Friday, November 14, 2014
5 Suku Paling Ditakuti Di Dunia
Monday, June 30, 2014
Bukit Batu, Tempat Pertapaan Tjilik Riwut'

Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-ba...tu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang mustahil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.
Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.
Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.
Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:
"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"
Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.
Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.
Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.
Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.
Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menunu ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.
"Isen Mulang Petehku"
Monday, June 23, 2014
Jokowi di Rumah Radakng Pontianak

Capres Joko Widodo berkampanye di depan ribuan pendukungnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung soal masalah perbatasan.
"Di Kalimantan Barat ini berbatasan dengan Serawak ya? Nanti pemerintah pusat bekerja sama dengan gubernur akan kita bangun perbatasan agar tidak kalah dengan Malaysia, tidak kalah dengan Serawak," kata Jokowi saat berkampanye di Rumah Adat Radakng, Kota Pontianak, Kalbar, Senin (23/6/2014).
"Wajah saya ndeso, tapi otaknya internasional," imbuh Jokowi yang disambut riuh pendukungnya.
Sebelumnya saat tiba di lokasi, Jokowi yang mengenakan kemeja kotak-kotak dipakaikan topi kebesaran adat Topi Enggang. Wujud topi itu menyerupai paruh burung lengkap dengan bulu-bulunya.

Selain itu, Jokowi juga disambut oleh Gubernur Kalbar Cornelis serta Tarian Penyambutan Suku Dayak, Tarian Ngajat.
Kami sebagai Admin Cerita Dayak sangat mengapresiasikan kunjungan Jokowi di Rumah Radakng Pontianak untuk meminta dukungan sebagai calon presiden 2014-2019 kepada Masyarakat Dayak.
Mengenai pilihan Cerita Dayak tetap netral. Siap pun yang terpilih menjadi pemimpin bangsa ini kita berharap ada perubahan yang lebih baik bagi Borneo.
Salam Budaya
Yohansen Borneo
Sumber : detik.com
Tuesday, October 29, 2013
Mari Mendukung Penegakan Keadilan Bagi Masyarakat Adat Indonesia
KEPADA PEMERINTAH INDONESIA: Segera Laksanakan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 dan Sahkan RUU Masyarakat Adat
Untuk mendukung Petisi ini silahkan kunjungi link
http://www.change.org/id/petisi/kepada-pemerintah-indonesia-segera-laksanakan-putusan-mk-no-35-puu-x-2012-dan-sahkan-ruu-masyarakat-adat#
Tuesday, March 5, 2013
Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang
Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb.
Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi.
Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru.
Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya.
Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k.
Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter).
Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya .
Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.
Thursday, January 24, 2013
Natal Bersama Dayak Selurun Indonesia
Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata.!!
Salam buat sahabat Cerita Dayak Seluruh Indonesia..
UNDANGAN RESMI PANITIA
Mengundang bapak/ibu dan saudara/i untuk menghadiri PERAYAAN NATAL dan TAHUN BARU BERSAMA Keluarga Besar DAYAK SELURUH INDONESIA yang akan dilaksanakan pada,
Hari : Sabtu
Tanggal : 26 January 2013
Tempat : The Hall Senayan City, Lantai 8 Mall Senayan City, Jalan Asia Afrika Jakarta.
Waktu : Pukul 17.00 WIB s/d Selesai
Note : Akan dihadiri Presiden MADN yang sekaligus Gubernur Kalteng, Gub Kaltim, Gub Kalbar, Gub Kalsel, beberapa Bupati Sekalimantan dan toko-toko nasional lainnya.
Demikian undangan disampaikan, atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
"Kasih Yesus Meneguhkan Persaudaraan Warga Kalimantan Khususnya dan Warga Indonesia Umumnya"
NB : Mohon bagikan info ini kepada saudara, keluarga dan kerabat kita dimanapun berada.
Salam,
The New Generation Of Dayak
[Bonny Bulang]
Saturday, August 11, 2012
Lahir dan Besar di Hutan, Sejengkal Tanah Pun Tak Punya
Hidup di tengah-tengah kepungan kegiatan tambang batu bara, tak
menjamin warganya bisa hidup layak. Ini bisa dilihat dari keberadaan
warga Dayak Punan yang tinggal di Satuan Permukiman (SP) Punan di
Kampung Birang-Gunung Tabur Kabupaten Berau. Berikut cerita perjalanan
General Manager Berau Post (Kaltim Post Group) Endro S Efendi dengan
gaya bertutur.Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dia mengaku dibantu perusahaan tambang di kawasan ini berupa bahan pokok. Itu pun hanya berupa beras 20 kilogram, gula 5 kilogram, dan minyak goreng 5 liter.
Wednesday, June 20, 2012
Adat Mangkok Merah dan Pamabakng
| F.Bahaudin |
“Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata “
Sebuah tulisan yang kami sajikan dengan judul “Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja kami angkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah di kenal oleh masyarakat luas diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.
Kedua jenis adat ini mempunyai keunikan tersendiri ibarat dua sisi yang bersebaranagan namaun mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Mangkok Merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk mengarahkan masa demi tujuan tertentu sementara pamabakng adalah adat yang bersipat sakral yang harus dipatuhi dalam upaya perdamaian akibat adanya suatu komplik berdarah.
Dengan demikian selain bersebrangan dan mempunyai keterkaitan yang sangat erat, kedua adat ini fungsinya seolah-olah bertentangan. Terlepas dari pendapat pro dan kontra secara esensi adat ini perlu dipertahankan dan di lesatarikan, namun apakah ia masih tetap dipertahankan dan dilestarikan, namun apakah ia masih tetap ditaati dan di patuhi terutama di era globalisasi yang serba moderen ini.
ADAT MANGKOK MERAH
Berdasarkan jenis alat peraganya, pada mulanya adat ini bernama mangkok jaranang. Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwrana merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam.
Oleh karena itu ia disebut mangkok merah. Pada jaman dahulu apabila dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli waris segera melakukan aksi belas dendam melalui pengerah masa secara adat yang disebut adat mangkok merah. Kasus tersebut biasanya mangkuk menyangkut kasus parakng- bunuh ataupun kasus pelecehan seksual dan lain sebagainya yang sifatnya mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap ahli waris.
Alat Peraga dan Maknanya
Alat paraga mangkok merah terdiri dari :
- Sebuah mangkuk sebagi tempat/sarana untuk meletakkan alat paraga lainnya.
- Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah “.
- Bulu/sayap ayam yang mengandung pengertian “ Cepat “, segera, kilat, seperti terbang”.
- Tabur atap daun ( ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh hujan karena ada terinak ( payung ).
- Longkot api ( bara kayu api baker yang sudah di pakai untuk memasak di dapur ) yang mempunyai pengertian bahwa yang membawa berita tidak boleh terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan penerangan api colok dsb.
Sebagai mana di jelaskan di atas bahwa gerakan mangkok merah muncul untuk membela kehormatan, harkat dan martabat ahli waris yang telah dihina dan dilecehkan. Dengan demikian tentu saja gerakan ini menjadi tangung jawab ahli waris. Menurut masyarakat adat Dayak Kanayatn susunan/turunan page waris samdiatn itu dapat digambarkan menurut garis lurus yaitu :
- Saudara Sekandung ( tatak pusat ) disebut samadiatn.
- Sepupu satu kali ( sakadiritan ) di sebut kamar kapala.
- Sepupu dua kali ( dua madi’ ene’ ) di sebut waris.
- Sepupu tiga kali ( dua madi’ ene’ saket ) di sebut waris.
- Sepupu empat kali ( saket ) di sebut waris.
- Sepupu lima kali ( duduk dantar ) di sebut waris.
- Sepupu enam kali ( dantar ) di sebut waris.
- Sepupu tujuh kali ( dantar page ) di sebut waris.
- Sepupu delepan kali ( page ) masih tergolong waris.
- Sepupu sembilan kali, dah baurangan tidak tergolong waris.
Sebagai mana telah di jelaskan dalam pendahuluan maka sifat-sifat yang terkandung didalam adat mengkok merah tersebut adalah :
- Seluruh acara pelaksanaan adat mangkok merah dari mulai bermusyawarah/mufakat hinga pemberangkatan bala, sarat prilaku-prilaku mistik relegius, oleh karena itu adat bersifat sakral.
- Pihak ahli waris yang dituju atau yang menerima berita mengkok merah demi menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kehormatan ahli waris mereka harus ikut. Apabila mereka tidak ikut, mereka dapat dicap sebagai pengecut dan tidak menaruh rasa malu. Dengan demikaian mereka terpaksa harus ikut. Jadi dalam adat mangkok merah terdapat sifat mengikat atau memaksa.
ADAT PAMABAKNG
Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat. Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif, misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.
Alat Peraga
- 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng banbu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup.
- Kemudian ada pelantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng ( tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah.
- 1 buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tampayan jampa.
- Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar.
- Disekitar pamabang terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah dengan bala yang akan datang.
- Tempayan jamba melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunauhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku.
- Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian.
- Beras banyu sebagai simbol perampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi.
- Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.
Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan, pamabankng dapat di pasang lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante ( pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap dilangar, masih adalagi pamabnag lain yang terakhir. Pamabakng yang terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabang terakhir inipun di langar maka tidak ada alternatif lain selain harus mengadakan perlawanan dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa, artinya adat raganyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di tempat pamabang, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentakangkan arti dan makana pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar penjelasan itu pihak bala melampisan emosinya dengan menikamkan senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak mendapat perlawanan.
Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah :
- Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan :
- Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris.
- Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat.
- Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang.
- Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan :
- Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat
- Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
Sunday, April 1, 2012
Karya Seni Suku Dayak Dipamerkan di Museum Perancis
![]() |
| Salah satu Karya seni Suku Dayak yang di tampilkan di Pameran di Perancis |
Bertandang ke Betang Antang Kalang
Wednesday, December 14, 2011
Teling Panjang, Budaya Dayak Yang Mulai Punah
![]() |
| Ilustrasi |
Wednesday, March 23, 2011
Story Of Remun Chief Named Numpi:
One famous Remun Iban Chief named Numpi, was one person who settled permanently at Tebelu. He owned 30 slaves, who worked for him when he was left an orphan after his parent died while he was still very young. Only two of these slaves were good to him, while the rest plotted to kill him as his parents had been cruel to them.One day, when Numpi’s two favorite slaves went out to fish for him, the rest of the slaves held a secret meeting to discuss ways of killing the boy. They decided to do it during the burning season of the padi planting cycle. Eventually, when the burning season came, they took Numpi with them to the farm. At the same time, they had requested Numpi’s two favorite slaves to go out fishing at the nearby river. As they reached the farm, they quickly placed Numpi in the middle of the farm near the foot of an ijok palm. The set the field on fire and ran to the edge of the farm to stay away a safe distance from the raging fire that burn the dry trees and bushes they cut earlier. The burning fire created a strong wind, which make the Ijok palm leaves to swing violently, splashing water from the nearby pool into Numpi’s tiny body, which saved him from being burnt or hurt by the flames and heat.
The ijok palm (Arenga pinnata) is a plant capable of yielding a small amount of edible flour (tepong mulong). Its trunk is covered with a coarse hair-like fiber (bulu) which serves as a valuable source of cordage, particularly for rope making. This useful palm also yields sugar and occasionally toddy (tuak ijok).
At the river side, while casting their net, the two loyal slaves saw a thick smoke in the direction of their farm from their boat. Sensing something wrong, they rushed home and found Numpi was not there. Worried about his safety in the hands of the other slaves who dislike their young master, the two loyal slaves immediately rushed to their farm. When they reached the paddy field, they found that the fire had already burned itself out. They also notice that Numpi was not together with them at their temporary hut on the edge of the field. They began to search for Numpi while mentioning that they would kill the other slaves personally if Numpi is found dead. Fearing for their lives, the other slaves left the field immediately while the two loyal slaves searched for their master.
As the two men searched for the child at the centre of the burnt out field, they heard a faint weeping sound of their master. Thus they knew that their master is still alive. When they saw him, they found that he had been miraculously cooled by the water splashed by the ijok palm leaves. Seeing the miracle, the two slaves made a vow, “since this ijok palm has saved our master, the people of our race must no longer eats its shoot, forever and ever”. It was and is because of this that the Remun Dayak does not eat the shoot of the ijok palm even to this very day. It is thought that anyone who eats it by mistake will be afflicted with boils (pisa).
The two slaves took their young master back to the house where they scented him with perfumed mambong leaves and the bark of the lukai tree in order to restore his health. They also urged him, when he was grown up, to kill all the disloyal slaves who had plotted to kill him. These words were overheard by some of the slaves, who still live close by, and they held an urgent meeting. Desiring to escape from their master’s retaliation, they secretly fled to the Batang Ai, Skrang and Saribas Rivers.
Mambong plant (blumea balsamifera) is a flowering shrub; commonly grow on newly abandoned farms (jerami). It is an important ritual and medicinal plant. Dried mambong leaves are burned, particularly at sunset, to repel malevolent spirits. Lukai is a small tree and its dried bark is also burnt to drive away both spirits and insect.
When Numpi had grown up, the two slaves had died of old age. So he lived alone and became very sad. There were a lot of other people living up and the Sadong River not very far from him, but as a man of very high rank, he felt ashamed of leaving his house and lived with them. Due to his loneliness, one day he decided to leave his house and settled on the sea coast. Here he lived by fishing. One day, while fishing, his net caught a bamboo. After he took the bamboo out of his net, he threw it back to the sea again. He paddled to another spot to cast his net. This time his net caught the bamboo again. He threw the bamboo back into the sea again and paddled to another spot to cast his net. At the new spot, he cast his net again. When he drew it out of the water, it has again caught a bamboo piece again. Seeing this repeated occurrence, he became puzzled and he decided to place a mark on the bamboo before he threw the bamboo piece towards the shore.
He paddled to another spot where he cast his net for the fourth time. This time it again caught on something. As he drew it up, he was surprised to see the same bamboo get caught in his net. This time, he placed it on his canoe. Numpi continued to fish and after some time, he caught enough fish for his food. As he reached his landing place, he brought the fish and bamboo to his house. As he carried the bamboo to his house, he heard strange noise coming from inside the bamboo node. At his home, he carefully split open the bamboo and found an egg inside. He placed the egg on a chupai basket and took it inside his room. He then went outside to dress himself on the gallery.
After he had dressed, he again heard a noise in the room, which he completely ignored. Shortly afterwards as he was looking towards the room, he saw a lovely young lady cleaning the fish which he had left in the basket. He thought to himself, “Maybe the egg has miraculously turned into this woman”.
Numpi then went back to the room. Before he could ask a question, the lady spoke to him. “Numpi, I have been asked by my brothers and sisters to follow you, in order to marry you, if you agree to become my husband”.
“Of course I want to marry you, if you agree and your family gives their consent”, replied Numpi.
The lady then told Numpi that she had tried many times to come to him when he fished in the sea. “It was I who was caught by your net in the sea. My name is Rambia Bunsu Betong. If you threw me away as you had so often done, my brothers and sisters might not agree to my marriage with you.”
They were married that evening and after a year had passed, they begot a son who they named Maar.
Eventually, when the child was growing into boyhood, his mother told Numpi that she must return to her spiritual world and could no longer live as husband and wife. However, she advised Numpi not to worry about the divorce as she promised to give Numpi another woman for his wife. After she had finished spoken, she disappeared from the sight of Numpi and their son.
One day, Numpi went out fishing in the sea again. This time he caught a huge patin catfish. He then started off to take his catch back to his home. As he paddled homeward, he happened to pass by a Sebuyau Dayak longhouse where a feast was being celebrated. When some of these people saw Numpi, they begged him to join them. He, at first refused their invitation as he is in a hurry to bring back the fish he had caught to his son at home. The Sebuyaus urged him to come in for a short time in order to taste their tuak (rice wine) and the delicious food they had prepared. On hearing this, and knowing that it is a taboo (puni) to refuse an invitation to taste the food, Numpi went up to the longhouse after securing his boat on their landing place. At the longhouse, he was served food and drinks by the host and joined in their merry makings. Very soon afterward, he began to forget about the patin fish he had left on the boat. Quite sometime later, when he remembers about the fish he left on the boat, he asked a boy to fetch it from his boat to be cooked for the feast. The boy then went out to fetch the fish from the boat and saw a young lady sitting there. When the boy asked the lady for the fish, she ignored him completely. Seeing this, the boy returned to the house and told Numpi what happens and what he saw on the boat.
On hearing the boy’s story, Numpi became suspicious and returned instantly to his boat at the landing place. As soon as he reached the landing place, he saw a beautiful lady sitting inside the boat. He quietly untie the boat and paddled away, too shy to speak to the young lady at the time.
As Numpi paddled the boat, the lady spoke to him. She said, “You are a strange man, Numpi. Why should you leave your son alone at home without anyone to look after him?” Numpi then guiltily asked the lady where she had come from. The lady told him that she was the patin fish that he had caught and her name is Rambia Bunsu Patin. Knowing that she was the lady his first wife had promised to send him before, they were married that evening.
They lived together as husband and wife and soon she gave birth to a son, whom they named Lau Moa. One day after the boy had grown to boyhood, his wife told Numpi that she cannot live with them in the human world any longer as she had come from their spiritual world. She advised Numpi that none of their descendants should eat the patin fish (heliocophagus). She too disappeared from their sight and Numpi was heartbroken again. He was happy that he was blessed with the two sons from the two marriages he had.
His sons grew up to be the leaders of their people. Maar was married to a woman named Riu, a daughter of Orang Kaya Saja of the Remun country. The descendent of Maar became chief of the Remun Dayaks, who lived between the other Sea Dayak (Sebuyaus) and the Land Dayak in the First Division, Sarawak. His brother, Lau Moa, moved to Batang Skrang, a tributary of Batang Lupar, and lived with his wife’s family there. He is most remembered as the first Iban pioneer to settle at Nanga Skrang. He was the father of the famous Iban bards Geringu, Sumbang, Sudok and Malang, who were believed to have been taught the correct wording of the Gawai Burong chants (Pengap Gawai Burong), by Sengalang Burong’s own bard, Sampang Gading. Most of his descendent still live in Skrang, Saribas and Kalaka region to this day.
sumber : www.gnmawar.wordpress.com
Tuesday, March 8, 2011
Makhluk Mistis Penjaga Hutan Bernama Kek Tung
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus EndiPONTIANAK, KOMPAS.com — Jika di Kaltim ada makhluk mistis berupa sepasang naga berkaki, lain lagi ceritanya di Kalbar. Khususnya di kalangan masyarakat Dayak di pedalaman, dikenal hewan mistis penghuni rimba raya sejenis harimau dahan.
Akan tetapi, ini bukan jenis satwa yang bisa dilihat semua orang. Kebanyakan hanya bisa mendengar suaranya berupa bunyi sayup "kung, kung, kung", tetapi bergema dan menggetarkan.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar Blasius H Chandra mengenang, suara itu begitu menggetarkan jiwa sekaligus menyeramkan. Saat masa kecilnya, ia pernah mendengar suara itu di tengah malam kala bermalam bersama orangtua di pondok ladang.
"Tengah malam di pondok ladang, suasana sangat hening. Ada suara serangga dan juga desah angin. Nah, sesekali terdengar suara 'kung, kung, kung' yang sayup, tapi menggetarkan. Hingga sekarang, saya tak bakal lupa kesan itu," ucap Blasius, Kamis (11/2/2010).
Bahkan, saat dirinya telah menjadi aktivis lingkungan, suara mistis itu masih pernah di dengarnya. Beberapa tahun lalu, saat berada malam hari di Bukit Sedayang, pedalaman Kabupaten Ketapang, suara itu kembali terdengar.
"Meski saya sudah hidup di abad modern, suara itu tetap menggetarkan. Apalagi sejak kecil, orangtua sudah menanamkan makna Sang Penjaga Alam itu yang kami sebut Kek Tung," katanya.
Apakah satwa itu nyata? Menurut penuturan orangtua, Kek Tung menyerupai jenis harimau dahan, berkulit hitam, berbadan besar, dan bersuara menggema.
Apabila Kek Tung bersuara, berbagai isyarat bisa ditangkap oleh para penatua. Di antaranya isyarat buah-buahan di hutan akan melimpah atau sebaliknya panen ladang akan gagal atau serangan sampar.
"Saya yakin Kek Tung nyata sebagai bagian komponen alam. Kalaupun masyarakat menilainya mistis, itu sah-sah saja jika dikaitkan dengan kearifan tradisi," ujarnya.
Suara Kek Tung hanya bisa didengar di kawasan hutan yang masih lestari, seperti rimba belantara yang belum terjamah tangan panas kapitalis.
Itu pula sebabnya di area hutan yang pernah terdengar suara Kek Tung, belum ada manusia yang berani merambahnya. Contohnya, Bukit Sedayang yang hingga kini masih dipenuhi oleh lebatnya buah durian, madu pohon, air jernih, udara segar, dan aneka hasil alam.
Kisah serupa juga ada di Kabupaten Sintang. Aktivis lingkungan kelahiran Sintang, Shaban Stiawan, mengaku pernah mendengar suara mistis itu di belantara rimba.
"Di daerah kami, masyarakat menyebutnya remaong. Saya pernah mendengar suaranya saat masih kecil. Hingga sekarang, saya masih ingat betul betapa merindingnya saya waktu itu," kata Shaban.
Suara yang menggetarkan jiwa itu boleh jadi bakal sirna seiring eksploitasi hutan gila-gilaan di bumi Kalbar. Pandangan prokapitalis tak bakal melihat kelestarian alam secara utuh.
Buktinya, mereka tak segan-segan menggusur hutan adat, perkuburan, bahkan tembawang. Padahal, tembawang merupakan bekas kampung tua, yang di situ pernah ada kehidupan manusia lengkap dengan perkakas budaya, fungsi sosial, religius, dan tanam-tumbuh. (*)
sumber : Kompas.com
Cerita Makhluk Misterius Budaya Dayak (3-Habis)
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus EndiPONTIANAK, KOMPAS.com - Stepanus Djuweng (48), pendiri Institut Dayakologi Kalbar, sebuah lembaga riset adat istiadat masyarakat Dayak, pernah melakukan penelitian tentang togukng. Dari berbagai wawancara dengan tetua di sejumlah kampung di Simpang Dua, tergambar bahwa togukng memang punya nilai mistis dan keturunan manusia biasa.
"Pangkalnya bermula dari kisah seorang penduduk kampung Banjur Karab, bernama Kek Catok. Suatu hari, Kek Catok ini menghilang, dan keluarganya mencari kemana-mana, tapi tak kunjung bertemu," papar Djuweng. Legenda itu diperkirakan terjadi sekitar 100-an tahun silam. Kepergian Kek Catok diduga karena bertemu togukng di alam kehidupan 'sebelah sana'.
Djuweng menceritakan kembali, suatu saat Kek Catok pergi berburu di hutan belantara dengan senjata tradisional berupa sumpit. Tiba-tiba ia melihat seekor kelempiau, kemudian disumpitnya. Kelempiau (kera) itu tiba-tiba pula menghilang, dan terjatuhlah Kek Catok ke suatu lubang. Ia kemudian terdampar di pontatn, yakni suatu panggung terbuat dari bambu yang digunakan masyarakat Dayak sebagai tempat jemuran padi,
"Jadi, kelempiau yang disumpit Kek Catok rupanya perwujudan togukng dalam bentuk lain," kata Djuweng.
Dari atas pontatn itu, Kek Catok melihat sekeliling, ternyata sebuah kampung tua dengan rumah betang. Dia bertemu dua orang perempuan, seorang ibu dan seorang gadis. Gadis itu merupakan adik bungsu dari enam saudara yang semuanya laki-laki. Saat itu, keenam laki-laki tersebut sedang pergi membalas dendam ke orang di Kampung Tiokng Kanakng yang telah membutuh ayah mereka.
Lazimnya rumah betang, memiliki suatu ruang di bawah atap yang disebut tempara. Kedua perempuan itu memasangkan ke tubuh Kek Catok baju layang angin, yakni baju yang bisa membuat seseorang bisa terbang, kemudian menyembunyikan dia tempara. Baju layang angin itu milik mendiang ayah sang gadis dan enam saudaranya.
Di tempara itu, Kek Catok berlindung di balik tujuh lapis badakng, yakni semacam bakul besar khas masyarakat Dayak yang biasa digunakan untuk mengangkut padi. Lalu, enam saudara laki-laki kembali dari Kampung Tiokng Kanakng, dan mencium bau mirip asam kamantatn (sejenis mangga hutan).
"Wah, ini bau manusia, seperti harum asam kamantatn. Kamu menyembunyikan manusia di sini ya," tutur Djuweng, mencoba merekonstruksi kisah itu.
Para lelaki mencari sampai ke tempara, dan menemukan tujuh lapis badakng yang tertungkup. Saat badang itu dibuka, ajaib, Kek Catok bisa terbang dan kabur melintasi tujuh buah gunung.
Enam lelaki itu tak sanggup membunuh Kek Catok, karena kesaktiannya akibat mengenakan baju layang angin peninggalan mendiang ayah mereka. Akhirnya, Kek Catok diminta menikah dengan adik bungsu mereka. Ketika Kek Catok dan istri alam gaibnya itu memiliki seorang bayi, tibalah saat mengetam padi di ladang. Kek Catok kembali ke dunia manusia, membawa istri barunya berikut anak mereka yang masih merah.
"Di dunia fana, sanak keluarga Kek Catok telah lama melakukan upaya pencarian dengan ritual adat. Kembalinya Kek Catok pada musim panen, sesuai puncak pencarian yang dilakukan istri dan anaknya di dunia," kata Djuweng. Menurut legenda itu, kembalinya Kek Catok ke dunia setelah banyak ritual pencarian dilakukan. Dia tiba-tiba muncul dengan terbang di Dorik Semugo, sebuah bukit kecil di sebelah Bukit Juring.
"Kek Catok, istri barunya, dan bayi mereka, terbang dan hinggap di sehelai daun pisang," tutur Djuweng.
Tentu saja, istri dan anaknya yang ada di dunia kaget, melihat Kek Catok datang membawa seorang istri baru dan bayi yang masih merah. Kek Catok pun berkisah mengenai ke mana perginya selama ini.
Sang istri pun akhirnya pasrah, karena meyakini itulah nasibnya. Ia meminta bantuan, karena ladang sudah saatnya dituai dan padi begitu banyak. Ajaib, hanya dalam semalam, panen dan angkut padi dari ladang ke lumbung selesai.
Kek Catok kemudian bolak balik ke dunia nyata dan maya. Bayinya, yang dinamai Pateh Carot, dan istri barunya, kembali ke 'alam lain' begitu panen selesai. Meski begitu, mereka tetap berhubungan dengan ritual tertentu, meski hidup di dua alam berbeda.
Akhirnya, Kek Catok meninggal di dunia nyata. Sesuai tradisi kuno masyaakat Dayak, jenazah dibalut dengan tikar pandan, kemudian dimakamkan. Beberapa saat sebelum jasad Kek Catok dikebumikan, orang membuka gulungan tikar itu untuk memandang terakhir kalinya. Anehnya, sosok itu hilang dari dalam gulungan tikar, dan diyakini diambil pihak keluarganya di dunia 'sebelah sana'.
"Setelah itu, antara Pateh Carot dan saudara se-ayah di bumi tetap menjalin hubungan. Seorang anak Kek Catok dibumi beranak pinak, dan keturunannya masih ada sampai sekarang. Hubungan yang terjalin, masih tetap terjalin sehingga sewaktu-waktu bisa dimintai pertolongan," ujar Djuweng. (*)
sumber : Kompas.com

















