Friday, November 14, 2014
5 Suku Paling Ditakuti Di Dunia
Saturday, June 28, 2014
Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014

Dalam sambutannya, Cornelis mengaku sedih mendengar perusahaan-perusahaan yang ada di Sanggau hanya menyumbang Rp.10 Juta untuk Gawai Dayak Tersebut. Padahal menurut dia, selama ini para pengusaha tersebut munggunakan tanah Dayak. "Datang dari sana (Jawa) hanya bawa barang dua biji. Dia punya investasi ratusan miliar dari Bank, kenapa dana CSR-nya tidak dikeluarkan untuk membangun mental orang Dayak. Ini adalah pembangunan mental, REVOLUSI MENTAL meroba pola pikir orang Dayak di kabupaten Sanggau ini, kenapa dia takut investasi. Apa dia tidak takut sawitnya disuntik orang Dayak, setiap malam 10 pokok, mampus dia" kata Cornelis.
Oleh karena itu, lanjut Cornelis dirinya meminta orang-orang Dayak yang ada di kabupaten Sanggau jangan lagi menyerahkan tanah-tanah Dayak kepada pengusaha. "Kita di kampung dia usir, Saya bukan provokator, bukan, tapi ini adalah kenyataan" tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama dia mendorong pembangunan daerah yang maju dan terdepan. Secara khusus dia memotivasi agar masyarakat Dayak mampu bersaing dalam segala hal dengan daerah atau provinsi lainnya. Pada acara Gawai Dayak ini juga Cornelis menyumbang uang sebesar Rp.50 juta yang di ambil dari uang operasional gubernur untuk panitia Gawai Adat Dayak 2014.
Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya mengajak masyarakat Sanggau turut mensukseskan pembangunan daerah. Seperti halnya Sanggau yang mengusung tujuh Brand Image pembangunan yaitu Sanggau Tertib, Sanggau Bersih, Sanggau Sehat, Sanggau Pintar, Sanggau Terang, Sanggau Manjur, Sanggau Budiman.
"Tujuh brand image ini adalah tujuan kita bersama yang harus kita wujudkan, kita harus memiliki keyakinan untuk mewujudkan ini. Tujuan brand image ini akan menjadi ciri dari Sanggau, jadi ketika orang masuk ke Sanggau dia akan mengingat tujuh brand image ini" katanya.
Sementara itu ketua DAD kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menyampaikan, moment Gawai Dayak Nosu Minu Podi merupakan bentuk syukur kepada Tuhan karena telah dilimpahkan rezeki yang bersumber dari alam. Event tahunan yang kerap dilaksanakan pada tanggal 7 bulan 7 ini dikatakannya sedikit bergeser dari rencana. Berdasarkan hasil keputusan bersama Dewan Adat Dayak Se- Kabupaten Sanggau dengan pertimbangan antara lain, pada bulan Juli mendatang Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden dan akhir juni umat Islam akan memasuki bulan puasa.
Gawai Dayak sendiri merupakan tradisi nenek moyang Suku Dayak yang harus dipertahankan dan di kembangkan. Dengan moment Gawai Dayak yang mengusung tema "MElalui Gawai Dayak Nosu Mino Podi kita Dukung Tujuh Brand Image Kebupaten Sanggau" ini, Ontot mengajak masyarakat Dayak untuk melestarikan adat budaya Dayak yang tumbuh dan berkembang agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai Orang Dayak.
Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014
Salam Budaya
Yohansen
sumber : kapuas.co
Monday, June 23, 2014
Jokowi di Rumah Radakng Pontianak

Capres Joko Widodo berkampanye di depan ribuan pendukungnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung soal masalah perbatasan.
"Di Kalimantan Barat ini berbatasan dengan Serawak ya? Nanti pemerintah pusat bekerja sama dengan gubernur akan kita bangun perbatasan agar tidak kalah dengan Malaysia, tidak kalah dengan Serawak," kata Jokowi saat berkampanye di Rumah Adat Radakng, Kota Pontianak, Kalbar, Senin (23/6/2014).
"Wajah saya ndeso, tapi otaknya internasional," imbuh Jokowi yang disambut riuh pendukungnya.
Sebelumnya saat tiba di lokasi, Jokowi yang mengenakan kemeja kotak-kotak dipakaikan topi kebesaran adat Topi Enggang. Wujud topi itu menyerupai paruh burung lengkap dengan bulu-bulunya.

Selain itu, Jokowi juga disambut oleh Gubernur Kalbar Cornelis serta Tarian Penyambutan Suku Dayak, Tarian Ngajat.
Kami sebagai Admin Cerita Dayak sangat mengapresiasikan kunjungan Jokowi di Rumah Radakng Pontianak untuk meminta dukungan sebagai calon presiden 2014-2019 kepada Masyarakat Dayak.
Mengenai pilihan Cerita Dayak tetap netral. Siap pun yang terpilih menjadi pemimpin bangsa ini kita berharap ada perubahan yang lebih baik bagi Borneo.
Salam Budaya
Yohansen Borneo
Sumber : detik.com
Sunday, June 22, 2014
Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.
Dalam bukunya ”Kalimantan Membangun”, Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional RI dari suku Dayak Kalimantan mengungkapkan bahwa Suku Dayak di Kalimantan juga memainkan peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Riwut, yang mantan Gubernur pertama Kalimantan Tengah ini mencatat bahwa pergerakan nasional modern dari pulau Kalimantan sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928, Tahun 1919 berdirinya Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.
Namun, gerakan Dayak untuk bebas dari penindasan baik yang dilakukan kerajaan feodal maupun penjajah Belanda semakin menguat dari tahun ketahun diseluruh Kalimantan. Pada tahun 1941 misalnya, sejumlah tokoh Dayak dalam suatu retret guru agama katolik di Nyarumkop Kalimantan Barat bersepakat untuk meningkatkan dan memperjuangkan nasib orang Dayak melalui perjuangan politik. Kesepakatan itu merupakan salah satu inisiatif JC Oevaang Oeray, siswa seminari yang menulis surat kepada peserta retret. Oleh AF Korak, JR Giling dan MT Djaman, berhasil dicetuskan kebulatan tekad untuk berjuang secara politik. 4 tahun setelah kesepakatan itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1945, F.J Palaunsoeka, guru sekolah rakyat di Puttusibau dan kawan-kawannya mendirikan Dayak In Action (DIA) dengan moderator seorang pastor Jawa bernama Adi Karjana SJ. Karena perkembangan situasi politik saat itu, pada tanggal 1 Nopember 1945, DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD) dengan ketua umum pertamanya F.J Palaoensoeka. Disetiap kampung dibentuk Komisariat yang sejajar dengan Dewan Pimpinan Cabang. Momentum gerakan politik melalui PD kemudian mendapat tempat dengan diubahnya karesidenan Kalbar menjadi Daerah Istimewa Kalbar pada tanggal 12 Mei 1947. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.Wednesday, May 2, 2012
Manfaat Rehabilitasi Mangrove di Kalbar mulai Dirasakan Warga
| Mangrove--ANTARA/Rosa Panggabean/bb |
REHABILITASI mangrove di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mulai membuahkan hasil. Warga setempat kini bisa memanen tengkuyung saat musim pasang laut.
"Setiap hari ada 2-3 kilogram tengkuyung yang di panen warga saat air pasang," kata Idham,35, warga Karimunting, Selasa (1/5).
Biota laut sejenis kerang ini hanya sebagian kecil dari manfaat yang dirasakan warga sejak kawasan mangrove direhabilitasi. Manfaat lainnya, warga kini bisa merasakan hidup tenang karena pemukiman mereka aman dari ancaman abrasi dan terjangan angin serta ombak laut.
"Mangrove bisa menahan hembusan angin laut yang kencang," ujar Idham.
Rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Kecamatan Sungai Raya Kepulauan ini dilakukan berbagai kalangan sejak 2009. Upaya itu dilakukan karena degradasi mangrove di jalur Pontianak-Singkawang tersebut sangat mengkhawatirkan.
"Hampir seluruh mangrove yang kami tanam bersama teman-teman LSM dan Polisi Perairan Kalbar pada 2009, tumbuh sempurna. Ketinggian poho rata-rata 4-5 meter," kata staf Program Kelautan WWF-Indonesia Dwi Suprapti.
Dia menjelaskan mangrove berfungsi sebagai kawasan penyangga dan pelindung pantai dari abrasi, erosi, dan pendangkalan serta terjangan badai. Selain itu, mangrove menyaring air laut ke daratan dan menetralisasi cairan limbah beracun.
"Mangrove juga menjadi penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, sumber pakan bagi plankton dan biota laut lainnya serta unggas," jelas dokter hewan tersebut. (AR/OL-3)
sumber : http://www.mediaindonesia.com
Saturday, April 28, 2012
"Credit Union : Kendaraan Menuju Kemakmuran"
"Credit Union : Kendaraan Menuju Kemakmuran"
Penulis :
1. Munaldus (Penggagas, pendiri dan Ketua CU.Keling Kumang & Ketua Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa, Pontianak)
2. Yuspita Karlena (Manager Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa, Pontianak)
3. Yohanes RJ (General Manager CU.Keling Kumang)
4. B.Hendi Candra (General Manager CU. Semandang Jaya)
5. Saniansah (General Manager CU.Banuri Harapan Kita)
Editor : A.M. Lilik Agung
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
"Pendirian Credit Union (CU) bermula dari kesetiakawanan sebagai anggota kelompok sosial, terutama dari kalangan masyarakat kelas bawah.
CU telah merebut hati masyarakat. Malah, sekarang CU telah menjadi milik semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat akar rumput hingga ke masyarakat kelas atas. (dikutib dari kata sambutan Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap. Uskup Agung Pontianak)"
"... Pelayanan keuangan yang disediakan oleh Credit Union telah dimanfaatkan dengan baik oleh anggota yang setia ber-CU. Mereka rela memberi dulu baru menerima, rela berkorban dulu baru mendapatkan hasil. Tidak ada jalan pintas. Seperti para petani berladang, untuk mendapatkan hasil panen yang berlimpah, harus mulai dengan menentukan lahan pertanian, menebas, mengolah, menyemai, menanam, menyiangi, mengairi dan barulah memanen. sebuah proses yang panjang, tekad bulat, kesabaran dan kedisiplinan. (dikutib dari kata sambutan tim penulis)"
"..CU sekarang menjadi salah satu lembaga yang sangat terbukti membantu meningkatkan perekonomian masyarakat mengengah kebawah khusunya masyarakat Dayak. Saat ini kehidupan masyrakat Dayak sangat tergantung dengan Credit Union, karena dengan ber-CU masyarakat Dayak bisa meningkatkan perekonomian sedikit demi sekidit untuk mencapai kebebasan finansial" (Bonny Bulang admin Cerita Dayak)
Untuk pemesanan buku ini bisa menghubungi kami di
Bonny Bulang 0889653111113 atau dapat dibeli di toko buku Gramedia
Friday, January 27, 2012
Mengenal dan Memahami Sejarah asal usul suku Dayak Siang di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah
Wednesday, January 11, 2012
Menyumpit Prestasi Menjaga Tradisi
![]() |
| Menyumpit Bagi Suku Dayak--MI/ Aries Munandar/cs (www.mediaindonesia.com) |
Lelaki berpakaian adat Dayak Salako berdiri di barisan penonton di pinggir lapangan. Pakaian yang berbahan kulit kayu itu berhiaskan bulu landak serta taring babi hutan.
Sebilah sumpit setinggi 2 meter di genggaman tangan kanan menambah eksentrik penampilannya. Lelaki itu berulang kali mengalihkan perhatiannya dari arena pertandingan sumpit karena harus meladeni pertanyaan dan permintaan berfoto dari pengunjung. Semua permintaan itu dilayaninya dengan ramah.
''Saya datang dari Sambas dan menunggu giliran untuk bertanding,'' kata Lasius Belam, 60, sambil tersenyum. Pesumpit senior itu salah satu peserta International Borneo Sumpit Tournament yang digelar di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tahun lalu. Turnamen itu diikuti 216 pesumpit dari seluruh Kalimantan termasuk Serawak, Malaysia, yang mengutus 25 atlet.
Lasius baru sekitar empat tahun menekuni olahraga tradisional itu. Salah satu prestasi terbaiknya ialah meraih peringkat III dalam kejuaraan sumpit se-Kalimantan Barat pada Festival Budaya Bumi Khatulistiwa di Pontianak, beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, menyumpit bukan hal asing bagi pensiunan pegawai negeri sipil itu. Ia sudah mengenal tradisi menyumpit sejak kecil. Aktivitas itu semakin sering dilakukannya saat bertugas di pedalaman Ketapang dan Sambas.
Di saat senggang, Lasius kerap berburu rusa dan babi hutan bersama warga setempat. Mereka bisa seharian berada di hutan untuk mencari hewan buruan. Hasil buruan itu kemudian dibagi rata ke seluruh anggota kelompok.
''Kami biasa sampai naik (memanjat) pohon saat menyumpit agar tidak kelihatan oleh binatang buruan,'' kenang mantan petugas kesehatan itu.
Kini dia sudah jarang berburu. Ia mengalihkan kegemaran menyumpit ke arena olahraga. Lelaki berperawakan sedang tersebut berlatih setiap hari dengan membidik sasaran sejauh 30 meter.
Ia juga merekrut beberapa generasi muda di Sambas untuk dilatih sebagai atlet sumpit. Para atlet binaannya itu di antaranya masih berusia anak-anak. Mereka juga ikut meramaikan turnamen di Singkawang.
''Sebelumnya ada empat anak, tapi sekarang tinggal dua anak yang kami latih. Sulit mencari bibit muda untuk olahraga sumpit,'' ujar Lasius.
Standar dunia
International Borneo Sumpit Tournament merupakan kejuaraan sumpit Kalimantan pertama yang berskala internasional. Kompetisi yang berlangsung beberapa waktu lalu itu mempertandingkan delapan kategori untuk kelompok putra dan putri. Di antaranya kelas 20 meter dan 30 meter dengan posisi berdiri dan jongkok.
Kejuaraan yang berlangsung di halaman mes Pemerintah Kota Singkawang itu menjadi ajang pembinaan atlet sekaligus pelestarian tradisi dan promosi pariwisata.
''Kami mencoba mengangkat potensi budaya lokal supaya bisa 'dijual' sebagai objek pariwisata ke mancanegara,'' kata Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Faried, yang membuka secara resmi turnamen tersebut.
Penyelenggaraan turnamen itu menghasilkan beberapa catatan penting bagi perkembangan olahraga sumpit. Para kontingen menyepakati penyeragaman aturan dan kategori pertandingan serta standar peralatan yang digunakan.
Olahraga sumpit selama ini memang belum memiliki aturan dan standar baku. Kendati secara umum aturan dan peralatan yang digunakan relatif sama, beberapa daerah memiliki ketentuan dan kebiasaan tersendiri.
''Di Malaysia belum ada (kategori) jongkok. Kalau bisa, kami juga akan ubah sehingga selain berdiri, menyumpit juga dilakukan berjongkok,'' kata pemimpin kontingen Serawak Anthony Banyan.
Para pemain dan pelatih menyetujui pembakuan aturan main yang selama ini sudah disepakati secara informal. Di antaranya jarak target sumpitan sejauh 30 meter untuk putra dan 20 meter untuk putri.
Penyeragaman aturan itu dianggap penting untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme atlet. Di samping menaikkan gengsi sumpit di pentas internasional sehingga sejajar dengan cabang olahraga lainnya.
''Turnamen ini menjadi momentum kebangkitan sumpit menuju pentas internasional. Ini bisa menjadi ajang promosi pariwisata ke mancanegara,'' jelas Sekretaris Daerah Kota Singkawang Syech Bandar.
Olahraga elite
Olahraga sumpit dikenal luas dan begitu memasyarakat di Malaysia. Berbagai turnamen kerap digelar di negara bekas jajahan Inggris tersebut, mulai tingkat kampung hingga nasional.
Menyumpit bahkan telah menjadi gaya hidup warga kelas menengah ke atas di Serawak, selayaknya golf dan tenis di Indonesia. Mereka biasanya berkumpul di setiap akhir pekan untuk menyumpit bersama di lapangan. Mereka rela merogoh kocek dalam jumlah besar untuk memiliki beberapa set sumpit dan memainkannya.
Sebagai gambaran, harga sebilah laras sumpit di Kalimantan Barat rata-rata Rp2 juta. Nilai itu belum termasuk satu set anak sumpit atau damak, yang harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Anthony, Wakil Presiden I Perhimpunan Nasional Dayak Serawak, berujar, setiap keluarga di Serawak pasti menyimpan minimal satu sumpit. ''Karena ini identitas orang Dayak.''Identitas itu yang terus dilestarikan Malaysia dan menjadi atraksi wisata andalan di Serawak. (N-3)
Aries Munandar, aris@mediaindonesia.com
Wednesday, August 10, 2011
Mereka Belajar di Bawah Atap Sagu
Suasana di ruang belajar. Foto by Farida.
BERATAP rajutan daun sagu, tanpa lantai alias langsung menjejak tanah, berdinding bambu dan papan seadanya, begitulah kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 30 di Kampung Tahak. Kampung ini tidak ditemukan dalam peta.
Letaknya lebih dari 200 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Kota Pontianak. Tapi keceriaan dan keriangan para siswa berseragam putih-merah itu tetap mewarnai hari-hari belajar di ruangan darurat itu.
Seorang guru kontrak yang mengajar di sekolah itu, Farida (25), menuturkan, hanya ada satu ruangan kelas untuk lima rombongan belajar. Sampai saat ini “bangunan sekolah” masih satu lokal itu saja.
“Pada bulan Maret yang lalu, melalui swadaya warga kampung dan orangtua murid, bangunan darurat ini berhasil didirikan,” ujar Farida, Senin (11/7/11).
Kampung Tahak di Balai Pinang, merupakan bagian dari Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Jarak ibu kota kabupaten lebih dari 300 kilometer melalui jalan darat trans Kalimantan, yang tambal sulam antara aspal dengan jalan tanah.
Sebelumnya, para siswa belajar di bawah “bangunan seadanya”, berupa tiang kayu bulat beratapkan dedaunan yang disusun rapat. Tanpa dinding, apalagi lantai. Langsung menjejak tanah.
Dulunya tak berdinding. Foto by Farida.
Melihat minat belajar siswa yang tinggi, warga kampung dan para orangtua murid tak tinggal diam. Mereka bergotong royong menyumbangkan papan tulis, kursi dan meja, dan membangun sendiri “ruang kelas” itu.
Bagaimana kondisi bangunan sekolah itu? Atapnya dari jalinan daun sagu. Dindingnya kombinasi antara papan serta bambu (gedhek) yang meski sudah disusun rapat, tetap menyisakan celah-celah.
“Walaupun ber-AC alami, siswa-siswa saya sangat bersemangat belajar. Bangunan darurat bukan halangan, meski ke depan kami berharap ruang kelas yang lebih memadai,” ujar Faria.
Farida menuturkan, SDN ini berdiri sejak 13 Juli 2009, dan waktu itu baru memiliki satu rombongan belajar yang mendaftar untuk kelas satu. Sedangkan kelas dua dan tiga merupakan pindahan dari ibu kota kecamatan, SDN 02 Balai Berkuak.
Pada tahun pelajaran 2010/2011, jumlah murid dari empat rombongan belajar sebanyak 98 orang. Sedangkan tenaga pendidiknya hanya empat orang: seorang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), dua orang guru kontrak, dan seorang honorer yang dibiayai oleh komite sekolah.
SEVERIANUS ENDI
sumber : www.kompasiana.com
Wednesday, July 6, 2011
Kreasi Tradisi Jangan Dilupakan
Foto bersama seorang Demang (kepala desa sekaligus kepala adat Dayak sub suku Dayak Ngaju) dari desa Dawak, Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah. Kotawaringin Lama? Harap dibedakan antara Kotawaringin Lama dengan nama Kotawaringin Barat atau (apalagi) dengan nama Kotawaringin Timur. Masing-masing nama itu menunjuk tiga tempat yang berbeda.
Eeeiiittt…! Masih ada satu lagi: nama Kotawaringin Darat. Darat?
Arti kata [darat] menunjuk tempat yang jauh dari sungai atau laut. Dapatkan penjelasannya tentang hal ini dan ‘kota darat’ ini menunjukkan pada suatu tempat dan apa nama tempat itu? Temukan jawabannya pada bagian akhir dari tulisan ini .
Untuk mencapai Kotawaringin Lama (Kalimantan Tengah) membutuhkan 3 jam perjalanan jalur sungai dengan menyewa speed boat ditambah 1 jam lewat jalan darat. Atau kalau mau jalan santai perjalanan dengan kapal perahu sejenis ’kano’ yang didorong mesin diesel kecil atau yang di Kalimantan Selatan perahu tersebut disebut jukung. Dengan ’jukung’ atau ’alkon’ – nama orang Kalteng menyebutnya – ini akan membutuhkan waktu 8 jam dengan mengambil titik start dari kota Pangkalan Bun yang terletak sekitar bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalteng.
Ketika saya selelsai mengunjungi paman Demang A murat ini, saya diberi kenang-kenangan sebuah senjata khas desa Dawak yang berupa ’mandaunya’ orang Dayak Ngaju. Jenis dan bentuknya tidaklah sama seperti lazimnya senjata mandau yang kita kenal selama ini.
Setelah saya teliti dan saya simak cerita ’bahari’ (bahari = lama : bahasa Banjar - red) suku Dayak Ngaju khususnya yang tinggal dan mendiami desa Dawak itu memiliki keterikatan yang kuat dengan kerajaan Majapahit di Jawa sejak abad 13. Hal ini dikuatkan cerita turun temurun dari nenek moyang mereka di mana mereka pada jaman dahulu kala mereka setiap tahunnya pada masa itu para ketua adat lama berkunjung ke Majapahit untuk menyerahkan upeti dan atau menjalinan kekeluargaan atau unuk keperluan lainnya.
Senjata mandau khas Dayak Ngaju desa Dawak ini terdapat perbedaan bentuk fisiknya yaitu terdapat pada bentuk ’gagang senjata’ yang lebih dan menyerupai gagang senjata jenis golok yang terdapat menyebar seluruh pulau Jawa. Selebihnya semua bagian dari sebuah mandau itu adalah sama.
Warga Dayak suku Ngaju desa Dawak ini pada mulanya bukanlah warga Dayak yang terbiasa dengan menggunakan senjata mandau sebagai senjata keseharian mereka. Senjata mandau itu bukanlah senjata asli orang Dawak tetapi hasil pengaruh dari suku Dayak lainnya yang terdapat disekitar lingkup mereka. Mandau lebih khusus lagi, lebih dipengaruhi oleh suku-suku Dayak yang datang dari daerah Lamandau lewat jalur pedagangan atau perkawinan.
Saya masih mencari tahu, apakah nama Lamandau itu adalah tempat di mana pertama kali senjata mandau itu dikenal? Mengingat secara etimologis nama Lamandau - mungkin terbentuk secara etimologis dari kata [mandau].
Jika hal ini diselidiki pasti kita akan diperoleh gambaran berbeda dengan cara pandang terhadap sejarah perkembangan senjata mandau selama ini.
Siapa yang berminat meneliti?
Perlu diketahui, senjata asli orang Dayak Ngaju desa Dawak adalah sumpit.
Senjata ini pulalah yang dipakai ketika terjadi perang suku atau ketika perang melawan penjajahan Belanda di mana suku Ngaju desa Dawak terkenal heroik mengusir penjajah. Peristiwa ini bisa kita lihat di relief salah satu land mark kabupaten Kotawaringin Barat di simpang lima di daerah sekitar Pangkalan Lada, Kalteng.
(Lihat gagang senjata golok dari Dawak yngg diberikan kepada saya, gagangnya sama sekali tidak mirip dengan gagang mandau yang selama ini kita kenal khan?
Sekali lagi, siapa yang bersedia bikin penelitian sejarah tentang missing link ini? Bukankah di Kotawaringin Lama ini terdapat peninggal Kraton Kotaringin Lama (penulisan gaya tempoe doeloe untuk Kotawaringin Lama) yang berdiri sejak abad 14 atau ketika di Jawa sejaman kerajaan Demak Bintoro? Bukankah sejarah lebih jelas lagi dengan adanya makam Ki Gede yang merupakan penduduk pendatang dari Jawa yang menyebarkan Islam di sana? Ini pasti menarik minat bagi yang menekuni cerita dan sejarah peradaban Nusantara.
Perlu diketahu pula bahwa bapak Demang A. Murat ini adalah anak langsung dari Demang Silam yang namanya diabadikan sebagai sebauh jalan desa di desa Dawak. Jadi selagi beliau Demang A. Murat masih sehat dan bisa membantu kita semua untuk bisa merekonstruksi ulang sejarah masa lalu maka sebaiknya segera diadakan penelitian.
Satu lagi informasi bahwa desa Dawak juga biasa disebut sebagai Kotawaringin Darat karena letaknya di daratan atau jauh dari sungai besar atau 1 jam perjalanan darat (sekarang) off road. Bandingkan dengan Kotawaringin Lama yang terletak dijalur transportasi air yaitu sungai.
Sumonggo… silahkan..!
sumber : http://www.facebook.com/photo.php?pid=318117&id=1468758503














