BREAKING

Friday, February 26, 2010

Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT

Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata
Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia
Januari 2009

I. Sekilas Ekowisata berbasis masyarakat dan definisi
Environmentally responsible travel and visits to relatively undisturbed natural areas, in order to enjoy and appreciate nature (and any accompanying cultural features, both past and present), that promote conservation, has low visitor impact, and provides for beneficially active socio-economic involvement of local population (Ceballos-Luscurain, 1996).
Ekowisata
Istilah “ekowisata” dapat diartikan sebagai perjalanan oleh seorang turis ke daerah terpencil dengan tujuan menikmati dan mempelajari mengenai alam, sejarah dan budaya di suatu daerah, di mana pola wisatanya membantu ekonomi masyarakat lokal dan mendukung pelestarian alam.

Para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap linkungan dan budaya setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai konservasi. Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:
- Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (vs mass tourism)
- Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi)
- Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata)
- Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai ekonomi)
- Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi masyarakat dan ekonomi).
Ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism)
Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh.

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pola ekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.

Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll. Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.

Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakat akan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi ekowisata perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan di suatu daerah. Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah diharapkan membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai peran dan keahlian masing-masing.

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata berbasis masyarakat adalah:
- Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatan ekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi)
- Prinsip local ownership (=pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat)
- Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata (nilai ekonomi dan edukasi)
- Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)
- Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggungjawab
masyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (=fee) untuk wisatawan (nilai ekonomi dan wisata).

II. Ekowisata dan konservasi
Sejak 1970an, organisasi konservasi mulai melihat ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang berbasis konservasi karena tidak merusak alam ataupun tidak “ekstraktif” dengan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti penebangan dan pertambangan. Ekowisata juga dianggap sejenis usaha yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan konservasi.

Namun agar ekowisata tetap berkelanjutan, perlu tercipta kondisi yang memungkinkan di mana masyarakat diberi wewenang untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha ekowisata, mengatur arus dan jumlah wisatawan, dan mengembangkan ekowisata sesuai visi dan harapan masyarakat untuk masa depan.

Ekowisata dihargai dan dkembangkan sebagai salah satu program usaha yang sekaligus bisa menjadi strategi konservasi dan dapat membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat. Dengan pola ekowisata, masyarakat dapat memanfaatkan keindahan alam yang masih utuh, budaya, dan sejarah setempat tanpa merusak atau menjual isinya.

III. Sarana dan penyediaan jasa pendukung dalam mengembangkan ekowisata yang bernilai konservasi dan ekonomi tinggi
Industri parawisata adalah industri yang diperkirakan akan terus berkembang, dan
nuansa alam dalam industri ini akan semakin jauh meningkat. Ekowisata dapat
menciptakan nilai ekonomis bagi kawasan-kawasan konservasi. Agar bisnis ekowisata
dapat menguntungkan sebagai mana yang diharapkan, beberapa kondisi harus
diciptakan, yaitu antara lain:
• Meningkatkan dan menambah sarana prasarana pendukung serta
mendorong terbuka dan terhubungnya akses ke/dari dan antar daerah
tujuan ekowisata tanpa merusak aset utama ekowisata yaitu alam yang
asli melalui peningkatan dan optimalisasi jalur transportasi udara.
• Mendorong kebijakan pemerintah Indonesia di bidang keimigrasian di
daerah tujuan ekowisata yang terletak di perbatasan, khususnya di
daerah Heart of Borneo.
IV. Memahami pemasaran produk ekowisata
Ada dua aspek yang sangat terkait dan perlu dibahas secara bersamaan jika ingin
mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat sebagai satu usaha yang berhasil.
Usaha harus layak secara ekonomi, menghasilkan pendapatan yang signifikan untuk
masyarakat setempat, dan dikelola secara profesional. Kemudian, usaha tersebut perlu
adil, bermanfaat buat masyarakat lokal sebagai mitra utama, dan mendukung
konservasi secara nyata.
Dalam mengembangkan pemasaran, strategi pencitraan (branding) dan promosi untuk
produk ekowisata sangat penting, melalui:
• Mengikuti kegiatan promosi dan pemasaran berskala internasional
• Melakukan survei pasar secara berkala untuk mengetahui dinamika pasar
• Mengidentifikasi target pasar untuk produk ekowisata yang
dikembangkan
• Menyelenggarakan promosi secara khusus (fam trip, media trip, dll.)
• Membuka dan menjalin hubungan terbuka dengan pihak swasta dan
mendorong adanya kesepakatan antara organisasi masyarakat dengan
tour operator.
V. Prinsip-prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan
konservasi
1. Keberlanjutan Ekowisata dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan
(prinsip konservasi dan partisipasi masyarakat)
Ekowisata yang dikembangkan di kawasan konservasi adalah ekowisata yang “HIJAU
dan ADIL” (Green& Fair) untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan dan
konservasi, yaitu sebuah kegiatan usaha yang bertujuan untuk menyediakan alternatif
ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan yang dilindungi, berbagi
manfaat dari upaya konservasi secara layak (terutama bagi masyarakat yang lahan dan
sumberdaya alamnya berada di kawasan yang dilindungi), dan berkontribusi pada
konservasi dengan meningkatkan kepedulian dan dukungan terhadap perlindungan
bentang lahan yang memiliki nilai biologis, ekologis dan nilai sejarah yang tinggi.
Kriteria:
• Prinsip daya dukung lingkungan diperhatikan dimana tingkat kunjungan
dan kegiatan wisatawan pada sebuah daerah tujuan ekowisata dikelola
sesuai dengan batas-batas yang dapat diterima baik dari segi alam
maupun sosial-budaya
• Sedapat mungkin menggunakan teknologi ramah lingkungan (listrik
tenaga surya, mikrohidro, biogas, dll.)
• Mendorong terbentuknya ”ecotourism conservancies” atau kawasan
ekowisata sebagai kawasan dengan peruntukan khusus yang
pengelolaannya diberikan kepada organisasi masyarakat yang
berkompeten
2. Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan (Prinsip partisipasi
masyarakat)
Aspek organisasi dan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata juga
menjadi isu kunci: pentingnya dukungan yang profesional dalam menguatkan organisasi
lokal secara kontinyu, mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang
adil dalam pengembangan ekowisata. Beberapa contoh di lapangan menunjukan bahwa
ekowisata di tingkat lokal dapat dikembangkan melalui kesepakatan dan kerjasama
yang baik antara Tour Operator dan organisasi masyarakat (contohnya: KOMPAKH,
LSM Tana Tam). Peran organisasi masyarakat sangat penting oleh karena masyarakat
adalah stakeholder utama dan akan mendapatkan manfaat secara langsung dari
pengembangan dan pengelolaan ekowisata.
Koordinasi antar stakeholders juga perlu mendapatkan perhatian. Salah satu model
percontohan organisasi pengelolaan ekowisata yang melibatkan semua stakeholders
termasuk, masyarakat, pemerintah daerah, UPT, dan sektor swasta, adalah ”Rinjani
Trek Management Board.” Terbentuknya Forum atau dewan pembina akan banyak
membantu pola pengelolaan yang adil dan efektif terutama di daerah di mana ekowisata
merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat.
Kriteria:
• Dibangun kemitraan antara masyarakat dengan Tour Operator untuk
memasarkan dan mempromosikan produk ekowisata; dan antara
lembaga masyarakat dan Dinas Pariwisata dan UPT
• Adanya pembagian adil dalam pendapatan dari jasa ekowisata di
masyarakat
• Organisasi masyarakat membuat panduan untuk turis. Selama turis
berada di wilayah masyarakat, turis/tamu mengacu pada etika yang
tertulis di dalam panduan tersebut.
• Ekowisata memperjuangkan prinsip perlunya usaha melindungi
pengetahuan serta hak atas karya intelektual masyarakat lokal, termasuk:
foto, kesenian, pengetahuan tradisional, musik, dll.
3. Ekonomi berbasis masyarakat (Prinsip partisipasi masyarakat)
Homestay adalah sistem akomodasi yang sering dipakai dalam ekowisata. Homestay
bisa mencakup berbagai jenis akomodasi dari penginapan sederhana yang dikelola
secara langsung oleh keluarga sampai dengan menginap di rumah keluarga setempat.
Homestay bukan hanya sebuah pilihan akomodasi yang tidak memerlukan modal yang
tinggi, dengan sistem homestay pemilik rumah dapat merasakan secara langsung
manfaat ekonomi dari kunjungan turis, dan distribusi manfaat di masyarakat lebih
terjamin. Sistem homestay mempunyai nilai tinggi sebagai produk ekowisata di mana
soerang turis mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai alam, budaya
masyarakat dan kehidupan sehari-hari di lokasi tersebut. Pihak turis dan pihak tuan
rumah bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain, dan dengan itu dapat
menumbuhkan toleransi dan pemahaman yang lebih baik. Homestay sesuai dengan
tradisi keramahan orang Indonesia.
Dalam ekowisata, pemandu adalah orang lokal yang pengetahuan dan pengalamannya
tentang lingkungan dan alam setempat merupakan aset terpenting dalam jasa yang
diberikan kepada turis. Demikian juga seorang pemandu lokal akan merasakan
langsung manfaat ekonomi dari ekowisata, dan sebagai pengelola juga akan menjaga
kelestarian alam dan obyek wisata.
Kriteria:
• Ekowisata mendorong adanya regulasi yang mengatur standar kelayakan
homestay sesuai dengan kondisi lokasi wisata
• Ekowisata mendorong adanya prosedur sertifikasi pemandu sesuai
dengan kondisi lokasi wisata
• Ekowisata mendorong ketersediaan homestay
• Ekowisata dan tour operator turut mendorong peningkatan pengetahuan
dan keterampilan serta perilaku bagi para pelaku ekowisata terutama
masyarakat
4. Prinsip Edukasi:
Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan
tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal.
Dalam pendekatan ekowisata, Pusat Informasi menjadi hal yang penting dan dapat juga
dijadikan pusat kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai dari pengalaman seorang
turis yang bisa memperoleh informasi yang lengkap tentang lokasi atau kawasan dari
segi budaya, sejarah, alam, dan menyaksikan acara seni, kerajinan dan produk budaya
lainnya.
Kriteria:
• Kegiatan ekowisata mendorong masyarakat mendukung dan
mengembangkan upaya konservasi
• Kegiatan ekowisata selalu beriringan dengan aktivitas meningkatkan
kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang
perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
• Edukasi tentang budaya setempat dan konservasi untuk para turis/tamu
menjadi bagian dari paket ekowisata
• Mengembangkan skema di mana tamu secara sukarela terlibat dalam
kegiatan konservasi dan pengelolaan kawasan ekowisata selama
kunjungannya (stay & volunteer).
5. Pengembangan dan penerapan rencana tapak dan kerangka kerja pengelolaan
lokasi ekowisata (prinsip konservasi dan wisata).
Dalam perencanaan kawasan ekowisata, soal daya dukung (=carrying capacity) perlu
diperhatikan sebelum perkembanganya ekowisata berdampak negative terhadap alam
(dan budaya) setempat. Aspek dari daya dukung yang perlu dipertimbangkan adalah:
jumlah turis/tahun; lamanya kunjungan turis; berapa sering lokasi yang “rentan” secara
ekologis dapat dikunjungi; dll. Zonasi dan pengaturannya adalah salah satu pendekatan
yang akan membantu menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.
Kriteria:
• Kegiatan ekowisata telah memperhitungkan tingkat pemanfaatan ruang
dan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui
pelaksanaan sistem zonasi dan pengaturan waktu kunjungan
• Fasilitas pendukung yang dibangun tidak merusak atau didirikan pada
ekosistem yang sangat unik dan rentan
• Rancangan fasilitas umum sedapat mungkin sesuai tradisi lokal, dan
masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan dan pembangunan
• Ada sistem pengolahan sampah di sekitar fasilitas umum.
• Kegiatan ekowisata medukung program reboisasi untuk menyimbangi
penggunaan kayu bakar untuk dapur dan rumah
• Mengembangkan paket-paket wisata yang mengedepankan budaya, seni
dan tradisi lokal.
• Kegiatan sehari-hari termasuk panen, menanam, mencari ikan/melauk,
berburu dapat dimasukkan ke dalam atraksi lokal untuk memperkenalkan
wisatawan pada cara hidup masyarakat dan mengajak mereka
menghargai pengetahuan dan kearifan lokal.
Sekilas ekowisata berbasis masyarakat di Heart of Borneo
Pemerintah Daerah di pedalaman Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimatan Tengah, Kalimantan Timur)
telah melihat potensi ekowisata sebagai aset pembangunan kabupaten dan mulai mengembangkan
ekowisata serta menjadikannya sebagai sumber pendapatan daerah. Hal ini terutama terjadi di Kabupaten
Malinau dan Kabupaten Kapuas Hulu yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai “Kabupaten Konservasi”
dan berkomitmen untuk menjadikan konservasi sebagai dasar pembangunan yang mampu mensejahterakan
masyarakat dan ramah lingkungan.
Heart of Borneo terletak di perbatasan kawasan kerjasama BIMP-EAGA yang menjangkau negara
Indonesia, Malaysia dan Brunei. Di dalam lingkup Indonesia, kawasan ini terbentang di daerah pedalaman
pegunungan yang umumnya didiami oleh masyarakat Dayak, dengan tutupan hutan tropis yang masih luas
dan mosaik lanskap lahan pertanian buatan manusia, telah menjadikan Heart of Borneo sebagai perbatasan
baru untuk pengembangan ekowisata.
Bersama-sama dengan masyarakat, WWF-Indonesia di Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman
Nasional Kayan Mentarang telah membangun kapasitas setempat untuk mengelola usaha ekowisata
berbasis masyarakat dalam rangka membangun alternatif ekonomi yang berkelanjutan dan membantu
masyarakat melindungi hutan mereka. Kawasan proyek percontohan ekowisata ini memiliki potensi yang
besar yaitu keindahan lanskap, alam yang menarik, peninggalan bersejarah dan keramahan masyarakat
lokalnya. Jaringan kerja strategis antara masyarakat dan berbagai inisiatif ekowisata di sepanjang
perbatasan dengan Malaysia (Sarawak dan Sabah) telah terbentuk di kawasan Heart of Borneo.
Proyek percontohan; Hulu Bahau dan Hulu Pujungan, Kab. Malinau, Kalimantan Timur
Atraksi utama: petualangan rimba dan trekking, petualangan sungai; budaya Dayak (tarian, pahat, kerajinan); peninggalan
arkeologi (batu dan gua pemakaman); stasiun penelitian hutan tropis; pengamatan hidupan liar (rusa, lembu liar, babi
hutan); cocok untuk trekking selama 5-7 hari/malam ke daerah lain.
Akomodasi: Rumah tinggal di semua desa dan kamar inap (sederhana) di pusat-pusat kecamatan (Long Pujungan dan
Long Alango)
Pengelola lokal: Panitia ekowisata di tingkat desa
Akses: dengan perahu panjang/perahu sungai dari Tanjung Selor atau menyewa pesawat kecil dengan rute
Tarakan/Malinau-perlu diperhatikan mengenai fleksibilitas waktu dalam penjadwalan
Promosi: Lonely Planet Guide ("Borneo"); website www.borneo-ecotourism.com; buku panduan travel.
Proyek percontohan: Krayan dan Krayan Selatan, Kab. Nunukan, Kalimantan Timur
Atraksi utama: trekking hutan dan jalan-jalan di ladang padi; keindahan bentang lahan; kebudayaan (tari tradisional, musik,
kerajinan tangan); kuliner lokal (menu masakan dari tumbuhan alam dan organic); peninggalan arkeologi (batu dan gua
pekuburan; pahat batu; cocok untuk trekking lintas batas dan ekowisata di dataran tinggi Sarawak.
Akomodasi: Rumah tinggal di semua desa dan kamar inap (sederhana) di pusat-pusat kecamatan (Long Bawan)
Pengelola lokal: FORMADAT di Krayan dan LSM Tana Tam di Krayan Selatan, plus panitia ekowisata di tingkat desa.
Akses: melalui transportasi udara dari Indonesia (regular dan sewa penerbangan dari Nunukan/Tarakan/Malinau) dan
melalui jalan logging dari Sarawak di sepanjang perbatasan Indonesia-Malysia.
Promosi: Lonely Planet Guide ("Borneo"); website www.borneo-ecotourism.com; buku panduan travel; leaflet dan
website Borneo Jungle Safari.
Kemitraan: Borneo Jungle Safari (BJS), Tour Operator in Sarawak.
Proyek percontohan: Betung Kerihun National Park, Kab Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Atraksi utama: trekking hutan dan petualangan; budaya (tari tradisional, musik, kerajinan); rumah panjang; trekking jauh ke
Hulu Mahakam (Kalimantan Timur); cocok untuk ekowisata lintas batas bersama Taman Nasional Lanjak Entimau
(Sarawak).
Akomodasi: Rumah tinggal di semua desa dan rumah panjang
Pengelola lokal: KOMPAKH di Putussibau dan panitia ekowisata di tingkat desa
Akses: transportasi darat atau transportasi udara dari Pontianak, menggunakan boat dari Putussibau ke kawasan
taman nasional
Materi promosi: web-site (KOMPAKH); leaflet dan buku panduan travel.
Kemitraan: kolaborasi dengan operator perjalanan Jerman dan Indonesia

No comments :

Post a Comment

 
Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube