Tuesday, November 8, 2011
Festival Teater Remaja se-Indonesia, SMA Kemala Bhayangkari Tampilkan BALIANT
Ceritadayak.com, Jakarta - Fastival Teater Remaja terbuka ke-X yang dilaksanakan di Gor Grogol Jakarta Barat diikuti oleh berbagai SMA dari seluruh Indonesia. Untuk Kalimantan Barat di wakili oleh SMA Kemala Bhayangkari Kubu Raya yang mendapat giliran tampil pada tadi malam (10/11/2011), dalam festival itu SMA Kemala Bhayangkari menampilkan BALIANT. Dalam tradisi suku Dayak Baliant adalah seorang yang dapat menyembuh berbagai macam penyakit secara tradisional dan Baliant juga dapat berhubungan dengan mahkluk gaib.
Dikisahkan serong Baliant yang bernama Randu adalah seorng Baliant yang hebat di kampung itu dan sudah terbukti mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Seiring waktu berjalan Baliant Randu mulai gerah dengan profesinya sebagai Baliant karna hasil yang didapatkan tidak sesuai dan tidak mampu mencukupi biaya hidup mereka sehari-hari apa lagi Lubas anaknya mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ini dikarenakan seorang Baliant tidak boleh menentukan harga yang harus di bayar ketika mereka mampu menyembuhkan penyakit pasiennya atau serelanya aja. Akhirnya Baliant sering meminjam uang kepada kepala Adat dan lama kelamaan menjadi banyak.
Disisi lain dikampung itu sedang ada sosialisai perusahaan sawit oleh pengusaha yang juga putra asli kampung itu bernama Donga. Namun masyarakat setempat menolak rencana tersebut. Tapi Donga tidak hilang akal, dia mengandeng Pangarok sang kepala Adat di kampong itu. Tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya mereka memanfaatkan Baliant Randu untuk membujuk masyarakat dan meminta Baliant menyampaikan kepada mayarakat bahwa Baliant mendapat titah dari Jubata kalau kampung tersebut harus dibuka perkebunan sawit.
Baliant yang sedang terhimpit hutang dengan kepala adat akhirnya menyetujui permintaan mereka dengan catatan hutang Baliant lunas dan akan ditambah lagi dengan sejumlah uang. Tapi ini tidak berjalan mulus karena rencana tersebut di tentang oleh Inang istri Baliant dan Lubas putranya. Perdebatan demi perdebatan terjadi, singkat cerita Baliantpun akhirnya menjalankan rencanya tersebut.
Baru memulai pembukaan lahan tiba-tiba Jubata serta Penjaga Hutan marah dan memberikan kutukan berupa penyakit kepada kampung tersebut. Hampir seluruh warga kampung itu terjangkit penyakit yang mematikan dan sudah memakan korban jiwa. Disisi lain kekuatan Baliant di cabut oleh Jubata dan setiap yang berobat dengan Baliant bukan sembuh tapi justru meninggal.
Kemudian Jubata memilih Lubas anaknya untuk menggantikannya sebagai Baliant, tapi hal ini di tentang oleh Randu ayahnya. Sampai akhirnya mereka melakukan perkelahian dan siapa pemenangnya dialah yang berhak menjadi Baliant. Dalam pertarungan Randu hendak memenggal kepala Lubas tapi saat itu datang Jubata membantu Lubas dan melumpuhkan Randu sehinggal Randu terkena penyakit aneh.
Singkat cerita pada akhirnya Lubas memenagkan pertarungan itu dan dia mengusai ilmu Baliant dan dia menjadi Baliant yang baru menggantikan Randu bapaknya. Lubas smenyembuhkan bapaknya Randu dan semua orang kampong yang terkena penyakit termasuk kepala Adat dan Pengusaha itu dan pembukaan lahan sawitpun dibatalkan.
Naskad oleh : Beben MC dari Dapur Teater Pontianak
Sutradara : Mugiono
Tepuk tangan yang meriah menyamput berakhirnya pertunjukan itu. Sang sutradara pun tersenyum bahagia karena pementasannya sukses. Pementasa yang memakan waktu kuran lebih 60 menit itu sangat menghibur para penonton yang hadir. Ini terlihat dar anstusiaame penonton menyaksikan dari awal hinggal akhir pertunjukan.*BB
DINAMIKA TATTOO ETNIK DAYAK DAN KONTRIBUSI‐NYA BAGI WARISAN BUDAYA DUNIA
oleh Lembaga Studi Dayak pada 07 November 2011
Makalah ini disampaikan oleh Aman Durga Sipatiti (Durga Tatto) selaku pembicara diskusi tato dengan tema: "Dinamika Tattoo Etnik Dayak dan Kontribusinya Bagi Warisan Budaya Dunia" pada event Pesta Seni & Budaya Dayak Se-Kalimantan IX di Yogyakarta (Festival of Art & Culture of Dayak Borneo) - Jumat, 21 October 2011 di Taman Budaya, Yogyakarta-Indonesia
DINAMIKA TATTOO ETNIK DAYAK DAN KONTRIBUSI‐NYA BAGI WARISAN BUDAYA DUNIA
Oleh Durga (Durga Tattoo) – Yogyakarta, 21 Oktober 2011
halaman 1
Istilah nama Dayak adalah diciptakan sebagai sebutan untuk menggabungkan ratusan suku‐suku dan bermacam sub suku yang mendiami Borneo. Suku‐suku dan sub suku Dayak yang memiliki tradisi tato, menggunakannya untuk mendefinisikan identitas mereka sekaligus juga dipakai sebagai pengikat sebuah hubungan spiritual dengan adat.
Meskipun terjadi perubahan yang sangat besar seiring berjalannya waktu dalam tatanan kehidupan modern di kehidupan urban dan pengaruhnya yang besar pada tatanan kehidupan suku Dayak, masih ada rasa dan kebutuhan mendalam untuk menjadi bagian dari budaya dan adat istiadat Dayak.
Ketika seorang laki‐laki dan perempuan Dayak telah mencapai masa akil balik, ritus perjalanan hidup sering diabadikan atau ditandai melalui tato pada bagian tubuh tertentu. Pencapaian peringkat tertentu, profesi tertentu atau status social mereka, prestasi atau pengalaman hidup tertentu, penguasaan skill tertentu sering diperingati melalui tato.1 Fungsi sebagai jimat untuk memberikan perlindungan dari penyakit, bala, sihir, ancaman musuh ataupun kemalangan juga dapat ditandai melalui tato. Para pria yang bertato untuk menunjukkan keberanian, kepahlawanan, perjalanan atau perantauan, bahkan juga sebagai tropi dan catatan pribadi seberapa banyak nyawa atau kepala yang telah mereka ambil dalam pengayauan atau peperangan.
Elemen‐elemen atau symbol‐simbol yang berasal dari alam dan lingkungan hidup serta bentuk‐bentuk visual yang diambil atau berakar pada agama dan kepercayaan sukusuku Dayak selalu menjadi sumber dari bentuk‐bentuk design dan motif ataupun pola tato‐tato Dayak.
Teknik pembuatan tato Dayak yang secara Internasional disebut dengan teknik tato hand‐taping, tekanan jarum tato dengan cara diketuk merupakan teknik asli dan populer selain teknik yang sama ini juga dipergunakan oleh suku‐suku lain di Nusantara ataupun di wilayah Asia Tenggara dan laut Pasifik.
Untuk tradisi tato tradisional dayak, digunakan alat‐alat yang dikenal dengan istilah: Ulang/Lutedak, Tukul Tedak, Klinge dan Bungan Tedak. Ulang/Lutedak adalah tongkat tato yang sering terbuat dari kayu Ulin divariasikan dengan material dari tanduk rusa atau tanduk kerbau dimana jarumnya yang dulu dipakai dari duri pohon jeruk, dipasang pada bagian ujung. Tukul Tedak adalah tongkat dari kayu Ulin yang digunakan sebagai pemukul Ulang/Lutedak. Design atau motif atau pola tato diukir pada sebilah kayu Belian sebagai stempel yang dikenal dengan istilah Klinge, ditempelkan pada bagian tubuh yang akan ditato, kemudian dilaksanakan proses tato dengan teknik handtapping ini. Tinta tato Dayak dulunya dibuat dari bahan‐bahan natural yaitu jelaga arang Damar sebagai pigmen warna hitam dan dicampur dengan air tebu yang kemudian ditempatkan pada sebuah cawan atau mangkuk kecil yang biasanya dulu terbuat dari kayu Ulin atau kayu Belian yang disebut dengan Bungan Tedak.
Suku‐suku Dayak percaya bahwa dengan pigment terhitam yang mereka rajah di tubuh mereka dan semakin banyak tato di tubuh mereka, akan bersinar terang membimbing
1 Lora S. Irish, Modern Tribal Tattoo Designs. 2009 – Fox Chapel Publishing Company, Inc. USA.
halaman 2
mereka dengan aman menuju rumah leluhur mereka di alam surga yang dikenal dengan Apo Kesio.
Namun ada banyak misteri dan pertanyaan yang masih belum bisa terkuak oleh banyak pihak seperti para antropolog, etnolog atau peneliti lain ataupun oleh para peminat dan pengamat seni tato Dayak, dikarenakan tradisi tato dari banyak suku‐suku dan sub‐suku Dayak hampir punah dan kurangnya catatan sejarah atau dokumen tertulis dan yang tergambar.
Sebelum memasuki era pertengahan abad 19, Borneo hampir belum dikenal sampai ke dunia barat hingga setelah diterbitkannya buku yang menjadi salah satu catatan atau dokumen tertulis pertama yang pernah ada tentang suku‐suku Dayak menjelang akhir abad ke 19. Hingga pada akhirnya, “The Pagan Tribes of Borneo” karangan Charles Hose dan William MacDougall yang merupakan dokumen tertulis klasik mengenai kehidupan tradisional dan adat istiadat suku‐suku Dayak yang diterbitkan pada tahun 1912, setelah sebelumnya pada tahun 1906, Charles Hose dan Robert Walter Campbell Shellford3 yang melakukan kunjungan dan risetnya di Borneo dan mengumpulkan banyak informasi termasuk kumpulan design, motif atau pola‐pola tato Dayak yang mereka gambar kembali dalam catatannya yang diberi judul “Materials for Study of Tatu in Borneo”.
Namun sebelum ketiga peneliti berkebangsaan Inggris tersebut melakukan risetnya di Borneo, Dr. Anton Willem Nieuwenhuis berkebangsaan Belanda telah 3 kali melakukan ekspedisi extensivnya ke Borneo sejak tahun 1893 hingga 1900. Dialah orang barat pertama yang berhasil menembus dan menjelajah Borneo dari sisi barat hingga sisi timur, dan dari penjelajahannya di Borneo ia membuat 2 buah buku yang tidak dipublikasikan secara besar‐besaran yang berjudul “In Centraal Borneo ‐ Reis van Pontianak naar Samarinda” pada tahun 1900 dan “Quer Durch Borneo”, catatan tentang perjalanannya di tahun 1894, 1896‐1897 dan 1898‐1900.
Buku‐buku diatas, catatan‐catatan tertulis dan bergambar diatas hingga kini selalu masih dipergunakan sebagai bahan referensi dan masuk list bibliografi buku‐buku tato yang membahas mengenai tato suku‐suku Dayak.
Masa suram dan sisi pahit yang terjadi pada budaya dan tradisi tato suku‐suku Dayak yang dimulai sejak era imperialisme di masa lampau, misionaris, masuknya agama-agama dari kebudayaan asing, pemerintahan era kolonial hingga pemerintahan paska kemerdekaan Indonesia telah menghancurkan, melarang dan menghilangkan tradisi
tato Dayak.
Salah satu komentar yang memperkuat cerita mengenai masa pahitnya budaya dan tradisi tato suku‐suku Dayak misalnya dari seorang tattoo artist lawas legendaris Belanda bernama Henk “Hanky Panky” Schiffmacher tercatat dan dipublikasikan dalam sebuah buku tato dan bentuk‐bentuk body modification dalam perkembangan dan kehidupan kontemporer dan ritualnya yaitu berjudul “Modern Primitives”; “When the Dutch left Indonesia in the fifties, the new government said, “All right, no more of that spirit religion here. We want you to become either Muslims or Christians‐no other religion anymore. We’re going t become a modern society.” And how do you become a
2 Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
3 Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
halaman 3
modern society‐wearing western clothes even though it’s hot as hell, and building skycrapers?4
Ketika jaman semakin berubah dan tatanan kehidupan moderen yang dibakukan di semua lapisan masyarakat dibentuk secara sistematis. Ketika orang suku‐suku Dayak dari generasi yang berbeda mulai terpengaruh mind‐set yang sengaja tercipta, bahwa tato Dayak ataupun telinga panjang dan pakaian adat adalah keterbelakangan. Ketika
sudah terlalu massive masuknya banyak budaya lain dan populasi lain akibat kemajuan teknologi dan explorasi bahkan exploitasi hasil alam di Borneo.
Ketika tato Tribal mulai menjadi trend di awal 80an, kekaguman publik terhadap bentuk‐bentuk visual atau pola‐pola hitam yang tebal membuatnya memiliki pesona tersendiri dan berbeda dengan gaya atau aliran tato lainnya seperti traditional American tattoo dengan design jangkar atau jantungnya, ataupun aliran realistic tattoo
baik itu yang black and grey ataupun colorful, yang pada saat itu sangat populer di Amerika dan Eropa.5
Tato Tribal yang merupakan sebuah istilah mendunia hingga hari ini bisa dikatakan tetap terus mengalami masa kebangkitan dan menjadi bagian dari sebuah trend dalam dunia Tato, sejalan publik dunia di tatanan kehidupan modern memberikan perhatian cukup besar dan ingin menjadi bagian dari budaya dan tradisi tato Dayak yang
mengalami dinamika pasang surutnya serta menjadi salah satu tradisi tato etnik yang sangat terkenal seantero dunia.
Borneo telah menarik sejumlah antropolog, etnolog dan peneliti asing lainnya untuk mengunjungi Borneo dan melakukan riset dan pencatatan kebudayaan dan adat istiadat suku‐suku Dayak sejak abad ke 19, banyak tattoo artist dunia dari berbagai negara yang tertarik dan berperan dalam memperkenalkan design, motif atau pola tato‐tato Dayak melalui karya‐karya tato mereka pada tubuh publik di luar negeri sana menurut catatan dan dokumen yang ada telah dimulai sejak awal era 80an.
Dirangsang oleh berbagai apresiasi baru, permintaan atas minat dan pengetahuan akan seni dan budaya, orang‐orang dari segenap wilayah Pasifik, Asia hingga Afrika, Eropa dan Amerika mencoba memulihkan dan menghidupkan kembali seni tradisional mereka yang hampir hilang, termotivasi dan dibantu oleh banyak pihak yang tertarik pada praktek dan warisan budaya, khususnya tradisi tato tradisional. Kebangkitan tato Dayak sebagai salah satu budaya tato tertua dan asset penting bagi warisan tradisi tato dan budaya dunia sekali lagi telah banyak memberikan manusia modern dari berbagai pelosok di bumi ini identitas individualnya masing‐masing. Sama seperti pada masa lalu suku‐suku Dayak dan leluhur suku‐suku Dayak, manusia modern menggunakan design atau motif atau pola tato Dayak untuk mendefinisikan pencapaian sebuah masa atau prestasi atau pengalaman hidup tertentu, apresiasi masing‐masing individu dan ide‐ide spiritual, untuk menyatukan manusia modern dengan alam yang telah amat jauh berbeda secara general seiring perkembangan lingkungan sekitar yang telah berubah drastis akibat kemajuan teknologi dan kehidupan global serta secara bersamaan merupakan sebuah konsep identitas dan individualitas personal tertentu yang membedakannya dengan personal lain atau komunitas lain.
Bila kita cermati terkadang bisa ditemukan penggunaan design atau motif atau pola tato Dayak yang diaplikasikan kurang tepat. Apakah itu misalnya design yang seharusnya untuk laki‐laki tapi dibuat pada tubuh wanita atau sebaliknya, ataupun beberapa
4 V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
5 Judith Levin. Tattoos And Indigenous Peoples. 2009 – Rosen Publishing. New York, USA.
halaman 4
kesalahan penggunaan ataupun pembuatan yang dibuat di wilayah negeri ini atau di luar negeri. Kenyataan bahwa ketertarikan akan tato Dayak telah mewabah pada manusia modern termasuk banyak tattoo artist di Negara‐negara maju sejak tahun 80an menunjukkan terjadi cross‐culture dengan muatan arti penting atau makna budayanya
yang sedikit atau banyak, merupakan salah satu transformasi dan penyebaran informasi tentang budaya seni tato Dayak. Proses cross‐culture terhadap seni tato Dayak ini memiliki potensi yang bila dicermati secara seksama akan dapat diketahui seberapa besar tertarik tidaknya manusia modern akan design, motif atau pola tato tertentu, yang
setidaknya kemudian besar design atau motif atau pola tato tersebut akan mereka adopsi ataupun mereka sesuaikan, bukan diabaikan, terlupakan dan tersia‐sia.6
Kenyataan bahwa tradisi tato Dayak telah lama ditinggalkan akibat banyak alasan dan penyebab seperti yang telah dijabarkan diatas dan kurangnya ketertarikan terhadap tato tradisionalnya dari anggota suku‐suku dan sub suku atau orang asli Dayak maupun juga pada orang‐orang dari suku‐suku lain yang memili tradisi tato di muka bumi ini
diperkuat juga oleh pendapat atas pengalaman pribadi Henk “Hanky Panky” Schiffmacher dan Leo Zulueta. Hanky Panky: “I have my tools (tattoo equipments) with me, and what they want you to make is like our stuff; they don’t want traditional designs. I’ll make modern designs for them; you can’t blame them.”
Leo Zulueta: “A funny thing happened when I went to Mike Malone’s studio (almarhum Mike Malone adalah salah satu tattoo artist terbesar dalam sejarah perkembangan American traditional tattoo scene) in Hawaii, right after I’d gotten my large Micronesian (gugusan kepulauan di Pasifik) back piece tattoo (which done by Don Ed Hardy). Three older tattooed Micronesians came into the shop and I talked to them for awhile, and then told them, “Hey, I’ve got a really neat Micronesian‐style tattoo on my back” and whipped off my shirt. Two of them were yawning and turning the other way before I even had my shirt back on‐they were far more interested in the colored American eagles and naked lady designs on the walls!”
Jika dicermati apa yang semua telah diulas diatas, banyak pihak dari luar negeri sudah sejak akhir abad 19 telah tertarik pada budaya tato Dayak dan fakta‐fakta tersebut sudah membuktikan bahwa betapa pentingnya arti dan positioning tato Dayak memberikan kontribusi yang teramat besar bagi warisan Budaya Dunia.
Terlepas dari sisi negatif selain bukan hanya sisi positif dari masuknya banyak peneliti dan ekspedisi budaya ke suku‐suku Dayak di Borneo, ada baiknya kita selalu melihatnya dari sudut pandang positif.
Bagi kita yang di tanah air, kontribusi positif yang nyata dari berbagai pihak secara kelompok atau personal dari berbagai bidang ilmu untuk prose’s pembelajaran kembali dan perkembangan tato Dayak tidak hanya diharapkan dating dari para peneliti antropologi, etnologi dan sejarah, para tattoo artist dan publik yang ditatonya, melainkan juga dari mereka dari bidang fotografi atau video, media cetak, bidang ilmu kerajinan, misalnya untuk membuat kembali “Klinge” (stempel pahatan design/motif/pola tato pada kayu) atau perlengkapan‐perlengkapan tato Dayak lainnya.
Kontribusi yang bisa diberikan oleh bidang ilmu seni tato oleh seorang tattoo artist misalnya mengumpulkan dan menggambar ulang kembali design, motif atau pola tato-tato Dayak, mengaplikasikan design/motif/pola tersebut dan melestarikannya pada medium aslinya, yaitu kulit manusia.
6 Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
halaman 5
Semakin banyak individu secara personal membebaskan diri atas kontrol cara pikir dan ekspresi diri, dalam hal ini tubuh secara visual yang berhubungan dengan body modification, walaupun sering hak asasi mendasar ini sering dibungkam atau ditekan oleh nilai‐nilai ataupun tatanan yang diciptakan oleh kepentingan politik ataupun agama, semakin besar kemungkinan positif bagi tradisi tato Dayak kembali dibangkitkan dan dilestarikan.7
Beberapa contoh tokoh lintas budaya dari berbagai bidang keilmuan yang tertarik terhadap seni tato Dayak dan memberikan kontribusi yang besar, misalnya:
Charles Hose, seorang etnolog, zoologist (ahli ilmu hewan) sekaligus pegawai pemerintah kolonial Inggris yang bersama dengan‐dan dibantu oleh William MacDougall, seorang psikolog Inggris yang pada tahun 1912 menerbitkan catatan dan dokumen tertulis dan gambar tentang kehidupan tradisional, adat istiadat dan design, motif, pola tato suku‐suku Dayak, dan membukukannya dengan judul “The Pagan Tribes of Borneo”. Sebelumnya, Charles Hose bersama dengan‐dan dibantu oleh Robert Shelford, seorang entomologist (ahli ilmu serangga) dan pegawai museum kebangsaan Inggris, mengumpulkan dan menggambar design, motif, pola tato Dayak Kayan dan Dayak Kenyah dalam catatannya yang berjudul “ Materials for a Study of Tatu in Borneo” pada tahun 1906.
Leo Zulueta, dikenal sedunia sebagai bapak Neo tribal Tattoo sejak masa lahir dan berkembangnya aliran Neo Tribal di era 80an. Karya‐karya tatonya di masa itu yang berbasis pada design‐design tato tradisional Polinesia, Micronesia dan Borneo ! menjadi inspirasi sedunia menjadi salah satu contoh sebuah pelestarian dan perkembangan tradisi seni tato tradisional berikut design‐designnya.
Leo Zulueta adalah salah satu dari banyak tattoo artist barat yang tertarik menggunakan motif‐motif tato Dayak sekaligus juga mengolahnya hingga kemudian tercipta sebuah aliran baru dalam dunia tato yang kita kenal sebagai Neo‐Tribal. Semakin terkenal semenjak muncul dalam buku “Modern Primitives”, bahkan dia tidak
mengangap dirinya sebagai orang yang patut dijadikan sebagai inspirasi dunia dalam perkembangan tato tribal. Karya‐karyanya mengacu pada penelitian design tato tradisional sebagai pelestarian tradisi dan estetika. Dia pernah mengungkapkan, “semua orang tua yang memiliki tato motif‐motif sukunya telah meninggal… Orang terakhir
yang memiliki tattoo pada punggungnya sama seperti yang ada pada punggung saya, yang berumur lebih dari Sembilan puluh tahun, telah meninggal beberapa tahun lalu.
Oleh karenanya dapat jelas diterangkan mengapa saya benar‐benar merasa bersemangat untuk melestarikan design‐design tato tua tersebut”.8
Leo Zulueta yang keturunan Filipina, sempat dibesarkan di Hawaii dan berkewarganegaraan Amerika Serikat, adalah sebuah contoh yang dapat menunjukkan bahwa adalah cukup kompleks dan fariatif untuk menerangkan bagaimana seorang tattoo artist termotivasi dalam proses panjang penciptaan karya tato tribal‐nya. Kecenderungan yang seringkali terlihat adalah dikarenakan biografi pribadi lintas budayanya daripada dikarenakan pengalaman hidup mono‐dimensional.9
7 Rufus C. Camphausen, Return Of The Tribal – A Celebration Of Body Adornment. 1997 – Park Street Press. Vermont, USA.
8 V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
9 Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
halaman 6
Henk “Hanky Panky” Schiffmacher, seorang tattoo artist legendaris asal Belanda dan pemilik museum tato di Amsterdam yang dulu selalu berpetualang ke semua tempat yang memiliki tradisi tato suku‐suku asli, termasuk diantaranya pada tahun 1985 ke Indonesia yaitu ke Borneo & Mentawai. Di eranya pada awal 80an, ia cukup banyak
membuat tato motif Borneo dan kadang dipadukannya dengan motif Viking, Samoa ataupun Maori. Anthony Kiedis, seorang penyanyi sebuah band Amerika bernama Red Hot Chilli Peppers pernah diajak bersamanya mengunjungi Borneo pada tahun 1985.
Chris Wroblewski, seorang fotografer dan penulis buku tato terkemuka asal Inggris telah mengunjungi Borneo dan mengabadikan riset fotografi tentang suku Dayak Iban dan tatonya pada tahun 1983, tapi baru pada tahun 2004 mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan bukunya yang berjudul Skin Shows – The Tattoo Bible yang
mempublikasikan hasil jepretan fotonya tentang Dayak Iban dan tatonya dalam 1 bab tersendiri.
Tom Lockhart, seorang tattoo artist Canada dan Vince Hemingson, seorang penulis dan ahli sejarah tato melakukan ekspedisi ke Borneo pada tahun 1987 dengan dibantu oleh Edi “Borneo Ink”dan mengabadikan perjalanan mereka dalam film dokumenter mereka berjudul “The Vanishing Tattoo” yang baru dipublikasikan tahun 2003.
Lars Krutak, seorang antropolog tato terkenal kebangsaan Amerika Serikat yangbmasih selalu melakukan ekspedisi budaya tato dan body modification lainnya di di banyak suku‐suku di bebagai penjuru dunia. Karya‐karya penelitian dan ekspedisinya bisa kita nikmati hingga kini di salah satu bukunya yang juga mengupas tentang tato‐tato Dayak yang berjudul “Tattooing Arts of Tribal Women” yang dipublikasikan tahun 2007 dan beberapa video dokumenter yang disiarkan oleh saluran berbagai liputan dan video dokumenter di Discovery Channel ataupun National Geographic.
Jeroen Franken, seorang tattoo artist Belanda yang sampai kini tetap kadang membuat tato‐tato Dayak. Ia pernah berkunjung ke perkampungan Dayak Iban dan membuat sebuah buku reportase perjalanannya dengan judul “Pantang Iban”.
Tattoo‐tattoo artist lain yang turut menggali, membuat kembali, mengenalkannya pada publik dunia, melestarikan design/pola/motif tato Dayak pada medium aslinya yaitu kulit manusia, seperti Ernesto Kalum dari Borneo Headhunter, Jeremy Lo & Boy Skrang dari Monkey Tattoo, Herpianto Folk Hendra & Erzane Folk Aksentrik dari Folkspace Tattoo, dll.
Catatan bibliografi:
• V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
• Chris Wroblewski, Skin Shows – The Tattoo Bible. 2004 – Cameron House. Wingfield, Australia.
• Rufus C. Camphausen, Return Of The Tribal – A Celebration Of Body Adornment. 1997 – Park Street Press. Vermont, USA.
• Lora S. Irish, Modern Tribal Tattoo Designs. 2009 – Fox Chapel Publishing Company, Inc.
USA.
• Judith Levin, Tattoos And Indigenous Peoples. 2009 – Rosen Publishing. New York, USA.
• Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
• Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
• Henk Schiffmacher, Ronald Timmermans & Almar Seinen, Henk Schiffmacher. 2007 – d’jonge Hond Publishers. Harderwijk, The Netherlands.
halaman 7
• Chris Wroblewski, Tattoo – Pigments of Imagination. 1987 – Alfred van der Marck Editions. New York, USA.
• Chris Rainer, Ancient Marks – The Sacred Origins of Tattoo and Body Marking. 2004 – Earth Aware Editions. California, USA.
• Lawrence Blair & Lorne Blair, Ring of Fire ‐ An Indonesian Odyssey. 1991‐Thames & Hudson. London, UK.
• Pierre Pfeffer, Biwak auf Borneo. 1965‐Schwabenverlag. Stuttgart, Germany.
• Henk Schiffmacher the Original Hanky Panky, Encyclopedia for the Art and History of Tattooing. 2010 – Uitgeverij Carrera, an imprint of Dutch Media Uitgevers BV. Amsterdam, The Netherlands.
• Maarten Hesselt van Dinter, Tribal Tattoo from Indonesia. 2007‐Mundurucu Publishers. The Netherlands.
• Joergen Bisch, Ulu‐The World’s End. 1961‐George Allen & Unwin Ltd. London, UK.
• N. A. Douwes Dekker, Tanah Air Kita. 1951 – W. van Hoeve Gravenhage, Den Haag, The Netherlands
Catatan Foto Pada Slide Show:
Filip
Leu dari Leu Iron Family, generasi tattoo artist turun temurun ternama
dari Swiss yang memiliki tato Bunga Terong Dayak di kedua bahunya. Foto
dari buku Skin Shows – The Tattoo Bible. Halaman 32. Foto diambil tahun
1987.

Curly
Smith, tattoo artist Inggris yang sedang membuat tato Dayak di leher
dengan mesin tatonya pada even Amsterdam Tattoo Convention 1996. Foto
dari buku Skin Shows – The Tattoo Bible. Halaman 40‐41. Foto diambil
tahun 1996.
Alex
Binnie, seorang tattoo artist dari London yang sedang menato leher
Curly Smith yang juga seorang tattoo artist Inggris dengan design tato
custom yang sangat kental dipengaruhi oleh motif tato leher dari tradisi
tato Dayak. Foto dari buku Skin Shows – The Tattoo Bible. Halaman 48.
Foto diambil tahun 1994.
Adee,
seorang gadis punk dengan dua tattoo motif custom dayak. Ditato oleh
Lal Hardy dari New Wave Tattoo studio di London. Foto dari buku Skin
Shows – The Tattoo Bible. Halaman 66‐67. Foto diambil tahun 1988.
Seorang
gadis punk di Inggris dengan tattoo custom dayak yang dikombinasikan
dengan tengkorak di sisi kanan kepalanya. Ditato oleh Sam Clay dari
Tattoo Show studio di London. Foto dari buku Skin Shows – The Tattoo
Bible. Halaman 211. Foto diambil tahun 1990.
Chris
Wroblewski, seorang fotografer dan pembuat buku seni tato asal Inggris
yang telah meminati dan mendokumentasikan seni tato sejak 1976 saat
bersama suku Dayak Iban di Sarawakdi London. Foto dari buku Skin Shows –
The Tattoo Bible. Halaman 304. Foto diambil tahun 1983.

Beberapa
Foto buku design motif tato Dayak Iban yang dibuat oleh Leo Zulueta di
tahun 1980 di San Francisco, California, USA. Diterbitkan oleh Tattoo
Archive‐North Carolina, USA.
Salah
satu tato motif Aso (dog) Dayak yang dibuat oleh Leo Zulueta di era
80an. Foto dari buku Modern Primitives. Halaman 99. Foto diambil di era
80an.
Beberapa design tato motif Dayak Iban yang digambar oleh Leo Zulueta di era 80an. Foto dari buku Modern Primitives. Halaman 100
Foto‐foto
Dayak yang dipajang di Museum Tato milik Henk “Hanky Panky”
Schiffmacher di Amsterdam. Foto dari buku Modern Primitives. Halaman
137. Foto diambil di era 80an
Foto
proses penatoan gadis Dayak Kayan. Foto dari buku Modern Primitives.
Halaman 139. Foto hak milik VIDOC (Visuele Documentatie), Koninklijk
Institut voor de Troopen.
Kumpulan
ilustrasi dan design tato Dayak yang digambar oleh Henk “Hanky Panky”
Schiffmacher di era 80an, lalu diposterkan sebagai tattoo flash yang
biasa dipasang di banyak studio tato di negara‐negara barat. Foto dari
buku Modern Primitives. Halaman 147.


3
seri foto buku catatan harian perjalanan Anthony Kiedis, seorang
vokalis band Red Hot Chilli Peppers saat ia ikut pergi bersama Henk
“Hanky Panky” Schiffmacher mengunjungi Borneo pada tahun 1985. Foto
menunjukkan saat Hanky Panky sedang menato tubuh seorang lelaki muda
Dayak dengan mesin tato modern dan turut ditonton oleh Anthony Kiedis.
Foto‐foto dari buku Henk Schiffmacher – Samenstelling Ronald Timmermans
& Almar Seinen.
4
seri foto dari perjalanan Henk “Hanky Panky” Schiffmacher mengunjungi
Borneo pada tahun 1985. Foto‐foto dari buku Henk Schiffmacher –
Samenstelling Ronald Timmermans & Almar Seinen.
Foto
gambar‐gambar design motif tato Dayak Kenyah dan Dayak Kayan yang
dikumpulkan dan digambar oleh Charles Hose bersama dengan Robert
Shelford dalam catatannya yang berjudul “ Materials for a Study of Tatu
in Borneo” tahun 1906. Foto‐foto ini diambil dari buku Tattoo History – A
Source Book. Halaman 41, 42, 45.
Foto
koleksi bermacam‐macam Kelingai pada stempel kayu yang digambar
kembali. Koleksi ini banyak disimpan di National Museum of Ethnology di
Leiden, Belanda. Foto‐foto ini diambil dari buku Tattoo History – A
Source Book. Halaman 43. Lalu foto gambar‐gambar design motif tato Dayak
yang digambar kembali oleh Charles Hose bersama dengan Robert Shelford
dari catatannya yang berjudul “ Materials for a Study of Tatu in Borneo”
tahun 1906. Foto‐foto ini diambil dari buku Tattoo History – A Source
Book. Halaman 44.
Foto
majalah jurnal “Tattootime” edisi 1 tahun 1982 yang dieditori dan
publikasikan oleh Don Ed Hardy, yang mulai memperkenalkan design‐design
motif tato Dayak pada dunia tato modern. Foto ini diambil dari buku
Tattoo History – A Source Book. Halaman 200.
Motif
custom Udo Aso yang dibuat oleh Cliff Raven pada tahun pembuatan 1981.
Foto ini diambil dari buku Tattoo – Pigments of Imagination. Foto
diambil tahun 1981.
Motif
tato custom Dayak pada punggung seorang wanita di Burning Man Festival,
sebuah festival seni & performance di gurun Nevada, USA. Foto ini
diambil dari buku Ancient Marks – The Sacred Origins of Tattoo and Body
Marking.
Catatan foto-foto suku-suku Dayak pada slide show:
Beberapa sample foto Dayak diambil dari buku:
• Lawrence Blair & Lorne Blair, Ring of Fire ‐ An Indonesian Odyssey. 1991‐Thames &
Hudson. London, UK.
• Pierre Pfeffer, Biwak auf Borneo. 1965‐Schwabenverlag. Stuttgart, Germany.
• Henk Schiffmacher the Original Hanky Panky, Encyclopedia for the Art and History of
Tattooing. 2010 – Uitgeverij Carrera, an imprint of Dutch Media Uitgevers BV.
Amsterdam, The Netherlands.
• Maarten Hesselt van Dinter, Tribal Tattoo from Indonesia. 2007‐Mundurucu Publishers.
The Netherlands.
• Joergen Bisch, Ulu‐The World’s End. 1961‐George Allen & Unwin Ltd. London, UK.
• N. A. Douwes Dekker, Tanah Air Kita. 1951 – W. van Hoeve Gravenhage, Den Haag, The
Netherlands.
• Foto koleksi Herpianto Folk Hendra.
















Makalah ini disampaikan oleh Aman Durga Sipatiti (Durga Tatto) selaku pembicara diskusi tato dengan tema: "Dinamika Tattoo Etnik Dayak dan Kontribusinya Bagi Warisan Budaya Dunia" pada event Pesta Seni & Budaya Dayak Se-Kalimantan IX di Yogyakarta (Festival of Art & Culture of Dayak Borneo) - Jumat, 21 October 2011 di Taman Budaya, Yogyakarta-Indonesia
DINAMIKA TATTOO ETNIK DAYAK DAN KONTRIBUSI‐NYA BAGI WARISAN BUDAYA DUNIA
Oleh Durga (Durga Tattoo) – Yogyakarta, 21 Oktober 2011
halaman 1
Istilah nama Dayak adalah diciptakan sebagai sebutan untuk menggabungkan ratusan suku‐suku dan bermacam sub suku yang mendiami Borneo. Suku‐suku dan sub suku Dayak yang memiliki tradisi tato, menggunakannya untuk mendefinisikan identitas mereka sekaligus juga dipakai sebagai pengikat sebuah hubungan spiritual dengan adat.
Meskipun terjadi perubahan yang sangat besar seiring berjalannya waktu dalam tatanan kehidupan modern di kehidupan urban dan pengaruhnya yang besar pada tatanan kehidupan suku Dayak, masih ada rasa dan kebutuhan mendalam untuk menjadi bagian dari budaya dan adat istiadat Dayak.
Ketika seorang laki‐laki dan perempuan Dayak telah mencapai masa akil balik, ritus perjalanan hidup sering diabadikan atau ditandai melalui tato pada bagian tubuh tertentu. Pencapaian peringkat tertentu, profesi tertentu atau status social mereka, prestasi atau pengalaman hidup tertentu, penguasaan skill tertentu sering diperingati melalui tato.1 Fungsi sebagai jimat untuk memberikan perlindungan dari penyakit, bala, sihir, ancaman musuh ataupun kemalangan juga dapat ditandai melalui tato. Para pria yang bertato untuk menunjukkan keberanian, kepahlawanan, perjalanan atau perantauan, bahkan juga sebagai tropi dan catatan pribadi seberapa banyak nyawa atau kepala yang telah mereka ambil dalam pengayauan atau peperangan.
Elemen‐elemen atau symbol‐simbol yang berasal dari alam dan lingkungan hidup serta bentuk‐bentuk visual yang diambil atau berakar pada agama dan kepercayaan sukusuku Dayak selalu menjadi sumber dari bentuk‐bentuk design dan motif ataupun pola tato‐tato Dayak.
Teknik pembuatan tato Dayak yang secara Internasional disebut dengan teknik tato hand‐taping, tekanan jarum tato dengan cara diketuk merupakan teknik asli dan populer selain teknik yang sama ini juga dipergunakan oleh suku‐suku lain di Nusantara ataupun di wilayah Asia Tenggara dan laut Pasifik.
Untuk tradisi tato tradisional dayak, digunakan alat‐alat yang dikenal dengan istilah: Ulang/Lutedak, Tukul Tedak, Klinge dan Bungan Tedak. Ulang/Lutedak adalah tongkat tato yang sering terbuat dari kayu Ulin divariasikan dengan material dari tanduk rusa atau tanduk kerbau dimana jarumnya yang dulu dipakai dari duri pohon jeruk, dipasang pada bagian ujung. Tukul Tedak adalah tongkat dari kayu Ulin yang digunakan sebagai pemukul Ulang/Lutedak. Design atau motif atau pola tato diukir pada sebilah kayu Belian sebagai stempel yang dikenal dengan istilah Klinge, ditempelkan pada bagian tubuh yang akan ditato, kemudian dilaksanakan proses tato dengan teknik handtapping ini. Tinta tato Dayak dulunya dibuat dari bahan‐bahan natural yaitu jelaga arang Damar sebagai pigmen warna hitam dan dicampur dengan air tebu yang kemudian ditempatkan pada sebuah cawan atau mangkuk kecil yang biasanya dulu terbuat dari kayu Ulin atau kayu Belian yang disebut dengan Bungan Tedak.
Suku‐suku Dayak percaya bahwa dengan pigment terhitam yang mereka rajah di tubuh mereka dan semakin banyak tato di tubuh mereka, akan bersinar terang membimbing
1 Lora S. Irish, Modern Tribal Tattoo Designs. 2009 – Fox Chapel Publishing Company, Inc. USA.
halaman 2
mereka dengan aman menuju rumah leluhur mereka di alam surga yang dikenal dengan Apo Kesio.
Namun ada banyak misteri dan pertanyaan yang masih belum bisa terkuak oleh banyak pihak seperti para antropolog, etnolog atau peneliti lain ataupun oleh para peminat dan pengamat seni tato Dayak, dikarenakan tradisi tato dari banyak suku‐suku dan sub‐suku Dayak hampir punah dan kurangnya catatan sejarah atau dokumen tertulis dan yang tergambar.
Sebelum memasuki era pertengahan abad 19, Borneo hampir belum dikenal sampai ke dunia barat hingga setelah diterbitkannya buku yang menjadi salah satu catatan atau dokumen tertulis pertama yang pernah ada tentang suku‐suku Dayak menjelang akhir abad ke 19. Hingga pada akhirnya, “The Pagan Tribes of Borneo” karangan Charles Hose dan William MacDougall yang merupakan dokumen tertulis klasik mengenai kehidupan tradisional dan adat istiadat suku‐suku Dayak yang diterbitkan pada tahun 1912, setelah sebelumnya pada tahun 1906, Charles Hose dan Robert Walter Campbell Shellford3 yang melakukan kunjungan dan risetnya di Borneo dan mengumpulkan banyak informasi termasuk kumpulan design, motif atau pola‐pola tato Dayak yang mereka gambar kembali dalam catatannya yang diberi judul “Materials for Study of Tatu in Borneo”.
Namun sebelum ketiga peneliti berkebangsaan Inggris tersebut melakukan risetnya di Borneo, Dr. Anton Willem Nieuwenhuis berkebangsaan Belanda telah 3 kali melakukan ekspedisi extensivnya ke Borneo sejak tahun 1893 hingga 1900. Dialah orang barat pertama yang berhasil menembus dan menjelajah Borneo dari sisi barat hingga sisi timur, dan dari penjelajahannya di Borneo ia membuat 2 buah buku yang tidak dipublikasikan secara besar‐besaran yang berjudul “In Centraal Borneo ‐ Reis van Pontianak naar Samarinda” pada tahun 1900 dan “Quer Durch Borneo”, catatan tentang perjalanannya di tahun 1894, 1896‐1897 dan 1898‐1900.
Buku‐buku diatas, catatan‐catatan tertulis dan bergambar diatas hingga kini selalu masih dipergunakan sebagai bahan referensi dan masuk list bibliografi buku‐buku tato yang membahas mengenai tato suku‐suku Dayak.
Masa suram dan sisi pahit yang terjadi pada budaya dan tradisi tato suku‐suku Dayak yang dimulai sejak era imperialisme di masa lampau, misionaris, masuknya agama-agama dari kebudayaan asing, pemerintahan era kolonial hingga pemerintahan paska kemerdekaan Indonesia telah menghancurkan, melarang dan menghilangkan tradisi
tato Dayak.
Salah satu komentar yang memperkuat cerita mengenai masa pahitnya budaya dan tradisi tato suku‐suku Dayak misalnya dari seorang tattoo artist lawas legendaris Belanda bernama Henk “Hanky Panky” Schiffmacher tercatat dan dipublikasikan dalam sebuah buku tato dan bentuk‐bentuk body modification dalam perkembangan dan kehidupan kontemporer dan ritualnya yaitu berjudul “Modern Primitives”; “When the Dutch left Indonesia in the fifties, the new government said, “All right, no more of that spirit religion here. We want you to become either Muslims or Christians‐no other religion anymore. We’re going t become a modern society.” And how do you become a
2 Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
3 Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
halaman 3
modern society‐wearing western clothes even though it’s hot as hell, and building skycrapers?4
Ketika jaman semakin berubah dan tatanan kehidupan moderen yang dibakukan di semua lapisan masyarakat dibentuk secara sistematis. Ketika orang suku‐suku Dayak dari generasi yang berbeda mulai terpengaruh mind‐set yang sengaja tercipta, bahwa tato Dayak ataupun telinga panjang dan pakaian adat adalah keterbelakangan. Ketika
sudah terlalu massive masuknya banyak budaya lain dan populasi lain akibat kemajuan teknologi dan explorasi bahkan exploitasi hasil alam di Borneo.
Ketika tato Tribal mulai menjadi trend di awal 80an, kekaguman publik terhadap bentuk‐bentuk visual atau pola‐pola hitam yang tebal membuatnya memiliki pesona tersendiri dan berbeda dengan gaya atau aliran tato lainnya seperti traditional American tattoo dengan design jangkar atau jantungnya, ataupun aliran realistic tattoo
baik itu yang black and grey ataupun colorful, yang pada saat itu sangat populer di Amerika dan Eropa.5
Tato Tribal yang merupakan sebuah istilah mendunia hingga hari ini bisa dikatakan tetap terus mengalami masa kebangkitan dan menjadi bagian dari sebuah trend dalam dunia Tato, sejalan publik dunia di tatanan kehidupan modern memberikan perhatian cukup besar dan ingin menjadi bagian dari budaya dan tradisi tato Dayak yang
mengalami dinamika pasang surutnya serta menjadi salah satu tradisi tato etnik yang sangat terkenal seantero dunia.
Borneo telah menarik sejumlah antropolog, etnolog dan peneliti asing lainnya untuk mengunjungi Borneo dan melakukan riset dan pencatatan kebudayaan dan adat istiadat suku‐suku Dayak sejak abad ke 19, banyak tattoo artist dunia dari berbagai negara yang tertarik dan berperan dalam memperkenalkan design, motif atau pola tato‐tato Dayak melalui karya‐karya tato mereka pada tubuh publik di luar negeri sana menurut catatan dan dokumen yang ada telah dimulai sejak awal era 80an.
Dirangsang oleh berbagai apresiasi baru, permintaan atas minat dan pengetahuan akan seni dan budaya, orang‐orang dari segenap wilayah Pasifik, Asia hingga Afrika, Eropa dan Amerika mencoba memulihkan dan menghidupkan kembali seni tradisional mereka yang hampir hilang, termotivasi dan dibantu oleh banyak pihak yang tertarik pada praktek dan warisan budaya, khususnya tradisi tato tradisional. Kebangkitan tato Dayak sebagai salah satu budaya tato tertua dan asset penting bagi warisan tradisi tato dan budaya dunia sekali lagi telah banyak memberikan manusia modern dari berbagai pelosok di bumi ini identitas individualnya masing‐masing. Sama seperti pada masa lalu suku‐suku Dayak dan leluhur suku‐suku Dayak, manusia modern menggunakan design atau motif atau pola tato Dayak untuk mendefinisikan pencapaian sebuah masa atau prestasi atau pengalaman hidup tertentu, apresiasi masing‐masing individu dan ide‐ide spiritual, untuk menyatukan manusia modern dengan alam yang telah amat jauh berbeda secara general seiring perkembangan lingkungan sekitar yang telah berubah drastis akibat kemajuan teknologi dan kehidupan global serta secara bersamaan merupakan sebuah konsep identitas dan individualitas personal tertentu yang membedakannya dengan personal lain atau komunitas lain.
Bila kita cermati terkadang bisa ditemukan penggunaan design atau motif atau pola tato Dayak yang diaplikasikan kurang tepat. Apakah itu misalnya design yang seharusnya untuk laki‐laki tapi dibuat pada tubuh wanita atau sebaliknya, ataupun beberapa
4 V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
5 Judith Levin. Tattoos And Indigenous Peoples. 2009 – Rosen Publishing. New York, USA.
halaman 4
kesalahan penggunaan ataupun pembuatan yang dibuat di wilayah negeri ini atau di luar negeri. Kenyataan bahwa ketertarikan akan tato Dayak telah mewabah pada manusia modern termasuk banyak tattoo artist di Negara‐negara maju sejak tahun 80an menunjukkan terjadi cross‐culture dengan muatan arti penting atau makna budayanya
yang sedikit atau banyak, merupakan salah satu transformasi dan penyebaran informasi tentang budaya seni tato Dayak. Proses cross‐culture terhadap seni tato Dayak ini memiliki potensi yang bila dicermati secara seksama akan dapat diketahui seberapa besar tertarik tidaknya manusia modern akan design, motif atau pola tato tertentu, yang
setidaknya kemudian besar design atau motif atau pola tato tersebut akan mereka adopsi ataupun mereka sesuaikan, bukan diabaikan, terlupakan dan tersia‐sia.6
Kenyataan bahwa tradisi tato Dayak telah lama ditinggalkan akibat banyak alasan dan penyebab seperti yang telah dijabarkan diatas dan kurangnya ketertarikan terhadap tato tradisionalnya dari anggota suku‐suku dan sub suku atau orang asli Dayak maupun juga pada orang‐orang dari suku‐suku lain yang memili tradisi tato di muka bumi ini
diperkuat juga oleh pendapat atas pengalaman pribadi Henk “Hanky Panky” Schiffmacher dan Leo Zulueta. Hanky Panky: “I have my tools (tattoo equipments) with me, and what they want you to make is like our stuff; they don’t want traditional designs. I’ll make modern designs for them; you can’t blame them.”
Leo Zulueta: “A funny thing happened when I went to Mike Malone’s studio (almarhum Mike Malone adalah salah satu tattoo artist terbesar dalam sejarah perkembangan American traditional tattoo scene) in Hawaii, right after I’d gotten my large Micronesian (gugusan kepulauan di Pasifik) back piece tattoo (which done by Don Ed Hardy). Three older tattooed Micronesians came into the shop and I talked to them for awhile, and then told them, “Hey, I’ve got a really neat Micronesian‐style tattoo on my back” and whipped off my shirt. Two of them were yawning and turning the other way before I even had my shirt back on‐they were far more interested in the colored American eagles and naked lady designs on the walls!”
Jika dicermati apa yang semua telah diulas diatas, banyak pihak dari luar negeri sudah sejak akhir abad 19 telah tertarik pada budaya tato Dayak dan fakta‐fakta tersebut sudah membuktikan bahwa betapa pentingnya arti dan positioning tato Dayak memberikan kontribusi yang teramat besar bagi warisan Budaya Dunia.
Terlepas dari sisi negatif selain bukan hanya sisi positif dari masuknya banyak peneliti dan ekspedisi budaya ke suku‐suku Dayak di Borneo, ada baiknya kita selalu melihatnya dari sudut pandang positif.
Bagi kita yang di tanah air, kontribusi positif yang nyata dari berbagai pihak secara kelompok atau personal dari berbagai bidang ilmu untuk prose’s pembelajaran kembali dan perkembangan tato Dayak tidak hanya diharapkan dating dari para peneliti antropologi, etnologi dan sejarah, para tattoo artist dan publik yang ditatonya, melainkan juga dari mereka dari bidang fotografi atau video, media cetak, bidang ilmu kerajinan, misalnya untuk membuat kembali “Klinge” (stempel pahatan design/motif/pola tato pada kayu) atau perlengkapan‐perlengkapan tato Dayak lainnya.
Kontribusi yang bisa diberikan oleh bidang ilmu seni tato oleh seorang tattoo artist misalnya mengumpulkan dan menggambar ulang kembali design, motif atau pola tato-tato Dayak, mengaplikasikan design/motif/pola tersebut dan melestarikannya pada medium aslinya, yaitu kulit manusia.
6 Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
halaman 5
Semakin banyak individu secara personal membebaskan diri atas kontrol cara pikir dan ekspresi diri, dalam hal ini tubuh secara visual yang berhubungan dengan body modification, walaupun sering hak asasi mendasar ini sering dibungkam atau ditekan oleh nilai‐nilai ataupun tatanan yang diciptakan oleh kepentingan politik ataupun agama, semakin besar kemungkinan positif bagi tradisi tato Dayak kembali dibangkitkan dan dilestarikan.7
Beberapa contoh tokoh lintas budaya dari berbagai bidang keilmuan yang tertarik terhadap seni tato Dayak dan memberikan kontribusi yang besar, misalnya:
Charles Hose, seorang etnolog, zoologist (ahli ilmu hewan) sekaligus pegawai pemerintah kolonial Inggris yang bersama dengan‐dan dibantu oleh William MacDougall, seorang psikolog Inggris yang pada tahun 1912 menerbitkan catatan dan dokumen tertulis dan gambar tentang kehidupan tradisional, adat istiadat dan design, motif, pola tato suku‐suku Dayak, dan membukukannya dengan judul “The Pagan Tribes of Borneo”. Sebelumnya, Charles Hose bersama dengan‐dan dibantu oleh Robert Shelford, seorang entomologist (ahli ilmu serangga) dan pegawai museum kebangsaan Inggris, mengumpulkan dan menggambar design, motif, pola tato Dayak Kayan dan Dayak Kenyah dalam catatannya yang berjudul “ Materials for a Study of Tatu in Borneo” pada tahun 1906.
Leo Zulueta, dikenal sedunia sebagai bapak Neo tribal Tattoo sejak masa lahir dan berkembangnya aliran Neo Tribal di era 80an. Karya‐karya tatonya di masa itu yang berbasis pada design‐design tato tradisional Polinesia, Micronesia dan Borneo ! menjadi inspirasi sedunia menjadi salah satu contoh sebuah pelestarian dan perkembangan tradisi seni tato tradisional berikut design‐designnya.
Leo Zulueta adalah salah satu dari banyak tattoo artist barat yang tertarik menggunakan motif‐motif tato Dayak sekaligus juga mengolahnya hingga kemudian tercipta sebuah aliran baru dalam dunia tato yang kita kenal sebagai Neo‐Tribal. Semakin terkenal semenjak muncul dalam buku “Modern Primitives”, bahkan dia tidak
mengangap dirinya sebagai orang yang patut dijadikan sebagai inspirasi dunia dalam perkembangan tato tribal. Karya‐karyanya mengacu pada penelitian design tato tradisional sebagai pelestarian tradisi dan estetika. Dia pernah mengungkapkan, “semua orang tua yang memiliki tato motif‐motif sukunya telah meninggal… Orang terakhir
yang memiliki tattoo pada punggungnya sama seperti yang ada pada punggung saya, yang berumur lebih dari Sembilan puluh tahun, telah meninggal beberapa tahun lalu.
Oleh karenanya dapat jelas diterangkan mengapa saya benar‐benar merasa bersemangat untuk melestarikan design‐design tato tua tersebut”.8
Leo Zulueta yang keturunan Filipina, sempat dibesarkan di Hawaii dan berkewarganegaraan Amerika Serikat, adalah sebuah contoh yang dapat menunjukkan bahwa adalah cukup kompleks dan fariatif untuk menerangkan bagaimana seorang tattoo artist termotivasi dalam proses panjang penciptaan karya tato tribal‐nya. Kecenderungan yang seringkali terlihat adalah dikarenakan biografi pribadi lintas budayanya daripada dikarenakan pengalaman hidup mono‐dimensional.9
7 Rufus C. Camphausen, Return Of The Tribal – A Celebration Of Body Adornment. 1997 – Park Street Press. Vermont, USA.
8 V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
9 Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
halaman 6
Henk “Hanky Panky” Schiffmacher, seorang tattoo artist legendaris asal Belanda dan pemilik museum tato di Amsterdam yang dulu selalu berpetualang ke semua tempat yang memiliki tradisi tato suku‐suku asli, termasuk diantaranya pada tahun 1985 ke Indonesia yaitu ke Borneo & Mentawai. Di eranya pada awal 80an, ia cukup banyak
membuat tato motif Borneo dan kadang dipadukannya dengan motif Viking, Samoa ataupun Maori. Anthony Kiedis, seorang penyanyi sebuah band Amerika bernama Red Hot Chilli Peppers pernah diajak bersamanya mengunjungi Borneo pada tahun 1985.
Chris Wroblewski, seorang fotografer dan penulis buku tato terkemuka asal Inggris telah mengunjungi Borneo dan mengabadikan riset fotografi tentang suku Dayak Iban dan tatonya pada tahun 1983, tapi baru pada tahun 2004 mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan bukunya yang berjudul Skin Shows – The Tattoo Bible yang
mempublikasikan hasil jepretan fotonya tentang Dayak Iban dan tatonya dalam 1 bab tersendiri.
Tom Lockhart, seorang tattoo artist Canada dan Vince Hemingson, seorang penulis dan ahli sejarah tato melakukan ekspedisi ke Borneo pada tahun 1987 dengan dibantu oleh Edi “Borneo Ink”dan mengabadikan perjalanan mereka dalam film dokumenter mereka berjudul “The Vanishing Tattoo” yang baru dipublikasikan tahun 2003.
Lars Krutak, seorang antropolog tato terkenal kebangsaan Amerika Serikat yangbmasih selalu melakukan ekspedisi budaya tato dan body modification lainnya di di banyak suku‐suku di bebagai penjuru dunia. Karya‐karya penelitian dan ekspedisinya bisa kita nikmati hingga kini di salah satu bukunya yang juga mengupas tentang tato‐tato Dayak yang berjudul “Tattooing Arts of Tribal Women” yang dipublikasikan tahun 2007 dan beberapa video dokumenter yang disiarkan oleh saluran berbagai liputan dan video dokumenter di Discovery Channel ataupun National Geographic.
Jeroen Franken, seorang tattoo artist Belanda yang sampai kini tetap kadang membuat tato‐tato Dayak. Ia pernah berkunjung ke perkampungan Dayak Iban dan membuat sebuah buku reportase perjalanannya dengan judul “Pantang Iban”.
Tattoo‐tattoo artist lain yang turut menggali, membuat kembali, mengenalkannya pada publik dunia, melestarikan design/pola/motif tato Dayak pada medium aslinya yaitu kulit manusia, seperti Ernesto Kalum dari Borneo Headhunter, Jeremy Lo & Boy Skrang dari Monkey Tattoo, Herpianto Folk Hendra & Erzane Folk Aksentrik dari Folkspace Tattoo, dll.
Catatan bibliografi:
• V. Vale and Andrea Juno, Modern Primitives – An Investigation of Contemporary Adornment & Ritual. 1989 – RE/Search Publications. San Francisco, California, USA.
• Chris Wroblewski, Skin Shows – The Tattoo Bible. 2004 – Cameron House. Wingfield, Australia.
• Rufus C. Camphausen, Return Of The Tribal – A Celebration Of Body Adornment. 1997 – Park Street Press. Vermont, USA.
• Lora S. Irish, Modern Tribal Tattoo Designs. 2009 – Fox Chapel Publishing Company, Inc.
USA.
• Judith Levin, Tattoos And Indigenous Peoples. 2009 – Rosen Publishing. New York, USA.
• Nicholas Thomas, Anna Cole and Bronwen Douglas, Tattoo – Bodies, Art, And Exchange In The Pacific And The West. 2005 – Reaktion Books Ltd. Durham, UK.
• Steve Gilbert, Tattoo History – A Source Book. 2000 – Juno Books, LLC. USA.
• Henk Schiffmacher, Ronald Timmermans & Almar Seinen, Henk Schiffmacher. 2007 – d’jonge Hond Publishers. Harderwijk, The Netherlands.
halaman 7
• Chris Wroblewski, Tattoo – Pigments of Imagination. 1987 – Alfred van der Marck Editions. New York, USA.
• Chris Rainer, Ancient Marks – The Sacred Origins of Tattoo and Body Marking. 2004 – Earth Aware Editions. California, USA.
• Lawrence Blair & Lorne Blair, Ring of Fire ‐ An Indonesian Odyssey. 1991‐Thames & Hudson. London, UK.
• Pierre Pfeffer, Biwak auf Borneo. 1965‐Schwabenverlag. Stuttgart, Germany.
• Henk Schiffmacher the Original Hanky Panky, Encyclopedia for the Art and History of Tattooing. 2010 – Uitgeverij Carrera, an imprint of Dutch Media Uitgevers BV. Amsterdam, The Netherlands.
• Maarten Hesselt van Dinter, Tribal Tattoo from Indonesia. 2007‐Mundurucu Publishers. The Netherlands.
• Joergen Bisch, Ulu‐The World’s End. 1961‐George Allen & Unwin Ltd. London, UK.
• N. A. Douwes Dekker, Tanah Air Kita. 1951 – W. van Hoeve Gravenhage, Den Haag, The Netherlands
Catatan Foto Pada Slide Show:
Catatan foto-foto suku-suku Dayak pada slide show:
Beberapa sample foto Dayak diambil dari buku:
• Lawrence Blair & Lorne Blair, Ring of Fire ‐ An Indonesian Odyssey. 1991‐Thames &
Hudson. London, UK.
• Pierre Pfeffer, Biwak auf Borneo. 1965‐Schwabenverlag. Stuttgart, Germany.
• Henk Schiffmacher the Original Hanky Panky, Encyclopedia for the Art and History of
Tattooing. 2010 – Uitgeverij Carrera, an imprint of Dutch Media Uitgevers BV.
Amsterdam, The Netherlands.
• Maarten Hesselt van Dinter, Tribal Tattoo from Indonesia. 2007‐Mundurucu Publishers.
The Netherlands.
• Joergen Bisch, Ulu‐The World’s End. 1961‐George Allen & Unwin Ltd. London, UK.
• N. A. Douwes Dekker, Tanah Air Kita. 1951 – W. van Hoeve Gravenhage, Den Haag, The
Netherlands.
• Foto koleksi Herpianto Folk Hendra.
Tuesday, November 08, 2011
Thursday, November 3, 2011
Bupati Kapuas Hulu Launching Dusun Wisata Sadap
Kapuas Hulu-EMBALOH HULU, (kalimantan-news) - Dusun Sadap, Desa Manua Sadap Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, resmi menjadi Dusun Wisata,yang dilaunching langsung oleh Bupati Kapuas Hulu A.M Nasir, SH sekitar pukul 10.30 wib, Minggu (30/10/2011) tepatnya diu rumah Betang Dusun Sadap. Kedatangan Bupati Kapuas Hulu beserta rombongan disambut meriah oleh masyarakat setempat dan ditandai dengan pemotongan umpang serta diiringi tarian suku dayak Iban Desa Sadap.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Agus Haranta mewakili Direktur Kawasan Konservasi pada Kementerian Kehutanan, Prabianto Wibowo, Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan wilayah regional Kalimantan, Kepala Balai Besar TNBK Joko Prihatno, Panglima Perang Suku Dayak Iban Jimbau Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu Drs. Alexander Rombonang, MM.A, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kapuas Hulu Drs. H.Mukhlis, Msi, Danyon 644/Walet Sakti Putussibau,Let.Kol.Inf. Anggit Exton Yustiawan, Kepala WWF Indonesia Kabupaten Kapuas Hulu, Camat Embaloh Hulu Hermanus, S.Sos, dan sejumlah Pejabat teras lainnya yang ada dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu, serta ratusan masyarakat yang turut hadir untuk menyaksikan launching Dusun Wisata tersebut. Launching Dusun wisata Sadap itu sendiri ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Kapuas Hulu.
Mewakili masyarakat Jimbau, selaku Panglima Perang Suku Dayak Iban menuturkan bahwa dengan dijadikanya Dusun Sadap sebagai Dusun Wisata, merupakan penghargaan bagi masyarakatnya, dan kepercayaan yang telah di berikan ke Dusun Sadap akan tetap dijaga, dan menurut Jimbau dirinya dan sejumlah masyarakat serasa tidak percaya dengan kenyataan, bahwa Dusun mereka dijadikan Dusun Wisata.
Mewakili masyarakat Jimbau, selaku Panglima Perang Suku Dayak Iban menuturkan bahwa dengan dijadikanya Dusun Sadap sebagai Dusun Wisata, merupakan penghargaan bagi masyarakatnya, dan kepercayaan yang telah di berikan ke Dusun Sadap akan tetap dijaga, dan menurut Jimbau dirinya dan sejumlah masyarakat serasa tidak percaya dengan kenyataan, bahwa Dusun mereka dijadikan Dusun Wisata.
“Kami bagaikan bermimpi atas Dusun Wisata ini, Kami berharap dengan dijadikannya Dusun Kami sebagai Dusun Wisata, Kami berharap agar ada dampak langsung maupun tidak langsung yang dapat Kami rasakan, salah satunya kemajuan pembangunan dan kesejahtreraan masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu dijelaskan Joko Prihatno selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan bahwa tujuan dijadikannya Dusun Sadap ebagai Dusun Wisata guna untuk mempromosikan potensi alam yang dipadukan dengan potensi wisata, adat istiadat dan budaya yag ada di Kabupaten Kapuas. Tidak hanya itu yang melatar belakangi dipilihnya Dusun Sadap sebagi Dusun Wisata, karena memang memiliki criteria dengan memiliki berbagai potensi baik itu budaya adat istiadat hingga poteni wisata alamnya dan merupakan pintu masuk menuju kawasan TNBK.
“Kenapa harus Dusun Sadap ini yang Kita jadika Dusun Wisata, bukan Desa, sebab Dusun Sadap ini sudah memnuhi kriteria dengan potensi yang ada, untuk dapat kemas menjadi perpaduan, dan dinila dapat menarik perhatian para wisatawan, sehingga potensi yang ada tersebut dapat tergali dan terpromosikan keluar sana, selain itu pengelolaanya dilakukan oleh masyarakat langsung, dengan menjadikan setiap rumah warga sebagai home stay wisatawan,” terangnya.
Sedangkan Agus Harnanta yang mewakili Direktur Kawasan Konservasi mengharapkan agar potensi yang ada di setiap Desa dapat tergali seperti halnya seperti Dusun Sadap, banyak hal yang dapat menarik perhatian wisatawan, selain panorama keindahan objek wisata itu sendiri juga potensi yang ada pada masyarakat setempat, diantaranya, adat istiadat dan budaya, keramah tamahan masyarakat, serta mesti terus dijaga kebersihan lingkungan, tidak hanya itu cirri khas Dusun Sadap ini juga memiliki nilai jual untuk wisatawan, salah satu contohnya yaitu dengan dijadikannya rumah warga sebagai home stay, dengan demikian dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,ujarnya.
Sementara itu Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir, SH mengatakan bahwa hendaknya dalam rangka mempromosika wisata yang ada di Kapuas Hulu, khususnya di Dusun Sadap tersebut hendaknya tidak hanya sebatas launcing yang Kita lakukan, tetapi perlu kerja keras serta kesinergian yang lebih optimal lagi kedepannya, terutama dalam menyusun program-program yang dapat mengembangkan dan mengali secara maksimal potensi wisata yang ada.
“Saya berharap ini tidak sampai disini, setidaknya mesti ada upaya kedepan dalam mengembangakan objek wisata serta potensi-potensi yang ada, terutama dalam menyusun program yang matang, dalam mengelola pariwisata yang ada perlu ada aksi, exsen serta eksis dalam terus mengali potensi wisata, dengan tidak meninggalka cirri khas daerah setempat dan pada umumnya Kabupaten Kapuas Hulu, sehingga memiliki kesan tersendiri bagi pengunjung, apalagi jika mereka berbaur langsung dengan masyarakat, dengan adanya home stay dirumah warga,” ungkapnya.
Ditambahkan Nasir, dari segi perhatian Pemerintah tentunya, selain dari pihak Taman Nasional Pemerintah Daerah, diharapkan juga pemerintah pusat selalu memberikan dukungan, tidak hanya itu Dunia juga mesti ikuti memberikan kontribusi terhadap Kabuapten Kapuas Hulu, sebab masyarakat sejak zaman nenek moyang sudah menjaga hutan, yang saat ini dijadikan sebagai paru-paru dunia.
“Jangan sampai masyarakat dituntut terus menjaga hutan, sementara tidak ada kontribusi dunia, ini sama saja membuat masyarakat semakin tertinggal, namun Kami harapkan denga wisata yang ada ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta secara perlahan-lahan dapat menambah pendapatan daerah ini, “ pungkasnya. (phs)
Selain itu dijelaskan Joko Prihatno selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan bahwa tujuan dijadikannya Dusun Sadap ebagai Dusun Wisata guna untuk mempromosikan potensi alam yang dipadukan dengan potensi wisata, adat istiadat dan budaya yag ada di Kabupaten Kapuas. Tidak hanya itu yang melatar belakangi dipilihnya Dusun Sadap sebagi Dusun Wisata, karena memang memiliki criteria dengan memiliki berbagai potensi baik itu budaya adat istiadat hingga poteni wisata alamnya dan merupakan pintu masuk menuju kawasan TNBK.
“Kenapa harus Dusun Sadap ini yang Kita jadika Dusun Wisata, bukan Desa, sebab Dusun Sadap ini sudah memnuhi kriteria dengan potensi yang ada, untuk dapat kemas menjadi perpaduan, dan dinila dapat menarik perhatian para wisatawan, sehingga potensi yang ada tersebut dapat tergali dan terpromosikan keluar sana, selain itu pengelolaanya dilakukan oleh masyarakat langsung, dengan menjadikan setiap rumah warga sebagai home stay wisatawan,” terangnya.
Sedangkan Agus Harnanta yang mewakili Direktur Kawasan Konservasi mengharapkan agar potensi yang ada di setiap Desa dapat tergali seperti halnya seperti Dusun Sadap, banyak hal yang dapat menarik perhatian wisatawan, selain panorama keindahan objek wisata itu sendiri juga potensi yang ada pada masyarakat setempat, diantaranya, adat istiadat dan budaya, keramah tamahan masyarakat, serta mesti terus dijaga kebersihan lingkungan, tidak hanya itu cirri khas Dusun Sadap ini juga memiliki nilai jual untuk wisatawan, salah satu contohnya yaitu dengan dijadikannya rumah warga sebagai home stay, dengan demikian dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,ujarnya.
Sementara itu Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir, SH mengatakan bahwa hendaknya dalam rangka mempromosika wisata yang ada di Kapuas Hulu, khususnya di Dusun Sadap tersebut hendaknya tidak hanya sebatas launcing yang Kita lakukan, tetapi perlu kerja keras serta kesinergian yang lebih optimal lagi kedepannya, terutama dalam menyusun program-program yang dapat mengembangkan dan mengali secara maksimal potensi wisata yang ada.
“Saya berharap ini tidak sampai disini, setidaknya mesti ada upaya kedepan dalam mengembangakan objek wisata serta potensi-potensi yang ada, terutama dalam menyusun program yang matang, dalam mengelola pariwisata yang ada perlu ada aksi, exsen serta eksis dalam terus mengali potensi wisata, dengan tidak meninggalka cirri khas daerah setempat dan pada umumnya Kabupaten Kapuas Hulu, sehingga memiliki kesan tersendiri bagi pengunjung, apalagi jika mereka berbaur langsung dengan masyarakat, dengan adanya home stay dirumah warga,” ungkapnya.
Ditambahkan Nasir, dari segi perhatian Pemerintah tentunya, selain dari pihak Taman Nasional Pemerintah Daerah, diharapkan juga pemerintah pusat selalu memberikan dukungan, tidak hanya itu Dunia juga mesti ikuti memberikan kontribusi terhadap Kabuapten Kapuas Hulu, sebab masyarakat sejak zaman nenek moyang sudah menjaga hutan, yang saat ini dijadikan sebagai paru-paru dunia.
“Jangan sampai masyarakat dituntut terus menjaga hutan, sementara tidak ada kontribusi dunia, ini sama saja membuat masyarakat semakin tertinggal, namun Kami harapkan denga wisata yang ada ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta secara perlahan-lahan dapat menambah pendapatan daerah ini, “ pungkasnya. (phs)
Sumber : www.kalimantan-news.com
Thursday, November 03, 2011
Wednesday, November 2, 2011
Manik - Manik Khas Dayak Tembus Pasar Asia dan Eropa
Manik-manik khas Suku Dayak biasanya dibuat menjadi pakaian, penghias topi atau pun penghias kain. Namun kini sudah banyak hasil kerajinan manik-manik yang diolah menjadi tas, kalung, gelang, gantungan kunci dan aneka macam hiasan lainnya.
Salah satu yang begitu khas yakni, produk berupa tas, kerajinan ini banyak dijajakan di ruas Jalan Raya Andong, Ubud, Bali. Menurut penuturan salah satu pemilik toko suvenir khas Dayak, Made Suarti, tas manik-manik banyak diminati wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
"Tas jenis ini lumayan diminati, bahkan banyak juga pesanan untuk ekspor ke kawasan Asia dan Eropa," tuturnya.
Selain dikawasan tersebut, menurut Suarti, kini banyak juga pusat kerajinan yang menyediakan produk sejenis karena tas manik-manik khas Dayak diminati banyak pembeli. Tak heran, bila keberadaan tas manik-manik cukup dominasi di toko miliknya.
Dari penuturan pedagang, kerajinan tas dari manik-manik ini biasa digunakan masyarakat Dayak ketika menghadiri undangan atau upacara-upacara adat. ‘'Anjad manik (tas manik), biasa digunakan suku Dayak untuk menghadiri upacara dan dapat menggambarkan status sosial seseorang,” ujar Suarti.
Selain diproduksi sendiri, Suarti mengaku, mendatangkan beragam bahan baku dari sejumlah daerah di Pulau Jawa. Bahkan, harga tas akan makin mahal jika bahan baku yang digunakan didatangkan langsung dari daerah asal suku Dayak, yakni Kalimantan .
"Jika dulu manik-manik dibuat sendiri oleh suku Dayak dari bahan yang masih sangat sederhana. Kini jenis manik-manik sudah beragam dan dibuat dari bahan sintetis yang didatangkan dari Pulau Jawa," kata dia.
Harga tas manik-manik pun beragam, tergantung dari model dan ukuran. Harga dipatok mulai Rp 75.000 hingga lebih dari Rp 200.000. Kata Suarti, tas jenis ini cocok dibawa ke berbagai suasana, tergantung cara menyesuaikannya.
‘'Tas manik-manik bisa digunakan dalam segala suasana, mulai acara resmi seperti acara perkawinan, jalan-jalan di mal atau berekreasi,” pungkasnya.
Sementara itu jika kita melihat di Palangkaraya Kalimantan Tengah tepatnya di Jalan Batam banyak sekali di jual kerajinan khas Dayak dan Suvenir. Pelancong atau pengunjung yang singgah ke Palangka Raya pastinya akan menyempatkan datang ke pusat belanja ini.
Deretan toko menjual beragam produk khas Kalimantan, seperti tas atau dompet dari manik dengan warna khas seperti kuning, merah, hitam. Kaos dengan desain ukiran khas Dayak atau sarung tenun Kalimantan serta beragam kerajinan termasuk senjata khas seperti Mandau juga tersedia.
Melihat prospek diatas ini merupakan suatu peluang baik bagi perajin maupun pebisnis pemula terutama entrepreneur muda asal Dayak. Disamping menyediakan lapangan kerja bisnis ini juga bisa meninggkatkan produksi pengrajin dari daerah-daerah di Kalimantan sehingga secara tidak langsung membangtu pengerejin asal daerah mengembang taraf perekonomian mereka.
Mari kita ramai-ramai produksi dan promosikan kerajinan yang menjadi cirri khas kita orang Dayak. *BB
Sumber : BisnisBali, Suaramedia, Kompasiana.
Wednesday, November 02, 2011
Singkawang Tuan Rumah Lomba Sumpit Internasional
Lomba sumpit internasional siap digelar di Singkawang, Kalimantan Barat,
18-20 November mendatang. Kompetisi bertajuk International Borneo
Sumpit Tournament, diikuti delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam.
''Sudah ada 31 peserta dari komunitas sumpit di Kuching, Malaysia, yang menyatakan keikutsertaan mereka,'' kata Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Faried di Pontianak, kemarin.
Menurutnya, adanya animo calon peserta dari negara tetangga itu menandakan acara tersebut berhasil mempromosikan potensi wisata di daerah.
''Sumpit itu orisinal Kalimantan. Dan menyaksikan tradisi ini langsung di tempat aslinya tentu nuansanya akan berbeda,'' jelas Faried.
Kompetisi menyumpit ini mempertandingkan delapan kategori untuk kelas putra dan putri. Di antaranya, kelas 20 meter dan 30 meter dengan posisi berdiri dan jongkok.
International Borneo Sumpit Tournament merupakan kompetisi menyumpit tingkat internasional pertama yang digelar di Singkawang. Program tersebut menggantikan program konser musik di perbatasan Indonesia-Malaysia yang diselenggarakan setiap tahun. (AR/N-3)
sumber : MI
Wednesday, November 02, 2011
Tuesday, November 1, 2011
Berhempas Rotan, Seni Bela Diri dan Tarian Khas Dayak Tunjung dan Benuaq
![]() |
| Foto korankaltim : Dua orang pemuda asal Dayak Benuaq sedang memperagakan Tarian Berhempas Rotan (pada acara Erau di Kutai Juli 2011) |
Behempas rotan adalah olahraga yang menggabungkan antara seni dan ketangkasan beladiri. Dari sisi seni, sebelum pertarungan dimulai dua orang yang akan bertanding terlebih dahulu menari dengan diiringi tetabuhan gendang dan alat musik tradisional Dayak Benuaq.
Sesuai namanya, behempas rotan ini menggunakan rotan sebagai peralatan utama sebagai senjata untuk memukul yang dinamakan rotan manau, yakni rotan sebesar jari kelingking orang dewasa yang dipotong sepanjang kurang lebih satu meter. Tiap pemain juga dilengkapi tameng pelindung dari rotan, dinamakan Seloko.
Sedangkan pelindung tangan terbuat dari kulit kayu Jomoq disebut Sarong Tami. Pemain juga dilengkapi ikat kepala yang disebut Kesipu dan ikat pinggang kain. Para pemain juga tak boleh mamakai baju atau sejenisnya yang menutupi punggung. Pertandingan dibuat tiga ronde dengan waktu tiap ronde dua menit. Setelah dua menit pertarungan dihentikan untuk beristirahat selama satu menit. Pemain hanya boleh memukul punggung lawan sebagai sasaran, kecuali di pada tanding bebas pukulan pada bahu juga dihitung.
Untuk mengetahui pemenang dalam satu pertandingan, usai bertarung panitia akan melihat punggung pemain untuk menghitung bekas sabetan rotan dari lawan. Jadi yang paling banyak bekas rotan dipunggungnya, itu yang kalah. Dan Tak boleh saling dendam.
Olahraga tradisonal yang hanya dimainkan kaum pria ini biasanya hanya ditemukan pada upacara adat diantaranya Ngugu Tahun, Kwangkai, dan pesta adat seni dan budaya Erau. *BB
Diolah dari berbagai sumber (korankaltim, ktuaikartanegara)
Diolah dari berbagai sumber (korankaltim, ktuaikartanegara)
Tuesday, November 01, 2011
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)















