Showing posts with label Adat dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Adat dan Budaya. Show all posts
Monday, February 22, 2016
#RapuhMembisu
Di bilangan jalan Ahmad Yani 2, persisnya dalam komplek kawasan tanah milik BRG, bangunan yang telah tampak rapuh ini berdiri. Rumah (adat) Betang yang berada di tengah-tengah sawah itu berdiri membisu dengan kondisinya yang tak berdaya. Anda yang sering lewat jalur sekitar tentu tahu letaknya?
Entah bagaimana kisahnya, bangunan tersebut seperti tanpa tuan. Tidak dipedulikan lagi?!
Karena tidak terkelola, tempat ini kerap menjadi arena sohib muda mudi nyantai sambil menikmati suasana sekitar bersama pasangannya. Namun, belakangan intensitas yang dilakukan muda mudi itu sepertinya berkurang, karena kini telah ada yang mendiami tempat itu.
Entas sampai kapan dan akan bagaimana nasib bangunan yang membawa simbol etnik ini kelak? Entalah. Saran liriknya lagu Ebit G Ade untuk bertanya pada rumput yang bergoyang pasti tak akan memberi jawaban.
Yah, hanya perjalanan waktu yang pasti akan memberi jawaban pasti. Tapi sampai kapan menanti itu akan berbuah jawaban. Harap bersabar saja. Atauuuuuuu, Anda punya jawaban nasib bangunan yang membisu ini?
Melihat situasi bangunan yang mulai keropos itu, bila mau dianalogikan, situasinya sama seperti keberadaan hutan warisan leluhur di sejumlah wilayah hidup komunitas yang berhasil dijarah investasi dengan cara yang macam-macam.
Analogi rapuh membisu dalam cerita tersebut mau memperlihatkan betapa hutan sekitar dan wilayah sumber kehidupan yang tadinya baik lantas berubah mengalami perusakan, bahkan tanpa tersisa sebatang pohonpun. Ini kondisi repuhnya.
Sementara membisu, ya hutan yang berhasil dihabiskan itu tidak dapat berbuat apa-apa, selain hanya terdiam membisu.
Pada situasi masyarakat sekitar yang mendapat warisan alamnya yang baik, situasinya juga bisa jadi turut rapuh dan membisu oleh karena berbagai faktor, baik internal maupun karena faktor eksternal.
Lantas, akankah situasi seperti ini menghampiri dan bersemi pada masyarakat dan atau wailayah hidup komunitas yang alamnya masih cantik?
Saturday, June 28, 2014
Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014
Adil Ka' Talino Bacuramin Ka' Saruga Basengat Ka' Jubata
Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun 2014 Kabupaten Sanggau, secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat, Cornelis di Rumah Adat Dayak Dori' Mpulur Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau, Kamis (26/6). Peresmian ini di hadiri oleh Bupati Sanggau Paolus Hadi dan Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot dan sejumlah pimpinan Muspida, SKPD dan Muspika Se-Kabupaten Sanggau.

Dalam sambutannya, Cornelis mengaku sedih mendengar perusahaan-perusahaan yang ada di Sanggau hanya menyumbang Rp.10 Juta untuk Gawai Dayak Tersebut. Padahal menurut dia, selama ini para pengusaha tersebut munggunakan tanah Dayak. "Datang dari sana (Jawa) hanya bawa barang dua biji. Dia punya investasi ratusan miliar dari Bank, kenapa dana CSR-nya tidak dikeluarkan untuk membangun mental orang Dayak. Ini adalah pembangunan mental, REVOLUSI MENTAL meroba pola pikir orang Dayak di kabupaten Sanggau ini, kenapa dia takut investasi. Apa dia tidak takut sawitnya disuntik orang Dayak, setiap malam 10 pokok, mampus dia" kata Cornelis.
Oleh karena itu, lanjut Cornelis dirinya meminta orang-orang Dayak yang ada di kabupaten Sanggau jangan lagi menyerahkan tanah-tanah Dayak kepada pengusaha. "Kita di kampung dia usir, Saya bukan provokator, bukan, tapi ini adalah kenyataan" tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama dia mendorong pembangunan daerah yang maju dan terdepan. Secara khusus dia memotivasi agar masyarakat Dayak mampu bersaing dalam segala hal dengan daerah atau provinsi lainnya. Pada acara Gawai Dayak ini juga Cornelis menyumbang uang sebesar Rp.50 juta yang di ambil dari uang operasional gubernur untuk panitia Gawai Adat Dayak 2014.
Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya mengajak masyarakat Sanggau turut mensukseskan pembangunan daerah. Seperti halnya Sanggau yang mengusung tujuh Brand Image pembangunan yaitu Sanggau Tertib, Sanggau Bersih, Sanggau Sehat, Sanggau Pintar, Sanggau Terang, Sanggau Manjur, Sanggau Budiman.
"Tujuh brand image ini adalah tujuan kita bersama yang harus kita wujudkan, kita harus memiliki keyakinan untuk mewujudkan ini. Tujuan brand image ini akan menjadi ciri dari Sanggau, jadi ketika orang masuk ke Sanggau dia akan mengingat tujuh brand image ini" katanya.
Sementara itu ketua DAD kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menyampaikan, moment Gawai Dayak Nosu Minu Podi merupakan bentuk syukur kepada Tuhan karena telah dilimpahkan rezeki yang bersumber dari alam. Event tahunan yang kerap dilaksanakan pada tanggal 7 bulan 7 ini dikatakannya sedikit bergeser dari rencana. Berdasarkan hasil keputusan bersama Dewan Adat Dayak Se- Kabupaten Sanggau dengan pertimbangan antara lain, pada bulan Juli mendatang Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden dan akhir juni umat Islam akan memasuki bulan puasa.
Gawai Dayak sendiri merupakan tradisi nenek moyang Suku Dayak yang harus dipertahankan dan di kembangkan. Dengan moment Gawai Dayak yang mengusung tema "MElalui Gawai Dayak Nosu Mino Podi kita Dukung Tujuh Brand Image Kebupaten Sanggau" ini, Ontot mengajak masyarakat Dayak untuk melestarikan adat budaya Dayak yang tumbuh dan berkembang agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai Orang Dayak.
Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014
Salam Budaya
Yohansen
sumber : kapuas.co

Dalam sambutannya, Cornelis mengaku sedih mendengar perusahaan-perusahaan yang ada di Sanggau hanya menyumbang Rp.10 Juta untuk Gawai Dayak Tersebut. Padahal menurut dia, selama ini para pengusaha tersebut munggunakan tanah Dayak. "Datang dari sana (Jawa) hanya bawa barang dua biji. Dia punya investasi ratusan miliar dari Bank, kenapa dana CSR-nya tidak dikeluarkan untuk membangun mental orang Dayak. Ini adalah pembangunan mental, REVOLUSI MENTAL meroba pola pikir orang Dayak di kabupaten Sanggau ini, kenapa dia takut investasi. Apa dia tidak takut sawitnya disuntik orang Dayak, setiap malam 10 pokok, mampus dia" kata Cornelis.
Oleh karena itu, lanjut Cornelis dirinya meminta orang-orang Dayak yang ada di kabupaten Sanggau jangan lagi menyerahkan tanah-tanah Dayak kepada pengusaha. "Kita di kampung dia usir, Saya bukan provokator, bukan, tapi ini adalah kenyataan" tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama dia mendorong pembangunan daerah yang maju dan terdepan. Secara khusus dia memotivasi agar masyarakat Dayak mampu bersaing dalam segala hal dengan daerah atau provinsi lainnya. Pada acara Gawai Dayak ini juga Cornelis menyumbang uang sebesar Rp.50 juta yang di ambil dari uang operasional gubernur untuk panitia Gawai Adat Dayak 2014.
Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya mengajak masyarakat Sanggau turut mensukseskan pembangunan daerah. Seperti halnya Sanggau yang mengusung tujuh Brand Image pembangunan yaitu Sanggau Tertib, Sanggau Bersih, Sanggau Sehat, Sanggau Pintar, Sanggau Terang, Sanggau Manjur, Sanggau Budiman.
"Tujuh brand image ini adalah tujuan kita bersama yang harus kita wujudkan, kita harus memiliki keyakinan untuk mewujudkan ini. Tujuan brand image ini akan menjadi ciri dari Sanggau, jadi ketika orang masuk ke Sanggau dia akan mengingat tujuh brand image ini" katanya.
Sementara itu ketua DAD kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menyampaikan, moment Gawai Dayak Nosu Minu Podi merupakan bentuk syukur kepada Tuhan karena telah dilimpahkan rezeki yang bersumber dari alam. Event tahunan yang kerap dilaksanakan pada tanggal 7 bulan 7 ini dikatakannya sedikit bergeser dari rencana. Berdasarkan hasil keputusan bersama Dewan Adat Dayak Se- Kabupaten Sanggau dengan pertimbangan antara lain, pada bulan Juli mendatang Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden dan akhir juni umat Islam akan memasuki bulan puasa.
Gawai Dayak sendiri merupakan tradisi nenek moyang Suku Dayak yang harus dipertahankan dan di kembangkan. Dengan moment Gawai Dayak yang mengusung tema "MElalui Gawai Dayak Nosu Mino Podi kita Dukung Tujuh Brand Image Kebupaten Sanggau" ini, Ontot mengajak masyarakat Dayak untuk melestarikan adat budaya Dayak yang tumbuh dan berkembang agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai Orang Dayak.
Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014
Salam Budaya
Yohansen
sumber : kapuas.co
Saturday, June 28, 2014
Tuesday, January 21, 2014
Kalimantan Tempo Doeloe
Sejarah lebih dari 500 tahun Kalimantan terangkum dalam buku ini. Meskipun tidak menceritakan sejarah Kalimantan secara runtun, tetapi berkat editornya, Victor T King yang sohor sebagai pakar sosiologi-sejarah, kisah-kisah kesaksian di dalam buku ini telah menjadi suatu dokumen vital yang mampu menggambarkan perubahan budaya, sosial, politik, ekonomi di pulau hutan hujan tropis itu.
Dimulai dari kisah Antonio Pigafetta yang menulis pada abad ke-16 dan menjadi gambaran pertama serta terbaik mengenai Kesultanan Brunei, Daniel Beekman tentang Kesultanan Banjarmasin sampai dengan Eric Hansen yang bertualang mengelilingi hutan bersama suku Penan dengan berjalan kaki pada 1980-an. Buku ini menyajikan mengenai eksplorasi di wilayah Sungai Mahakam di Selatan Kalimantan dan sungai serta daerah aliran air di timur Kalimantan sampai ke daerah pesisirnya. Termasuk kisah perjalanan menaiki Gunung Kinabalu. Beragam suku penghuni asli Kalimantan diriwayatkan, meliputi suku Dayak Laut, Dayak Ot Danum, Suku Kenyah, Iban, Suku Penan dan termasuk mitos “Dayak berekor”.
Sorotan juga diberikan kepada kerajaan-kerajaan besar di Kalimantan, seperti Banjarmasin, Brunei dan Serawak serta perang antarsuku, perompakan, perampasan di pesisir Kalimantan. Terlebih menarik banyak sekali data karakteristik budaya terkait dengan arsitektur dan aneka upacara, mulai dari pengorbanan binatang, pemakaman, berbagai perhiasan yang mencolok, seperti tato, manik-manik, hiasan telinga, dan hiasan kepala dari bulu.
Catatan yang dibuat Victor T King pada setiap kesaksian yang dipilih, bukan saja akan memudahkan setiap pembaca mengenali sosok si pemberi kesaksian, memahami konteks zaman ketika kesaksian dibuat, tetapi juga bagaimana menafsirkan ulang dan mencermati secara kritis kesaksian yang diberikan, sehingga pembaca tidak sekadar hanya bernostalgia ke Kalimantan Tempo Doeloe.
untuk mendapatkan bukunya bisa langsung dari website dibawah ini :
http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/kalimantan-tempo-doeloe/
http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/kalimantan-tempo-doeloe/
Tuesday, January 21, 2014
Friday, December 6, 2013
Tuak

Tuak merupakan minuman khas Dayak. Setiap ada acara adat pasti pula ada arak atau tuak. Budaya membuat tuak merupakan budaya yang turun temurun. Orang Dayak sangat pandai membuat tuak dari ketan. Hasil dari fermentasi tersebut akan berubah menjadi minuman yang berasal dari tetesan minuman yang cukup membuat mabuk tersebut. Dalam tradisi Dayak yang disebut besompok (bertarung untuk minum arak) merupakan tradisi yang masih terpelihara sampai saat ini. Bukan sebagai kebangaan tetapi untuk mempererat persaudaraan dan keakraban karena tradisi dari zaman nenek moyang. Rasa minuman ini agak terasa manis tapi bilater lalu banyak minum tuak ini maka sangat sulit untuk cepat pulih.
Friday, December 06, 2013
Tuesday, October 29, 2013
Mari Mendukung Penegakan Keadilan Bagi Masyarakat Adat Indonesia
KEPADA PEMERINTAH INDONESIA: Segera Laksanakan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 dan Sahkan RUU Masyarakat Adat
Pada
tanggal 16 Mei 2013 yang lalu, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
telah membacakan keputusan atas Judicial Review terhadap UU 41/1999
tentang Kehutanan yang diajukan oleh AMAN dan 2 Komunitas masyarakat
adat. Dalam Putusan No. 35/PUU-X/2012, Mahkamah Konstitusi menegaskan
bahwa Hutan Adat adalah Hutan yang berada di wilayah adat.
Masyarakat adat di seluruh Indonesia menyambut
gembira Putusan MK tersebut dengan melakukan pemasangan plang di wilayah
adat secara serentak. Plang itu bertuliskan: “Hutan adat bukan lagi hutan Negara. Masyarakat adat melaksanakan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012”.
Selain melakukan pemasangan plang, masyarakat adat juga memulai gerakan
rehabilitasi wilayah adat yang telah rusak oleh aktivitas perusahaan
pemegang ijin dari Negara.
Sudah 4 bulan berlalu sejak Putusan MK
35/PUU-X/2012 itu dibacakan oleh Mahkamah Konstusi. Namun belum
kelihatan langkah konkrit pemerintah untuk melaksanakan Putusan MK
tersebut. Surat Edaran Menteri Kehutanan No SE.1/Menhut-II/2013 tentang Putusan Mahkamah Konstitusi No 35/PUU-X/2012 tanggal
16 Mei 2013 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati/Walikota dan Kepala
Dinas Kehutanan seluruh Indonesia menegaskan bahwa penetapan kawasan
hutan adat tetap berada pada Menteri Kehutanan. Surat Edaran tersebut
mensyaratkan Peraturan Daerah untuk untuk penetapan kasawan hutan adat
oleh Menhut.
Jika demikian, pengukuhan hutan adat masih sangat
panjang sementara proses pelepasan dan konversi kawasan hutan
bagi kepentingan industri masih marak dilakukan. Sehingga Keadilan bagi
masyarakat adat terus menerus terbaikan.
Oleh karena itu:
Kami menegaskan bahwa masyarakat adat
memiliki hak penuh atas tanah, wilayah dan sumber daya alam, termasuk
atas hutan adat. Pengakuan terhadap hak-hak ini, merupakan bagian dari
pemenuhan hak asasi yang melekat pada masyarakat adat dan dijamin oleh
UUD 1945.
Kami menyambut baik dan mendukung Putusan
Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-X/2012 yang menegaskan kembali
bahwa Hutan Adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat adat,
dan bukan lagi sebagai hutan negara.
Kami mendesak Pemerintah Indonesia untuk
segera melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 baik
di tingkat nasional maupun daerah. Kami juga menuntut DPR RI untuk
segera mengesahkan RUU tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak
Masyarakat Adat.
Untuk mendukung Petisi ini silahkan kunjungi link
http://www.change.org/id/petisi/kepada-pemerintah-indonesia-segera-laksanakan-putusan-mk-no-35-puu-x-2012-dan-sahkan-ruu-masyarakat-adat#
Tuesday, October 29, 2013
Tuesday, March 5, 2013
Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang
Masyarakat
dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya,
tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan
sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan
budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap
tahun
masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang
Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan
Nyepi.
Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb.
Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi.
Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru.
Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya.
Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k.
Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter).
Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya .
Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.
Tuesday, March 05, 2013
Friday, February 15, 2013
INSPIRASI DARI JANTUNG BORNEO
Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata.!!
SAKSIKAN..!!
INSPIRASI DARI JANTUNG BORNEO
Mencari persamaan akan lebih mendamaikan ketimbang mengotak-atik perbedaan. Ini lah yang menjadi kepercayaan masyarakat di dataran tinggi, jantung Borneo, alias Pulau Kalimantan.
Di Dataran tinggi itu ada masyarakat yang mengaku satu leluhur, satu rumpun, dan satu adat. Meski sebuah garis adminitrastif telah memisahkan mereka sebagai masyarakat di dua negara yang berbeda, namun mereka bisa menciptakan sebuah harmonisasi hubungan yang saling menguntungkan. Mereka adalah masyarakat negara Indonesia di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Timur dan masyarakat di wilayah Sarawak dan Sabah, Malaysia
Sejak November 2006, masyarakat adat dari kedua negara Malaysia dan Indonesia, telah mendeklarasikan terbentuknya sebuah forum adat dataran tinggi Borneo (FORMADAT).
Deklarasi itu menunjukkan pemikiran visioner masyarakat bahwa tanah dan masa depan masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, walaupun secara administratif terpisah, adalah satu dan membutuhkan komitmen bersama untuk membangun penghidupan yang lebih sejahtera dan mempertahankan lingkungan yang baik.
Secara bersama-sama, mereka membangun kerjasama untuk mempertahankan budaya, tradisi, bahasa, dan hubungan masyarakat adat Dataran Tinggi Borneo. Mereka juga bersama-sama, mengembangkan usaha ekonomi yg berkelanjutan, antara lain melalui pertanian organik, ekowisata berbasiskan masyarakat, dan membentuk jaringan perdagangan yang adil.
Jadi, ketika banyak konflik terjadi antara Indonesia dengan negara Jiran Malaysia, maka kita akan melihat suasana lain di tengah masyarakat di Dataran Tinggi Borneo.
Kerukunan mereka tak hanya ditujukan bagi keharmonisan masyarakat dua negara, tapi juga keharmonisan antara manusia dan alam. Masyarakat kedua negara sepakat untuk mendorong konservasi, sungai, hutan adat, memelihara situs sejarah, dan budaya.
Adalah Lewi G. Paru, seorang ketua adat dari Krayan Selatan, yang kini dipercaya sebagai Ketua Formadat dari pihak Indonesia. Sementara dari Malaysia, ada George Sigar, tokoh dari Bakelalan, Sarawak.
Dari perbincangan host Andy F. Noya dan kedua tokoh ini, kita dapat mengambil banyak inspirasi tentang kedamaian di perbatasan, dan lebih besar lagi, tentang perdamaian masyarakat di dua negara.
Satu hal yang patut dicatat dari pengalaman kepemimpinan mereka, adalah sikap rela berkorban.
Lewi G. Paru, sebagai Ketua Adat sekaligus Ketua Formadat Indonesia, merasa bahwa akses jalan menuju perbatasan adalah infrastruktur yang harus dibangun untuk tercapainya tujuan bersama itu. Maka, ia rela menjual 300 kerbaunya, untuk pembuatan jalan di perbatasan Krayan menuju Sarawak.
Bagi, Lewi, akses itu lebih rasional, ketimbang memikirkan akses ke ibu kota kabupaten, yang masih harus ditempuh dengan pesawat perintis. Kecamatan Krayan, memang memiliki lokasi yang masih terpencil di tengah rimbunnya hutan Kalimantan. Untuk menuju ke sana, kita harus menggunakan jasa pesawat perintis dari kota Tarakan, Kalimantan Timur.
Selain bekerja sama dalam bidang ekonomi, FORMADAT juga memiliki misi untuk melestarikan budaya adat Lundayeh se-Dataran Tinggi Borneo.
Untuk memenuhi misi itu, mereka membangun Cultural Field School (CFS), sebuah lembaga pelestarian seni budaya yang secara berkala memberikan pelatihan pada generasi muda.
Inilah sebuah gambaran tentang harmoni yang indah di perbatasan dua negara. Bayangkan, jika di setiap titik perbatasan ada kedamaian seperti ini, betapa kehidupan di bumi ini akan penuh suka cita. Tak ada permusuhan yang ada hanyalah harmoni bagi manusia dan alam semesta.
#Acara: Kick Andy On The Location di MetroTV
#Tema : Isnpirasi Dari Jantung Borneo
#Hari/Tgl : Jumat, 1 Feb 2013
#Jam : 21.30 WIB
#Tayang Ulang : Minggu 3 Feb 2013
#Jam : 15.30 WIB
Jangan sampai anda lewatkan.!! Bagikan infio ini dengan yang teman sobat sebanyak mungkin.
Salam
The New Generation Of Dayak
SAKSIKAN..!!
INSPIRASI DARI JANTUNG BORNEO
Mencari persamaan akan lebih mendamaikan ketimbang mengotak-atik perbedaan. Ini lah yang menjadi kepercayaan masyarakat di dataran tinggi, jantung Borneo, alias Pulau Kalimantan.
Di Dataran tinggi itu ada masyarakat yang mengaku satu leluhur, satu rumpun, dan satu adat. Meski sebuah garis adminitrastif telah memisahkan mereka sebagai masyarakat di dua negara yang berbeda, namun mereka bisa menciptakan sebuah harmonisasi hubungan yang saling menguntungkan. Mereka adalah masyarakat negara Indonesia di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Timur dan masyarakat di wilayah Sarawak dan Sabah, Malaysia
Sejak November 2006, masyarakat adat dari kedua negara Malaysia dan Indonesia, telah mendeklarasikan terbentuknya sebuah forum adat dataran tinggi Borneo (FORMADAT).
Deklarasi itu menunjukkan pemikiran visioner masyarakat bahwa tanah dan masa depan masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, walaupun secara administratif terpisah, adalah satu dan membutuhkan komitmen bersama untuk membangun penghidupan yang lebih sejahtera dan mempertahankan lingkungan yang baik.
Secara bersama-sama, mereka membangun kerjasama untuk mempertahankan budaya, tradisi, bahasa, dan hubungan masyarakat adat Dataran Tinggi Borneo. Mereka juga bersama-sama, mengembangkan usaha ekonomi yg berkelanjutan, antara lain melalui pertanian organik, ekowisata berbasiskan masyarakat, dan membentuk jaringan perdagangan yang adil.
Jadi, ketika banyak konflik terjadi antara Indonesia dengan negara Jiran Malaysia, maka kita akan melihat suasana lain di tengah masyarakat di Dataran Tinggi Borneo.
Kerukunan mereka tak hanya ditujukan bagi keharmonisan masyarakat dua negara, tapi juga keharmonisan antara manusia dan alam. Masyarakat kedua negara sepakat untuk mendorong konservasi, sungai, hutan adat, memelihara situs sejarah, dan budaya.
Adalah Lewi G. Paru, seorang ketua adat dari Krayan Selatan, yang kini dipercaya sebagai Ketua Formadat dari pihak Indonesia. Sementara dari Malaysia, ada George Sigar, tokoh dari Bakelalan, Sarawak.
Dari perbincangan host Andy F. Noya dan kedua tokoh ini, kita dapat mengambil banyak inspirasi tentang kedamaian di perbatasan, dan lebih besar lagi, tentang perdamaian masyarakat di dua negara.
Satu hal yang patut dicatat dari pengalaman kepemimpinan mereka, adalah sikap rela berkorban.
Lewi G. Paru, sebagai Ketua Adat sekaligus Ketua Formadat Indonesia, merasa bahwa akses jalan menuju perbatasan adalah infrastruktur yang harus dibangun untuk tercapainya tujuan bersama itu. Maka, ia rela menjual 300 kerbaunya, untuk pembuatan jalan di perbatasan Krayan menuju Sarawak.
Bagi, Lewi, akses itu lebih rasional, ketimbang memikirkan akses ke ibu kota kabupaten, yang masih harus ditempuh dengan pesawat perintis. Kecamatan Krayan, memang memiliki lokasi yang masih terpencil di tengah rimbunnya hutan Kalimantan. Untuk menuju ke sana, kita harus menggunakan jasa pesawat perintis dari kota Tarakan, Kalimantan Timur.
Selain bekerja sama dalam bidang ekonomi, FORMADAT juga memiliki misi untuk melestarikan budaya adat Lundayeh se-Dataran Tinggi Borneo.
Untuk memenuhi misi itu, mereka membangun Cultural Field School (CFS), sebuah lembaga pelestarian seni budaya yang secara berkala memberikan pelatihan pada generasi muda.
Inilah sebuah gambaran tentang harmoni yang indah di perbatasan dua negara. Bayangkan, jika di setiap titik perbatasan ada kedamaian seperti ini, betapa kehidupan di bumi ini akan penuh suka cita. Tak ada permusuhan yang ada hanyalah harmoni bagi manusia dan alam semesta.
#Acara: Kick Andy On The Location di MetroTV
#Tema : Isnpirasi Dari Jantung Borneo
#Hari/Tgl : Jumat, 1 Feb 2013
#Jam : 21.30 WIB
#Tayang Ulang : Minggu 3 Feb 2013
#Jam : 15.30 WIB
Jangan sampai anda lewatkan.!! Bagikan infio ini dengan yang teman sobat sebanyak mungkin.
Salam
The New Generation Of Dayak
Friday, February 15, 2013
Thursday, February 14, 2013
Persatuan Olahraga Sumpit Kalbar adakan Workshop
Laporan Andreas Aan, Kontributor di Kalimantan Barat
Dalam rangka mengenalkan olahraga sumpit ke masyarakat luas, dan
mengangkat level olahraga sumpit ke tingkat yang lebih tinggi seperti
cabang-cabang olahraga populer lainnya. Persatuan Olahraga Sumpit
Kalimantan Barat bekerja sama dengan PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak
Sahwa dan Gerakan Peduli Masyarakat (GPM) Kota Singkawang mengadakan
workshop dengan tema " Olahraga Sumpit Menuju PON dan OLIMPIADE".
Workshop dilaksanakan pada hari Sabtu malam tanggal 2 Februari 2013
bertempat di Parauman Dayak Salako Nyarumkop, Kota Singkawang.
Sebagai pembicara Leo Dedy Anjiu, ST, MT dengan Moderatornya Andreas
Aan, AMd. para peserta yang hadir berasal dari atlet sumpit Persatuan
Olahraga Sumpit Kota Singkawang, Persatuan Olahraga Sumpit Kota
Pontianak, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sambas, Persatuan
Olahraga Sumpit Kabupaten Sanggau, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten
Bengkayang, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sekadau, Team Sumpit
Alas Kusuma (Tosaka) Kubu Raya dan Kontingen sumpit dari Kabupaten
Sintang.
Kegiatan yang baru pertama kalinya diadakan ini dimulai dengan sambutan
dari Marsianus Kodim sebagai Ketua GPM Kota Singkawang dan dilanjutkan
oleh Paulus Ricky mewakili PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak Sahwa.
dengan diadakannya workshop ini Dedy berharap Olahraga Sumpit sudah
tidak lagi hanya sebagai olahraga yang bersifat tradisional, yang cuma
ada pada event-event budaya dayak saja, namun lebih dari itu olahraga
sumpit sudah harus mendunia seperti cabang-cabang olahraga yang lebih
dulu populer.
Untuk di luar negeri sudah ada induk organisasi olahraga sumpit atau
yang lebih umum dikenal sebagai blow gun, seperti di Amerika Serikat
yaitu American Metis Blowgun Association (AMBA), di Prancis induk
organisasinya FSBA (France Sport Blowgun Association) di Jerman sendiri
namanya Deutscher Sport Blasrohr Verein (DSBV), dan masih banyak lagi
Negara di Eropa yang sudah ada Induk Organisasinya seperti di Australia,
Belanda, Belgia. untuk di Asia dijepang dikenal dengan IFA
(International Fukiyado Association), di China ada CSBA (China Sport
Blowgun Association) dan dimalaysia dikenal dengan MSBA.
Untuk di Indonesia kita belum ada induk organisasinya dan ini yang
menjadi kendala kita untuk berkembang, karena untuk memiliki induk
organisasinya minimal kantornya harus di Ibukota Negara yaitu Jakarta.
tentunya kita sangat berharap organisasi Adat dan kebudayaan seperti
MADN dan DAD dapat membantu mencarikan solusi terbaik bagaimana olahraga
sumpit ini cepat berkembang dan bisa memiliki induk organisasi di
pusat, karena selama ini cuma dari persatuan olahraga sumpit kalbar yang
lebih aktif dan kurang mendapat perhatian dari 2 lembaga diatas.
sebagai langkah awal tentunya harus ada induk organisasi olah raga
sumpit untuk mewadahi persatuan-persatuan olahraga sumpit yang ada di
daerah-daerah, karena bukan hanya kita di kalimantan saja yang berharap
olahraga sumpit ini bisa masuk Olimpiade, namun dari negara-negara
diluar negeri yang sudah ada induk organisasinya pun berjuang juga agar
olahraga sumpit (blowgun) bisa berlaga di tingkat internasional seperti
olimpiade.
Thursday, February 14, 2013
Thursday, January 24, 2013
Natal Bersama Dayak Selurun Indonesia
Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata.!!
Salam buat sahabat Cerita Dayak Seluruh Indonesia..
UNDANGAN RESMI PANITIA
Mengundang bapak/ibu dan saudara/i untuk menghadiri PERAYAAN NATAL dan TAHUN BARU BERSAMA Keluarga Besar DAYAK SELURUH INDONESIA yang akan dilaksanakan pada,
Hari : Sabtu
Tanggal : 26 January 2013
Tempat : The Hall Senayan City, Lantai 8 Mall Senayan City, Jalan Asia Afrika Jakarta.
Waktu : Pukul 17.00 WIB s/d Selesai
Note : Akan dihadiri Presiden MADN yang sekaligus Gubernur Kalteng, Gub Kaltim, Gub Kalbar, Gub Kalsel, beberapa Bupati Sekalimantan dan toko-toko nasional lainnya.
Demikian undangan disampaikan, atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
"Kasih Yesus Meneguhkan Persaudaraan Warga Kalimantan Khususnya dan Warga Indonesia Umumnya"
NB : Mohon bagikan info ini kepada saudara, keluarga dan kerabat kita dimanapun berada.
Salam,
The New Generation Of Dayak
[Bonny Bulang]
Thursday, January 24, 2013
Wednesday, June 20, 2012
Adat Mangkok Merah dan Pamabakng
| F.Bahaudin |
Oleh F. Bahaudin Kay (Timanggong Sangah Ulu 2 Kab. Landak)
“Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata “
Sebuah tulisan yang kami sajikan dengan judul “Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja kami angkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah di kenal oleh masyarakat luas diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.
“Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata “
Sebuah tulisan yang kami sajikan dengan judul “Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja kami angkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah di kenal oleh masyarakat luas diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.
Kedua jenis adat ini mempunyai keunikan tersendiri ibarat dua sisi yang bersebaranagan namaun mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Mangkok Merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk mengarahkan masa demi tujuan tertentu sementara pamabakng adalah adat yang bersipat sakral yang harus dipatuhi dalam upaya perdamaian akibat adanya suatu komplik berdarah.
Dengan demikian selain bersebrangan dan mempunyai keterkaitan yang sangat erat, kedua adat ini fungsinya seolah-olah bertentangan. Terlepas dari pendapat pro dan kontra secara esensi adat ini perlu dipertahankan dan di lesatarikan, namun apakah ia masih tetap dipertahankan dan dilestarikan, namun apakah ia masih tetap ditaati dan di patuhi terutama di era globalisasi yang serba moderen ini.
ADAT MANGKOK MERAH
Berdasarkan jenis alat peraganya, pada mulanya adat ini bernama mangkok jaranang. Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwrana merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam.
Oleh karena itu ia disebut mangkok merah. Pada jaman dahulu apabila dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli waris segera melakukan aksi belas dendam melalui pengerah masa secara adat yang disebut adat mangkok merah. Kasus tersebut biasanya mangkuk menyangkut kasus parakng- bunuh ataupun kasus pelecehan seksual dan lain sebagainya yang sifatnya mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap ahli waris.
Alat Peraga dan Maknanya
Alat paraga mangkok merah terdiri dari :
- Sebuah mangkuk sebagi tempat/sarana untuk meletakkan alat paraga lainnya.
- Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah “.
- Bulu/sayap ayam yang mengandung pengertian “ Cepat “, segera, kilat, seperti terbang”.
- Tabur atap daun ( ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh hujan karena ada terinak ( payung ).
- Longkot api ( bara kayu api baker yang sudah di pakai untuk memasak di dapur ) yang mempunyai pengertian bahwa yang membawa berita tidak boleh terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan penerangan api colok dsb.
Alat para mangkok merah dikemas dalam mangkok yang telah diberi
warna merah jaranang kemudian di bungkus dengan kain. Beberapa orang
yang di tunjuk utnuk menyampaikan berita sekaligus mengajak seluruh
jajaran ahli waris itu sebelumnya di berikan arahan mengenai maksud dan
tujuan mangkok merah itu, siapa saja yang harus ditemui, kapan
berkumpul, tempat berkumpul dan lain sebagainya. Tentu saja mereka yang
membawa berita mangkok merah tersebut tidak boleh menginap bahkan singah
terlalu lamapun tidak boleh. Walau hujan lebat dan petang gelap
sekalipun mereka harus meneruskan perjalanannya.
Seperti yang
diuraikan dalam pendahuluan, bahwa yang melatar belakangi terjadinya
adat mangkok merah itu karena akibat adanya suatu yang tidak mau
diselasaikan secara adat oleh pelakunya sehingga dianggap telah menghina
dan melecahkan harkat dan martabat ahli waris korban. Damai
kehormatan,harakat dan maratabat ahli waris sehingga mereka mengadakan
upaya pembalasan dengan mengumpulkan ahli waris melalui adat mangkok
merah. Misalnya seorang yang mati terbunuh apabila dalam waktu 24 jam
tidak ada tanda-tanda upaya penyelesaian secara adat maka pihak ahli
waris korban segera menyikapinya dengan suatu upaya pembelasan, karena
perbuatan sipelaku di anggap telah menentang pihak ahli waris korban dan
ia pantas dihajar sebagai binatang karena tidak beradat. Selanjutnya
digelarlah adat mangkok mereah seperti yang telah di jelaskan di atas.
Sebagai mana di jelaskan di atas bahwa gerakan mangkok merah muncul untuk membela kehormatan, harkat dan martabat ahli waris yang telah dihina dan dilecehkan. Dengan demikian tentu saja gerakan ini menjadi tangung jawab ahli waris. Menurut masyarakat adat Dayak Kanayatn susunan/turunan page waris samdiatn itu dapat digambarkan menurut garis lurus yaitu :
- Saudara Sekandung ( tatak pusat ) disebut samadiatn.
- Sepupu satu kali ( sakadiritan ) di sebut kamar kapala.
- Sepupu dua kali ( dua madi’ ene’ ) di sebut waris.
- Sepupu tiga kali ( dua madi’ ene’ saket ) di sebut waris.
- Sepupu empat kali ( saket ) di sebut waris.
- Sepupu lima kali ( duduk dantar ) di sebut waris.
- Sepupu enam kali ( dantar ) di sebut waris.
- Sepupu tujuh kali ( dantar page ) di sebut waris.
- Sepupu delepan kali ( page ) masih tergolong waris.
- Sepupu sembilan kali, dah baurangan tidak tergolong waris.
Dari
uraian tersebut jelaslah bahwa yang mulai disebut waris adalah pada
turunan sepupu tiga kali atau dua madi’ene’, sehinga mereka yang
termasuk dalam turunan ini di anggap sebagai kepala waris atau waris
kuat. Merekalah yang berhak memimpin gerakan ini sifatnya mangkok
mereah.
Sebagai mana telah di jelaskan dalam pendahuluan maka sifat-sifat yang terkandung didalam adat mengkok merah tersebut adalah :
- Seluruh acara pelaksanaan adat mangkok merah dari mulai bermusyawarah/mufakat hinga pemberangkatan bala, sarat prilaku-prilaku mistik relegius, oleh karena itu adat bersifat sakral.
- Pihak ahli waris yang dituju atau yang menerima berita mengkok merah demi menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kehormatan ahli waris mereka harus ikut. Apabila mereka tidak ikut, mereka dapat dicap sebagai pengecut dan tidak menaruh rasa malu. Dengan demikaian mereka terpaksa harus ikut. Jadi dalam adat mangkok merah terdapat sifat mengikat atau memaksa.
Menelusuri proses pelaksanaan adat mangkok mereah, ternyata
bahwa pelkasanan dan penangung jawab adat mengkok merah adalah selauruh
jajaran ahli waris korban di pimpin oleh ahli waris dua madi’ ene’
sebagai kepala waris. Sedangkan sasarannya adalah pihak pelaku yang
tidak bersedia membayar hukuman adat senhinga di anggap telah melecahkan
dan menghina pihak ahli waris korban. Apabila bala telah bernagkat
menuju sasaran hampir tidak ada alternatif lain untuk pencegahan,
kecuali dengan upaya adat dimana pihak pelaku harus memasang adat
pamabang.
ADAT PAMABAKNG
Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat. Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif, misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.
Alat Peraga
ADAT PAMABAKNG
Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat. Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif, misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.
Alat Peraga
Sementara itu adat pamabankng mempunyai
dampat yang sangat positip mengupayakan penyelasaian komplik sejarah
damai. Bala yang akan menyerag setelah mengadakan pengerahan masa
melalaui adat mangkok merah. Harus cepat di antisipasi oleh pengurus
adat , dalam hal ini temenggung dibantu oleh pasirah dan pangaraga.
Mereka harus segera memeberi tahu sekaligus memerintahkan kepada ahli
waris di bantu oleh msayarkat kampung untuk memasang adat pamabakng,
dengan alat paraganya sebagai berikut
- 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng banbu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup.
- Kemudian ada pelantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng ( tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah.
- 1 buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tampayan jampa.
- Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar.
- Disekitar pamabang terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah dengan bala yang akan datang.
- Tempayan jamba melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunauhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku.
- Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian.
- Beras banyu sebagai simbol perampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi.
- Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.
Pamabankng
harus ditunggu oleh temenggung dan jika temenggung tidak
ada/berhalangan, pamabakng di tunggu oleh pasirah atau oleh tua-tua adat
yang dianggap mengerti tentang adat. Selain mengerti tentang adat orang
yang menunggu pemabankng haruslah orang yang bijaksana dan biasanya
pula harus orang yang punya ilmu dalam mengatasi kasus seperti itu
misalnya mantra dan jampi-jampi yang di sebut sanga bunuh, bungkam, kata
gampang, pelembut hati seperti pangasih dan lain-lain masksudnya agar
saran serta naseihat dsb. Dapat dipakai oleh pihak bala yang sedang
emosi.
Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan, pamabankng dapat di pasang lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante ( pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap dilangar, masih adalagi pamabnag lain yang terakhir. Pamabakng yang terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabang terakhir inipun di langar maka tidak ada alternatif lain selain harus mengadakan perlawanan dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa, artinya adat raganyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di tempat pamabang, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentakangkan arti dan makana pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar penjelasan itu pihak bala melampisan emosinya dengan menikamkan senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak mendapat perlawanan.
Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah :
- Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan :
- Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris.
- Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat.
- Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang.
- Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan :
- Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat
- Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
Adat
pamabakng adalah adat bahoatn artinya hanya untuk dipajang bukan untuk
di bayarkan. Setelah bala datang mereka harus di bore baras banyu dan
selanjutnya dilakukan persembanhan kepada jubata. Pamabakng teteap
terpasang selama adat belum diselesaikan dan paling lama selama 3 hari.
Tulisan ini pernah di posting Bapak Yohanes Supriyadi di http://www.akademidayak.com
Wednesday, June 20, 2012
Sunday, May 20, 2012
Ngampar Bide, Upacara Jelang Gawai Dayak
![]() |
| Cornelsi,MH Sedang membuka acara pekan Gawai Dayak |
PONTIANAK, KOMPAS.com--Panitia Pekan Gawai Dayak
XXVI Kalimantan Barat, Rabu, menggelar upacara "Ngampar Bide" sebagai
ritual sebelum pembukaan supaya mendapatkan kemudahan dari sang pencipta
untuk melaksanakan acara tahunan tersebut yang akan dimulai pada 20
Mei.
"Ritual ’ngampar bide’ artinya ’bepinta’ (meminta), ’bepadah’
(memberitahu) kepada Jubata atau Tuhan supaya kegiatan kita mendapatkan
kemudahan dan kelancaran," kata Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak Kalbar
XXVI, Herculanus Didi di Rumah Betang Panjang, Jl Sutoyo, Pontianak.
Ia mengatakan, "Ngampar Bide" selalu dilaksanakan setiap akan memulai "Gawe" atau Gawai (pesta).
Ritual
tersebut merupakan khas Suku Dayak Kanayatn yang mendiami sebagian
wilayah di Kalbar. "Ngampar" yang berarti menggelar atau menghamparkan,
sementara "Bide" mengandung pengertian sebagai tikar atau tempat untuk
berserah.
Pelaksanaan "ngampar bide" berlangsung hari ini pada
pagi tadi dan menjelang siang. Merupakan satu rangkaian ritual yang
diharapkan Tuhan merestui kegiatan yang akan dilaksanakan selama sepekan
ke depan.
Menurut Didi, pada "ngampar bide" kali ini, dipimpin
oleh seorang imam atau seorang pemimpin doa, bernama Kasan. Acara
tersebut dihadiri para "timanggung" adat Kota Pontianak, para Ketua
Sanggar Seni Dayak dan panitia. Acara tersebut juga dihadiri Pengurus
Harian Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis.
Sejumlah
sesajian, di antaranya potongan daging ayam, babi, telur ayam, dan
beberapa hidangan lainnya. Bahan-bahan tersebut diletakkan dalam tampah
dan bakul yang terbuat dari kulit kayu. Pemimpin upacara membacakan doa
keselamatan menggunakan Bahasa Dayak sambil memegang rangkaian
daun-daunan.
Upacara tersebut berlangsung di halaman Rumah Betang,
berlanjut di ruang upacara dalam rumah Betang dan di tempat sesajian
yang terdapat patung manusia dari bahan kayu yang berada di samping
kanan bangunan rumah panjang tersebut. "Upacara ini harus digelar
sebelum memulai Gawai (pesta)," kata Didi lagi.
Sementara
berkaitan dengan Pekan Gawai Dayak Kalbar yang akan dibuka pada Jumat
(20/5), sejumlah acara telah disiapkan panitia, di antaranya Upacara
Adat Baliant yang akan diadakan pada malam sebelum pembukaan atau Kamis
(19/5) malam.
Kemudian pameran, pawai adat, dan sejumlah lomba di
antaranya pemilihan bujang dan dara Dayak, menyumpit, melukis perisai,
memahat patung, mendongeng, menganyam bakul, tari-tarian kreasi Dayak,
menganyam manik, menumbuk dan menampik, membuat kue tradisional, dan
parade busana anak.
Menurut Didi, Gawai Dayak diadakan untuk
melestarikan budaya khas SukuDayak yang ada di Kalbar. "Ini program
Gubernur kita (Cornelis), diharapkan berjalan lancar dan dikunjungi
banyak orang, bukan hanya warga Dayak," katanya.
Dia mengatakan,
target dari kegiatan tersebut, peningkatan dan pengembangan pelestarian
kebudayaan. Panitia berupaya menampilkan kegiatan yang pada tahun
sebelumnya tidak ada menjadi ada.
"Misalnya menganyam bakul. Pada
tahun lalu tidak ada dan tahun ini kita selenggarakan. Ini permintaan
gubernur supaya tidak punah," katanya lagi.
Peserta menganyam
bakul dapat menggunakan bahan-bahan seperti kulit kayu pilihan bernama
kayu tarap, rotan dan daun bengkuang.
Sumber : ANT & Kompas.com
Sunday, May 20, 2012
Sunday, April 1, 2012
Menjaga Tarian Dayak Deyah dari Kepunahan
![]() |
| Foto : Ilustrasi |
Pada usia sembilan tahun, Roesina mulai mempelajari tari. Sekitar 33
tahun kemudian, dia mendirikan sanggar tari di kampung halamannya dan
bertahan sampai sekarang. Tujuan utamanya, melestarikan kesenian asli
Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Deyah, dari kepunahan. DEFRI WERDIONO
Dalam
suatu kesempatan pada November 2011, wajah Roesina menyiratkan rasa
bahagianya seusai menyaksikan rekannya, Hasan (50), berhasil memanjat
batang manau, sejenis pohon berduri.
Pagi itu Roesina banyak
mengumbar senyum. Dia bersama timnya tampil sebagai pengisi kegiatan
tahunan Festival Budaya Pasar Apung 2011 di Banjarmasin, Kalimantan
Selatan.
Hasan, laki-laki bertubuh kekar itu, mampu memanjat
batang manau yang penuh duri dengan telanjang kaki dan dada. Tidak
tampak luka gores atau luka tusuk sedikit pun di tubuhnya. Senyum Hasan
juga terus mengembang ketika sejumlah penonton yang dipenuhi rasa heran
mendekat dan menyapanya.
Bagi Roesina, tari Balian Bawo Panjat
Manau hanyalah salah satu kekayaan budaya Dayak yang sudah ada sejak dia
bisa mengingatnya. Awalnya, masyarakat penganut Kaharingan menggunakan
tarian ini sebagai media penyembuhan pada orang yang sakit.
Di
samping itu, tari Balian Bawo Panjat Manau juga kerap ditampilkan untuk
membayar nazar masyarakat setempat. Kegiatan tersebut biasanya
diselenggarakan sehabis merayakan panen.
Dalam perkembangannya
sekarang, tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu
dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk
bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja
dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta
pernikahan.
Menurut Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanya
salah satu dari tari tradisi warga Dayak Deyah. Selain tarian itu,
setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari
Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.
Tarian
pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari-
tarian pada subsuku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat.
Tari-tarian Dayak Deyah umumnya lebih menekankan pada gintur (bambu).
Pemakaian
gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tanpa sebab. Konon, bambu
merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk
bergerilya melawan penjajah.
”Jadi penggunaan gintur tidak bisa digantikan,” ujar Roesina menegaskan.
Kaya bersuluh emas
Hampir
selama 20 tahun terakhir ini, tari-tarian Dayak Deyah diajarkan Roesina
kepada generasi muda setempat. Dia mengajarkan tari-tarian tradisi itu
melalui sanggar Tatau Silu Bulau di Desa Pengelak, Kecamatan Upau,
Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Sanggar Tatau Silu Bulau
berdiri pada tahun 1992. Kata ”tatau silu bulau” mengandung arti ”kaya
bersuluh emas”. Tatau berarti kaya, silu artinya suluh, dan bulau sama
dengan emas.
Lewat nama tersebut, Roesina berharap sanggar Tatau
Silu Bulau bisa seperti emas yang tidak akan luntur selamanya. ”Semoga
demikian pula dengan kesenian Dayak, tidak akan luntur selamanya”
ujarnya.
Maksud dia seperti emas yang tidak akan luntur, begitulah
kesenian Dayak di mata Roesina. Meski seni budaya dari luar budaya
Dayak masuk ke wilayah tersebut, masyarakat tetap menjaga dan memelihara
tradisi itu. ”Kesenian peninggalan leluhur kami bisa tetap bertahan,
tidak lalu menjadi tergeser.”
Roesina lalu bercerita tentang awal
didirikannya sanggar Tatau Silu Bulau. ”Modal utamanya adalah semangat
melestarikan tari-tarian Dayak Deyah,” ujarnya.
Untuk melengkapi
peralatan menari, ia upayakan secara swadaya. Sebuah babun, semacam
gendang, ia beli seharga Rp 750.000. Ia kembali merogoh kocek untuk
melengkapinya dengan tiga babun kecil seharga Rp 750.000.
Sedangkan
untuk kelengkapan instrumen lainnya, seperti kenong, Roesina mencari
pinjaman. ”Tahun 1992-1994 kami meminjamnya sebelum ada bantuan dari
pemerintah kabupaten. Begitu pula untuk kostum penari, tahun 2006 kami
berinisiatif mengirim proposal ke perusahaan tambang untuk mendapatkan
bantuan,” ujarnya.
Tentang inovasi
Sejak
berdiri hingga kini, empat kali Roesina mengirim proposal kepada
pemerintah daerah dan perusahaan tambang batubara di daerah setempat.
Sebagian uang itu dibelikan peralatan dan sebagian lainnya disimpan
untuk keperluan sanggar di kemudian hari.
Cara ini ditempuh karena
dia tak menarik iuran dari anak didiknya. Ia juga tak menyisihkan uang
hasil pentas karena honor itu dibagi habis untuk anggota. Tak ada hasil
pentas yang masuk kas operasional sanggar. Dalam setahun anggota sanggar
bisa tampil hingga lima kali.
Bagi Roesina, menampilkan tarian
tradisi kepada publik relatif tak ada kesulitan, termasuk saat ia
melakukan ritual khusus sebelum memulai pertunjukan.
”Tahun 2009
rombongan kami pernah mengalami kecelakaan di jalan,” cerita mantan guru
sekolah dasar itu tentang musibah yang pernah mereka alami berkaitan
dengan pertunjukan.
Sejauh ini, lanjut Roesina, hanya tari Nande
yang sulit ditampilkan sebab tarian ini harus dilakukan pada tengah
malam. Apalagi dalam pertunjukan tari Nande, nyaris tidak ada
penerangan. Penari bergerak dengan mengandalkan tali yang dipegangnya.
Meski
permintaan naik panggung cukup banyak, sampai sekarang Roesina tetap
mengandalkan gerakan- gerakan asli tari tradisi dalam pengajaran di
sanggarnya.
”Kami sebenarnya terbuka untuk melakukan inovasi asal
tidak meninggalkan gerakan-gerakan asli tarian warisan nenek moyang.
Tetapi kendalanya justru dari pelatih yang punya kemampuan dan mau
melakukan inovasi tersebut,” katanya.
Roesina keberatan bila untuk
keperluan inovasi gerakan tari itu, dia harus mengambil pelatih dari
luar sanggar. Masalahnya, dia tidak punya cukup dana untuk membayar
honor bagi pelatih tari tersebut.
Lewat pengabdiannya pada
kesenian tradisi Dayak Deyah pula, Roesina dikenal masyarakat.
Kesungguhannya melestarikan tarian tradisi itu juga membuat dia
mendapatkan penghargaan dari pemerintah kabupaten sebagai pelestari
budaya.
Penghargaan pertama diterima Roesina tahun 1990 seusai dia
berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Penghargaan
berikutnya diterima pada tahun 2006.
”Satu hal yang membuat saya senang, kelima anak saya semuanya bisa menarikan tarian tradisi Dayak Deyah,” ujar Roesina bangga.
Sumber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Dayak Punan Tersingkir dari Hutan Adat
![]() |
| Foto : Ilustrasi |
SAMARINDA, KOMPAS - Masyarakat Dayak Punan dinilai
menjadi korban dalam konflik lahan dengan perusahaan. Ini menunjukkan
bahwa pemberian izin lokasi kepada perusahaan tidak sesuai prosedur
sehingga masyarakat tersingkir dari hutan adat mereka sendiri.
Hal
itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur Rusman Yaqub
seusai menemui perwakilan masyarakat adat Dayak Punan di Kantor DPRD
Kaltim, Kota Samarinda, Selasa (13/3). ”Ini bukti izin yang dikeluarkan
hanya di atas meja, tetapi tak sesuai realitas di lapangan. Seharusnya
pemerintah tahu, di areal itu ada masyarakat adat yang tinggal,” kata
Rusman.
Masyarakat Dayak Punan dari Desa Punan Dulau dan Desa
Ujang, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, ini mengadu ke DPRD Kaltim
terkait pencaplokan hutan adat mereka seluas 68.000 hektar oleh
perusahaan kayu PT Intracawood Manufacturing. Sebelumnya, mereka
melaporkan hal serupa ke Kantor Gubernur Kaltim.
Rusman
mengungkapkan, meskipun PT Intracawood Manufacturing sudah mengantongi
izin hak pengusahaan hutan (HPH) yang diterbitkan pemerintah pusat bukan
berarti hak masyarakat diabaikan.
”Masyarakat Dayak Punan itu
sudah lebih dulu tinggal di sana sebelum perusahaan masuk. Seharusnya
mereka ditanyai, ini malah perusahaan cari jalan pintas,” tutur Rusman.
Rencananya,
DPRD Kaltim akan memanggil Dinas Kehutanan Kaltim, Pemerintah Kabupaten
Bulungan, dan perwakilan PT Intracawood Manufacturing untuk
menyelesaikan persoalan konflik lahan di Desa Punan Dulau dan Ujang ini.
”Minggu depan kami akan agendakan pertemuannya,” ucap Rusman dan Iwan.
Intracawood
mulai merambah hutan adat Punan Dulau dan Ujang sejak 1988. Dengan
berbekal izin HPH dari Kementerian Kehutanan, mereka menguasai hutan
adat Dayak Punan tanpa ada sosialisasi dan persetujuan dari masyarakat
setempat.
Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak Jonidi
Apan mengungkapkan, setelah perusahaan masuk, masyarakat Dayak Punan
tidak lagi dapat berburu dan terpaksa menanam singkong dan menangkap
ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal Dayak Punan
merupakan suku yang biasa berburu dan meramu.
Mukhlis, Pelaksana
Divisi Kehutanan Departemen Kelola Sosial PT Intracawood, mengakui,
larangan berburu dan pemanfaatan hasil hutan yang dipasang perusahaan
bukan ditujukan untuk masyarakat adat Dayak Punan, melainkan untuk warga
dari luar Punan Dulau dan Ujang.(ILO)
Sumber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Promosikan Wisata Budaya Melalui Desa Sanggu
BUNTOK, KOMPAS.com — Apa ciri khas Kabupaten Barito
Selatan (Barsel) yang terletak di Kalimantan Tengah? Ternyata, untuk
mengembangkan pariwisata, salah satunya adalah dengan menonjolkan sisi
wisata budaya.
"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.
Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.
"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.
"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.
Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.
"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.
SUmber : Kompas.Com
"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.
Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.
"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.
"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.
Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.
"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.
SUmber : Kompas.Com
Sunday, April 01, 2012
Bertandang ke Betang Antang Kalang
MARI
bertualang ke pedalaman Kalimantan. Mari berkunjung ke rumah adat Dayak,
Betang Antang Kalang. Untuk itu, kita harus menyusuri curamnya
riam-riam sungai dan melintasi lebatnya hutan. Menantang dan
mengasyikkan.
Betang adalah sebutan untuk rumah besar milik
keluarga. Betang Antang Kalang terletak di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan
Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Tahap
pertama menuju Tumbang Gagu ditempuh dari ibu kota Kalteng,
Palangkaraya, menuju Kecamatan Tumbang Samba, Kabupaten Katingan,
Kalteng. Perjalanan sebaiknya ditempuh dengan mobil berpenggerak empat
roda.
Pada akhir Februari lalu, kami menggunakan mobil Hardtop
untuk menempuh jarak 185 kilometer dengan waktu tempuh sekitar lima jam.
Hingga Kasongan, ibu kota Katingan, jalan masih mulus. Namun, jalan
selanjutnya merupakan jalur off road dengan lubang-lubang cukup
dalam. Maklum, jalur itu dilalui truk-truk pengangkut sawit setiap
hari. Meski mobil masih lincah menaklukkan medan berat, tubuh terguncang
juga. Sekitar pukul 21.00, rombongan tiba di Tumbang Samba untuk
bermalam di losmen sederhana.
Menempuh riam dan rimba
Perjalanan
dilanjutkan dengan menumpang kapal kelotok. Pagi-pagi sekali, sekitar
pukul 06.00, kelotok sudah bertolak. Perjalanan menyusuri Sungai
Katingan selama hampir tujuh jam itu ditempuh dengan beberapa kali
mengarungi riam. Ini bagian yang mendebarkan. Namun, jangan khawatir.
Juru mudi kelotok dengan cekatan meliuk-liukkan perahunya, sementara
batu-batu besar di depan menghadang.
Lebih dari 10 riam dilewati
sepanjang perjalanan, termasuk Mangkikit dan Leleng yang dikenal terjal.
Begitu ganasnya medan di kedua tempat itu sehingga semua penumpang
harus turun dulu, sementara pengemudi perahu berjuang menerjang riam.
Perahu terlihat bersusah payah melawan arus, bahkan tak jarang harus
terseret mundur untuk kemudian maju lagi. Penumpang dapat naik lagi ke
perahu setelah berjalan kaki sekitar 200 meter menyusuri hutan dan rumah
penduduk setempat.
Sesekali saat melintasi riam-riam kecil, air
sungai terciprat dan membasahi sebagian pakaian. Jika dirasa perlu, awak
perahu memasang terpal untuk melindungi penumpang, tetapi tetap saja
ada sedikit cipratan air yang masuk. Susur sungai menempuh jarak 118
kilometer berakhir ketika perahu merapat di Desa Penda Tanggaring,
Kecamatan Sanaman Mantikei, Katingan.
Petualangan dilanjutkan
dengan berjalan kaki menjelajah rimba belantara sejauh 6 kilometer.
Perjalanan dua jam itu menjadi menyenangkan dengan hawa segar karena
lebatnya pepohonan seperti durian, karet, dan ulin. Ada pula durian
hutan dengan buah berwarna merah.
Setidaknya di dua tempat
terlihat onggokan kayu-kayu ulin berdiameter 50 sentimeter dan panjang
hingga 5 meter. Kayu-kayu itu semula hendak digunakan untuk membangun
Betang Antang Kalang. Suatu ketika kayu yang dibutuhkan ternyata sudah
cukup dan gelondongan-gelondongan itu dibiarkan di hutan. Meski sudah
hampir 1,5 abad lalu, kayu itu masih kokoh dan keras.
Setelah
berjalan kaki sekitar dua jam, Betang Antang Kalang akhirnya dapat
dicapai. Mira Rindu (53), penghuni betang tersebut, menerima dengan
ramah rombongan wisatawan yang datang. Ia mempersilakan kami untuk
melepas lelah dengan menyuguhkan teh panas nan legit.
Hening dan sejuk
Pagi
datang dengan kicauan burung terdengar di sana-sini. Kabut tipis
terlihat di kejauhan. Udara sejuk terasa. Menikmati suasana di Betang
Antang Kalang berarti merasakan keheningan yang jauh dari hiruk-pikuk
kota besar.
Kehidupan di Antang Kalang berjalan sederhana. Warga
memasak makanan menggunakan kayu bakar. Mereka mencukupi kebutuhan
makanan dari kebun sendiri. Mereka mandi di Sungai Kalang. Ada juga bau
teknologi berupa generator yang menyala sekitar pukul 18.00-24.00.
Mereka perlu generator antara lain untuk menyalakan televisi, sekadar
hiburan bagi penghuni betang.
Mira Rindu menuturkan riwayat
singkat Betang Antang Kalang. Rumah itu dibangun Singa Jaya Antang pada
tahun 1870 dan mulai dihuni tahun 1878. Singa Jaya Antang berasal dari
Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau,
Kalteng. Singa membangun betang karena mencari daerah baru yang subur.
”Kalau
letak rumah, Singa menentukannya berdasarkan petunjuk elang berdasarkan
kepercayaan zaman dulu,” kata Mira yang merupakan generasi ketiga
keturunan keluarga Singa.
Betang Antang Kalang sehari-hari dihuni
hanya oleh lima orang. Namun, pada saat kumpul keluarga besar, betang
bisa kedatangan hingga 100 orang. ”Soalnya, banyak penghuni betang
bekerja di kota besar, menggarap kebun, dan menyadap karet di tempat
yang jauh,” papar Mira.
SUmber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Thursday, February 2, 2012
Tradisi Membuat EMPING (PAM dalam bahasa Dayak) Masyarakat Dayak menjelang panen
![]() |
| Ibu-ibu Dayak sedang mengikis/mengaus padi ketan |
Ketika mendengar kata
Emping, mungkin yang terlintas di benak kita adalah kerupuk melinjo atau sejinisnya.
Tapi berbeda dengan Emping yang satu ini, Emping punya masyarakat Dayak. Emping
ini terbuat dari padi ketan yang belum matang atau isitlah masyarakat Dayak Seberuang
di sebut dengan pulut matak (padi
ketan mentah) yang di petik langsung
dari ladang. Proses pembuatanya juga
terbilang rumit dan unik.
Proses pembuatannya
dimulai dengan memilih padi ketan mentah (pulut
matak) dari ladang, padi ketan yang di ambil harus yang benar-benar pas
tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Proses ini perlu
ketelitian dan keahlian dalam memilihnya dan ini biasanya dilakukan oleh
ibu-lbu. Tahap selanjutnya adalah melepaskan buah padi ketan dari tangkainya (seperti
digambar). Proses ini tidak seperti yang lazim kita lihat ketika petani selesai
panen yang melepaskan padi dari tangkainya. Tahap ini dinamakan ngikis/ngaus sejenis meraut rotan yaitu
mengosokkan bambu yang sudah di bentuk ke tangkai padi ketan tadi agar
biji-biji padi terlepas dari tangkainya.
Setelah semua biji padi
dilepaskan dari tangkainya, tahap selanjutnya adalah memasak biji padi ketan
tersebut. Proses memasaknya juga berbeda dengan cara memasak biasa, padi ketan
dimasukan ke dalam kuali yang berukuran besar yang muat beberapa gantang. Padi dimasak
dengan kuali tanpa campuran apa-apa, di masyarakat Dayak dikenal dengan namanya
ngrendang. Setelah kurang lebih 30
menit dimasak, padi ketan diangkat dan didinginkan. Proses memasaknya juga
harus pas, tidak boleh mentah dan terlalu masak karna hasilnya tidak bagus.
Selanjutnya padi ketan
yang sudah dingin tadi ditumbuk atau ditutuk
dalam bahasa Dayak. Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat tradisional
semua seperti Lesung, Alu, dan Capan. Tahanp ini benar-benar perlu tenaga
ekstra untuk menumbuk padi tersebut sampai isi padi ketan (PAM) terpisah dari
kulitnya. Dalam tradisi masyarakat Dayak seberuang juga kalau para remaja
laki-laki mau menikah harus sudah bisa menumbuk padi minimal 3 orang dalam satu
Lesung. Ini merupakan tahap terahir dalam proses pembuatan PAM / Emping
masyarakat Dayak. Setelah di tumbuk padi ketan yang sudah jadi PAM (beras ketan
muda) di tampi untuk memisahkan dari sampah kulit padinya.
Setelah semuanya
selesai baru PAM bisa di santap ramai-ramai bersama keluarga besar, sebelum
menyantapnya juga ada prosesi adat sebagai bentuk rasa syukur karena telah
tibanya musim panen. Rasanya yang enak dan empuk dikunyah membuat makanan ini
menjadi idola dimasyarakat Dayak. PAM akan lebih terasa nikmat kalau dimakan
campur kepala parut dan gula merak.
PAM ini hanya bisa
dinikmati satu tahun sekali yaitu pada saat musim panen tiba. Biasanya
pembuatannya juga ramai-ramai dalam satu keluarga besar. Ini juga merupakan
syarat adat sebelum padi bisa mulai di panen.
*Bonny Bulang Aktivis Ekonomi Kerakyatan dan Masyarakat Adat Dayak
Thursday, February 02, 2012
Thursday, January 12, 2012
Inilah alasan penamaan Kabupaten Landak
Kabupaten Landak adalah salah satu Kabupaten di provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Memiliki luas wilayah 9.909,10 km² dan berpenduduk sebesar 282.026 jiwa. Landak terbagi menjadi 10 kecamatan dengan 174 desa dan 6 desa diantaranya termasuk desa tertinggal.
Kenapa nama daeranya menjadi Kabupaten Landak?
Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, LAN artinya Pulau dan DAK artinya Dayak, ini di karenakan mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak.
Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis Belanda zaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak". Kabupaten Landak ini sama sekali tidak berhubungan dengan binatang bernama landak.
Kenapa nama daeranya menjadi Kabupaten Landak?
Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, LAN artinya Pulau dan DAK artinya Dayak, ini di karenakan mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak.
Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis Belanda zaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak". Kabupaten Landak ini sama sekali tidak berhubungan dengan binatang bernama landak.
Thursday, January 12, 2012
Wednesday, December 14, 2011
Teling Panjang, Budaya Dayak Yang Mulai Punah
![]() |
| Ilustrasi |
Seni tato dan telinga
panjang menjadi ciri khas atau identitas yang sangat menonjol sebagai penduduk
asli Kalimantan. Dengan ciri khas dan identitas itulah yang membuat suku Dayak
di kenal luas hingga dunia internasional dan menjadi salah satu kebanggan
budaya yang ada di Indonesa.
Namun tradisi ini sekarang justru semakin
ditinggalkan dan nyaris punah. Trend dunia fashion telah mengikis budaya
tersebut . Kalaupun ada yang bertahan, hanya sebagian kecil golongan generasi
tua suku Dayak yang berumur di atas 60 tahun. Generasi suku Dayak diatas tahun
80-an.
Tidak ada yang tahu secara pasti kapan suku Dayak mulai melakukan tradisi ini, semua menyatakan mengikuti tadisi yang diyakini juga seabgai tatanan kehidupan sosial suku Dayak. Secara tatanan sosial dan tradisi budaya Dayak, telinga panjang ini merupakan identitas yang tidak bisa di pesahkan dengan kehidupan sosial.
PERTANDA WANITA BANGSAWAN
Menurut asal-usulnya ratusan tahun lalu, budaya telinga panjang bukan
hanya dilakukan wanita, pria juga ada yang memanjangkan telinga. Dan
yang memanjangkan telinga hanya kaum bangsawan suku Dayak. Ini menandakan bahwa yang yang bersangkutan adalah keturunan bangsawan Dayak.
Disamping itu
telinga panjang digunakan sebagai identitas untuk menunjukkan umur
seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinga diberi manik-manik yang
cukup berat. Setiap tahun, jumlah manik-manik yang menempel di telinga
bertambah satu. Karena itu, kalau ingin mengetahui umur
seseorang, bisa dilihat dari jumlah manik-manik yang menempel di
telinga. Jika jumlahnya 60, maka usianya pasti 60 tahun karena
pemasangan manik-manik tidak bisa dilakukan sembarangan, cuma setahun
sekali.
Agar daun telinga menjadi panjang, biasanya daun
telinga diberi pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau
berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan
terus memanjang hingga beberapa sentimeter.
Selain sebagai status sosial dalam kehidupan masyarakat, telinga panjang juga di nilai dari segi kecantikannya. Semakin panjang telinga seorang wanita Dayak, maka pemilik telinga semakin cantik.
MULAI PUNAH
Seiring perkembangan jaman dan medernisasi yang perlahan tapi tapi mulai masuk dan menggeser tradisi turun temurun ini. Telinga panjang mulai punahn, menurut informasi yang kami dapatkan adalah ketika mulai masuknya para misionaris ke daerah pedalaman
di perkampungan Dayak pada zaman kolonial Belanda dulu.
Tapi tidak ada yang tahu persisnya kapan mulai punah, tapi rata-rata yang masih
mempertahankan budaya telinga panjang adalah wanita suku Dayak yang
berusia diatan 60 tahun. Sedangkan genersi sekarang sudah tidak ada.
Budaya ini pun semakin terkikis habis ketika terjadi konfrontasi antara
Indonesia dan Malaysia di daerah perbatasan Kalimantan.
Saat itu
berkembang stigma di masyarakat, mereka yang berdaun telinga panjang
dan tinggal di rumah- rumah panjang, yang dihuni beberapa keluarga,
merupakan kelompok masyarakat yang tidak modern. Tidak tahan terhadap
pandangan seperti itu, akhirnya beberapa warga memotong telinga
panjangnya.
Stigma semacam ini terus berlangsung hingga
sekarang. Kalangan generasi muda Dayak tidak mau lagi membuat telinga
panjang karena takut dianggap ketinggalan zaman dan tidak modern. Hanya
sebagian kecil masyarakat Dayak yang masih memegang teguh tradisi
berdaun telinga panjang, dan itu pun jumlahnya sangat minim.
dari berbagai sumber
Wednesday, December 14, 2011
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
























