BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Pertambangan. Show all posts
Showing posts with label Pertambangan. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Lahir dan Besar di Hutan, Sejengkal Tanah Pun Tak Punya

Hidup di tengah-tengah kepungan kegiatan tambang batu bara, tak menjamin warganya bisa hidup layak. Ini bisa dilihat dari keberadaan warga Dayak Punan yang tinggal di Satuan Permukiman (SP) Punan di Kampung Birang-Gunung Tabur Kabupaten Berau. Berikut cerita perjalanan General Manager Berau Post (Kaltim Post Group) Endro S Efendi dengan gaya bertutur.
 
Endro S. Efendi, Gunung Tabur

SINAR matahari sedang panas-panasnya ketika mobil yang saya tumpangi bersama kawan dari dunia politik, Zulkarnain Tanjung, meluncur di ruas jalan tanah. Ya, jalan menuju Kampung Birang memang belum tersentuh aspal. Untuk menuju kampung ini, dari Kota Tanjung Redeb menyusuri jalan menuju ke Gunung Tabur hingga ke arah yang akan menuju Tanjung Selor. Tak jauh dari pertigaan jalan yang akan menuju Tanjung Batu dan Tanjung Selor, terdapat jalan tanah di sebelah kiri jalan, dengan sebuah papan nama berwarna hijau bertuliskan Kampung Birang.

Dari ujung jalan ini, jangan pernah lagi berharap ada jalan beraspal. Semua jalan masih berupa tanah dengan debu yang pekat. Apalagi kondisi cuaca sedang panas, debu seketika berterbangan ketika terusik dengan laju kendaraan yang melintas di atasnya.

Tapi saya justru beruntung cuaca sedang panas, sebab jika kondisi hujan, dijamin mobil Suzuki APV milik kantor yang saya tumpangi tak akan bisa tembus hingga sampai SP Punan yang jaraknya mencapai 10 kilometer.

Tak jauh dari SP Punan, terdapat sebuah pos penjagaan. Pos ini bukan untuk menjaga keberadaan warga Punan, melainkan pos jaga milik perusahaan tambang di lokasi itu. Sebab di ujung pos ini terdapat dua jalur jalan, yang sebelah kiri milik perusahaan, sebelah kanan barulah jalan menuju kawasan kampung.

Tiba di SP Punan yang terletak di bibir sungai itu, terlihat 10 rumah kayu saling berhadapan. Lima di sebelah kiri, sisanya di sebelah kanan. Rumah-rumah panggung berukuran 4 x 6 meter itu dihuni 14 kepala keluarga. Tak heran jika ada rumah yang terpaksa ditempati hingga 3 kepala keluarga. Ada 40-an jiwa yang hidup di satuan permukiman ini.

Rumah-rumah bantuan perusahaan yang dibuat sejak 2004 itu belum pernah tersentuh kegiatan renovasi. Ini terlihat beberapa bagian rumah sudah mulai rapuh, bahkan terlihat miring dan nyaris roboh.  

Sebelumnya, sudah ada satu bangunan yakni balai kampung roboh dan kini diupayakan dilakukan perbaikan kembali dengan membangun baru. Yang kini terancam adalah bangunan rumah yang dijadikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al Muallafin.

Atap beberapa rumah lainnya pun sudah mengalami kerusakan, sehingga jika hujan terpaksa air masuk hingga ke dalam rumah. Kalau sudah seperti itu, penghuni rumah hanya bisa pasrah. Sebagai penangkal sementara, beberapa atap rumah terlihat dilapisi dedaunan. Rumah pun tak dilengkapi plafon sehingga jika siang hari terasa sangat panas, sebaliknya saat malam terasa dingin mencekat. Tak ada mebel seperti kursi di dalam rumah, semua dilakukan serba lesehan. Begitu pula ranjang tidur. Tidur hanya beralaskan lantai kayu.

Warga Dayak yang bermukim di kawasan ini mengakui, sudah lama mengajukan permohonan perbaikan rumah pada pemerintah, termasuk pada perusahaan. Namun hasilnya masih jauh panggang dari api.

“Kami juga kesulitan mendapatkan air bersih. Dulu, kami masih bisa minum pakai air sungai. Tapi sekarang air sungai sudah tercemar, sudah kena limbah,” sebut Husin, warga Dayak Punan.

Sejak warna dan rasa air sungai itu berubah, warga pun tak berani lagi mengonsumsi air sungai di dekat kampung ini. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan tadahan air hujan. 

Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dia mengaku dibantu perusahaan tambang di kawasan ini berupa bahan pokok. Itu pun hanya berupa beras 20 kilogram, gula 5 kilogram, dan minyak goreng 5 liter.

Cukup tidak cukup, bantuan itu harus dikelola dengan maksimal. Sisanya, berusaha sendiri dengan mencoba mencari cincangan kayu gaharu atau rotan. Ada pula yang kerja serabutan dengan menjaga pos perusahaan, atau menjaga alat berat milik perusahaan. 

“Kami sebenarnya juga ingin bisa berburu dan memasang jerat untuk hewan liar, itu kehidupan kami sebelumnya. Tapi semua hutan sudah dikuasai perusahaan,” sambungnya. 

Untuk mencari ikan di sungai pun, saat ini diakui sangat sulit. “Dulu, memancing sebentar saja sudah banyak dapat ikan dan bisa dijual. Sekarang, satu saja susah. Airnya sudah kena limbah. Belum lagi warga dari luar banyak yang mencari ikan dengan racun dan setrum,” tuturnya.

Madu yang dahulu mudah didapat, sekarang juga susah. Pasalnya, lampu sorot perusahaan menyulitkan upaya warga mengunduh madu. “Kalau dulu kan gelap, nggak ada lampu. Gampang ngambilnya. Sekarang mau ngambil madu, tawonnya marah, Pak. Habis badan kami disengat,” tuturnya didampingi Malik, pria yang dianggap sebagai ketua di satuan pemukiman tersebut.
 
Malik kemudian mengaku, pernah dijanjikan mendapatkan bantuan mesin jahit dari pemerintah.
Nyatanya, seperti apa wujud mesin jahit itu pun belum pernah ia ketahui. Instansi sosial pemerintah, menurutnya belum pernah melihat keberadaan mereka dan memberikan bantuan nyata. Malik mengaku, sepertinya mereka sering dibohongi dan hanya menjadi objek proposal untuk kepentingan pribadi orang lain.  Semua janji yang mereka dapatkan, seolah seperti angin surga yang tak pernah terwujud. 

“Kami sebenarnya ingin diberi lahan untuk berkebun. Tapi selalu dipersulit karena hampir semua hutan di kawasan ini sudah dimiliki perusahaan,” katanya. Ia mengaku malu dan tak mau terus-menerus mengemis untuk kebutuhan hidup sehari-hari pada perusahaan. “Kami juga ingin mandiri, tidak mau bergantung dengan perusahaan ,” tuturnya.

Ia mengaku iri dengan pejabat di daerah ini yang dengan mudah mendapatkan sepetak tanah. “Kalau kami mana bisa bikin surat tanah. Cuma orang yang bertitel yang bisa. Kami tidak bisa, kami tidak punya uang. Kami selalu tersingkir. Lahir dan besar di hutan, tapi sejengkal tanah pun kami tak punya,” keluhnya.

Untuk urusan pendidikan juga mengkhawatirkan. Anak-anak warga harus sekolah di lokasi yang lumayan jauh di Kampung Rantau Panjang. Untuk pergi ke sekolah harus menggunakan perahu ketinting. “Kalau minyak lagi kosong, terpaksa jalan kaki, karena ketinting nggak bisa dipakai,” katanya. Karena itu, ia sangat berharap anak-anak bisa sekolah tak terlalu jauh. Bisa saja dengan didatangkan guru untuk mengajar rutin anak-anak di kawasan ini.

Zulkarnain Tanjung, kawan saya tadi, mengaku prihatin dengan kondisi warga Dayak Punan di kawasan ini. “Seandainya setiap kepala keluarga memiliki lahan 2 hektare saja, mereka sudah bisa hidup mandiri. Bisa untuk menanam sawit, atau berkebun lainnya. Selain itu juga bisa beternak,” ucapnya.

Ia mengakui, secara jangka panjang bantuan yang diberikan sebaiknya dalam bentuk mengajak warga kawasan ini mandiri. “Jadi tidak selamanya bergantung dari pemberian perusahaan,” tuturnya. Jika tidak, sampai kapan pun tidak akan pernah mandiri. 

Zulkarnain menyebutkan, semestinya warga Dayak di kawasan ini mendapatkan kompensasi atas kerugian kehilangan mata pencaharian. Dampak sosial ini, menurutnya tak bisa diabaikan. Dari mulai sulit mendapatkan air bersih, hingga sulit mencari madu dan berburu. (*/che)

Sumber : Kaltimpos

Friday, November 20, 2009

SEJARAH PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN ORANG CINA DI BUMI BORNEO - 1

Sejarah perjalanan dan perkembangan orang Cina di Bumi Borneo di mulai pada Adad ke-III/IV, pelaut Cina telah berlayar ke Indonesia untuk perdagangan Route pelayaran menyusuri pantai Asia Timur dan pulaunya melalui Kalimantan Barat dan Filipina dengan mempergunakan angin musim.

Abad ke-VII, hubungan Tiongkok dengan Kalimantan Barat sudah sering terjadi, tetapi keberadaan mereka belum menetap sepenuhnya, namun perlahan tapi pasti imigran orang China dari Tiongkok berdatangan juga. Kedatangan Orang Cina di Kalimantan Barat membawa tradisi dan kebudayaan mereka. Dan tetap mempertahankan dan memelihara tradisi negeri leluhurnya (Tiongkok)

tidak seperti Comombus pada tahun 1492 saat menemukan Benua Amerika langsung di ikuti imigran besar-besaran dari Eropah. Mereka memutuskan hubungan dengan tempat kelahirannya dan menjadi warga Amerika. Imigran besar-besaran dimulai di Sambas dan Mempawah, mengorganisir diri dalam lingkungan sosial politik berbentuk Kongsi yang berpusat di Mentrado dan Budok.

Abad ke-XI dan XII, kedatangan Bangsa Melayu dari Johor dan tempat-tempat lain di Malaya ke Sambas dan Mempawah, meluas ke Tayan, Meliau, Sanggau, Sintang, Silat, Selimbau, Piasa, Suhaid, Jongkong dan Bunut.

Abad ke XII/XIV, Kalimantan Barat kedatangan dari Hindu-Jawa di bawah pimpinan kekuasaan Majapahit di Sukadana, Landak dan Nanga Pinoh.

Tahun 1292, pasukan Kubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi, dan Khau Hsing dalam perjalanannya untuk menghukum Karta Negara, singgah di pulau Karimata, pulau yang terletak di depan pelabuhan Tanjungpura (Kalimantan) yang termasuk di dalam jaringan lalu lintas route pelayaran dari kontingen Asia ke Selatan (Nan Yang), melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat. Namun pasukan Tar-tar dari Jawa ini mengalami kekalahan total, kalah siasat dan strategi dari pemuda ulung Raden Wijaya, karena takut mendapatkan hukuman dari Khubilai Khan, melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat

Tahun1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi-Chinese Community. Sebelumnya telah dibentuk di Kukang (Palembang) untuk yang pertama di kwepulauan Indonesia. Semelumnya Islam/Hanafi, Armada Tiongkok (Dinasty Ming) merebut Kukang, yang sudah turun temurun menjadi sarang perampok dari orang-orang Cina Hokkian yang bukan muslim.

Tahun 1463, laksamana Cheng Ho seorang Hui dari Junan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar keempat dari dinasty Ming) selama tujuh kali memimpin exspedisi pelayaran ke Nag Yang, di antara anak buahnya ada yang menetap di Kalimantan Barat. Yang bermaksud untuk menguasainya. Mengingat kesulitan pelayaran pada waktu itu anak buah yang mdengikuti Cheng Ho ini semuanya adalah pria. Perkawinan mereka dengan penduduk setempat menjadikan mereka membaur dan penduduk asli dan Agama Islam yang di bawanya menjadi agama penduduk. (Laksamana Cheng Ho adalah seorang Cina yang beragama Islam).

Tahun 1690, V.O.C. Mengadakan hubungan dagang dan menanamkan pengaruhnya di Kerajaan Sambas, yang masih di bawah daulat Kerajaan Johor. Terjadilah perselisihan antara Rakyat kerajaan Sambas dangan V.O.C. Pablik-pabrik yang didirikan oleh V.O.C dibakar dan semua penduduk bangsa Belanda di bunuh oleh masyarakat setempat.

Tahun 1612, V.O.C melakukan pembalasan terhadap Kerajaan Sambas serta rakyatnya dengan membakar sebuah kampung. Pada abad ke-17 ini hidjrahnya Bangsa Cina ke Kalimantan Barat menempuh dua route. Melalui Indocina terus ke Malaya dan menyebar ke pantai Sumatra Timur, kepulauan Bangka-Belitung serta pantai Kalbar, terutam Sambas dan Mempawah. Route lain, mereka melalui Borneo Utara terus ke daerah Paloh dan Sambas kemudian ke pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu, guna mendapatkan dan pengalihan tambang-tambang emas.

Tahun 1745, didatangkan secara besar-besaran orang-orang Cina untuk kepentingan perkongsian, karena Sulatan Sambas dan Penembahan Mempawah mengunakan tenaga-tenaga orang Cina sebagai wajib rodi dipekerjakan di tambang-tambang emas. Rombngan yang datang ke daerah ini membentuk “Kongsi” yang mula-mula tujuannya mencari emas. Dua buah pusat gabungan kongsinya. Satu di Mentrado (Kab.Sambas) dan Mandor (Kab.Landak)

kedatangan mereka di daerah kab. Smbas membentuk kongsi-kongsinya seperti “Taikong” (parit besar) “Samto Kiaw” (tiga jembatan) dan lain-lainnya, yang Sjum (sama selamat).

Tahun 1770, kerajaan Sambas yang dipimpin oleh Sultan Tadjudin I. Orang-orang Cina perkongsian yang berpusat di Mentrado dan Budok, setelah mereka merasa kuat, mulai berani menentang kekuasaan Kepala-Kepal suku Dayak.

Terjadilah peperangan dengan orang-orang Dayak di kedua daerah tersebut dan berhasil membunuh Kepala Suku Dayak di kedua daerah itu. Sultan mengambil keputusan dengan menetapkan orang-orang cina di daerah tersebut, dan hanya tunduk kepada Sultan dan Kepada Cina perkongsiannya di kenakan upeti tiap bulannya.

Kepala Cina-Cina perkongsian diberkan kekuasaan mengatur daerah mereka seperti :
1. kekuasaan pemerintahan
2. pengadilan
3. kepolisian
4. dan sebagainya

sejak saat itu timbullah yang disebut Republik kecil dalam bentuk kongsi-kongsi dengan berpusat di Mentrado, dan orang-orang Dayak dalam daerahnya berada di bawah kekuasaan atau pemerintahan perkongsian Cina. Akhirnya orang-orang Dayak yang merupakan penduduk asli memilih pindah ke daerah yang aman dari orang Cina.

Pada tanggal 28 Oktober 1771, kota Pontianak didirikan, mengakibatkan perkembangan operdagangan yang cepat sekali. Perhubungan ke pelabuhan Sambas, Pemangkat, Selakau, Sebakau, Singkawang, Sei Pinyuh, Sei Purun dan Peniti. Penghidupan kongsi-kongsi berkembang terus dengan masuknya Imigran dari Tiongkok, karena banyak terdapat emas, intan, perak dan kesuburan tanahnya.

Tahun 1772, datanglah seorang yang bernama Lo Fong (Pak) dari Tiongkok, asal kampung Shak Shan Po, Kab. Kuyinchu, Propinsi Kanton (Noyan) dengan membawa seratus orang keluarganya, mendarat di kampung siantan Pontianak. Sebelumnya di kota pontianak sudah ada Kongsi TSZU SJIN dari suku Tio Tjiu dan memandang Lo Fong sebagai orang penting.

Sebelumnya di Mandor telah didiami oleh orang-orang dari Tio Tjui terutama dari TIOYO dan KITYO dengan tambang-tambang emas. Begitu juga tidak kurang dari 10 mil di sebelah hulu Mandor terdapat Mao-en, sentus-tangan, Kunyit, Lingkong. Senanam dan lain-lain tempat pekerja-pekerja mas asal dari daerah yang sama. Daerah Mimbong dan sekitarnya telah banyak pula tinggal pekerja-pekerja dari Kun-tsu dan Tai-pu. Seorang yang bernama Liu Siong yang tinggal dengan lebih lima ratus keluarganya mengangkat dirinya sebagai Tai-Ko di sana dan merupakan pemusatan yang paling kuat dan makmur.

Disebelah hilir beberapa mil jauhnya terletak San sim yang berarti “Tengah-tengah pegunungan”, pekerja-pekerja mas disana adalah dari daerah Thai-Phu dan berada di bawah kekuasaan Tong A Tsoi sebagai Tai-Ko.

Tai-Ko Long Fong berangkat menuju mandor melalui jalan masuk sungai Peniti terus kehulu sampai kesebuah tempat yang di sebut Lo Sin Kong, san Sin dan terus ke Mandor. Mandor bertambah maju dan menjadi pusat perdagangan, dari berbagai wilayah datangan menyatakan dirinya tunduk dan bernaung di bawah panji-panji kekuasaan Lo Fong. Oleh Lo Fong dibangun rumah-rumah penginapan untuk rakyat serta sebuah majelis umum (Thong) serta pasar atau took.

Untuk menyaingi Mandor, Moe-yen dengan pasarnya sebanyak dua ratus dua puluh pintu yang terpisah 200 pintu (pasar lama) didiami oleh orang Cina yang berasal dari Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung, Liuk Fung, dibawah kekuasaan Ung Kui Peh sebagai Tai-Ko, sedangkan 20 pintu (pasar baru) didiami oleh orang-orang Cina yang berasal dari Kia Yin Tju. Dan mengangkat Kong Mew Pak sebagai Tai-Ko (pemimpin besar) untuk keamanan dar pertahanan mereka mendirikan sebuah benteng “Lan Fo” artinya Anggrek Persatuan dan mengangkat empat orang pembantunya dengan nama Lo-Man.

Tai-Ko Lo Fong merasa iri hati melihat kemajuan Mao Yien itu dan bermaksud akan menaklukan daerah itu. Pemerintahan Liu Thoi Ni seorang kepercayaannya, dating kedua pimpinan yag menguasai daerah itu dengan membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Ung Kui Peh dan Kong New Pak tanpa pertumpahan darah kedua pemimpin itu menyerahkan dan mengabungkan diri di bawah kekuasaan Tai-Ko Lo Fong. Dengan demikian jatuhlah ke tangan Tai-Ko Lo Fong tberturut-turut kampong Kunyit, Liongkong, Senanam dan lain-lain, terkecuali daerah Min Bong (Benuang) di bawah pimpinan Tai-Ko Kon siong. Kekuatan Tai-Ko Liu Kon Siong di Min Bong dapat dihancurkan oleh Tai-Ko Lo Fong dan pertempuran meluas sampai ke San King (hulu Toho) yang sekarang di sebut Air Mati. Tai-Ko Liu ong siong terbunuh dan seluruh pertambangan atau parit mas dikuasai oleh Tai-Ko Lo Fong, termasuk tambang perak kepunyaan Pengeran Sita dari Ngabang. Daerah yang dikuasai oleh Tai-Ko Lo Fong meliputi Mempawah, Pontianak, dan Landak.

Tahun 1777, berdirilah Republik Lan Fong di bawah kekuasaan tertinggi Tai-Ko Lo Fong, di Mandor.

(* a. Kekuasaan tertinggi disebut “Tai-Ko” artinya Abang yang paling besar.
b. Dibawah Tai-Ko adalah Nji-Ko. Artinya Abang Kedua (sama dengan Bupati)
c. dibawah Nji-Ko adalah Kaptai. Artinya Kapten Besar. (setingkat dengan wedana) dibantu
oleh Kap Tjong
d. Dibawah Kaptai adalah Lo Tai, setingkat dengan Kepala Kampung.

Tahun 1795, Tai-Ko Lo Fong meninggal dunia di Mandor. Dimakamkan di bukit sak Dja. Mandor sisebut oleh orang Cina Toeng Ban Lit, artinya Daerah Timur yang mempunyai 10.000 undang-undang. Dengan meninggalnya pemimpin tertinggi Republik Lan Fong ini, cita-cita mendirikan sebuah kerajaan Cina di Luar tembok Negara Leluhurnya yang bernaung di bawah dynasty kekaisaran tidak berhasil. Tetapi sempat mengirim tiap tahun upeti kepada kaisar, bukan kepada Sultan atau Penembahan Pontianak atau Mempawah.

Bersambung…..

Sumber : Sejarah Kerajaan-Kerajaan Di Kalimantan Barat (1975)


Bookmark and Share
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube