BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Thursday, December 19, 2013

Kalteng Promosikan Potensi Seni dan Budaya


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berupaya mempromosikan potensi seni budaya untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut.

Gubernur Agustin Teras Narang di Jakarta, Sabtu (14/12/2013), mengatakan pergelaran Explore Exotica Of Borneo 2013 merupakan salah satu sarana untuk mempromosikan seni budaya dan potensi pariwisata Kalimantan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur H Achmad Diran saat membuka Explore Exotica of Borneo di anjungan Kalteng di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Acara pembukaan pentas seni budaya tersebut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati serta Wali Kota se Kalimantan, di samping sejumlah duta besar negara sahabat.

Gubernur mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan dari 14-15 Desember 2013 tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai ragam seni budaya tradisional kalimantan yang unik dan menarik itu.

"Hal ini dimaksudkan agar potensi seni dan budaya Kalimantan yang menarik dilihat tersebut dapat dikenal dan dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara di masa mendatang," katanya.

Dengan demikian diharapkan ke depan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Sementara ketua panitia Explore Exotica of Borneo 2013 Drs Saidina Aliansyah mengatakan, kegiatan ini dalam upaya mempromosikan potensi seni budaya guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke wilayah Kalimantan yang juga memiliki potensi sumber daya alam tersebut.


Menurut Saidina, kegiatan ini merupakan salah satu sarana promosi pariwisata yang efektif bagi provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.

"Sepanjang kegiatan ini akan ditampilkan pentas seni budaya, lagu dan fashion show, pameran produk unggulan, kerajinan dan kuliner masing-masing daerah," katanya.
Sumber : Antara

Belum ke Banjarmasin, Tanpa ke Masjid Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah di Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan
DARI sisi pelancongan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyimpan banyak keunikan. Kotanya berkultur air. Suguhan terbaiknya adalah Pasar Terapung Muara Kuin. Namun, jangan mengaku pernah ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah!

Kalimat provokatif itu dilontarkan Adam Maulana (21), mahasiswa Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin, yang memandu wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Timur, beberapa saat lalu. Tantangan Adam itu tak berlebihan. Berkunjung ke Masjid Sultan Suriansyah layak menjadi pilihan utama, di antara sejumlah obyek wisata lain di Banjarmasin.

Daya tarik utama Masjid Sultan Suriansyah pada usianya yang sekitar 500 tahun. Kehadirannya adalah jejak awal penyebaran Islam di Tanah Banjar yang kini menjadi wilayah Kalsel.

”Masjid Sultan Suriansyah itu masjid pertama di Kalsel. Ini tonggak sejarah penyebaran Islam di Kalsel, bahkan di Kalimantan,” tutur Adam lagi.

Terdiri dari 11 kabupaten dan dua kota, mayoritas warga Kalsel yang berpenduduk sekitar 3,8 juta jiwa adalah umat Islam (96,73 persen pada 2011). Meluasnya penyebaran Islam di kawasan itu tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Masjid Sultan Suriansyah.

”Masjid ini selalu ramai dikunjungi. Khusus pelancong saja, setiap hari tak kurang dari lima orang. Kalau hari libur atau hari Minggu, pengunjung ratusan orang,” kata Effendy AR, petugas di Masjid Sultan Suriansyah di perkampungan Kuin, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Masjid itu berdiri di tepi persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Martapura.

Kultur air

Banjarmasin sering disebut sebagai ”Kota Seribu Sungai”. Luas wilayah Kalsel adalah 37.530 kilometer persegi dan memiliki sedikitnya 117 alur sungai. Sekitar 40 sungai melintasi Banjarmasin, seperti Sungai Barito, Martapura, Kuin, Mulawarman, Alalak, Pangeran, dan Pelambuan.

Penyebaran Islam di Kalsel pun bersentuhan dengan kultur air. Alkisah, sekitar lima abad lalu, kawasan Kalsel, termasuk perkampungan Kuin, adalah wilayah Kerajaan Negara Daha yang berpusat di Negara (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Merujuk berbagai sumber, termasuk buku Masjid Sultan Suriansyah Kembali ke Arsitektur Kuno (Panitia Pemugaran dan Pengembangan Masjid Bersejarah Suriansyah, Agustus, 2001) dan Riwayat Singkat Sultan Suriansyah (2006), kisah bersentuhan dengan Islam itu berawal ketika Kerajaan Negara Daha masih dipimpin oleh Maharaja Sukarama.

Raja memiliki tiga putra, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung, dan Pangeran Bagalung, serta seorang putri, yaitu Putri Intan Sari atau Putri Galuh. Sesuai tradisi, ketiga putranya adalah pewaris takhta kerajaan.

Namun, Maharaja Sukarama mengambil keputusan berbeda. Ia berwasiat, jika ia mangkat, yang menggantikannya adalah cucunya, Pangeran Samudera, putra dari pasangan Putri Galuh dan Menteri Jaya.

Berbeda dengan si sulung, Pangeran Mangkubumi yang tak berkeberatan, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung menentang wasiat ayahnya itu. Saat Maharaja Sukarama meninggal, suasana istana langsung memanas. Jiwa Pangeran Samudera yang saat itu berusia kurang dari 10 tahun pun terancam. Seorang punggawa, Arya Trenggana, meminta Pangeran Samudera meninggalkan istana.

Permintaan itu dipatuhi. Dengan berbekalkan makanan, pakaian secukupnya, dan alat tangkap ikan, Pangeran Samudera lewat larut malam ”dihanyutkan” di sungai menggunakan jukung. Selama pelayaran, ia menyamar sebagai nelayan. Setelah menempuh perjalanan selama belasan tahun, ia berjumpa dengan Patih Masih di perkampungan Kuin. Mereka berkenalan hingga terungkap, nelayan muda itu adalah Pangeran Samudera. Atas dukungan patih lain dan rakyat, Patih Masih mengangkat Pangeran Samudera menjadi raja Kerajaan Banjar, melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.

Saat itu, Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumanggung. Ia menggantikan kakaknya, Pangeran Mangkubumi, yang tewas dibunuh. Mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi Raja Banjar, Pangeran Tumanggung langsung menyatakan perang. Dua peperangan tak terhindarkan lagi.

Dalam peperangan itu, Kerajaan Banjar mendapat dukungan dari Kerajaan Demak di Pulau Jawa yang tiba di Kuin pada 1526. Sokongan dari pasukan Demak dengan syarat, Pangeran Samudera dan pengikutnya menjadi pemeluk Islam.

Pertempuran berakhir manis. Pangeran Tumenggung luluh hatinya saat berhadapan dengan Pangeran Samudera. Keduanya berpelukan. Pangeran Samudera diakui memimpin Kerajaan Banjar yang berarti resmi pisah dari Kerajaan Negara Daha.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 24 September 1526, yang belakangan menjadi hari jadi Kota Banjarmasin. Sesuai janjinya, Pangeran Samudera, Patih Masih, dan pengikutnya memeluk Islam, setelah mendapat bimbingan dari Khatib Dayyan, utusan Kerajaan Demak.

”Setelah memeluk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Ia yang membangun masjid ini sekitar 500 tahun lalu. Namanya diabadikan menjadi nama masjid ini,” kenang Marno, pegawai Masjid Sultan Suriansyah.

Bangunan Masjid Sultan Suriansyah berarsitektur khas Banjar, yakni berkonstruksi panggung dan beratap tumpang. Di bagian mihrab, atap terpisah dengan bangunan induk. Meski beberapa kali dipugar, nuansa kekunoan masjid tetap terjaga. Sejumlah daun pintu berukir peninggalan awal—meski tak difungsikan lagi—tetap dijejerkan di sekitar dinding masjid. Mimbar kuno dari kayu ulin pun tetap dipertahankan.

Sekitar 200 meter dari lokasi masjid terdapat kompleks makam Sultan Suriansyah. Masran Bai (70), penjaga makam, menjelaskan, kompleks makam itu dahulu adalah istana sultan.

Sebelum memasuki kompleks makam, jangan lupa membeli kembang yang dijajakan sekelompok perempuan tua di sekitar gerbang. Kembang itu sebagai pengharum kompleks makam. (FRANS SARONG)
Sumber : Kompas Cetak

Saturday, December 14, 2013

Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun

Beberapa warga mengenakan pakaian adat Dayak Iban tampak sedang mempersiapkan ritual penyambutan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun di Kota Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (12/12/2013). | KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan

Oleh : Yohanes Kurnia Irawan
LANJAK, KOMPAS.com - Pesona bentang alam Kapuas Hulu nan eksotik, berpadu dengan budaya Dayak dan Melayu serta adat istiadatnya yang masih kuat melekat menjadi saksi dalam pagelaran Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun tahun 2013.

Agenda tahunan yang untuk ketiga kalinya digelar tersebut tak hanya dihadiri masyarakat dari Kabupaten Kapuas Hulu saja, tapi ada juga yang datang jauh-jauh dari Singkawang, Pontianak, dan Jakarta. Bahkan banyak terlihat turis mancanegara seperti dari Rumania, Jerman, Malaysia, Denmark dan beberapa negara lainnya.

Sesuai namanya, Danau Sentarum dan Betung Kerihun merupakan taman nasional yang wilayahnya tepat berada di jantung Pulau Kalimantan. Kentalnya suasana adat dan budaya begitu terasa mulai dari ritual adat penyambutan ketika menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Begitu turun dari kendaraan, dengan pengawalan seadanya, Cornelis disambut dengan ritual penyambutan dengan adat Melayu dari Kapuas Hulu.

Suasana budaya kembali terasa ketika gubernur disambut dengan adat penyambutan tamu khas Dayak Iban. Dalam sambutannya, Cornelis menyampaikan, kedua potensi wisata yang berstatus taman nasional tersebut sudah cukup untuk dijual di dunia international.



Masyarakat diimbau dan wajib menjaga kelestarian alamnya. Pemerintah pun diharapkan bekerja sama dengan rakyat dalam mengelola taman nasional. "Dampak dari pariwasata merupakan pendapatan bagi masyarakat. Keunikan budaya bisa kita tampilkan kapan saja apabila wisatawan datang, dan itu bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat kita karena potensi yang kita miliki ini tidak ada duanya di dunia" kata Cornelis, Kamis (12/12/2013).

Cornelis menambahkan, kendala utama yang dihadapi saat ini terutama di bidang infrastruktur. Selain itu, Cornelis juga menegaskan, habitat yang dilindungi terutama orangutan jangan dibunuh apalagi dikonsumsi.

Satwa tersebut, menurut Cornelis, wajib dijaga dan dilestarikan, karena wilayah taman nasional tersebut sudah menjadi aset dunia dan milik internasional, serta menjadi salah satu penyangga dunia.

Ketua panitia festival, Alexander Rombonang memaparkan, pergelaran festival tahun ini merupakan ajang promosi pariwisata di Kapuas Hulu, baik itu tingkat lokal, nasional hingga internasional.

"Kegiatan ini juga sekaligus untuk mempertahankan dan membina nilai-nilai budaya yang sudah mulai menurun. Selain itu juga untuk mengembangkan potensi yang sesuai tuntutan zaman serta membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi msyarakat di Kapuas Hulu," kata Alexander kepada Kompas.com.

Pergelaran festival rencananya akan dimeriahkan dengan aneka lomba, di antaranya parade lagu daerah Dayak dan Melayu, parade tarian, lomba sampan, lomba sumpit, pangkak gasing, mendongeng, menghias perisai, membuat bubu, dan menumbuk padi. Lomba tersebut diikuti oleh 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, puluhan stan menampilkan produk kerajinan khas dari Kapuas Hulu berupa anyaman, ukiran, manik-manik, dan aneka kerajinan lainnya yang dipajang dalam stan pameran.

Salah satu peserta festival, Riak Bumi Foundation menampilkan produk madu hutan yang dihasilkan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan minyak Tengkawang. Selain itu, Riak Bumi juga menampilkan produk kerajinan tangan berupa anyaman dalam aneka bentuk dan kegunaan.

Peserta festival lainnya pun tak kalah dalam menampilkan produk kerajinan masing-masing daerah. Mereka memajang serta menata stan mereka semenarik mungkin, sehingga mengundang mata untuk mengunjungi setiap stan yang ada di lokasi kegiatan.

Festival digelar dari tanggal 12 hingga 15 Desember 2013, berpusat di Kota Lanjak dan kawasan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Friday, December 6, 2013

Tuak

Tuak merupakan minuman khas Dayak. Setiap ada acara adat pasti pula ada arak atau tuak. Budaya membuat tuak merupakan budaya yang turun temurun. Orang Dayak sangat pandai membuat tuak dari ketan. Hasil dari fermentasi tersebut akan berubah menjadi minuman yang berasal dari tetesan minuman yang cukup membuat mabuk tersebut. Dalam tradisi Dayak yang disebut besompok (bertarung untuk minum arak) merupakan tradisi yang masih terpelihara sampai saat ini. Bukan sebagai kebangaan tetapi untuk mempererat persaudaraan dan keakraban karena tradisi dari zaman nenek moyang. Rasa minuman ini agak terasa manis tapi bilater lalu banyak minum tuak ini maka sangat sulit untuk cepat pulih.

Suku Dayak Mali, Balai

Balai adalah sebuah kecamatan di Kabupaten SanggauKalimantan BaratIndonesia. Pusat pemerintahannya berada di Batang Tarang. Kecamatan Balai berbatasan dengan Kecamatan Tayan HilirMeliau dan Tayan Hulu di Kabupaten Sanggau. Selain itu, Kecamatan Balai juga berbatasan dengan Kecamatan Jelimpo di Kabupaten Landak dan Kecamatan Sungai Ambawang diKabupaten Kubu Raya.

Dayak Mali: Suku Dayak Mali, adalah sebutan untuk salah satu suku dayak yang bermukim di kecamatan Balai-Batang Tarang dan sebagian kecil di kecamatan Tayan Hilir kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat suku Dayak Mali tersebar di 14 kampung di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang dan juga di 7 kampung yang berada di wilayah kecamatan Tayan Hilir. Populasi suku Dayak Mali diperkirakan sebesar 6.963 orang.
Perkampungan di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang, terdiri dari kampung Temiang Mali, Mak Kawing, Tamang, Segalang, Pelipit, Semunsur, Sei Boro’, Munggu’ Mayang, Titi Benia, Sebual, Kelinsai,Munggu’ Lumut, Sei Pantutn, dan Tibung. Sementara itu, di kecamatan Tayan Hilir, terdiri dari kampung Stengko, Kelempu’, Sei Jaman, Meranti, dan Jelimo’.
suku Dayak Mali Di luar kabupaten Sanggau, orang Dayak Mali juga terdapat di Binua Angan kabupaten Landak, di Ambawang kabupaten Pontianak dan juga di hilir sungai Kualatn kecamatan Balai Berkuak kabupaten Ketapang yang hidup pada wilayah hunian Setontong Membawang dan Setontong Kelabit.
Asal-usul suku Dayak Mali, merupakan migrasi dan kehadiran suku Dayak Mali ada di Batang Tarang kabupaten Sanggau. Penyebaran suku ini diperkirakan terjadi pada tahun 1920. Dari Batang Tarang mereka menggunakan perahu melalui sungai-sungai melakukan perjalanan hingga menyebar ke tempat-tempat hunian mereka sekarang ini. Awalnya migrasi suku Dayak Mali ini untuk mencari tempat dan lahan baru guna membuka lahan pemukiman untuk berladang. Diperkirakan ini terjadi atas dorongan sebuah misionaris di kabupaten Sanggau.
Pada awal kehadiran mereka di tempat mereka sekarang ini, disambut secara adat oleh masyarakat suku Dayak Kualatn yang terlebih dahulu bermukim di wilayah ini. Suku Dayak Kualatn, menyepakati bahwa mereka diperbolehkan mendapat tanah dan membuka lahan untuk perladangan. Tetapi suku Dayak Mali harus mengikuti adat istiadat (hukum adat) suku Dayak Kualatn. Walau begitu, suku Dayak Mali tetap dapat memelihara budaya asli mereka, hanya saja hukum adat yang berlaku di tengah masyarakat mereka harus mengikuti hukum adat Dayak Kualatn.
Bahasa Mali berbeda dengan bahasa Dayak Kualatn yang mayoritas di wilayah ini, sehingga kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali fasih menuturkan bahasa Dayak Kualatn. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan suku Dayak Kualatn, kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali akan menggunakan bahasa Dayak Kualatn. Bahasa Dayak Mali merupakan bahasa yang khas di antara beberapa hunian kelompok suku dayak di sungai Kualatn (Kualatn Hilir).
tari Perang suku Dayak Mali Secara kelompok suku, suku Dayak Mali dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Klemantan atau Dayak Darat. Suku Dayak Mali terbagi dalam beberapa sub-suku: Dayak Mali (bahasa utama/Induk), meliputi kecamatan Balai, Sanggau sampai perbatasan Kecamatan Tayan Hilir, Sanggau. sebagian daerah Simpang Hulu, Ketapang. Dialek: Bahasa Mali, Beruak, Keneles, Tae Dayak Mali Peruan, meliputi daerah Sosok, kecamatan Tayan Hulu, Sanggau. Sebagian ada di kabupaten Landak. Dialek: Bahasa Peruan Dayak Mali Taba, sebagian/sepanjang daerah di kecamatan Balai, Sanggau sampai ke Tayan Hulu. Dialek: Bahasa Taba/Keneles Dayak Mali Keneles, sebagian kecamatan Balai, Sanggau; sebagian kecamatan Tayan Hilir, Sanggau; sebagian kecamatan Meliau, Sanggau; sebagian kecamatan Toba, Sanggau, Teraju. Dialek: Bahasa Keneles Suku Dayak Mali sebagian besar menganut Kristen Katolik dan sebagian lain Kristen Protestan. Dari penuturan beberapa orang Dayak Mali, bahwa segelintir orang Dayak Mali masih mempraktekkan agama asli suku dayak yang animisme dan dinamisme. Namun secara umum mengaku dirinya beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Beberapa orang Dayak Mali juga ada yang memeluk Islam, tetapi dikarenakan terjadi kawin mawin dengan suku Melayu. Sehingga orang Dayak Mali yang telah memeluk Islam, biasanya tidak mau mengaku sebagai orang dayak lagi, tetapi telah menjadi melayu. Beberapa tradisi dalam suku Dayak Mali, adalah; Ngayau, (tradisi memenggal kepala musuh), tradisi ini sudah ditinggalkan oleh masyarakat suku Dayak Mali, karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, dan terlalu sadis. Ganjor'ro/Gawai, adalah pesta adat selepas panen atau pesta bersyukur setelah panen padi. Noton'gh, adalah upacara untuk memberi makan kepada kepala nenek moyang. upacara ini masih terpelihara dengan baik dikampung-kampung tertentu yang memiliki/menyimpan kepala manusia zaman dulu. Belien'gh (Balian), adalah orang yang bekerja pada upacara adat dayak yang bertugas untuk berurusan dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah dari para roh manusia yang telah meninggal. Balian juga dapat bertugas memanggil Jubata sebagai Juru Damai dalam suatu peristiwa yang menjadi topik pada suatu upacara adat, tugas ini seperti yang dilakukan oleh tukang tawar dalam upacara adat tersebut. Ngangkong,Bepamang,Bebayer (Mulang Niat),Berancak, adalah upacara untuk membersihkan kampung dari segala macam perbuatan jahat. berancak biasanya dilaksanakan selama 7 hari.
Masyarakat suku Dayak Mali hidup dalam bidang pertanian. Mereka telah menjalankan tradisi berladang yang merupakan suatu tradisi yang sudah lama ada sejak masa nenek moyang mereka. Pada zaman dahulu nenek moyang suku Dayak Mali adalah nomaden, yang melaksanakan perladangan berpindah. Waktu membuka ladang baru, harus mengadakan perjanjian dengan alam semesta terutama kepada Sisil (penunggu tanah dan ladang). Dahulu mereka percaya bahwa manusia harus memberi makan dan membuat perjanjian agar Sisil tersebut mau pindah ke tempat yang lain. Kalau tidak maka penunggu tanah dan ladang, bisa marah dan mengutuk manusia yang membuka ladang itu., Dayak Taba, Melayu, Tionghoa dan lain-lain.

Warga Ngabang Khawatir Banjir Datang Malam Hari

TRIBUN PONTIANAK/HADI SUDIRMANSYAH
Banjir menggenang di wilayah Kecamatan Ngabang, Jumat (6/12/2013). 
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Kecamatan Ngabang di Kabupaten Landak, kembali dilanda banjir. Terlihat beberapa desa dan dusun yang ada kecamatan Ngabang tingginya air hingga selutut orang dewasa, Jumat (6/12/2913) pagi.
Dusun dan desa yang ada di Ngabang yang sudah tergenang banjir terutama kawasan yang dekat dengan Sungai Landak yakni, Desa Hilir kantor di dusun Sungai Buluh dan Tanjung, Desa Raja yakni dusun Raja, Pesayangan, Ra'i dan Martalaya.
Ketinggian air yang mengenangi desa di Ngabang ini sudah ada hingga ke jalan raya dan bahkan ada yang memasuk ke dalam rumah warga.
Informasi yang dihimpin Tribunpontianak.co.id di beberapa lokasi banjir, untuk di Dusun Tanjung dan Dusun Pesayangan sudah ada rumah yang terendam banjir hingga atap rumah.
Menurut Ali warga Dusun Tanjung Desa Hilir Kantor mengatakan banjir ini sudah berlangsung dua hari, namun semakin hari air semakin meninggi.
"Dua hari air belum masuk ke rumah, di jalan motor masih bisa lewat, tapi mulai tadi malam sekitar pukul 12.00 WIB, air masuk semakin deras," ujar Ali.
"Meski kita sudah terbiasa banjir seperti ini, tapi terkadang pun kita tetap aja merasa khawatir, contohnya banjir beberapa tahun terakhir, air mulai pasang di malam hari, kita takutnya air yang datang tiba-tiba ini di saat kita sedang tidur nyenyak," ungkap Ali.
Ia pun juga menuturkan selain itu yang dirinya khawatir yakni penyakit timbul setelah banjir dan binatang seperti ular masuk kedalam rumahnya, meskipun dirinya rumahnya yang memiliki dua lantai.
"Anak dan istri saya sudah di ungsikan ke rumah keluarga yang tak kena banjir, tapi saya tetap nunggu rumah sambil jaga barang-barang," kata Ali

Transportasi Landak-Bengkayang lumpuh karena banjir

Pontianak (ANTARA News) - Banjir yang terjadi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, dengan ketinggian satu hingga dua meter, melumpuhkan jalur transportasi antarkabupaten Landak-Bengkayang. 


"Banjir di daerah kami luar biasa. Rumah saya juga ikut terendam. Jalan raya di Menjalin dan Karangan tergenang, sehingga arus transportasi macet sambil menunggu air surut," kata Camat Mempawah Hulu Paolip menghubungi, Rabu.

Ia mengatakan, warga korban banjir sudah dievakuasi menggunakan ponton buatan masyarakat. Karena ratusan rumah terendam. 

"Kita bersama-sama membantu masyarakat yang rumahnya terendam banjir untuk diungsikan di daerah yang aman," ujar Paolip lagi.

Sementara itu, jalan di Dusun Medang dan Songga, Kecamatan Menyuke, juga tergenang. Akibatnya, arus transportasi dari Darit, Kabupaten Bengkayang menuju Kabupaten Landak lumpuh total.

"Air sungai Menyuke meluap naik ke badan jalan mencapai 1 sampai 2 meter. Sehingga mobil sama sekali tidak bisa melintas. Pasar Darit juga mulai tergenang. Padahal baru bulan lalu banjir," kata Akran Kepala Desa Darit.

Ia mengatakan, warga berharap bantuan dari pemerintah dan dermawan dalam bentuk sembako segera diberikan. Karena korban banjir tidak bisa memasak dan harus tertahan di tempat pengungsian.

Selain lokasi tersebut, banjir juga menggenangi jalan Sidas Kecamatan Sengah Temila, sejumlah kendaraan sepeda motor terpaksa tidak bisa melintas karena badan jalan raya tergenang air.

"Saya menunggu air surut baru bisa menyeberang jalan. Dari pada motor rusak masuk air knalpotnya," ujar Devi, seorang warga dari Ngabang yang akan menuju Pahauman.

Sebagian pengendara ada yang menggunakan jasa ojek. Motor dinaikkan di atas mobil pick up untuk diseberangkan dengan jarak sekitar satu kilometer.

Akibat tersebut, warga Sidas tidak bisa beraktivitas. Karena mengamankan barang-barang. Sejumlah fasilitas umum seperti Madrasah Diniyah Sidas juga terendam.

"Madrasah kami juga terendam, tidak bisa belajar anak-anak santri. Air sungai Sidas meluap, karena hujan lebat satu malaman," ujar H. Sulaiman pimpinan Madrasah Diniyah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Landak dan TNI dari satuan Armed Ngabang turun ke lokasi untuk membantu evakuasi korban banjir dengan menggunakan perahu karet. (*)


Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2013 www.antaranews.com

Wisata Rumah Adat Dayak Dikembangkan

Penataan rumah adat itu akan dilakukan, antara lain dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan.

Rumah Betang. (Dok. Indonesia Travel)
Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, akan mengembangkan tempat tinggal adat Suku Dayak yaitu Rumah Betang menjadi objek wisata mulai 2014.
"Sejumlah Rumah Betang yang kini masih dihuni Suku Dayak setempat akan kami tata dan kelola karena punya potensi sebagai objek wisata," kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Murung Raya, Agus Sumadi di Puruk Cahu, Kalimantan Tengah, Senin (18/11).
Rumah Betang yang akan dijadikan lokasi tujuan wisata berada di daerah pedalaman Kalimantan Tengah yaitu di daerah aliran Sungai Barito itu antara lain di Desa Konut Kecamatan Tanah Siang Timur, Desa Bantian dan Tumbang Apat di Kecamatan Sungai Babuat.
Menurut Agus, semua Rumah Betang itu masih dihuni oleh penduduk setempat. Rumah Betang yang masih aktif dihuni dan difungsikan layaknya rumah biasa oleh penduduk setempat akan menjadi daya tarik tersendiri.
"Untuk tahun depan kami mencoba untuk fokus pada penataan Rumah Betang itu sebagai objek wisata karena memiliki daya tarik mengundang minat pengunjung," katanya.
Dia menjelaskan lokasi rencana obyek wisata itu tidak terlalu jauh dari kota Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya. Penataan rumah adat itu antara lain dilakukan dengan merehabilitasi ruang yang mengalami kerusakan. Selain itu, rumah itu juga akan menjadi lokasi pentas atraksi seni budaya sehingga sehingga bisa menjadi multifungsi.
Jika itu sudah berjalan, lanjut Agus, maka pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap pelaku atau pemain atraksi seni budaya sehingga lebih menarik minat pengunjung.
"Kalau orang mengunjungi Rumah Betang ini maka selain melihat secara langsung rumah adat Suku Dayak yang asli juga dapat menyaksikan atraksi seni budaya," kata Agus.
(I Made Asdhiana, KOMPAS.com)

Thursday, December 5, 2013

Wisata pasar terapung muara kuin di kota Banjarmasin

Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan Perahu dalam Bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah  shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.
Pasar Terapung
Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.
 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube