BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, November 14, 2014

5 Suku Paling Ditakuti Di Dunia

Berbagai macam suku tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan berbagai macam tradisi dan budaya juga berbeda-beda setiap suku. Di Indonesia sendiri ada banyak sekali suku yang tidak terhitung jumlahnya. Di dunia ini pun juga terdapat suku yang bervariasi. Ada yang di ketahui ada juga masih masih belum di ketahui, ada suku yang di kenal luas ada juga suku yang masih belum banyak yang mengenalnya sehinngga belum terdefinisi secara mendetail mengenai adat tersebut. Namun, untuk beberapa suku yang telah di kenal oleh dunia, ternyata terdapat beberapa suku yang konon kabarnya merupakan suku yang di takuti di dunia. Apakah suku di Indonesia masuk di dalamnya ?
Suku yang di takuti ini merupakan sebuah suku yang di takuti karena di segani dan dihargai, namun ada juga di takuti karena suku tersebut terisolasi karena berbahaya atau di takuti karena sikap dan tindakan yang selalu mengancam orang lain. Definisi di takuti di sini bermacam-macam tergantung setiap individu yang menilainya. Berikut merupakan 5 Suku Paling di Takuti Di Dunia :

#1. Indian
Mungkin Indian adalah suku yang paling familiar di telinga kita. Saya pribadi mulai mengenal Indian dari film-film waktu masih masa kanak-kanak. Indian merupakan Salah satu suku yang paling di takuti. Suku Indian di takuti karena suku ini di segani oleh masyarakat dunia , terlebih suku ini adalah suku asli yang ada di Amerika. Selain itu Suku dapat memanggil arwah dengan menggunakan badan mereka dengan sebuah lagu atau tarian. Saya rasa ini mirip dengan kuda lumping ? namun kenapa suku jawa tidak di takuti ya ? entahlah. Selain itu juga pemanggilan roh ini dapat menyembuhkan orang.

#2. Dayak
Wah , ternyata suku di Indonesia masuk sebagai salah satu suku yang di takuti di dunia. Suku dayak sangat di segani di Indonesia karena pulau kalimantan termasuk Indonesia, malaysia dan burnai darusalam berpendudukan suku dayak , termasuk juga filipina, thailand dan burma ( walau berbeda nama). Selain itu juga suku dayak memiliki hal mistis yang sangat di takuti oleh orang d dunia seperti Pangkalima burung sang kesatria dayak, mandau terbang yang dapat menebas kepala tanpa rasa kasihan, Balian,  Pemanggil arwah untuk penyembuhan dan lain-lain. Suku dayak kian mendunia setelah peristiwa sambas dan sampit yang kini menjadikan suku dayak menjadi salah satu suku yang di takuti di dunia. Terlepas dari hal-hal mistis tersebut, ternyata suku dayak merupakan salah satu suku paling ramah di Indonesia walau Jawa dan Sunda masih menjadi yang paling ramah. Jangan buat orang Dayak mengamuk yaa :)

#3. Maya
Anda pasti sering mendengar suku maya bukan ? Terlebih saat meledaknya kabar kiamat oleh kalender maya , yang menyebabkan suku maya menjadi sangat di kenal oleh dunia. Suku maya merupakan suku yang berada di mexico dan Gautemala. Fakta dari suku maya adalah mereka merupakan suku yang sangat expert dalam bidang perhitungan. Dalam suku maya terdapat orang bijak atau tetua Maya atau Toltec yang memiliki kemampuan yang tinggi di antaranya dia dapat memangil hujan, memiliki kekuatan dalam perang, dan konon kabarnya juga dapat memunculkan matahari dengan melakukan persembahana berupa jantung manusia yang berasal dari suku maya. Entah benar atau tidak, hal itulah yang menyebakan suku maya menjadi suku yang di takuti di Dunia

#4. Gypsi
Suku Gypsi merupakan sebuah suku yang tidak memiliki rumah. Suku ini selalu berpindah-pindah, dan bisa saja suku ini menetap sementara di Indonesia. Gypsi suku yang tidak menyukai pertengkaran dan pertikaian, namun bukan berarti meraka tidak bisa marah. Jika meraka marah bisa saja nyawa yang akan di ambil oleh mereka. Biasanya meraka akan mengeluarkan sebuah mantra yang berbau kematian " Lamia va lua sufletele lor, ?i le pun în locul s?u în cazul în care sufletele nu va fi din nou reîncarnare". Jadi berhati-hatilah, selalu jaga sikap dan perkataan.

#5. Kiyuku
Suku Kikuyu adalah sebuah suku yang berada di dataran afrika. Suku ini di takuti karena Kikuyu Dancer. Kukuyu dancer di percaya mengandung unsur magis yang dapat mengambil nyawa manusia. Di percaya bahwa Kukuryu sebagai santet , ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini dapat menurunkan hujan.

Itulah 5 Suku Paling di Takuti Di Dunia. Menurut Anda di antara kelima suku tersebut , mana yang paling di takuti jika berbicara unsur magis nya ? Coret-coret pendapat anda pada kolom komentar di bawah ini ya :). Tapi saran saya sih tidak perlu kita takut, namun harus tetap menjaga etika dalam berbicara dan tindakan kepada suku-suku tersebut.


Saturday, June 28, 2014

Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014

Adil Ka' Talino Bacuramin Ka' Saruga Basengat Ka' Jubata

Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun 2014 Kabupaten Sanggau, secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat, Cornelis di Rumah Adat Dayak Dori' Mpulur Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau, Kamis (26/6). Peresmian ini di hadiri oleh Bupati Sanggau Paolus Hadi dan Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot dan sejumlah pimpinan Muspida, SKPD dan Muspika Se-Kabupaten Sanggau.

Dalam sambutannya, Cornelis mengaku sedih mendengar perusahaan-perusahaan yang ada di Sanggau hanya menyumbang Rp.10 Juta untuk Gawai Dayak Tersebut. Padahal menurut dia, selama ini para pengusaha tersebut munggunakan tanah Dayak. "Datang dari sana (Jawa) hanya bawa barang dua biji. Dia punya investasi ratusan miliar dari Bank, kenapa dana CSR-nya tidak dikeluarkan untuk membangun mental orang Dayak. Ini adalah pembangunan mental, REVOLUSI MENTAL meroba pola pikir orang Dayak di kabupaten Sanggau ini, kenapa dia takut investasi. Apa dia tidak takut sawitnya disuntik orang Dayak, setiap malam 10 pokok, mampus dia" kata Cornelis.

Oleh karena itu, lanjut Cornelis dirinya meminta orang-orang Dayak yang ada di kabupaten Sanggau jangan lagi menyerahkan tanah-tanah Dayak kepada pengusaha. "Kita di kampung dia usir, Saya bukan provokator, bukan, tapi ini adalah kenyataan" tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama dia mendorong pembangunan daerah yang maju dan terdepan. Secara khusus dia memotivasi agar masyarakat Dayak mampu bersaing dalam segala hal dengan daerah atau provinsi lainnya. Pada acara Gawai Dayak ini juga Cornelis menyumbang uang sebesar Rp.50 juta yang di ambil dari uang operasional gubernur untuk panitia Gawai Adat Dayak 2014.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya mengajak masyarakat Sanggau turut mensukseskan pembangunan daerah. Seperti halnya Sanggau yang mengusung tujuh Brand Image pembangunan yaitu Sanggau Tertib, Sanggau Bersih, Sanggau Sehat, Sanggau Pintar, Sanggau Terang, Sanggau Manjur, Sanggau Budiman.

"Tujuh brand image ini adalah tujuan kita bersama yang harus kita wujudkan, kita harus memiliki keyakinan untuk mewujudkan ini. Tujuan brand image ini akan menjadi ciri dari Sanggau, jadi ketika orang masuk ke Sanggau dia akan mengingat tujuh brand image ini" katanya.

Sementara itu ketua DAD kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menyampaikan, moment Gawai Dayak Nosu Minu Podi merupakan bentuk syukur kepada Tuhan karena telah dilimpahkan rezeki yang bersumber dari alam. Event tahunan yang kerap dilaksanakan pada tanggal 7 bulan 7 ini dikatakannya sedikit bergeser dari rencana. Berdasarkan hasil keputusan bersama Dewan Adat Dayak Se- Kabupaten Sanggau dengan pertimbangan antara lain, pada bulan Juli mendatang Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden dan akhir juni umat Islam akan memasuki bulan puasa.

Gawai Dayak sendiri merupakan tradisi nenek moyang Suku Dayak yang harus dipertahankan dan di kembangkan. Dengan moment Gawai Dayak yang mengusung tema "MElalui Gawai Dayak Nosu Mino Podi kita Dukung Tujuh Brand Image Kebupaten Sanggau" ini, Ontot mengajak masyarakat Dayak untuk melestarikan adat budaya Dayak yang tumbuh dan berkembang agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai Orang Dayak.

Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014

Salam Budaya

Yohansen

sumber : kapuas.co

Monday, June 23, 2014

Jokowi di Rumah Radakng Pontianak

Hari ini kita sebagai Masyarakat Dayak merasa sangat terhormat dengan kehadiran Calon Presiden No.2 Jokowi di Rumah Radakng (Betang) Pontianak paling tidak suara kita juga diperhitungkan dalam pemilihan presiden 2014.

Capres Joko Widodo berkampanye di depan ribuan pendukungnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung soal masalah perbatasan.

"Di Kalimantan Barat ini berbatasan dengan Serawak ya? Nanti pemerintah pusat bekerja sama dengan gubernur akan kita bangun perbatasan agar tidak kalah dengan Malaysia, tidak kalah dengan Serawak," kata Jokowi saat berkampanye di Rumah Adat Radakng, Kota Pontianak, Kalbar, Senin (23/6/2014).

"Wajah saya ndeso, tapi otaknya internasional," imbuh Jokowi yang disambut riuh pendukungnya.

Sebelumnya saat tiba di lokasi, Jokowi yang mengenakan kemeja kotak-kotak dipakaikan topi kebesaran adat Topi Enggang. Wujud topi itu menyerupai paruh burung lengkap dengan bulu-bulunya.

Selain itu, Jokowi juga disambut oleh Gubernur Kalbar Cornelis serta Tarian Penyambutan Suku Dayak, Tarian Ngajat.

Kami sebagai Admin Cerita Dayak sangat mengapresiasikan kunjungan Jokowi di Rumah Radakng Pontianak untuk meminta dukungan sebagai calon presiden 2014-2019 kepada Masyarakat Dayak.

Mengenai pilihan Cerita Dayak tetap netral. Siap pun yang terpilih  menjadi pemimpin bangsa ini kita berharap ada perubahan yang lebih baik bagi Borneo.


Salam Budaya


Yohansen Borneo

Sumber : detik.com

Sunday, June 22, 2014

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.


Adil ka’ talino bacuramin ka’ saruga basengat ka’Jubata.

Posisi Akademisi dalam Pilpres
Bola panas menjelang Pemilihan Presiden sudah di mulai. Setidaknya ada dua pasangan calon capres dan cawapres yang akan bertarung pada tanggal 9 Juli 2014. Pertarungan ini semakin memanas dengan bergabungnya akademisi yang secara tiba-tiba menjadi juru kampanye kedua pasangan tersebut. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam perilaku tersebut. Dalam sebuah negara demokrasi setiap individu memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Hanya saja sangat disayangkan, seorang akademisi yang diharapkan dapat memberikan analisis kritis dan berimbang, kini telah terkotak-kotak membela kepentingan golongan.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti alasan apa yang melatarbelakangi para akademisi menjadi jurkam para kandidat selain diri mereka sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang pasti, semua kalangan berharap bahwa semakin banyaknya akademisi dalam dunia politik praktis akan memberikan pendidikan politik yang semakin cerdas dan bukan sebaliknya, membuat kegaduhan dengan mencari-cari legitimasi untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.

Posisi akademisi dalam sebuah partai atau dukungan politik itu sangat penting. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tim ahli dan perumus program-program yang dianggap relevan dengan menggunakan hasil riset tetapi juga untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang dituduhkan kepada pasangan yang didukungnya. Pada saat seperti inilah sejatinya para akademisi diuji idealitasnya antara membela kebenaran atau membela kepentingan.

Saat ini setidaknya ada dua kubu akademisi yang bertarung pada arena politik. Kubu Mahfud MD yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta dan kubu Anis Baswedan yang mendukung pasangan Jokowi-JK. Dengan melihat kapasitas intelektual yang dimiliki, tentu tidak diragukan lagi. Akan tetapi, benarkah kapasitas intelektual semata akan menjamin seseorang bersikap obyektif atau dapat juga terjebak dalam pragmatisme?

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.
Semakin menarik melihat euforia demokrasi Indonesia menjelang Pemilu Presiden ini, khususnya di kalangan anak muda. Mungkin benar jika Pemilu adalah pesta rakyat. Di orde baru, awal reformasi kehebohan menyambut pemilihan presiden boleh dibilang cuma terjadi di kalangan para politisi. Sekarang sangat berbeda, lihat saja di media massa, media sosial anak-anak muda berpartisipasi mendukung habis-habisan pasangan calon presiden dengan menyampaikan beragam opini dan kreatifitas melalui design gambar untuk mempromosi maupun menangkis serangan-serangan lawan.
Sebagai anak muda saya pun tidak ingin melewatkan pesta demokrasi ini dengan cuma berdiam diri saja, tentunya dengan mendukung salah satu calon yang di anggap paling tepat untuk memimpin bangsa ini. Namun terlepas dari masalah Pemilihan Presiden, ada beberapa catatan sejarah politik yang pernah di lakukan oleh Suku Dayak dilihat dari teropong sejarah.

Dalam bukunya ”Kalimantan Membangun”, Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional RI dari suku Dayak Kalimantan mengungkapkan bahwa Suku Dayak di Kalimantan juga memainkan peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Riwut, yang mantan Gubernur pertama Kalimantan Tengah ini mencatat bahwa pergerakan nasional modern dari pulau Kalimantan sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928, Tahun 1919 berdirinya Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Namun, gerakan Dayak untuk bebas dari penindasan baik yang dilakukan kerajaan feodal maupun penjajah Belanda semakin menguat dari tahun ketahun diseluruh Kalimantan. Pada tahun 1941 misalnya, sejumlah tokoh Dayak dalam suatu retret guru agama katolik di Nyarumkop Kalimantan Barat bersepakat untuk meningkatkan dan memperjuangkan nasib orang Dayak melalui perjuangan politik. Kesepakatan itu merupakan salah satu inisiatif JC Oevaang Oeray, siswa seminari yang menulis surat kepada peserta retret. Oleh AF Korak, JR Giling dan MT Djaman, berhasil dicetuskan kebulatan tekad untuk berjuang secara politik. 4 tahun setelah kesepakatan itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1945, F.J Palaunsoeka, guru sekolah rakyat di Puttusibau dan kawan-kawannya mendirikan Dayak In Action (DIA) dengan moderator seorang pastor Jawa bernama Adi Karjana SJ. Karena perkembangan situasi politik saat itu, pada tanggal 1 Nopember 1945, DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD) dengan ketua umum pertamanya F.J Palaoensoeka. Disetiap kampung dibentuk Komisariat yang sejajar dengan Dewan Pimpinan Cabang. Momentum gerakan politik melalui PD kemudian mendapat tempat dengan diubahnya karesidenan Kalbar menjadi Daerah Istimewa Kalbar pada tanggal 12 Mei 1947. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Sejarah mencatat, perjuangan politik orang Dayak ternyata tidak hanya berjuang secara diplomatic, tetapi ada juga yang berjuang senjata. Pada tahun 1943 diproklamasikan sebuah Negara Dayak bernama Negara Madjang Desa. Pang Suma menjabat sebagai perdana menteri, yang dibantu oleh Pang Linggan, dan kawan-kawannya. Gerakan Pang Suma menyihir para aktivis muda Dayak untuk bergabung dinegara yang baru terbentuk ini, termasuk sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup ketika beberapa kali pecah pertempuran melawan pemerintah Hindia Belanda. Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu diantara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma. Di Sidas, Mane Pak Kasih, asal Kampung Pancur Sengah Temila bertempur dengan tentara NICA di Jembatan Sidas. Bersama rombongannya, Mane Pak Kasih gugur, membela kemerdekaan yang sudah diraih. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Sidas. Mengapa pejuang-pejuang itu gagal ? Salah satu sebab utama kegagalan tersebut adalah ketidakmampuan Dayak radikal dalam mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan potensial rakyat Dayak secara umum, sehingga mereka tak memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi serangan aparat militer Jepang.

Sebagaimana dicatat para penulis Eropah, pada masa sebelum dan selama masa kolonial, Kalbar merupakan daerah yang terdiri dari banyak kesultanan. Kendati saling bersaing, semua sultan adalah Melayu dan memperoleh dukungan dari pemerintah Belanda & Jepang. Dayak adalah rakyat yang menjadi subyek kekuasaan Melayu. Cina merupakan kelompok etnik yang walaupun juga berada dalam kekuasaan Melayu, namun mereka berusaha mengembangkan otonomi tersendiri & relatif eksklusif. Konfigurasi sosial semacam itu terus bertahan hingga beberapa peristiwa penting terjadi di penghujung masa kolonialisme dan masa kemerdekaan. Pemerintah Belanda & misionaris memberikan kesempatan pendidikan yang besar, dan secara sadar atau tidak, ikut membentuk identitas etnik kepada Dayak. Dalam batas tertentu, pemerintah dan misionaris juga membuka kesempatan pendidikan yang besar kepada Cina. Tragedi pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor membuat Melayu kehilangan banyak sumberdaya manusia yang berkualitas. Dan karena sikap yang cenderung pro Belanda pada masa awal kemerdekaan, membuat Melayu pada akhirnya kehilangan peluang untuk menguasai birokrasi pemerintahan pada masa Orde Lama. Sejumlah Dayak berhasil memanfaatkan situasi ini, setelah berhasil mengkosolidasi kekuatannya, mereka mendirikan partai politik dan menang dalam pemilu 1955 dan 1958. Hal ini kemudian mengantarkan Dayak untuk menempati posisi sebagai kelompok etnik yang berkuasa. Satu orang menjadi gubernur, dan 4 di antaranya menjadi bupati serta beberapa mengisi jabatan-jabatan prestisius lainnya. Singkatnya, Dayak naik ke kursi kekuasaan, menggantikan kelompok etnik yang dulu mereka anggap sebagai penjajahnya.

Kemerdekaan dan politik luar negeri Indonesia di masa Orde Lama, membuat Cina menjadi lebih berkembang. Mereka bukan hanya menguasai ekonomi, melainkan juga mulai masuk dan berperan dalam bidang sosial-politik. Tidak lama Dayak menguasai birokrasi pemerintahan. Seiring dengan pergantian rezim dan perubahan politik luar-negeri Indonesia, pemerintah pusat membatasi aktivitas tokoh Dayak dalam politik dan pemerintahan, dan menggantikannya dengan pejabat militer yang berasal dari Jawa. Dayak berusaha mengadakan koptasi, namun gagal.

Peralihan Orde Lama ke Orde Baru merupakan masa yang paling menyakitkan bagi Cina. Mereka bukan hanya kehilangan posisinya secara ekonomi dan politik, melainkan juga harus kehilangan materi dan nyawa. Kelompok etnik yang relatif beruntung adalah Melayu dan Madura. Belajar dari sejarah, secara perlahan Melayu berhasil kembali menguasai birokrasi tingkat menengah ke bawah. Kendati perannya secara politik tidak besar, Madura berhasil memperbaiki posisinya sedemikian sehingga pemerintah, militer, dan parpol terpaksa harus memperhatikan kepentingannya dalam beberapa urusan tertentu. Puncaknya adalah terpilihnya seorang militer Madura menjadi bupati di kabupaten Sanggau.

Orde Baru adalah masa kontemplasi dan konsolidasi bagi Dayak. Dalam masa panjang itu, mereka berusaha semakin menguatkan identitas etnik mereka dengan mengontraskan perbedaan antara Dayak dengan Melayu. Mereka mengidetifikasi dirinya sebagai Kristen, penduduk asli, mayoritas, namun dijajah oleh Melayu yang mereka anggap sebagai Islam, pendatang dan minoritas. Mereka mendirikan berbagai organisasi sosial-politik dan ekonomi yang berusaha memberdayakan kelompok etniknya. Beberapa belas tahun kemudian, pemberdayaan tersebut berhasil mentransformasikan dirinya sebagai suatu gerakan politik.

Posisi Dayak pada Pemilihan Presiden 2014.
Hingar bingar Pemilihan Presiden 2014 sudah telah menyita perhatian banyak kalangan dari tukang becak sampai kalangan elit. Tidak terkecuali dengan kalangan intelektual Suku Dayak, seolah tidak ingin melewatkan moment ini, beragam dukungan pun diberikan kepada masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.1 Prabowo Hatta mendapat dukungan dari  Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah (LM-MDD-KT) deklarasikan ini dilakukan di Rumah Polonia, Jakarta Timur pada tanggal 20 Juni 2014 Prof. KMA M Usop selaku Ketua Presidium LM-MDD-KT menghadiri langsung acara deklarasi tersebut.

Sementara itu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla mendapat dukungan dari Forum Dayak Kalbar Jakarta (FDKJ) keputusan ini di ambil dari hasil rapat bersama tgl 29 Mei 2014 di Cijantung. Deklarasi terhadap pasangan calon Presiden No.2 ini pun dilakukan pada tanggal 30 Mei 2014 di Jln Sisingamangaraja yang dipimpin langsung oleh Ketua FDKJ Bapak Nikodemus Sabudin.

Pasangan Calon Presiden dan Wakli Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla Juga mendapat dukung dari Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) melalui surat edaran NO.20/MADN/VI/2014 Pada tanggal 5 Juni 2014. Yang di tujukan kepada seluruh pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Seluruh Kalimantan. MADN mengajak masyarakat Adat Dayak untuk berpartisipasi dan melakukan pengawasan terhadap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tanggal 9 Juli 2014. Dalam surat tersebut juga Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memberikan dukungan terhadap pasangan calon presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Selain dukungan yang diberikan secara langsung melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan, dukungan secara individual pun tidak kalah serunya. Tidak heran kalau akhir-akhir ini muncul para pengamat politik dadakan dari kalangan Anak Muda Dayak. Mereka pun menyebut dirinya sebagai Relawan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Para Relawan ini bertugas untuk mempromosikan program-program pasangan yang didukungnya melalui media sosial. Mereka juga bertugas untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang alamatkan kepada pasangan yang didukungnya. Tidak jarang pada saat tertentu mereka saling serang, seolah-olah tidak kenal lagi persahabatan apabila berbeda pilihan main libas. Bahkan ada yang sampai adu urat saraf sakin cintanya kepada pasangan yang didukungnya.

Terlepas dari semua perbedaan diatas, yang perlu kita sadari adalah dalam suasana demokrasi persaingan serta perbedaan pendapat dalam memilih merupakan suatu yang wajar. Namun demokrasi juga tidak pernah membenarkan adanya bentrokan atau konflik adalah bagian darinya. Karena itu masyarakat Dayak yang terlibat dalam kampanye harus didasari bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari partisipasi politik yang dilakukanya dengan sukarela dalam menentukan pemilihan pemimpin bangsa. Siapa pun yang akan terpilih kita berharap presiden yang akan memimpin kita bisa membawa perubahan yang lebih baik dari sekarang.

Sebagai Masyarakat Dayak tentunya kita ingin diperhatikan oleh pemerintah terutama pembangunan sumber daya manusia dan Infrastruktur yang memadai di tanah Borneo. Kita tidak ingin lagi melihat jalan-jalan yang kita lewati seperti KUBANGAN atau seperti sawah yang habis di bajak. Pembanguan Infrastruktur sudah sangat mendesak, keseriusan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut sangat kita harapkan. Teman-teman mari kita sambut calon pemimpin baru negeri ini dengan penuh harapan, tanggal 9 Juli 2014 saatnya kita memilih, pilihlah pemimpin yang TEPAT, pilihlah pemimpin yang BERSIH, pilihlah pemimpin yang mau MELAYANI bukan diLAYANI, pilihlah pemimpin yang mau MENDENGAR suara rakyatnya.

Salam Budaya

Yohansen Borneo
Admin Cerita Dayak


Sumber :
-              www.ceritadayak.com
-              www.wikipedia.com
-              www.asosokbakati.blogspot.com
-              Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan - Karya Tjilik Riwut

Wednesday, May 2, 2012

Manfaat Rehabilitasi Mangrove di Kalbar mulai Dirasakan Warga

Manfaat Rehabilitasi Mangrove di Kalbar mulai Dirasakan Warga
Mangrove--ANTARA/Rosa Panggabean/bb
Penulis : Aris Munandar


REHABILITASI mangrove di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mulai membuahkan hasil. Warga setempat kini bisa memanen tengkuyung saat musim pasang laut. 

"Setiap hari ada 2-3 kilogram tengkuyung yang di panen warga saat air pasang," kata Idham,35, warga Karimunting, Selasa (1/5). 

Biota laut sejenis kerang ini hanya sebagian kecil dari manfaat yang dirasakan warga sejak kawasan mangrove direhabilitasi. Manfaat lainnya, warga kini bisa merasakan hidup tenang karena pemukiman mereka aman dari ancaman abrasi dan terjangan angin serta ombak laut. 

"Mangrove bisa menahan hembusan angin laut yang kencang," ujar Idham. 

Rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Kecamatan Sungai Raya Kepulauan ini dilakukan berbagai kalangan sejak 2009. Upaya itu dilakukan karena degradasi mangrove di jalur Pontianak-Singkawang tersebut sangat mengkhawatirkan. 

"Hampir seluruh mangrove yang kami tanam bersama teman-teman LSM dan Polisi Perairan Kalbar pada 2009, tumbuh sempurna. Ketinggian poho rata-rata 4-5 meter," kata staf Program Kelautan WWF-Indonesia Dwi Suprapti. 

Dia menjelaskan mangrove berfungsi sebagai kawasan penyangga dan pelindung pantai dari abrasi, erosi, dan pendangkalan serta terjangan badai. Selain itu, mangrove menyaring air laut ke daratan dan menetralisasi cairan limbah beracun. 

"Mangrove juga menjadi penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, sumber pakan bagi plankton dan biota laut lainnya serta unggas," jelas dokter hewan tersebut. (AR/OL-3)


sumber : http://www.mediaindonesia.com

Saturday, April 28, 2012

"Credit Union : Kendaraan Menuju Kemakmuran"

Segera dapatkan buku
"Credit Union : Kendaraan Menuju Kemakmuran"

Penulis :
1. Munaldus (Penggagas, pendiri dan Ketua CU.Keling Kumang & Ketua Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa, Pontianak)
2. Yuspita Karlena (Manager Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa, Pontianak)
3. Yohanes RJ (General Manager CU.Keling Kumang)
4. B.Hendi Candra (General Manager CU. Semandang Jaya)
5. Saniansah (General Manager CU.Banuri Harapan Kita)

Editor : A.M. Lilik Agung
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

"Pendirian Credit Union (CU) bermula dari kesetiakawanan sebagai anggota kelompok sosial, terutama dari kalangan masyarakat kelas bawah.
CU telah merebut hati masyarakat. Malah, sekarang CU telah menjadi milik semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat akar rumput hingga ke masyarakat kelas atas. (dikutib dari kata sambutan Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap. Uskup Agung Pontianak)"

"... Pelayanan keuangan yang disediakan oleh Credit Union telah dimanfaatkan dengan baik oleh anggota yang setia ber-CU. Mereka rela memberi dulu baru menerima, rela berkorban dulu baru mendapatkan hasil. Tidak ada jalan pintas. Seperti para petani berladang, untuk mendapatkan hasil panen yang berlimpah, harus mulai dengan menentukan lahan pertanian, menebas, mengolah, menyemai, menanam, menyiangi, mengairi dan barulah memanen. sebuah proses yang panjang, tekad bulat, kesabaran dan kedisiplinan. (dikutib dari kata sambutan tim penulis)"

"..CU sekarang menjadi salah satu lembaga yang sangat terbukti membantu meningkatkan perekonomian masyarakat mengengah kebawah khusunya masyarakat Dayak. Saat ini kehidupan masyrakat Dayak sangat tergantung dengan Credit Union, karena dengan ber-CU masyarakat Dayak bisa meningkatkan perekonomian sedikit demi sekidit untuk mencapai kebebasan finansial" (Bonny Bulang admin Cerita Dayak)

Untuk pemesanan buku ini bisa menghubungi kami di
Bonny Bulang 0889653111113 atau dapat dibeli di toko buku Gramedia

Friday, January 27, 2012

Mengenal dan Memahami Sejarah asal usul suku Dayak Siang di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah

 Oleh Thomas Wanly
Mengenal dan Memahami Sejarah  asal usul suku  Dayak Siang
di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah

            Dalam kesusasteraan suku Dayak Kalimantan Tengah ,di mana  orang Dayak sangat percaya bahwa  suku-suku yang dikalimantan itu dicipta langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa yang dalam bahasa Sangiang orang Dayak yang masih mempertahankan keyakinan leluhurnya dengan ketat yaitu agama Kaharingan; dan sang pencipta itu di kenal dengan nama Ranying Hattala Langit Panganteran Bulan Raja Tuntung Matanandau (Raja dari segala Raja yang berkuasa atas Bulan dan Matahari) yang tinggal di lewu tatau habaras bulau habusung hintan(kampong kebahagiaan yang berlimpahkan emas permata ;kampong yang kekal tanpa ada penderitaan);Marko Mahin ;menyelami Kaharingan.
            Dari manusia-manusia yang mendalami pulau Kalimantan saat ini ,di yakini  bahwa orang Dayak itu keturunan raja telu yaitu keturunan Maharaja Bunu,Maharaja Sangen dan MaharajaSangiang yang mana dalam penitisan langsung dari Tuhan Yang Maha Esa . asal-usul Suku Dayak, meskipun masih terlihat adanya perbedaan-perbedaan pendapat. Akan tetapi, bagi penganut Agama Hindu Kaharingan yang dikemukakan oleh Riwut (1993; 2003), sesuai Tetek Tatum, orang Dayak berasal dari langit ketujuh yang diturunkan ke bumi dengan menggunakan Palangka Bulau oleh Ranying Hatalla langit di empat tempat, yaitu:
(1) di Tantan Puruk Pamatuan, yang terletak di hulu Sungai Kahayan dan Barito,
(2) di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting, yang terletak di sekitar Bukit  Raya,
(3) di Datah Tangkasing hulu Sungai Malahui, yang terletak di daerah Kalimantan Barat, dan
 (4) di Puruk Kambang Tanah Siang, yang terletak di hulu Sungai Barito.

           Bagi orang Dayak, makna hidup tidak terletak dalam kesejahteraan, realitas, atau objektivitas seperti dipahami oleh manusia modern, tetapi dalam keseimbangan kosmos. Kehidupan itu baik apabila kosmos tetap berada dalam keseimbangan dan keserasian. Setiap bagian dari kosmos itu, termasuk manusia dan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban memelihara keseimbangan semesta. Peristiwa-peristiwa mistis bagi orang Dayak adalah realitas transcendental, artinya objektivitas mistis jelas ada pada lingkungan hidup, flora, fauna, air, bumi, udara dan sebagainya, dimana makna religi dari lingkungan sekitar ini dilihat baik dari segi objektif maupun subjektifnya (Ukur, 1994).

Bahwa kehidupan suku-suku Dayak sejak jaman dulu telah diwariskan kepada generasi ke generasi dengan memelihara suatu hubungan pertalian kekeluargaan yang menggambarkan adanya hubungan yang tidak terputus tentang asal usul seseorang dengan alam, dimana dalam pergaulan kehidupan sehari-harinya bersikap dan bertindak sebagai satu 
kesatuan baik dalam hubungannya dengan alam kebendaan (natural) maupun alam sekeliling yang tidak kelihatan (supra natural).
Di sekitar dan di dalam Kawasan wilayah atau daerah yang di tetapkan sebagai wilayah orang Dayak Siang  diyakini masih terdapat banyak daerah-daerah yang dapat menopang kehidupan mereka baik secara fisik dan rohani, oleh karena itu sering dijumpai ekspresi permohonan keselamatan dan kesejahteraan hidup yang diwujudkan dengan sesaji-sesaji pada dan di sekitar pohon-pohon besar dan lingkungan yang agak spesifik yang merupakan simbol-simbol kehidupan masyarakat Dayak.
            Dalam penitisannya manusia pertama di namakan Antang Bajela Bulau, seiring masa dan waktu dari sejarah tetek tatum (zaman masa ratap tangis) yaitu zaman manusia sekarang yang hidup utidak pernah jujur pada dirinya sendiri apa lagi pada alam ,lingkungan yang menopang kehidupanya,dan  oleh pengaruh budaya budaya luar yang tidak semestinya di konsumsi malah membuat  jebakan sendiri atas budaya uang tunai yang menyebabkan hilangnya memori social mereka di mana zaman dulu orang partisipativ (pilar-pilar Budaya Rumah Betang) / Thomas Wanly;Identitas Masyarakat Adat Dayak yang terkoyak ,hingga budaya konsumtip itu menjadi sebuah budaya baru yang sulit di hilangkan lagi.
          Dayak siang adalah sub etnis suku dayak yang sebarannya di Kalimantan tengah yaitu antara kecamatan Laung Tuhup,Barito Tuhup Raya ,Murung dan Tanah Siang atau di daerah Puruk Cahu dan sungai Laung dan sungai Bomban juga di sungai Babuat.
           Menurut  sejarah Dayak siang merupakan salah satu suku yang di turunkan oleh Ranying Hattala Langit di Puruk Kambang Tanah Siang sekitar wilayah desa Oreng Kecamatan Tanah Siang Selatan,kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah yang diturunkan dengan Palangka Bulau. Dayak siang sebenarnya ada dua yaitu Siang dan Murung; dimana yang Murung kebanyakan yang mendiami daerah pinggiran sungai Berito dan sungai Bomban, dan Yang siang nya tersebar di tanah Siang,sungai Laung, dan sungai Babuat.
           Dayak Siang pertmana kali lahir di lowu Korong Pinang dari pasangan suami –istri Langkit  (suami)dan Mongei(istri) lama kelamaan Orang Siang dan Murung juga berkembang di Lowu Tomolum (desa Tamorum sekarang)yang juga merupakan tempat atau perkampungan para Sangiang atau para dewa yang luhur dan suci.
Lowu Korong pinang dan lowu Tamolum adalah dua lowu (kampong)yang bergaul sangat akrap dan mempunyai komonikasi budaya dan adat istiadat yang sangat berkembang dan beragam.Dan ada seorang Turunan dari Langkit dan Mongai yang bernama Tingang Ontah yang diambil oleh Dewa Dalung serta dibawa kelangit untuk belajar hukum adat,yang  sekarang diberlakukan dan ditaati oleh seluruh turunan Dayak Siang, yang mana inti dari  ajaran nya yang terutama bagai mana hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya  untuk menyelamatkan tempat-tempat yang secara adat dilindungi/tidak boleh diganggu, seperti: Tajahan/Pahewan, Kaleka, Sepan dan lain sebagainya, serta konservasi kawasan ini juga akan dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan prinsip-prinsip predikat Manusia Garing dan Manusia Tingang, dimana Manusia Garing dan manusia Tingang tersebut menurut (Ilon, 1990/1991) merupakan manusia yang bertugas selaku pengurus lingkungan dalam Garis-garis Besar Belom Bahadat (Norma Kesopanan) terhadap unsur flora, seperti: Ma`ancak, Manumbal/Manyanggar, dan sebagainya, serta terhadap unsur fauna, seperti:Mampun/Mahanjean, Ngariau/Ngaruhei, dan lain-lain yang menyangkut ritual budaya seperti Tiwah dan lain sebagainya. Dijelaskan lebih jauh, selaku pengurus lingkungan hidup (bukan penguasa), maka manusia mengurusi 5 (lima) unsur yang terdiri dari: unsur flora, fauna, sesama manusia, para arwah dan roh-roh gaib, dimana makhluk manusia, terdiri dari tiga unsur, yaitu: (jiwa/sukma bereng (jasad), hambaruan) dan salumpuk (roh). Oleh karena manusia mengurus ke-ima unsur tersebut, maka prinsip pelayanan sebagai wujud kesopanan, memerlukan ruang dan waktu yang tepat dan sesuai
         Dan ada seorang tokoh yang bernama Cahawung terjatuh Ponyangnya (Jimat)diatas yang berada di hulu sungai Tingon (anak sugai Bantian) yang mana bukit tersebut di namakan Puruk Batun Ponyang.Ditempat yang sama ada kejadian yang menimpa seorang Dewa bernama Oling,ia terluka tangannya terkena Mandau (senjata khas Dayak/ besi buatan manusia) dan darahnya tak bisa berhenti keluar,lalu genangan darahnya berubah menjadi Lawang (danau) yang sekarang disebutLawang Kelami,yang letaknya antara Desa Tomolum dan desa Mongkolisoi.Hal tersebut menyebabkan para dewa–dewi yang yang mendiami desa Tomolum pindah k eke lowu Uut Sungoiyang di namakan Sungoi Cahai Langit.Smpai sekarang masih adabukti yaitu sebuah bukit yang dinamakan Keleng Lunjan yang dapat dilihat di Lowu Tokung di bukit Tokung ini bila di gali tanahnya akan ditemukan pecahan –pecahan guci.
Lowu Korong Pinang kemudian berkembang dan berpindah ke Lowu Dirung Jumpun,dari sini berpindah lagi ke LOwu Pina Lunuk atau Lowu Olung Owuh,pindah lagi ke Lowu Olung Mohoikemudian pindah lagi ke lowu Bangan Tawan, Adapun lowu Tomolum juga mengalami beberapa kali perpindahan yaitu ke Lowu Lawang Ulit Bakoi,Siwo,lalu ke Lowu Haju,lalu ke Datah Lahung,lowu Kalang Sisu,lowu Kuhung Apat,dan likun Puan dan kembali lagi ke Datah lahung.
         Kata-kata Dayak “SIANG’ berasal dari sejarah yang berawal di Sungai Mantiat .Dihulusungai ini ada sebuah pohon yang dibri nama “SIANG” dan kayu ini kemudian tua rebah dan lapuk dan bekas tumbangnya pohon ini kemudian menjadi aliran sungai yang mengalir kesungai Mantiat Pari di desa Mantiat Pari sekarang. Orang yang hidup di Lowu Korong Pinang menggunakan air sungai yang berasal dari pohon siang ini,mereka ini kemudian di sebut Dayak Siang.Suku Dayak Siang ini kemudian berkembang membentuk beberapa perkampungan baru dan berpencar di beberapa tempat hingga sekarang ini.sedangkan kampong atau Lowu sejarah asal usul mereka adalah Lowu Tomolum  yang ada sampai sekarang atau desa Tambelum ,Desa ini ada jauh sebelum zaman Belanda  dan sebelum adanya Negara Republik Indonesia ini. Tapi apa yang sebenarnya kita anggap sebagai Tanah Keabadian sejak masuknya  investasi atas nama pembangunan, daerah-daerah ini yang kita anggap sacral dan lambang jiwa manusia Dayak telah di hancurkan oleh kapitalis  yang mana kawasan tersebut yang melimpah akan emas nya telah menjadi kubangan-kubangan raksasa dan tempat pembuangan tailing zat-zat beracun oleh PT.INDOMORO KENCANA STRAIT , PT.ANTANG MURA PERKASA  dan para Pengusaha Group Broken Hill Property Billiton , yang juga Grup  Gunung Bayan Reseurcys yang perlahan tapi pasti akan membunuh orang –orang dayak Siang  selain Tanah dan sumber-sumber kehidupan yang bergantung pada alam dan hutan di rampas atas nama kebijakan investasi pembangunan.

Puruk Cahu ,Desember 2011
Penulis Thomas Wanly 
(dari berbagai sumber dan observasi.)

Wednesday, January 11, 2012

Menyumpit Prestasi Menjaga Tradisi

Menyumpit Bagi Suku Dayak--MI/
Aries Munandar/cs
(www.mediaindonesia.com)
Bagi suku Dayak, sumpit merupakan salah satu warisan alat berburu yang masih dilestarikan sampai sekarang. Kini, menyumpit pun digemari kalangan atas.

Lelaki berpakaian adat Dayak Salako berdiri di barisan penonton di pinggir lapangan. Pakaian yang berbahan kulit kayu itu berhiaskan bulu landak serta taring babi hutan.

Sebilah sumpit setinggi 2 meter di genggaman tangan kanan menambah eksentrik penampilannya. Lelaki itu berulang kali mengalihkan perhatiannya dari arena pertandingan sumpit karena harus meladeni pertanyaan dan permintaan berfoto dari pengunjung. Semua permintaan itu dilayaninya dengan ramah.

''Saya datang dari Sambas dan menunggu giliran untuk bertanding,'' kata Lasius Belam, 60, sambil tersenyum. Pesumpit senior itu salah satu peserta International Borneo Sumpit Tournament yang digelar di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tahun lalu. Turnamen itu diikuti 216 pesumpit dari seluruh Kalimantan termasuk Serawak, Malaysia, yang mengutus 25 atlet.

Lasius baru sekitar empat tahun menekuni olahraga tradisional itu. Salah satu prestasi terbaiknya ialah meraih peringkat III dalam kejuaraan sumpit se-Kalimantan Barat pada Festival Budaya Bumi Khatulistiwa di Pontianak, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, menyumpit bukan hal asing bagi pensiunan pegawai negeri sipil itu. Ia sudah mengenal tradisi menyumpit sejak kecil. Aktivitas itu semakin sering dilakukannya saat bertugas di pedalaman Ketapang dan Sambas.

Di saat senggang, Lasius kerap berburu rusa dan babi hutan bersama warga setempat. Mereka bisa seharian berada di hutan untuk mencari hewan buruan. Hasil buruan itu kemudian dibagi rata ke seluruh anggota kelompok.

''Kami biasa sampai naik (memanjat) pohon saat menyumpit agar tidak kelihatan oleh binatang buruan,'' kenang mantan petugas kesehatan itu.

Kini dia sudah jarang berburu. Ia mengalihkan kegemaran menyumpit ke arena olahraga. Lelaki berperawakan sedang tersebut berlatih setiap hari dengan membidik sasaran sejauh 30 meter.

Ia juga merekrut beberapa generasi muda di Sambas untuk dilatih sebagai atlet sumpit. Para atlet binaannya itu di antaranya masih berusia anak-anak. Mereka juga ikut meramaikan turnamen di Singkawang.

''Sebelumnya ada empat anak, tapi sekarang tinggal dua anak yang kami latih. Sulit mencari bibit muda untuk olahraga sumpit,'' ujar Lasius.

Standar dunia
International Borneo Sumpit Tournament merupakan kejuaraan sumpit Kalimantan pertama yang berskala internasional. Kompetisi yang berlangsung beberapa waktu lalu itu mempertandingkan delapan kategori untuk kelompok putra dan putri. Di antaranya kelas 20 meter dan 30 meter dengan posisi berdiri dan jongkok.

Kejuaraan yang berlangsung di halaman mes Pemerintah Kota Singkawang itu menjadi ajang pembinaan atlet sekaligus pelestarian tradisi dan promosi pariwisata.

''Kami mencoba mengangkat potensi budaya lokal supaya bisa 'dijual' sebagai objek pariwisata ke mancanegara,'' kata Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Faried, yang membuka secara resmi turnamen tersebut.

Penyelenggaraan turnamen itu menghasilkan beberapa catatan penting bagi perkembangan olahraga sumpit. Para kontingen menyepakati penyeragaman aturan dan kategori pertandingan serta standar peralatan yang digunakan.

Olahraga sumpit selama ini memang belum memiliki aturan dan standar baku. Kendati secara umum aturan dan peralatan yang digunakan relatif sama, beberapa daerah memiliki ketentuan dan kebiasaan tersendiri.

''Di Malaysia belum ada (kategori) jongkok. Kalau bisa, kami juga akan ubah sehingga selain berdiri, menyumpit juga dilakukan berjongkok,'' kata pemimpin kontingen Serawak Anthony Banyan.

Para pemain dan pelatih menyetujui pembakuan aturan main yang selama ini sudah disepakati secara informal. Di antaranya jarak target sumpitan sejauh 30 meter untuk putra dan 20 meter untuk putri.

Penyeragaman aturan itu dianggap penting untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme atlet. Di samping menaikkan gengsi sumpit di pentas internasional sehingga sejajar dengan cabang olahraga lainnya.

''Turnamen ini menjadi momentum kebangkitan sumpit menuju pentas internasional. Ini bisa menjadi ajang promosi pariwisata ke mancanegara,'' jelas Sekretaris Daerah Kota Singkawang Syech Bandar.

Olahraga elite
Olahraga sumpit dikenal luas dan begitu memasyarakat di Malaysia. Berbagai turnamen kerap digelar di negara bekas jajahan Inggris tersebut, mulai tingkat kampung hingga nasional.

Menyumpit bahkan telah menjadi gaya hidup warga kelas menengah ke atas di Serawak, selayaknya golf dan tenis di Indonesia. Mereka biasanya berkumpul di setiap akhir pekan untuk menyumpit bersama di lapangan. Mereka rela merogoh kocek dalam jumlah besar untuk memiliki beberapa set sumpit dan memainkannya.

Sebagai gambaran, harga sebilah laras sumpit di Kalimantan Barat rata-rata Rp2 juta. Nilai itu belum termasuk satu set anak sumpit atau damak, yang harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Anthony, Wakil Presiden I Perhimpunan Nasional Dayak Serawak, berujar, setiap keluarga di Serawak pasti menyimpan minimal satu sumpit. ''Karena ini identitas orang Dayak.''Identitas itu yang terus dilestarikan Malaysia dan menjadi atraksi wisata andalan di Serawak. (N-3)

Aries Munandar, aris@mediaindonesia.com 

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Wednesday, August 10, 2011

Mereka Belajar di Bawah Atap Sagu


13103671581039606068

Suasana di ruang belajar. Foto by Farida.

BERATAP rajutan daun sagu, tanpa lantai alias langsung menjejak tanah, berdinding bambu dan papan seadanya, begitulah kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 30 di Kampung Tahak. Kampung ini tidak ditemukan dalam peta.

Letaknya lebih dari 200 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Kota Pontianak. Tapi keceriaan dan keriangan para siswa berseragam putih-merah itu tetap mewarnai hari-hari belajar di ruangan darurat itu.

Seorang guru kontrak yang mengajar di sekolah itu, Farida (25), menuturkan, hanya ada satu ruangan kelas untuk lima rombongan belajar. Sampai saat ini “bangunan sekolah” masih satu lokal itu saja.

“Pada bulan Maret yang lalu, melalui swadaya warga kampung dan orangtua murid, bangunan darurat ini berhasil didirikan,” ujar Farida, Senin (11/7/11).

Kampung Tahak di Balai Pinang, merupakan bagian dari Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Jarak ibu kota kabupaten lebih dari 300 kilometer melalui jalan darat trans Kalimantan, yang tambal sulam antara aspal dengan jalan tanah.

Sebelumnya, para siswa belajar di bawah “bangunan seadanya”, berupa tiang kayu bulat beratapkan dedaunan yang disusun rapat. Tanpa dinding, apalagi lantai. Langsung menjejak tanah.

13103672301108957911

Dulunya tak berdinding. Foto by Farida.

Melihat minat belajar siswa yang tinggi, warga kampung dan para orangtua murid tak tinggal diam. Mereka bergotong royong menyumbangkan papan tulis, kursi dan meja, dan membangun sendiri “ruang kelas” itu.

Bagaimana kondisi bangunan sekolah itu? Atapnya dari jalinan daun sagu. Dindingnya kombinasi antara papan serta bambu (gedhek) yang meski sudah disusun rapat, tetap menyisakan celah-celah.

“Walaupun ber-AC alami, siswa-siswa saya sangat bersemangat belajar. Bangunan darurat bukan halangan, meski ke depan kami berharap ruang kelas yang lebih memadai,” ujar Faria.

Farida menuturkan, SDN ini berdiri sejak 13 Juli 2009, dan waktu itu baru memiliki satu rombongan belajar yang mendaftar untuk kelas satu. Sedangkan kelas dua dan tiga merupakan pindahan dari ibu kota kecamatan, SDN 02 Balai Berkuak.

Pada tahun pelajaran 2010/2011, jumlah murid dari empat rombongan belajar sebanyak 98 orang. Sedangkan tenaga pendidiknya hanya empat orang: seorang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), dua orang guru kontrak, dan seorang honorer yang dibiayai oleh komite sekolah.

SEVERIANUS ENDI

sumber : www.kompasiana.com

Wednesday, July 6, 2011

Kreasi Tradisi Jangan Dilupakan

Oleh : Jajay Wahyono
Foto bersama seorang Demang (kepala desa sekaligus kepala adat Dayak sub suku Dayak Ngaju) dari desa Dawak, Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah.

Kotawaringin Lama? Harap dibedakan antara Kotawaringin Lama dengan nama Kotawaringin Barat atau (apalagi) dengan nama Kotawaringin Timur. Masing-masing nama itu menunjuk tiga tempat yang berbeda.

Eeeiiittt…! Masih ada satu lagi: nama Kotawaringin Darat. Darat?

Arti kata [darat] menunjuk tempat yang jauh dari sungai atau laut. Dapatkan penjelasannya tentang hal ini dan ‘kota darat’ ini menunjukkan pada suatu tempat dan apa nama tempat itu? Temukan jawabannya pada bagian akhir dari tulisan ini .

Untuk mencapai Kotawaringin Lama (Kalimantan Tengah) membutuhkan 3 jam perjalanan jalur sungai dengan menyewa speed boat ditambah 1 jam lewat jalan darat. Atau kalau mau jalan santai perjalanan dengan kapal perahu sejenis ’kano’ yang didorong mesin diesel kecil atau yang di Kalimantan Selatan perahu tersebut disebut jukung. Dengan ’jukung’ atau ’alkon’ – nama orang Kalteng menyebutnya – ini akan membutuhkan waktu 8 jam dengan mengambil titik start dari kota Pangkalan Bun yang terletak sekitar bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalteng.

Ketika saya selelsai mengunjungi paman Demang A murat ini, saya diberi kenang-kenangan sebuah senjata khas desa Dawak yang berupa ’mandaunya’ orang Dayak Ngaju. Jenis dan bentuknya tidaklah sama seperti lazimnya senjata mandau yang kita kenal selama ini.

Setelah saya teliti dan saya simak cerita ’bahari’ (bahari = lama : bahasa Banjar - red) suku Dayak Ngaju khususnya yang tinggal dan mendiami desa Dawak itu memiliki keterikatan yang kuat dengan kerajaan Majapahit di Jawa sejak abad 13. Hal ini dikuatkan cerita turun temurun dari nenek moyang mereka di mana mereka pada jaman dahulu kala mereka setiap tahunnya pada masa itu para ketua adat lama berkunjung ke Majapahit untuk menyerahkan upeti dan atau menjalinan kekeluargaan atau unuk keperluan lainnya.

Senjata mandau khas Dayak Ngaju desa Dawak ini terdapat perbedaan bentuk fisiknya yaitu terdapat pada bentuk ’gagang senjata’ yang lebih dan menyerupai gagang senjata jenis golok yang terdapat menyebar seluruh pulau Jawa. Selebihnya semua bagian dari sebuah mandau itu adalah sama.

Warga Dayak suku Ngaju desa Dawak ini pada mulanya bukanlah warga Dayak yang terbiasa dengan menggunakan senjata mandau sebagai senjata keseharian mereka. Senjata mandau itu bukanlah senjata asli orang Dawak tetapi hasil pengaruh dari suku Dayak lainnya yang terdapat disekitar lingkup mereka. Mandau lebih khusus lagi, lebih dipengaruhi oleh suku-suku Dayak yang datang dari daerah Lamandau lewat jalur pedagangan atau perkawinan.

Saya masih mencari tahu, apakah nama Lamandau itu adalah tempat di mana pertama kali senjata mandau itu dikenal? Mengingat secara etimologis nama Lamandau - mungkin terbentuk secara etimologis dari kata [mandau].

Jika hal ini diselidiki pasti kita akan diperoleh gambaran berbeda dengan cara pandang terhadap sejarah perkembangan senjata mandau selama ini.

Siapa yang berminat meneliti?

Perlu diketahui, senjata asli orang Dayak Ngaju desa Dawak adalah sumpit.

Senjata ini pulalah yang dipakai ketika terjadi perang suku atau ketika perang melawan penjajahan Belanda di mana suku Ngaju desa Dawak terkenal heroik mengusir penjajah. Peristiwa ini bisa kita lihat di relief salah satu land mark kabupaten Kotawaringin Barat di simpang lima di daerah sekitar Pangkalan Lada, Kalteng.

(Lihat gagang senjata golok dari Dawak yngg diberikan kepada saya, gagangnya sama sekali tidak mirip dengan gagang mandau yang selama ini kita kenal khan?

Sekali lagi, siapa yang bersedia bikin penelitian sejarah tentang missing link ini? Bukankah di Kotawaringin Lama ini terdapat peninggal Kraton Kotaringin Lama (penulisan gaya tempoe doeloe untuk Kotawaringin Lama) yang berdiri sejak abad 14 atau ketika di Jawa sejaman kerajaan Demak Bintoro? Bukankah sejarah lebih jelas lagi dengan adanya makam Ki Gede yang merupakan penduduk pendatang dari Jawa yang menyebarkan Islam di sana? Ini pasti menarik minat bagi yang menekuni cerita dan sejarah peradaban Nusantara.

Perlu diketahu pula bahwa bapak Demang A. Murat ini adalah anak langsung dari Demang Silam yang namanya diabadikan sebagai sebauh jalan desa di desa Dawak. Jadi selagi beliau Demang A. Murat masih sehat dan bisa membantu kita semua untuk bisa merekonstruksi ulang sejarah masa lalu maka sebaiknya segera diadakan penelitian.

Satu lagi informasi bahwa desa Dawak juga biasa disebut sebagai Kotawaringin Darat karena letaknya di daratan atau jauh dari sungai besar atau 1 jam perjalanan darat (sekarang) off road. Bandingkan dengan Kotawaringin Lama yang terletak dijalur transportasi air yaitu sungai.

Sumonggo… silahkan..!

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?pid=318117&id=1468758503
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube