![]() |
| Salah satu Karya seni Suku Dayak yang di tampilkan di Pameran di Perancis |
Sunday, April 1, 2012
Karya Seni Suku Dayak Dipamerkan di Museum Perancis
JAKARTA, KOMPAS.com--Sejumlah barang-barang karya
seni suku Dayak bernilai tinggi dipamerkan di museum yang bertema
"Tresors d'Indonesie" di Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons),
Saint-Quentin, Perancis selama dua bulan dari 24 Maret sampai 28 Mei
mendatang.
Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris Arifi Saiman,
Selasa mengatakan benda-benda karya seni suku Dayak yang dipamerkan
antara lain mandau, perangkat upacara kematian, patung kayu, perahu
kayu, dan foto-foto kehidupan keseharian suka Dayak Kalimantan.
Arifi
Saiman secara khusus melakukan kunjungan ke Museum Kupu-Kupu,
Saint-Quentin Perancis untuk menghadiri pameran bertemakan "Tresors
d'Indonesie" tersebut.
Kunjungan ini mendapat sambutan Wakil
Walikota Saint-Quentin Bidang Kebudayaan Stephane Lepoudere yang
menjelaskan maksud dan tujuan penyelenggaraan pameran serta koleksi
benda bersejarah milik suku Dayak Kalimantan.
Pada kesempatan ini,
Arifi Saiman menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian pemerintah
Saint-Quentin dan pihak Museum Kupu-Kupu (La Musee des Papillons)
terhadap Indonesia, yang sangat menghargai prakarsa positif bagi
penyelenggaraan pameran "Tresors d'Indonesie".
Selain memamerkan benda seni milik suku Dayak Kalimantan, pihak museum juga menggelar pameran kupu-kupu khas Indonesia.
Sesuai
namanya La Musee des Papillons (Museum Kupu-Kupu), museum ini memiliki
koleksi kupu-kupu sebanyak 600 ribu spesies kupu-kupu yang sebagian
besar berasal dari wilayah Indonesia.
Kupu-kupu tersebut berasal
dari sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa spesies tertentu dari
kupu-kupu yang menjadi koleksi museum masuk kategori langka, dan bahkan
beberapa spesies kupu-kupu diantaranya sudah dinyatakan punah.
Dalam
rangka membantu meningkatkan pemahaman tentang Indonesia di kalangan
generasi penerus Perancis, penyelenggara pameran mengagendakan untuk
mengundang siswa sekolah di wilayah Saint-Quentin untuk menyaksikan
pameran ini.
Diharapkan siswa di Saint-Quentin dapat lebih
mengenal Indonesia secara lebih baik dan lebih dekat, khususnya
mengenali kekayaan flora, fauna dan kebudayaan yang dimiliki bangsa
Indonesia.
Pameran bertema "Tresors d'Indonesie" di Museum
Kupu-Kupu, Saint-Quentin merupakan upaya mengenalkan Indonesia kepada
masyarakat Perancis, khususnya masyarakat Saint-Quentin.
Pameran
ini melibatkan peran serta pemerintah Saint-Quentin dan kalangan
kolektor benda-benda seni budaya Dayak dan kolektor kupu-kupu setempat.
Tingginya
animo masyarakat Perancis khususnya di Saint-Quentin menyaksikan
pameran yang digelar lembaga permuseuman setempat diharapkan dapat
membantu memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Perancis khususnya
masyarakat Saint-Quentin.
Sumber : Kompas.com
Menjaga Tarian Dayak Deyah dari Kepunahan
![]() |
| Foto : Ilustrasi |
Pada usia sembilan tahun, Roesina mulai mempelajari tari. Sekitar 33
tahun kemudian, dia mendirikan sanggar tari di kampung halamannya dan
bertahan sampai sekarang. Tujuan utamanya, melestarikan kesenian asli
Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Deyah, dari kepunahan. DEFRI WERDIONO
Dalam
suatu kesempatan pada November 2011, wajah Roesina menyiratkan rasa
bahagianya seusai menyaksikan rekannya, Hasan (50), berhasil memanjat
batang manau, sejenis pohon berduri.
Pagi itu Roesina banyak
mengumbar senyum. Dia bersama timnya tampil sebagai pengisi kegiatan
tahunan Festival Budaya Pasar Apung 2011 di Banjarmasin, Kalimantan
Selatan.
Hasan, laki-laki bertubuh kekar itu, mampu memanjat
batang manau yang penuh duri dengan telanjang kaki dan dada. Tidak
tampak luka gores atau luka tusuk sedikit pun di tubuhnya. Senyum Hasan
juga terus mengembang ketika sejumlah penonton yang dipenuhi rasa heran
mendekat dan menyapanya.
Bagi Roesina, tari Balian Bawo Panjat
Manau hanyalah salah satu kekayaan budaya Dayak yang sudah ada sejak dia
bisa mengingatnya. Awalnya, masyarakat penganut Kaharingan menggunakan
tarian ini sebagai media penyembuhan pada orang yang sakit.
Di
samping itu, tari Balian Bawo Panjat Manau juga kerap ditampilkan untuk
membayar nazar masyarakat setempat. Kegiatan tersebut biasanya
diselenggarakan sehabis merayakan panen.
Dalam perkembangannya
sekarang, tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu
dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk
bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja
dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta
pernikahan.
Menurut Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanya
salah satu dari tari tradisi warga Dayak Deyah. Selain tarian itu,
setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari
Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.
Tarian
pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari-
tarian pada subsuku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat.
Tari-tarian Dayak Deyah umumnya lebih menekankan pada gintur (bambu).
Pemakaian
gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tanpa sebab. Konon, bambu
merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk
bergerilya melawan penjajah.
”Jadi penggunaan gintur tidak bisa digantikan,” ujar Roesina menegaskan.
Kaya bersuluh emas
Hampir
selama 20 tahun terakhir ini, tari-tarian Dayak Deyah diajarkan Roesina
kepada generasi muda setempat. Dia mengajarkan tari-tarian tradisi itu
melalui sanggar Tatau Silu Bulau di Desa Pengelak, Kecamatan Upau,
Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Sanggar Tatau Silu Bulau
berdiri pada tahun 1992. Kata ”tatau silu bulau” mengandung arti ”kaya
bersuluh emas”. Tatau berarti kaya, silu artinya suluh, dan bulau sama
dengan emas.
Lewat nama tersebut, Roesina berharap sanggar Tatau
Silu Bulau bisa seperti emas yang tidak akan luntur selamanya. ”Semoga
demikian pula dengan kesenian Dayak, tidak akan luntur selamanya”
ujarnya.
Maksud dia seperti emas yang tidak akan luntur, begitulah
kesenian Dayak di mata Roesina. Meski seni budaya dari luar budaya
Dayak masuk ke wilayah tersebut, masyarakat tetap menjaga dan memelihara
tradisi itu. ”Kesenian peninggalan leluhur kami bisa tetap bertahan,
tidak lalu menjadi tergeser.”
Roesina lalu bercerita tentang awal
didirikannya sanggar Tatau Silu Bulau. ”Modal utamanya adalah semangat
melestarikan tari-tarian Dayak Deyah,” ujarnya.
Untuk melengkapi
peralatan menari, ia upayakan secara swadaya. Sebuah babun, semacam
gendang, ia beli seharga Rp 750.000. Ia kembali merogoh kocek untuk
melengkapinya dengan tiga babun kecil seharga Rp 750.000.
Sedangkan
untuk kelengkapan instrumen lainnya, seperti kenong, Roesina mencari
pinjaman. ”Tahun 1992-1994 kami meminjamnya sebelum ada bantuan dari
pemerintah kabupaten. Begitu pula untuk kostum penari, tahun 2006 kami
berinisiatif mengirim proposal ke perusahaan tambang untuk mendapatkan
bantuan,” ujarnya.
Tentang inovasi
Sejak
berdiri hingga kini, empat kali Roesina mengirim proposal kepada
pemerintah daerah dan perusahaan tambang batubara di daerah setempat.
Sebagian uang itu dibelikan peralatan dan sebagian lainnya disimpan
untuk keperluan sanggar di kemudian hari.
Cara ini ditempuh karena
dia tak menarik iuran dari anak didiknya. Ia juga tak menyisihkan uang
hasil pentas karena honor itu dibagi habis untuk anggota. Tak ada hasil
pentas yang masuk kas operasional sanggar. Dalam setahun anggota sanggar
bisa tampil hingga lima kali.
Bagi Roesina, menampilkan tarian
tradisi kepada publik relatif tak ada kesulitan, termasuk saat ia
melakukan ritual khusus sebelum memulai pertunjukan.
”Tahun 2009
rombongan kami pernah mengalami kecelakaan di jalan,” cerita mantan guru
sekolah dasar itu tentang musibah yang pernah mereka alami berkaitan
dengan pertunjukan.
Sejauh ini, lanjut Roesina, hanya tari Nande
yang sulit ditampilkan sebab tarian ini harus dilakukan pada tengah
malam. Apalagi dalam pertunjukan tari Nande, nyaris tidak ada
penerangan. Penari bergerak dengan mengandalkan tali yang dipegangnya.
Meski
permintaan naik panggung cukup banyak, sampai sekarang Roesina tetap
mengandalkan gerakan- gerakan asli tari tradisi dalam pengajaran di
sanggarnya.
”Kami sebenarnya terbuka untuk melakukan inovasi asal
tidak meninggalkan gerakan-gerakan asli tarian warisan nenek moyang.
Tetapi kendalanya justru dari pelatih yang punya kemampuan dan mau
melakukan inovasi tersebut,” katanya.
Roesina keberatan bila untuk
keperluan inovasi gerakan tari itu, dia harus mengambil pelatih dari
luar sanggar. Masalahnya, dia tidak punya cukup dana untuk membayar
honor bagi pelatih tari tersebut.
Lewat pengabdiannya pada
kesenian tradisi Dayak Deyah pula, Roesina dikenal masyarakat.
Kesungguhannya melestarikan tarian tradisi itu juga membuat dia
mendapatkan penghargaan dari pemerintah kabupaten sebagai pelestari
budaya.
Penghargaan pertama diterima Roesina tahun 1990 seusai dia
berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Penghargaan
berikutnya diterima pada tahun 2006.
”Satu hal yang membuat saya senang, kelima anak saya semuanya bisa menarikan tarian tradisi Dayak Deyah,” ujar Roesina bangga.
Sumber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Dayak Punan Tersingkir dari Hutan Adat
![]() |
| Foto : Ilustrasi |
SAMARINDA, KOMPAS - Masyarakat Dayak Punan dinilai
menjadi korban dalam konflik lahan dengan perusahaan. Ini menunjukkan
bahwa pemberian izin lokasi kepada perusahaan tidak sesuai prosedur
sehingga masyarakat tersingkir dari hutan adat mereka sendiri.
Hal
itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur Rusman Yaqub
seusai menemui perwakilan masyarakat adat Dayak Punan di Kantor DPRD
Kaltim, Kota Samarinda, Selasa (13/3). ”Ini bukti izin yang dikeluarkan
hanya di atas meja, tetapi tak sesuai realitas di lapangan. Seharusnya
pemerintah tahu, di areal itu ada masyarakat adat yang tinggal,” kata
Rusman.
Masyarakat Dayak Punan dari Desa Punan Dulau dan Desa
Ujang, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, ini mengadu ke DPRD Kaltim
terkait pencaplokan hutan adat mereka seluas 68.000 hektar oleh
perusahaan kayu PT Intracawood Manufacturing. Sebelumnya, mereka
melaporkan hal serupa ke Kantor Gubernur Kaltim.
Rusman
mengungkapkan, meskipun PT Intracawood Manufacturing sudah mengantongi
izin hak pengusahaan hutan (HPH) yang diterbitkan pemerintah pusat bukan
berarti hak masyarakat diabaikan.
”Masyarakat Dayak Punan itu
sudah lebih dulu tinggal di sana sebelum perusahaan masuk. Seharusnya
mereka ditanyai, ini malah perusahaan cari jalan pintas,” tutur Rusman.
Rencananya,
DPRD Kaltim akan memanggil Dinas Kehutanan Kaltim, Pemerintah Kabupaten
Bulungan, dan perwakilan PT Intracawood Manufacturing untuk
menyelesaikan persoalan konflik lahan di Desa Punan Dulau dan Ujang ini.
”Minggu depan kami akan agendakan pertemuannya,” ucap Rusman dan Iwan.
Intracawood
mulai merambah hutan adat Punan Dulau dan Ujang sejak 1988. Dengan
berbekal izin HPH dari Kementerian Kehutanan, mereka menguasai hutan
adat Dayak Punan tanpa ada sosialisasi dan persetujuan dari masyarakat
setempat.
Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak Jonidi
Apan mengungkapkan, setelah perusahaan masuk, masyarakat Dayak Punan
tidak lagi dapat berburu dan terpaksa menanam singkong dan menangkap
ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal Dayak Punan
merupakan suku yang biasa berburu dan meramu.
Mukhlis, Pelaksana
Divisi Kehutanan Departemen Kelola Sosial PT Intracawood, mengakui,
larangan berburu dan pemanfaatan hasil hutan yang dipasang perusahaan
bukan ditujukan untuk masyarakat adat Dayak Punan, melainkan untuk warga
dari luar Punan Dulau dan Ujang.(ILO)
Sumber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Promosikan Wisata Budaya Melalui Desa Sanggu
BUNTOK, KOMPAS.com — Apa ciri khas Kabupaten Barito
Selatan (Barsel) yang terletak di Kalimantan Tengah? Ternyata, untuk
mengembangkan pariwisata, salah satunya adalah dengan menonjolkan sisi
wisata budaya.
"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.
Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.
"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.
"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.
Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.
"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.
SUmber : Kompas.Com
"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.
Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.
"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.
"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.
Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.
"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.
SUmber : Kompas.Com
Sunday, April 01, 2012
Bertandang ke Betang Antang Kalang
MARI
bertualang ke pedalaman Kalimantan. Mari berkunjung ke rumah adat Dayak,
Betang Antang Kalang. Untuk itu, kita harus menyusuri curamnya
riam-riam sungai dan melintasi lebatnya hutan. Menantang dan
mengasyikkan.
Betang adalah sebutan untuk rumah besar milik
keluarga. Betang Antang Kalang terletak di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan
Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Tahap
pertama menuju Tumbang Gagu ditempuh dari ibu kota Kalteng,
Palangkaraya, menuju Kecamatan Tumbang Samba, Kabupaten Katingan,
Kalteng. Perjalanan sebaiknya ditempuh dengan mobil berpenggerak empat
roda.
Pada akhir Februari lalu, kami menggunakan mobil Hardtop
untuk menempuh jarak 185 kilometer dengan waktu tempuh sekitar lima jam.
Hingga Kasongan, ibu kota Katingan, jalan masih mulus. Namun, jalan
selanjutnya merupakan jalur off road dengan lubang-lubang cukup
dalam. Maklum, jalur itu dilalui truk-truk pengangkut sawit setiap
hari. Meski mobil masih lincah menaklukkan medan berat, tubuh terguncang
juga. Sekitar pukul 21.00, rombongan tiba di Tumbang Samba untuk
bermalam di losmen sederhana.
Menempuh riam dan rimba
Perjalanan
dilanjutkan dengan menumpang kapal kelotok. Pagi-pagi sekali, sekitar
pukul 06.00, kelotok sudah bertolak. Perjalanan menyusuri Sungai
Katingan selama hampir tujuh jam itu ditempuh dengan beberapa kali
mengarungi riam. Ini bagian yang mendebarkan. Namun, jangan khawatir.
Juru mudi kelotok dengan cekatan meliuk-liukkan perahunya, sementara
batu-batu besar di depan menghadang.
Lebih dari 10 riam dilewati
sepanjang perjalanan, termasuk Mangkikit dan Leleng yang dikenal terjal.
Begitu ganasnya medan di kedua tempat itu sehingga semua penumpang
harus turun dulu, sementara pengemudi perahu berjuang menerjang riam.
Perahu terlihat bersusah payah melawan arus, bahkan tak jarang harus
terseret mundur untuk kemudian maju lagi. Penumpang dapat naik lagi ke
perahu setelah berjalan kaki sekitar 200 meter menyusuri hutan dan rumah
penduduk setempat.
Sesekali saat melintasi riam-riam kecil, air
sungai terciprat dan membasahi sebagian pakaian. Jika dirasa perlu, awak
perahu memasang terpal untuk melindungi penumpang, tetapi tetap saja
ada sedikit cipratan air yang masuk. Susur sungai menempuh jarak 118
kilometer berakhir ketika perahu merapat di Desa Penda Tanggaring,
Kecamatan Sanaman Mantikei, Katingan.
Petualangan dilanjutkan
dengan berjalan kaki menjelajah rimba belantara sejauh 6 kilometer.
Perjalanan dua jam itu menjadi menyenangkan dengan hawa segar karena
lebatnya pepohonan seperti durian, karet, dan ulin. Ada pula durian
hutan dengan buah berwarna merah.
Setidaknya di dua tempat
terlihat onggokan kayu-kayu ulin berdiameter 50 sentimeter dan panjang
hingga 5 meter. Kayu-kayu itu semula hendak digunakan untuk membangun
Betang Antang Kalang. Suatu ketika kayu yang dibutuhkan ternyata sudah
cukup dan gelondongan-gelondongan itu dibiarkan di hutan. Meski sudah
hampir 1,5 abad lalu, kayu itu masih kokoh dan keras.
Setelah
berjalan kaki sekitar dua jam, Betang Antang Kalang akhirnya dapat
dicapai. Mira Rindu (53), penghuni betang tersebut, menerima dengan
ramah rombongan wisatawan yang datang. Ia mempersilakan kami untuk
melepas lelah dengan menyuguhkan teh panas nan legit.
Hening dan sejuk
Pagi
datang dengan kicauan burung terdengar di sana-sini. Kabut tipis
terlihat di kejauhan. Udara sejuk terasa. Menikmati suasana di Betang
Antang Kalang berarti merasakan keheningan yang jauh dari hiruk-pikuk
kota besar.
Kehidupan di Antang Kalang berjalan sederhana. Warga
memasak makanan menggunakan kayu bakar. Mereka mencukupi kebutuhan
makanan dari kebun sendiri. Mereka mandi di Sungai Kalang. Ada juga bau
teknologi berupa generator yang menyala sekitar pukul 18.00-24.00.
Mereka perlu generator antara lain untuk menyalakan televisi, sekadar
hiburan bagi penghuni betang.
Mira Rindu menuturkan riwayat
singkat Betang Antang Kalang. Rumah itu dibangun Singa Jaya Antang pada
tahun 1870 dan mulai dihuni tahun 1878. Singa Jaya Antang berasal dari
Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau,
Kalteng. Singa membangun betang karena mencari daerah baru yang subur.
”Kalau
letak rumah, Singa menentukannya berdasarkan petunjuk elang berdasarkan
kepercayaan zaman dulu,” kata Mira yang merupakan generasi ketiga
keturunan keluarga Singa.
Betang Antang Kalang sehari-hari dihuni
hanya oleh lima orang. Namun, pada saat kumpul keluarga besar, betang
bisa kedatangan hingga 100 orang. ”Soalnya, banyak penghuni betang
bekerja di kota besar, menggarap kebun, dan menyadap karet di tempat
yang jauh,” papar Mira.
SUmber : Kompas.com
Sunday, April 01, 2012
Thursday, February 2, 2012
Tradisi Membuat EMPING (PAM dalam bahasa Dayak) Masyarakat Dayak menjelang panen
![]() |
| Ibu-ibu Dayak sedang mengikis/mengaus padi ketan |
Ketika mendengar kata
Emping, mungkin yang terlintas di benak kita adalah kerupuk melinjo atau sejinisnya.
Tapi berbeda dengan Emping yang satu ini, Emping punya masyarakat Dayak. Emping
ini terbuat dari padi ketan yang belum matang atau isitlah masyarakat Dayak Seberuang
di sebut dengan pulut matak (padi
ketan mentah) yang di petik langsung
dari ladang. Proses pembuatanya juga
terbilang rumit dan unik.
Proses pembuatannya
dimulai dengan memilih padi ketan mentah (pulut
matak) dari ladang, padi ketan yang di ambil harus yang benar-benar pas
tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Proses ini perlu
ketelitian dan keahlian dalam memilihnya dan ini biasanya dilakukan oleh
ibu-lbu. Tahap selanjutnya adalah melepaskan buah padi ketan dari tangkainya (seperti
digambar). Proses ini tidak seperti yang lazim kita lihat ketika petani selesai
panen yang melepaskan padi dari tangkainya. Tahap ini dinamakan ngikis/ngaus sejenis meraut rotan yaitu
mengosokkan bambu yang sudah di bentuk ke tangkai padi ketan tadi agar
biji-biji padi terlepas dari tangkainya.
Setelah semua biji padi
dilepaskan dari tangkainya, tahap selanjutnya adalah memasak biji padi ketan
tersebut. Proses memasaknya juga berbeda dengan cara memasak biasa, padi ketan
dimasukan ke dalam kuali yang berukuran besar yang muat beberapa gantang. Padi dimasak
dengan kuali tanpa campuran apa-apa, di masyarakat Dayak dikenal dengan namanya
ngrendang. Setelah kurang lebih 30
menit dimasak, padi ketan diangkat dan didinginkan. Proses memasaknya juga
harus pas, tidak boleh mentah dan terlalu masak karna hasilnya tidak bagus.
Selanjutnya padi ketan
yang sudah dingin tadi ditumbuk atau ditutuk
dalam bahasa Dayak. Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat tradisional
semua seperti Lesung, Alu, dan Capan. Tahanp ini benar-benar perlu tenaga
ekstra untuk menumbuk padi tersebut sampai isi padi ketan (PAM) terpisah dari
kulitnya. Dalam tradisi masyarakat Dayak seberuang juga kalau para remaja
laki-laki mau menikah harus sudah bisa menumbuk padi minimal 3 orang dalam satu
Lesung. Ini merupakan tahap terahir dalam proses pembuatan PAM / Emping
masyarakat Dayak. Setelah di tumbuk padi ketan yang sudah jadi PAM (beras ketan
muda) di tampi untuk memisahkan dari sampah kulit padinya.
Setelah semuanya
selesai baru PAM bisa di santap ramai-ramai bersama keluarga besar, sebelum
menyantapnya juga ada prosesi adat sebagai bentuk rasa syukur karena telah
tibanya musim panen. Rasanya yang enak dan empuk dikunyah membuat makanan ini
menjadi idola dimasyarakat Dayak. PAM akan lebih terasa nikmat kalau dimakan
campur kepala parut dan gula merak.
PAM ini hanya bisa
dinikmati satu tahun sekali yaitu pada saat musim panen tiba. Biasanya
pembuatannya juga ramai-ramai dalam satu keluarga besar. Ini juga merupakan
syarat adat sebelum padi bisa mulai di panen.
*Bonny Bulang Aktivis Ekonomi Kerakyatan dan Masyarakat Adat Dayak
Thursday, February 02, 2012
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
















