BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Showing posts with label KalBar. Show all posts
Showing posts with label KalBar. Show all posts

Tuesday, March 5, 2013

Sam-Sam (Bo'k) Masyarakat Dayak Salako Singkawang

Oleh : Andreas Aan
Masyarakat dayak begitu menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya, tradisi yang diturunkan oleh para leluhurnya tetap terus dipertahankan sebagai wujud cinta akan budaya dan tetap mempertahankan tradisi lisan budayanya. khususnya masyarakat dayak salako di Kota Singkawang, setiap tahun masyarakat yang berdomisili di sekitar singkawang Timur dan Singkawang Selatan ini mengadakan Sam-sam (bo'k), jika di bali disebut dengan Nyepi.

Tradisi Bo'k biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun yaitu Bo'k Pangkorokng dan Bo'k Ngabayotn. Bo'k Pangkorokng adalah Bo'k yang dilakukan dalam rangka membersihkan kampung agar terhindar dari penyakit/sampar yang diakibatkan oleh berakhirnya musim buah tahunan (durian, langsat, rambutan, tampuy, rambai dsb. 

Masyarakat Dayak percaya bahwa kulit dan buangan dari buah-buah tersebut bisa mengakibatkan datangnya penyakit/wabah yang bisa menyerang kampung. selain itu Bo'k Pangkorokng juga dilakukan sebagai ucapan terimakasih atas hasil buah-buahan yang sudah diperoleh dan berharap semoga pada tahun berikutnya mendapatkan hasil buah yang lebih baik lagi. 

Bo'k pangkorokng dilaksanakan antara bulan Januari-Maret setelah musim buah tahun berakhir. kemudian ada Bo'k Ngabayotn yang dilakukan dalam rangka minta ijin kepada Jubata atau leluhur untuk berladang/berhuma dan berharap mendapatkan hasil padi yang lebih baik. Bo'k Ngabayotn dilakukan antara bulan Mei dan Juni setelah masa panen padi selesai dan sudah menikmati beras baru. 

Sebelum Bo'k dilaksanakan sehari sebelumnya diadakan ritual adat di tempat keramat, untuk di Nyarumkop tempat keramatnya berada di sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung poteng, tempat ini di sebut sebagai Padagi Gantikng. untuk mencapai tempat ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari Nek Usun dan melewati jalan yang penuh dengan jurang terjal karena letaknya berada di puncak gunung, ada beberapa sungai yang dilewati untuk mencapai tempat ini. di kaki gunung yang dilalui dijumpai bekas-bekas perkampungan masyarakat dayak pada masa lalu, ini ditandai dengan berbagai macam puring yang tumbuh disekitarnya. 

Menurut ceritanya bantang/rumah panjang dulunya berdiri disini tidak jauh dari Lubuk Silibun, tempat ini disebut Kamar oleh masyarakat setempat. untuk mencapai tempat ritual (padagi-Gantikng) sekitar 15 menit berjalan kaki dari lubuk silibun. tiba di tempat ritual akan dijumpai satu pohon besar berada bersis didepan 14 pantak yang ada di padagi tersebut, sekitar lokasi keramat ini hanya ada 1 pohon besar yang tumbuh dan disekitarnya banyak tumbuh bambu tumiang yang menutupi lokasi keramat. disekitar pantak banyak tumbuh daun-daun juang yang nantinya berfungsi dalam ritual Bo'k begitu juga bambu tumiang ini dipakai bersamaan dengan daun juang dipasang di pintu-pintu rumah warga yang mengadakan Bo'k,dimana berfungsi sebagai tanda bahwa kampung tersebut sedang melaksanakan Bo'k. 

Pantak-pantak yang berada di lokasi sudah berumur ratusan tahun, ada 14 pantak yang terdiri dari pantak batu dan kayu yang dipahat. menurut ceritanya ke 14 pantak tersebut mewakili orang yang dianggap berani, pahlawan, panglima dan berjasa bagi masyarakat dayak disekitarnya pada masa itu. dari ke 14 pantak yang, ada 1 pantak yang mencolok karena bentuknya yang tinggi dan selalu diberi ikat merah jika mengadakan ritual di sini, yaitu pantak Nek Rampe. menurut ceritanya Nek Rampe adalah sosok orang yang paling jago dan berani dan dianggap sebagai panglima pada masa bakayo (head hunter). 

Setelah ritual, panyangohotn melepaskan ayam putih di loksi keramat ini, dan kemudian dilanjutkan dengan mengambil air tawar yang berasal dari tempayan-tempayan yang berada di sekitar pantak. air tawar ini nantinya dibagi ke masing-masing rumah warga bersamaan dengan beras yang dimasukan dalam plastik, kain putih, daun juang dan daun bambu tumiang. pada malam sebelum pagar kampung ditutup, didakan lagi ritual di pantak kampung, pantak ini berada di depan masuk kampung. Bo'k biasanya dimulai jam 10 atau jam 11 malam terus sampai pagi, siang dan ketemu malam lagi dan berakhir pada subuh hari berikutnya . 

Selama Bo'k masyarakat tidak melaksanakan aktifitas seperti biasanya, cuma berdiam diri dirumah dan tidak boleh keluar masuk kampung, juga dilarang ribut selama Bo'k berlangsung. jika melanggar aturan, akan dikenakan hukum adat yang berlaku sesuai kesalahan yang dilakukannya selama kegiatan Bo'k berlangsung.

Thursday, February 14, 2013

Persatuan Olahraga Sumpit Kalbar adakan Workshop

Laporan Andreas Aan, Kontributor di Kalimantan Barat
Dalam rangka mengenalkan olahraga sumpit ke masyarakat luas, dan mengangkat level olahraga sumpit ke tingkat yang lebih tinggi seperti cabang-cabang olahraga populer lainnya. Persatuan Olahraga Sumpit Kalimantan Barat bekerja sama dengan PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak Sahwa dan Gerakan Peduli Masyarakat (GPM) Kota Singkawang mengadakan workshop dengan tema " Olahraga Sumpit Menuju PON dan OLIMPIADE". 

Workshop dilaksanakan pada hari Sabtu malam tanggal 2 Februari 2013 bertempat di Parauman Dayak Salako Nyarumkop, Kota Singkawang. Sebagai pembicara Leo Dedy Anjiu, ST, MT dengan Moderatornya Andreas Aan, AMd. para peserta yang hadir berasal dari atlet sumpit Persatuan Olahraga Sumpit Kota Singkawang, Persatuan Olahraga Sumpit Kota Pontianak, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sambas, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sanggau, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Bengkayang, Persatuan Olahraga Sumpit Kabupaten Sekadau, Team Sumpit Alas Kusuma (Tosaka) Kubu Raya dan Kontingen sumpit dari Kabupaten Sintang. 

Kegiatan yang baru pertama kalinya diadakan ini dimulai dengan sambutan dari Marsianus Kodim sebagai Ketua GPM Kota Singkawang dan dilanjutkan oleh Paulus Ricky mewakili PNPM Mandiri "Pabayo Gagas" Bagak Sahwa. dengan diadakannya workshop ini Dedy berharap Olahraga Sumpit sudah tidak lagi hanya sebagai olahraga yang bersifat tradisional, yang cuma ada pada event-event budaya dayak saja, namun lebih dari itu olahraga sumpit sudah harus mendunia seperti cabang-cabang olahraga yang lebih dulu populer. 

Untuk di luar negeri sudah ada induk organisasi olahraga sumpit atau yang lebih umum dikenal sebagai blow gun, seperti di Amerika Serikat yaitu American Metis Blowgun Association (AMBA), di Prancis induk organisasinya FSBA (France Sport Blowgun Association) di Jerman sendiri namanya Deutscher Sport Blasrohr Verein (DSBV), dan masih banyak lagi Negara di Eropa yang sudah ada Induk Organisasinya seperti di Australia, Belanda, Belgia. untuk di Asia dijepang dikenal dengan IFA (International Fukiyado Association), di China ada CSBA (China Sport Blowgun Association) dan dimalaysia dikenal dengan MSBA. 

Untuk di Indonesia kita belum ada induk organisasinya dan ini yang menjadi kendala kita untuk berkembang, karena untuk memiliki induk organisasinya minimal kantornya harus di Ibukota Negara yaitu Jakarta. tentunya kita sangat berharap organisasi Adat dan kebudayaan seperti MADN dan DAD dapat membantu mencarikan solusi terbaik bagaimana olahraga sumpit ini cepat berkembang dan bisa memiliki induk organisasi di pusat, karena selama ini cuma dari persatuan olahraga sumpit kalbar yang lebih aktif dan kurang mendapat perhatian dari 2 lembaga diatas. 

sebagai langkah awal tentunya harus ada induk organisasi olah raga sumpit untuk mewadahi persatuan-persatuan olahraga sumpit yang ada di daerah-daerah, karena bukan hanya kita di kalimantan saja yang berharap olahraga sumpit ini bisa masuk Olimpiade, namun dari negara-negara diluar negeri yang sudah ada induk organisasinya pun berjuang juga agar olahraga sumpit (blowgun) bisa berlaga di tingkat internasional seperti olimpiade.

Saturday, October 13, 2012

PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN

Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata...!!!
Salam Budaya..

HADIRILAH.....!!! PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN X 2012-YOGYAKARTA (PSBDK X 2012)

Tanggal, 18 s/d 20 Oktober 2012, di gedung PKKH Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pukul 09.00-22.00 wib.

TEMA:  "Aktualisasi Spirit Kearifan Tradisi Bagi Pemahaman Budaya Dayak Antar Generasi"

Rangkaian Acara:
1. Acara Pembukaan dengan Ritual Adat Dayak Bidayuh
18 Oktober 2012
waktu : 10.00 - 15.00 WIB
tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Tebuka untuk umum

2. Pameran Seni dan Kerajinan Memayet
waktu : 18 OKtober 2012
Tempat : Lorong Kanan Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

3. Stand Pameran
18 - 20 Oktober 2012
Waktu : 15.00 - 22.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Koesnadi Hardjasoemantri
Pameran Seni & Kerajinan mengangkat tema "Kampung Dayak"
Setiap stand pameran menghadirkan nuansa dari dimensi kehidupan suku Dayak.
Terbuka untuk umum

4. Malam Kesenian I & Festival Vocal Group
18 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 10.000; (Tempat Terbatas)

5. Talkshow & Workshop "Bidai"
19 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Terbuka untuk umum (Gratis)

6. Perlombaan Tradisional I
Menyumpit
19 Oktober 2012
Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Tempat Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

7. Malam Festival Tari Kreasi Dayak
19 Oktober 2012
Waktu : 19.00 - 22.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

8. SeMinar Budaya
20 Oktober 2012
Waktu : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka untuk umum (gratis)

9. Perlombaan Tradisional II
20 Oktober 2012
Pangka' Gasing, Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Menampi Beras, Waktu : 15.00 - 17.00 WIB
Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri

10. Malam Kesenian II
20 Oktober 2012
Waktu : 18.30 - 21.30 WIB
Tempat : Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
HTM : 15.000; (Tempat Terbatas)

11. Penutupan dengan Ritual Upacara Adat Dayak Bidayuh
20 Oktober 2012
Waktu : 21.30 - 23.30 WIB
Tempat : Tempat : Halaman Gedung Pertunjukan Koesnadi Hardjasoemantri
Terbuka Untuk Umum

Wednesday, June 20, 2012

Adat Mangkok Merah dan Pamabakng

F.Bahaudin
Oleh F. Bahaudin Kay (Timanggong Sangah Ulu 2 Kab. Landak)

“Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata “
Sebuah tulisan yang kami sajikan dengan judul “Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja kami angkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah di kenal oleh masyarakat luas diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.

Kedua jenis adat ini mempunyai keunikan tersendiri ibarat dua sisi yang bersebaranagan namaun mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Mangkok Merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk mengarahkan masa demi tujuan tertentu sementara pamabakng adalah adat yang bersipat sakral yang harus dipatuhi dalam upaya perdamaian akibat adanya suatu komplik berdarah.

Dengan demikian selain bersebrangan dan mempunyai keterkaitan yang sangat erat, kedua adat ini fungsinya seolah-olah bertentangan. Terlepas dari pendapat pro dan kontra secara esensi adat ini perlu dipertahankan dan di lesatarikan, namun apakah ia masih tetap dipertahankan dan dilestarikan, namun apakah ia masih tetap ditaati dan di patuhi terutama di era globalisasi yang serba moderen ini.

ADAT MANGKOK MERAH
Berdasarkan jenis alat peraganya, pada mulanya adat ini bernama mangkok jaranang. Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwrana merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam.

Oleh karena itu ia disebut mangkok merah. Pada jaman dahulu apabila dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli waris segera melakukan aksi belas dendam melalui pengerah masa secara adat yang disebut adat mangkok merah. Kasus tersebut biasanya mangkuk menyangkut kasus parakng- bunuh ataupun kasus pelecehan seksual dan lain sebagainya yang sifatnya mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap ahli waris.
 

Alat Peraga dan Maknanya
Alat paraga mangkok merah terdiri dari :
  • Sebuah mangkuk sebagi tempat/sarana untuk meletakkan alat paraga lainnya. 
  • Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah “.
  • Bulu/sayap ayam yang mengandung pengertian “ Cepat “, segera, kilat, seperti terbang”.
  • Tabur atap daun ( ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh hujan karena ada terinak ( payung ).
  • Longkot api ( bara kayu api baker yang sudah di pakai untuk memasak di dapur ) yang mempunyai pengertian bahwa yang membawa berita tidak boleh terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan penerangan api colok dsb.
Alat para mangkok merah dikemas dalam mangkok yang telah diberi warna merah jaranang kemudian di bungkus dengan kain. Beberapa orang yang di tunjuk utnuk menyampaikan berita sekaligus mengajak seluruh jajaran ahli waris itu sebelumnya di berikan arahan mengenai maksud dan tujuan mangkok merah itu, siapa saja yang harus ditemui, kapan berkumpul, tempat berkumpul dan lain sebagainya. Tentu saja mereka yang membawa berita mangkok merah tersebut tidak boleh menginap bahkan singah terlalu lamapun tidak boleh. Walau hujan lebat dan petang gelap sekalipun mereka harus meneruskan perjalanannya.

Seperti yang diuraikan dalam pendahuluan, bahwa yang melatar belakangi terjadinya adat mangkok merah itu karena akibat adanya suatu yang tidak mau diselasaikan secara adat oleh pelakunya sehingga dianggap telah menghina dan melecahkan harkat dan martabat ahli waris korban. Damai kehormatan,harakat dan maratabat ahli waris sehingga mereka mengadakan upaya pembalasan dengan mengumpulkan ahli waris melalui adat mangkok merah. Misalnya seorang yang mati terbunuh apabila dalam waktu 24 jam tidak ada tanda-tanda upaya penyelesaian secara adat maka pihak ahli waris korban segera menyikapinya dengan suatu upaya pembelasan, karena perbuatan sipelaku di anggap telah menentang pihak ahli waris korban dan ia pantas dihajar sebagai binatang karena tidak beradat. Selanjutnya digelarlah adat mangkok mereah seperti yang telah di jelaskan di atas.

Sebagai mana di jelaskan di atas bahwa gerakan mangkok merah muncul untuk membela kehormatan, harkat dan martabat ahli waris yang telah dihina dan dilecehkan. Dengan demikian tentu saja gerakan ini menjadi tangung jawab ahli waris. Menurut masyarakat adat Dayak Kanayatn susunan/turunan page waris samdiatn itu dapat digambarkan menurut garis lurus yaitu : 
  1. Saudara Sekandung ( tatak pusat ) disebut samadiatn. 
  2. Sepupu satu kali ( sakadiritan ) di sebut kamar kapala. 
  3. Sepupu dua kali ( dua madi’ ene’ ) di sebut waris. 
  4. Sepupu tiga kali ( dua madi’ ene’ saket ) di sebut waris. 
  5. Sepupu empat kali ( saket ) di sebut waris. 
  6. Sepupu lima kali ( duduk dantar ) di sebut waris. 
  7. Sepupu enam kali ( dantar ) di sebut waris. 
  8. Sepupu tujuh kali ( dantar page ) di sebut waris. 
  9. Sepupu delepan kali ( page ) masih tergolong waris. 
  10. Sepupu sembilan kali, dah baurangan tidak tergolong waris.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa yang mulai disebut waris adalah pada turunan sepupu tiga kali atau dua madi’ene’, sehinga mereka yang termasuk dalam turunan ini di anggap sebagai kepala waris atau waris kuat. Merekalah yang berhak memimpin gerakan ini sifatnya mangkok mereah.

Sebagai mana telah di jelaskan dalam pendahuluan maka sifat-sifat yang terkandung didalam adat mengkok merah tersebut adalah :
  1. Seluruh acara pelaksanaan adat mangkok merah dari mulai bermusyawarah/mufakat hinga pemberangkatan bala, sarat prilaku-prilaku mistik relegius, oleh karena itu adat bersifat sakral. 
  2. Pihak ahli waris yang dituju atau yang menerima berita mengkok merah demi menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kehormatan ahli waris mereka harus ikut. Apabila mereka tidak ikut, mereka dapat dicap sebagai pengecut dan tidak menaruh rasa malu. Dengan demikaian mereka terpaksa harus ikut. Jadi dalam adat mangkok merah terdapat sifat mengikat atau memaksa.
Menelusuri proses pelaksanaan adat mangkok mereah, ternyata bahwa pelkasanan dan penangung jawab adat mengkok merah adalah selauruh jajaran ahli waris korban di pimpin oleh ahli waris dua madi’ ene’ sebagai kepala waris. Sedangkan sasarannya adalah pihak pelaku yang tidak bersedia membayar hukuman adat senhinga di anggap telah melecahkan dan menghina pihak ahli waris korban. Apabila bala telah bernagkat menuju sasaran hampir tidak ada alternatif lain untuk pencegahan, kecuali dengan upaya adat dimana pihak pelaku harus memasang adat pamabang.

ADAT PAMABAKNG
Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat. Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif, misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.

Alat Peraga
Sementara itu adat pamabankng mempunyai dampat yang sangat positip mengupayakan penyelasaian komplik sejarah damai. Bala yang akan menyerag setelah mengadakan pengerahan masa melalaui adat mangkok merah. Harus cepat di antisipasi oleh pengurus adat , dalam hal ini temenggung dibantu oleh pasirah dan pangaraga. Mereka harus segera memeberi tahu sekaligus memerintahkan kepada ahli waris di bantu oleh msayarkat kampung untuk memasang adat pamabakng, dengan alat paraganya sebagai berikut 
  • 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng banbu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup. 
  • Kemudian ada pelantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng ( tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah. 
  • 1 buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tampayan jampa. 
  • Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar. 
  • Disekitar pamabang terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah dengan bala yang akan datang. 
  • Tempayan jamba melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunauhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku. 
  • Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian. 
  • Beras banyu sebagai simbol perampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi. 
  • Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.
Pamabankng harus ditunggu oleh temenggung dan jika temenggung tidak ada/berhalangan, pamabakng di tunggu oleh pasirah atau oleh tua-tua adat yang dianggap mengerti tentang adat. Selain mengerti tentang adat orang yang menunggu pemabankng haruslah orang yang bijaksana dan biasanya pula harus orang yang punya ilmu dalam mengatasi kasus seperti itu misalnya mantra dan jampi-jampi yang di sebut sanga bunuh, bungkam, kata gampang, pelembut hati seperti pangasih dan lain-lain masksudnya agar saran serta naseihat dsb. Dapat dipakai oleh pihak bala yang sedang emosi.

Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan, pamabankng dapat di pasang lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante ( pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap dilangar, masih adalagi pamabnag lain yang terakhir. Pamabakng yang terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabang terakhir inipun di langar maka tidak ada alternatif lain selain harus mengadakan perlawanan dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa, artinya adat raganyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di tempat pamabang, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentakangkan arti dan makana pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar penjelasan itu pihak bala melampisan emosinya dengan menikamkan senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak mendapat perlawanan.
Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah : 
  • Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan : 
  1. Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris. 
  2. Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat. 
  3. Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang. 
  • Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan : 
  1. Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat 
  2. Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
Adat pamabakng adalah adat bahoatn artinya hanya untuk dipajang bukan untuk di bayarkan. Setelah bala datang mereka harus di bore baras banyu dan selanjutnya dilakukan persembanhan kepada jubata. Pamabakng teteap terpasang selama adat belum diselesaikan dan paling lama selama 3 hari.

