yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia.
Kupu-kupu tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa spesies tertentu dari kupu-kupu yang menjadi koleksi museum masuk kategori langka, dan bahkan beberapa spesies kupu-kupu diantaranya sudah dinyatakan punah.

Dalam rangka membantu meningkatkan pemahaman tentang Indonesia di kalangan generasi penerus Perancis, penyelenggara pameran mengagendakan untuk mengundang siswa sekolah di wilayah Saint-Quentin untuk menyaksikan pameran ini.

Diharapkan siswa di Saint-Quentin dapat lebih mengenal Indonesia secara lebih baik dan lebih dekat, khususnya mengenali kekayaan flora, fauna dan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Pameran bertema "Tresors d'Indonesie" di Museum Kupu-Kupu, Saint-Quentin merupakan upaya mengenalkan Indonesia kepada masyarakat Perancis, khususnya masyarakat Saint-Quentin.
Pameran ini melibatkan peran serta pemerintah Saint-Quentin dan kalangan kolektor benda-benda seni budaya Dayak dan kolektor kupu-kupu setempat.

Tingginya animo masyarakat Perancis khususnya di Saint-Quentin menyaksikan pameran yang digelar lembaga permuseuman setempat diharapkan dapat membantu memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Perancis khususnya masyarakat Saint-Quentin. 

Sumber : Kompas.com

Dayak Punan Tersingkir dari Hutan Adat

Foto : Ilustrasi
SAMARINDA, KOMPAS - Masyarakat Dayak Punan dinilai menjadi korban dalam konflik lahan dengan perusahaan. Ini menunjukkan bahwa pemberian izin lokasi kepada perusahaan tidak sesuai prosedur sehingga masyarakat tersingkir dari hutan adat mereka sendiri.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur Rusman Yaqub seusai menemui perwakilan masyarakat adat Dayak Punan di Kantor DPRD Kaltim, Kota Samarinda, Selasa (13/3). ”Ini bukti izin yang dikeluarkan hanya di atas meja, tetapi tak sesuai realitas di lapangan. Seharusnya pemerintah tahu, di areal itu ada masyarakat adat yang tinggal,” kata Rusman.

Masyarakat Dayak Punan dari Desa Punan Dulau dan Desa Ujang, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, ini mengadu ke DPRD Kaltim terkait pencaplokan hutan adat mereka seluas 68.000 hektar oleh perusahaan kayu PT Intracawood Manufacturing. Sebelumnya, mereka melaporkan hal serupa ke Kantor Gubernur Kaltim.

Rusman mengungkapkan, meskipun PT Intracawood Manufacturing sudah mengantongi izin hak pengusahaan hutan (HPH) yang diterbitkan pemerintah pusat bukan berarti hak masyarakat diabaikan.
”Masyarakat Dayak Punan itu sudah lebih dulu tinggal di sana sebelum perusahaan masuk. Seharusnya mereka ditanyai, ini malah perusahaan cari jalan pintas,” tutur Rusman.

Rencananya, DPRD Kaltim akan memanggil Dinas Kehutanan Kaltim, Pemerintah Kabupaten Bulungan, dan perwakilan PT Intracawood Manufacturing untuk menyelesaikan persoalan konflik lahan di Desa Punan Dulau dan Ujang ini. ”Minggu depan kami akan agendakan pertemuannya,” ucap Rusman dan Iwan.

Intracawood mulai merambah hutan adat Punan Dulau dan Ujang sejak 1988. Dengan berbekal izin HPH dari Kementerian Kehutanan, mereka menguasai hutan adat Dayak Punan tanpa ada sosialisasi dan persetujuan dari masyarakat setempat.

Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak Jonidi Apan mengungkapkan, setelah perusahaan masuk, masyarakat Dayak Punan tidak lagi dapat berburu dan terpaksa menanam singkong dan menangkap ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal Dayak Punan merupakan suku yang biasa berburu dan meramu.

Mukhlis, Pelaksana Divisi Kehutanan Departemen Kelola Sosial PT Intracawood, mengakui, larangan berburu dan pemanfaatan hasil hutan yang dipasang perusahaan bukan ditujukan untuk masyarakat adat Dayak Punan, melainkan untuk warga dari luar Punan Dulau dan Ujang.(ILO)
Sumber : Kompas.com

Saturday, December 10, 2011

Makna Tato Bagi Masyarakat Dayak

Panglima Perang (Panglima Damai) Dayak, Edy Barau, mengatakan, motif yang digunakan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Iban untuk mengukir pada tubuh berhubungan erat dengan kehidupan alam (hutan).

Dengan demikian, motifnya ada yang berasal dari binatang maupun tumbuhan seperti daun, bunga, dan buah yang semua memiliki arti dan makna bagi masyarakat Dayak.

Menurut Edy, ada tujuh bentuk motif tato yang berhubungan erat dan sering digunakan masyarakat Dayak Iban. Selain motif, tempat atau lokasi untuk diukirkan gambar juga tidak bisa sembarangan.

Ketujuh bentuk motif itu di antaranya, motif rekong, bunga terong, ketam, kelingai, buah andu, bunga ngkabang (tengkawang) dan bunga terung keliling pinggang yang masing-masing memiliki makna.

Ia memaparkan, tato atau ukir rekong biasanya diukirkan di leher. Bagi masyarakat Dayak Iban seseorang yang mendapatkan ukiran rekong adalah orang yang mempunyai kedudukan masyarakatnya, seperti Timanggong/Temanggung dan Panglima atau orang yang di-tua-kan di kampung halamannya sendiri maupun di tempat merantau.

Motif Rekong, lanjut Edy, berbeda-beda bentuknya karena disesuaikan dengan jabatan dan kedudukan. Selain itu, antara sub suku Dayak yang satu dengan yang lainnya juga memiliki bentuk motif yang berbeda tapi memiliki makna yang sama.

Motif rekong dapat berupa sayap kupu-kupu, kalajengking merayap dan kepiting. Intinya cenderung berbebtuk motif binatang.

Masyarakat Dayak yang biasanya tato rekong di leher adalah Dayak Kayan, Dayak Taman, dan Dayak Iban. Sementara masyarakat Dayak biasa yang tato rekong di leher akan dikenakan sanksi atau hukuman adat, namun untuk sekarang ini tidak lagi karena ada sebagian memandangnya sebagai seni, ucapnya.

Motif lainnya adalah Bunga terong merupakan bunga kebanggaan masyarakat Dayak Iban. "Bunga terong sudah naik, orang itu sudah profesional, kalimat itu sering diucapkan masyarakat Iban. Karena terong itu kebanggaan masyarakat Iban. Terong juga memberi makna pangkat/kedudukan sebab umumnya letak pertama ada di bahu," tuturnya kepada Tribun.

Bentuk motif dan jenis bunga terong ada berbagai macam dan letaknya juga berbeda. Ada yang tato terong dan meletakannya di lengan, tangan, kaki, dan perut, serta ada juga mengukir seluruh tubuhnya dengan bunga terong.

Bunga terong ada yang bersayap enam, dan ada yang delapan. " Seorang masyarakat Dayak Iban yang memiliki bunga terong keliling pinggang biasanya delapan buah berarti orang itu sudah plor atau penuh atau sudah puas merantau," ujarnya.

Sementara motif kelingai melambangkan binatang yang ada di lubang tanah memberikan arti hidup kita tidak terlepas dengan alam atau bumi. Motif kelingai biasanya diletakan di paha atau betis.

Demikian motif ketam juga memberikan arti hidup selalu menyentuh dengan alam. Meski begitu, ketam biasanya diletakan pada tubuh bagian punggung atau tepatnya dibelakang punggung.

Sedangkan motif buah andu dan bunga ngkabang atau bunga tengkawang melambangkan sumber kehidupan. Buah tengkawang merupakan bunga yang paling banyak di kampung masyarakat Iban dan ditatokan di atas perut.

Motif buah andu pada umumnya diukirkan di belakang paha, yang memberi arti, ketika merantau kita selalu berjalan jauh dan buah andu sebagai makanan untuk menyambung hidup, pungkasnya.

Sumber Tribunenews

Makna Tato Bagi Masyarakat Suku Dayak

Oleh : oleh M Syaifullah/Try Harijono
JANGAN kaget jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato yang menghiasi tubuh mereka itu bukan sekadar hiasan, apalagi supaya dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam.

TATO bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.

Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Karena itu, semakin banyak tato, "obor" akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.

"Setiap sub-suku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Bahkan ada pula sub-suku Dayak yang tidak mengenal tradisi tato," ungkap Mering Ngo, warga suku Dayak yang juga antropolog lulusan Universitas Indonesia.

Bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer, dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan!

"Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk tato," tutur Ketua II Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Yacobus Bayau Lung.

Bisa pula tato diberikan kepada para bangsawan. Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.

Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya ditato dengan motif "dunia atas" atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah (panyen).

Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi mengayau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.

Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya "biasa", dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.

"Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa," tutur Simon Devung, seorang ahli Dayak dari Central for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman Samarinda.
TATO atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan.

Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius. "Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa," ujar Yacobus Bayau Lung.

Pada subsuku tertentu, pembuatan tato juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal istilah tedak kayaan, yang berarti perempuan tak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku di sebagian kecil subsuku Dayak.

Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.

Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.

Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.

"Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filososfis yang tinggi," ucap Yacobus Bayau Lung.

Tato warna-warni yang dibuat kalangan pemuda kini, hanyalah tato hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekadar untuk keindahan, dan bahkan ada yang ingin dianggap sebagai jagoan.


Wednesday, December 22, 2010

Asal Usul, Sejarah dan Penyebaran Dayak Kanayatn

Peneliatian tradisi lisan Kanayatn ini disebut Tradisi Lisan Banua Talaga.Menueurt hasil pegamatan dan penelitian, rekaman tardisi, cerita, kisah, omong-omong, diketahui bahwa masyarakat Dayak Kanayatn yang berasal dari Bukit Talaga Kecamatan Sengah Temila mempunyai sejarah asal usul tentang terjadinya orang Dayak atau Talino ( Manusia dibumi).

Sejarah dapat dilihat berawal dari kisah cerita Ne' Baruakng Kulup ( salah satu versi cerita) yang menurunkan padi dari atas langit, ke bumi. Ne' Baruakng adalah anak Ne' Ja'ek, yang berjasa memperoleh tangkai padi untuk pertama kalinya dari seekor burung pipit, yang membawangnya diantara dua buah batu badangkop ( batu kembar) dan sekarang dapat ditemui dibukit Talaga.

Alkisah, mereka tinggal diatas (langit) . Ne' Baruakng ini yang sering turun ke bumi berkomunikasi dengan mahluk di bumi, suatu hari melihat mereka (penduduk bumi) makan kulat karakng (cendawan), yang sangat asing baginya. Secara kebetulan pula Ne' Baruakng waktu di bumi membawa butir butir putih ( yang kemudian dikenal dengan nasi).

Keadaan ini terlihat oleh mahluk di bumi. Mereka meminta dan memakannya. Terasa enak. Singkat kata, sejak saat itulah Ne' Baruakng lalu memperkenalkan padi di Bumi.

Sejak itu pula mahluk dibawah (bumi) mulai makan nasi dan meninggalkan cendawan kerang.



Kepercayaan masyarakat Talaga bahwa asal Dayak, khususnya Kanayatn( mereka sebut pula dengan Dayak Bukit) adalah atas, tempat yang serba menyenangkan dan dikenal dengan sebutan Bawakng. Karenanya, dalam setiap bentuk upacara adat para tokoh Dayak ini tidak melupakan sebuatan Bawakng ini, yang menyatakan sumber atau asal usul Dayak Kanayatn. Nampaknya tempat inilah dulunya yang merupakan asal usul keluarga Ne' Baruakng, yang sudah menjadi Talino. Melihat bukti sejarah, seperti batu badangkop di bukit Telagadapat diketahui bahwa Talaga adalah bagian dari tempat diatas (langit) atau Bawakng.

Dayak Kanayatn yang bermukim di Binua Talaga yang terdapat di kecamatan Sengah Temila kini menyebar kebeberapa Kampung ( Sahamp, Palo'atn, Aur Sampuk, Sinakin. Gombang)


Sumber : Institut Dayakologi

Thursday, December 9, 2010

Bukong Dalam Adat Kematian Dayak Ella

oleh : Samson Juir

Bagi Dayak Ella yang berdomisili di Kecamatan Ella Hillir, Kabupaten Melawi, kematian adalah awal seseorang memasuki dunia yang baru. Memang orang yang meninggal tersebut terpisah dari kita, tetapi hanya terpisah secara fisik.

Dalam kehidupan suku ini, ada tradisi Bukong. Bukong adalah hantu yang mengantar seseorang menuju kubur, dan ia hanya muncul kalau ada orang meninggal. Seperti yang terjadi pada bapaknya Pak Totoy (usia sekitar 54 tahun), ketika ia meninggal, maka pada malam sebelum dikubur, dijaga semalam suntuk, tidak boleh tidur.

Saat menjaga jenasah ini, dimunculkan hantu Bukong. Bukong dilambangkan dengan beberapa orang yang memakai topeng seperti hantu dan tubuhnya dipenuhi dengan daun-daun. Setelah doa malam selesai (doa secara Katolik), setiap orang yang hadir makan bersama. Setelah itu masuklah enam hantu Bukong sambil menari mengikuti irama gong ke dalam rumah. Mereka menari sambil mengelilingi peti jenasah. Sambil menari, terkadang para Bukong menakuti orang-orang yang ada di rumah. Setelah puas menari dan menakuti orang-orang, ia turun ke tanah dan menghilang.

Setelah beberapa saat, ia masuk ke dalam rumah untuk kedua kalinya sambil menari mengeliligi jenasah dan seluruh rumah. Ia disuapi dengan segala nasi, diberi rokok, daging ayam dan diberi minum oleh yang punya rumah, sebagai tanda memberi persembahan. Ia mengganggu tiap orang dan kemudian keluar dari rumah lagi.

Kemudian setelah sekian lama, mereka masuk ketiga kalinya ke dalam rumah. Mereka terus menari mengikuti irama gendang. Tetapi diantara mereka ada yang membawa ayam, menggigit leher ayam tersebut dan menghisap darahnya. Kalau ada enam orang yang menjadi Bukong, maka dianggap ada tujuh Bukong, satunya Bukong asli yang tidak kelihatan, itulah kepercayaan Dayak Ella. Sebab itu ada yang menggigit leher ayam dan menghisap darahnya. Bukong juga ada laki-laki dan ada perempuan, kalau ia suka menggoda perempuan selama menari maka ia Bukong laki-laki. Pada momen-momen tertentu, kehadiran Bukong bisa sangat mencekam, apalagi kalau muncul Bukong asli yang meminum darah ayam. Walaupun begitu, suasana kematian orang tersebut justru dirasakan suka cita sebab suasana meriah, tidak hanya ada hantu Bukong. Dan sambil menjaga jenasah, Dayak Ella juga bermain bola api di dalam rumah yang dibuat dari buah kelapa tua. Tua-muda ikut dalam permainan bola api yang sudah disiapkan oleh tuan rumah. Selain itu, mereka menari mengelilingi jenasah pada saat ada musik gong untuk mengiringi masuknya Bukong ke dalam rumah. Karena itu, suasana duka yang menyelimuti rumah tersebut menjadi hilang.

Mendoakan mereka yang meninggal
Kita adalah kepunyaan Allah dan akan kembali kepada Allah, dan kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Itulah yang terjadi dengan manusia. Dayak Ella sangat menyadari hal itu, malamnya ketika berjaga semalaman, mereka mendoakan keluarga yang meninggal tersebut agar diterima di sisi Tuhan. Itulah inti doa mereka yang paling utama.

Kemudian dimunculkan juga Bukong sebagai representasi dari setan yang menggoda, tetapi ia hanya menggoda dan mengingatkan manusia harus hati-hati di dunia sebab banyak juga kekuatan jahat yang bisa melukai jika kita tidak beriman dan percaya pada Tuhan.
Besoknya, pada saat penguburan orang yang meninggal tersebut, topeng Bukong yang dipakai pada malamnya harus dibawa ke kuburan dan ditinggalkan di sana. Diharapkan ia (Bukong) tinggal di kuburan dan tidak menganggu orang-orang yang masih hidup, dengan demikian Bukong kembali ke tempat asalnya.

Kalimantan Review/KR, edisi

foto : KANTOR KEPALA DESA NANGA ELLA HILIR (http://ratnanet.blogspot.com)

Friday, December 3, 2010

Cerita Dayak Mualang: ANTU GERGASI

Di suatu kampung yang terletak di dekat bibir Rimba belantara yang amat lebat serta tanahnya yang subur makmur dan tidak akan kekurangan segala sumber makan serta dikelilingi oleh banyak aliran sungai, hiduplah sebuah keluarga muda sepasang suami istri.

Nama kepala keluarga muda ini ialah Demong Ranjuk dan istrinya yang cantik jelita dan ketika itu sedang mengandung anaknya yang pertama. Walau tidak disebutkan namanya, istri Demong Ranjuk yang rupawan ini memiliki rambut lurus, mata bening indah, bibir merak merekah, pipinya selalu merah apabila terkena sinar matahari bagaikan kena getah kayu rengas.

Seperti warga kampung lainya mereka juga berladang. Demong Ranjuk memiliki kegemaran berburu, maka dia memiliki banyak sekali anjing yang dipelihara untuk berburu. Anjing-anjing Demong Ranjuk ini sangat cekatan dan gesit.

Pada suatu saat istri Demong Ranjuk yang sedang hamil ini mengidam yang agak aneh yaitu dia ingin sekali makan hati pelanduk / kancil putih.
Sudah berpuluh-puluh pelanduk didapatkan namun begitu hasilnya diperiksa hasilnya nihil karena warnanya sama seperti layaknya hati binatang lain. Demong Ranjuk selalu menenangkan hati istrinya untuk bersabar. Istrinya akhirnya tetap bersabar juga, walau ngidamnya agak aneh. Pasangan ini tidak lupa untuk selalu berdoa memohon petunjuk dari Petara ( Tuhan ) agar persoalan ini dapat di luruskan dan dijawab oleh Sang Petara. Tak lupa juga Demong Ranjuk untuk bertanya dan meminta bantuan kepada teman-teman dan tetua-tetua kampung tentang sebab musabab keanehan yang terjadi pada istrinya.
Namun semua warga kampung menggelengkan kepala dan akhirnya menjawab tidak mengerti. Untuk menjawab segala teka-teki ini maka Demong Ranjuk sepakat dengan istrinya untuk berburu di hutan belantara dan bermalam di sana.

Pada suatu pagi yang cerah, sebelum matahari menyingsing, Demong Ranjuk telah berangkat ke hutan dengan satu harapan dapat menemukan hati pelanduk putih guna memenuhi ngidam istrinya. Dengan perbekalan yang sangat lengkap dan anjing-anjing pilihan, Demong Ranjuk pun berjalan melintasi hutan rimba belantara yang sangat lebat untuk pergi berburu.

Di suatu tempat yang agak lapang di bibir hutan, anjing-anjing Demong Ranjuk menyalak dengan suara yang sangat riuh ketika mereka melihat seekor babi hutan yang tua dan besar. Mendengar suara salakan anjing yang sangat ramai itu, Demong Ranjuk pun segera memberi semangat kepada anjing-anjingnya untuk terus mengepung buruannya itu. Terbersit dalam pikiran Demong Ranjuk kalau pada saat ituanjing-anjingnya sedang menyalak karena menemukan seekor pelanduk putih. Namun setelah akhirnya melihat bahwa anjing-anjing tersebut menyalak karena melihat seekor babi hutan yang sangat besar dan sudah bertaring panjang, maka Demong Ranjukpun bertekat untuk membunuh babi hutan yang sangat besar tersebut dan nantinya digunakan untuk membuat ramuan campuran daun ara bila sang istri tercinta kelak selesai bersalin.

Demong Ranjuk kemudian menancapkan tombaknya ke arah rusuk babi besar tersebut dan babi itu pun kemudian jatuh tersungkur, namun masih hidup. Kemudian babi itu bangkit lagi dan melihat ke arah Demong Ranjuk dan ingin menyeruduk Demong Ranjuk. Karena Serangan babi ini lalu Demong Ranjuk secepat kilat mencabut parang dari sarungnya dan mengarahkan parang tersebut untuk memotong leher babi itu, namun salah sasaran. Parang Demong Ranjuk yang tajam dan besar itu mengenai akar blungkak. Dan nasib sialpun dialami olehnya, parang Demong Ranjuk itu memantul dan malah memotong kepalanya sendiri hingga putus. Kepala Demong Ranjuk yang terpotong itu kemudian terjatuh ke dalam jurang yang amat dalam. Namun tangan Demong Ranjuk terus meraba-raba untuk mencari kepalanya dan akhirnya tangan Demong Ranjuk berhasil menggapai kepala anjing berburunya yang paling besar.
Dalam kepanikannya itu Demong Ranjuk akhirnya dengan nekat memotong kepala anjing itu hingga putus dan menancapkan kepala anjing itu ke lehernya dan keajaiban kemudian terjadi. Kepala anjing tersebut langsung menempel dilehernya dan menyatu dengan leher Demong Ranjuk. Dengan kejadian ituakhirnya Demong Ranjuk pun berubah menjadi " Manusia yang Berkepala Anjing".

Karena kejadian ini Demong Ranjuk pun malu untuk pulang ke kampungnya dan bertemu dengan istri tercinta yang sedang mengadung anak pertamanya. Dia sangat malu karena kenyataan pahit yang dialami dalam hidupnya ini, memang Demong Ranjuk masih hidup seperti manusia tapi kepalanya sudah berubah menjadi kepala seekor anjing. Dengan kenyataan ini akhirnya Demong Ranjuk memilih untuk hidup mengembara dan tinggal di dalam hutan secara berpindah-pindah. Dia juga membangun pondok untuk dirinya dan anjing-anjingnya. Di setiap pondok yang dibangunnya dia menanam pohong pinang yang dulu dibawanya dari dari rumah sebagai kenang-kenangan.

Dengan berlalunya waktu, Demong Ranjuk sudah bertahun-tahun tinggal dan mengembara di hutan dan keadaan tubuhnyapun mulai berubah. Tubuhnya ditubuhi oleh bulu merah dan rupanya menjadi semakin seram. Anjing-anjingnyapun berubah wujud menjadi burung-burung engkererek. Demong Ranjuk sekarang tidak bebrburu pada siang hari lagi akan tetapi berubah menjadi pada saat malam. Demong Ranjuk sudah berubah menjadi Antu Gergasi.

Sepertinya dengan Demong Ranjuk, istrinyapun sudah melahirkan seorang anak laki-laki dan dan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Tak terasa waktu berlalu selama 20 tahun sejak kejadian di hutan saat Demong Ranjuk pergi berburu.

Pada suatu saat Istri Demong Ranjuk terkejut saat ia mendengar pertanyyan putranya yang menanyakan tentang keberadaan bapaknya kepada sang ibu. Istri Demong Ranjuk pun tak dapat membendung air matanya karena terkenang akan suami tercintanya yang telah hilang bagai ditelan bumi. Akhirnya istri Demong Ranjuk pun menceritakan keadaan sesungguhnya kepada sang anak tentang bapaknya. Mengapa sang bapak pergi dan bagaimana sang bapak berusaha mencari hati pelanduk putih yang diidamkannya ketika si anak masih berada dalam kandungannya. Mendengar cerita itu, pada suatu hari sang anak pamit kepada ibunya untuk mencari sang bapak di dalam rimba. Atas permintaan itu, sang ibu memberi ijin dan petunjuk tentang sang bapak. kalau sang anak melihat pohon pinag yang tumbuh di dalam hutan itulah tanda-tanda yang telah ditinggalkan oleh sang bapak di dalam rimba. Setelah itu berangkatlah sang anak ke dalam hutan untuk sanag bapak. Di dalam hutan dia menemukan banyak bekas pondok dan pohon pinang. Dari bekas pondok ke pondok dia terus menyusuri jejak sang bapak. Pada pondok ke tujuh , dia melihat pinang yang sangat lebat dan ada tanda sapa dari kejauhan. Di tempat itu sang anak melihat sesosok makhluk yang bertubuh manusia dan berbulu merah serta berkepala anjing, nalurinya menyatakan bahwa itulah sang bapak dan sang bapak juga merasakan hal yang sama terhadap anaknya. Mereka berpelukan untuk melepas rindu mereka dalam pertemuan itu.

Tiga malam sang tinggal dalam pondok yang dibangun oleh sang bapak. Sang bapak karena keadaanya yang memilukan tidak pulang, karena dia sudah berubah menjadi Antu Gergasi. Dia hanya menitip salam untuk ibunya dan agar tetap tabah dan menerima kenyataan yang ada. Dan Sang Ayah meninggalkan pesan kepada anaknya untuk selalu diingat hingga ke anak cucunya nanti. Pesan bapak kepada sang anak, yaitu: "Bila kalian nanti sampai ke anak cucu dan turunan kalian mendengar ada orang berburu dan memanggil anjing-anjing di hutan, segeralah kalian membakar sabut pinang agar kalian tidak menjadi sasaran buruanku."
Cerita ini menjadi mitos dalam masyarakat suku Daya' Mualang. Hingga sampai saat ini jika oarang Daya' Mualang bermalam di pondok dalam hutan dan mendengar suara orang berburu malam dan suara burung engkererek, maka pasti mereka akan membakar sabut pinang agar Antu gergasi pergi dan berhenti, karena dia tahu kalo mereka masih keluarga dan orang Mualang.

Namun saat ini menjadi lain suara Antu gergasi itu telah hilang dan berubah menjadi suara gemuruh buldoser yang membabat rimba untuk di sulap menjadi perkebunan sawit.
( Apollonaris. Sumber cerita: Perua (alm), kampung: Tapang Pulau, Sekadau. Cerita ini juga terdapat pada subsuku Daya' Rumpun Ibanik lainnya ).

Sumber: Majalah Kalimantan Review, No:174/XIX/Februari/2010.

http://www.myholidaysite.blogspot.com/

sumber gambar : http://tapangpulau.blogspot.com (Seperti inilah rumah betang (rumah betang panjai) pada saat jaman dahulu di kampung Tapang Pulau)

Thursday, November 18, 2010

Legenda Riam Sabang Cerita rakyat Kuala Randau Semandang Hulu Ketapang

oleh Hendrikus Ch

Di sebuah kampung, bernama Riam Sabang, hidup sekelompok masyarakat Dayak. Mereka berdampingan, sehingga rejeki mudah didapat, alam adalah segala-galanya bagi mereka.

Dinamakan Riam Sabang, karena sungai Semandang, dekat kampung mereka tedapat sebuah Riam (Jeram).

Di hulu Jeram terdapat sebuah teluk, berisi seekor ikan Tilan Merah (Sili) Raksasa, (Fire Spinny Eel) bahasa latinnya ( Mastacembelus erythrotaenia). Masyarakat setempat memberi nama Tilan Sabang. Karena teluk tersebut tepinya ditanami Sabang, dan merupakan tempat mandi masyarakat kampung.

Ikan tersebut berdiameter sekitar 50 centimeter dengan panjang 20 meter, setiap hari mencari mangsa, setiap anak kecil yang mandi selalu hilang, dan itu terjadi setiap hari, namun penduduk tidak percaya karena belum tahu Tina Sabang selalu mengambil anak kecil menjadi santapannya.

Lama kelamaan masyarakat resah karena setiap hari ada saja anak hilang ketika mandi, keresahan itu perlahan terkuak setelah salah satu penduduk melihat langsung ikan raksasa tersebut berjemur disebuah batu besar di teluk itu. Namun, penduduk lainnya belum percaya, sampai ikan tersebut memakan anak kecil semakin banyak.

Ikan tak bersisik itu bahkan mengancam lewat mimpi, namun masyrakat setempat belum percaya juga.

Sampai akhirnya, suatu hari seorang anak berteriak dimulut ikan raksasa itu. Separuh badan anak malang itu, sudah di dalam mulut ikan buas masuk kea rah lubang di teluk itu. Baru masyarakat percaya, namun anak tersebut sudah dimangsa.

Masyarakat setempat kemudian melakukan ritual adat, dipimpin seorang dukun. Ritual adat ‘Baangko’ atau memohon petunjuk kepada Duata (Tuhan) supaya dibantu pencarian ikan buas tersebut. Kemudian hujan panas pun turun seketika pertanda petunjuk Sang Duata, masyrakat mulai melakukan penggalian di sekitar teluk tersebut. Sampai ke dalaman sepuluh meter baru ditemukan ikan tersebut sedang mengunyah anak kecil yang baru dibawanya tadi siang.

Hari pun menjelang sore, tanpa perlawanan ikan tersebut dibunuh beramai-ramai masyarakat, kemudian ditarik ke daratan, dagingnya dipotong-potong dan dibagikan ke seluruh masyarakat kampung.

Anehnya, setelah dipotong pun daging ikan buas itu masih bias bicara meniru perkataan masyarakat yang sedang membagikan dagingnya. Tanpa disadari masyarakat setempat yang memakan ikan itu menjadi kanibal, kemudian memakan pula masyarakat lainnya. Beberapa melarikan diri namun yang di kampung itu semuanya tewas karena saling memakan.

Sampai saat ini Riam Sabang masih menjadi legenda masyarakat kampung Kuala Randau, Desa Semandang Hulu Ketapang Kalbar. Kuburan yang disekitar Riam itu dipercaya sebagai kuburan masyarakat kanibal akibat memakan ikan raksasa buas itu, bekas lubang galian sepanjang 10 meter pun masih bisa dilihat, beberapa pencari ikan selalu memasuki lubang itu karena ikan air tawar bersarang di sana.

Sunday, October 17, 2010

Ratu Beringkak






Suatu hari ada salah seorang keturunan dari Abang Bari (selimbau) menghanyutkan diri mengikuti sungai Kapuas sampai ke Nanga Belitang. Ia bernama bernama Ratu Beringkak, seorang gadis. Saat ditolong oleh masyarakat Mualang, ia menceritakan asal usul purihnya (keturunannya) dan setelah di susun keturunannya, gadis tersebut dianggap sebagai Bangsa Masuka / Suka ( tingkat golongan tinggi atau Purih Raja ), hingga tiada satupun masyarakat lain yang berani mengawininya. Pada saat itu masyarakat Mualang dipimpin oleh Temenggung Saman Tangik, kemudian orang Mualang membawa Ratu Beringkak, ke hulu sungai Belitang, memperkenalkannya kepada seorang pedagang yang menjadi tokoh bagi masyarakat Melayu belitang yang bernama Meriju, oleh Meridju, Ratu Beringkak dijodohkan kepada seorang Mualang, dari Bangsa Masuka / Suka. Setelah pernikahan selesai, Meriju diberi gelar oleh masyarakat Mualang sebagai Kiayi, yakni; Kiyai Madju. Karena statifikasi sosial Dayak Mualang merupakan Bangsa Masuka / Suka dan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Dayak maupun Senganan, ataupun suku melayu pedagang yang datang di Belitang maupun di Sekadau, maka orang Mualang tidak mau tunduk kepada peraturan dan perjanjian apapun, demikian juga terhadap Kiayi Madju sekalipun, atas jasanya menikahkan Ratu Beringkak.

Hal ini memicu kemarahan Kiayi madju yang akhirnya memobilisasi orang – orang Melayu untuk menyerang Dayak Mualang yang berada dihulu sungai Merian. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Melayu dapat dikalahkan, dan dikejar hingga tercerai-berai, sebagian lari hingga ke sungai Mengkiyang Sanggau, sisanya menetap di sekitar Belitang. Orang-orang melayu masih belum puas, mereka mendatangkan empat orang kuat Melayu pada waktu itu disebut Panglima. Terhadap orang – orang Melayu yang tersisa beserta panglimanya tersebut, yang tidak mau pergi, akhirnya Dayak Mualang daerah Belitang, mengundang Dayak Mualang keturunan dari Tampun Juah di Kaki bukit rambat yang bernama; Macan singkuh. Karena Macan Singkut telah tua, maka ia mengutus anaknya yang bernama Singa Uda Letnan, untuk menghadapi sisa –sisa orang Melayu beserta panglimanya. Pertarungan antar orang kuat terjadi yakni empat orang Panglima Melayu melawan seorang Manok Sabung Mualang. Pertarungan ini dilakukan secara sportif. Akhirnya ke empat orang Panglima Melayu tersebut dapat dikalahkan, maka Kiyai Madju dan seluruh orang Melayu dan Panglimanya pergi dan pindah dari daerah Mualang ke Nanga Jungkit, dalam perpindahan tersebut Ratu beringkak ikut serta dan di Nanga Jungkit ia meninggal dunia, tetapi sebelumnya ia minta dikubur di Nanga Ansar. Sampai saat ini Nanga Jungkit dan Nanga Ansar dianggap sebagai tempat keramat.

sumber : Paternus. Ngelala Adat Basa Dayak Mualang. Pontianak: Pemberdayaan Pengelolaan Sumbar Daya Alam Kerakyatan (PPSDAK) Pancur kasih. 2001.

sumber gambar : google.com (Bala Mualang Jeman Tuai 1920)

Sunday, October 3, 2010

Legenda Dayak Punan, Nenek Renta Berubah Menjadi Kodok

Legenda ini, diperkirakan terjadi sekitar seratusan tahun lalu. Seorang nenek renta dalam masyarakat Dayak Punan, Kalimantan Timur, tiba-tiba berubah menjadi kodok, dan hingga sekarang keturunan generasi kedua hidup di tengah-tengah masyarakat.

Wakil Ketua Persekutuan Lembaga Adat Dayak Punan Kaltim, Dollop Mamung (54) sangat yakin legenda itu bukan isapan jempol. Selain dirinya berasal dari suku Dayak Punan, Dollop juga kenal baik dengan satu dari antara cucu sang nenek yang menuturkan kisah itu.

“Impian saya yang belum terwujud yakni mengunjungi hutan rimba yang menjadi lokasi nenek tua itu berubah menjadi kodok,” tutur Dollop dalam perbincangan Tribun, Kamis (11/3/2010), di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Dollop merupakan delegasi masyarakat adat, yang baru usai mengikuti sebuah workshop kehutanan di Kota Pontianak, Kalbar. Legenda yang lekat dalam budaya masyarakat Punan itu erat kaitannya dengan keraifan tradisi menjaga kelestarian hutan.

“Waktu itu, sekelompok keluarga hidup di sekitar hutan Marut. Mereka tidak berladang, tetapi hidup secara mubut. Artinya, hidup berpindah-pindah untuk berburu dan meramu,” ucap Dollop memulai kisahnya.

Dalam kelompok kecil orang-orang Punan itu, ada seorang nenek renta atau adu’ oroh dalam bahasa lokal. Saking rentanya, setiap kali kelompok itu berpindah tempat, adu’ oroh digendong di punggung menggunakan kalong.

Kalong merupakan alat semacam keranjang terbuat dari rotan, yang digunakan sebagai wadah hasil meramu. Suatu hari, adu’ oroh meminta dirinya ditinggalkan saja di sebuah pondok.

“Adu’ oroh kasihan dengan anak-cucunya yang kerepotan harus selalu menggendong dia. Tentu saja keluarganya menolak, tapi dia terus mendesak,” kata Dollop.

Dengan terpaksa, anak-cucunya meninggalkan nenek itu di sebuah pondok. Tetapi, mereka selalu menjenguknya setiap usai mubut. “Tiga hari kemudian, ketika dijenguk, adu’ oroh masih ada di pondok itu. Sepekan dan dua pekan, juga masih ada. Nah sebulan kemudian, tiba-tiba saja adu’ oroh lenyap,” kata Dollop, yang mendapatkan kisah ini dari cucu generasi kedua odu’ oroh bernama Jonidy Apan (40) yang kini menjadi Kepala Adat Punan Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.

Para anak cucunya pun gempar, dan segera mencari di sekitar pondok. Sosok renta yang sangat mereka cintai itu tak kunjung ditemukan.

“Sampai di bebatuan di pinggir Sungai Magong, mereka melihat selembar berat, yakni tikar khas Punan dari rotan. Di atas berat itu, ada seekor ja’ui atau kodok besar,” ujar Dollop yang juga mantan Ketua Harian Yayasan Adat Punan (YAP) ini.

Memang, ja’ui yang rata-rata bisa mencapai seberat 1 kilogram itu umum ditemukan di hutan sekitar. Tapi kodok besar yang satu ini aneh dan istimewa.

Dia bisa berkata-kata layaknya manusia. Kodok besar itu duduk sambil menangis di atas tikar rotan yang terhampar di bebatuan itu.

“Jangan mencari saya. Inilah saya, adu’ oroh kalian. Saya tidak apa-apa, jangan kalian risau,” begitu ucapan sang kodok kepada sanak keluarga yang panik mencari dirinya.

Sang nenek berpesan, agar anak-cucunya menjaga hutan itu dari kerusakan. Itu sebabnya, masyarakat Punan di situ tak melakukan pola berladang.

Hingga saat ini, masih ada komunitas Dayak Punan yang tinggal di sana dan tetap hidup dengan cara mubut. Lokasi itu persisnya di hutan Marut, Sungai Blusuh, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.

Dulu, hutan rimba yang masih asli dan kaya keanekaragaman hayati itu mencapai ribuan hektar luasnya. Tetapi kini tinggal tersisa sekitar 50 hektar saja, karena telah “dikepung” konsesi perusahaan kayu maupun kelapa sawit.

“Sudah beberapa kali cucu adu’ oroh mengajak saja ke lokasi itu untuk menjumpai ja’ui itu. Sayang belum pernah terealisasi. Kalau ikut serta cucunya, kita bisa bertemu beliau,” kata Dollop.

Jarak hutan Marut sekira dua hari perjalanan dari Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Kombinasi jalan kaki dan naik perahu kayuh di Sungai Magong, menembus hutan belantara.

Sejumlah bukti kian membuat Dollop yakin dengan kebenaran kisah itu. Sudah berapa karyawan perusahaan dikabarkan hilang, saat melakukan survey di hutan itu. Setelah dicari-cari, jangankan jenazahnya, jejaknya pun sama sekali tak berbekas.

“Makanya sampai sekarang, tinggal tersisa areal hutan Marut itu yang belum berani dirambah orang. Beberapa surveyor mereka hilang tak ada kabarnya. Adu’ oroh tak suka hutan itu dirusak,” kata dia.

Karena legenda itu pula, keturunan adu’ oroh tak boleh mengonsumsi daging kodok itu. Satwa itu memang dikenal memiliki habitat di kawasan tersebut.

Bagi kalangan masyarakat yang tak punya hubungan dengan adu’ oroh, daging ja’ui bisa dijadikan lauk. Asalkan kulit dan tulangnya dipisahkan dulu, sebab mengandung racun.

source: kompas

Sunday, August 1, 2010

Misteri Gunung Meratus

Di Kalimantan ada gunung panjang yang membentang dari arah barat hingga ke bagian timur pulau ini. Gunungnya memang tak terlalu tinggi, namun dapat kita bayangkan luas dan panjangnya karena membentang melalui tiga Provinsi yaitu Kalimantan Selatan dan Tengah serta Timur. Gunung yang tumbuh berjajar di sepanjang jalur ini disebut sebagai Gunung Meratus.

TAK ada gambaran jelas yang pasti tentang berapa panjang dan banyaknya gunung tersebut. Adapun yang digambarkan sementara ini sebagian besar diperkirakan hanyalah reka-reka yang tak pasti – baik soal jumlah gunung maupun ukuran panjangnya. Buku “Di Pedalaman Borneo“ yang ditulis oleh A.W. Nieuwenhuis pada tahun 1894 pun bahkan tidak menyebutkan hal itu.

Diketahui, A.W. Nieuwenhuis warga Belanda seorang dokter yang juga sebagai ahli etnografi dan antropologi, didukung oleh Maatschappij ter Bevondering Van Het Natuurkundig Onderzoek der Nederlandsche Kolonien (Perhimpunan untuk memajukan penelitian di daerah daerah koloni Belanda) – membentuk tiga tim yang terdiri dari para ahli ilmu pemetaan, penggalian suber alam, penelitian tentang penduduk pedalaman, serta flora dan fauna. Tim ini melakukan perjalanan dari Kalimantan Barat dengan menyusuri Sungai Kapuas hingga ke kepala Sungai Mahakam dan berakhir sampai ke Samarinda Kalimantan Timur. Ekpedisi ini pun tak ada penjelasan tentang luas dan panjangnya Gunung Meratus. Padahal mereka sudah memulai perjalanan dari Sungai Kapuas Pontianak Kalimantan Barat.

Perjalanan tersebut, selain didukung oleh oleh Maatschappij ter Bevodering van het Natuurkundig Onderzoe der Nederlansche Kolonien, juga diback-up oleh Residen Water Afdeeling van Borneo yang berkedudukan di Pontianak Kalimantan Barat. Hal ini didorong oleh banyaknya minat negara lain yang mengirim utusan ke pulau Borneo untuk melakukan penelitian sekaligus berusaha melakukan pendudukan. Seperti halnya pada abad ke 18, ketika Inggris dan Belanda melakukan kekerasan dan intimidasi pada penduduk di kepulauan Borneo. Diantaranya, petualangan Alexander Hare di Banjarmasin pada tahun 1812, James Brooke dan Robert Burns tahun 1848 di Sarawak yang berupaya mendirikan kerajaan bagi dirinya sendiri, James Erskine Murray si orang Inggris memasuki Kutai pada tahun 1844 yang berujung tewas karena berperang dengan laskar Kerajaan Kutai, Selanjutnya Muller 1825 dan Dalton 1828 yang menjelajahi Borneo atas nama Negara Belanda.

Adalah seorang perwira Zei dari tentara Napoleon I, bernama George Muller, masuk dalam Pamongpraja Hindia Belanda. Muller mendapat tugas melakukan hubungan dengan pihak Sultan Sultan di pesisir Borneo pada tahun 1825. Muller berangkat bersama pasukan yang terdiri dari orang-orang Jawa. Misi utamanya, jika Sultan Sultan yang didatanginya tidak sejalan, maka kasultanan ini akan diperangi dan dihancurkannya hingga dapat diduduki.

Namun, Kerajaan Kutai tak membiarkan keadaan yang mengancam itu. Akibatnya, terjadilah pertempuran sehingga pasukan George Muller hancur tercerai-berai dan berlarian memasuki hutan. Tercatat, serdadu Jawa yang selamat mencapat bagian barat Borneo hanyalah tinggal satu orang, sedang nasip Muller sendiri dan sisa pasukan belum diketahui.

Ada kabar, George Muller bersama pengikutnya terbunuh di daerah Kapuas Hulu sekitar Nopember 1825, tepatnya di sungai Bungan. Tapi, cerita tersebut hanya perkiraan yang tak jelas kebenarannya. Yang pasti, Muller hingga kini tak pernah ditemukan.

Ada pula cerita lain tentang pelarian Muller yang dikejar laskar Kesultanan Kutai. Dikatakan, karena kalah Muller berlari hingga ke Gunung Meratus dan menghilang di sana. Katanya Muller dilindungi oleh pasukan kerajaan orang gaib yang berada di pegunungan Meratus tersebut.

Cerita tentang Gunung Meratus juga diungkapkan oleh penduduk tua Suku Bukit Kalimantan Selatan Bernama Amung Tahe. Pria yang telah tinggal turun-menurun di dusun Rangit - kaki gunung Meratus menceritakan pengalaman hidupnya, ketika bertualang menjelajahi Gunung Meratus. Dusun Rangit sendiri adalah sebuah dusun yang bisa ditempuh dari daerah pedalaman Kabupaten Paser. Namun tidak diketahui pasti, dusun ini termasuk di dalam kecamatan atau kabupaten mana. Tetapi didalam peta wilayahnya termasuk kawasan Provinsi Kalimantan Selatan.

Bagi masarakat Suku Bukit sendiri, mereka tak mengerti tentang dusun tempat tinggalnya apakah termasuk di daerah Kalsel, Kaltim atau pula Kalteng. Bagi mereka hal itu bukanlah persoalan. Yang jelas mereka bisa saja ada di mana-mana. Bagi mereka, hutan adalah rumah dan kehidupan mereka.

Secara umum, masyarakat suku Bukit berdiam di belantara seputar kedua sisi Gunung Meratus. Dikatakan Amung Tahe, gunung di sana memang berjumlah seratus gunung. Namun yang dapat dihitung gunungnya hanya ada sembilan puluh sembilan buah. Lalu yang satu gunung itu merupakan induk dan puncak tertinggi yang jarang dapat dilihat secara kasat mata.

Dari kaki gunung menuju ke puncak itu bertingkat tujuhbelas naik dan tujuhbelas turun. Menurut penuturan Amung Tahe, di puncak tertinggi itu adalah merupakan suatu tempat kediaman Maharaja Meratus yang tak bisa dilihat atau gaib. Terkecuali jika dikehendaki oleh sang Maharaja.

Konon, di atas puncak gunung tersebut merupakan dataran yang cukup luas. Di dataran ini ada sebuah bangunan istana tempat sang Maharaja bersemayam. Kerajaan gaib di Gunung Meratus ini tidak hanya sendiri, tetapi ada lagi kerajaan-kerajaan kecil diseputarnya, yang juga disebut kerajaan orang-orang gaib (bunian).

Di kawasan pegunungan ini sangat kaya dengan hasil hutan dan alam. Pernah ada seseorang, ketika berjalan di anak sungai yang terdapat di sana menemukan batu berlian dan bongkahan-bongkahan emas pada dinding kerang batu di pinggiran sungai.

Orang-orang gaib dari pegunungan Meratus sering turun ke berbagai kota, baik di Kalsel, Kalteng maupun Kaltim. Kebanyakan mereka menyaru seperti orang-orang suku Bukit berdagang kayu gaharu yang berkwalitas tinggi serta membawa bongkahan-bongkahan batu kecubung dan yakut yang masih mentah. Barang barang ini mereka jual atau barter dengan tembakau, garam, minyak wangi-wangian, bahkan butir-butiran manik dan mutiara.

Amung Tahe juga bercerita, kalau almarhum bapaknya yang sering bertualang memasuki daerah gunung Meratus, mengaku pernah bertemu dengan orang tinggi besar berambut coklat kemerahan dengan pakaian seperti orang barat (Belanda tempo doeloe_Red) dikawal oleh beberapa orang berseragam. Tetapi ketika diikuti orang-orang tersebut tiba-tiba menghilang tak diketahui ke mana.

Menurut cerita masyarakat yang tinggal di daerah sepanjang Meratus ini mereka juga sering melihat orang Belanda dengan berpakaian tempo doeloe berjalan disertai beberapa orang berseragam lengkap dengan bedil dan pedang. Namun apabila dikejar, maka apa yang mereka lihat itu menghilang begitu saja.

Konon, dari wajah dan pakaian serta tanda-tanda yang terdapat pada si orang Belanda ini cirri-cirinya sama dengan Kapten George Muller yang hilang tak tentu rimbanya itu. Kalau benar, yang dilihat itu adalah George Muller, tentunya sudah menjadi orang gaib. Ada juga yang mengatakan kalau rohnya masih penasaran dan bergentayangan di sepanjang gunung Meratus karena tewas dibunuh. Bisa juga ia tewas karena dibantai oleh masyarakat liar di pedalaman yang saat itu masih primitif.

Namun yang jelas, apa yang terjadi di sepanjang Gunung Meratus, hingga kini masih penuh dengan misteri.(habis)

sumber : www.bongkar.co.id

Friday, March 26, 2010

BATU LOWANG INGEI

Dahulu kala terdapat sebuah betang di tepi sungai Samba sebelah kanan mudik. Betang tersebut dihuni puluhan keluarga. Diantara keluarga tersebut terdapat pasangan muda yang baru saja melangsungkan perkawinannya. Mereka adalah Tombong dan istrinya Ingei.
Suatu ketika di betang itu dilaksanakan upacara balian. Upacara ini dilakukan untuk melaksanakan pengobatan pada salah seorang warga betang itu yang sakit keras. Di tengah betang dibuat sebuah sangkai puca.

Sangkai puca ini bahannya dari berbagai dahan kayu yang masih lengkap, dengan daunnya, diikat tegak seperti pohon kayu. Dahan kayu yang digunakan adalah pohon beringin karena lambat layu daunnya lagi pula rimbun serta serasi.
Setiap malam ramai orang makan minum dan menari serta menyanyi karungut. Namun Tombong dan istrinya yang tinggal dalam kamar yang paling ujung tidak pernah mau keluar dan ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tombong sudah pergi untuk berburu. Kepada istrinya Tombong berkata : “ Ingei sepeninggalku pergi ini jangan sekali-kali kamu keluar dari kamar. Tidak usah kamu ikut biar hanya melihat upacara itu.” Pesan ini diucapkan Tombong karena seorang pencemburu. Memang Ingei seorang wanita yang cukup rupawan.

Sepeninggal Tombong Ingei sangat penasaran. Di luar kamarnya terdengar sorak sorai penuh kegembiraan. Gong dan gendang bertalu-talu. Laki-laki perempuan, tua muda ramai manasai mengelilingi sangkai puca.
Pikir Ingei dalam hatinya : “ Aku mengira tak apalah jika aku melihat keramaian itu.” Ia hanya berniat untuk menonton sebentar saja dan sementara menunggu Tombong pulang.
Ternyata Ingei lupa pulang kembali ke kamarnya , saking asyiknya menonton orang yang manasai itu. Ia tak tahu kalau Tombong cepat pulang dengan hasil buruannya seekor Kalasi.
Tombong sangat marah ketika mengetahui istrinya tidak berada di dalam kamar mereka. Ia menduga sudah pasti istrinya menonton upacara balian itu.
Dengan jengkel Tombong memberi pakaian bangkai kalasi itu. Dipakaikannya Cawat , baju sangkarut dan kopiah sampahangang. Tombong lalu mengendong bangkai kalasi itu menuju ke tengah betang, Saat ramainya orang manasai. Semua orang heran melihat kelakuannya itu, tapi tidak ada seorangpun berani menyapanya.

Dilihatnya istrinya duduk diantara orang banyak dengan bengong tanpa berani membuka mulut. Bangkai kalasi itu dilemparkannya ke atas sangkai puca, lalu ia kembali ke kamarnya.
Orang banyak heran, bangkai kalasi itu hidup kembali dan memanjat naik ke atas puncak sangkai puca. Orangpun ribut menyaksikan kejadian itu. Sebagian ingin membunuhnya dan mulai mengepungnya.
Tiba-tiba hari yang cerah berubah menjadi gelap pekat. Angin bertiup kencang , kilat dan petir menyambar-nyambar. Betang itu beserta seluruh penghuninya berubah menjadi sebuah gundukan batu besar. Hanya Ingei yang masih hidup, tetapi ia terkurung dalam batu itu. Kelihatan batu itu seperti kamar, tanpa pintu dan hanya ada sebuah lubang kecil sebesar lengan.
Beberapa tahun berlalu setelah peristiwa itu. Jika terdengar ada suara orang melewati tempat itu Ingei lalu mengulurkan tangannya meminta makanan. Kadang kala ia bersedia menjahit pakaian orang – orang yang menolongnya asal menyediakan kainnya sendiri, benang dan jarumnya. Jahitan tangannya Ingei sangat halus dan rapi. Beberapa kali orang telah mencoba untuk membantunya keluar dari lobang itu. Mereka memahat lubang kecil itu memperbesarnya agar Ingei dapat keluar.

Tapi mereka keheranan batu itu bagai bernyawa. Setiap tercongkel sebuah bongkahan sebesar itu pula bergerak menutupi bagian yang telah tercongkel tadi. Begitulah keadaannya hingga lubang seperti besarnya semula. Seorang yang penasaran saking jengkelnya lalu menusuk Ingei denga sepotong kayu.
Sejak saat itu tidak pernah lagi terlihat lengan Ingei keluar. Ia takut memperlihatkan dirinya dan tak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Apakah ia terluka dan meninggal dunia tak seorangpun yang mengetahuinya .
Sejak saat itu gundukan bukit batu itu lalu dinamakan orang “ Batu Lowang Ingei “. Artinya batu lubang Ingei. Letaknya dihilir desa Tumbang Jala, termasuk wilayah Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kembali pada Tombong suami Ingei , ketika hari telah menjadi gelap ia pergi berkayuh ke seberang sungai lalu berlari ke dalam rimba. Petir menyambar mengikutinya berlari tanpa tujuan mencari tempat berlindung.
Akhirnya ia sampai ke tepi sungai Baraoi anak dari sungai Samba. Ketika ia melompati sungai itu dengan maksud menyeberanginya pada saat itu pula petir menyambar tubuhnya yang langsung berubah menjadi batu. Lalu jatuh di tengah sungai itu. Batu itulah yang disebut orang Batu Tombong. Yang terdapat dekat desa Tumbang Baraoi sekarang ini. Demikianlah cerita Batui Lowang Ingei.

sumber : www.aldrian076.blogspot.com

Wednesday, March 3, 2010

ASAL USUL PAPAR UJUNG

Cerita Rakyat Murung Raya
Kiriman artikel lewat email dari Thomas Wanly (KalTeng)

Di sebuah desa yang bernama Muara Tupuh, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, ada sebuah batu yang bersusun yang menyerupai sebuah bendungan yang menyeberangi sebuah sungai yang diberi nama Papar Laung, artinya dua batu yang disusun oleh Ujung.
Konon kisah ini berawal dari kehidupan dua orang saudara kandung yang laki-laki bernama Ujung sedangkan saudara perempuan atau adiknya bernama Suli, mereka tinggal di hutan dan hidup dengan berladang, sepeninggal kedua orang tuanya Ujung dan Suli hidup sendiri di hutan itu, mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil berladang, ladang mereka menghasilkan padi, sayur-sayuran dan buah-buahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, kadang-kadang Ujung pun pergi berburu, karena hutan yang mereka tempati masih alami dan masih belum terjamah oleh manusia lain Ujung pun dengan mudah mendapatkan hasil buruan seperti Rusa, Babi, Kijang, dan hewan-hewan lain yang bisa mereka jadikan lauk.
Mereka berdua ditinggalkan orang tuanya sejak Ujung berusia empat belas tahun dan Suli berusia sebelas tahun, kedua orang tua mereka meninggal karena sakit-sakitan dan memang sudah berusia lanjut, setelah kedua orang tua meninggal Ujunglah yang bertanggung jawab menjaga dan memelihara adiknya, Ujung sangat mencintai dan menyayangi adiknya Suli, demikian juga sebaliknya Suli sangat menyayangi dan menghormati kakaknya Ujung.
Waktu terus berjalan, Ujangpun tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki wajah tampan, dengan dua mata yang sayu tetapi tajam, dagu yang lancip dan memiliki belahan di tengahnya, ia juga seorang lelaki yang gagah perkasa dan memiliki ilmu kedigjayaan yang diturunkan oleh kedua orang tuanya.
Sulipun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, dengan rambut yang panjang dan hitam, kulit putih mulus, dibalik keanggunannya iapun memiliki ilmu kedigjayaan seperti kakaknya Ujung yang juga diwarisinya dari kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Ujung pergi ke dalam hutan untuk mencari daun palas yang akan dijadikan atap gubuk tempat mereka berdua tinggal, sebelum berangkat ke dalam hutan si Ujung berpesan kepada adiknya Suli untuk memasak nasi, memetik sayuran diladang dan memasaknya. Juga memasak Rusa hasil buruannya kemarin sore. Sebagai adik yang menurut kepada kakaknya Sulipun menyanggupi semua perintah kakaknya dengan ikhlas, dan mengantarkan kepergian kakaknya dengan senyuman.
Berangkatlah si Ujung ke dalam hutan untuk mencari daun palas, setelah matahari berada di tengah-tengah kepalanya dan merasa bahwa daun palas yang dicarinya sudah cukup banyak, Ujungpun memutuskan untuk pulang ke gubuknya, setelah melalui perjalanan yang melelahkan Ujungpun tiba di halaman gubuknya, dari luar tampak sunyi dan sepi, ia pikir mungkin saja adiknya sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk makan siang mereka berdua.
Ujung lalu masuk ke dalam gubuk dan mendapati adiknya Suli sedang duduk merenung di dapur sambil memainkan rambutnya yang hitam dan panjang, Ujung memerintahkan Suli untuk menyiapkan makanan, sementara ia pergi mandi kesumur belakang gubuk mereka.
Sulipun menyiapkan makanan, setelah Ujung selesai mandi dan berpakaian iapun menghampiri adiknya Suli yang sedang menyiapkan makanan, tapi ia terkejut saat melihat nasi yang dimasak Suli ternyata sangat sedikit, padahal sebelum berangkat berburu iakan sudah berpesan agar Suli memasak nasi yang banyak, saat ia bertanya kepada Suli mengapa nasi yang ia masak sangat sedikit, Sulipun hanya diam dan tersenyum, ia mengajak kakaknya makan bersama, dengan perasaan yang masih bertanya-tanya karena bingung akan sikap adiknya Suli, Ujungpun terpaksa makan karena perutnya memang sangat lapar sekali.
Selesai makan Suli membereskan piring-piring, mangkok, gelas dengan mencucinya di sumur belakang gubuk mereka. Sementara Ujungpun pergi ke ladang mereka untuk melihat-lihat keadaan tumbuhan yang hidup diladangnya, begitulah kegiatan yang dilakukan oleh Ujung dan adiknya Suli, Ujung bertugas memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berladang dan berburu, sementara Suli adiknya dirumah mempersiapkan makanan dan mengurusi pekerjaan rumah lainnya, walaupun hidup di hutan dan apa adanya mereka nampak berbahagia karena bisa saling tolong menolong dan melengkapi satu sama lain.
Keesokan harinya Ujungpun berangkat lagi untuk mencari daun palas, tapi seperti hari sebelumnya iapun berpesan lagi kepada adiknya Suli agar memasak nasi yang banyak dengan sayur dan lauk yang banyak pula.
Setelah berpesan kepada Suli iapun berangkat ke dalam hutan, tanpa kenal lelah Ujung mencari daun palas, ia membutuhkan banyak daun palas untuk atap gubuk mereka yang sudah harus diganti dengan daun-daun palas yang baru, setelah beberapa Ujung mencari daun palas ia pun merasa sangat lelah dan lapar. Walaupun daun-daun palas yang di dapatnya sekarang belum cukup untuk atap rumah mereka, ia pun memutuskan pulang dan besok pagi ia akan mencari daun palas lagi ke hutan. Setelah berjalan cukup lama iapun sampai di halaman gubuk mereka seperti hari sebelumnya gubuk mereka tampak sunyi dan sepi, iapun masuk dan mendapati adiknya Suli sedang duduk merenung sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang.
Tanpa menegur Suli, Ujungpun langsung pergi ke sumur belakang gubuk mereka untuk mandi, selesai mandi Ujung berpakaian dan setelah selesai berpakaian Ujung menghampiri adiknya Suli, dan menyuruh Suli mempersiapkan makanan, Sulipun mencuci tangannya dan segera mempersiapkan makanan untuk mereka berdua, sementara adiknya Suli mempersiapkan makanan, ia mengamati apa yang dilakukan adiknya, ia kembali terkejut saat melihat makanan yang dimasak adiknya sangat sedikit, setelah selesai mempersiapkan makanan, Sulipun mengajak kakaknya untuk makan, seperti biasanya dengan perasaan yang bertanya-tanya karena bingung dengan apa yang dilakukan Suli karena tak menuruti perintahnya. Ujungpun makan karena merasa perutnya masih lapar iapun meminta nasi, sayur, dan lauk lagi kepada Suli, dan anehnya apa yang diminta Ujung masih ada, entah dari mana Suli mendapatkan semuanya, merasa dipermainkan oleh adiknya Suli, Ujung pun berniat membalas perbuatan adiknya Suli

Besoknya pagi-pagi sekali Ujung sudah berangkat kedalam hutan untuk mencari daun palas, setelah merasa daun palas yang di dapatnya sudah cukup untuk atap gubuk mereka berdua apabila digabungkan dengan daun-daun palas yang sudah didapatnya dua hari yang lalu, Ujangpun memutuskan pulang, tapi terlebih dahulu ia mengikat daun-daun palas yang sangat banyak itu menjadi satu ikatan sehingga terlihat sangat sedikit.
Setelah berjalan cukup lama, iapun sampai di depan gubuk mereka, Sulipun menyambut kedatangan kakaknya dengan gembira, tapi ia merasa heran karena daun-daun palas yang dibawa kakaknya sangat sedikit, ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa daun-daun palas yang didapatkan kakaknya sangat sedikit, padahal kakaknya Ujung mencari daun-daun palas tersebut selam tiga hari berturut-turut dari pagi sampai siang hari, tapi mengapa daun-daun palas yang di dapatnya hanya sedikit ?, padahal di hutan tempat mereka tinggal terdapat banyak daun palas dan tidak susah untuk mencarinya, menurut Suli seharusnya kakaknya bisa mendapatkan daun-daun palas yang sangat banyak untuk atap gubuk mereka, tapi mengapa kakaknya Ujung hanya mendapatkan daun-daun palas yang sangat sedikit, apakah yang dilakukan kakaknya selama tiga hari, apa benar selama tiga hari tersebut ia ia mencari daun palas, kalau benar mengapa daun-daun palas yang didapatkannya sangat sedikit tidak sesuai dengan lamanya pergi mencari daun-daun palas tersebut, jika kakaknya pergi tidak untuk mencari daun palas apa yang dilakukan kakaknya selama tiga hari berturut-turut, apakah ia pergi berburu, tapi mengapa tiap kali ia pulang tak pernah membawa hasil buruan, padahal bila memang kakaknya Ujung pergi untuk berburu, ia pasti akan mendapatkan hasil buruan, karena di hutan tempat mereka tinggal masih sangat banyak hewan-hewan seperti Kijang, Rusa, Babi dan hewan-hewan lain yang bisa di jadikan hewan buruan, lalu ke mana dan apa yang dilakukan kakaknya selama tiga hari berturut-turut dari pagi sampai siang hari.
Bagai macam pertanyaan memenuhi otak Suli, karena merasa sangat penasaran iapun bertanya kepada kakaknya Ujung, mengapa daun-daun palas yang di dapat kakaknya sangat sedikit ?, Ujungpun tersenyum mendengar pertanyaan adiknya Suli, ia menjawab bahwa itu hanyalah penglihatan adiknya saja, ia mendapatkan daun-daun palas sangat banyak dan cukup untuk atap gubuk mereka berdua.
Ujungpun menyuruh Suli membuka ikatan tali daun-daun palas tersebut, sambil membuka ikatan daun-daun palas tersebut Suli duduk diatasnya, pada saat ikatan daun-daun palas tersebut terlepas Sulipun terpental keatas, padahal pada saat itu sulis hanya mengenakan kain sarung sebagai penutup badannya tanpa menggunakan pakaian dalam, sehingga pada saat sarungnya terlepas Ujung bisa dengan jelas melihat bagian-bagian tubuh Suli yang seharusnya tidak boleh ia lihat, Sulipun merasa malu kepada kakaknya karena telah melihat bagian-bagian tubuhnya yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang lain kecuali dirinya sendiri, karena malu iapun berlari menjauhi kakaknya dengan menggunakan kesaktiannya, Ujungpun menggunakan kesaktiannya untuk mengejar adiknya Suli, dengan kesaktiannya ia membuat papar (susunan) batu untuk menghalangi adiknya Suli, tetapi Suli sudah terlanjur merasa sangat malu kepada kakaknya ia tak membiarkan kakaknya bisa mengejar langkah-langkahnya, dengan menggunakan kekuatannya pula ia menghancurkan paparan batu yang dibuat oleh Ujung untuk menghalangi kepergiannya, mereka saling kejar-mengejar yang menurut cerita orang-orang mereka sampai ke negeri Cina. Setelah sampai di negeri Cina merekapun terpisah tidak ada yang tau kemana perginya Ujung, setelah mengetahui bahwa kakaknya Ujung tak lagi mengejarnya, Sulipun berjalan pelan dan menemukan sebuah sungai di Cina, karena merasa haus iapun berlari ke arah sungai tersebut dan meminum airnya, setelah rasa hausnya hilang timbul keinginan dihatinya untuk mandi di sungai tersebut, setelah melihat keadaan di sekelilingnya aman dan tak ada orang yang melihat dirinya ada di situ, iapun melepaskan sarungnya dan pada saat ia melepaskan sarungnya tubuhnya polos tanpa menggunakan apapun juga, kulitnya yang putih dan mulus memancarkan cahaya putih yang memenuhi seluruh negeri Cina, konon inilah sebabnya mengapa orang-orang Cina memiliki kulit putih dan mulus, setelah selesai mandi Sulipun mengenakan sarungnya kembali, iapun melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya ia sampai di Afrika karena ia merasa tidak terlalu suka dengan tempat tersebut iapun tidak melakukan apa-apa dan meneruskan perjalanannya hingga akhirnya iapun sampai di Indonesia kembali, pada saat berjalan-jalan iapun menemukan sungai karena merasa sangat haus Sulipun meminum air sungai tersebut dan membiarkan kakinya berendam ke dalam sungai tersebut ia mengangkat sarungnya sedikit dan betisnya yang panjang, putih dan mulus pun terlihat sehingga memancarkan cahaya putih karena pantulan sinar matahari walaupun sinar putihnya tak sebenderang sinar putih waktu ia membuka sarungnya di negeri Cina, setidaknya negara Indonesia mendapatkan sinar putih dari bagian tubuh Suli yaitu betisnya, karena itulah orang-orang Indonesia memiliki kulit sawo matang, kulit yang tidak hitam tidak juga terlalu putih. Setelah merasa puas merendam kakinya, Sulipun terus berjalan melanjutkan perjalanannya, hingga ia merasa lelah dan menemukan sebuah gubuk, iapun berjalan ke arah gubuk tersebut dan karena merasa sangat lelah dan mengantuk iapun tertidur di gubuk tersebut.
Pada saat Suli bangun iapun terkejut melihat keadaan disekitarnya, di depannya tersedia makanan, nasi, sayur, lengkap dengan lauk-pauknya ia lalu berdiri dan melihat keluar tidak ada siapa-siapa selain dirinya, iapun kembali ke dalam gubuk, karena merasa sangat lapar iapun memakan makanan yang ada dihadapannya sampai habis, setelah selesai makan iapun pergi kebelakang gubuk tersebut untuk mencuci piring, setelah selesai mencuci piring Suli kembali ke dalam gubuk.
Suli merasa sangat penasaran siapakah orang yang telah memasak masakan yang telah ia makan tadi, karena rasa penasaran tersebut Suli akhirnya tetap tinggal di gubuk tersebut sampai ia tau siapa orang yang memiliki gubuk tersebut.
Suli terus menunggu kedatangan si pemilik gubuk tempatnya berada sekarang, setelah hari sudah mulai siang, matahari memancarkan sinarnya, dari kejauhan Suli melihat sebuah sosok yang sepertinya seorang lelaki, semakin dekat sosok tersebut semakin jelas wajah si pemilik gubuk tersebut, Suli sangat terkejut ketika menyadari bahwa orang yang kini ada di hadapanya ada Ujung kakaknya, yang ia kira selama ini sudah tak lagi mencarinya dan bahkan sudah tidak di dunia ini lagi, melihat sikap Suli yang diam karena merasa kaget Ujungpun menyentuh bahunya, menyadarkannya dari lamunan dan kebingungannya, Ujungpun menceritakan semua yang ia lakukan, bahwa sebenarnya selama ini ia terus mengikuti Suli tanpa sepengetahuan Suli, ia tidak mau Suli tahu kalau ia mengikuti Suli, karena kalau Suli tahu suli pasti akan berlari menjauhinya, karena Suli merasa sangat merindukan kakaknya iapun memeluk kakaknya sambil menangis dan meminta maaf kepada kakaknya, Ujung merasa terharu dan ikut menitikkan air mata kebahagiaannya, ia merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sekarang ia bisa kembali hidup bersama-sama lagi dengan adiknya seperti dulu.
Setelah peristiwa tersebut Ujung dan Suli kembali hidup bersama, sampai sekarang bila air dalam sungai Laung yang menuju ke Muara Tupuh surut maka akan nampak papar Ujung tersebut, apabila kita ingin ke Muara Tupuh pada waktu air surut kita akan melewatinya, papar tersebut disebut juga kahem kumpai atau riam yang penuh dengan rumput kumpai
demikinlah Legenda Rakyat Murung Raya terutama di Muara Tupuh, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya,Tentang batu yang bersusun yang menyerupai sebuah bendungan yang menyeberangi sebuah sungai yang diberi nama Papar Laung atau papar ujung, artinya dua batu yang disusun oleh Ujung

Legenda ini berasal dari perkataan mamapr oleh si Ujung dalam cerita di atas tadi atau dalam Bahasa Dayak Ngaju Bakumpainya kisah Datu Ujung mamapar sungai barito supaya adingeh ji arai Silu jida kawa mahalau ...

Semoga megingatkan pentingnya legenda dan sejarah daerah kita bagi generasi mendatang....

ISEN MULANG......
TIRA TANGKA BALANG....

Sunday, February 21, 2010

Cerita dari Kutai Timur Buaya Sangata

Ditulis oleh Thomas Djuma

Buaya Sangata terkenal dengan keganasannya karena sering menyerang dan memangsa manusia. Namun ini tak terjadi begitu saja. Konon, kawanan buaya bertindak sedemikian lantaran keserakahan manusia sendiri.

JAUH sebelum Sangata menjadi ibukota Kutai Timur, daerah itu hanyalah sebuah perkampungan kecil di pinggiran sungai. Pada waktu itu Sangata dipimpin oleh seorang Kepala Kampung bernama Tua Sohor. Ia mendapat restu dari Sultan Kutai untuk memimpin masyarakat di desa tersebut. Tua Sohor ini terpilih karena selain memiliki keberanian juga selalu menjadi pemimpin dalam menghadapi berbagai gangguan, baik dari suku suku pedalaman maupun bajak laut Mindanau. Tua Sohor selain pemberani juga memiliki ilmu kekebalan tubuh dari berbagai senjata tajam. Karenanya dia disegani baik lawan maupun kawan.

Keberadaan Tua Sohor sebagai Petinggi di Sanggata sekitar tahun 1920. Pada tahun 1925 Belanda menemukan beberapa sumur minyak yang hingga kini masih terus ditambang dan dilanjutkan oleh Pertamina. Sejak itulah daerah Sangatta mulai berkembang dan berada di kawasan Kabupaten Kutai. Kemudian, berdasarkan UU. No.47 Tahun 1999 daerah ini memisahkan diri menjadi satu Kabupaten dengan sebutan Kabupaten Kutai Timur berwilayah seluas 35,057,40 km2 berpenduduk saat itu berjumlah 164.362 jiwa.

Kabupaten ini berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Berau, Selatan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara dan Samarinda, sedang sebelah Timur dengan Kota Bontang dan selat Makassar. Sangata memiliki sumber daya alam yang cukup potensial yaitu batubara, emas dan hutan yang luas kemudian ditunjang oleh hasil perikanan dan perkebunan. Obyek wisata pun mendukung keberadaan kabupaten ini yaitu seperti Pantai Pangandaran di daerah Sangkulirang, Goa Pengadan, Goa Kombeng, Desa Miau Baru, Desa Long Noran, Desa Mekar Baru yang terdapat sebuah lamin besar milik suku Dayak.

Untuk daerah wisata masing-masing memiliki riwayat yang berlatarbelakang sebuah riwayat atau legenda. Misal sepereti Goa Kombeng, disini terdapat beberapa arca peninggalan para pendeta asal kerajaan Mulawarman, begitu pula dengan Goa Pengadan, yang selain terdapat pula bekas-bekas pertapaan dan batu bertulis, disini didalam goa dahulunya tempat bersarang seekor ular naga besar yang mampu melingkari gunung goa Pengadan. Belum lagi riwayat tentang keberadaan Desa Long Noran, Miau Baru, dan ada lagi satu kawasan yang bernama “Sandaran Babu”.

Sekilas diceritakan akan keberadaan beberapa arca Hindu yang terdapat di dalam Goa Kombeng. Dahulu ketika terjadi peperangan Kerajaan Mulawarman melawan Kerajaan Kutai Kartanegara, banyak para pendeta dan kerabat bangsawan Mulawarman yang mengungsi atau melarikan diri menghindari peperangan ke pedalaman hingga sampai ke daerah Goa Kombeng. Pada saat itu goa ini masih belum bernama Kombeng. Cerita nama Kombeng ini mempunyai latar belakang tersendiri setelah peristiwa peperangan antara pihak Mulawarman dan Kutai Kartanegara.

Dalam pengungsian atau pelarian para bangsawan dan pendeta membawa pula harta benda mereka serta peralatan pemujaan pada dewa-dewa Hindu seperti Patung Siwa dan Ganesha. Dalam pengungsian banyak tercecer benda benda berharga di sepanjang jalan yang mereka lalui. Hal ini karena para pengungsi ini dalam keadaan tergesa-gesa karena ketakutan diburu oleh laskar kerajaan Kutai Kartanegara. Begitulah sekilas tentang keberadaan goa yang disebut Kombeng itu.

Lain lagi tentang cerita daerah yang disebut Sandaran Babu. Sandaran Babu ini bukanlah merupakan sebuah desa atau kampung. Sandaran Babu ini adalah suatu kawasan hutan dan pantai yang tak berpenghuni. Namun pada zaman sekitar tahun 1970-an atau pada waktu awal penggundulan hutan yang disebut “Banjir Kap“, daerah ini dimasuki oleh ribuan orang penebang kayu. Dari mulut ke mulut yang awalnya cerita dari masyarakat yang berdiam di Sangkulirang beredarlah cerita tentang suatu pantangan yang kalau dilanggar taruhannya adalah maut. Ceritanya setiap orang tak boleh duduk atau tidur bersandar pada baner-baner kayu yang terdapat di dalam hutan daerah tersebut. Karena jika ada yang berani tidur bersandar di baner-baner kayu orang tersebut akan mati sambil duduk bersandar. Korban pertama terjadi pada seorang yang bernama Babu.

Entah bagaimana cerita awal keberadaan si orang bernama Babu tersebut. Yang jelas si Babu ditemukan mati dalam keadaan duduk bersandar pada baner sebatang pohon besar. Sebelumnya diceritakan si Babu telah diperingati oleh suara suara gaib yang ada di hutan tersebut. Namun karena tak percaya maka dia tidur dan bersandar pada sela baner kayu yang kemudian ditemukan oleh beberapa temannya si Babu telah tak bernyawa tersandar di bawah pohon berbaner besar. Sejak itulah daerah ini disebut sebagai daerah Sandaran Babu.

Sedangkan asal-usul nama Sangata sendiri adalah seekor Raja Buaya yang berkuasa di sepanjang sungai di sana. Buaya ini adalah buaya jadi-jadian yang katanya memiliki tempat tinggal besar dan megah terbuat dari kayu ulin dan bangris. Ketika itu si Sangata raja buaya ini jatuh cinta pada seorang gadis yang ada di kampung tersebut. Dalam bentuk manusia dia melamar gadis tersebut. Lamaran diterima dan pesta perkawinan berlangsung dengan meriah.

Pihak keluarga wanita samasekali tak mengetahui asal usul lelaki menantu mereka yang sebenarnya adalah seekor Raja Buaya. Setelah sebulan bersuami isteri si Raja Buaya mengajak isterinya pulang ke kediamannya di pedalaman sungai. Atas persetujuan keluarga maka keduanya diizinkan untuk pergi ke rumah mereka.

Setelah beberapa hari si isteri tinggal dirumah tersebut barulah sadar kalau dia bersuamikan seekor buaya jadi-jadian. Si isteri akhirnya merasa takut dan dalam suatu kesempatan dia melarikan diri menaiki sebuah perahu pulang ke kampungnya. Kepada keluarganya si wanita bercerita tentang keberadaan suaminya yang jadi-jadian itu. Tak berapa hari berselang si suami datang menyusul isterinya seraya mengajak pulang ke rumah mereka. Namun hal tersebut ditolak oleh sang isteri, walau si suami berkali-kali membujuk dan meminta agar keinginannya dipenuhi.

Si Raja Buaya sangat kecewa dan akhirnya menjadi marah kemudian mengamuk bersama para perajurit buaya menyerang kampung tersebut dan membantai siapa saja yang bisa didapat mereka di darat apalagi di sungai. Korban dari masyarakat kampung berjatuhan. Masyarakat kampung akhirnya kewalahan dan sudah tak lagi berani melakukan perlawanan terhadap para buaya jadi-jadian ini.

Dalam keadaan krisis, datanglah seseorang yang tak diketahui asal usulnya membantu masyarakat kampung yang sudah terjepit serta tak berdaya. Orang tersebut bernama Tua Empoi, yang katanya masih merupakan Nenek datuk dari Tua Sohor Petinggi Kampung. Raja Buaya bernama Sangatta ini akhirnya dapat dikalahkan oleh Tua Empoi dalam suatu pertarungan. Karena tak sanggup melawan Tua Empoi akhirnya si Sangatta menyerah dengan suatu perjanjian “batas hulu dan hilir”. Masyarakat kampung tidak akan dimangsa asal saja tidak melanggar wilayah hulu yang dijanjikan apalagi sampai merusak alam di sekitar pemukiman masyarakat wilayah Raja Buaya yang bernama Sangatta.

Lalu kenapa akhir-akhir ini Buaya sungai Sangatta mengamuk dan memangsa penduduk. Menurut cerita karena pihak manusia sudah melanggar perjanjian selain memasuki wilayah larangan juga sudah memporak-porandakan hutan dan sungai yang menjadi habitat berkembang biaknya buaya-buaya yang konon sebenarnya jadi-jadian itu. Menurut kabar selama manusia masih merusak lingkungan hutan dan sungai Sangatta selama itu pula mereka tak akan berhenti memangsa dan mencari korban. Pernyataan ini disampaikan melalui mimpi pada Tua-tua kampung juga pada pawang-pawang buaya yang berada di Sangatta. Namun demikian cerita yang berkembang di masyarakat ini sebaliknya ada yang menyebut mengada-ada. Bahkan sebagian lainnya malah hendak memburu ke tempat-tempat yang dikatakan ada buayanya.

Dalam kaitannya, semua itu terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas Buaya Sangatta hingga kini masih berkeliaran dan memangsa. Untuk itu benar atau tidak perjanjian “ Hulu dan Hilir “ yang pernah disepakati bagi anda yang memasuki sungai Sangatta atau daerah rawa di sepanjang tepi sungai sebaiknya berhati-hati. Bukan tidak mungkin sang buaya bisa saja secara tiba-tiba berada di hadapan anda. Untuk itu patutlah berhati-hati jika berada di daerah dekat sungai Sangatta.*habis

Sumber : www.bongkar.co.id

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube