Masyarakat
dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya,
tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan
sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan
budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap
tahun
masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang
Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan
Nyepi.
Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k
Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn.
Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan
kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh
berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy,
rambai dsb.
Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari
buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa
menyerang kampung.
selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih
atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada
tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi.
Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim
buah tahun berakhir.
kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin
kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap
mendapatkan hasil padi yang lebih baik.
Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen
padi selesai dan sudah menikmati beras baru.
Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di
tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah
gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut
sebagai Padagi Gantikng.
untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari
Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena
letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati
untuk mencapai tempat ini.
di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat
dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang
tumbuh disekitarnya.
Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya
berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar
oleh masyarakat setempat.
untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan
kaki dari lubuk silibun.
tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis
didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat
ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh
bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat.
disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi
dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan
daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan
Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang
melaksanakan Bo'k.
Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14
pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut
ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani,
pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada
masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena
bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan
ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe
adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai
panglima pada masa bakayo (head hunter).
Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini,
dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari
tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak.
air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan
dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan
daun bambu tumiang.
pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak
kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung.
Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang
dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya .
Selama
Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma
berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang
ribut selama Bo'k berlangsung.
jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai
kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.