Tulisan ini pernah di posting Bapak Yohanes Supriyadi di http://www.akademidayak.com


Wednesday, May 2, 2012

Manfaat Rehabilitasi Mangrove di Kalbar mulai Dirasakan Warga

Manfaat Rehabilitasi Mangrove di Kalbar mulai Dirasakan Warga
Mangrove--ANTARA/Rosa Panggabean/bb
Penulis : Aris Munandar


REHABILITASI mangrove di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mulai membuahkan hasil. Warga setempat kini bisa memanen tengkuyung saat musim pasang laut. 

"Setiap hari ada 2-3 kilogram tengkuyung yang di panen warga saat air pasang," kata Idham,35, warga Karimunting, Selasa (1/5). 

Biota laut sejenis kerang ini hanya sebagian kecil dari manfaat yang dirasakan warga sejak kawasan mangrove direhabilitasi. Manfaat lainnya, warga kini bisa merasakan hidup tenang karena pemukiman mereka aman dari ancaman abrasi dan terjangan angin serta ombak laut. 

"Mangrove bisa menahan hembusan angin laut yang kencang," ujar Idham. 

Rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Kecamatan Sungai Raya Kepulauan ini dilakukan berbagai kalangan sejak 2009. Upaya itu dilakukan karena degradasi mangrove di jalur Pontianak-Singkawang tersebut sangat mengkhawatirkan. 

"Hampir seluruh mangrove yang kami tanam bersama teman-teman LSM dan Polisi Perairan Kalbar pada 2009, tumbuh sempurna. Ketinggian poho rata-rata 4-5 meter," kata staf Program Kelautan WWF-Indonesia Dwi Suprapti. 

Dia menjelaskan mangrove berfungsi sebagai kawasan penyangga dan pelindung pantai dari abrasi, erosi, dan pendangkalan serta terjangan badai. Selain itu, mangrove menyaring air laut ke daratan dan menetralisasi cairan limbah beracun. 

"Mangrove juga menjadi penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, sumber pakan bagi plankton dan biota laut lainnya serta unggas," jelas dokter hewan tersebut. (AR/OL-3)


sumber : http://www.mediaindonesia.com

Sunday, April 1, 2012

Promosikan Wisata Budaya Melalui Desa Sanggu

BUNTOK, KOMPAS.com — Apa ciri khas Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang terletak di Kalimantan Tengah? Ternyata, untuk mengembangkan pariwisata, salah satunya adalah dengan menonjolkan sisi wisata budaya.

"Kami akan mempromosikan berbagai macam kebudayaan yang ada di Barsel, salah satunya tata cara perkawinan adat, upacara keagamaan adat, dan hal-hal lain yang mencerminkan kebudayaan daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Barsel, Su’aib, di Buntok, Minggu (1/4/2012).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), akan menonjolkan program wisata kebudayaan daerah setempat, untuk mengembangkan pariwisata yang menjadi ciri khas Barsel.
  
Ia mengatakan, salah satu strategi yang digunakannya untuk mengembangkan pariwisata di kawasan setempat yakni dengan cara mempromosikannya melalui media massa dan membuat brosur yang memperkenalkan kebudayaan di Barsel.

Brosur yang dibuat itu nantinya akan dibagikan kepada setiap maskapai penerbangan agar dapat dibagikan untuk para penumpangnya. Intinya menggunakan jasa pihak ke tiga dalam mempromosikan daerah.

"Selain melakukan pembenahan sarana dan prasarana tempat pariwisata yang ada, kami juga akan membuat paket wisata khusus bagi pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Barsel," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, agar program paket wisata itu dapat berjalan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan kabupaten atau kota tetangga yang ada di Provinsi Kalteng. Khususnya dalam hal mempromosikan kebudayaan suku Dayak yang ada di Kalteng.

"Tidak hanya itu, dengan teknologi zaman sekarang kami juga sudah mempromosikan Barsel melalui website dan akun jejaring sosial seperti facebook. Sehingga yang melihat juga tidak hanya di Indonesia melainkan dunia," jelasnya.

Meski demikian, pihaknya masih memiliki beberapa kendala dalam mengembangkan program tersebut, salah satunya akses infrastruktur jalan yang menuju lokasi wisata masih kurang memadai.

Untuk melakukan pengembangan wisata minimal harus memiliki manajemen yang baik, seperti atraksi yang disuguhkan, fasilitas, dan tidak kalah penting akomodasi, serta akses untuk menuju lokasi wisata itu sendiri.

"Saat ini kami hanya mengandalkan obyek wisata yang gampang ditempuh aksesnya. Salah satunya adalah obyek wisata Desa Sanggu," ujarnya.

SUmber : Kompas.Com

Thursday, February 2, 2012

Tradisi Membuat EMPING (PAM dalam bahasa Dayak) Masyarakat Dayak menjelang panen


Ibu-ibu Dayak sedang mengikis/mengaus padi ketan

Ketika mendengar kata Emping, mungkin yang terlintas di benak kita adalah kerupuk melinjo atau sejinisnya. Tapi berbeda dengan Emping yang satu ini, Emping punya masyarakat Dayak. Emping ini terbuat dari padi ketan yang belum matang atau isitlah masyarakat Dayak Seberuang di sebut dengan pulut matak (padi ketan mentah) yang di petik langsung dari ladang. Proses pembuatanya juga terbilang rumit dan unik.
Proses pembuatannya dimulai dengan memilih padi ketan mentah (pulut matak) dari ladang, padi ketan yang di ambil harus yang benar-benar pas tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Proses ini perlu ketelitian dan keahlian dalam memilihnya dan ini biasanya dilakukan oleh ibu-lbu. Tahap selanjutnya adalah melepaskan buah padi ketan dari tangkainya (seperti digambar). Proses ini tidak seperti yang lazim kita lihat ketika petani selesai panen yang melepaskan padi dari tangkainya. Tahap ini dinamakan ngikis/ngaus sejenis meraut rotan yaitu mengosokkan bambu yang sudah di bentuk ke tangkai padi ketan tadi agar biji-biji padi terlepas dari tangkainya.
Setelah semua biji padi dilepaskan dari tangkainya, tahap selanjutnya adalah memasak biji padi ketan tersebut. Proses memasaknya juga berbeda dengan cara memasak biasa, padi ketan dimasukan ke dalam kuali yang berukuran besar yang muat beberapa gantang. Padi dimasak dengan kuali tanpa campuran apa-apa, di masyarakat Dayak dikenal dengan namanya ngrendang. Setelah kurang lebih 30 menit dimasak, padi ketan diangkat dan didinginkan. Proses memasaknya juga harus pas, tidak boleh mentah dan terlalu masak karna hasilnya tidak bagus.
Selanjutnya padi ketan yang sudah dingin tadi ditumbuk atau ditutuk dalam bahasa Dayak. Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat tradisional semua seperti Lesung, Alu, dan Capan. Tahanp ini benar-benar perlu tenaga ekstra untuk menumbuk padi tersebut sampai isi padi ketan (PAM) terpisah dari kulitnya. Dalam tradisi masyarakat Dayak seberuang juga kalau para remaja laki-laki mau menikah harus sudah bisa menumbuk padi minimal 3 orang dalam satu Lesung. Ini merupakan tahap terahir dalam proses pembuatan PAM / Emping masyarakat Dayak. Setelah di tumbuk padi ketan yang sudah jadi PAM (beras ketan muda) di tampi untuk memisahkan dari sampah kulit padinya.
Setelah semuanya selesai baru PAM bisa di santap ramai-ramai bersama keluarga besar, sebelum menyantapnya juga ada prosesi adat sebagai bentuk rasa syukur karena telah tibanya musim panen. Rasanya yang enak dan empuk dikunyah membuat makanan ini menjadi idola dimasyarakat Dayak. PAM akan lebih terasa nikmat kalau dimakan campur kepala parut dan gula merak.
PAM ini hanya bisa dinikmati satu tahun sekali yaitu pada saat musim panen tiba. Biasanya pembuatannya juga ramai-ramai dalam satu keluarga besar. Ini juga merupakan syarat adat sebelum padi bisa mulai di panen.
*Bonny Bulang Aktivis Ekonomi Kerakyatan dan Masyarakat Adat Dayak

Thursday, January 12, 2012

Inilah alasan penamaan Kabupaten Landak

Kabupaten Landak adalah salah satu Kabupaten di provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Memiliki luas wilayah 9.909,10 km² dan berpenduduk sebesar 282.026 jiwa. Landak terbagi menjadi 10 kecamatan dengan 174 desa dan 6 desa diantaranya termasuk desa tertinggal.

Kenapa nama daeranya menjadi Kabupaten Landak?
Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, LAN artinya Pulau dan DAK artinya Dayak, ini di karenakan mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak.

Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis Belanda zaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak". Kabupaten Landak ini sama sekali tidak berhubungan dengan binatang bernama landak.


Wednesday, June 22, 2011

Warga Lintang Bangun Rumah Betang

MASYARAKAT Desa Lintang Sub Suku Pompank merasa gembira dan menyambut pembangunan rumah panjang (Roming Domuh) di Desa Lintang Kapuas.
Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Bupati Sanggau Paolus
Hadi dan pemberkatan oleh Mgr Agustinus Agus OFM Cap (putradaerah Desa Lintang), Jumat
(17/6) lalu.
Kades Lintang Kapuas Fran Hermanus selaku ketua panitia Melaporkan pembangunan rumah panjang akan dimulai dengan semangat gotong royong masyarakat dan danaswadaya. Masyarakat kemudian didukung dana dari para donatur, dermawan dan pihak perusahaan setempat serta pemerintah daerah.
Tokoh masyarakat dan para temenggung merasa senang menyambut kehadiran dari wakil bupati beserta rombongan.
Ukuran rumah panjang yang akan dibangun dengan lebar 9,50 meter dan panjang45,50 meter. Selanjutnya masyarakat berharap agar ada perhatian bersama baik pemerintah maupun dinas terkait guna memikirkan supaya PLN dapat masuk ke Lintang Kapuas.
Mrg Agustinus Agus mengatakan pembangunan rumah panjang akan dapat dikerjakan dengan baik dan lancar apabila didukung dengan semangat kekompakan dan kebersamaan masyarakat.
Mengenai dana haruslah dimulai dengan swadaya masyarakat kemudian juga harus di dukung oleh para donatur, dermawan dan bantuan dari pihak perusahaan serta pemerintah daerah.
Wakil Bupati Sanggau Poulus Hadi Usai meletakan batu pertama menyampaikan pihak pemerintah mendukung terhadap keinginan masyarakat untuk membangun rumah panjang
atau rumah betang karena merupakan cagar budaya.
Mengenai jalan maupun Listrik pemkab telah berupaya agar jalan menuju desa Lintang dilakukan pengerasan, sedangkan listrik telah dibahas bersama PLN. (**/sbs)

Sumber: Tribun Pontianak

Upacara Mandor Harusnya Undang Jepang




LANDAK, TRIBUN - Sekda Landak, Ludis, dalam rapat koordinasi untuk Hari Berkabung Daerah (HBD) memperingati tragedi Mandor, Selasa (21/6), menyatakan seharusnya perwakilan Jepang juga seharusnya diundang untuk mengikuti peringatan tersebut di
makam juang Mandor, 28 Juni mendatang.
Upacara peringatan di Makam Juang Mandor, direncanakan mulai pukul 08.00 WIB.
Ludis meminta semua pejabat Landak sudah berada di makam pada pukul 06.00.
Pada 1943-1944, secara sadis Jepang membantai sekitar 21.037 warga Kalbar. Sebagian
di antaranya merupakan kaum cerdik pandai serta rakyat jelata.
Sebelum pembantaian itu, dikenal peristiwa cap kapak, di mana pasukan Jepang secara maraton mendobrak rumah rakyat dan mengangkut penghuninya. Tanpa pandang bulu, warga Melayu, Dayak,Tionghoa, ditangkap oleh Jepang.
Aksi genosida Jepang membungkam pembangkang politik di Kalbar, diungkapkan dalam harian Jepang, Borneo Simbun kala itu. Selanjutnya 28 Juni diyakini sebagai hari di mana Jepang melakukan eksekusi.
“Ini keganasan penjajah Jepang, seharusnya kita mengajukan ke provinsi agar perwakilan Jepang turut diundang untuk mengikuti upacara peringatan.
Agar dapat mengingatkan Jepang akan kebiadaban terhadap masyarakat Kalbar,” tutur Ludis.
Peringatan Hari Berkabung Daerah, dilakukan untuk mengenang puluhan ribu warga Kalbar yang dibungkam Jepang karena menyuarakan kemerdekaan. Sejarah mereka tidak akan terlupakan.
“Ini event se-Kalbar, hanya saja lokasi makam juang ada di tempat kita, Mandor. Persiapan
untuk tabur bunga, pengerahan massa, dokumentasi, keamanan, kesehatan, harus disiapkan,”
kata Ludis.
Dia mengaku memiliki kesan khusus dengan Hari Berkabung Daerah, karena dilantik sebagai Sekda bertepatan dengan hari tersebut. (dng)

Sumber : Tribun Pontianak.

Friday, April 2, 2010

SEJARAH PERSATUAN DAYAK (PD)


Persatuan Dayak (PD) merupakan organisasi pertama bagi orang Dayak yang sangat mendarah daging di dalam lingkungan masyarakat Dayak dan sangat berjasa serta mempunyai peran yang sangat besar untuk kemajuan dan persatuan masyarakat Dayak.

Banyak generasi muda Dayak yang tidak begitu memahami tentang Sejarah Persatuan Dayak (PD), bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mengenal dan mendengar apa itu Persatuan Dayak (PD).

Untuk itu, kami rasa perlu menceritakan kembali tentang Persatuan Dayak (PD), supaya generasi berikutnya dapat memahami dan tidak terjadi kesimpangsiuran tentang sejarah Persatuan Dayak (PD), karena informasi yang kami dapatkan selain dari Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Persatuan Dayak (PD) juga dari para pengurus dan anggota Persatuan Dayak (PD). Informasi ini kami kumpulkan dari tahun 2002.

Mengenai Sejarah Persatuan Dayak ini, tiap tahunnya sudah kami perkenalkan pada event Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat di Pontianak melalui buku Panduan Materi Acara, dengan maksud mengingatkan kembali kepada warga Dayak tentang Persatuan Dayak yang sangat berjasa dalam kehidupan masyarakat Dayak yang dapat dirasakan sekarang ini manfaatnya.

Persatuan Dayak didirikan pertama kali di Putusibau, Kabupaten Kapuas Hulu oleh (Alm) Frans Connrad Palaunsoeka pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama Dayak In Action. Ketuanya adalah (Alm) FC. Palaunsoeka sedangkan Sekretaris adalah Bapak (Alm) Rafael Sarang (Bapak Mertua dari LH Kadir).

Gagasan didirikannya Persatuan Dayak ini berdasarkan pertemuan guru-guru agama katolik se-Kalimantan Barat di Sanggau tahun 1942.

Tujuan didirikannya Dayak In Action ini yaitu :

- Untuk mempersatukan masyarakat dayak yang terdiri dari berbagai macam sub suku.

- Untuk memperjuangkan hak-hak dan martabat masyarakat dayak dari penjajahan dan pendatang agar bisa sederajat.

- Menurut keadilan sosial dalam masyarakat.

Pada tahun 1946 beberapa daerah (kabupaten) meminta untuk memindahkan kedudukan Dayak in Action ke Pontianak sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Dan pada tanggal 1 Januari 1947 pemindahan Dayak In Action dan penggantian nama menjadi Persatuan Dayak diumumkan secara serentak ke seluruh Kalimantan Barat.

Tujuan dari Persatuan Dayak yaitu :

1. Mempertahankan kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia

2. Mewujudkan suatu susunan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah-daerah yang di bentuk berdasarkan kehendak rakyat (demokrasi)

3. Melaksanakan keadilan sosial dalam masyarakat .

4. Mewujudkan perbaikan nasib Suku Bangsa Indonesia Dayak yaitu dengan mengangkat derajat penghidupan, mempertinggi pengetahuan, menghapuskan kesengsaraan dan penderitaan.

Usaha untuk mencapai maksud :

1. Memperkuat semangat persaudaraan

2. Memperkuat keinsyafan dan keyakinan atas tenaga sendiri, berpegangan kepada semboyan atas tenagamu, tergantung nasibmu.

3. Memperkuat keinsyafan dan keyakinan akan artinya dan faedahnya bekerja bergotong royong dan bantu membantu.

4. Menganjurkan cara bekerja yang sistematis dan organisatoris

5. Menjalankan ikhtiar-ikhtiar yang tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan pemerintah, maupun hukum adat yang masih berlaku.

Adapun Pengurus inti Persatuan Dayak (PD) adalah :

Tahun 1947-1958

Ketua Umum : Agustinus Djelani (Asal Taman Kapuas,Kapuas Hulu)

Sekretaris : - Michael Anai (Asal Mempawah Hulu) tahun 1947-1952

- A. Sani (Asal Toho) tahun 1952-1958

Bendahara : M. Nyabu (Asal Sanggau)

Tahun 1958-1962 (Berdasarkan hasil Kongres PD di Sintang)

Ketua Umum : FC. Palaunsoeka (Asal Taman Kapuas, Kapuas Hulu)

Wakil Ketua : Saiyan (Asal Pa’Kumbang)

Sekretaris Jenderal : Victor Oendoen (Asal Nyarumkop)

Bendahara : M. Nyabu (Asal Sanggau)

Pemilu tahun 1955 Persatuan Dayak menduduki urutan ke 2 (dua) di Kalimantan Barat sedangkan urutan pertama kemenangan pada pemilu ini adalah Masyumi.

Pada kepemimpinan Bp. FC. Palausoeka, Persatuan Dayak bergabung dengan Partai Katolik dapat merebut kemenangan pada pemilu tahun 1958 di Kalimantan Barat sehingga dapat menghasilkan Gubernur dan Bupati dari suku Dayak di Kalimantan Barat yaitu :

- JC. Ovang Oeray sebagai Kepala Daerah

- YR. Giling sebagai Bupati Kapuas Hulu

- GP. Djaoeng sebagai Bupati Sintang

- TH. Djaman sebagai Bupati Sanggau

- Agustinus Djelani sebagai Bupati Pontianak

- FC. Palaunsoeka sebagai anggota MPR Utusan Kalimantan Barat

Sebelum JC. Ovang Oeray menjadi Gubernur Kalimantan Barat, propinsi Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang Kepala Daerah bukan Gubernur.

Pada tahun 1959 Propinsi Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang Gubernur Kepala Daerah dan JC Ovang Oeray merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Gubernur Kepala Daerah di Kalimantan Barat.

Program Perjuangan Persatuan Dayak (PD)

Bidang Politik

1. Supaya Irian Barat selekas lekasnya kembali ke dalam Wilayah Republik Indonesia

2. Supaya Republik Indonesia tetap tinggal Negara Hukum dan Demokratis.

3. Supaya Negara dan alat-alatnya selalu menghormati, melindungi dan menjamin hak-hak kemerdekaan tiap-tiap individu menurut hak-hak asasi manusia.

4. Supaya keamanan, perdamaian, keadilan dan peradapan selalu terjamin.

5. Supaya dasar Negara Pancasila jadi praktek sehari-hari oleh pembesar dan alat-alat Negara.

6. Supaya alat kekuasaan Negara hanya akan dikerahkan untuk keselamatan dan kebahagiaan umum.

7. Agar kesatuan undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah mempunyai dasar-dasar kebahagiaan umum dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia

8. Hak-hak yang sama dan perlakuan sama dan adil terhadap setiap rakyat dan golongan penduduk warganegara Indonesia.

9. Supaya Negara Kesatuan Republik Indonesi tidak mempunyai struktur-struktur seperti dalam jaman kolonial

10. Agar diadakan desentralisasi yang demikian rupa, sehingga kepada tiap-tiap daerah bagian Negara sampai kepada persekutuan-persekutuan yang terkecil diberikan otonomi luas dan hak mengurus diri sendiri.

11. Untuk menjamin dan memudahkan demokrasi dengan dewan-dewan perwakilan rakyat di tiap-tiap daerah bahagiaan, juga untuk persekutuan-persekutuan yang terkecil dan kepada suku-suku yang terbelakang untuk mempunyai wakil-wakilnya sendiri.

Bidang Pengajaran (Pendidikan)

1. Supaya kewajiban belajar yang umum dilaksanakan dan di atur dengan undang-undang

2. Supaya pemberantasan buta huruf dijalankan dengan seksama dan seluas-luasnya

3. Supaya pengajaran didasarkan pada memperdalam perasaan kebangsaan dan persatuan serta rasa pengasingan dan perikemanusiaan

4. Kebebasan sepenuhnya bagi badan-badan dan inisiatif partikulir dalam mendirikan sekolah-sekolah serta bantuan dan perlindungan pemerintah

5. Hak dan perlakuan yang sama bagi sekolah-sekolah, guru-guru dan murid-murid sekolah partikulir yang mempunyai syarat sama dengan sekolah negeri

6. Kebebasan kepada rakyat untuk memasuki sekolah yang disukainya

7. Kesempatan luas dan sokongan bagi para pemuda dan pemudi untuk melanjutkan pelajaran mereka ke sekolah-sekolah tinggi dengan tidak membedakan golongan dan agama.

Bidang Kebudayaan

1. Membimbing jiwa budaya kearah perkembangan nasional

2. Menyokong perkembangan kebudayaan daerah

Bidang Agama

1. Kemerdekaan dijamin, bantuan dan perlindungan yang sama kepada semua persekutuan agama

2. Kemerdekaan bagi setiap orang untuk memeluk dan berpindah agama

3. Kemerdekaan belajar dan mengadakan sesuatu agama yang di akui

4. Pengajaran agama di sekolah diberikan seturut agama atau seturut kamauan

5. Kebebasan dalam melakukan pekerjaan dan upacara agama

Bidang Sosial

1. Memajukan kebersihan umum dan keselamatan

2. Perbaikan nasib rakyat jelata serta bantuan kepada serikat-serikat kaum tani

3. Kemerdekaan, dorongan dan sokongan atas badan-badan partikulir yang bekerja untuk perbaikan sosial dan kesehatan rakyat. Hak dan kewajiban sama rata atas badan-badan sosial partikulir yang memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah

4. Kemerdekaan mendirikan badan-badan amal dan sosial serikat sekerja serta pemerintah

5. Bantuan dan pemeliharaan orang-orang malang, piatu dan miskin

6. Mencegah perbudakan, kerja paksa kepada tiap-tiap anggota masyarakat

7. Keselamatan dan kepentingan serta perbaikan nasib kaum tua dan kaum muda baik dalam arti jasmani baikpum rohani

8. Kemajuan semangat gotong royong dan suka rela

9. Kemerdekaan dan kesempatan bagi seseorang untuk jadi pegawai dan memegang jabatan-jabatan dengan tidak membedakan agama dan golongan

10. Jaminan hidup dan perlindungan atas buruh serta peraturan gaji dan upah yang patut berdasarkan keadilan peri kemanusiaan.

Bidang Kemakmuran

1. Mempertinggi kemakmuran dan kebahagiaan rakyat sebagai kewajiban yang utama dari pemerintah

2. Mencegah dictator ekonomi dan memperjuangkan kebebasan untuk berusaha serta kebebasan mempunyai dan penghormatan hak milik.

3. Supaya kepentingan dan kebahagiaan umum jadi sebagai dasar dari semua usaha-usaha perseorangan

4. Nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang sangat penting bagi keperluan umum.

5. Bantuan dan dorongan serta pimpinan kepada rakyat dalam mendirikan koperasi-koperasi kampong serta lumbung-lumbung desa dan usaha-usaha yang memperbesar factor-factor produksi.

6. Memajukan semangat bekerja dan berusaha

7. Pendirian bank-bank rakyat serta kesmpatan pinjaman bagi kaum tani

8. Perkembangan perekonomian dan perindustrian nasional, perdagangan dan harga yang adil, pemberantasan korupsi dan riba

9. Melindungi hak-hak tanah rakyat dan menjaga agar setiap orang dapat mempunyai sumber penghidupan.

Masyarakat Dayak boleh berbangga hati karena para pengurus Persatuan Dayak pada zaman itu sudah mampu berpikir tentang berbagai aspek seperti ekonomi, kesejahteraan, sosial, pendidikan, dan lainnya. Padahal sampai saat ini suku Dayak masih dianggap suku primitif pleh pihak lain, masih dianggap terbelakang, namun Para Tokoh masyarakat Dayak pada zaman itu mampu menunjukan kemampuan mereka untuk berkarya, memipin, mempelopori dan mempersatukan suku Dayak di Kalimantan Barat yang terdiri dari berbagai macam sub suku dalam Persatuan Dayak.

Padahal transportasi pada era tahun 1945 sangat minim dan terisolir tapi Tokoh masyarakat Dayak pada masa itu memang betul-betul berjuang.

Bahkan pada tahun 1949 masyarakat Dayak sudah mempunyai lagu March Persatuan Dayak yang diciptakan oleh FC. Palaunsoeka. Lagu tersebut atas persetujuan ahli waris (istri Bp. FC. Palaunsoeka) menjadi lagu March Dayak, yang selalu dinyanyikan setiap acara-acara yang berkaitan dengan kegiatan Dayak. Bahkan sudah diputuskan dalam Munas II Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) di Pontianak Tahun 2006, bahwa lagu March Dayak adalah lagu Persatuan Dayak se-Kalimantan.

Tidak semua suku-suku yang ada di Indonesia pada masa itu mempunyai lagu persatuan tapi orang Dayak sudah punya lagu Persatuan, dimana lagu tersebut diciptakan pada era alat-alat musik masih sangat minim dan terbatas di Kalimantan Barat.

Untuk itu, kita sebagai penerus para Tokoh tersebut, jangan mau kalah, harus mampu menunjukkan bahwa generasi di mana transportasi lancar dan era komputerisasi dan telekomunikasi sudah memasyarakat di Kalimantan Barat, kita kaula muda mampu dan dapat berkarya seperti tokoh-tokoh tersebut, bahkan harus lebih baik dari mereka.

Dan kesuksesan tersebut jangan sampai terputus di tangan generasi berikutnya, terus meraih kesuksesan dengan pengkaderan.

Sumber :

1. Pengurus PD dan anggota PD :

- Baroamas Masuka Janting (Pontianak)

- Alep Gompeng (Bengkayang)

- Apai (pengurus adat Sekadau)

- ID. Soeryamassoeka (Pontianak)

- H. Omar (Sanggau)

2. Pengamat PD

3. Anggaran dasar PD

Friday, February 19, 2010

SANG-KEU-JONG,

Nurhadi Rangkuti
Staf Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

KOTA CINA DI BELANTARA KALIMANTAN BARAT

Siang yang amat panas bikin badan jadi lemas, enerji cepat terkuras sengatan matahari. Apalagi pasir putih memantulkan cahaya sang surya ke atas, hingga keringat semakin deras mengucur. Bentangan pasir putih yang tebal memang bikin kaki makin berat mengayun. Namun bukan karena itu langkah mendadak berhenti.

Di depan, tampak seonggok kayu hitam yang separuh terbenam pasir. Di dalam kayu yang berongga itu tergolek sebuah tengkorak manusia berikut tulang-belulang. Mata pun otomatis menyapu daerah sekitar. Benar juga tak jauh dari situ berserakan pecahan-pecahan peti kayu yang berisi kerangka manusia.

Tak pelak lagi, ini tanah kuburan. Ditilik dari bentuk peti mati yang membulat dengan sudut melengkung, jelas bahwa itu adalah peti mati orang Cina yang oleh masyarakat Singkawang disebut "kon choi". Peti ini dibuat dari kayu belian yang kuat dan tahan kikisan waktu.

"Kuburan itu paling lama usianya seratus tahun", kata Budi Rijanto alias Liauw Hai Leng (51 tahun), pemilik pabrik keramik Tajau Mas di dusun Padang Pasir. Dusun ini termasuk Desa Sedau, Kecamatan Tujuhbelas, dan terletak sekitar 6 km di sebelah selatan Kota Singkawang. Kuburan yang dimaksud berada sekitar 100 meter di belakang pabriknya. "Kuburan itu dibongkar penduduk yang kerjanya mengambil pasir untuk bahan bangunan", katanya lagi. Aneh juga, biasanya orang Cina punya tradisi kuat merawat makam leluhurnya. "Mungkin kerangka itu dulunya seorang imigran Cina yang datang ke sini dan tak punya sanak saudara", kilah Liauw Hai Leng.

Kuburan yang relatif kuno serta nama Kampung Padang Pasir, yang kenyataannya memang ada hamparan pasir laut di tengah daratan, merangsang rasa ingin tahu tentang asal muasal tempat dan nama Singkawang. "Singkawang itu berasal dari kata Sang-KeuJong, artinya kuala dan gunung", kata lelaki Cina itu menerangkan.

Setelah dicek pada kitab sejarah lokal milik pemda, Sang-Keu-Jong memang merupakan nama asal Singkawang. Namun kitab itu tidak menerangkan artinya. Meskipun demikian, pemyataan Liau Hai Leng mengandung kebenaran juga. Apalagi kalau dilihat geografi Singkawang terdiri dari dataran rendah daerah pantai yang dilingkungi bukit dan gunung. Antara lain Gunung Poteng (atau Keu Theu San, menurut bahasa Cina Kek) yang bentuknya seperti ibu jari. Satu bukti bertambah tatkala melihat kegiatan orang menggali tanah liat untuk mebuat keramik di belakang pabrik Tajau Mas. Kira-kira pada kedalaman 3 meter, para penggali sudah menemukan tanah laut.

Kaki pun kembali melangkah mengikuti jalan yang ditunjukkan Hu Tjhiung Fo. Kira-kira sepuluh menit menapaki jalan raya, di kejauhan terlihat kelenteng merah berdiri di atas "bukit" batu besar. Ada anak-anak tangga semen mendaki munuju kelenteng. Bangunan pemujaan ini tidak besar, pada dinding batu terpahat kepala singa. "Toh pe kong ini sekarang namanya Tri Dharma Bumi Raya dan papan namanya yang kini telah rusak menyebutkan angka tahun 1661 Masehi", ujar Hu Tjhiung Fo. Kemudian ia mengisahkan legenda tentang kuil kuno itu. Dulu para pendeta santai duduk memancing di atas batu yang dibawahnya air lauL

Dan penduduk sekitar hidup membuat garam.

Dan memang.di bawah tangga semen terdapat alat penggiling garam yang terbuat dari batu berbentuk silinder bergaris tengah 50 cm.

Beberapa tahun yang lalu di sekitar Padang Pasir yang masuk daerah Tanjung Batu, penduduk melakukan penggalian dan menemukan sisa-sisa sampan kuno serta keramik Cina asal Dinasti Ming, kata Liauw Hai Leng sungguh-sungguh, meskipun Kanwil Depdikbud Singkawang menyatakann belum menerima laporan penemuan purbakala itu.

Hati jadi penasaran, maka langkah jadi ringan menelusuri daerah sekitamya, untuk mencari informasi tentang kepurbakalaan di sana. Tak terasa tibalah di Desa Kali Asin, sebuah kampung Cina yang letaknya 2 km di selatan Desa Sedau. Bukankah nama Kali Asin ada hubungannya dengan laut?

Dulu desa ini narnanya jam Tang, artinya lapangan garam", kata Bapak A Tet (74 tahun), sesepuh kampung itu. "Menurui ceriteranya, daerah ini dulunya pantai tempat membuat dan menjemur garam". Pantai yang ada sekarang letaknya 3 km di barat kampung yang dibelah oleh jalan raya Singkawang-Pontianak itu. Salah seorang penduduk, Hu Thiung Fo (35 tahun), menambahkan sewaktu ia membuat sumur pada kedalaman dua meter telah menemukan pasir laut dan airnya payau. "Kampung ini memang tanah kuno, tak jauh dari sini ada bukti-buktinya", ajaknya antusias.

Sejarah Kota Singkawang memang tak bisa dipisahkan dengann orang Cina. Semua nama tempat, gunung dan sungai mempunyai nama yang berasal dari Cina; misalnya, Gunung Tanjung Batu yang dulu bernama Ha Sha Kok, atau Gunung Keu Theu San yang sekarang berganti nama menjadi Gunung Raya, atau Jam Tang yang kini menjadi Kali Asin, atau nama Kota Singkawang itu sendiri yang dulunya Sang-Keu-Jong.

Dalam sejarah memang disebutkan, sebelumnya orang Cina berpusat di Montrado, 40 km di sebelah tenggara Singkawang. Mereka mendirikan kongsi-kongsi dalam usaha penambangan emas di sana.

Sekarang hampir tidak ditemukan orang Cina di Montrado, habis tergusur sewaktu peristiwa PGRS / Paraku tahun 1967. Yang tinggal sekarang orang Melayu, Dayak dan Bugis berikut perusahaan penambangan emas milik pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan asing.

Bukti bahwa Montrado pemah menjadi pusat kegiatan orang-orang Cina, adalah tugu peringatan yang didirikan Belanda atas pertempurannya dua kali dengan orang-orang bermata sipit itu, yaitu tahun 1852-1854 dan 1914-1916.

Bukti-bukti lainnya, pecahan-pecahan keramik yang banyak tersebar di tanah Montrado, namun terabaikan. Untunglah ada seorang keramolog amatir, Ny. Marquerite Wyntje, istri pimpinan perusahaan, yang tekun mengumpulkan dan menyambung pecahan-pecahan itu menjadi utuh, maka terlihatlah mangkuk, piring, guci, pipa opium, wadah emas, kebanyakan berasal dari Dinasti Qing, Belanda dan lokal. Siapa tahu lewat beling-beling itu dapat dilihat perpindahan pusat kegiatan masyarakat Cina dari Montrado ke Singkawang.

Sang-Keu-Jong memang masih miskin dengan penelitian purbakala.

Warisan budayanya banyak yang masih terkubur, menunggu kedatangan ilmuwan menguak misteri tanah ini.

Tuesday, December 1, 2009

Tolak Balak (Upacara Balala) Tayan - Sanggau

Tolak balak merupakan salah satu tradisi Orang Dayak di kampung, untuk mengusir hama penyakit tanaman.

Sekitar tahun 1960an di daerah Kecamatan Tayan Kabupaten Sanggau saat ini, terjadi kelaparan akibat terjadinya wabah hama yang menyerang tanaman masyarakat pada waktu itu. Seluruh tanaman yang di tanam tidak memberikan hasil.

Oleh kepala adapt, seluruh rakyat diundang berunding di rumah betang. Masing-masing orang yang dating diberi kesempatan untuk memberi pendapat untuk menanggulangi masalah hama tersebut.

Dalam musyawarah yang sangat memeras otak ini, ada seorang tua berdiri dengan nada serius, menganjurkan jalan satu-satunya yang dapat ditempuh ialah harus mengadakan upacara adapt. Karena telah tiga tahun tidak pernah panen, maka harus dipersembahkan tiga kepala.

Kita harus mengayau tiga kepala manusia. Kebutuhan melakukan persembahan kurban dapat melalui mimpi, perasaan dan pertanda lainnya.
Mereka yakin ini datangnya dari Jubata atau roh halus yag mereka percayai. Karena cara pengayauan ini telah lama tidak pernah dijalankan, maka merekapun bingung memikirkannya.

Namun demikian demi kelangsungan hidup suku dan masyarakat, mereka mulai menyusun acara dan mengadaka persiapan sertya persiapan upacara “Tolak Balak”. Kampung pun dihiasi dengan pernak pernik cirri khas Dayak.

Biasanya upacara ini tidak mengijinkan orang dari suku lain masuk atau pun keluar kampong tempat upacara diadakan. Apalagi kalau ada orang yang bersama dalam upacara Tolak Balak tersebut tidak dikenal. Kalau menganggu kelancvaran upacara, orang tersebut akan dikekakan hukuman adapt dengan membayar seluruh biaya upacara. Dan kalaupun terpaksa orang tersebut akan di bunuh. Dalam upacara Tolak Balak (Balala) yang sedang dilangsungkan tersebut kebetulan masuk tiga orang tukang emas (pandai emas) dengan pikulannya. Tetapi karena ada dan tradisi suku Dayuak, seorang tamu yang masuk dengan sopan harus dijaga keselamatannya dan harus diberi tumpangan sepatutnya.

Upacara Balala jalan terus. Ketiga orang ini dijamin keselamatan dan makanannya. Usaha membentuk segala perhiasan pun bisa dikerjakan dengan bebas. Beberapa bulan kemudian selesailah semua pekerjaan membentuk segala perhiasan orang kampong. Ketiganya mulai bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya. Menurut adapt Suku Dayak, apabila tamu tekah berada di luar lingkungan kampunnya, berarti telah lepas dari tanggung jawab mereka. Di sinilah kesempatan mereka untuk mengayau ketiga orang asing tersebut sebagai kurban dalam upacara Tolak Balak yang sudah direncanakan sebelumnya.

Sejak mereka mempersembahkan ketiga kepala orang pandai emas, seluruh pertaniannya menjadi subur, mereka mendapatkan panen yang berlimpah dari Jubata. Tiap kali panen tak lupa mereka mengadakan acara pesta pemujaan (ucapan syukur) di hadapan tiga arwah korban perdamaian antara mereka dengan Jubata yang telah memberi berkat panen yang berlimpah-limpah.

Pengayauan yang dilakukan dalam upacara Tolak Balak tersebut meninggalkan bukti berupa peti pikulan dan perabotan pandai emas yang kemudian ditemukan setelah tiga tahun kemudian dalam keadaan utuh, pada tempat bekas pengayauan (TKP).

Kejadian pengayauan ini juga sudah di usut oleh pemerintah melalui kepolisian rakyat kampong seluruhnya tidak ada yang mencoba menyangkal, semuanya mengaku dan membenarkan semua kejadian tersebut. Seluruh pemegang adat dan rakyat bersedia menerima ganjaran sesuai dengan hukum yang sedang berlangsung saat itu. Dalam motip pengayauan ini jelas kelihatan keterikatan tradisi dan kepercayaan mereka, demi menyelamatkan rakyat yang sedang kelaparan pada waktu itu.

Sumber : Cerita W.Wuisang kapten pol, Kepala Staf Resort Kepolisian di Mempawah



Bookmark and Share

Monday, November 23, 2009

Jangkang dalam Rekam Jejak Zaman Kolonial

Oleh : R. Masri Sareb Putra

Adakah Jangkang dalam peta dunia? Terdeteksikah etnis ini dalam khasanah bahasa dan peradaban bangsa-bangsa?

Kita hampir musykil menemukan di mana posisi Jangkang sebelum merdeka dalam peta dunia. Wilayah yang mengelilingi Gunung Bengkawan itu belum terekam dalam khasanah dan pergaulan internasional.

Praktis, Jangkang hanya ada dalam satu dua wacana di masa prakemerdekaan. Yang hanya disebut sekelebat saja, ketika membahas suku-suku lain, misalnya Bidayuh, Iban, Kenyah, dan Kayan yang menjadi terkenal di mancanegara karena Sir James Brooke, “Rajah Putih Penguasa Sarawak”, yang memerintah negeri berpenduduk mayoritas Dayak itu gemar “menjual” etnis Dayak ke luar.

Lepas dari usahanya mengenalkan etnis Dayak ke luar, dan dari sana nantinya banyak etnolog dan peneliti menulis tentang Dayak, satu kelicikan Brooke patut untuk dicatat. Betapa tidak! Ia mahir menggunting dalam lipatan. Setelah membantu Sultan Brunei menumpas para pemberontak Dayak Bidayuh melawan Sultan Brunei, ia kemudian memreteli kekuasaan Sultan. Bahkan, dinobatkan menjadi raja putih bagi suku Dayak. The white king begun stealing in the Dayak’s land from here!

Pelajaran yang ditinggalkan Brooke pantas dicatat untuk kemudian disimak. Ia telah membangun dinasti di Negeri Sarawak, menerapkan nepotisme, kekuasaan dibuatnya berpusat pada satu tangan. James Brooke 27 tahun menjadi raja Sarawak (1841-1868). Ia digantikan keponakanya Charles Brooke (1868-1917), dan raja ketiga adalah Charles Vyner Brooke (1917-1941). Dengan demikian, dinasti Brooke ini berkuasa di Sarawak sampai tahun 1941.
Sir James Brooke, Si Raja Putih yang "menjajah" Negeri Dayak.

Karl Helbig, salah satu cendikiawan Barat yang jadi populer karena meneliti etnis Dayak.

Selain menempel ketenaran Dayak Bidayuh, Jangkang disebut sekilas dalam catatan Karl Helbig, seorang penjelajah dan etnologist berkebangsaan Jerman yang bernama lengkap Karl Martin Alexander Helbig. Itu pun disebut sambil lalu, tatkala Helbig mengisahkan ekspedisinya melintas Borneo dari Songkong (mestinya Sungkung)sebuah tempat tinggal Dayak Sarawak yang letaknya tidak jauh dari Jangkang.

Keraton Kerajaan Sambas, populer disebut “Alwatziqubillah”, punya hubungan historis dengan Sarawak dan Brunei. Hubungan historis ini yang menjadi latar, mengapa Dayak di Malaysia sudi membantu saudaranya di Kalimantan Indonesia waktu kerusuhan Sambas.

Tidak secara telak menyebut, namun Jangkang sempat dicatat sebagai salah satu subsuku Dayak di kerajaan Sanggau yang terkenal gagah berani dalam peperangan. Merekalah headhunting yang sesungguhnya.

Dibandingkan etnis Melayu, Dayak di wilayah kerajaan Sanggau cukup menjadi perhatian para pakar antropologi budaya dan menjadi pokok kajian (objek material) ilmiah sejak zaman kolonial. H.P.A Bakker misalnya, dalam jurnal Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde volume 29 yang terbit tahun 1884, sambil menyingung mengenai sejarah Kerajaan Sanggau, sempat menyentil tentang kepercayaan dan adat istiadat penduduk setempat.

Kemudian, M.C. Schadee, Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur (Kontrolir Pamong Praja) mencatat kepercayaan suku Dayak di daerah Landak dan Tayan yang disebutnya sebagai shamanisme.

Karena Tayan merupakan asal nenek moyang Dayak Jangkang (Macan Luar alias Kek Gila), maka bolehlah ditarik kesimpulan bahwa pada masa sekitar awal abad 18, kepercayaan penduduk asli Tayan sama dengan yang kemudian dibawa ke Jangkang. Pendiri Jangkang, “Kek Gila” berasal dari Tayan.

Pada zaman kolonial, dan hingga masa pendudukan Jepang, Jangkang kurang menarik perhatian pemerintah jajahan. Hal ini karena luasnya kepulauan Borneo. Apalagi, waktu itu, Borneo belum menjadi wilayah kolonial sendiri. Dan baru pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost (Stbld. 1936/68). Borneo Barat menjadi daerah Karesidenan dan sebagai Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost yang pusat pemerintahannya adalah Banjarmasin.
Dua tahun kemudian, Gouvernementen van Borneo dibagi dua. Yakni Residente Zuideen en Oosterafdeling van Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Residente Westerafdeling dengan ibukotanya Pontianak.
Jangkang nan menawan terletak di kaki Gunung Bengkawan. Sejuk hawanya, segar udaranya, indah panorama alaminya.

Tiap-tiap Residente dikepalai seorang Resident dengan Besluit Gouverneur van Borneo tertanggal 10 Mei 1939 No.BB/A-I/3/Bijblad No. 14239 dan No.14239 a) Residensi Kalimantan Barat dibagi menjadi empat afdeling dan 13 onder afdeling.

Jarak Jangkang ke sebuah kota kecil tepi Sungai Mengkiang, Balai Sebut, yang kini menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Jangkang dan paroki Jangkang, adalah 7 km.
Hingga tahun 1980, transportasi hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Praktis, kontak dengan dunia luar dan pusat pemerintahan di luar daerah itu melalui sarana transportasi air yang harus dilayari dengan perahu bermotor 18-24 jam, menginap di perjalanan, dan baru diteruskan esok harinya.
Jika tidak memungkinkan, misalnya jika musim kemarau dan perahu motor terdampar di Riam Kaboja, maka perjalanan akan lebih lama lagi. Jika keadaan tidak memungkinkan, biasanya ke Sanggau orang Jangkang akan berjalan kaki. Melintasi kampung Sekantut, Parai, Jeropet, daerah Jungur Tanjung, Entakai, hingga masuk kota Sanggau.

Meski cukup jauh dari Jangkang, Sungai Mengkiang boleh dikatakan sangat strategis karena beberapa hal.

Pertama, sungai yang juga sering disebut Moncangk itu memberikan kehidupan bagi penduduk karena ikannya berlimpah dan terkenal lezat. Lais, baong, tuman, tapah, dan seluang merupakan ikan kegemaran. Orang Jangkang sering mencari ikan di sungai ini, bersama-sama dengan orang Melayu Balai Sebut, tapi tidak pernah berkelahi soal tempat. Bahkan, ada semacam kesepakatan di antara mereka tidak boleh mengambil ikan yang masuk alat penangkap ikan berupa pukat, tajor, kail, ijap, tabent, kolabant.

Kedua, Sungai Mengkiang menjadi strategis karena posisi muaranya yang jatuh tepat di Sungai Sekayam, letaknya tidak jauh dari kota Sanggau di mana Sungai Sekayam bermuara. Sedemikian strategisnya, sehingga Muara Mengkiang bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau ketika didirikan Dara Nante yang bersuamikan Babai Cinga.

Akan tetapi, pada zaman pemerintahan Dayang Mas, kota raja dipindahkan dari Sanggau ke Nanga (Muara) Mengkiang. Lalu kembali berpusat di Sanggau lagi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin.

Ditengarai bahwa dari Nanga Mengkiang inilah kaum Melayu berawal dan membangun pemukiman di sepanjang pesisir Sungai Mengkiang; meski pada zaman prasejarah, sebenarnya moyangnya satu dengan Dayak. Buktinya, kebanyakan kampung/desa di pesisir Sungai Mengkiang mayoritas, bahkan ada yang seluruhnya, Melayu. Sungai Mengkiang, Balai Sebut.

Perkampungan Melayu paling hulu, dan sekarang menjadi pusat ibukota kecamatan Jangkang, adalah Balai Sebut. Tahun 1970-an, 90% warganya Melayu, sisanya Dayak, dan sebagian kecil Tionghoa sebelum etnis ini ditarik ke kota sebagai buntut dari upaya penumpasan PGRS/Paraku. Kini warga Balai Sebut separuhnya Dayak. Mereka bermukim dan mendirikan rumah-rumah agak jauh dari pantai. Ini sesuai dengan kebiasaan orang Dayak pada umumnya. Karena itu, mereka disebut “Sidak Darat” (orang darat) oleh Melayu Balai Sebut.

Dan memang demikianlah kebiasaan orang Dayak. Mereka lebih suka mendirikan perkampungan dan bermukim jauh dari tepi sungai. Itu sebabnya, para pengamat dan penulis asing menyebut mereka Land Dayak, bukan riverside, tapi upperside, karena memang senang bermukim di daratan.

Ditilik dari pola pemukiman dan persebaran penduduk, penghuni Balai Sebut adalah etnis Melayu. Miskinnya sumber-sumber dan catatan tertulis tidak cukup adekwat untuk menyimpulkan kapan etnis Melayu pertama bermukim di Balai Sebut. Tahu-tahu sudah ada etnis yang oleh Dayak Jangkang disebut “Sinan” ini bermukim di pesisir Balai Sebut yang indah karena berbentuk terusan.

Akan tetapi, sumber tertulis seperti catatan seorang misionaris asal Belanda, Herman Josef van Hulten tahun 1940-an, sudah menyebut pemukiman Melayu ini. Dengan sedikit mendeskripsikan kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misonaris Belanda, Herman antara lain mencatat,

“...Maar weer terug naar Jangkang –tweemaal 70 km te voet, voor niks en strakjes weer opnieuw! Na een half jaar de tweede oproep; weer die 70 km afleggen. Ik sta weer voor het gebow en weer in habijt. Tientallen mensen staan te wachten. Eindelijk hoor ik duidelijk de naam Bong, burgemeester van Balai- Sebut, dus nu moet mijn naam ook volgen. Dan reoept iemand: “Pastor Herman van Jangkang”. Aller ogen zijn op mij gericht; ik ga de trap op, waar Bong al op het bankje zit en mij de plaats naast hem wordt aangewezen. De twee rechters zijn zeer vriendelijk en wensen mij n.b. in Nederlands goedemorgen, wat ik ook vriendelijk beantwoord, terwijl zij mij de hand geven. Een van de twee rechters –ze spreken nog steeds in het Nederlands—vraagt mij eerst een eed af te legen—wat gebeurt. Daarop: “Pastor Herman, vertelt U eens wat er is gebeurt... De rechter herhaale dit in het Maleis en zei erbij van nu af de Malaise taal te gebruiken, zodat de heer Bong het ook zou kunnen volgen. Nu gaf de rechter de heer Bong de gelegenheid om er iets tegenin te brengen....” (Hulten, 1983: 248-249).

Dari deskripsi mengenai Balai Sebut dan perlakuan salah satu pemimpin Melayu di pemukiman tepi sungai Mengkiang ini dapat disimpulkan bahwa ada semacam kekurangsukaan dari pihak Melayu atas kehadiran misionaris asing di Jangkang. Tidak semua, namun hanya sebagian.

Buktinya, ketika gereja dan sekolah Jangkang pertama kali didirikan, para tukang adalah etnis Melayu Balai Sebut yang mengerjakannya. Mereka melakukan kerja bangunan yang bukan merupakan tempat ibadahnya karena keterampilan bertukang memang jagonya kaum Melayu. Keterampilan ini masih diteruskan sampai hari ini. Di sepanjang pesisir Balai Sebut dapat kita saksikan sampan, perahu motor, dan pekerjaan pembuatan kusen dan bangunan tempat tinggal yang dikuasai Melayu.

Sangat boleh jadi, kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misionaris asing didorong oleh rasa iri hati, mengapa yang dibantu misionaris justru Dayak dan bukan Melayu? Pada waktu itu, Melayu sudah memeluk agama Islam, sedangkan Dayak pada umumnya masih menganut kepercayaan nenek moyang. Maka etnis Dayak menjadi prioritas evangelisasi.
Dengan demikian, usaha para misionaris menyebarkan syiar agama Katolik kepada etnis Dayak adalah langkah tepat. Namun, cara yang dilakukan secara persuasif, tidak arogan, apalagi memaksa. Para misionaris masuk dan menjadi bagian hidup mereka. Menjadi bagian inetegral suku Dayak, berpola hidup, berperilaku, maupun berpikiran secara mereka pula. Itulah yang dilakukan misionaris asing, seperti Herman. Dalam istilah filsafat antropologi, para misionaris asing melakukan akulturasi dan adaptasi.

Menurut Bakker (1972: 48-49), akulturasi adalah usaha mentransponir ajaran, bahkan struktur-struktur Gereja dari lingkungan kebudayaan Greco-latina ke dalam alam pikiran setempat. Usaha itu merupakan perkembangan Gereja yang radikal dan menghasilkan struktur yang pluriform. Sifat pluriform mengganti sifat uniform yang nyata, lagi kokoh. Perbedaan dan differensiasi seperti sudah bukan saja tuntutan psikologis (human relation) saja seperti adaptasi, melainkan tuntutan teologis. Dalam differensiasi di antara makhluk-makhluk dinyatakan kesempurnaan Pencipta. Harta benda rahmat terlalu kaya daripada mungkin dapat dimuat dalam struktur rohani saja.

Akulturasi inilah awal proses pembribumian ajaran Katolik di antara Dayak Jangkang. Berikutnya, baru terjadi adaptasi di mana para misionaris mengomunikasikan ajaran Gereja Katolik melalui saluran-saluran kebudayaan dalam hal bahasa, sistem berpikir, pola peradaban, dan bentuk-bentuk sosial.

Corak asing semakin melemah, sedangkan kebudayaan bangsa yang didekati semakin diperkuat. Pewarta (misionaris) sekaligus ajaran yang disampaikan mengikuti kebudayaan penduduk setempat tanpa kehilangan sifat hakikinya. Inilah yang disebut adaptasi.

Option for the poor yang menjadi semangat Gereja sejak didirikan di atas Petrus, si batu karang, tetap dibawa misionaris asing ke Jangkang. Tahun 1939 umat Katolik Kobang sudah ada. Yang unik, mula-mula yang menjadi Katolik di Kobang adalah kepala kampungnya, yang digelari “Mangku”, baru kemudian diikuti rakyatnya. Mangku adalah calon temenggung yang otomatis menjalankan tugas tumenggung jika berhalangan atau bila tumenggung mangkat.

Umat Katolik Kobang tahun 1939. Pastor Ewald, “Kek Tuan” Kobang, mendirikan kapel di sini.

Sebelum nantinya berpusat di Jangkang, Ewald sebagai misionaris kerap memilih menginap di Kobang karena hawanya yang dingin, terletak di punggung bukit Bengkawan. Selain berhawa sejuk dan mirip dengan cuaca di negeri asalnya, Kobang dipilih Ewald karena kaki tangan dan tentara Jepang mengincar misionaris Kristen Barat ini. Karena lebih sering menginap di Kobang, maka Ewald digelari “Tuan Kobang”.

Di Kobang sudah berdiri rumah panjang. Ewald mendirikan kapel terpisah dari rumah panjang. Namun, beribu sayang, perpisahan umat Katolik Jangkang dengan Ewald harus terjadi karena ia diinternir Jepang ke kamp di Kuching. Umat menangis. Tiada hentinya mereka berdoa dan berharap “Kek Tuan” kembali lagi ke tengah-tengah mereka. Namun, orang yang dinantikan itu tak pernah kembali karena ia wafat di Kuching dan dimakamkan di sana.

Rumah panjang atau betang di masa-masa awal pembukaan lahan.

Mengapa misi pertama-tama memilih Kobangk, sebuah kampung Dayak di kaki bukit Bengkawan yang berpuncak setinggi 917m, dan berjarak sekitar 7 km dari Jangkang, bukan Balai Sebut sebagai pusat misi?

Pada saat misi pertama kali menginjakkan jejak di tengah Dayak Jangkang, Balai Sebut sudah mengenal agama. Lagi pula, waktu itu penduduknya mayoritas Islam.

Namun, selain Bong, banyak warga Melayu menghargai dan menghormati misionaris. Mereka menyebut “tuan pestor” (tuan pastor). Bahkan, sebelum Balai Sebut mendapat bantuan tenaga medis dari Pemerintah, sebelum tahun 1970-an, warga Melayu sering turun ke Jangkang untuk berobat pada pastor.

Biasanya, tiap-tiap hari raya keagamaan Katolik, mereka tumpah ruah ke Jangkang karena ada keramaian. Baik hiburan maupun pertandingan-pertandingan sering diadakan yang melibatkan hampir semua kampung di seluruh wilayah Paroki Jangkang.

Pada musim buah-buahan juga orang Melayu sering ke Jangkang dan Kobang. Mereka boleh memakan dan memetik buah sesuka hati. Jalinan persaudaraan Dayak-Melayu di Jangkang tetap harmonis. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada clash di antara kedua suku.
Karena itu, Tuan Jangkang tetap menjalin dan memelihara hubungan dengan Balai Sebut. Ketika ada urusan di pusat pemerintahan Sanggau, atau tatkala verloop (cuti), para misionaris memerlukan uluran tangan warga Melayu Balai Sebut.

Orang Melayu memiliki perahu motor yang bisa disewa. Atau jika tidak, mereka mahir mengemudikannya, sangat paham liku-liku dan kedalaman sungai Mengkiang, mana alur yang berbahaya dan mana yang tidak, dan sangat mengenal titik paling kritis alur pelayaran sungai yang curam berbatu seperti riam Kaboja.

Menilik kesamaan bahasa, budaya, ditambah rekam jejak alur pelayaran, Balai Sebut merupakan pengembangan dan perluasan wilayah dari kerajaan Sanggau yang sempat berpusat di Nanga Mengkiang.

Sebelum tahun 1980-an, jalur pelayaran sungai Mengkiang menjadi satu-satunya sarana tercepat perjalanan Jangkang-Sanggau-Jangkang yang menempuh jarak sekitar 70 km. Pada waktu jam istirahat makan siang dan malam, biasanya kapal motor berhenti sebentar. Jika gelap dan malam menjelang, maka akan menginap di perjalanan.
Pada saat istirahat dan menginap itulah terjadi kontak dengan penduduk pesisir. Yang jatuh hati, akan menikah dengan warga setempat. Namun, karena mayoritas penduknya Melayu dan beragama Islam maka jika Dayak kawin dengan gadis Melayu ia menjadi Islam dan dikatakan “torojunt kok aik” (mencebur ke sungai). Sebaliknya, jika gadis Melayu kawin dengan Dayak atau pria Melayu kawin dengan gadis Dayak dan mau tinggal bersama orang Dayak, ia disebut “naingk kak darat” (naik ke darat).

Terlepas dari soal kawin-mawin di antara Dayak-Melayu, di wilayah Jangkang ada satu fenomenon menarik. Kedua suku mengikatkan tali persaudaraan dan saling menghormati layaknya saudara sedarah saja. Jika mengikatkan diri sebagai saudara, maka keluarga Dayak dan Melayu menyebut masing-masing dengan dompu. Karena itu, bodompu berarti bersaudara. Mereka saling mengunjungi jika ada hajatan dan hari raya, saling menolong, dan berbagi suka duka layaknya saudara sedarah.

Yang menarik, meski pada awal mula kerajaan Sanggau didirikan oleh bangsawan Melayu dan diteruskan ahliwaris dan putra mahkota Melayu pula, namun “raja” terakhirnya justru orang Dayak. Wasiat Sultan Muhammad Jamaluddin sebelum mangkat, agar penggantinya kelak adalah putra mahkota tetap dipegang teguh.

Demikianlah, meski sempat terjadi friksi dengan Sultan Akhmad Kamaruddin, adik Sultan Muhammad Jamaluddin, dinobatkanlah Abang Taberani yang bergelar Pangeran Ratu Suryanegara menjadi raja kerajaan Sanggau.

Suksesi kerajaan terus berlangsung hingga pemangku kekuasaan kerajaan Sanggau jatuh pada Panembahan Mohammad Ali Mangku Negara (1814-1825). Lalu, jatuh lagi ke tangan Sultan Ayub Paku Negara (1825-1830) yang, pada saat pemerintahannya, mendirikan Masjid Jami di pusat kerajaan Sanggau.

Sejarah kerajaan Sanggau unik. Barangkali sulit menemukan duanya di dunia. Kerajaan yang diawali dan didirikan bangsawan Melayu sejak zaman kolonial, dan masih berlangsung hingga zaman peralihan, akhirnya ditutup oleh “raja” dari keturunan Dayak.

Sejarah kerajaan Sanggau mencatat Panembahan Gusti Ali Akbar memerintah dari 1944-1956. Sayangnya, kurang beruntung bagi Gusti Ali Akbar, sebab pada saat pemerintahannya beliau diintervensi kekuasaan asing yang ditandai dengan dikirimkannya oleh Belanda Asisten Residennya bernama Riekerk. Dengan segera, Riekerk menjalankan politik divide et impera . Tindakan pertama yang dilakukannya ialah menurunkan Gusti Ali Akbar dari tahta kerajaan. Dan pada saat bersamaan mengangkat Panembahan Gusti Mohammad Thaufig sebagai panembah yang memerintah hingga penyerahan swapraja.

Swapraja terakhir dipimpin Uray Mohamad Johan. Pada saat inilah terjadi penyerahan pemerintahan Swapraja Sanggau ke tangan M.Th. Djaman, seorang Dayak, selaku Kepala Daerah Swatantra Tk. II Sanggau pada tanggal 2 Mei 1960. Penyerahan ini, sekaligus menandai berakhirnya era kerajaan Sanggau dan nantinya ganti menjadi ibukota Kabupaten Sanggau.


Sumber : http://masri-sareb.blogspot.com/2009/09/bab-2-buku-dayak-jangkang-from.html




Bookmark and Share
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube