BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, December 14, 2013

Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun

Beberapa warga mengenakan pakaian adat Dayak Iban tampak sedang mempersiapkan ritual penyambutan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun di Kota Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (12/12/2013). | KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan

Oleh : Yohanes Kurnia Irawan
LANJAK, KOMPAS.com - Pesona bentang alam Kapuas Hulu nan eksotik, berpadu dengan budaya Dayak dan Melayu serta adat istiadatnya yang masih kuat melekat menjadi saksi dalam pagelaran Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun tahun 2013.

Agenda tahunan yang untuk ketiga kalinya digelar tersebut tak hanya dihadiri masyarakat dari Kabupaten Kapuas Hulu saja, tapi ada juga yang datang jauh-jauh dari Singkawang, Pontianak, dan Jakarta. Bahkan banyak terlihat turis mancanegara seperti dari Rumania, Jerman, Malaysia, Denmark dan beberapa negara lainnya.

Sesuai namanya, Danau Sentarum dan Betung Kerihun merupakan taman nasional yang wilayahnya tepat berada di jantung Pulau Kalimantan. Kentalnya suasana adat dan budaya begitu terasa mulai dari ritual adat penyambutan ketika menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Begitu turun dari kendaraan, dengan pengawalan seadanya, Cornelis disambut dengan ritual penyambutan dengan adat Melayu dari Kapuas Hulu.

Suasana budaya kembali terasa ketika gubernur disambut dengan adat penyambutan tamu khas Dayak Iban. Dalam sambutannya, Cornelis menyampaikan, kedua potensi wisata yang berstatus taman nasional tersebut sudah cukup untuk dijual di dunia international.



Masyarakat diimbau dan wajib menjaga kelestarian alamnya. Pemerintah pun diharapkan bekerja sama dengan rakyat dalam mengelola taman nasional. "Dampak dari pariwasata merupakan pendapatan bagi masyarakat. Keunikan budaya bisa kita tampilkan kapan saja apabila wisatawan datang, dan itu bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat kita karena potensi yang kita miliki ini tidak ada duanya di dunia" kata Cornelis, Kamis (12/12/2013).

Cornelis menambahkan, kendala utama yang dihadapi saat ini terutama di bidang infrastruktur. Selain itu, Cornelis juga menegaskan, habitat yang dilindungi terutama orangutan jangan dibunuh apalagi dikonsumsi.

Satwa tersebut, menurut Cornelis, wajib dijaga dan dilestarikan, karena wilayah taman nasional tersebut sudah menjadi aset dunia dan milik internasional, serta menjadi salah satu penyangga dunia.

Ketua panitia festival, Alexander Rombonang memaparkan, pergelaran festival tahun ini merupakan ajang promosi pariwisata di Kapuas Hulu, baik itu tingkat lokal, nasional hingga internasional.

"Kegiatan ini juga sekaligus untuk mempertahankan dan membina nilai-nilai budaya yang sudah mulai menurun. Selain itu juga untuk mengembangkan potensi yang sesuai tuntutan zaman serta membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi msyarakat di Kapuas Hulu," kata Alexander kepada Kompas.com.

Pergelaran festival rencananya akan dimeriahkan dengan aneka lomba, di antaranya parade lagu daerah Dayak dan Melayu, parade tarian, lomba sampan, lomba sumpit, pangkak gasing, mendongeng, menghias perisai, membuat bubu, dan menumbuk padi. Lomba tersebut diikuti oleh 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, puluhan stan menampilkan produk kerajinan khas dari Kapuas Hulu berupa anyaman, ukiran, manik-manik, dan aneka kerajinan lainnya yang dipajang dalam stan pameran.

Salah satu peserta festival, Riak Bumi Foundation menampilkan produk madu hutan yang dihasilkan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan minyak Tengkawang. Selain itu, Riak Bumi juga menampilkan produk kerajinan tangan berupa anyaman dalam aneka bentuk dan kegunaan.

Peserta festival lainnya pun tak kalah dalam menampilkan produk kerajinan masing-masing daerah. Mereka memajang serta menata stan mereka semenarik mungkin, sehingga mengundang mata untuk mengunjungi setiap stan yang ada di lokasi kegiatan.

Festival digelar dari tanggal 12 hingga 15 Desember 2013, berpusat di Kota Lanjak dan kawasan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Tuesday, October 29, 2013

Mari Mendukung Penegakan Keadilan Bagi Masyarakat Adat Indonesia

KEPADA PEMERINTAH INDONESIA: Segera Laksanakan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 dan Sahkan RUU Masyarakat Adat 

Pada tanggal 16 Mei 2013 yang lalu, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia telah membacakan keputusan atas Judicial Review terhadap UU 41/1999 tentang Kehutanan yang diajukan oleh AMAN dan 2 Komunitas masyarakat adat. Dalam Putusan No. 35/PUU-X/2012, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Hutan Adat adalah Hutan yang berada di wilayah adat.

Masyarakat adat di seluruh Indonesia menyambut gembira Putusan MK tersebut dengan melakukan pemasangan plang di wilayah adat secara serentak. Plang itu bertuliskan: “Hutan adat bukan lagi hutan Negara. Masyarakat adat melaksanakan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012”. Selain melakukan pemasangan plang, masyarakat adat juga memulai gerakan rehabilitasi wilayah adat yang telah rusak oleh aktivitas perusahaan pemegang ijin dari Negara.

Sudah 4 bulan berlalu sejak Putusan MK 35/PUU-X/2012 itu dibacakan oleh Mahkamah Konstusi. Namun belum kelihatan langkah konkrit pemerintah untuk melaksanakan Putusan MK tersebut. Surat Edaran Menteri Kehutanan No SE.1/Menhut-II/2013 tentang Putusan Mahkamah Konstitusi No 35/PUU-X/2012 tanggal 16 Mei 2013 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati/Walikota dan Kepala Dinas Kehutanan seluruh Indonesia menegaskan bahwa penetapan kawasan hutan adat tetap berada pada Menteri Kehutanan. Surat Edaran tersebut mensyaratkan Peraturan Daerah untuk untuk penetapan kasawan hutan adat oleh Menhut.

Jika demikian, pengukuhan hutan adat masih sangat panjang sementara proses pelepasan dan konversi kawasan hutan bagi kepentingan industri masih marak dilakukan. Sehingga Keadilan bagi masyarakat adat terus menerus terbaikan.
Oleh karena itu:
Kami menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki hak penuh atas tanah, wilayah dan sumber daya alam, termasuk atas hutan adat. Pengakuan terhadap hak-hak ini, merupakan bagian dari pemenuhan hak asasi yang melekat pada masyarakat adat dan dijamin oleh UUD 1945.

Kami menyambut baik dan mendukung Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-X/2012 yang menegaskan kembali bahwa Hutan Adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat adat, dan bukan lagi sebagai hutan negara.

Kami mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 baik di tingkat nasional maupun daerah. Kami juga menuntut DPR RI untuk segera mengesahkan RUU tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat.

Kami mendukung sepenuhnya upaya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bekerja sama dengan gerakan masyarakat sipil lainnya dan siapapun untuk memastikan terpenuhinya hak-hak konstitusional masyarakat adat di Indonesia

Untuk mendukung Petisi ini silahkan kunjungi link
http://www.change.org/id/petisi/kepada-pemerintah-indonesia-segera-laksanakan-putusan-mk-no-35-puu-x-2012-dan-sahkan-ruu-masyarakat-adat#

Tuesday, March 5, 2013

Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang

Oleh : Andreas Aan
Masyarakat dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya, tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap tahun masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan Nyepi.

Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb. 

Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi. 

Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru. 

Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya. 

Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k. 

Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter). 

Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya . 

Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.

Friday, February 15, 2013

PAGELARAN SENI DAN BUDAYA DAYAK

Merupakan kegiatan yang menampilkan berbagai seni dan budaya suku Dayak selamat 4 (empat) hari. Kegiatan ini dipersembahkan untuk pengunjung dan masyarakat luas dalam rangka promosi seni dan budaya pulau Kalimantan.

PAMERAN PRODUK POTENSI DAERAH DAN PRODUK INOVATIF DAERAH KALIMANTAN

Pameran ini akan menampilkan produk atau jasa karya kreatif masyarakat, mitra usaha, Pemerintah Daerah Provinsi, Kota, dan Kabupaten yang ada di seluruh Kalimantan serta institusi-institusi yang ada di daerah Kalimantan.

KALIMANTAN INVESTMENT FORUM; Merebut Peluang Bisnis di Kawasan Kalimantan

Merupakan kegiatan forum diskusi tentang investasi, perdagangan, dan bisnis di Kalimantan. Diikuti oleh unsur Pemerintah, pengusaha/investor daerah, Nasional, dan Internasional serta mitra usaha, mahasiswa, dan masyarakat luas dengan tema-tema yang menarik. Diselenggarakan selama 4 (empat) hari berturut-turut di lokasi PEKAN BUDAYA DAYAK 2013.

DAYAK ART CARNAVAL 2013

Merupakan ajang kreasi atau pertunjukkan kesenian dan kebudayaan dayak. Diikuti oleh kontestan antar Pemerintah Daerah maupun lembaga kesenian lainnya se-Kalimantan. Digelar dalam bentuk karnaval yang dimulai dari Tugu Monas menuju halaman parkir Istora Gelora Bung Karno dengan rute Jl. MH. Thamrin dan Jl. Jend. Sudirman Jakarta yang bertepatan dengan Car Freeday.

DAYAK INNOVATION AWARD 2013

Merupakan ajang kompetisi dan penghargaan kepada masyarakat luas, tokok-tokoh masyarakat Dayak, mitra usaha, investor/pengusaha yang telah melakukan kegiatan-kegiatan inovatif untuk mencapai perbaikan dan kualitas hasil karyanya. Penghargaan diberikan kepada pelaku kegiatan dengan nominasi terbaik dari kategori: Kebudayaan, produk, teknologi, dan ekonomi, serta AMDAL.

DAYAK NIGHT AND FUN

Merupakan hiburan live musik bersama artis ternama Ibukota. Kegiatan ini dipersembahkan untuk pengunjung dan masyarakat luas lainnya.

SERMONIAL PEMBUKAAN

Kegiatan ini akan dibuka oleh Presiden RI / Wakil Presiden RI bersama Menteri Kabinet Indonesia Bersatu 2, Duta-Duta Besar, Gubernur, Walikota, Tokoh-Tokoh Masyarakat Dayak, Ketua Kadinda, Pelaku Usaha Nasional/Internasional se-Kalimantan. Dibuka tanggal 27 April 2013 jam 10 Pagi di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta.

Info lengkap lihat di www.pekanbudayadayak.com —

Saturday, April 28, 2012

Petani Landak Rayakan Pesta Panen


persiapan-adat.jpg
TRIBUN PONTIANAK/HADI SUDIRMANSYAH
Seorang Nyangahan memimpin doa jelang dilaksanakanya pesta panen oleh masyarakat di Dusun Anyang Desa Amboyo Selatan Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak, Jumat (27/4/2012)
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Setelah enam bulan bercocok tanam di  sawah, akhirnya pada Jumat (27/4/2012) saatnya warga Dusun Anyang Desa Amboyo Selatan Kecamatan Ngabang merayakan pesta panen atau biasa di sebut dengan naik dango.

Sebelum merayakan pesta panen tersebut, terlebih dahulu masyarakat setempat melakukan ritual adat yang di pimpin oleh seorang warga yang biasa di sebut Nyangahan atau pemimpin ritual adat yang disertai beberapa sesaji untuk di berikan kepada Jubata dan serta para arwah leluhur.

Ritual yang di lakukan dalam rangka  mensyukuri hasil panen yang di dapat setiap tahun dan dalam kesempatan yang sama dilakukan memohon do'a dan restu dari Jubata dan arwah leluhur. Dengan harapan agar cocok tanam yang di lakukan nanti juga di limpahkan hasil panen yang meningkat.

Icep (55) warga dusun Anyang menuturkan ia bersyukur hasil panen tahun ini, dirinya mendapat hasil panen padi sekitar dua ton dan jika di olah menjadi beras sekitar 1,7 ton beras. "Kalau sekitar padi dua ton padi bisa jadi 1,7 ton beras, ini lebih dari cukup untuk persediaan setahun,"ungkap ayah dua orang anak ini.

Penulis : Hadi Sudirmansyah
Editor : Bowo

Sunday, April 1, 2012

Menjaga Tarian Dayak Deyah dari Kepunahan

Foto : Ilustrasi
Pada usia sembilan tahun, Roesina mulai mempelajari tari. Sekitar 33 tahun kemudian, dia mendirikan sanggar tari di kampung halamannya dan bertahan sampai sekarang. Tujuan utamanya, melestarikan kesenian asli Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Deyah, dari kepunahan. DEFRI WERDIONO

Dalam suatu kesempatan pada November 2011, wajah Roesina menyiratkan rasa bahagianya seusai menyaksikan rekannya, Hasan (50), berhasil memanjat batang manau, sejenis pohon berduri.
Pagi itu Roesina banyak mengumbar senyum. Dia bersama timnya tampil sebagai pengisi kegiatan tahunan Festival Budaya Pasar Apung 2011 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hasan, laki-laki bertubuh kekar itu, mampu memanjat batang manau yang penuh duri dengan telanjang kaki dan dada. Tidak tampak luka gores atau luka tusuk sedikit pun di tubuhnya. Senyum Hasan juga terus mengembang ketika sejumlah penonton yang dipenuhi rasa heran mendekat dan menyapanya.
Bagi Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanyalah salah satu kekayaan budaya Dayak yang sudah ada sejak dia bisa mengingatnya. Awalnya, masyarakat penganut Kaharingan menggunakan tarian ini sebagai media penyembuhan pada orang yang sakit.

Di samping itu, tari Balian Bawo Panjat Manau juga kerap ditampilkan untuk membayar nazar masyarakat setempat. Kegiatan tersebut biasanya diselenggarakan sehabis merayakan panen.
Dalam perkembangannya sekarang, tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta pernikahan.

Menurut Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanya salah satu dari tari tradisi warga Dayak Deyah. Selain tarian itu, setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.

Tarian pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari- tarian pada subsuku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat. Tari-tarian Dayak Deyah umumnya lebih menekankan pada gintur (bambu).

Pemakaian gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tanpa sebab. Konon, bambu merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk bergerilya melawan penjajah.
”Jadi penggunaan gintur tidak bisa digantikan,” ujar Roesina menegaskan.

Kaya bersuluh emas
Hampir selama 20 tahun terakhir ini, tari-tarian Dayak Deyah diajarkan Roesina kepada generasi muda setempat. Dia mengajarkan tari-tarian tradisi itu melalui sanggar Tatau Silu Bulau di Desa Pengelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Sanggar Tatau Silu Bulau berdiri pada tahun 1992. Kata ”tatau silu bulau” mengandung arti ”kaya bersuluh emas”. Tatau berarti kaya, silu artinya suluh, dan bulau sama dengan emas.

Lewat nama tersebut, Roesina berharap sanggar Tatau Silu Bulau bisa seperti emas yang tidak akan luntur selamanya. ”Semoga demikian pula dengan kesenian Dayak, tidak akan luntur selamanya” ujarnya.

Maksud dia seperti emas yang tidak akan luntur, begitulah kesenian Dayak di mata Roesina. Meski seni budaya dari luar budaya Dayak masuk ke wilayah tersebut, masyarakat tetap menjaga dan memelihara tradisi itu. ”Kesenian peninggalan leluhur kami bisa tetap bertahan, tidak lalu menjadi tergeser.”

Roesina lalu bercerita tentang awal didirikannya sanggar Tatau Silu Bulau. ”Modal utamanya adalah semangat melestarikan tari-tarian Dayak Deyah,” ujarnya.
Untuk melengkapi peralatan menari, ia upayakan secara swadaya. Sebuah babun, semacam gendang, ia beli seharga Rp 750.000. Ia kembali merogoh kocek untuk melengkapinya dengan tiga babun kecil seharga Rp 750.000.

Sedangkan untuk kelengkapan instrumen lainnya, seperti kenong, Roesina mencari pinjaman. ”Tahun 1992-1994 kami meminjamnya sebelum ada bantuan dari pemerintah kabupaten. Begitu pula untuk kostum penari, tahun 2006 kami berinisiatif mengirim proposal ke perusahaan tambang untuk mendapatkan bantuan,” ujarnya.

Tentang inovasi
Sejak berdiri hingga kini, empat kali Roesina mengirim proposal kepada pemerintah daerah dan perusahaan tambang batubara di daerah setempat. Sebagian uang itu dibelikan peralatan dan sebagian lainnya disimpan untuk keperluan sanggar di kemudian hari.

Cara ini ditempuh karena dia tak menarik iuran dari anak didiknya. Ia juga tak menyisihkan uang hasil pentas karena honor itu dibagi habis untuk anggota. Tak ada hasil pentas yang masuk kas operasional sanggar. Dalam setahun anggota sanggar bisa tampil hingga lima kali.

Bagi Roesina, menampilkan tarian tradisi kepada publik relatif tak ada kesulitan, termasuk saat ia melakukan ritual khusus sebelum memulai pertunjukan.
”Tahun 2009 rombongan kami pernah mengalami kecelakaan di jalan,” cerita mantan guru sekolah dasar itu tentang musibah yang pernah mereka alami berkaitan dengan pertunjukan.

Sejauh ini, lanjut Roesina, hanya tari Nande yang sulit ditampilkan sebab tarian ini harus dilakukan pada tengah malam. Apalagi dalam pertunjukan tari Nande, nyaris tidak ada penerangan. Penari bergerak dengan mengandalkan tali yang dipegangnya.

Meski permintaan naik panggung cukup banyak, sampai sekarang Roesina tetap mengandalkan gerakan- gerakan asli tari tradisi dalam pengajaran di sanggarnya.
”Kami sebenarnya terbuka untuk melakukan inovasi asal tidak meninggalkan gerakan-gerakan asli tarian warisan nenek moyang. Tetapi kendalanya justru dari pelatih yang punya kemampuan dan mau melakukan inovasi tersebut,” katanya.

Roesina keberatan bila untuk keperluan inovasi gerakan tari itu, dia harus mengambil pelatih dari luar sanggar. Masalahnya, dia tidak punya cukup dana untuk membayar honor bagi pelatih tari tersebut.
Lewat pengabdiannya pada kesenian tradisi Dayak Deyah pula, Roesina dikenal masyarakat. Kesungguhannya melestarikan tarian tradisi itu juga membuat dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah kabupaten sebagai pelestari budaya.

Penghargaan pertama diterima Roesina tahun 1990 seusai dia berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Penghargaan berikutnya diterima pada tahun 2006.
”Satu hal yang membuat saya senang, kelima anak saya semuanya bisa menarikan tarian tradisi Dayak Deyah,” ujar Roesina bangga.
 
Sumber : Kompas.com

Promosikan Wisata Budaya Melalui Desa Sanggu

BUNTOK, KOMPAS.com — Apa ciri khas Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang terletak di Kalimantan Tengah? Ternyata, untuk mengembangkan pariwisata, salah satunya adalah dengan menonjolkan sisi wisata budaya.

"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
  
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.

Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.

"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.

"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.

Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.

Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.

"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.

SUmber : Kompas.Com

Bertandang ke Betang Antang Kalang

Oleh Dwi Bayu Radius
 MARI bertualang ke pedalaman Kalimantan. Mari berkunjung ke rumah adat Dayak, Betang Antang Kalang. Untuk itu, kita harus menyusuri curamnya riam-riam sungai dan melintasi lebatnya hutan. Menantang dan mengasyikkan.

Betang adalah sebutan untuk rumah besar milik keluarga. Betang Antang Kalang terletak di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Tahap pertama menuju Tumbang Gagu ditempuh dari ibu kota Kalteng, Palangkaraya, menuju Kecamatan Tumbang Samba, Kabupaten Katingan, Kalteng. Perjalanan sebaiknya ditempuh dengan mobil berpenggerak empat roda.

Pada akhir Februari lalu, kami menggunakan mobil Hardtop untuk menempuh jarak 185 kilometer dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Hingga Kasongan, ibu kota Katingan, jalan masih mulus. Namun, jalan selanjutnya merupakan jalur off road dengan lubang-lubang cukup dalam. Maklum, jalur itu dilalui truk-truk pengangkut sawit setiap hari. Meski mobil masih lincah menaklukkan medan berat, tubuh terguncang juga. Sekitar pukul 21.00, rombongan tiba di Tumbang Samba untuk bermalam di losmen sederhana.

Menempuh riam dan rimba
Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang kapal kelotok. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00, kelotok sudah bertolak. Perjalanan menyusuri Sungai Katingan selama hampir tujuh jam itu ditempuh dengan beberapa kali mengarungi riam. Ini bagian yang mendebarkan. Namun, jangan khawatir. Juru mudi kelotok dengan cekatan meliuk-liukkan perahunya, sementara batu-batu besar di depan menghadang.

Lebih dari 10 riam dilewati sepanjang perjalanan, termasuk Mangkikit dan Leleng yang dikenal terjal. Begitu ganasnya medan di kedua tempat itu sehingga semua penumpang harus turun dulu, sementara pengemudi perahu berjuang menerjang riam. Perahu terlihat bersusah payah melawan arus, bahkan tak jarang harus terseret mundur untuk kemudian maju lagi. Penumpang dapat naik lagi ke perahu setelah berjalan kaki sekitar 200 meter menyusuri hutan dan rumah penduduk setempat.

Sesekali saat melintasi riam-riam kecil, air sungai terciprat dan membasahi sebagian pakaian. Jika dirasa perlu, awak perahu memasang terpal untuk melindungi penumpang, tetapi tetap saja ada sedikit cipratan air yang masuk. Susur sungai menempuh jarak 118 kilometer berakhir ketika perahu merapat di Desa Penda Tanggaring, Kecamatan Sanaman Mantikei, Katingan.

Petualangan dilanjutkan dengan berjalan kaki menjelajah rimba belantara sejauh 6 kilometer. Perjalanan dua jam itu menjadi menyenangkan dengan hawa segar karena lebatnya pepohonan seperti durian, karet, dan ulin. Ada pula durian hutan dengan buah berwarna merah.

Setidaknya di dua tempat terlihat onggokan kayu-kayu ulin berdiameter 50 sentimeter dan panjang hingga 5 meter. Kayu-kayu itu semula hendak digunakan untuk membangun Betang Antang Kalang. Suatu ketika kayu yang dibutuhkan ternyata sudah cukup dan gelondongan-gelondongan itu dibiarkan di hutan. Meski sudah hampir 1,5 abad lalu, kayu itu masih kokoh dan keras.

Setelah berjalan kaki sekitar dua jam, Betang Antang Kalang akhirnya dapat dicapai. Mira Rindu (53), penghuni betang tersebut, menerima dengan ramah rombongan wisatawan yang datang. Ia mempersilakan kami untuk melepas lelah dengan menyuguhkan teh panas nan legit.

Hening dan sejuk
Pagi datang dengan kicauan burung terdengar di sana-sini. Kabut tipis terlihat di kejauhan. Udara sejuk terasa. Menikmati suasana di Betang Antang Kalang berarti merasakan keheningan yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kehidupan di Antang Kalang berjalan sederhana. Warga memasak makanan menggunakan kayu bakar. Mereka mencukupi kebutuhan makanan dari kebun sendiri. Mereka mandi di Sungai Kalang. Ada juga bau teknologi berupa generator yang menyala sekitar pukul 18.00-24.00. Mereka perlu generator antara lain untuk menyalakan televisi, sekadar hiburan bagi penghuni betang.

Mira Rindu menuturkan riwayat singkat Betang Antang Kalang. Rumah itu dibangun Singa Jaya Antang pada tahun 1870 dan mulai dihuni tahun 1878. Singa Jaya Antang berasal dari Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Singa membangun betang karena mencari daerah baru yang subur.

”Kalau letak rumah, Singa menentukannya berdasarkan petunjuk elang berdasarkan kepercayaan zaman dulu,” kata Mira yang merupakan generasi ketiga keturunan keluarga Singa.

Betang Antang Kalang sehari-hari dihuni hanya oleh lima orang. Namun, pada saat kumpul keluarga besar, betang bisa kedatangan hingga 100 orang. ”Soalnya, banyak penghuni betang bekerja di kota besar, menggarap kebun, dan menyadap karet di tempat yang jauh,” papar Mira. 



SUmber : Kompas.com

Thursday, February 2, 2012

Tradisi Membuat EMPING (PAM dalam bahasa Dayak) Masyarakat Dayak menjelang panen


Ibu-ibu Dayak sedang mengikis/mengaus padi ketan

Ketika mendengar kata Emping, mungkin yang terlintas di benak kita adalah kerupuk melinjo atau sejinisnya. Tapi berbeda dengan Emping yang satu ini, Emping punya masyarakat Dayak. Emping ini terbuat dari padi ketan yang belum matang atau isitlah masyarakat Dayak Seberuang di sebut dengan pulut matak (padi ketan mentah) yang di petik langsung dari ladang. Proses pembuatanya juga terbilang rumit dan unik.
Proses pembuatannya dimulai dengan memilih padi ketan mentah (pulut matak) dari ladang, padi ketan yang di ambil harus yang benar-benar pas tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Proses ini perlu ketelitian dan keahlian dalam memilihnya dan ini biasanya dilakukan oleh ibu-lbu. Tahap selanjutnya adalah melepaskan buah padi ketan dari tangkainya (seperti digambar). Proses ini tidak seperti yang lazim kita lihat ketika petani selesai panen yang melepaskan padi dari tangkainya. Tahap ini dinamakan ngikis/ngaus sejenis meraut rotan yaitu mengosokkan bambu yang sudah di bentuk ke tangkai padi ketan tadi agar biji-biji padi terlepas dari tangkainya.
Setelah semua biji padi dilepaskan dari tangkainya, tahap selanjutnya adalah memasak biji padi ketan tersebut. Proses memasaknya juga berbeda dengan cara memasak biasa, padi ketan dimasukan ke dalam kuali yang berukuran besar yang muat beberapa gantang. Padi dimasak dengan kuali tanpa campuran apa-apa, di masyarakat Dayak dikenal dengan namanya ngrendang. Setelah kurang lebih 30 menit dimasak, padi ketan diangkat dan didinginkan. Proses memasaknya juga harus pas, tidak boleh mentah dan terlalu masak karna hasilnya tidak bagus.
Selanjutnya padi ketan yang sudah dingin tadi ditumbuk atau ditutuk dalam bahasa Dayak. Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat tradisional semua seperti Lesung, Alu, dan Capan. Tahanp ini benar-benar perlu tenaga ekstra untuk menumbuk padi tersebut sampai isi padi ketan (PAM) terpisah dari kulitnya. Dalam tradisi masyarakat Dayak seberuang juga kalau para remaja laki-laki mau menikah harus sudah bisa menumbuk padi minimal 3 orang dalam satu Lesung. Ini merupakan tahap terahir dalam proses pembuatan PAM / Emping masyarakat Dayak. Setelah di tumbuk padi ketan yang sudah jadi PAM (beras ketan muda) di tampi untuk memisahkan dari sampah kulit padinya.
Setelah semuanya selesai baru PAM bisa di santap ramai-ramai bersama keluarga besar, sebelum menyantapnya juga ada prosesi adat sebagai bentuk rasa syukur karena telah tibanya musim panen. Rasanya yang enak dan empuk dikunyah membuat makanan ini menjadi idola dimasyarakat Dayak. PAM akan lebih terasa nikmat kalau dimakan campur kepala parut dan gula merak.
PAM ini hanya bisa dinikmati satu tahun sekali yaitu pada saat musim panen tiba. Biasanya pembuatannya juga ramai-ramai dalam satu keluarga besar. Ini juga merupakan syarat adat sebelum padi bisa mulai di panen.
*Bonny Bulang Aktivis Ekonomi Kerakyatan dan Masyarakat Adat Dayak

Friday, January 27, 2012

Mengenal dan Memahami Sejarah asal usul suku Dayak Siang di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah

 Oleh Thomas Wanly
Mengenal dan Memahami Sejarah  asal usul suku  Dayak Siang
di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah

            Dalam kesusasteraan suku Dayak Kalimantan Tengah ,di mana  orang Dayak sangat percaya bahwa  suku-suku yang dikalimantan itu dicipta langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa yang dalam bahasa Sangiang orang Dayak yang masih mempertahankan keyakinan leluhurnya dengan ketat yaitu agama Kaharingan; dan sang pencipta itu di kenal dengan nama Ranying Hattala Langit Panganteran Bulan Raja Tuntung Matanandau (Raja dari segala Raja yang berkuasa atas Bulan dan Matahari) yang tinggal di lewu tatau habaras bulau habusung hintan(kampong kebahagiaan yang berlimpahkan emas permata ;kampong yang kekal tanpa ada penderitaan);Marko Mahin ;menyelami Kaharingan.
            Dari manusia-manusia yang mendalami pulau Kalimantan saat ini ,di yakini  bahwa orang Dayak itu keturunan raja telu yaitu keturunan Maharaja Bunu,Maharaja Sangen dan MaharajaSangiang yang mana dalam penitisan langsung dari Tuhan Yang Maha Esa . asal-usul Suku Dayak, meskipun masih terlihat adanya perbedaan-perbedaan pendapat. Akan tetapi, bagi penganut Agama Hindu Kaharingan yang dikemukakan oleh Riwut (1993; 2003), sesuai Tetek Tatum, orang Dayak berasal dari langit ketujuh yang diturunkan ke bumi dengan menggunakan Palangka Bulau oleh Ranying Hatalla langit di empat tempat, yaitu:
(1) di Tantan Puruk Pamatuan, yang terletak di hulu Sungai Kahayan dan Barito,
(2) di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting, yang terletak di sekitar Bukit  Raya,
(3) di Datah Tangkasing hulu Sungai Malahui, yang terletak di daerah Kalimantan Barat, dan
 (4) di Puruk Kambang Tanah Siang, yang terletak di hulu Sungai Barito.

           Bagi orang Dayak, makna hidup tidak terletak dalam kesejahteraan, realitas, atau objektivitas seperti dipahami oleh manusia modern, tetapi dalam keseimbangan kosmos. Kehidupan itu baik apabila kosmos tetap berada dalam keseimbangan dan keserasian. Setiap bagian dari kosmos itu, termasuk manusia dan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban memelihara keseimbangan semesta. Peristiwa-peristiwa mistis bagi orang Dayak adalah realitas transcendental, artinya objektivitas mistis jelas ada pada lingkungan hidup, flora, fauna, air, bumi, udara dan sebagainya, dimana makna religi dari lingkungan sekitar ini dilihat baik dari segi objektif maupun subjektifnya (Ukur, 1994).

Bahwa kehidupan suku-suku Dayak sejak jaman dulu telah diwariskan kepada generasi ke generasi dengan memelihara suatu hubungan pertalian kekeluargaan yang menggambarkan adanya hubungan yang tidak terputus tentang asal usul seseorang dengan alam, dimana dalam pergaulan kehidupan sehari-harinya bersikap dan bertindak sebagai satu 
kesatuan baik dalam hubungannya dengan alam kebendaan (natural) maupun alam sekeliling yang tidak kelihatan (supra natural).
Di sekitar dan di dalam Kawasan wilayah atau daerah yang di tetapkan sebagai wilayah orang Dayak Siang  diyakini masih terdapat banyak daerah-daerah yang dapat menopang kehidupan mereka baik secara fisik dan rohani, oleh karena itu sering dijumpai ekspresi permohonan keselamatan dan kesejahteraan hidup yang diwujudkan dengan sesaji-sesaji pada dan di sekitar pohon-pohon besar dan lingkungan yang agak spesifik yang merupakan simbol-simbol kehidupan masyarakat Dayak.
            Dalam penitisannya manusia pertama di namakan Antang Bajela Bulau, seiring masa dan waktu dari sejarah tetek tatum (zaman masa ratap tangis) yaitu zaman manusia sekarang yang hidup utidak pernah jujur pada dirinya sendiri apa lagi pada alam ,lingkungan yang menopang kehidupanya,dan  oleh pengaruh budaya budaya luar yang tidak semestinya di konsumsi malah membuat  jebakan sendiri atas budaya uang tunai yang menyebabkan hilangnya memori social mereka di mana zaman dulu orang partisipativ (pilar-pilar Budaya Rumah Betang) / Thomas Wanly;Identitas Masyarakat Adat Dayak yang terkoyak ,hingga budaya konsumtip itu menjadi sebuah budaya baru yang sulit di hilangkan lagi.
          Dayak siang adalah sub etnis suku dayak yang sebarannya di Kalimantan tengah yaitu antara kecamatan Laung Tuhup,Barito Tuhup Raya ,Murung dan Tanah Siang atau di daerah Puruk Cahu dan sungai Laung dan sungai Bomban juga di sungai Babuat.
           Menurut  sejarah Dayak siang merupakan salah satu suku yang di turunkan oleh Ranying Hattala Langit di Puruk Kambang Tanah Siang sekitar wilayah desa Oreng Kecamatan Tanah Siang Selatan,kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah yang diturunkan dengan Palangka Bulau. Dayak siang sebenarnya ada dua yaitu Siang dan Murung; dimana yang Murung kebanyakan yang mendiami daerah pinggiran sungai Berito dan sungai Bomban, dan Yang siang nya tersebar di tanah Siang,sungai Laung, dan sungai Babuat.
           Dayak Siang pertmana kali lahir di lowu Korong Pinang dari pasangan suami –istri Langkit  (suami)dan Mongei(istri) lama kelamaan Orang Siang dan Murung juga berkembang di Lowu Tomolum (desa Tamorum sekarang)yang juga merupakan tempat atau perkampungan para Sangiang atau para dewa yang luhur dan suci.
Lowu Korong pinang dan lowu Tamolum adalah dua lowu (kampong)yang bergaul sangat akrap dan mempunyai komonikasi budaya dan adat istiadat yang sangat berkembang dan beragam.Dan ada seorang Turunan dari Langkit dan Mongai yang bernama Tingang Ontah yang diambil oleh Dewa Dalung serta dibawa kelangit untuk belajar hukum adat,yang  sekarang diberlakukan dan ditaati oleh seluruh turunan Dayak Siang, yang mana inti dari  ajaran nya yang terutama bagai mana hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya  untuk menyelamatkan tempat-tempat yang secara adat dilindungi/tidak boleh diganggu, seperti: Tajahan/Pahewan, Kaleka, Sepan dan lain sebagainya, serta konservasi kawasan ini juga akan dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan prinsip-prinsip predikat Manusia Garing dan Manusia Tingang, dimana Manusia Garing dan manusia Tingang tersebut menurut (Ilon, 1990/1991) merupakan manusia yang bertugas selaku pengurus lingkungan dalam Garis-garis Besar Belom Bahadat (Norma Kesopanan) terhadap unsur flora, seperti: Ma`ancak, Manumbal/Manyanggar, dan sebagainya, serta terhadap unsur fauna, seperti:Mampun/Mahanjean, Ngariau/Ngaruhei, dan lain-lain yang menyangkut ritual budaya seperti Tiwah dan lain sebagainya. Dijelaskan lebih jauh, selaku pengurus lingkungan hidup (bukan penguasa), maka manusia mengurusi 5 (lima) unsur yang terdiri dari: unsur flora, fauna, sesama manusia, para arwah dan roh-roh gaib, dimana makhluk manusia, terdiri dari tiga unsur, yaitu: (jiwa/sukma bereng (jasad), hambaruan) dan salumpuk (roh). Oleh karena manusia mengurus ke-ima unsur tersebut, maka prinsip pelayanan sebagai wujud kesopanan, memerlukan ruang dan waktu yang tepat dan sesuai
         Dan ada seorang tokoh yang bernama Cahawung terjatuh Ponyangnya (Jimat)diatas yang berada di hulu sungai Tingon (anak sugai Bantian) yang mana bukit tersebut di namakan Puruk Batun Ponyang.Ditempat yang sama ada kejadian yang menimpa seorang Dewa bernama Oling,ia terluka tangannya terkena Mandau (senjata khas Dayak/ besi buatan manusia) dan darahnya tak bisa berhenti keluar,lalu genangan darahnya berubah menjadi Lawang (danau) yang sekarang disebutLawang Kelami,yang letaknya antara Desa Tomolum dan desa Mongkolisoi.Hal tersebut menyebabkan para dewa–dewi yang yang mendiami desa Tomolum pindah k eke lowu Uut Sungoiyang di namakan Sungoi Cahai Langit.Smpai sekarang masih adabukti yaitu sebuah bukit yang dinamakan Keleng Lunjan yang dapat dilihat di Lowu Tokung di bukit Tokung ini bila di gali tanahnya akan ditemukan pecahan –pecahan guci.
Lowu Korong Pinang kemudian berkembang dan berpindah ke Lowu Dirung Jumpun,dari sini berpindah lagi ke LOwu Pina Lunuk atau Lowu Olung Owuh,pindah lagi ke Lowu Olung Mohoikemudian pindah lagi ke lowu Bangan Tawan, Adapun lowu Tomolum juga mengalami beberapa kali perpindahan yaitu ke Lowu Lawang Ulit Bakoi,Siwo,lalu ke Lowu Haju,lalu ke Datah Lahung,lowu Kalang Sisu,lowu Kuhung Apat,dan likun Puan dan kembali lagi ke Datah lahung.
         Kata-kata Dayak “SIANG’ berasal dari sejarah yang berawal di Sungai Mantiat .Dihulusungai ini ada sebuah pohon yang dibri nama “SIANG” dan kayu ini kemudian tua rebah dan lapuk dan bekas tumbangnya pohon ini kemudian menjadi aliran sungai yang mengalir kesungai Mantiat Pari di desa Mantiat Pari sekarang. Orang yang hidup di Lowu Korong Pinang menggunakan air sungai yang berasal dari pohon siang ini,mereka ini kemudian di sebut Dayak Siang.Suku Dayak Siang ini kemudian berkembang membentuk beberapa perkampungan baru dan berpencar di beberapa tempat hingga sekarang ini.sedangkan kampong atau Lowu sejarah asal usul mereka adalah Lowu Tomolum  yang ada sampai sekarang atau desa Tambelum ,Desa ini ada jauh sebelum zaman Belanda  dan sebelum adanya Negara Republik Indonesia ini. Tapi apa yang sebenarnya kita anggap sebagai Tanah Keabadian sejak masuknya  investasi atas nama pembangunan, daerah-daerah ini yang kita anggap sacral dan lambang jiwa manusia Dayak telah di hancurkan oleh kapitalis  yang mana kawasan tersebut yang melimpah akan emas nya telah menjadi kubangan-kubangan raksasa dan tempat pembuangan tailing zat-zat beracun oleh PT.INDOMORO KENCANA STRAIT , PT.ANTANG MURA PERKASA  dan para Pengusaha Group Broken Hill Property Billiton , yang juga Grup  Gunung Bayan Reseurcys yang perlahan tapi pasti akan membunuh orang –orang dayak Siang  selain Tanah dan sumber-sumber kehidupan yang bergantung pada alam dan hutan di rampas atas nama kebijakan investasi pembangunan.

Puruk Cahu ,Desember 2011
Penulis Thomas Wanly 
(dari berbagai sumber dan observasi.)

Thursday, January 12, 2012

Inilah alasan penamaan Kabupaten Landak

Kabupaten Landak adalah salah satu Kabupaten di provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Memiliki luas wilayah 9.909,10 km² dan berpenduduk sebesar 282.026 jiwa. Landak terbagi menjadi 10 kecamatan dengan 174 desa dan 6 desa diantaranya termasuk desa tertinggal.

Kenapa nama daeranya menjadi Kabupaten Landak?
Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, LAN artinya Pulau dan DAK artinya Dayak, ini di karenakan mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak.

Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis Belanda zaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak". Kabupaten Landak ini sama sekali tidak berhubungan dengan binatang bernama landak.


Wednesday, December 14, 2011

Teling Panjang, Budaya Dayak Yang Mulai Punah

Ilustrasi
Seni tato dan telinga panjang menjadi ciri khas atau identitas yang sangat menonjol sebagai penduduk asli Kalimantan. Dengan ciri khas dan identitas itulah yang membuat suku Dayak di kenal luas hingga dunia internasional dan menjadi salah satu kebanggan budaya yang ada di Indonesa. 

Namun tradisi ini sekarang justru semakin ditinggalkan dan nyaris punah. Trend dunia fashion telah mengikis budaya tersebut . Kalaupun ada yang bertahan, hanya sebagian kecil golongan generasi tua suku Dayak yang berumur di atas 60 tahun. Generasi suku Dayak diatas tahun 80-an.

Tidak ada yang tahu secara pasti kapan suku Dayak mulai melakukan tradisi ini, semua menyatakan mengikuti tadisi yang diyakini juga seabgai tatanan kehidupan sosial suku Dayak. Secara tatanan sosial dan tradisi budaya Dayak, telinga panjang ini merupakan identitas yang tidak bisa di pesahkan dengan kehidupan sosial.

PERTANDA WANITA BANGSAWAN


Menurut asal-usulnya ratusan tahun lalu, budaya telinga panjang bukan hanya dilakukan wanita, pria juga ada yang memanjangkan telinga. Dan yang memanjangkan telinga hanya kaum bangsawan suku Dayak. Ini menandakan bahwa yang yang bersangkutan adalah keturunan bangsawan Dayak. 

Telinga panjang pada Wanita Dayak menunjukkan dia seorang bangsawan sekaligus untuk membedakan dengan perempuan yang dijadikan budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang.

Disamping itu telinga panjang digunakan sebagai identitas untuk menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinga diberi manik-manik yang cukup berat. Setiap tahun, jumlah manik-manik yang menempel di telinga bertambah satu. Karena itu, kalau ingin mengetahui umur seseorang, bisa dilihat dari jumlah manik-manik yang menempel di telinga. Jika jumlahnya 60, maka usianya pasti 60 tahun karena pemasangan manik-manik tidak bisa dilakukan sembarangan, cuma setahun sekali. 

Agar daun telinga menjadi panjang, biasanya daun telinga diberi pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.

Selain sebagai status sosial dalam kehidupan masyarakat, telinga panjang juga di nilai dari segi kecantikannya. Semakin panjang telinga seorang wanita Dayak, maka pemilik telinga semakin cantik.


MULAI PUNAH
Seiring perkembangan jaman dan medernisasi yang perlahan tapi tapi mulai masuk dan menggeser tradisi turun temurun ini.  Telinga panjang mulai punahn, menurut informasi yang kami dapatkan adalah ketika mulai masuknya para misionaris ke daerah pedalaman di perkampungan Dayak pada zaman kolonial Belanda dulu.

Tapi tidak ada yang tahu persisnya kapan mulai punah, tapi rata-rata yang masih mempertahankan budaya telinga panjang adalah wanita suku Dayak yang berusia diatan 60 tahun. Sedangkan genersi sekarang sudah tidak ada. Budaya ini pun semakin terkikis habis ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia di daerah perbatasan Kalimantan.

Saat itu berkembang stigma di masyarakat, mereka yang berdaun telinga panjang dan tinggal di rumah- rumah panjang, yang dihuni beberapa keluarga, merupakan kelompok masyarakat yang tidak modern. Tidak tahan terhadap pandangan seperti itu, akhirnya beberapa warga memotong telinga panjangnya.

Stigma semacam ini terus berlangsung hingga sekarang. Kalangan generasi muda Dayak tidak mau lagi membuat telinga panjang karena takut dianggap ketinggalan zaman dan tidak modern. Hanya sebagian kecil masyarakat Dayak yang masih memegang teguh tradisi berdaun telinga panjang, dan itu pun jumlahnya sangat minim.

dari berbagai sumber
  

Saturday, December 10, 2011

Makna Tato Bagi Masyarakat Dayak

Panglima Perang (Panglima Damai) Dayak, Edy Barau, mengatakan, motif yang digunakan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Iban untuk mengukir pada tubuh berhubungan erat dengan kehidupan alam (hutan).

Dengan demikian, motifnya ada yang berasal dari binatang maupun tumbuhan seperti daun, bunga, dan buah yang semua memiliki arti dan makna bagi masyarakat Dayak.

Menurut Edy, ada tujuh bentuk motif tato yang berhubungan erat dan sering digunakan masyarakat Dayak Iban. Selain motif, tempat atau lokasi untuk diukirkan gambar juga tidak bisa sembarangan.

Ketujuh bentuk motif itu di antaranya, motif rekong, bunga terong, ketam, kelingai, buah andu, bunga ngkabang (tengkawang) dan bunga terung keliling pinggang yang masing-masing memiliki makna.

Ia memaparkan, tato atau ukir rekong biasanya diukirkan di leher. Bagi masyarakat Dayak Iban seseorang yang mendapatkan ukiran rekong adalah orang yang mempunyai kedudukan masyarakatnya, seperti Timanggong/Temanggung dan Panglima atau orang yang di-tua-kan di kampung halamannya sendiri maupun di tempat merantau.

Motif Rekong, lanjut Edy, berbeda-beda bentuknya karena disesuaikan dengan jabatan dan kedudukan. Selain itu, antara sub suku Dayak yang satu dengan yang lainnya juga memiliki bentuk motif yang berbeda tapi memiliki makna yang sama.

Motif rekong dapat berupa sayap kupu-kupu, kalajengking merayap dan kepiting. Intinya cenderung berbebtuk motif binatang.

Masyarakat Dayak yang biasanya tato rekong di leher adalah Dayak Kayan, Dayak Taman, dan Dayak Iban. Sementara masyarakat Dayak biasa yang tato rekong di leher akan dikenakan sanksi atau hukuman adat, namun untuk sekarang ini tidak lagi karena ada sebagian memandangnya sebagai seni, ucapnya.

Motif lainnya adalah Bunga terong merupakan bunga kebanggaan masyarakat Dayak Iban. "Bunga terong sudah naik, orang itu sudah profesional, kalimat itu sering diucapkan masyarakat Iban. Karena terong itu kebanggaan masyarakat Iban. Terong juga memberi makna pangkat/kedudukan sebab umumnya letak pertama ada di bahu," tuturnya kepada Tribun.

Bentuk motif dan jenis bunga terong ada berbagai macam dan letaknya juga berbeda. Ada yang tato terong dan meletakannya di lengan, tangan, kaki, dan perut, serta ada juga mengukir seluruh tubuhnya dengan bunga terong.

Bunga terong ada yang bersayap enam, dan ada yang delapan. " Seorang masyarakat Dayak Iban yang memiliki bunga terong keliling pinggang biasanya delapan buah berarti orang itu sudah plor atau penuh atau sudah puas merantau," ujarnya.

Sementara motif kelingai melambangkan binatang yang ada di lubang tanah memberikan arti hidup kita tidak terlepas dengan alam atau bumi. Motif kelingai biasanya diletakan di paha atau betis.

Demikian motif ketam juga memberikan arti hidup selalu menyentuh dengan alam. Meski begitu, ketam biasanya diletakan pada tubuh bagian punggung atau tepatnya dibelakang punggung.

Sedangkan motif buah andu dan bunga ngkabang atau bunga tengkawang melambangkan sumber kehidupan. Buah tengkawang merupakan bunga yang paling banyak di kampung masyarakat Iban dan ditatokan di atas perut.

Motif buah andu pada umumnya diukirkan di belakang paha, yang memberi arti, ketika merantau kita selalu berjalan jauh dan buah andu sebagai makanan untuk menyambung hidup, pungkasnya.

Sumber Tribunenews

Makna Tato Bagi Masyarakat Suku Dayak

Oleh : oleh M Syaifullah/Try Harijono
JANGAN kaget jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato yang menghiasi tubuh mereka itu bukan sekadar hiasan, apalagi supaya dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam.

TATO bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.

Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Karena itu, semakin banyak tato, "obor" akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.

"Setiap sub-suku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Bahkan ada pula sub-suku Dayak yang tidak mengenal tradisi tato," ungkap Mering Ngo, warga suku Dayak yang juga antropolog lulusan Universitas Indonesia.

Bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer, dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan!

"Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk tato," tutur Ketua II Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Yacobus Bayau Lung.

Bisa pula tato diberikan kepada para bangsawan. Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.

Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya ditato dengan motif "dunia atas" atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah (panyen).

Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi mengayau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.

Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya "biasa", dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.

"Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa," tutur Simon Devung, seorang ahli Dayak dari Central for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman Samarinda.
TATO atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan.

Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius. "Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa," ujar Yacobus Bayau Lung.

Pada subsuku tertentu, pembuatan tato juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal istilah tedak kayaan, yang berarti perempuan tak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku di sebagian kecil subsuku Dayak.

Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.

Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.

Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.

"Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filososfis yang tinggi," ucap Yacobus Bayau Lung.

Tato warna-warni yang dibuat kalangan pemuda kini, hanyalah tato hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekadar untuk keindahan, dan bahkan ada yang ingin dianggap sebagai jagoan.


Tuesday, August 9, 2011

Kalimantan's Craft; Harmony of Culture and Nature

Kalimantan's Craft; Harmony of Culture and Nature from Gekko Studio on Vimeo.



Craft Kalimantan a film of indigenous weaving traditions with high quality art products.

The products are the work of artisan groups, 90% of them being women, who live in and around forests, and those that continue to struggle in defense of their culture and tradition through the art of weaving crafts

Friday, May 20, 2011

Gawai Dayak, Pesta Kota di Pontianak

13058972381297644711

Para tamu menaiki tangga Rumah Betang Jl Sutoyo Pontianak, Kalimantan Barat, untuk mengikuti prosesi adat Pekan Gawai Dayak, Jumat (20/5/11). Foto: Severianus Endi

EVENT budaya tahunan Pekan Gawai Dayak (PGD) XXVI Kalimantan Barat resmi dibuka, Jumat (20/5/11), di halaman replika Rumah Betang Kota Pontianak, Jl Sutoyo. Artis ibu kota Jajang C Noer tampak berada di tengah-tengah lautan manusia.

Saat diwawancarai wartawan, Jajang mengatakan, event seperti ini mengingatkan akan sisi tradisionil yang jangan sampai tergilas oleh modernisasi.

“Misalnya cara berpakaian, hal yang paling sederhana melestarikan konveksi tradisional dan khas daerah,” ujar Jajang yang mengenakan bawahan kain batik dipadu kaus hitam.

1305898979293952056

Jajang C Noer saat menaiki tangga Rumah Betang di Pontianak. Foto: Severianus Endi

Acara yang dipusatkan di replika Rumah Betang Jl Sutoyo Kota Pontianak ini dimeriahkan dengan aneka atraksi tradisional dan pawai kendaraan hias keliling kota. Puluhan kendaraan roda empat yang dihiasi dengan corak khas Dayak menyusuri jalan-jalan protokol. Atraksi barongsai dengan replika naga sepanjang 30 meter dari kalangan Tionghoa juga turut menyemarakkan acara.

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, yang juga Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD)berhalangan hadir membuka acara ini. Sebagai gantinya, diutuslah Asisten Gubernur MH Munsin, serta dari Kementerian Pariwisata diwakili Kepala Bidang Promosi Wisata Dalam Negeri.

Unsur pimpinan DAD Kalimantan Barat, Yakobus Kumis, mengatakan, pelaksanaan PGD yang hingga saat ini terus konsisten, sebagai bukti eksistensi budaya Dayak di tengah arus modernisasi.

“Apalagi event ini tak hanya dihadiri kalangan dalam negeri, tetapi juga dari rumpun etnis Dayak yang berdiam di Malaysia,” ucap Yakobus penuh semangat.

Satu di antara peserta dari Malaysia, Alim Ga Mindek, menuturkan, mereka hadir dalam bentuk perwakilan beberapa lembaga. Lebih dari 35 orang warga Dayak Sarawak yang hadir, tergabung dalam Dayak Chamber of Commerse and Industry (DCCI), Sarawak Dayak National Union (SDNU) serta Borneo Dayak Forum (BDF).

“Saya sangat menikmati naik kendaraan karnaval ini. Acara gawai di Sarawak tidak memiliki agenda pawai,” ujar Alim.

Event PGD berlangsung selama sepekan, sehingga di halaman Rumah Betang berdiri lebih dari 30-an petak kios yang menjual berbagai pernak-pernik, busana tradisional dan kuliner khas. Panitia juga memperlombakan sejumlah permainan tradisional serta kontes Bujang Dara Dayak.

13058991501999875386

Kendaraan hias dengan motif khas Dayak berparade keliling kota. Foto: Severianus Endi

Sejarah Pesta Penen

Dari sejarahnya semula sebagai pesta panen, Gawai Dayak kini telah menjadi event modern semacam town fiesta. Event rutin tahunan yang digelar setiap bulan Mei ini telah berlangsung selama 25 tahun.

Gawai Dayak menampilkan berbagai rangkaian acara unik dan menarik. Tak lagi sebatas ritual syukur ala tradisional, tetapi sudah dikombinasikan dengan penampilan kreasi seni budaya modern dengan ikon berupa kontes untuk kawula muda dengan sebutan Bujang-Dara Gawai.

Event budaya ini berakar dari tradisi terpenting suku Dayak, yakni upacara adat perladangan. Dari berbagai rangkaian ritual perladangan, upacara adat terakhir berupa syukur atas hasil panen kepada Jubata, sebutan untuk Tuhan.

Masing-masing sub suku Dayak memiliki ritual dan sebutan yang berbeda, dan di antaranya ada yang menyebut Naik Dango. Dahulu kala, upacara pascapanen ini dibatasi pada wilayah kampung atau ketimanggungan.

Acaranya pun hanya terbatas pada pelantunan doa atau mantra yang disebut nyangahatn, serta saling kunjung sesama warga dengan suguhan utamanya makanan tradisional seperti lemang, yakni nasi ketan yang ditanak di dalam bambu dan berbagai suguhan lainnya. Pelaksanaan gawai tradisional digelar sampai tiga bulan pada rentang April hingga Juni.

Dalam event modern Gawai Dayak saat ini, berbagai ritual tradisional tidak ditinggalkan. Acara inti tetap berupa nyangahatn, yang digelar sebelum pelaksanaan, sebagai wujud pemberitahuan dan mohon restu kepada Jubata untuk pelaksanaan pesta adat.

Kemudian pada hari pelaksanaannya, nyangahatn dilakukan untuk memanggil semangat atau jiwa padi yang belum kembali, untuk dikumpulkan kembali dan memberkati beras agar memberi kesehatan dan kesejahteraan.

Sebagai sebuai event budaya, Gawai Dayak menampilkan permainan tradisional, berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional. Permainan unik bisa disaksikan, seperti gasing, lomba menumbuk padi, perlombaan menggunakan senjata sumpit, sampai lomba membuat patung kayu.

Di awal kemunculannya pada 30 Juni 1986, hanya berupa pentas seni satu malam yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda). Sejak 1992 berubah nama menjadi Gawai Dayak dan digelar selama sepekan.

Pelaksanaanya selalu difokuskan di replika rumah panjang di Jl Sutoyo Kota Pontianak. Rumah panjang merupakan jantung kebudayaan Dayak, karena dahulu kala komunitas-komunitas orang Dayak hidup di rumah panjang.

SEVERIANUS ENDI

sumber : www.kompasiana.com

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube