BREAKING

Saturday, February 5, 2011

Wisata Kalimantan, dari Madu hingga Songket Dayak

PERNAH meminum madu borneo? Manisnya khas karena dihasilkan dari lebah hutan Apis Dorsata. Jika Anda sudah puas menikmati keindahan Danau Sentarum dengan segala flora dan faunanya maka tak ada salahnya memburu madu borneo itu.

Di sekitar lokasi Danau Sentarum dalam lingkup Taman Nasional Betung Karihun, terdapat perkampungan penghasil madu yang sudah berlangsung turun temurun. Di wilayah ini sebanyak 70 ton madu dihasilkan tiap tahunnya.

Dikelola secara tradisional, madu borneo justru memiliki keunggulan karena keasliannya. Penduduk di sana hanya mengambil madu lebah hutan dari sarang yang sudah matang dengan ketinggian di atas pohon bisa mencapai 50 meter lebih.

Di samping itu cara pengambilan madu tidak dengan memeras sarang, akan tetapi dengan cara memotong sarang (labang kepala) dan meletakkannya di atas kain penapis kemudian dibiarkan menetes dengan sendirinya.

Yang membedakan madu borneo di kawasan Danau Sentarum ialah berasal dari lebah liar yang mempunyai habitat di hutan, bukan lebah budidaya. Lebah-lebah hutan itu bebas membuat koloni (sarang) di pohon, kadang kadang juga di bebatuan di tebing jurang. Pakan pun memilih sendiri dari bunga-bunga alami di hutan. Dengan demikian madu yang dihasilkan adalah organik.

Penduduk di sana memanfaatkannya untuk diramu dengan sejenis rempah agar badan menjadi bugar dan hangat saat diminum. Tak heran orang Malaysia memburu jenis madu ini langsung ke masyarakat sekitar hutan untuk kemudian dikemas dan dijual kepada wisatawan di Malaysia.

Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kapuas Hulu Amini Maros mengakui banyaknya potensi ekonomi yang bisa untuk menyejahterakan warga di sekitar Danau Sentarum. "Mungkin ke depan kita harus punya konsep menyeluruh menjadikan Danau Sentarum menjadi destinasi wisata ecotourism," katanya.

Pengembangan wisata ecotourism ini diyakini mampu menyedot wisatawan asing yang jika berada di wilayah Kalimantan hanya sampai di Kucing dan Serawak (Malaysia) saja. Dengan modal keindahan alamnya, kegiatan masyarakat di sekitar Danau Sentarum yang terbilang unik serta seni dan budayanya, destinasi seperti ini menawarkan sensasi pariwisata yang komplit.

Tak jauh dari kawasan Danau Sentarum terutama, warga Kumpang Ilong di Kabupaten Sekadau banyak yang melakukan aktivitas menenun. Tenunan mereka dikenal dengan tenun Belitang. Masyarakat juga membuat tikar lampit, bakul, dan raga, semacam ayaman berbentuk kotak untuk menyimpan oleh-oleh.

Untuk melestarikan tradisi menenun ini pemerintah provinsi Kalimantan Barat mewadahinya dalam Dekranas. Tradisi menenun bayak dilakukan oleh suku dayak Kantuk dan Iban.

Yuliana, seorang warga Dayak Kantuk, mengisahkan tenunan mereka banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Kalbar. Harga tenun tangan menurutnya bervariasi tergantung motif dan bahan yang digunakan. Warna kuning, merah terlihat mendominasi tenunan mereka.

Yuliana menyontohkan, kain tenun dengan lebar 70x170 cm dihargai sekitar Rp 350 ribu. "Kita biasa membuat pesanan untuk taplak meja dan sarung bantal," katanya, sambil memainkan tangannya menggerakkan alat tenun tradisional.(MI/*)

sumber : Media Indonesia

No comments :

Post a Comment

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube