BREAKING

Friday, December 24, 2010

Punahnya Budaya Telinga Panjang Wanita Suku Dayak

Oleh : Teddy Rumengan

Seni tato dan telinga panjang menjadi ciri khas atau identitas yang sangat menonjol sebagai penduduk asli Kalimantan. Dengan ciri khas dan identitas itulah yang membuat suku Dayak di kenal luas hingga dunia internasional dan menjadi salah satu kebanggan budaya yang ada di Indonesa. Namun tradisi ini sekarang justru semakin ditinggalkan dan nyaris punah. Trend dunia fashion telah mengikis budaya tersebut . Kalaupun ada yang bertahan, hanya sebagian kecil golongan generasi tua suku Dayak yang berumur di atas 60 tahun. Generasi suku Dayak diatas tahun 80-an bahkan generasi sekarang mengaku malu.

Di Kalimantan Timur untuk bisa menemui wanita suku Dayak yang masih mempertahankan budaya telinga panjang sangat sulit. Karena kini hanya bisa ditemui dipedalaman Kalimantan Timur dengan menempuh jalur melewati sungai yang memakan waktu berhari-hari. Karena gaya hidup suku Dayak memang lebih akrab dengan hutan maupun gua.

Untuk melestarikan budaya, tradsi maupun adat suku Dayak Pemerintah Kota Samarinda membangun perkampungan budaya suku Dayak yang diberi nama Kampung Budaya Pampang. Di desa ini ada sekitar 1000 warga suku Dayak yang masih mempertahankan budaya, tradisi maupun adat.

Namun sayangnya khusus untuk budaya telinga panjang hanya sedikit wanita suku Dayak saja yang mempertahankannya. Lainnya telah memotong karena mengaku malu. Wanita suku Dayak yang masih mempertahankan telinga panjang itu dan tidak pernah keluar dari kampong itu, bahkan mereka pun hanya terlihat saat ada kegiatan ataupun ucapacara adat.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi desa Pampang dan berbincang-bincang dengan nenek Meh (60) wanita suku Dayak yang masih mempertahankan budaya telinga panjang itu.

Untuk bisa menuju Kampung Budaya Pampang, memakan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota samarinda, karena letaknya berjarak sekitar 20 km. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 50 ribu. Sebenarnya suku Dayak yang tinggal di Kampung Pampang merupakan sub-etnis Dayak Kenyah.
Semula kawasan tersebut merupakan hutan, namun setelah warga Dayak Kenyah dari Desa Long , Apokayan, Kabupaten Bulungan yang berjumlah 35 orang bermigrasi, kawasan itu kemudian berkembang seperti sekarang ini. Kendati menerima budaya modern dari luar, warganya tetap teguh mempertahankan tradisi sehingga perkampungan ini dijadikan Kampung Budaya Pampang oleh Pemerintah Kota Samarinda.

Warga suku Dayak Kenyah di Pampang tetap mempertahankan budaya leluhurnya, seperti menenun, mengukir, dan membuat aneka kerajinan tangan. Di Kampung ini pun masih terdapat Lamin (rumah panjang khas Dayak). Bagi para wisatawan yang ingin membeli souvenir, di Desa Pampang banyak orang yang menjajakan berbagai pernak pernik dari yang kecil hingga yang besar seperti gantungan kunci dan patung kayu.

Setiap hari libur, warga Dayak menggelar berbagai tarian tradisional di Lamin antara lain Tari Kancet Lasan, Kancet Punan Lettu, Kancet Nyelama Sakai, Hudog, Manyam, Pamung Tawai, Burung Enggang, dan tari Leleng.

PERTANDA WANITA BANGSAWAN

Menurut asal-usulnya ratusan tahun lalu, budaya telinga panjang bukan hanya dilakukan wanita, pria juga ada yang memanjangkan telinga. Dan yang memanjangkan telinga hanya kaum bangsawan suku Dayak. “Kalau dulu hanya yang memiliki status social ataupun yang disebut bangsawan yang memanjangkan telinga,” kata Moh dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Moh pun mengaku tidak tahu kapan tepatnya suku Dayak mulai memanjangkan telinga. Dirinya hanya tahu sejak ratusan tahu lalu. “Saya pun memiliki telinga panjang ini karena orang tua yang memasangkan gelang ini sejak masih bayi,” ucap, ibu enam anak ini.

Telinga panjang pada Wanita Dayak menunjukkan dia seorang bangsawan sekaligus untuk membedakan dengan perempuan yang dijadikan budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang.

Disamping itu telinga panjang digunakan sebagai identitas untuk menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinga diberi manik-manik yang cukup berat. Setiap tahun, jumlah manik-manik yang menempel di telinga bertambah satu.

“Karena itu, kalau ingin mengetahui umur seseorang, bisa dilihat dari jumlah manik-manik yang menempel di telinga. Jika jumlahnya 60, maka usianya pasti 60 tahun karena pemasangan manik-manik tidak bisa dilakukan sembarangan, cuma setahun sekali,” ucap Moh lagii

Teling panjang juga memiliki makna dimana untuk melatih kesabaran. “Bayangkan saja, betapa beratnya manik-manik yang tergantung di telinga, tetapi, karena dipakai setiap hari, kesabaran dan rasa penderitaan mereka menjadi terlatih,” terangnya.

Agar daun telinga menjadi panjang, biasanya daun telinga diberi pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.

Moh menuturkan, selain status social, wanita suku Dayak yang memanjangkan telinga karena dianggap cantik. “Makin panjang telinga, maka akan semakin cantiklah wanita Dayak,” terang wanita yang tak pernah mengenyam pendidikkan ini .

MULAI PUNAH

Yang masih mempertahankan budaya telinga panjang kini tinggal sedikit. Mereka yang asalnya bertelinga panjang secara sengaja memotong ujung daun telinga mereka. Alasan yang sering dikemukakan, takut dianggap ketinggalan zaman atau khawatir anak-anak mereka merasa malu.

Dikatakan Moh, mulai punahnya budaya telinga panjang, menurut cerita yang ia tahu ketika mulai masuknya para misionaris ke daerah pedalaman di perkampungan Dayak pada zaman kolonial Belanda dulu.

Meski ia tak tahu persisnya kapan mulai punah, tapi rata-rata yang masih mempertahankan budaya telinga panjang adalah wanita suku Dayak yang berusia diatan 60 tahun. Sedangkan genersi sekarang sudah tidak ada. Budaya ini pun semakin terkikis habis ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia di daerah perbatasan Kalimantan.

Saat itu berkembang stigma di masyarakat, mereka yang berdaun telinga panjang dan tinggal di rumah- rumah panjang, yang dihuni beberapa keluarga, merupakan kelompok masyarakat yang tidak modern. Tidak tahan terhadap pandangan seperti itu, akhirnya beberapa warga memotong telinga panjangnya.

Stigma semacam ini terus berlangsung hingga sekarang. Kalangan generasi muda Dayak tidak mau lagi membuat telinga panjang karena takut dianggap ketinggalan zaman dan tidak modern. Hanya sebagian kecil masyarakat Dayak yang masih memegang teguh tradisi berdaun telinga panjang, dan itu pun jumlahnya sangat minim.

TETAP AKAN MEMPERTAHANKAN

Namun hal itu tidak berlaku bagi Moh, ia tetap tidak akan mau memotong telinganya yang kini telah panjang sekitar 30 cm. Bahkan ia merasa bangga dan percaya diri dengan bertelinga panjang. Walaupun mendapat desakan dari anak ataupun cucunya, Moh tak bergeming dan tetap mempertahankan.

Dirinya mengakui, dengan telinga panjang, anak maupun cucu nya merasa malu. Tapi ia tak peduli, baginya ini merupakan tradisi yang akan dipertahankan hingga dirinya menghadap yang kuasa. Apalagi ia menghormati leluhur dan pesan orang tuanya, agar telinga panjang miliknya tidak dipotong.

Namun Moh memahami keinginan anak maupun cucu nya, karenanya, wanita berkulit kuning langsat ini pun tidak pernah bersama anak ataupun cucu nya jika ke Kota samarinda. Ia pun bahkan hanya berdiam di rumah dan berladang, hanya muncul sekali-kali jika ada kegiatan ucapara adat.

Moh juga tidak pernah malu, jika terkadang mendapat cibiran ataupun ejekan dari warga yang datang ke Kampung Pampang termasuk dari anak dan cucu nya. Justru sering mendapat pujian dari masyarakat karena mempertahankan tradisi itu. “Banyak yang kagum melihat telinga saya yang panjang,” tuturnya sambil tertawa.

MENDATANGKAN REJEKI

Dengan telinganya yang panjang, Moh justru menghasilkan rejeki. Sejak Kampung Pampang ditetapkan sebagai desa budaya oleh Pemerintah Kota Samarinda, membawa keuntungan bagi Moh. Pasalnya Pampang setiap hari Minggu selalu didatangi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Setiap hari Minggu, pukul 14.00 hingga 16.00 wita, biasanya digelar acara budaya yang menampilkan berbagai tarian Dayak, bertempat di rumah panjang khas Dayak. Tarian yang biasa ditampilkan, yakni tari Kancet Lasan, Kancet Punan Lettu, Kancet Nyelama Sakai, Hudog, Manyam, Pamung Tawai, Burung Enggang, dan tari Leleng.

Kehadiran wisatawan maupun pengunjung itulah yang membawa berkah. Pasalnya setiap pengunjung selalu meminta foto bersama. Kesempatan itulah digunakan Moh, untuk meraup rejeki. Tarif yang dipasangnya untuk sekali berfoto Rp 25 ribu. “Yah lumayan untuk menambah biaya hidup,” ujar wanita yang tak bisa membaca ini.

Setiap Minggu, Moh bisa menghasilkan hingga ratusan ribu rupiah dari hasil foto bersama pengunjung. Selain itu dirinya juga mendapat honor dari pertunjukkan menari dihadapan pengunjung.

Disamping itu beberapa daerah kerap memakai dirinya saat ada agenda kunjungan pejabat pusat hingga presiden. Begitu juga jika ada acara nasional yang di selenggarakan di Kalimantan Timur, termasuk launching beberapa perusahaan dan produk local.

DIANGGAP KETINGGALAN JAMAN

Menarik mendengar tanggapan salah satu cucu Moh, Ayan Abel yang sempat berbincang- bincang dengan saya. Gadis remaja yang kini duduk di bangku SMP ini menuturkan budaya telinga pajang tidak modern alias sangat ketingalan zaman.

Ia pun mengaku dengan memiliki telinga panjang, wanita tidak akan terlihat cantik. Saat ini kata Abel, wanita Dayak juga dituntut untuk juga mengikuti dunia fesyen yang sedang kian trend setiap tahunnya.

Abel mengakui dirinya sempat minder memiliki nenek, dengan telinga panjang. Dirinya bahkan beberapa kali menganjurkan agar neneknya memotong telinga, namun sang nenek tak bergeming dan tetap dengan telinga panjangnya.

“Kata nenek dengan telinga panjang akan terlihat cantik, tapi itu kan menurut tradisi dulu dan sekarang tidak mungkin, justru kalau dengan penampilan seperti itu akan membuat malu, kalau harus jalan-jalan (mejeng),” aku, gadis berparas cantik ini.

Meski Abel menentang, namun dalam hatinya bisa memahami, hanya saja tuntutan zaman yang dianggap tidak sesuai lagi. “Yah mau apalagi, karena tradisinya sudah seperti itu, yang pasti saya mungkin tidak pernah jalan bersama nenek ke mall dengan kondisi seperti itu, meski saya juga merasa bangga,” tandasnya. (teddy rumengan/berbagai sumber)


original source : www.kompasiana.com

1 comment :

  1. apa yg trsirat diatas ada benarnya tpi ada juga ngawurnya!! sbgai org dayak kmi tdk prnah merasa malu dgn kberadaan kami d bumi kmi sndiri. justru pendatang dr luarlah yg byk mmpengaruhi budaya kmi sehingga brakibat musnahnya telinga kami. kmi memang akrab dgn hutan tapi tidak dengan "GUA" sprti yg anda tulis di atas. sosok Ayan abel hanyalh seorg "Bocah Ingusan" yg ngomongnya "asal" ga bisa d jdikan pegangan dgn hilangnya telinga kami....!!!

    ReplyDelete

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube