BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Tjilik Riwut. Show all posts
Showing posts with label Tjilik Riwut. Show all posts

Sunday, June 22, 2014

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.


Adil ka’ talino bacuramin ka’ saruga basengat ka’Jubata.

Posisi Akademisi dalam Pilpres
Bola panas menjelang Pemilihan Presiden sudah di mulai. Setidaknya ada dua pasangan calon capres dan cawapres yang akan bertarung pada tanggal 9 Juli 2014. Pertarungan ini semakin memanas dengan bergabungnya akademisi yang secara tiba-tiba menjadi juru kampanye kedua pasangan tersebut. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam perilaku tersebut. Dalam sebuah negara demokrasi setiap individu memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Hanya saja sangat disayangkan, seorang akademisi yang diharapkan dapat memberikan analisis kritis dan berimbang, kini telah terkotak-kotak membela kepentingan golongan.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti alasan apa yang melatarbelakangi para akademisi menjadi jurkam para kandidat selain diri mereka sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang pasti, semua kalangan berharap bahwa semakin banyaknya akademisi dalam dunia politik praktis akan memberikan pendidikan politik yang semakin cerdas dan bukan sebaliknya, membuat kegaduhan dengan mencari-cari legitimasi untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.

Posisi akademisi dalam sebuah partai atau dukungan politik itu sangat penting. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tim ahli dan perumus program-program yang dianggap relevan dengan menggunakan hasil riset tetapi juga untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang dituduhkan kepada pasangan yang didukungnya. Pada saat seperti inilah sejatinya para akademisi diuji idealitasnya antara membela kebenaran atau membela kepentingan.

Saat ini setidaknya ada dua kubu akademisi yang bertarung pada arena politik. Kubu Mahfud MD yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta dan kubu Anis Baswedan yang mendukung pasangan Jokowi-JK. Dengan melihat kapasitas intelektual yang dimiliki, tentu tidak diragukan lagi. Akan tetapi, benarkah kapasitas intelektual semata akan menjamin seseorang bersikap obyektif atau dapat juga terjebak dalam pragmatisme?

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah.
Semakin menarik melihat euforia demokrasi Indonesia menjelang Pemilu Presiden ini, khususnya di kalangan anak muda. Mungkin benar jika Pemilu adalah pesta rakyat. Di orde baru, awal reformasi kehebohan menyambut pemilihan presiden boleh dibilang cuma terjadi di kalangan para politisi. Sekarang sangat berbeda, lihat saja di media massa, media sosial anak-anak muda berpartisipasi mendukung habis-habisan pasangan calon presiden dengan menyampaikan beragam opini dan kreatifitas melalui design gambar untuk mempromosi maupun menangkis serangan-serangan lawan.
Sebagai anak muda saya pun tidak ingin melewatkan pesta demokrasi ini dengan cuma berdiam diri saja, tentunya dengan mendukung salah satu calon yang di anggap paling tepat untuk memimpin bangsa ini. Namun terlepas dari masalah Pemilihan Presiden, ada beberapa catatan sejarah politik yang pernah di lakukan oleh Suku Dayak dilihat dari teropong sejarah.

Dalam bukunya ”Kalimantan Membangun”, Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional RI dari suku Dayak Kalimantan mengungkapkan bahwa Suku Dayak di Kalimantan juga memainkan peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Riwut, yang mantan Gubernur pertama Kalimantan Tengah ini mencatat bahwa pergerakan nasional modern dari pulau Kalimantan sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928, Tahun 1919 berdirinya Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Namun, gerakan Dayak untuk bebas dari penindasan baik yang dilakukan kerajaan feodal maupun penjajah Belanda semakin menguat dari tahun ketahun diseluruh Kalimantan. Pada tahun 1941 misalnya, sejumlah tokoh Dayak dalam suatu retret guru agama katolik di Nyarumkop Kalimantan Barat bersepakat untuk meningkatkan dan memperjuangkan nasib orang Dayak melalui perjuangan politik. Kesepakatan itu merupakan salah satu inisiatif JC Oevaang Oeray, siswa seminari yang menulis surat kepada peserta retret. Oleh AF Korak, JR Giling dan MT Djaman, berhasil dicetuskan kebulatan tekad untuk berjuang secara politik. 4 tahun setelah kesepakatan itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1945, F.J Palaunsoeka, guru sekolah rakyat di Puttusibau dan kawan-kawannya mendirikan Dayak In Action (DIA) dengan moderator seorang pastor Jawa bernama Adi Karjana SJ. Karena perkembangan situasi politik saat itu, pada tanggal 1 Nopember 1945, DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD) dengan ketua umum pertamanya F.J Palaoensoeka. Disetiap kampung dibentuk Komisariat yang sejajar dengan Dewan Pimpinan Cabang. Momentum gerakan politik melalui PD kemudian mendapat tempat dengan diubahnya karesidenan Kalbar menjadi Daerah Istimewa Kalbar pada tanggal 12 Mei 1947. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Sejarah mencatat, perjuangan politik orang Dayak ternyata tidak hanya berjuang secara diplomatic, tetapi ada juga yang berjuang senjata. Pada tahun 1943 diproklamasikan sebuah Negara Dayak bernama Negara Madjang Desa. Pang Suma menjabat sebagai perdana menteri, yang dibantu oleh Pang Linggan, dan kawan-kawannya. Gerakan Pang Suma menyihir para aktivis muda Dayak untuk bergabung dinegara yang baru terbentuk ini, termasuk sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup ketika beberapa kali pecah pertempuran melawan pemerintah Hindia Belanda. Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu diantara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma. Di Sidas, Mane Pak Kasih, asal Kampung Pancur Sengah Temila bertempur dengan tentara NICA di Jembatan Sidas. Bersama rombongannya, Mane Pak Kasih gugur, membela kemerdekaan yang sudah diraih. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Sidas. Mengapa pejuang-pejuang itu gagal ? Salah satu sebab utama kegagalan tersebut adalah ketidakmampuan Dayak radikal dalam mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan potensial rakyat Dayak secara umum, sehingga mereka tak memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi serangan aparat militer Jepang.

Sebagaimana dicatat para penulis Eropah, pada masa sebelum dan selama masa kolonial, Kalbar merupakan daerah yang terdiri dari banyak kesultanan. Kendati saling bersaing, semua sultan adalah Melayu dan memperoleh dukungan dari pemerintah Belanda & Jepang. Dayak adalah rakyat yang menjadi subyek kekuasaan Melayu. Cina merupakan kelompok etnik yang walaupun juga berada dalam kekuasaan Melayu, namun mereka berusaha mengembangkan otonomi tersendiri & relatif eksklusif. Konfigurasi sosial semacam itu terus bertahan hingga beberapa peristiwa penting terjadi di penghujung masa kolonialisme dan masa kemerdekaan. Pemerintah Belanda & misionaris memberikan kesempatan pendidikan yang besar, dan secara sadar atau tidak, ikut membentuk identitas etnik kepada Dayak. Dalam batas tertentu, pemerintah dan misionaris juga membuka kesempatan pendidikan yang besar kepada Cina. Tragedi pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor membuat Melayu kehilangan banyak sumberdaya manusia yang berkualitas. Dan karena sikap yang cenderung pro Belanda pada masa awal kemerdekaan, membuat Melayu pada akhirnya kehilangan peluang untuk menguasai birokrasi pemerintahan pada masa Orde Lama. Sejumlah Dayak berhasil memanfaatkan situasi ini, setelah berhasil mengkosolidasi kekuatannya, mereka mendirikan partai politik dan menang dalam pemilu 1955 dan 1958. Hal ini kemudian mengantarkan Dayak untuk menempati posisi sebagai kelompok etnik yang berkuasa. Satu orang menjadi gubernur, dan 4 di antaranya menjadi bupati serta beberapa mengisi jabatan-jabatan prestisius lainnya. Singkatnya, Dayak naik ke kursi kekuasaan, menggantikan kelompok etnik yang dulu mereka anggap sebagai penjajahnya.

Kemerdekaan dan politik luar negeri Indonesia di masa Orde Lama, membuat Cina menjadi lebih berkembang. Mereka bukan hanya menguasai ekonomi, melainkan juga mulai masuk dan berperan dalam bidang sosial-politik. Tidak lama Dayak menguasai birokrasi pemerintahan. Seiring dengan pergantian rezim dan perubahan politik luar-negeri Indonesia, pemerintah pusat membatasi aktivitas tokoh Dayak dalam politik dan pemerintahan, dan menggantikannya dengan pejabat militer yang berasal dari Jawa. Dayak berusaha mengadakan koptasi, namun gagal.

Peralihan Orde Lama ke Orde Baru merupakan masa yang paling menyakitkan bagi Cina. Mereka bukan hanya kehilangan posisinya secara ekonomi dan politik, melainkan juga harus kehilangan materi dan nyawa. Kelompok etnik yang relatif beruntung adalah Melayu dan Madura. Belajar dari sejarah, secara perlahan Melayu berhasil kembali menguasai birokrasi tingkat menengah ke bawah. Kendati perannya secara politik tidak besar, Madura berhasil memperbaiki posisinya sedemikian sehingga pemerintah, militer, dan parpol terpaksa harus memperhatikan kepentingannya dalam beberapa urusan tertentu. Puncaknya adalah terpilihnya seorang militer Madura menjadi bupati di kabupaten Sanggau.

Orde Baru adalah masa kontemplasi dan konsolidasi bagi Dayak. Dalam masa panjang itu, mereka berusaha semakin menguatkan identitas etnik mereka dengan mengontraskan perbedaan antara Dayak dengan Melayu. Mereka mengidetifikasi dirinya sebagai Kristen, penduduk asli, mayoritas, namun dijajah oleh Melayu yang mereka anggap sebagai Islam, pendatang dan minoritas. Mereka mendirikan berbagai organisasi sosial-politik dan ekonomi yang berusaha memberdayakan kelompok etniknya. Beberapa belas tahun kemudian, pemberdayaan tersebut berhasil mentransformasikan dirinya sebagai suatu gerakan politik.

Posisi Dayak pada Pemilihan Presiden 2014.
Hingar bingar Pemilihan Presiden 2014 sudah telah menyita perhatian banyak kalangan dari tukang becak sampai kalangan elit. Tidak terkecuali dengan kalangan intelektual Suku Dayak, seolah tidak ingin melewatkan moment ini, beragam dukungan pun diberikan kepada masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.1 Prabowo Hatta mendapat dukungan dari  Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah (LM-MDD-KT) deklarasikan ini dilakukan di Rumah Polonia, Jakarta Timur pada tanggal 20 Juni 2014 Prof. KMA M Usop selaku Ketua Presidium LM-MDD-KT menghadiri langsung acara deklarasi tersebut.

Sementara itu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla mendapat dukungan dari Forum Dayak Kalbar Jakarta (FDKJ) keputusan ini di ambil dari hasil rapat bersama tgl 29 Mei 2014 di Cijantung. Deklarasi terhadap pasangan calon Presiden No.2 ini pun dilakukan pada tanggal 30 Mei 2014 di Jln Sisingamangaraja yang dipimpin langsung oleh Ketua FDKJ Bapak Nikodemus Sabudin.

Pasangan Calon Presiden dan Wakli Presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla Juga mendapat dukung dari Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) melalui surat edaran NO.20/MADN/VI/2014 Pada tanggal 5 Juni 2014. Yang di tujukan kepada seluruh pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Seluruh Kalimantan. MADN mengajak masyarakat Adat Dayak untuk berpartisipasi dan melakukan pengawasan terhadap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tanggal 9 Juli 2014. Dalam surat tersebut juga Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memberikan dukungan terhadap pasangan calon presiden No.2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Selain dukungan yang diberikan secara langsung melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan, dukungan secara individual pun tidak kalah serunya. Tidak heran kalau akhir-akhir ini muncul para pengamat politik dadakan dari kalangan Anak Muda Dayak. Mereka pun menyebut dirinya sebagai Relawan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Para Relawan ini bertugas untuk mempromosikan program-program pasangan yang didukungnya melalui media sosial. Mereka juga bertugas untuk menangkis semua serangan-serangan negatif (black campaign atau negative campaign) yang alamatkan kepada pasangan yang didukungnya. Tidak jarang pada saat tertentu mereka saling serang, seolah-olah tidak kenal lagi persahabatan apabila berbeda pilihan main libas. Bahkan ada yang sampai adu urat saraf sakin cintanya kepada pasangan yang didukungnya.

Terlepas dari semua perbedaan diatas, yang perlu kita sadari adalah dalam suasana demokrasi persaingan serta perbedaan pendapat dalam memilih merupakan suatu yang wajar. Namun demokrasi juga tidak pernah membenarkan adanya bentrokan atau konflik adalah bagian darinya. Karena itu masyarakat Dayak yang terlibat dalam kampanye harus didasari bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari partisipasi politik yang dilakukanya dengan sukarela dalam menentukan pemilihan pemimpin bangsa. Siapa pun yang akan terpilih kita berharap presiden yang akan memimpin kita bisa membawa perubahan yang lebih baik dari sekarang.

Sebagai Masyarakat Dayak tentunya kita ingin diperhatikan oleh pemerintah terutama pembangunan sumber daya manusia dan Infrastruktur yang memadai di tanah Borneo. Kita tidak ingin lagi melihat jalan-jalan yang kita lewati seperti KUBANGAN atau seperti sawah yang habis di bajak. Pembanguan Infrastruktur sudah sangat mendesak, keseriusan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut sangat kita harapkan. Teman-teman mari kita sambut calon pemimpin baru negeri ini dengan penuh harapan, tanggal 9 Juli 2014 saatnya kita memilih, pilihlah pemimpin yang TEPAT, pilihlah pemimpin yang BERSIH, pilihlah pemimpin yang mau MELAYANI bukan diLAYANI, pilihlah pemimpin yang mau MENDENGAR suara rakyatnya.

Salam Budaya

Yohansen Borneo
Admin Cerita Dayak


Sumber :
-              www.ceritadayak.com
-              www.wikipedia.com
-              www.asosokbakati.blogspot.com
-              Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan - Karya Tjilik Riwut

Thursday, February 14, 2013

Persatuan Olahraga Sumpit Kalbar adakan Workshop

Laporan Andreas Aan, Kontributor di Kalimantan Barat
Dalam rangka mengenalkan olahraga sumpit ke masyarakat luas, dan mengangkat level olahraga sumpit ke tingkat yang lebih tinggi seperti cabang-cabang olahraga populer lainnya. Persatuan Olahraga Sumpit Kalimantan Barat bekerja sama dengan PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak Sahwa dan Gerakan Peduli Masyarakat (GPM) Kota Singkawang mengadakan workshop dengan tema " Olahraga Sumpit Menuju PON dan OLIMPIADE". 

Workshop dilaksanakan pada hari Sabtu malam tanggal 2 Februari 2013 bertempat di Parauman Dayak Salako Nyarumkop, Kota Singkawang. Sebagai pembicara Leo Dedy Anjiu, ST, MT dengan Moderatornya Andreas Aan, AMd. para peserta yang hadir berasal dari atlet sumpit Persatuan Olahraga Sumpit Kota Singkawang, Persatuan Olahraga Sumpit Kota Pontianak, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sambas, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sanggau, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Bengkayang, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sekadau, Team Sumpit Alas Kusuma (Tosaka) Kubu Raya dan Kontingen sumpit dari Kabupaten Sintang. 

Kegiatan yang baru pertama kalinya diadakan ini dimulai dengan sambutan dari Marsianus Kodim sebagai Ketua GPM Kota Singkawang dan dilanjutkan oleh Paulus Ricky mewakili PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak Sahwa. dengan diadakannya workshop ini Dedy berharap Olahraga Sumpit sudah tidak lagi hanya sebagai olahraga yang bersifat tradisional, yang cuma ada pada event-event budaya dayak saja, namun lebih dari itu olahraga sumpit sudah harus mendunia seperti cabang-cabang olahraga yang lebih dulu populer. 

Untuk di luar negeri sudah ada induk organisasi olahraga sumpit atau yang lebih umum dikenal sebagai blow gun, seperti di Amerika Serikat yaitu American Metis Blowgun Association (AMBA), di Prancis induk organisasinya FSBA (France Sport Blowgun Association) di Jerman sendiri namanya Deutscher Sport Blasrohr Verein (DSBV), dan masih banyak lagi Negara di Eropa yang sudah ada Induk Organisasinya seperti di Australia, Belanda, Belgia. untuk di Asia dijepang dikenal dengan IFA (International Fukiyado Association), di China ada CSBA (China Sport Blowgun Association) dan dimalaysia dikenal dengan MSBA. 

Untuk di Indonesia kita belum ada induk organisasinya dan ini yang menjadi kendala kita untuk berkembang, karena untuk memiliki induk organisasinya minimal kantornya harus di Ibukota Negara yaitu Jakarta. tentunya kita sangat berharap organisasi Adat dan kebudayaan seperti MADN dan DAD dapat membantu mencarikan solusi terbaik bagaimana olahraga sumpit ini cepat berkembang dan bisa memiliki induk organisasi di pusat, karena selama ini cuma dari persatuan olahraga sumpit kalbar yang lebih aktif dan kurang mendapat perhatian dari 2 lembaga diatas. 

sebagai langkah awal tentunya harus ada induk organisasi olah raga sumpit untuk mewadahi persatuan-persatuan olahraga sumpit yang ada di daerah-daerah, karena bukan hanya kita di kalimantan saja yang berharap olahraga sumpit ini bisa masuk Olimpiade, namun dari negara-negara diluar negeri yang sudah ada induk organisasinya pun berjuang juga agar olahraga sumpit (blowgun) bisa berlaga di tingkat internasional seperti olimpiade.

Sunday, February 7, 2010

Lahirnya AURI dibumi Kalimantan / Borneo

Tanggal 10 Oktober 1945 para pemimpin rakyat di Kalimantan berhasil membentuk Pemerintah Daerah yang merupakan bagian dari RI dan ber ibukota di Banjarmasin. Namun pada tanggal 24 Oktober 1945, tentara sekutu yang menduduki Kalimantan, menyerahkan Pemerintahan Sipil di Kalimantan kepada NICA ( Belanda ) hal ini yang menciptakan kemarahan rakyat Kalimantan Para pejuang mulai menyusun kekuatan untuk berjuang dan Pemerintah Pusat RI juga mengirimkan pasukan bersenjata namun selalu kandas karena blokade Belanda yang begitu ketat, akhirnya timbul gagasan dari Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Moh. Noer, pada bulan Juli 1947, beliau mengirimkan surat kepada Pimpinan AURI Komodor Udara R. Suryadarma agar KSAU menerjunkan pasukan payung yang terdiri dari putra-putra daerah Kalimantan untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan. KSAU sangat memperhatikan permintaan tersebut, maka ditunjuklah MBT untuk membentuk staf khusus guna menyusun pasukan payung, pasukan ini berada dibawah KSAU dan Mayor Udara Tjilik Riwut putra daerah Kalimantan diangkat sebagai Perwira Operasi.

Setelah melalui seleksi maka terpilihlah 13 orang yang siap diterjunkan ditambah dua orang PHB AURI, selama seminggu mereka dilatih teori dan praktek di daratan ( Ground Training ) kemudian mulai ditentukan pesawat yang digunakan untuk penerjunan rahasia itu adalah pesawat Dakota RI-002, pilotnya adalah Bob Freeberg, co pilot adalah Opsir Udara III Makmur Suhodo, jumping master adalah Opsir Muda Udara III Amir Hamzah, penunjuk jalan adalah Mayor Udara Tjilik Riwut dan Iskandar , bertindak sebagai Komandan. Setelah segala persiapan yang diperlukan dianggap selesai maka pada tanggal 17 Oktober 1947 waktu dini hari sekitar pukul 01.30 WIB mereka menerima briefing singkat dari KSAU.

Pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB mereka diterjunkan di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah dengan membawa perlengkapan secukupnya, dengan tujuan membantu perjuangan rakyat Kalimantan dengan membentuk dan menyusun satuan-satuan gerilya dipulau Kalimantan dan sumber kekuatan utama adalah suku Dayak Kalimantan. Mereka juga bertugas untuk membuka pemancar induk agar dapat terjalin hubungan telekomunikasi antara Kalimantan dengan Pulau Jawa, khususnya pemerintahan RI di Jogyakarta. Selain itu mereka juga mempunyai tugas lain yaitu membentuk dan menyempurnakan daerah pendaratan dan penerjunan untuk rencana operasi udara dikemudian hari.

Kemudian mereka menuju Sepanbiha tempat yang menjadi sasaran operasi, namun pada tanggal 23 Nopember 1947 mereka terjebak di suatu gubuk milik Kepala Desa Sambi maka terjadilah tembak menembak dengan tentara sekutu mengakibatkan 3 orang gugur dan yang lainnya dapat meloloskan diri namun akhirnya tertangkap juga oleh pihak belanda. Meskipun misi ini tidak dapat berhasil seperti yang direncanakan, tetapi nilai yang terkandung dalam kegiatan operasi tersebut sangat penting artinya karena merupakan satu misi operasi lintas udara yang pertama kali dilakukan. Tiga belas orang yang diterjunkan tersebut semula dapat bertahan dengan melakukan perang gerilya yang dibantu oleh rakyat setempat selama tiga puluh lima hari. Namun akhirnya tertangkap oleh musuh sehingga tiga diantaranya gugur sedangkan sisanya ditawan oleh belanda hingga awal tahun 1950. Peristiwa ini disamping merupakan misi operasi lintas udara (Linud) yang pertama bagi Angkatan Bersenjata kita sekaligus juga sebagai tonggak dimulainya kiprah TNI Angkatan Udara di Bumi Kalimantan. Dan untuk memperingati peristiwa yang bersejarah, serta pengorbanan tanpa pamrih dari para pahlawan kusuma bangsa tersebut maka pada setiap tanggal Tanggal 17 Oktober ditetapkan sebagai hari jadi Korps Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang menjadi Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara ( KORPASKHAS TNI AU ).

sumber : http://www.tni-au.mil.id

Saturday, November 14, 2009

Zaman Perjuangan Suku Dayak

Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.

Tahun 1620, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1679 Kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman.

Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.



Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman terbunuh di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda.
Menurut Hermogenes Ugang , pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membapbtiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Banjarmasin.

Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa Banjar.

Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah, sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis , Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak.

Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D. Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Pakat Dayak

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pada tahun 1937, generasi muda Kalimantan yang telah mengenyam pendidikan formal, mengerti dan mengikuti perkembangan zaman, mengadakan pertemuan untuk membicarakan segala sesuatu mengenai urusan suku Dayak dan urusan tanah Dayak sendiri. Pertemuan ini diadakan karena mereka merasa prihatin akan situasi dan keadaan masyarakat sukunya. Dalam segala raad-raad atau komite-komite yang diadakan oleh pihak pemerintah Belanda, ataupun pihak partikulir, orang-orang dari suku Dayak tidak pernah diberi kesempatan untuk duduk di situ, walau kenyataannya poin pembicaraan adalah urusan tanah Dayak sendiri. Wakil Kalimantan di Volksraad Pejambon, juga tidak memberikan perhatian sehingga keinginan rakyat Dayak tidak pernah terdengar sampai Pejambon.
Kemudian didirikan suatu komite yang diberi nama Komite Kesadaran Suku Dayak. Tujuan utama pendirian ialah untuk menuntut hak dan kedudukan dalam Sidang Dewan Rakyat serta mengobarkan semangat suku Dayak akan nasib tanah airnya. Komite ini telah mengumpulkan beribu-ribu tanda tangan dari seluruh suku Dayak, baik yang berdomisili di Kalimantan, maupun yang sedang merantau, untuk meminta kedudukan dalam Dewan Rakyat yang disampaikan kepada Pemerintah Agung.

Maksud dan Tujuan Pendirian Pakat Dayak

Maksud dan tujuan pendirian Pakat Dayak, seperti tersebut dalam Anggaran Dasar, pasal 2 dan 3, adalah sebagai berikut:

Pasal 2
Dasar

Perhimpunan ini berdasar pada persatuan suku Dayak dengan mengindahkan persamaan hak dan kewajiban. Maksud persatuan ini ialah penggabungan seluruh suku Dayak, hingga merupakan satu golongan yang besar dan teratur.

Pasal 3
Tujuan

a. Mengejar ketinggalan derajat suku, baik dalam soal politik, sosial dan ekonomi.
b. Persatuan seluruh suku Dayak
c. Mengejar segala hak-hak yang diakui oleh Hukum Negara.
d. Mempertinggi kembali Adat Leluhur, serta Kebudayaan Suku.

Terlihat dari pernyataan tersebut bahwa perhimpunan Pakat Dayak bukan perhimpunan keagamaan, sehingga siapapun yang merasa seorang Dayak berhak menjadi anggota.
Dalam usianya yang keempat, Pakat Dayak telah beranggotakan empat ribu lima ratus orang. Cabangnya tersebar di Dusun Timur, Barito, Kapuas, Kahayan, Samarinda, Pontianak, Katingan, Mentaya, Pangkalan Bun, Sebangau, Seruyan, bahkan dua cabang berada di Jawa. Dalam waktu singkat, Pakat Dayak telah mampu membangun 9 buah sekolah serta berpuluh-puluh warung kecil.

Sumber : Buku Maneser Panatau Tatu Hiang Karya Tjilik Riwut



Bookmark and Share

Tuesday, November 3, 2009

Bukit Batu

Bukit Batu yang kini lebih dikenal dengan nama Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut, terletak di daerah Kalimantan Tengah. Saat ini oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah tempat tersebut telah ditetapkan sebagai objek wisata spiritual.

1. Asal Usul
Cerita panjang yang melatar belakangi munculnya pertapaan Bukit Batu tersebut diawali dengan kisah seorang penduduk desa Tumbang Liting yang bernama Burut Ules. Ia seorang yang bakaji . Pada suatu hari, seorang diri ia pergi menuju ke suatu tempat untuk membuka lahan perladangan. Tanpa kawan, ia kerja keras, membabat hutan, membangun pondok untuk tempat beristirahat, tanpa melupakan tradisi leluhurnya yaitu memohon izin terlebih dahulu kepada segala mahluk yang tidak terlihat oleh mata jasmani, penunggu daerah tersebut

Suatu siang ketika Burut Ules merasa lelah, beristirahatlah ia sejenak di bawah sebuah pohon rindang yang tinggi dan telah berusia ratusan tahun. Dengan posisi tiduran sambil berbantalkan tangan, matanya menerawang jauh ke depan. Matahari bersinar terik, namun karena berada di rimba raya, sepoi-sepoi angin menyentuh lembut kulitnya, sejuk terasa, dan kantuk mulai datang menyerang. Akan tetapi ketika Burut Ules nyaris terlelap, ia terperanjat dan langsung melompat bangkit.

Dilihatnya tujuh perempuan cantik yang sangat menawan turun dari langit langsung menuju telaga yang ada didekatnya. Saat itu hujan rintik-rintik namun matahari masih bersinar dengan teriknya. Menyaksikan hal tersebut dengan mengendap-ngendap Burut Ules mendekati telaga. Sambil bersembunyi ia mengintip rombongan kecil tersebut. Gadis-gadis itu langsung membuka pakaian, besaluka tanpa penutup dada, dan terjun berenang, ceria, penuh tawa canda nan meriah.

Burut Ules terpana, mata tak berkedip menyaksikan pemandangan itu. Salah seorang yang nampak paling muda dalam kelompok itu, gerak geriknya membuat Burut Ules sangat terpesona. Tanpa sepengetahuan si gadis, matanya menatap tajam ke arah sang dara. Saat itu juga Burut Ules langsung jatuh cinta.

Setelah puas mandi dan berenang, kelompok kecil itu naik ke darat, kembali berpakaian dan melompat ke angkasa menuju langit. Sejak saat itu Burut Ules menjadi susah, resah, gelisah. Ia sangat menyesali dirinya mengapa pada saat itu tidak langsung memeluk si perempuan bungsu yang sedang mengenakan pakaiannya seusai mandi, padahal jarak antara mereka tidak jauh. Rasa sesal tersebut sangat menderanya hingga tidur tak nyenyak makan pun ia tak kenyang.

Suatu hari ketika matahari sedang bersinar terik dan turun hujan rintik-rintik, bergegas Burut Ules ke semak-semak menunggu dan mengamati telaga tempat idaman hatinya mandi. Usaha dan penantiannya tidak sia-sia, tidak lama kemudian di angkasa terlihat buah hatinya dengan saudara-saudaranya menukik menuju telaga. Menyaksikan hal tersebut, jantung Burut Ules nyaris copot. Pelan-pelan Burut Ules menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

Kemudian Burut Ules melihat adegan ulangan yang pernah ia saksikan. Ketujuh dara yang baru tiba langsung membuka pakaian, dengan ceria terjun ke telaga, mandi sambil berenang, penuh tawa ria. Namun ketika mereka menginjak tanah kembali untuk berpakaian, ketika itu pula Burut Ules mendadak muncul diantara mereka dan serta merta memeluk buah hatinya. Kepanikan pun terjadi, kelompok kecil tersebut tergesa-gesa memakai pakaiannya masing-masing langsung lompat menuju langit dengan meninggalkan si adik bungsu yang ketakutan dalam pelukan erat Burut Ules.

Ketika semua kakaknya telah pergi meninggalkannya, si bungsu berkata kepada Burut Ules: “Mengapa aku kau sekap? Apa salahku? Dan apa maumu? Bila kau ingin membunuhku, silahkan bunuh aku, aku tak akan melawan”.

Burut Ules tak mampu menjawab pertanyaan beruntun itu, ia hanya menjawab singkat, bahwa ia mencintai dan ingin menikahinya. Si bungsu langsung membalas pelukan Burut Ules dan resmilah mereka menjadi suami isteri.

Selanjutnya Burut Ules sibuk menyembunyikan pakaian yang pernah dipakai oleh isterinya saat pertama mereka bertemu. Ia khawatir isterinya akan meninggalkannya apabila pakaian tersebut dipakai lagi oleh isterinya. Untuk selanjutnya pakaian baru yang terbuat dari kulit kayu, yang ia berikan kepada isterinya. Singkat cerita, isteri Burut Ules hamil dan lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama... . Burut Ules hidup bahagia bersama anak dan isterinya.

Suatu hari muncul seorang pemuda, mamut menteng, hitam, tinggi besar mengunjungi keluarga itu. Isteri Burut Ules mengenalkan kepada suaminya bahwa pemuda tersebut adalah salah seorang saudaranya yang datang untuk mengunjungi mereka. Burut Ules menerima kehadiran pemuda tersebut dengan baik, bahkan pemuda itu diizinkan turut menginap di rumahnya.

Namun, lama kelamaan Burut Ules merasa curiga karena setiap mandi di telaga, mereka selalu pergi berdua, berenang ceria, dan hanya berdua. Anak mereka yang masih bayi ditinggal begitu saja di gubuk. Rasa cemburu mulai muncul, namun apabila Burut Ules menanyakan hal tersebut, isterinya selalu memberikan jawaban yang sama, bahwa pemuda tersebut benar saudaranya.

Teguran untuk mandi renang berdua di telaga telah diberikan, namun acara renang bersama tetap juga berlanjut. Timbul kemarahan Burut Ules.

Suatu hari, pada saat yang tepat, Burut Ules menikam pemuda hitam tinggi besar tersebut dengan tombak hingga tewas dan seketika jasadnya gaib. Sekalipun tombak yang dipakai untuk membunuh telah disembunyikan, namun hal itu diketahui juga oleh isterinya.

Ketika Burut Ules pulang ke rumah, dijumpainya isterinya berdiri di hejan sambil menggendong anak lelaki mereka satu-satunya. Ketika melihat Burut Ules datang, dengan nada penuh duka isterinya mengatakan bahwa ia sangat sedih dan kecewa karena suaminya tidak lagi mempercayainya bahkan tega membunuh saudaranya. Oleh karena itu ia bertekad untuk pulang ketempat asalnya dengan membawa serta putra mereka.

Sebelum pergi, masih sempat isterinya berpesan bahwa kelak dikemudian hari apabila anak turunan Burut Ules membutuhkan bantuannya, maka anak semata wayang mereka akan selalu siap membantu. Dikatakan pula bahwa kelak apabila anak mereka telah dewasa, ia tidak dapat hidup dan berdiam di alam dimana ibunya berada karena ayah dan ibunya berasal dari alam yang berbeda. Oleh karena itu apabila anak mereka telah dewasa, ia akan kembali ke alam ayahnya. Setelah berkata demikian anak dan ibu lenyap dari pandangan mata Burut Ules dan Burut Ules menjadi sedih tak terhingga.

Sesal kemudian tak berguna. Burut Ules mencoba bangkit dari kesedihannya. Hari-harinya ia habiskan untuk kerja keras, letih tidur dan kerja lagi, kerja, kerja, dan terus bekerja. Begitu seluruh waktunya ia lalui untuk bekerja mengurus ladang, menangkap ikan, dan banyak kegiatan lain yang ia lakukan.

Waktu berlalu, sedikit demi sedikit Burut Ules mampu bangkit kembali dari kesedihan akibat ditinggal pergi oleh isteri dan anaknya. Kemudian kawinlah ia dengan anak Kutat. Dari perkawinan ini lahirlah dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Diyakini bahwa hingga kini Burut Ules tidak pernah meninggal dunia tetapi gaib ke alam lain.

Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturunkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama isteri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam tempat bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit yang kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut.

2. Pertapaan Tjilik Riwut
Riwut Dahiang yang bertempat tinggal di daerah Sungai Sala, sangat mendambakan anak laki-laki. Keinginan tersebut demikian kuat dan mendalam. Walau berkali-kali Piai Riwut isterinya telah melahirkan anak, namun apabila anak laki-laki yang lahir, selalu saja meninggal dunia dalam usia balita. Keinginan yang sedemikian kuat membawa Riwut Dahiang bermohon dengan khusuk kepada Hatalla . Maka pergilah ia menuju ke suatu tempat keramat yaitu Bukit Batu.

Di tempat itu Riwut Dahiang balampah dan bermohon untuk diberikan seorang putera laki-laki. Wangsit yang diperoleh menyatakan bahwa kelak di kemudian hari putra lelaki yang sangat didambakan itu akan mengemban tugas khusus bagi masyarakat sukunya.

Tanggal 2 Pebruari 1918, anak laki-laki yang sangat diharapkan lahir dengan selamat di sebuah kebun durian Kampung Katunen Kasongan Kalimantan Tengah.

Sejak kecil oleh ayahnya, Tjilik Riwut sering diajak ke Bukit Batu sehingga bagi Tjilik Riwut kecil tempat itu sudah tidak asing lagi baginya. Setelah melampaui usia balita, ketika sedang bermain-main dengan teman seusia, terkadang Tjilik Riwut begitu saja pergi meninggalkan teman-temannya menuju Bukit Batu. Entah apa yang ia lakukan disana, tak seorang pun tahu.

Ketika menginjak usia remaja, Tjilik Riwut mulai mengikuti tradisi orang tuanya, pergilah Tjilik Riwut seorang diri menuju Bukit Batu. Di Bukit Batu ia balampah. Wangsit pertama yang ia peroleh mengarahkannya untuk menyeberang laut menuju pulau Jawa. Ketika itu komunikasi dan transportasi dari pedalaman Kalimantan ke Jawa amatlah sulitnya. Dapat dikatakan hanya impian. Jangankan ke pulau Jawa, menuju Banjarmasin yang juga berada di pulau yang sama yaitu Kalimantan membutuhkan perjuangan.

Tjilik Riwut tak kenal putus asa, halangan dan kesulitan yang menghadang ia anggap sebagai tantangan. Segala macam cara telah ia lakukan baik berjalan kaki menerobos rimba, naik perahu dan rakit, asalkan bisa mencapai pulau Jawa. Akhirnya sampai juga ia ke Banjarmasin. Singkat cerita, ketika sampai di Banjarmasin, Tjilik Riwut berusaha mendapatkan pekerjaan yang ada peluang untuk menghantarkannya ke Pulau Jawa.

Pada tahun 1942 di Banjarmasin, tengah malam ketika semua orang sedang tidur, Tjilik Riwut bangun dari tidurnya dan langsung membangunkan kawan-kawannya yang sedang terlelap tidur. Dengan begitu yakin Tjilik Riwut mengatakan kepada kawan-kawannya bahwa ayahndanya Riwut Dahiang malam ini telah dipanggil Yang Kuasa.
Tentu saja semua kawan-kawannya terheran-heran, tak satupun yang percaya bahkan mengira bahwa Tjilik Riwut sedang mimpi. Namun dengan mantap dan penuh keyakinan sekali lagi ia mengatakan bahwa semua ini benar karena penguasa Bukit Batu baru saja datang menemuinya menyampaikan pesan tersebut dan mengatakan bahwa sejak saat itu Tjilik Riwut adalah teman terdekatnya.

Tjilik Riwut meminta teman-temannya untuk mencatat kejadian tersebut lengkap dengan tanggal dan jam terjadinya peristiwa. Djainudin, Essel Djelau dan seorang teman lagi langsung mencatat walau tidak begitu yakin bahwa apa yang dialami Tjilik Riwut tersebut benar terjadi. Untuk mengecek kebenaran firasat tersebut hanya mungkin apabila ada seorang warga yang berasal dari Kasongan datang ke Banjarmasin. Saat itu komunikasi tidak semudah saat ini. Belum ada telepon, belum ada layanan pos, pengiriman berita mungkin terjadi apabila ada kenalan yang datang dari kampung halaman.

Suatu hari ketika seorang kawan datang dari Kasongan ke Banjarmasin, Tjilik Riwut bergegas menanyakan keadaan orang tuanya. Memang benar pada saat firasat dirasakan, pada saat itulah ayah tercintanya pergi menghadap ke hadirat Illahi.

Di masa Revolusi ketika Tjilik Riwut telah berhasil mencapai pulau Jawa bahkan telah terlibat aktif dalam perjuangan menantang Belanda, dalam suatu kesempatan ia pulang kampung dan balampah di Bukit Batu. Ia mohon petunjuk dalam perjuangannya melawan penjajah. Dalam kesempatan itupun Tjilik Riwut bernazar untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka . Sesuatu ia peroleh begitu usai balampah yaitu sebuah batu berbentuk daun telinga. Wangsit yang ia peroleh mengatakan bahwa batu tersebut dapat digunakan untuk mendengarkan dan memonitor musuh apabila diletakkan pada daun telinganya. Namun setelah kemerdekaan diperoleh oleh bangsa Indonesia, batu telinga itu pun gaib.

Sumber : Buku Maneser Panatau Tatu Hiang Karya Tjilik Riwut

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube