Oleh : oleh M Syaifullah/Try Harijono
JANGAN kaget jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa
dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di
beberapa bagian tubuhnya. Tato yang menghiasi tubuh mereka itu bukan
sekadar hiasan, apalagi supaya dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi
masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam.
TATO bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari
tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa
pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.
Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.
Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik
pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan
tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam
masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju
alam keabadian, setelah kematian.
Karena itu, semakin banyak tato, "obor" akan semakin terang dan
jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja
pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan,
karena harus mematuhi aturan-aturan adat.
"Setiap sub-suku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan
tato. Bahkan ada pula sub-suku Dayak yang tidak mengenal tradisi tato,"
ungkap Mering Ngo, warga suku Dayak yang juga antropolog lulusan
Universitas Indonesia.
Bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak
Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang
tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak
tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan
semakin ahli dalam pengobatan.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur,
banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara.
Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato
menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.
Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer.
Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer,
dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu
bulan!
"Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk
tato," tutur Ketua II Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Yacobus
Bayau Lung.
Bisa pula tato diberikan kepada para bangsawan. Di kalangan
masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan
(paren) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang
dikeramatkan.
Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya ditato
dengan motif "dunia atas" atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain
motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya
lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah
(panyen).
Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi
mengayau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini
sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak
mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.
Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan
di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri
jika keberaniannya "biasa", dan di lengan kanan jika keberanian dan
keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.
"Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai
bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang
perkasa dan banyak berjasa," tutur Simon Devung, seorang ahli Dayak dari
Central for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman Samarinda.
TATO atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum
laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat
di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya
hanya pada kaki dan tangan.
Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau
penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius.
"Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari
pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha
Kuasa," ujar Yacobus Bayau Lung.
Pada subsuku tertentu, pembuatan tato juga terkait dengan harga
diri perempuan, sehingga dikenal istilah tedak kayaan, yang berarti
perempuan tak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan
yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku di
sebagian kecil subsuku Dayak.
Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang
perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan
dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan
dan tedak hapii pada seluruh paha.
Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan
dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan
tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah
khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah.
Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan
untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun
keluarganya.
Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam
yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu.
Adapun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di
pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.
Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak
memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan
biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis.
Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau.
Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang
dinamakan nang klinge.
Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada
juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat
pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas
lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing
jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.
Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat
menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian
menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah
bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang
berwarna hitam.
"Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan
merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filososfis
yang tinggi," ucap Yacobus Bayau Lung.
Tato warna-warni yang dibuat kalangan pemuda kini, hanyalah tato
hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan
dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali
tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekadar untuk
keindahan, dan bahkan ada yang ingin dianggap sebagai jagoan.