BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Wednesday, June 20, 2012

Adat Mangkok Merah dan Pamabakng

F.Bahaudin
Oleh F. Bahaudin Kay (Timanggong Sangah Ulu 2 Kab. Landak)

“Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata “
Sebuah tulisan yang kami sajikan dengan judul “Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja kami angkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah di kenal oleh masyarakat luas diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.

Kedua jenis adat ini mempunyai keunikan tersendiri ibarat dua sisi yang bersebaranagan namaun mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Mangkok Merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk mengarahkan masa demi tujuan tertentu sementara pamabakng adalah adat yang bersipat sakral yang harus dipatuhi dalam upaya perdamaian akibat adanya suatu komplik berdarah.

Dengan demikian selain bersebrangan dan mempunyai keterkaitan yang sangat erat, kedua adat ini fungsinya seolah-olah bertentangan. Terlepas dari pendapat pro dan kontra secara esensi adat ini perlu dipertahankan dan di lesatarikan, namun apakah ia masih tetap dipertahankan dan dilestarikan, namun apakah ia masih tetap ditaati dan di patuhi terutama di era globalisasi yang serba moderen ini.

ADAT MANGKOK MERAH
Berdasarkan jenis alat peraganya, pada mulanya adat ini bernama mangkok jaranang. Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwrana merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam.

Oleh karena itu ia disebut mangkok merah. Pada jaman dahulu apabila dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli waris segera melakukan aksi belas dendam melalui pengerah masa secara adat yang disebut adat mangkok merah. Kasus tersebut biasanya mangkuk menyangkut kasus parakng- bunuh ataupun kasus pelecehan seksual dan lain sebagainya yang sifatnya mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap ahli waris.
 

Alat Peraga dan Maknanya
Alat paraga mangkok merah terdiri dari :
  • Sebuah mangkuk sebagi tempat/sarana untuk meletakkan alat paraga lainnya. 
  • Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah “.
  • Bulu/sayap ayam yang mengandung pengertian “ Cepat “, segera, kilat, seperti terbang”.
  • Tabur atap daun ( ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh hujan karena ada terinak ( payung ).
  • Longkot api ( bara kayu api baker yang sudah di pakai untuk memasak di dapur ) yang mempunyai pengertian bahwa yang membawa berita tidak boleh terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan penerangan api colok dsb.
Alat para mangkok merah dikemas dalam mangkok yang telah diberi warna merah jaranang kemudian di bungkus dengan kain. Beberapa orang yang di tunjuk utnuk menyampaikan berita sekaligus mengajak seluruh jajaran ahli waris itu sebelumnya di berikan arahan mengenai maksud dan tujuan mangkok merah itu, siapa saja yang harus ditemui, kapan berkumpul, tempat berkumpul dan lain sebagainya. Tentu saja mereka yang membawa berita mangkok merah tersebut tidak boleh menginap bahkan singah terlalu lamapun tidak boleh. Walau hujan lebat dan petang gelap sekalipun mereka harus meneruskan perjalanannya.

Seperti yang diuraikan dalam pendahuluan, bahwa yang melatar belakangi terjadinya adat mangkok merah itu karena akibat adanya suatu yang tidak mau diselasaikan secara adat oleh pelakunya sehingga dianggap telah menghina dan melecahkan harkat dan martabat ahli waris korban. Damai kehormatan,harakat dan maratabat ahli waris sehingga mereka mengadakan upaya pembalasan dengan mengumpulkan ahli waris melalui adat mangkok merah. Misalnya seorang yang mati terbunuh apabila dalam waktu 24 jam tidak ada tanda-tanda upaya penyelesaian secara adat maka pihak ahli waris korban segera menyikapinya dengan suatu upaya pembelasan, karena perbuatan sipelaku di anggap telah menentang pihak ahli waris korban dan ia pantas dihajar sebagai binatang karena tidak beradat. Selanjutnya digelarlah adat mangkok mereah seperti yang telah di jelaskan di atas.

Sebagai mana di jelaskan di atas bahwa gerakan mangkok merah muncul untuk membela kehormatan, harkat dan martabat ahli waris yang telah dihina dan dilecehkan. Dengan demikian tentu saja gerakan ini menjadi tangung jawab ahli waris. Menurut masyarakat adat Dayak Kanayatn susunan/turunan page waris samdiatn itu dapat digambarkan menurut garis lurus yaitu : 
  1. Saudara Sekandung ( tatak pusat ) disebut samadiatn. 
  2. Sepupu satu kali ( sakadiritan ) di sebut kamar kapala. 
  3. Sepupu dua kali ( dua madi’ ene’ ) di sebut waris. 
  4. Sepupu tiga kali ( dua madi’ ene’ saket ) di sebut waris. 
  5. Sepupu empat kali ( saket ) di sebut waris. 
  6. Sepupu lima kali ( duduk dantar ) di sebut waris. 
  7. Sepupu enam kali ( dantar ) di sebut waris. 
  8. Sepupu tujuh kali ( dantar page ) di sebut waris. 
  9. Sepupu delepan kali ( page ) masih tergolong waris. 
  10. Sepupu sembilan kali, dah baurangan tidak tergolong waris.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa yang mulai disebut waris adalah pada turunan sepupu tiga kali atau dua madi’ene’, sehinga mereka yang termasuk dalam turunan ini di anggap sebagai kepala waris atau waris kuat. Merekalah yang berhak memimpin gerakan ini sifatnya mangkok mereah.

Sebagai mana telah di jelaskan dalam pendahuluan maka sifat-sifat yang terkandung didalam adat mengkok merah tersebut adalah :
  1. Seluruh acara pelaksanaan adat mangkok merah dari mulai bermusyawarah/mufakat hinga pemberangkatan bala, sarat prilaku-prilaku mistik relegius, oleh karena itu adat bersifat sakral. 
  2. Pihak ahli waris yang dituju atau yang menerima berita mengkok merah demi menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kehormatan ahli waris mereka harus ikut. Apabila mereka tidak ikut, mereka dapat dicap sebagai pengecut dan tidak menaruh rasa malu. Dengan demikaian mereka terpaksa harus ikut. Jadi dalam adat mangkok merah terdapat sifat mengikat atau memaksa.
Menelusuri proses pelaksanaan adat mangkok mereah, ternyata bahwa pelkasanan dan penangung jawab adat mengkok merah adalah selauruh jajaran ahli waris korban di pimpin oleh ahli waris dua madi’ ene’ sebagai kepala waris. Sedangkan sasarannya adalah pihak pelaku yang tidak bersedia membayar hukuman adat senhinga di anggap telah melecahkan dan menghina pihak ahli waris korban. Apabila bala telah bernagkat menuju sasaran hampir tidak ada alternatif lain untuk pencegahan, kecuali dengan upaya adat dimana pihak pelaku harus memasang adat pamabang.

ADAT PAMABAKNG
Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat. Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif, misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.

Alat Peraga
Sementara itu adat pamabankng mempunyai dampat yang sangat positip mengupayakan penyelasaian komplik sejarah damai. Bala yang akan menyerag setelah mengadakan pengerahan masa melalaui adat mangkok merah. Harus cepat di antisipasi oleh pengurus adat , dalam hal ini temenggung dibantu oleh pasirah dan pangaraga. Mereka harus segera memeberi tahu sekaligus memerintahkan kepada ahli waris di bantu oleh msayarkat kampung untuk memasang adat pamabakng, dengan alat paraganya sebagai berikut 
  • 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng banbu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup. 
  • Kemudian ada pelantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng ( tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah. 
  • 1 buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tampayan jampa. 
  • Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar. 
  • Disekitar pamabang terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah dengan bala yang akan datang. 
  • Tempayan jamba melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunauhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku. 
  • Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian. 
  • Beras banyu sebagai simbol perampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi. 
  • Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.
Pamabankng harus ditunggu oleh temenggung dan jika temenggung tidak ada/berhalangan, pamabakng di tunggu oleh pasirah atau oleh tua-tua adat yang dianggap mengerti tentang adat. Selain mengerti tentang adat orang yang menunggu pemabankng haruslah orang yang bijaksana dan biasanya pula harus orang yang punya ilmu dalam mengatasi kasus seperti itu misalnya mantra dan jampi-jampi yang di sebut sanga bunuh, bungkam, kata gampang, pelembut hati seperti pangasih dan lain-lain masksudnya agar saran serta naseihat dsb. Dapat dipakai oleh pihak bala yang sedang emosi.

Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan, pamabankng dapat di pasang lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante ( pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap dilangar, masih adalagi pamabnag lain yang terakhir. Pamabakng yang terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabang terakhir inipun di langar maka tidak ada alternatif lain selain harus mengadakan perlawanan dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa, artinya adat raganyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di tempat pamabang, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentakangkan arti dan makana pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar penjelasan itu pihak bala melampisan emosinya dengan menikamkan senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak mendapat perlawanan.
Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah : 
  • Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan : 
  1. Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris. 
  2. Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat. 
  3. Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang. 
  • Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan : 
  1. Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat 
  2. Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
Adat pamabakng adalah adat bahoatn artinya hanya untuk dipajang bukan untuk di bayarkan. Setelah bala datang mereka harus di bore baras banyu dan selanjutnya dilakukan persembanhan kepada jubata. Pamabakng teteap terpasang selama adat belum diselesaikan dan paling lama selama 3 hari.

Tulisan ini pernah di posting Bapak Yohanes Supriyadi di http://www.akademidayak.com


Wednesday, November 25, 2009

Pertempuran Di Pulau Kupang

Oleh : Tjilik Riwut

Alkisah Temanggung Sempung sudah mengambil Nyai Nunjang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Temanggung Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang anaknya Mereng cucu dari Karangkang menjadi menantunya.

Maka tersiarlah kabar dimana-mana akan kecantikan Nyai Undang itu, dan berita itu pun sampailah kepada Raja Laut namanya Sawang. Maka datanglah Raja Sawang dengan balatentaranya, dengan maksud untuk mengawini Nyai Undang tersebut. Dan dia berjanji dengan semua balatentaranya, jika maksudnya untuk mengawini Nyai Undang itu tidak diterima, maka dia akan mengumumkan perang dengan kota Pulau Kupang itu.

Singkat cerita, dengan di iringi tempik sorak dan teriakan dari para pengiringnya, maka sampailah Raja Sawang di istana Nyai Undang tersebut. Tetapi malang akan tiba, waktu Raja Sawang akan melangkahkan kaki nya diatas Kayu-Nyilu dipintu gerbang istana, maka Raja Sawang terus jatuh, lemah lunglai segala sendi anggota tubuhnya, seperti orang yang tidak bertenaga lagi. Melihat akan hal yang demikian itu maka Nyai Undang lalu mengambil Dohong â€Å“Raca Holeng Joha, Kahajun Duun Suna Taja Panulang Karing, Hitan Iung Pundan, Sanaman Mantikei dari hulu Katingan Kuman Rahaâ€�. Oleh karena Sawuh (mengamuk) Nyai Undang terus turun mengamuk, semua balatentara Raja Sawang yang ada di Banama dibunuhnya. Balatentara Raja Sawang menderita kekalahan dan menyerah. Dan mereka yang hidup dijadikan tawanan dan dijadikan jipen atau budak beliannya.

Dari rakyat Raja Sawang dan Raja Nyaliwan (Raja Utara) yang masih hidup ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Rajanya. Semua balatentara Raja Sawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya kimpoi mengawin dengan suku dayak, sehingga mereka menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.

Kabar bahwa Kerajaan Raja Sawang akan menyerang kota Pulau Kupang sampai pula ke Nyai Undang. Maka Nyai Undang mengirimkan utusannya ke Tumbang Pajangei. Dan bersama dengan utusannya itu dikirmkannya pula sebatang Lonjo Bunu atau tombak Bunu sebagai surat. Pesannya itu dikirimkannya kepada Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai di Tumbang Pajangei. Yang mana maksud dari Tombak Bunu itu adalah meminta bala bantuan untuk berperang.

Dengan tidak berpikir panjang dan membuang-buang waktu lagi Rambang, Ringkai membawa Temanggung Bungai Andin Sindai anak Temanggung Sempung yang paling berani dan gagah perkasa, serta Raja Tambun Tandjung Ringkin Duhong anak Serupoi. Keduanya adalah pahlawan yang pangkamenteng pangkamamute. Karena kedua pahlawan ini belum pernah satu kalipun mengalami kekalahan.

Adapun nama-nama para panglima yang turut serta untuk membela Pulau Kupang adalah:
1. Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri
2. Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri
3. Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi
4. Isoh Batu Nyiwuh
5. Etak kampong Tewah
6. Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan
7. Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang
8. Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen
9. Temanggung Renda dari Baseha
10. Temanggung Rangka dari Tumbang Rio
11. Temanggung Kiting dari Tanjung Riu
12. Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan
13. Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
14. Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau
15. Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin
16. Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen
17. Temanggung Uhen dari kampung Manen
18. Temanggung Kaliti dari Rawi
19. Rakau Kenan dari Tumbang Rungan
20. Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)
21. Temanggung Andin dari Pulau Kantan

Tiada berapa lamanya berkat kerjasama dan saling mengerti satu akan yang lainnya, maka siaplah kota itu lengkap dengan persenjataannya. Dan diberilah nama oleh mereka akan kota itu â€Å“Kota Pematang Sawangâ€� yang selalu siap sedia menerima kedatangan musuh. Istana tempat Nyai Undang dikepalai oleh Temanggung Rambang. Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan , Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Tidak berapa lamanya, musuh(asang) pun datanglah. Jumlah Asang yang datang itu kurang lebih 10.000 orang banyaknya.

Sebelum peperangan dimulai maka Temanggung Rambang dan Temanggung Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang. Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka. Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.

Melihat akan ketangkasan serta keunggulan dari balatentara Nyai Undang yang pantang mundur itu, maka akhirnya mereka menyerah dengan marup. Di dalam peperangan yang demikian sengitnya itu, Temanggung Rambang lah yang sangat berjasa karena dia dapat memotong kepala asang tersebut. Semua kepala pasukan musuh mati terbunuh.

Setelah peperangan selesai maka di adakan lah pesta besar untuk memalas Temanggung Rambang dengan darah ayam, babi, sapid an darah orang yang dibunuhnya tadi, supaya tidak tulah karena demikianlah Adat Dayak. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang. Dalam pesta itu sudah berkumpul lebih kurang 35 wakil suku Dayak. Yang nama-namanya ada tertulis sebagai berikut:
1. Manan dari hulu Kahayan
2. Londoi dari Tabahoi
3. Djato dari Bahoi
4. Ibong dari Buit Kalimantan Utara
5. Ikuh dari Tinggalan (Tidong)
6. Tingang dari Bukat (Dayak Bukat)
7. Kuit dari hulu Rundit Bt Lupar
8. Parekoi dari Serawai
9. Tunda Luting dari Samba Katingan
10. Dekoi dari Malahoi
11. Unei dari dayak Sahiei
12. Tamban dari Katingan
13. Mahat dari Mahalat
14. Etas dari hulu Kapuas
15. Dalong dari Hampotong
16. Umbing dari Manuhing
17. Tukoh dari Mamaruh
18. Gana dari Mentaya
19. Nuhan dari Saruyan
20. Bakan dari Rungan
21. Sindi dari Miri
22. Bahon dari Bahaun
23. Sawang dari Siang
24. Djohan dari Taran
25. Sota Munan dari Maanyan
26. Pahan dari Kalangan
27. Sakai dari Serawai
28. Manoui dari Rakaoi
29. Punan dari Heban
30. Hinan dari Dusun
31. Djaman dari Kabatan
32. Ritu dari Uru
33. Lati dari Pari
34. Nanau dari Lamandau

Setelah selesai pesta tadi maka sampailah giliran pesta besar lagi untuk mengawinkan Temanggung Sangalang dengan Nyai Undang di Pematang sawang Pulau Kupang. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.

Sedikit catatan tentang Pulau Kupang Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga sering berganti. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu. Jaman sekarang di tempat itu ada terdapat meriam dan bekas peninggalan-peninggalan. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebut kota Bataguh. Kayu-kayu ulin yang menjadi tiang dan tembok kota itu luasnya tidak kurang dari 5 kilometer persegi. (sumber : Kalimantan Membangun Karya Tjilik Riwut)







Bookmark and Share
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube